Title : Truth or Dare
Author : 8ternity
Rate : M
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Main Cast : - Vernon
- Seungkwan
Support Cast : find in story~
Summary : Truth or Dare? Seungkwan pilih truth? Seungkwan pilih dare? Pada dasarnya semua untuk Vernon. Karena Seungkwan cinta Vernon.
- VerKwan / HanKwan / BooNon couple –
WARNING : THIS CHAPTER CONTAINS MATURE CONTENT/NC 21!
Semua yang 8ter tulis murni fiktif kecuali beberapa hal yang akan diberi tahu di note. Dan mohon maaf kalau ada kesamaan dengan ff lain atau bagaimana, karena ini memang murni hasil imajinasi pasaran 8ter. Juga bagi pembaca yang merupakan homophobic, atau anak di bawah umur boleh undur diri/eh. Karena 8ter gak mau menerima review yang gak membangun seperti menyatakan rasa jijik atau bagaimana dan ini merupakan ff rate m yang mungkin berefek buat readers yang di bawah umur (tapi gak ngelarang keras ya, kalau mau baca silakan ^^).
Happy reading ^^
Previous Chapter :
Vernon hanya mengangguk dan hilang dengan cepat dari hadapannya.
Seungkwan menutup pintu, kembali ketempatnya hanya untuk menutup laptopnya dan kehilangan minat melanjutkan design. Dia lupa apa tadi itu 'menyenangkan'. Semuanya melankolis, dia tidak bisa menutup diri dari rasa kecewa. Vernon memberikan rasa yang sangat dibenci banyak orang. Rasa yang sudah lama Seungkwan tinggalkan. Vernon memberinya rasa hampa.
Vernon x Seungkwan
Truth or Dare
Chapter 9 :
Tidak ada yang bisa disebut menyenangkan untuk rasa hampa, dan Vernon membuatnya menunggu. Tapi tidak ada harapan untuk menunggu Vernon. Dia tidak benar-benar menunggu, tapi hanya sedikit berharap untuk dihubungi seperti selingkuhan lainnya. Heol!
Dering di teleponnya benar-benar membantu dari rasa hampa. Tapi Seungkwan mengerutkan kening dengan tajam saat lihat Jun si sex maniac yang menelpon yang bisa jadi waktu tidak tepat untuk meredam rasa kesalnya.
"Hai sayang..." Baru sahutan pertama, Jun sudah membuat Seungkwan ingin membanting smartphone-nya.
"Kau maunya apa?" Seungkwan memutar mata sebelum menjawab, atau dia akan benar-benar mematikan telepon tanpa mengindahkan sopan santun.
"Oh ayolah... aku terdengar buruk dengan gaya bicaramu... kenapa marah-marah? Aku merasa seperti menggodai istri orang." Seungkwan melotot seperti ingin mengeluarkan matanya. Pengandaian dari Jun menohoknya, man.
"Jun, untuk sekarang... kupikir aku tidak begitu suka lelucon.." Seungkwan hanya bisa membuat Jun berdehem kaku. Jun punya sedikit rasa trauma dengan uke galau, mereka mudah tersinggung dan juga bermulut tajam.
"Ohh.. shit.. sepertinya mood mu buruk. Bagaimana untuk malam ini minum-minum gratis di club ku? Ku pikir baik untuk kesehatan mood mu." Jun tertawa kaku dia akhir kalimat, takut Seungkwan makin sensitif.
"Oke... dan sebenarnya untuk apa menelpon?" Oh man Jun merinding mendengar Seungkwan sedingin ini, dia jadi merindukan suara seksi Seungkwan waktu mendesah. Sialan.
"It's okay... hanya ingin mengajakmu minum... ehe.. ku tutup telponnya. Sampai jumpa pukul 8 malam..." Jun segera menutup telepon bahkan sebelum Seungkwan mencerna kalimat terakhirnya.
"Pukul 8 ya... masih lama..." Seungkwan merengut dalam dan membanting diri di sofa. Ini membosankan, dan dia tidak tahu beristirahat dari bekerja bisa jadi sebosan ini.
"Shit..." Seungkwan bergumam dan menekan kepala pada sofa. Ini sangat mengesalkan, sangat tidak menyenangkan.
Tok... tok... tok...
