Fantasy Lover [REMAKE]
Novel by SHERRILYN KENYON
Disclaimer
Ide cerita dan sebagian besar plot diambil dari novel aslinya karya Sherrilyn Kenyon, dengan disertai penambahan atau pengurangan seperlunya.
Warning
Genderswitch | Typo | Bad Grammar
.
oOo
Bab
6
oOo
"Dasar kau makhluk hina!" rentetan cercaan umpatan Kyuhyun muntahkan.
Mata Sungmin membelalak. Ia tak tahu apa yang paling mengejutkannya saat itu, Kyuhyun yang tiba-tiba menyerang si biker tak di kenal atau umpatan caci maki yang digunakan pria itu.
"Makhluk bangsat!" Kyuhyun kembali melayangkan pukulannya, si biker melawan walau itu sia-sia karena kemampuan berkelahinya jauh di bawah Kyuhyun.
Melupakan Ryeowook yang tercengang, Sungmin berlari ke arah mereka, jantungnya berdebar ketika berusaha memikirkan apa yang harus ia lakukan. Tidak mungkin bisa ia melerai kedua pria itu sendiri, tapi bila tak dilakukan mereka berdua bisa saling membunuh.
"Kyuhyun! Hentikan! Kau bisa membunuhnya!" seru si wanita pirang.
Sungmin membeku ketika mendengar kata-kata itu. Darimana dia mengetahui nama Kyuhyun?
Wanita itu mengitari mereka seolah berusaha menolong si biker untuk mengelak dari serangan, "Sayang, awas dia mau... aw... pasti sakit!" ia meringis seolah ikut merasakan rasa sakit saat Kyuhyun meninju tepat di hidung si biker. "Kyuhyun! Berhenti memukulinya seperti itu! Kau bisa membuat hidungnya bengkok. Awas sayang! merunduk!"
Si biker tak merunduk dan Kyuhyun melayangkan tinju kedagunya yang membut ia mundur terhuyung-huyung.
Benar-benar kebingungan, Sungmin bolak-balik memandangi wanita itu dan Kyuhyun. Apa mereka saling mengenal?
"Eros sayang hati-hati!" teriak wanita itu lagi sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya seperti seekor burung yang hendak terbang.
Ryeowook bergerak, berdiri di sebelah Sungmin.
"Apa itu.. Siapa tadi.. seseorang yang berusaha dipanggil oleh Kyuhyun?"
Ryeowook mengangkat bahu, "Mungkin, tapi aku tak bisa membayangkan sosok Cupid dalam bentuk biker"
"Di mana Priapus?" desak Kyuhyun sambil mencengkeram dan mendorong si biker ke pagar kawat.
"Aku tak tahu," jawabnya sambil meronta melepaskan kedua tangan Kyuhyun dari kemeja hitamnya.
"Jangan coba-coba membohongiku," Kyuhyun menggeram.
"Aku tak tahu!"
Kyuhyun mempererat cengkeramannya ketika kepedihan dan amarah yang sudah ribuan tahun berkecamuk di dalam dirinya. Tangannya gemetar dari keinginannya untuk membunuh. Namun jauh dari keinginan itu, kekecewaan karena di abaikanlah yang ia rasakan.
Mengapa tak ada yang menjawab panggilannya sebelumnya?
Kenapa orang ini mengkhanatinya?
Bagaimana mungkin mereka semua melakukan ini padanya kemudian meninggalkannya dalam penderitaan?
"Di mana dia?" tanya Kyuhyun lagi.
"Entahlah, mungkin sedang berpesta, makan-makan, ah persetan.. aku sudah lama tak melihatnya."
Kyuhyun menarik Eros dari pagar. Seluruh murka neraka tampak di wajahnya ketika melepaskan orang itu.
"Aku harus menemukannya," kata Kyuhyun dengan gigi teratup.
Otot rahang Eros berkedut ketika ia merapikan kemejanya. "Yah, memukuliku habis-habisan tak akan menarik perhatiannya."
"Kalau begitu, membunuhmu mungkin bisa." Kyuhyun kembali mencengkeram kemeja Eros.
