A Romantic Story About Jaehwan
(Remake by chronossoul)
Casts:
VIXX Ken (GS)
VIXX Ravi
F(x) Victoria
2PM Nickhun
BTOB Hyunsik
EXO Kai
~ Chapter 10 ~
Victoria sedang duduk di ruang tamu rumahnya, merenung.
Ada yang mengganjal di pikirannya, terus mengganggu. Sesuatu yang diketahuinya sejak dulu tapi di lupakannya.
Sesuatu tentang Jaehwan, dia merasa dia seharusnya mengetahui sesuatu tentang gadis itu, tapi apa?
Apa itu Victoria? Bukankah kau merasa sudah pernah mengenal gadis itu sebelumnya? Sebelum gadis itu bekerja di perusahaan ini ? Bukankah gadis itu terasa begitu familiar?
Dengan gelisah Victoria berdiri, melangkah ke depan lemari putih yang terpajang rapi di ruang tamunya...
Sebenarnya dia punya firasat Jaehwan berhubungan dengan masa lalunya, masa lalu yang ingin dilupakannya, karena terlalu pedih untuk diingatnya.
Kenangan tentang almarhum suaminya, Nickhun...
Dengan gemetar Victoria membuka laci lemari putih itu, lalu mengeluarkan sebuah kotak putih yang tidak pernah disentuhnya sejak dua tahun lalu.
Hati-hati dibukanya kotak itu dan dikeluarkannya isinya, sebuah map tebal berisi berkas-berkas.
Victoria duduk, menarik napas panjang dan membuka map itu, isinya adalah kliping, potongan berita-berita tentang tragedi dua tahun lalu.
Tragedi kecelakaan beruntun di jalan tol yang menewaskan Nickhunnya.
Saat itu, dalam kesedihannya, Victoria mengumpulkan semua berita yang memuat tentang tragedi itu, menjadikannya satu di dalam satu map besar, memasukkannya ke kotak, dan menyimpannya, menyimpannya bersama segenap kepedihan yang dia rasakan.
Sekarang dia membuka lagi kotak kepedihan itu, hatinya terasa nyeri, tangannya gemetar ketika membuka halaman demi halaman. Potongan artikel itu.
Sampai kemudian dia menemukan apa yang dia cari.
Gambar sosok itu persis sama, meski terlihat muda, rapuh dan remuk redam, itu Jaehwan yang sama, di gambar artikel itu, dia sedang menunduk mengenakan pakaian serba hitam di ruang tunggu sebuah rumah sakit,
SELURUH KELUARGA TEWAS MENJADI KORBAN TABRAKAN BERUNTUN
Begitu judul artikel itu.
Disitu dijelaskan bagaimana Jaehwan kehilangan kedua orang tuanya dan ditinggalkan sebatang kara sendirian. Sedangkan tunangannya, seorang pengacara bernama Im Hyunsik terbaring koma tak sadarkan diri.
Tunangan? Koma?
Victoria membaca artikel itu dengan teliti, lalu mengamati background rumah sakit pada gambar artikel Jaehwan itu.
Dia tahu rumah sakit ini karena pernah praktek lapangan disana beberapa tahun lalu.
Dengan segera dia menelephone rumah sakit itu, menggunakan berbagai koneksi profesi dokternya untuk memperoleh info dari dokter- dokter yang dikenalnya, Victoria mencari informasi sebanyak-banyaknya, dan pada akhirnya menemukan kebenaran.
Kebenaran yang pasti akan menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Bahkan matanyapun berkaca-kaca karena terharu.
Tiba-tiba Victoria teringat akan kata-kata Jongin ketika mereka makan siang bersama tadi, mengenai rencana lelaki itu untuk memberi Jaehwan pelajaran... Malam ini...
Oh Tuhan!
Dengan segera, seolah tersadarkan, Victoria segera meraih dompet dan kunci mobilnya.
Dia harus mencegah Jongin melakukan apapun rencananya untuk memberi pelajaran pada Jaehwan!
Jongin sudah salah paham, dan apapun yang dilakukan lelaki itu, dia pasti akan menyesal begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya!