Seungkwan memutar mata saat dengar pintu diketuk, sangat malas tapi juga sedikit melegakan. Karena ia sepertinya punya teman untuk beberapa waktu ke depan.
Tok... tok... tok...
Ketukannya makin nyaring dan itu menyeret Seungkwan beserta gerutuannya untuk segera. Dengan malas ia membuka pintu dan sedikit terkejut saat melihat Ten dengan kemeja kekurangan kancing (read : dada atas terekpos), datang dengan berpagut tangan mesra bersama si pacar.
"Hi Seungkwan, long time no see.." Ten tersenyum simpul dan masuk seenaknya seperti rumah sendiri, Johnny di belakang Ten melambai dan mengatakan 'Hi' tanpa suara. Melihat itu, Seungkwan ingin sekali memarahi Ten terlebih ingat hari dimana Ten membuatnya ke kantor tanpa dompet. Heol! Ingin sekali menjambak rambutnya dan mengusirnya. Tapi dia hanya bisa cemberut, segera menutup pintu dan menyusul.
Ten dan Johnny duduk nyaman di sofa. Lalu Ten melihat Seungkwan bejalan lesu dengan bahu turun tanpa semangat. Senyuman Ten yang benar-benar Ten teman Seungkwan mengembang, sisi pengertian seorang teman tiba-tiba terasa menghampiri pria kecil itu.
"Kau terlihat buruk, sesuatu terjadi?" Ten dengan segera mendekati Seungkwan, menarik Seungkwan untuk duduk di tengah dia dan Johnny. Johnny terlihat ikut khawatir, melihat Seungkwan benar-benar pendiam. Johnny memang tidak mengenal Seungkwan sejauh Ten mengenal pria yang sedang cemberut itu, tapi Johnny bisa merasakan kesedihan Seungkwan dari raut wajahnya.
"God... aku tidak tega melihat uke seperti ini." Johnny memalingkan wajah dan memijit pelipisnya. Heol! Jiwa seme nya merasa kasihan melihat uke menyedihkan seperti Seungkwan. Ten memicingkan mata, tingkah dramatis Johnny membuatnya ingin menjadi pacar brutal yang menjambak pacarnya sampai nyaris botak.
"Kwan..." Ten sekali lagi benar-benar butuh penjelasan untuk wajah melankolis Seungkwan, dia benar-benar kasihan, bung.
Seungkwan beberapa kali mendesis dan membuang pandangan.
"Kau mau aku menebak?" Ten berusaha memancing keadaan, menarik perhatian Seungkwan untuk menatapnya.
"Ini tidak menyenangkan, Kwan. Aku berusaha berbicara dan kau berusaha menghindari. Ini shit, Kwan. Aku bisa bantu sesuatu... mungkin. Jadi katakan sesuatu please." Ten menangkap ini sepertinya tidak menyenangkan untuk Seungkwan, tapi dia tampak bodoh untuk bertanya tanpa jawaban seperti berbicara dengan batu yang nampak montok.
"Ten, aku... sebenarnya merasa tidak enak kau dapat kacangku... tapi aku serius tidak dalam mood yang baik... kau tahu? Vernon pergi, padahal dia janji untuk cuddling hari ini full day but hella hell... he is a liar. Kau bisa tebak cerita lanjutannya, Ten... kupikir kau cukup peka..." Ten merengut mendengarnya, itu sedikit tidak menyenangkan. Seperti mencari Johnny di hari yang seharusnya mereka bersama, tapi Johnny menghilang dan bersama seorang pelanggan. Benar, sih. Itu tidak menyenangkan.
"Oke, aku cukup cerdas untuk mengerti lanjutannya... tapi satu hal yang aku tidak pahami. Kau kecewa untuk Vernon yang mendatangi pacarnya? Tidakkah kau merasa sedikit konyol untuk itu, Kwan? Maaf ya, kan Seungkwan selingkuhannya dan dia punya pacar. Benar tidak sih? Atau Vernon jadi pacarnya Seungkwan sekarang? Hmm..." Ten bertanya dengan pandangan pada Johnny yang pergi menjauh, sepertinya Johnny sedikit merasa tidak nyambung dengan obrolan kaum uke.
"Aku tidak tahu, Ten... Oke... aku ke kamarku, lakukan yang kalian perlukan di sini. Yang asal jangan mencuri barangku..." Seungkwan pergi ke kamarnya, meninggalkan Ten yang ingin memukul wajah cantik Seungkwan seandainya Seungkwan dalam mood baik-baik saja.