Namun, tiba-tiba para biker yang lain mulai menghampiri Kyuhyun. Ketika para pria itu mendekat, Eros mengelak dari tinju Kyuhyun dan berputar untuk menghentikan teman-temannya.
"Jangan dekati dia," katanya, memegangi lengan salah seorang biker yang paling dekat dan mendorong pria itu ke belakang. "Kalian pasti tak mau melawannya. Percayalah. Dia bisa mencabik-cabik jantungmu dan menyuapkannya sebelum kalian terjatuh dan mati."
Kyuhyun mengamati para biker itu dengan tatapan menantang. Ekspresi dingin dan berbahaya itu membuat Sungmin takut, ia sangat yakin kalau Kyuhyun bisa melakukan apa yang dikatakan orang itu.
"Kau ini kenapa? gila?" tanya biker paling tinggi sambil memandangi Kyuhyun dengan tatapan menantang juga, "Dia tak kelihatan sehebat itu dimataku."
Eros menyeka darah dari sudut bibirnya dan setengah tersenyum ketika melihat darah di ibu jarinya, "Yah, percaya saja padaku. Pria ini memiliki tinju yang seperti godam palu dan kemampuan bergeraknya jauh lebih cepat sebelum kalian sempat mengelak".
Terlepas dari kemejanya yang kusut dan celana jeans kusam yang ia kenakan, semua itu tak akan bisa menyembunyikan ketampanannya.
"Lagi pula ini hanya percekcokan keluarga yang sepele" ujarnya kembali dengan kilat di mata. Ia menepuk lengan si biker dan tertawa, "Adik ku ini memang mudah naik darah."
Sungmin dan Ryeowook saling pandang dengan heran dan tertegun.
"Apa aku tak salah dengar?", tanya Sungmin pada Ryeowook, "Tak mungkin dia kakak Kyuhyun, Atau mungkin?"
"Mana aku tahu"
Kyuhyun mengatakan sesuatu dalam bahasa kuno pada Eros. Mata Ryeowook membelalak mendengarnya dan senyum dari wajah Eros langsung lenyap.
"Kalau kau bukan adik ku, pasti sudah kubunuh kau."
Tatapan Kyuhyun menajam, "Kalau bukan aku membutuhkanmu, kau yang mati duluan"
Bukannya marah, Eros malah tertawa.
"Jangan tertawa", kata si wanita pirang marah. "Sebaiknya kau ingat, dia bukan manusia sembarangan, dan dia bisa melakukan hal itu"
Eros mengganguk, kemudian menoleh pada keempat biker yang lain, "Pergilah," katanya. "Aku akan menyusul nanti."
"Kau yakin", tanya biker paling kecil, wajahnya yang terlihat kusam karena rambut-rambut halus di sekitar dagu yang tak dicukur. "Kami bisa menunggu kalau kau mau"
"Tak masalah", katanya kembali sambil melambaikan tangan untuk menyuruh mereka pergi. "Sudah kukatakan aku harus menemui seseorang disini, dan itu adik ku yang kebetulan sedang kesal sekarang"
Para biker yang lain mengangguk mengerti, dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Sungmin melangkah mundur ketika para biker melewatinya. Semuanya, kecuali wanita berambut pirang dengan kecantikan yang mengagumkan. Wanita itu menyilangkan rtangan di depan dada mengamati Kyuhyun dan Eros dengan cemas.
Tanpa di sadari Sungmin, Ryeowook dan wanita itu. Eros mengitari Kyuhyun dengan perlahan, memandangnya dari atas sampai bawah.
"Huh, berteman dengan makhluk fana?" tanya Kyuhyun memandangi Eros dengan tatapan dingin dan mencemooh. "Ah, apa sekarang Cupid yang di bangga-banggakan sebagai lambang cinta ini kepalanya terpukul dengan palu Thor.. atau otaknya yang sekecil debu tersambar petir Zeus?"
Eros tak menghiraukan kata-kata Kyuhyun, "Sial", katanya tak percaya. "Kau tak berubah sedikitpun, Kukira kau makhluk fana."
"Memang itulah aku, kau..." sebelum Kyuhyun kembali melontarkan rentetan umpatan, Eros memotongnya.
