Keesokan harinya ...
Hongbin hendak pergi bekerja ketika seseorang menariknya kuat.
"HEY!" Ia mencoba melepaskan diri dan berhenti ketika ia melihat Taekwoon yang menariknya.
"Hhyung?"
Taekwoon mendorong Hongbin ke dalam mobilnya lalu ia membawa Hongbin ke rumahnya.
"Hhyuung..."
Hongbin membiarkan Taekwoon membawanya ke kamar. Taekwoon membanting pintu lalu mendorong Hongbin ke pintu. Hongbin mengerang dan Taekwoon mencium Hongbin. Taekwoon memegang erat bahu Hongbin dan menahan Hongbin dengan salah satu kakinya berada di antara kedua kaki Hongbin.
Suara nafas mereka yang berat dan erangan dari Hongbin memenuhi kamar Taekwoon. Taekwoon melepas jaket Hongbin dengan paksa dan Hongbin terus mendorong Taekwoon. Taekwoon mulai membuka kancing baju Hongbin satu per satu. Hongbin semakin panik dan ia menggigit bibir Taekwoon dengan kuat.
"AAH!" Taekwoon menatap tajam kepada Hongbin.
Hongbin membalas tatapan Taekwoon sambil mengancing kembali kemejanya. Dengan gerakan cepat, Hongbin mengambil jaketnya dan hendak pergi. Tapi Taekwoon lebih cepat. Ia membanting pintu dan menahan Hongbin. Taekwoon menatap mata Hongbin dengan perasaan terluka. Hongbin melepas dirinya dari Taekwoon.
"Bin?"
Hongbin mengangkat tangannya dan menyuruh Taekwoon diam.
"Hyung! Aku. Mencintai. Ravi! Tidak ada apa-apa diantara kita hyung!"
"FUCK LEE HONGBIN!"
Taekwoon membanting pintu di belakang Hongbin dengan tangannya dan menatap marah pada Hongbin.
Hongbin menunduk.
"Aku tau kau masih mencintaiku Binnie.." Taekwoon mengelus pipi Hongbin dengan lembut.
Air mata Hongbin jatuh. Hongbin masih menunduk.
"Binnie? Aku.. Aku sangat mencintaimu. Aku..."
Hongbin menangis tersedu-sedu dan jatuh ke lantai.
Taekwoon memeluk Hongbin lalu mengangkatnya ke tempat tidur.
Ravi meremuk kertas yang dipegangnya sambil menatap layar hp nya dengan geram
Ravi memanggil Hakyeon ke ruangannya.
"Mr Kim anda memanggil saya?"
Ravi menyodorkan hp nya pada Hakyeon.
"Cari tau alamat itu!"
"Baik Mr Kim. Saya segera kembali"
Hongbin masih di pelukan Taekwoon. Taekwoon mengelus pelan punggung Hongbin. Kini Hongbin sedikit tenang.
"Bin-ah?" Taekwoon menatap Hongbin dan memegang kedua pipi Hongbin dengan lembut.
Hongbin menatap Taekwoon.
"I love you Lee Hongbin"
Hongbin memejamkan matanya dan bibirnya kembali bergetar.
"Hhyu"
"Please" Taekwoon memiringkan kepalanya ke belakang dan mengerang
"Binnie please! Panggil aku Taekwoon!"
Hongbin menggeleng
Taekwoon mengguncang bahu Hongbin
"Jangan buat ini semakin sulit Hongbin! Aku akan menjelaskan semuanya! Aku janji! Tapi jangan panggil aku hyung! Kau membuat... seolah olah kita... kita... Bin!"
"No hyung! Please... aku ingin menghormatimu"
Taekwoon terdiam dan ia menghela nafas lalu berdiri, berjalan perlahan menuju jendelanya yang besar.
Hongbin masih terisak.
"Waktu itu aku sangat sibuk. Aku kesiangan. Dan aku lupa membawa hpku."
Hongbin mengatur nafasnya dan mencoba untuk tenang. Ia mencoba untuk fokus mendengarkan Taekwoon.
"Dan saat aku pulang, aku tidak bisa menemukan hpku. Aku benar-benar lupa. Aku juga tanya pelayan rumahku. Tapi mereka juga sudah mencari dan tidak ada. Aku juga ragu. Apakah, aku lupa membawa hp pagi itu. Atau aku membawanya dan aku lalai. Aku benar-benar lupa."