"Okey! Tapi jam 8 kau harus kami bawa, setuju?" Ten sedikit berteriak, mencoba membuat Seungkwan yang berjalan sambil melamun mendengar. Lalu dia lihat Seungkwan mengangguk, itu sudah jawaban.
.
Seungkwan memasukki kamarnya dan mengunci pintu dari dalam. Dia berpikir dengan begitu kompleks sekarang, pertanyaan Ten tadi lumayan membebaninya. Membuat dia juga merasa tidak mengerti dirinya sendiri untuk rasa tidak suka dengan kepergian Vernon mendatangi pacarnya sendiri. Lebih dari apapun dia hanya ingin meringankan pikirannya. Dia punya Ten dan Johnny di sini, tapi dia merasa begitu sendirian dan juga sensitif. Seungkwan dengan nyata merasa pening di ubun-ubunnya, sampai rasanya hanya ingin tenggelam bersama bantalnya dan berharap mendapatkan ketenangan dari itu.
Seungkwan menghela nafas saat pantat seksinya menyentuh ranjang, tapi itu tidak begitu nyaman. Samar-samar dia bisa mengendus aroma Vernon, aroma yang membuatnya begitu mendamba lagi tapi juga merasa menjadi seseorang yang sialan kesepian. Aroma Vernon yang mensugestinya untuk terus merindukan kebersamaan mereka, tapi dia tidak mau menjadi seseorang yang merindukan milik orang lain. Itu tidak menyenangkan untuk merasa rindu pada seorang partner sex. Dia merasa sedikit egois untuk meminta terlalu banyak perhatian seseorang yang punya tanggung jawab terhadap manusia lain.
Apa dia cukup bodoh untuk memahami perasaannya sendiri? Dia menyimpan beberapa kemungkinan untuk perasaannya, saat dia merindukan seseorang yang bukan miliknya, saat dia merasa mendambakan seseorang yang seharusnya tidak boleh dia damba sedalam itu. Cinta atau tidak? Ini terlalu cepat untuk merasakan perasaan dalam yang sedikit menakutkan itu. Kesakitan akan segera datang padanya bagaimanapun caranya, seperti rasa perih yang sekarang, hanya sedikit menggoresnya. Sendiri merindukan seseorang, efek dari perasaan itu buruk. Akankah semuanya menjadi lebih buruk dalam beberapa waktu ke depan?
Seungkwan menjatuhkan dirinya begitu keras pada kenyataannya, bahwa dia hanya seorang partner sex yang punya seme terlalu tampan dan kenyataan ini juga yang membuatnya merasa bersalah untuk hatinya. Begitu banyak yang Vernon beri untuknya, hampir semua yang dia cari selama ini Vernon berikan padanya. Melihat Vernon begitu mencintai Chan, itu dengan sangat jujur membuatnya merasa cemburu. Seungkwan mulai mengerti apa itu merindukan yang tidak menemukan jalan keluar, dimana dia ingin yang sederhana untuk mengobati rasa sendirinya. Hanya ingin melihat Vernon tersenyum di depannya, menggodanya seperti yang kemarin dan menghabiskan waktu dengan tawa dan senyum.
Mencium aroma Vernon yang bahkan sampai sekarang tersimpan begitu rapi di memorinya, dimana seharusnya aroma seseorang lebih mudah dilupakan. Dimana harusnya dia menyerah untuk menyukai seseorang yang mencintai orang lain. Dimana orang lain itu mungkin telah terlalu banyak mengetahui hal yang Seungkwan tidak tahu soal Vernon. Dimana orang lain itu telah menemani hari-hari Vernon lebih banyak daripada waktu yang dia dan Vernon lalui. Itu keterlaluan untuk menyukai seseorang yang menjadi milik orang lain, tapi apa perasaan tahu apa itu keterlaluan? Yang perasaan tahu mereka tinggal dan berkembang menjadi terlalu besar sehingga kadang menjadi berbahaya, menjadi cinta yang seperti penyakit membunuh perlahan seseorang yang menjadi malang untuk tidak bisa merasakan cinta berbalas. Dimana semua yang mereka lakukan entah mulai dari percakapan kecil sampai sentuhan terintim bukan rasa suka dua pihak, hanya satu pihak dan sisanya itu adalah nafsu.