Victoria harus mencegahnya sebelum terlambat!
~ A Romantic Story About Jaehwan ~
Tamu penting itu akhirnya pulang juga, beres sudah, semua berjalan sesuai keinginannya.
Ravi mengacak rambutnya kesal. Kalau begitu kenapa dia tidak merasa lega?
Kau tahu kenapa. Bisik suara hatinya.
Ah ya, aku tahu kenapa. Ravi mengakuinya.
Jaehwan.
Cukup satu nama yang mewakili segalanya. Satu nama yang sedari tadi menghantui pikirannya.
Dia masih marah pada Jaehwan, marah besar. Tapi bahkan meskipun dia marah, dia tak ingin membuat Jaehwan sedih dengan kemarahannya.
Sungguh ironis.
Ravi tersenyum sinis, menertawakan dirinya sendiri.
Tanpa terasa, gadis itu, Jaehwan telah menjadi harta yang begitu berharga untuknya.
Tidak pernah dia secemas itu untuk siapapun, seperti yang dia lakukan untuk Jaehwan kemarin malam.
Akuilah Ravi, kau menyayangi gadis itu.
Suara hatinya menekannya lagi. Dan Ravi tidak membantahnya, dia sudah terlalu lelah membantahnya.
Gadis itu dengan sifat polos, jujur dan kekanak-kanakannya telah menyentuh sisi hatinya yang tidak pernah diijinkan tersentuh oleh siapapun.
Ah ya, Jaehwan pasti sudah menunggunya di ruangannya. Tamu penting yang datang mendadak ini membuatnya terpaksa menghubungi Jongin agar menunggu di ruangannya kalau-kalau Jaehwan datang.
Membayangkan Jaehwan sedang menunggunya membuat Ravi tergesa melangkah menaiki lift, menuju lantai pribadinya.
Dengan tenang dia membuka pintu ruangannya.
Pemandangan di depannya adalah pemandangan yang tidak disangkanya sekaligus pemandangan yang paling tidak disukainya.
Jongin sedang berdiri menekan Jaehwan ke tembok, memeluknya erat-erat dan menciumnya, tubuh Jaehwan yang mungil tenggelam dalam pelukannya.
Ketika menyadari pintu terbuka, Jongin mengangkat kepalanya, dan menatap Ravi yang terpaku di pintu, membeku seperti batu.
"Oh, hai Ravi," Jongin tersenyum, mengusap bibirnya yang sedikit bengkak karena berciuman dengan kasar, "Aku menawar gadismu ini dengan harga beberapa juta, dan dia bersedia menemaniku selama beberapa jam, boleh kan?"
Jaehwan yang masih berada dalam cengkeraman Jongin menjadi pucat pasi mendengar fitnah Jongin yang begitu kejam.
Ravi tidak akan percaya kata-kata Jongin kan? Ravi tidak akan percaya kan?
Tapi ekspresi Ravi begitu susah dibaca, lelaki itu seperti membeku.
"Dan kau tahu Ravi, kau memang benar- benar tidak rugi," Jongin menyambung, menyeringai menghina kepada Jaehwan, "ciumannya lumayan WOW."
"Tidak!" Jaehwan akhirnya berhasil bersuara, mencoba membantah kata-kata Jongin, "Tidak! Ya Tuhan! Ravi!"
Suara Jaehwan berubah menjadi jeritan ketika dengan secepat kilat tanpa di duga- duga, Ravi menerjang Jongin.
Menarik laki-laki itu dengan kasar dari Jaehwan, lalu menyarangkan pukulan keras di rahang Jongin, kemudian di perutnya sampai Jongin terbungkuk-bungkuk menahan sakit.
Tetapi Ravi masih belum puas. Dia menyarangkan lagi pukulan telak bertubi- tubi ke semua bagian tubuh Jongin, tanpa memberi Jongin kesempatan melawan.
"Ravi! Stop! Kumohon! Kau bisa membunuhnya!" Jaehwan berteriak panik ketika Ravi menghajar Jongin seperti kesetanan.
