- Chapter 10 : "Akhir" -
Pertandingan kembali di lanjutkan. Shin tersenyum dan menatap satu persatu anggota pemain Seirin yang melangkah ke dalam lapangan. 'Hyuga-senpai, Kiyoshi-senpai, Kagami-kun, Kuroko-kun, izinkan aku membagi kekuatanku pada kalian...' mata keempat pemain Seirin secara tiba tiba mengeluarkan kilat seperti Shin. Shin membagi zone miliknya menjadi keempat zone milik teman temannya.
"Tinggal 4 menit! AYO!" Seru Shin menyemangati dengan penuh semangat. Kiyoshi mulai mengambil bola, melakukan Run&Gun, dan berakhir pass pada Kagami yang segera melakukan Meteor Jam. 64-70. Shin menatap papan skor dan tersenyum. 'tidak begitu jauh... tapi waktunya pembalasan dendam!'
Shin menghadang Haizaki yang tengah melakukan offense. Mata Haizaki mencari celah untuk pass pada kawan setimnya. Namun, saat ia mencari, bola itu telah lenyap di steal Shin. Shin melakukan pivot berkali kali hingga tampak seperti menari di aula dansa. Shin berdiri tepat di garis free throw dan bersiap untuk shoot. Dua anggota lawan memblocknya. Shin menunduk, dan melempar bola dari celah kedua kaki lawannya itu. Bola terlempar ke atas, yang segera masuk ke dalam ring.
"4 POINT LAGI!" Teriak anggota bench dengan semangat yang membara. Shin mengangguk mengerti dan berlari mengejar bola yang kini berada di tangan lawan. Shin kembali melakukan steal dan mempassnya pada Kuroko yang segera melakukan Phantom Shoot. beda 2 point lagi!
Waktu tinggal 27 detik. yang harus di lakukan itu adalah 3 point! Shin menatap ke arah Hyuga yang mengangguk mengerti. Kuroko kali ini gantian steal. ia pass pada Shin, dan Shin pass kembali ke arah Hyuga yang dengan mudah melempar dari garis 3 point
bunyi pluit terdengar. 71-70. Para pemain bench segera berhamburan, mengangkat tubuh mungil Shin tinggi tinggi. "HIDUP AZUNA!" Seru Furihata riang. Topi Shin melambung jauh. wig miliknya terlepas, menyisakan rambut panjangnya yang indah terurai berantakan. Shin tersenyum innocent
"Yah... ketahuan deh..." ucap Hinako terkekeh geli.
"AZUNA KAU PEREMPUAN?!"
- Rumah Sakit -
"sesuai janji, aku akan operasi..." Ucap Hiro pada kakaknya yang kini berseri seri padanya. Hiro kemudian menatap keenam pengasuhnya tadi, yang membawanya hingga ke aparat keamanan. "Kalian berenam... nanti ajari aku basket, ya" Ucap Hiro dengan senyuman riang. Aomine dan Kise menunjukkan jempol mereka, Akashi dan Murasakibara mengangguk, Midorima menaikkan kacamatanya sambil tersenyum. "Tentu" ucap Kuroko lembut.
Shin tersenyum dari kejauhan. Wajahnya bersinar akibat rasa senang yang luar biasa. Kuroko kemudian menatap ke arah Kagami dan Hinako yang sibuk bertengkar entah karena apa, dan mengambil nafas.
"Azuna Shin" ucap Kuroko. Shin menatapnya heran. "Ada apa, Kuroko-kun?" tanya Shin balik tersenyum manis.
"Aku suka padamu"
wajah Shin memerah, Hiro bangkit dari kasur, menarik kerah Kuroko, Kagami + Hinako tertawa mengejek, kelima Kiseki no Sedai hanya bisa terkekeh geli melihat reaksi Hiro yang... luar biasa mungkin?