"Harus berapa lama lagi aku menunggu agar tidak merasa sendirian? Sialan!" Seungkwan menggertakkan giginya dan membanting diri di kasur.
"Aku ingin bertemu denganmu, Ver..." Dia mencicit pelan dibalik bantalnya, tangannya memegangi dadanya yang terasa nyeri. Sangat menyebalkan. Dia ingin sekali melihat mata kecoklatan itu, bibir pink yang indah dan menghirup aroma khas Vernon yang selalu menyeretnya pada hal diluar batas.
Dia ingat hari pertama yang membuatnya tertarik pada Vernon. Hari dimana dia jatuh untuk bibir menggoda bosnya. Juga hari dimana dia dengan jelas mengingat saat bibir itu masih dengan liar melumat bibir Chan, dia melihat itu dan mengingatnya sekarang memberi denyut nyeri yang semakin terasa. Sejak kapan? Sejak kapan Seungkwan punya perasaan ini? Berapa kali ia mengagumi Vernon tanpa dirinya sendiri tahu? Kekaguman itu mengambil alih pikirannya sampai rasanya di otaknya hanya ada Vernon. Rasa yang tidak begitu asing tapi merupakan fantasi yang mengerikan. Karena dia tahu bahwa dia tidak pernah bisa lebih berarti ketimbang Chan. Dia sudah melihat itu sebagai bukti nyata, dan dia tidak pernah berharap akan mendengar Vernon mengatakan langsung di depan wajahnya. Oleh karena itu, Seungkwan takut untuk menanyakan tentang 'pilih dia atau Chan' pada Vernon. Mungkin itu akan menjadi opsi terakhir untuknya, nanti… kalau sesuatu yang tidak ia harapkan terjadi.
"Aku…." Seungkwan memendam dirinya dalam selimut, mencoba menulikan pendengaran dari teriakan khawatir Ten dan teriakan memanggil dari Johnny. Kedua temannya itu atau teman lainnya seperti Jun, turut serta memberinya kejelasan pada dirinya sendiri. Bahwa mereka orang-orang satu kaum, satu ketertarikan. Lalu yang terpenting, mereka orang-orang yang tidak berharga. Harusnya Seungkwan sadar lebih awal akan kemungkinan punya rasa special ini untuk Vernon serta harusnya dari awal dia menjadi kebal untuk godaan pria tampan yang harga dirinya tinggi serta sudah memiliki seseorang yang berarti. Yah bisa disebut… Seungkwan sadar berapa murahannya dia, hidup dan bergaul dengan begitu bebas. Seks dan alkohol menjadi teman dekat. Harusnya dia sadar kalau perasaan sejenis kesialan seperti itu tidak boleh mengahmpirinya. Harusnya dia tidak bertemu Vernon bahkan untuk sekali dalam hidupnya. Ini parah, pertemuan mereka singkat. Tapi sesingkat itu juga suatu perasaan dapat menjalari hatinya.
Memikirkan Vernon yang akan sering berkunjung, Seungkwan tidak siap untuk mengalami ini lagi. Karena Vernon yang pergi demi pacarnya, demi prioritasnya adalah keharusan meski Seungkwan melarangnya sekalipun. Itu benar… hal itu keharusan. Karena Vernon tidak benar-benar ingin berada di sisinya. Dia mendecih saat lagi-lagi rasa nyeri menghampirinya, bualan ini akan terus berlanjut. Karena Seungkwan juga yakin bahwa saat nanti Vernon datang padanya, dia pasti tidak akan mampu melepas Vernon lagi atau bahkan memintanya pergi menjauh atau juga memintanya untuk memutus kontrak mereka. Pada nyatanya dia lah yang memulai permainan ini, menarik Vernon untuk dimiliki dan tidak tahu bahwa sesungguhnya perasaan jenis ini lah yang dia inginkan Vernon untuk memilikinya juga. Kalau dia sadar lebih awal, mungkin saja dia tidak akan menarik Vernon serta menjebak Vernon pada keindahan yang dia miliki. Karena nyatanya dia yang malah terjebak pada keindahan Vernon. Dia terjebak sangat dalam yang padahal soal kehidupan seks harusnya begitu mudah dia dapatkan, tempat semacam club Jun menyediakan banyak sekali tawaran untuk itu. Harusnya dia sadar kalau kelalaiannya memahami perasaannya saat itu memberinya luka gores sekarang.