Dan terus menghajarnya, terus tanpa henti tidak peduli Jongin sudah terkulai tanpa memberikan perlawanan. Aura membunuh memancar dari mata Ravi, menakutkan.
"Ravi!" Jaehwan menjerit sekuat tenaga, berusaha mengembalikan akal sehat lelaki itu.
Kali ini berhasil, Jaehwan berhenti. Matanya nyalang, napasnya terengah-engah.
Sedangkan kondisi Jongin sungguh mengenaskan, lelaki itu berbaring tak berdaya, wajahnya penuh darah, mungkin hidungnya patah. Dan sepertinya dia tidak sadarkan diri.
"Astaga."
Sebuah suara tercekat yang berasal dari pintu membuat Jaehwan dan Ravi menoleh bersamaan, Victoria berdiri di sana, pucat pasi.
Seolah disadarkan, Ravi langsung berdiri, menghampiri Jaehwan dengan bara kemarahan yang membuat Jaehwan beringsut menjauh.
Lelaki itu tidak peduli, dengan kasar dia menarik lengan Jaehwan, setengah menyeretnya keluar ruangan.
"Sakit Ravi," Jaehwan merintih karena perlakuan kasar Ravi, tetapi lelaki itu tidak peduli, seolah tidak mendengar apa yang diserukan Jaehwan.
Victoria berusaha menghentikan langkah Ravi.
"Ravi, kau harus mendengar penjelasanku, semua ini..."
"Diam!" teriakan Ravi yang menggelegar membuat suara Victoria tertelan kembali, "Noona urus saja bajingan disana itu sebelum dia mati kehabisan darah! Dan begitu dia sadar, katakan padanya bahwa dia dipecat!"
Ravi menggeram marah sambil menyeret Jaehwan menaiki lift. Meninggalkan Victoria yang masih berdiri terpaku, bingung.
~ A Romantic Story About Jaehwan ~
"Ravi! Semua yang Jongin katakan itu bohong!" Jaehwan berusaha menjelaskan ketika mereka sampai di apartemen, dan lelaki itu masih menggelandangnya dengan kasar.
Tubuh Jaehwan dihempaskan dengan sangat kasar ke tempat tidur.
"Dia bohong Ravi..." Jaehwan tersengal, putus asa mencoba meyakinkan Ravi.
"Jongin tidak pernah berbohong padaku," jawab Ravi datar, tangannya bergerak membuka kancing bajunya.
"Dia bohong... Percayalah," air mata mulai mengalir di sudut mata Jaehwan. "Tidak ada untungnya baginya berbohong padaku."
"Ada!" jerit Jaehwan, "Dia membenciku, dia ingin menyingkirkanku..."
"Wah... Kau pikir kau seberharga itu? Kau tidak lebih dari pelacur kecil dengan tampilan tanpa dosa... Berapa dia membayarmu untuk sebuah ciuman hah?! Sepuluh juta? Dua puluh juta? Kau pikir kau bisa mendapatkan uang keuntungan dari kami berdua ya?"
"Kumohon Ravi, kau tahu dia berbohong... Kumohon... Kumohon... Percayalah padaku..." Jaehwan mulai panik ketika Ravi melepas kemejanya, "Ke... Kenapa kau melepas pakaianmu?"
Dengan takut Jaehwan beringsut di ranjang mencoba sejauh mungkin dari Ravi.
"Yah... Aku sudah pernah bilang kan?" lelaki itu tersenyum kejam sambil mulai melepas ikat pinggangnya, tatapan matanya tak lepas dari Jaehwan yang meringkuk ketakutan seperti sekor mangsa yang menghadapi predator kejam.
"Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!" desis Ravi penuh penghinaan.
~To Be Continued~
Maaf jika ada typo yang bertebaran. :)
Terimakasih sudah menyempatkan baca ff ini, sudah comment, fav & follow. Terimakasih juga selalu menyemangati dan mengingatkan saya untuk update, hihihi. Silahkan ditunggu chapter selanjutnya ^^
Arigatou gozaimasu~ Thank you very Gamsa~ :*