"Dengan mulut seperti itu, seharusnya kau bergaul dengan Ares, aku yakin kau tak mengerti arti kata-kata itu, Adik kecil."
Kyuhyun mencengkram kemeja Eros kembali, tapi sebelum ia bertindak lebih lanjut, si wanita pirang sudah mengulurkan tangannya ke depan, seolah mengenggam udara kosong yang membuat Kyuhyun sontak membeku seperti patung.
"Lepaskan aku, Psyche" Kyuhyun menggeram.
Mulut Sungmin mengangga.
Pysche? Apa lagi itu?
"Hanya jika kau berjanji tidak memukulnya lagi," ujar Psyche. "Aku tahu kalian berdua tak akur, tapi aku menyukai wajahnya dan aku tak akan tinggal diam kalau kau melukai wajahnya lebih jauh lagi"
"Lepaskan.. aku" kata Kyuhyun lagi, memberi penekanan pada setiap katanya.
"Lebih baik kau melakukannya, sayang. Dia bisa lepas dari cengkeraman gaibmu dengan mudah berkat Mom. Dan saat ini dia masih berbaik hati tidak ingin melukaimu."
Berdecih, Pysche menurunkan tangannya.
Kyuhyun melepaskan cengkeramannya pada Eros, "Aku tak menganggap ini lucu, tak ada satupun yang lucu di sini. Sekarang, dimana Priapus?"
"Sial! Aku tak tahu! terakhir kudengar dia menikmati hidupnya di Japan"
Kepala Sungmin serasa berdenging karena ini, bolak balik matanya memandangi antara pria dan wanita asing yang berdebat seolah-olah mengenal Kyuhyun. Apa-apaan ini? Masa mereka benar-benar...? Tapi benarkan mereka memiliki hubungan dengan Kyuhyun? Bukannya Kyuhyun manusia? Kenapa ini bisa terjadi?
Sungmin menoleh heran pada ekspresi Ryeowook yang girang dan bersemangat.
"Kau tahu apa mereka?"
Ryeowook mengangguk, berdehem.
"Lalu siapa orang yang mereka bicarakan sebenarnya?" tanyanya lagi.
"Priapus? Dia itu dewa kesuburan dan seksual yang biasanya digambarkan berkeliaran dengan kejantanan yang menegang," bisik Ryewook.
Sungmin menyerngit, "Lalu kenapa Kyuhyun mencarinya?"
Ryeowook mengangkat bahu, "Entahlah, mungkin dia yang mengutuk Kyuhyun. Tapi ada hal yang menarik sebenarnya. Priapus di katakan dalam mitos adalah kakak dari Eros, dan kau dengar tadi dia memanggil Kyuhyun dengan 'Adik Kecil'? itu berarti kemungkinan mereka bertiga bersaudara"
Jadi kemungkinan Kyuhyun di kutuk sebagai pemuas seks wanita oleh kakaknya sendiri?, memikirkan itu membuat Sungmin mual.
"Panggil dia", kata Kyuhyun dengan wajah muram pada Eros.
"Kau saja yang panggil. Dia sedang kesal denganku"
"Kesal?"
Eros menjawab dalam bahasa kuno.
Merasa semakin tak mengerti, Sungmin memutuskan untuk menyela dan mendapat beberapa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang berputar di otaknya.
"Permisi, sebenarnya apa yang sedang terjadi disini?" tanya Sungmin, menarik ujung baju Kyuhyun, "Kenapa kau memukulnya?"
Kyuhyun memandang Sungmin dengan tatapan polos. "Karena memukulnya itu sangat menyenangkan untukku."
"Cih!" cetus Eros, memandang Kyuhyun seolah-olah hanya pria itu terlihat di matanya —karena ya, ia tak menganggap kehadiran orang lain disana. "Sudah berapa lama kita tak bertemu, eoh? Dua ribu tahun? Dan bukannya pelukan antar-saudara yang mengharukan ku dapat, malah pukulan dan cibiran". Eros menyeringai memandang Psyche. "Kau mengerti kan sekarang, kenapa aku tak akrab dengan saudara-saudaraku"
"Aku sedang tak ingin mendengar sindiranmu," sergah Kyuhyun di antara gigi yang menggertak.