Yang ingin Seungkwan dengar sebenarnya adalah kata-kata sederhana yang tidak sederhana untuk didapatkan. Seperti 'Aku tidak akan pergi…' kata-kata sesederhana itu meski itu sepertinya hanya kebohongan. Atau yang lainnya seperti 'Aku akan ada di sisimu…'. Shit! Kata-kata itu lebih sulit untuk Seungkwan dapatkan. Hatinya sakit untuk memikirkan hal rumit yang seharusnya tidak terjadi ini, matanya terasa lembab dan itu membuat dadanya terasa sesak. Sial! Seungkwan tidak suka perasaan jenis ini, sangat mengganggunya. Sangat membuatnya resah karena daripada Vernon yang bilang itu, Seungkwan sangat mungkin untuk mengatakan itu, meski mengatakannya dalam hati sih… Hanya saja itu seperti fenomena yang dia takuti. Kata-kata seperti itu biasanya akan muncul pada adegan menuju perpisahan pada sebuah film. Karena meski keadaan sekonyol ini, dia tidak pernah ingin untuk kehilangan Vernon.
Seungkwan dengan telak tidak bisa menahan matanya dari pandangan buram dan pipi yang terasa basah. Dia tidak pernah menginginkan perasaan sakit ini datang. Dia tidak pernah mau untuk menangis karena perasaan bodoh yang dia rasakan.
"Aku… tidak seharusnya menangis. Mataku akan terasa membengkak…" Seungkwan mencicit bersama dengan pelukannya yang mengerat pada bantal dan malah membuatnya menangis tersedu. Lalu mendengar Ten dan Johnny yang memanggilnya begitu heboh. Sangat khawatir dengan rasa sakitnya, dengan rasa kecewanya, dengan tangisannya, dan dengan rasa putus asanya.
.
Seungkwan sudah beres dengan tangis tersedunya. Dia mengerut di atas kasur sesekali mengacak rambutnya yang sudah berantakan, mencoba menekan rasa pilunya. Bersama tangisannya tadi, semua flash tentang kenangan pendek mereka memberinya penekanan soal bahwa bukan tanpa alasan dia jatuh pada pesona terlampau indah milik Vernon. Vernon memberinya sesuatu yang tak pernah dia dapat. Vernon hadir dengan seperangkat pesona serta sifatnya yang membuat semua yang Seungkwan punya hancur dan berserah segalanya pada Vernon. Yang membuatnya merasa dibutuhkan dan membutuhkan. Saat hanya sebuah bisikan serta interaksi kecil yang panas, mereka akan beralih pada hal-hal bergairah besar. Dengan malam panas yang mereka miliki, dengan perasaan yang Seungkwan pendam, dan dengan harapan yang seungkwan kubur. Mereka tidak terikat. Tanpa hubungan. Mereka hanya partner sex, dan kenyataan status jenis ini membuat Seungkwan merasakan lagi pilu dia hatinya
Apakah Seungkwan menyesal?
Jawabannya…
Tidak, Seungkwan tidak menyesal.
Biarkan saja seseorang bernama Vernon itu, menggunakan hak milik atas dirinya. Bukan hal yang salah kalau Vernon memanfaatkannya seperti itu. Satu-satunya yang dapat disalahkan untuk hal seperti ini adalah Seungkwan. Selama Vernon senang… dan selama dia tidak kehilangan Vernon. Seungkwan pikir dia akan baik-baik saja.
"BRAK!"
Pintu kamar Seungkwan di dobrak dengan paksa dan dari suaranya, Seungkwan sadar itu kelakuan Ten dan pacar perkasanya. Tapi terlebih dari apapun, Seungkwan tidak begitu punya niat untuk menghentikan mereka karena dia penyebab tingkah beringas mereka ini. Tidak lain… mereka khawatir.
"Aku mendegarmu menangis, ada apa?" Ten duduk di balik punggung Seungkwan mengelusi bahu sempit si Boo yang bergetar menahan tangis.
"Hei… Keluarkan, aku datang bukan untuk menghentikan tangisanmu. Tapi untuk hadir agar kau tidak menangis sendirian." Ten tahu sesuatu yang dia khawatirkan akan Seungkwan rasakan sudah terlambat untuk dihentikan. Seungkwan terlanjur jatuh untuk Vernon.