- 8 tahun kemudian -
Shin duduk di taman. umurnya kini bertambah menjadi 24 tahun. Di sampingnya masih ada Hinako yang masih mencuap cuap berisik. "Taiga itu menyebalkan kau tahu? Bagitu pulang dari kerjaannya sebagai pelatih Bakset dia langsung cabut ke lapangan, main sama anggota Kisedai yang menyebalkan minta ampun itu!" Omel Hinako sebal sambil melahap sepotong dango yang baru ia beli tadi. Shin tersenyum setuju. "Tetsuya juga, kok, nee-san. tenang saja..." ucap Shin sabar. Tiba tiba sesosok bayi merampas dango yang berada di antara Hinako dan Shin. Shin menggendongnya lembut. "Taku... gigimu bahkan belum ada" ucap Shin lucu. bayi itu berambut gelap, dengan mata babyblue. Hinako tersenyum mengejek. "Adududuh... manisnya bayi ini..." ucap Hinako mengelus rambut gelap bayi Shin itu. Shin tersenyum innocent.
"Ngomong ngomong kapan kamu melahirkan? Ini sudah bulan ke 8 lho. Kamu tidak kesakitan sama sekali?" tanya balik Shin. Hinako terkekeh sambil mengelus permukaan perutnya yang membuncit. "Entahlah. Taiga sendiri sering menyuruhku jangan merapikan rumah. Padahal rumah kalau tidak kurapikan akan cocok dengan kapal pecah" ucap Hinako sebal. Shin tertawa riang.
Shin mengangkat Taku ke dalam gendongannya, dan kemudian membantu Hinako berdiri. "Yuk pulang. Tetsuya akan pulang sebentar lagi" ucap Shin. Hinako tersenyum. "Betul juga... Taiga akan membongkar seluruh rumah di kota ini bila mengetahui aku tidak ada di rumah" ucap Hinako melebih lebihkan. Shin berjalan duluan keluar dari taman. Tepat di depan taman, Shin terdiam. bayi di pelukannya segera melonjak ke sana kemari minta di gendong. Di depannya terdapat Kuroko yang baru pulang kerja.
"Shin? kamu bersama siapa?" tanya Kuroko menggendong anak pertamanya yang masih bayi itu. "Yahoo! Shin? Kenapa kamu diam saja? Oh! Halo Tetsuya!" seru Hinako menyapa adiknya itu. Mata Hinako tercekat melihat sosok Kagami yang berada di samping Kuroko. "TAIGA!" kaget Hinako. Kagami menghela nafas lega. "Syukurlah. Kukira kamu kabur entah kemana" Ucap Kagami menepuk rambut Hinako. wajah Hinako memerah sejenak dan menggandeng tangan Kagami, mengajaknya pulang
"Pulang, yuk, Taiga" ucap Hinako. Kagami terkekeh geli dan melambai pada Shin dan Kuroko yang terdiam. "Auh... Auah!" ucap Taku menarik narik rambut Kuroko. Kuroko tersenyum pada istrinya itu. "Ayo pulang, Shin" ucap Kuroko menggandeng jemari Shin. Shin mengangguk dan berjalan di samping Kuroko
.
.
.
Tetsuya, apa kamu tahu?
Akhirnya aku bisa bersama dengan orang yang selalu mendukungku, melindungiku.
Dan orang itu adalah kamu, Tetsuya.
.
.
END
ENG ING ENG!
SELESAI JUGAAAAA!
Maaf kalau fic ini banyak kesalahan. terutama bagian pertandingan, kebanyakan di skip... sekaligus di chapter terakhir ini agak aneh bin ajaib.
Terima kasih sudah mau membaca sampai selesai. TERIMA KASIH BANYAK BAGI YANG REVIEW, YANG BACA, DAN YANG MEMBERI IDE IDE DI FIC INI *nunduk 90 derajat*
ngomong ngomong perlu kubuat sequelnya nggak? versi anaknya ato nggak pas mereka pacaran *Author blush*
SILAHKAN REVIEW YANG BANYAAAAAAK!
- PRISCALLDAIYA -