"... aku bingung harus apa. Jadi aku memutuskan untuk menulis surat padamu, malam itu juga. Aku hendak mengantarkannya ke pos, saat ibu ku..."
Taekwoon mengepal tangannya.
"Dia tidak mengizinkanku keluar, dan ia menyuruh supir untuk mengantarkan surat itu ke pos. Jadi aku... aku percaya pada supirku."
"Aku terus bertanya padanya, apakah 'kau betul-betul mengirimkan suratnya.' Supirku selalu menjawab 'iya'. Aku selalu menunggu balasanmu... tapi kau tidak pernah membalas suratku"
Hongbin menatap Taekwoon dengan bingung.
'Dia menulis surat... untukku?'
"Lalu aku tau, kalau surat itu tidak pernah sampai di pos. Surat itu selama ini ada di tangan ibuku. Aku mengetahuinya saat aku memasuki ruang kerjanya dan ... aku benar-benar kesal kepadanya."
"Aku juga marah kepada supir itu dan aku ingin memecatnya, tapi... ibuku... dia yang berhak memecat pelayan di rumah kami."
"Aku tidak tahan lagi dengan sikap ibuku. Jadi aku mengepak pakaian dan barang-barangku. Hari itu, aku berniat untuk kembali ke Seoul, bersamamu. Hari itu, adalah seminggu sebelum hari yang aku janjikan untuk kembali."
Taekwoon mengepal tangannya kuat dan memejam matanya. Bibirnya dam tubuhnya bergetar hebat.
Hongbin menatap Taekwoon dengan seksama. Hatinya hancur melihat Taekwoon yang terluka. Ia ingin memeluk Taekwoon tapi... dia tidak bisa. Dia menjaga hati Ravi.
Terdengar suara isakan dari Taekwoon. Hongbin refleks berdiri.
"Malam itu, aku menghiraukan kata-kata ibuku. Aku melihat dia mengangkat telepon yang dari tadi berdering sambil menggerutu. Aku melihat dia mematung dan aku melihat wajahnya berubah. Dia menangis histeris. Aku menghiraukannya... aku terus berjalan menuju pintu. Lalu ia meneriakkan sesuatu. Aku berhenti... aku terdiam... aku ... aku mendengar teriakan dan tangisan ibuku."
Taekwoon menangis tersedu-sedu. Hongbin berdiri mematung melihat Taekwoon. Ia belum pernah melihat Taekwoon seperti ini. Hatinya hancur.
"Telepon itu... dari rumah sakit... kalau... mereka... memberitahu kalau..."
Taekwoon mengontrol nafasnya
"Kalau ayahku... meninggal... kami pergi ke rumah sakit... ibuku... dia menangis meronta-ronta. Lalu ia menyalahkanku... aku hanya diam. Aku tinggal di rumah beberapa hari setelah itu. Aku... aku mengurusi ibuku... dia tidak berbicara kepadaku..."
"Maafkan aku Hongbin, aku tidak bisa pulang saat itu."
Taekwoon menatap Hongbin dengan mata berkaca-kaca dan Hongbin memgangguk pelan. Taekwoon menatap keluar jendela lagi.
"Saat itu aku berjanji aku akan kembali ke Seoul bulan depan. Aku tidak ingin mengecewakanmu. Hingga kami mendapat kabar bahwa.. perusahaan ayahku menurun drastis. Lalu... untuk pertama kalinya setelah kematian ayahku, ibuku berbicara kepadaku. Dia berbicara dengan lembut kepadaku. Ia ingin aku... menggantikan posisi ayahku. Aku... aku tidak bisa menolaknya Hongbin... Aku juga menyayangi ibuku. Jadi, aku ... aku menggantikan ayahku."
"Maafkan aku Hongbin, aku mencoba semampuku untuk bisa kembali ke Seoul. Tapi, waktu itu... ibuku... dia tidak mau pindah. Aku selalu meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi... dia tidak mau."
"Dia berjanji padaku waktu itu, jika aku bisa membuat perusahaan ayahku stabil dan semakin meningkat, jika aku serius dengan pekerjaanku, maka ia akan mengijinkanku kembali ke Seoul. Kembali kepadamu."
"Dan.. aku telah bekerja keras agar aku bisa kembali ke sini Hongbin."