"Ten, maafkan aku…" Seungkwan mencicit di tengah tangisnya yang mulai terdengar tersedu.
"Aku tahu. Aku sangat mengerti… bahwa memaksakan dirimu untuk tersenyum itu rasanya menyakitkan. Menangis kalau kau ingin." Ten menepuk bahu Seungkwan yang semakin bergetar dan tangisannya yang terdengar menyakitkan. Ten juga menangis ringan. Karena dia cukup merasakan senyum di tengah rasa sakit, dan sepertinya Seungkwan tidak cukup kuat untuk itu.
.
Setelah dengan puas menangis mengkerut dia ranjang, Seungkwan memeluk Ten begitu erat. Memandangi Johnny di balik punggung Ten yang turut memandangnya. Johnny tersenyum kecil dan mengelusi kepala Seungkwan, memberikan kekuatan dan dukungan yang sedikit membuat Seungkwan merasa membaik.
Seungkwan melepas pelukannya dan Ten memandangnya sendu dengan senyuman manis di bibirnya.
"Kau akan segera membaik…" Ten mengelusi kepala Seungkwan dengan perhatian.
Seungkwan mengangguk dengan segukan akhir dan tersenyum getir. Ten melihat itu dan merasa kesakitan. Seungkwan yang di depannya seperti dia yang dulu. Menangis untuk sesuatu yang dicintai. Tanpa sadar Ten menatapi Johnny yang tersenyum maklum sambil menatapi Seungkwan.
"John…." Ten memanggil Johnny teramat lembut, menarik perhatian Johnny pada eksistensi mahluk mungil yang kelewatan manis yang sedang tersenyum sangat ramah.
"Ya? Mungkin ada sesuatu yang bisa kulakukan?" Johnny dengan senyum yang terbentuk secara otomatis dengan eksistensi pria yang sangat dicintainya itu tidak bisa menahan dirinya untuk membantu dengan bantuan apapun yang mampu dia lakukan.
"Aku mau kau menghibur Seungkwan… hanya lakukan yang bisa kau lakukan, buat pikirannya sedikit teralihkan dari si bos itu. Kalau Seungkwan mau, kau boleh tidur dengannya. Hanya saja… jangan buat dia mengandung anakmu." Ten terkekeh dengan kalimatnya sendiri. Tapi dengan penuh perhatian mengelusi punggung sempit Seungkwan yang melamun di sampingnya.
Seketika Seungkwan membulatkan matanya, dan Johnny menyeringai. Baik Johnny ataupun Ten tahu, manusia sejenis mereka lebih bisa memahami satu sama lain meski dengan cara yang terlihat murahan. Karena sudut pandang yang Ten lihat, Seungkwan sangat perlu dekapan seseorang dominan untuk tempatnya berlindung sekarang. Diantara mereka sekarang, hanya Johnny yang mungkin untuk memberikan itu.
"Ten, kau tidak perlu meminta Johnny… aku akan baik-baik saja." Seungkwan kembali tersenyum getir dan menarik pergelangan tangan Ten saat orang Thailand itu hampir berdiri meninggalkan kamarnya.
"Seburuk ini kondisimu, Seungkwan sayang… aku tidak mungkin memintamu untuk pergi menemui Jun sekarang. Kau perlu kesunyian, di club nya Jun malah menambah putus asa mu itu. Lama-lama malah bisa menjadi rasa depresi, dan aku tidak pernah mau kehilangan temanku gara-gara soal cinta… tapi meninggalkanmu menderita sendirian juga tidak mungkin, kan? Kau harus melakukan sesuatu, dan seks sepertinya bisa mengalihkan pikiranmu…" Ten kembali tertawa menangani rasa bersalah tak penting yang Seungkwan rasakan, kemudian menarik Johnny untuk duduk di samping Seungkwan.
"Kau harus membaik sesegera mungkin dan kuharap Johnny membantu dengan baik." Ten melambai centil dan menutup pintu tanpa malu-malu dan rasa ragu meninggalkan pacarnya dan temannya, memilih untuk menyenangkan diri dengan menonton televisi.
.