Eros mendengus, "Katakan padaku, apa kau memanggilku hanya untuk menghajarku habis-habisa? atau ada alasan yang lebih masuk akal untuk kedatanganku disini?"
"Jujur saja, kupikir kau tak mau repot-repot datang karena ini sudah yang ketiga ribu kalinya aku memanggilmu"
"Itu karena aku tahu kau akan menghanjarku." Eros menunjukkan pipinya yang membengkak, "Dan kau memang melakukannya, bukan"
"Huh, kalau begitu kenapa kau mau repot-repot datang sekarang?" tanya Kyuhyun.
"Jujur saja, kupikir kau sudah mati saat itu dan panggilan-panggilan yang selama ini datang kukira dari makhluk fana yang suaranya kebetulan mirip denganmu"
Sungmin memperhatikan dalam kebingungannya bagaimana seluruh emosi lenyap dari Kyuhyun. Seolah kata-kata Eros yang menyakitkan membunuh sesuatu di dalam dirinya. Walau Mimik wajah Eros sendiri pun terkesan sendu.
"Dengar, aku tahu kau menyalahkanku atas apa yang menimpa HyunMin, tapi itu bukan salahku. Aku sama sekali tak menyangka kalau Priapus melakukan itu."
Kyuhyun mengernyit seolah ada sesuatu yang memukulnya. Kepedihan masa lalu membuncah keluar dari pancaran matanya. Sungmin tak tahu siapa HyunMin, tapi yang ia yakinin, bahwa wanita itu sepertinya sangat berarti bagi Kyuhyun.
"Benarkah?" tanya Kyuhyun, suaranya parau.
"Aku bersumpah, Adik Kecil," Ujar Eros dengan lembut, melirik Psyche sebelum kembali menatap Kyuhyun. "Aku tak pernah berniat melukainya, dan aku tak berniat untuk mengkhianatimu."
"Yang benar saja," cibirnya. "Kau mau aku percaya? Aku terlalu mengenalmu. Kau itu makhluk hina yang senang menimpakan malapetaka pada makhluk fana."
"Tapi dia tak akan melakukan itu padamu, Kyuhyun" sela Psyche, nada suaranya memohon. "Kalau kau tak percaya padanya, percayalah padaku. Tak ada yang menginginkan HyunMin mati seperti itu, bahkan Ibumu masih meratapi kematian keluargamu."
Tatapan Kyuhyun bertambah sinis. "Bagaimana bisa kau membelanya? Aphrodite sangat iri padamu, bahkan dia berusaha menikahkanmu dengan seorang pria buruk rupa kemudian membunuhmu supaya tak menikah dengannya." dengan angkuh Kyuhyun menunjuk ke arah Eros.
Psyche memalingkan wajahnya.
"Jangan membicarakannya seperti itu," bentak Eros. "Dia itu ibu kita dan kau patut menghormatinya"
Amarah Kyuhyun menguar, emosi yang sejak tadi ia tahan akhirnya keluar, di saat seperti ini bahkan iblis pun akan ketakutan padanya. "Jangan pernah membelanya di depanku."
Eros mendecih, menatap sekeliling hanya untuk mencoba menetralisir emosinya. Dia tak boleh terbawa emosi saat ini. Saat itulah Eros sadar tidak hanya ia, Kyuhyun dan Psyche saja yang berada disana. Dua wanita —dimana salah satunya berdiri di sebelah Kyuhyun, menatapnya dengan wajah kebingungan. "Siapa mereka?"
Kyuhyun menoleh, sebelah lengannya langsung merangkul pinggang Sungmin mendekat, "Teman-temanku." ujarnya, membuat Sungmin terkejut.
Wajah Eros berubah keras dan dingin, "Kau, tak, memiliki, teman". Sebuah kalimat yang di ucapkan dengan penuh penekanan di tiap kata seolah meremas dada Sungmin.