Hongbin menunduk. Taekwoon menghampiri Hongbin dan berdiri di depan Hongbin.
"Aku sangat senang saat aku akan kembali ke Seoul. Bahkan aku langsung ke rumahmu. Tapi," Taekwoon menunduk
"Kau tidak tinggal disitu lagi... dan aku menyuruh pelayanku untuk mencarimu... tapi... well... saat aku bertemu denganmu... kau ada di rangkulan orang lain... aku melihatmu dengan wajah ceria mu, kau tertawa... aku..."
Hongbin menunduk
"Aku benar-benar... hancur hongbin... aku... aku juga mendengar kalian... kau... Ravi... aku merasa dihianati... kau... bin... kenapa kau menyerah menungguku?"
Hongbin perlahan menatap Taekwoon.
"Karena... 8 tahun... aku... hyung! Aku tidak tau! Aku kira kau sudah melupakanku, aku yang harusnya merasa tersakiti. Kau datang sekarang setelah 8 tahun. Dan kau berharap aku masih menunggumu?" Kini Hongbin kesal.
"Hyung! Kalau kau berada di posisiku. Gimana? Apa kau akan tetap menungguku?"
"Ya! Tentu saja Binnie! Aku akan selalu menunggumu!"
Hongbin menatap kejam kepada Taekwoon dan menggeleng kepalanya.
"Hyung! Kau akan melakukan hal yang sama! Kau tau? Aku bertemu Ravi saat aku putus asa menunggumu. Dan kami menjadi dekat setelah itu. Dia membantuku, tertawa bersamaku, dia selalu ada di sampingku hyung! Dia membuat semua kesedihanku hilang! Dia membuatku melupakan dirimu hyung!"
"Stop Hongbin! STOP!"
Hongbin menutup mulutnya
Taekwoon tak dapat menahan air matanya, ia masih menatap Hongbin dan membiarkan air matanya jatuh.
"Hongbin?... jika kau diberikan pilihan. Kau... pilih aku?... atau... Ravi?" Taekwoon bertanya pelan
Hongbin menatap Taekwoon dan bibirnya bergetar. Ia tidak percaya ini. Ia tidak bisa memilih. Ia masih mencintai Taekwoon, tapi... ia juga mencintai Ravi. Ohhh nooo...
"Hongbin?" Taekwoon menahan tangisnya.
"Aku mencintai Ravi, hyung! Dan jawabanku akan selalu Ravi"
Taekwoon memejam matanya erat dan membiarkan air matanya keluar dengan deras. Ia mengepal erat tangannya.
Hongbin mengambil jaketnya dan pergi meningalkan Taekwoon. Ia menahan isak tangisnya hingga ia keluar dari rumah Taekwoon. Ia berlari menjauhi rumah Taekwoon, menjauhi Taekwoon, menjauhi kehidupan Taekwoon. Hingga ia merasa sakit di dadanya, ia berhenti dan menangis sekuat-kuatnya.
Ravi berdiri dari kursinya dan mendorong Hakyeon dengan kasar. Ia mengambil kunci mobil dan pergi ke alamat yang ada di gpsnya. Sebenarnya itu dari gps Hongbin, ia telah menghubungkan gps Hongbin ke hpnya. Jadi ia selalu tau kemana Hombin pergi.
Ia menyetir dengan kencang dan tubuhnya bergetar hebat. Ia menahan amarahnya. Dia benci jika seseorang mengambil sesuatu miliknya. Terutama Hongbinnya.
"SHIT SHIT SHITTTT ! FUCK YOU JUNG TAEKWOON! I KNEW ITT! I knew it!"
Ravi sampai di depan rumah Taekwoon. Saat ia hendak keluar, dia melihat Hongbin yang berlari dari rumah Taekwoon. Hongbin dengan bajunya yang kusut, wajah yang merah, mata bengkak, dan
'SHIT'
Bibir Hongbin merah dan sedikit bengkak.
'Mereka... shiiittttt... mereka habis apa?'
"FUCKING TAEKWOON! I WILL KILL YOU"
Ravi melihat Hongbin yang terus berlari sambil menangis. Ia membiarkan Hongbin pergi. Kali ini dia punya urusan yang lebih penting.
Ravi keluar dari mobil dan masuk ke rumah Taekwoon.