"Kau tidak baik-baik saja, kan Kwan?" Johnny mengelus kepala Seungkwan dan berbicara dengan sangat lembut. Perilaku seperti ini yang dari tadi dia tahan untuk dia berikan pada Seungkwan. Karena dia sebagai seorang dominan tidak nyaman melihat seorang sub yang kesakitan soal perasaan.
Johnny melihat Seungkwan yang menunduk dengan senyum getir, dan itu sudah memberi jawaban untuk pertanyaanya tadi. Lalu dengan tanpa ragu Johnny menjatuhkan Seungkwan pada pelukannya. Uke ini sangat lemah… dan dia tak tega. Seungkwan lalu bersembunyi di dadanya dan menangis dengan isakan sangat lembut, mencengkram bajunya mencoba menahan tangisannya
"Keluarkan, Kwan… tidak kuizinkan kau untuk menahan tangisanmu seperti ini." . Johnny mengelusi punggungnya dan memijat bahunya. Sebagai stimulus agar Seungkwan melepas tangisannya. Benar saja, Seungkwan kemudian menangis kuat di dada Johnny. Yang kemudian membuat Johnny merasa nelangsa mendengar Seungkwan menangis dengan kepedihan begini.
Johnny membiarkannya… membiarkan Seungkwan menangis seperti itu. Sampai bahu Seungkwan sudah tidak lagi bergetar separah tadi dan isakannya manjadi pelan. Johnny melepas Seungkwan dari pelukannya, menatapi mata sembab yang menatapinya dengan pandangan kosong. Lalu Johnny merasa ini waktu yang tepat untuk memberikan beberapa kenikmatan untuk Seungkwan agar orang cantik ini melupakan Vernon barang sebentar.
Dengan perlahan dia bergerak mendekat untuk sebuah ciuman panas, dan Seungkwan menyambut itu dengan harapan untuk terbebas dari rasa sakit. Dia mengalungkan tangan dengan erat di leher Johnny dan menarik tubuh mereka menempel.
"Mhhhh… shhhh.." Lalu dengan sifat bitchy yang naik ke permukaan, mendesah tanpa malu dan menaikkan diri ke pangkuan Johnny.
"Shit! Pria sejenis itu menelantarkan seseorang seseksi dirimu…" Johnny melepas sejenak sebelum sekarang lagi-lagi menciumi Seungkwan dengan suara menyedot yang nyaring. Tangannya menyelinap ke dalam celana Seungkwan, menggeseki lubang Seungkwan dengan jari tengahnya.
"MMhhh…. Sshhh… ahaaahhhh.. Johnnnhhh… nngghh…" Seungkwan mendesah diantara ciuman mereka dan menggeliat di antara tubuh menempel mereka.
"Kau.. hhh.. membuaku gila, John… AAAHH! HHMMM… MMHhh… terlalu keras.. angghhh…" Seungkwan melepas ciuman dengan cepat saat merasa jari Johnny mulai menelusup kedalammnya. Lalu dengan segala kebinalannya, merasa begitu keenakan saat dengan telak Johnny menekan dan menyentuh prostatnya dengan tepat dan keras untuk waktu 5 detik. Johnny benar-benar tidak bergerak, tapi menyentuh prostatnya dengan tepat pada bagian sangat sensitif begini membuat Seungkwan ingin telanjang lalu menungging dan disodomi.
"Aku tahu kau mencintai rasanya… kau akan terbang dan bahagia sebentar lagi…" Johnny berbisik di belakang tengkuknya dan melepas jarinya dengan tiba-tiba, membuat Seungkwan merinding dan mendesah kecewa. Johnny tertawa karena melihat kehilangan yang begitu nampak pada ekspresi Seungkwan.
"Pertama, sebelum melakukan seks, kau harus melepas penghalang…" Johnny berbicara dan melepas perlahan pakaian Sengkwan yang mulai terlihat kepanasan.
Seungkwan melepasnya dengan ringan hati dan dengan pandangan menggodai Johnny yang mau tidak mau menjadi bergairah dan berhasrat untuk menikmati tubuh si seksi ini.
"Kau benar-benar berubah menjadi nakal untuk beberapa alasan." Johnny tersenyum miring dan menjatuhkan Seungkwan di kasur lalu merangkak dengan tatapan berapi di atas tubuh Seungkwan yang menengang perlahan dengan permainannya sendiri pada putingnya. Dan ini membuat sisi liar Johnny terpanggil. Tangannya melepas tangan Seungkwan dan mengganti peran itu untuk memijat puting Seungkwan.
"Anghhh… sshh.. Johnhhh.. pilin begituh.. ahh.. yahhhh… enak ahhh.. nghhh.." Seungkwan menggelinjang dan menggeliat saat Johnny mengumpat dan sekarang malah menyedot putingnya.
"AAHHHH… nikmatthh sekali.. ahh.. ahhaaaahh.." Seungkwan merasakan putingnya tersedot, dan saraf sensitifnya terstimulus. Dia jadi haus untuk digenjot, dia jadi ingin untuk orgasme. Tapi rangsangan ini sangat kuat membuatnya menggelinjang makin tidak karuan saat Johnny menaikkan level dengan permainan giginya.
"Ahhh.. Ahhh.."
"BRAK!"
Pintu kembali terbuka dengan debuman keras. Membuat Johnny dan seungkwan mau tak mau berhenti. Lalu netra Seungkwan membulat saat lihat orang itu…
"Vernon? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Itu pertanyaanku, Kwan! Apa yang kalu lakukan di sini? Bersama dia, pelacur ini?!" Vernon berteriak dan membuat Seungkwan menunduk ketakutan.
"Itu bukan urusanmu, bung." Johnny tidak tega melihat Seungkwan yang ketakutan dan merasa muak dengan sifat dominan tak beralasan milik Vernon.
Lalu kata-kata Johnny membuat Vernon berlari ke arah mereka..
"BUGG!"
Dan menampar Johnny dengan telak hingga terjatuh, membuat Ten berteriak dan berlari membantu pacarnya yang terlihat berantakan.
"Apa yang kau lakukan, Ver?!" Seungkwan berteriak dengan keadaan yang buruk ini, membuat Vernon menariknya duduk dan menatapi matanya dengan amarah yang menyala.
"Kau tidak tahu soal perbuatan yang kau lakukan dengan si pelacur itu?!" Vernon membentak Seungkwan sekali lagi dan membuat Seungkwan meremas seprai dengan kegilaan perasannya yang campur aduk.
"Kau memperlakukanku seakan aku milikmu…" Suaranya lirih dan dia melepas pandangannya dari mata Vernon.
"Kau melakukannya dengan orang itu…" Vernon ikut berbicara lirih dengan jari yang menunjuk Johnny yang kesakitan dan mencoba untuk mendapatkan pandangan Seungkwan.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan..." Seungkwan menunduk dan memejamkan matanya yang sekarang sudah terasa lembab sekali.
"BAGAIMANA KALAU AKU BILANG BEGINI? AKU TIDAK MENYUKAIMU! KAU BILANG SUKA DENGAN KEBERSAMAAN KITA TAPI MALAH MELAKUKANNYA BERSAMA ORANG LAIN!" Vernon meneriakinya lalu pergi tanpa menoleh.
Hati Seungkwan seperti tertusuk ribuan jarum.
Bukankah Vernon itu…
egois?
.
.
.
TBC
INI JELEK BANGET MASA! WB AKUTUH -_-
Halo semuaaaa… 8ter kambekkkkkk… meski ini telat lagi… sorry sekali, soalnya segala macam test dan ujian baru beres tanggal 17 kemaren. Dan sebenernya yang memotivasi 8ter buat lanjut tuh pas baca-baca review kalian gitu.. rasa bersalah aja gak lanjut lanjut.. maaf yaaahh.. 8ter kek jahat gitu, tapi baca kok semua review kalian. Makasih respon baiknya ^_^ meski 8ter telat kambeknya… next 8ter bakal usahain buat segera kambek… ^_^
And as before, sorry kalau ada typo TT
First I wanna say THHHAAAANKKSSSSS A LOOOTTT BUAT YANG REVIEW, FOLLOW, DAN FAVORITE :****
Special Thanks To
VerKwan | SwaggxrBang | Verkwan For Lyfe(guest)| Moon Vibes | Moon Vibes| Moon Vibes| Moon Vibes| Moon Vibes| Moon Vibes| Moon Vibes| Moon VibesUrumira| UrumiraMoon Vibes |viyasefana048 | Urumira| VerKwan| SwaggxrBang |
Sorry kalau gak disebut ya~~ Review lagi~~ ^^