Dengan kedua tangan terkepal dan keberanian yang dipaksakan ia menatap Eros menantang, "Kenapa kau bilang begitu. Kyuhyun memiliki teman bukannya kau sebagai kakaknya seharusnya senang."
"Kau makhluk fana beraninya berkata seperti itu di hadapanku." bola mata Eros berkilat marah, "Apa kau bosan hidup, eoh", sepertinya Eros sudah tak bisa mengendalikan emosinya, langit keabu-abuan muncul mendadak di atas mereka.
"Sayang.." khawatir akan kekacauan yang nantinya tak hanya terjadi di dunia fana, Psyche segera menenangkan, membisikkan sesuatu sampai gurat kemarahan di wajah Eros semakin memudar.
"Aku tak salah. Memangnya kenapa kalau Kyuhyun memiliki teman, apa itu akan membuatmu dan dewa manapun yang mengacuhkannya selama ini menjadi dalam bahaya. Tidak bukan." tantang Sungmin kembali, sepertinya keberanian membawanya dalam keadaan yang tak takut oleh apapun, berbanding terbalik dengan semakin erat kepalan tangannya. "Lalu satu lagi. Kau, walaupun dewa atau apapun, sekarang berada di dunia manusia. Jadi berlakulah seperti manusia, jangan memakai nama yang sulit ku ucapkan."
Kyuhyun memutar bola matanya, tersenyum licik saat menatap Eros yang masih di tenangkan. "Benar juga. Bagaimana kalau kau memberinya nama, eum." bisik Kyuhyun di telinga Sungmin, walau fokus tatapannya masih pada Eros seolah mengejek.
Eros mendengus.
"Hae? Hyuk? Jae? Changmin? Yoochun?", sela Ryeowook, "Kupikir nama-nama itu lumayan juga".
Sungmin menatap menyeluruh, menilai Eros, "Bagaimana kalau Changmin?"
"Berhenti menamaiku dengan nama makhluk fana, manusia!", gemuruh petir mulai terdengar dari awan-awan keabuan di atas mereka. "Kematian yang biasanya sepertinya tak akan membuat mulutmu yang hina itu diam, eoh"
"Sedikit saja kau melukainya, aku tak segan melukaimu dan Psyche sekalipun."
"Aku juga kesulitan menyebutkan nama wanita itu" bibir Sungmin mengerucut, menatap kagum atas kecantikan Psyche yang dibalas wanita itu dengan satu senyuman menenangkan.
"Kau bisa memanggilku dengan nama apapun yang kau suka", ujarnya.
Satu kilat menyambar tepat di samping kiri mereka, hanya berjengkal tiga puluh sentimeter dari tempat Sungmin berdiri. Tanah keras itu seketika berlubang kecil dengan asap putih mengepul keluar, "Psyc!"
"Berhentilah bertingkah seperti anak kecil," kedua lengan Psyche terlipat di dada. "Dia benar, sekarang kita ada di dunia fana, bukan hal aneh kalau memakai nama seperti manusia. Dan namaku memang sulit di ucapkan" ia mengerucutkan bibirnya juga, meniru Sungmin dengan kadar yang berbeda.
Eros mendengus, "Whatever, everything you want"
Kyuhyun tertawa lebar, matanya menatap meremehkan, "Kau luar biasa Sungmin, tak hanya aku, bahkan makhluk hina itu bisa kau atasi."
Satu kilat lagi menyambar, kali ini tepat di depan kaki Kyuhyun.
"Jangan banyak tingkah, Adik Kecil"
"Kau kira aku takut, eoh" tantang Kyuhyun mencibir.
"Bisa kalian tak saling memojokkan seperti ini? Lama-lama aku alergi kilat karena hal ini." sela Sungmin, "Bisakah kau berbicara baik-baik padanya, Changmin. Kau tahu sendiri bukan adik mu ini seperti apa. Dan, em, bolehkan aku memanggilmu dengan Victoria, Miss?" pipi Sungmin merona entah karena apa, Ryeowook yang melihat hanya menggelengkan kepala.
"Nama yang indah, tentu saja"
"Kau dengar sendirikan permintaannya, Changmin~" Kyuhyun mendengus menahan tawa.
"Bisa tidak kau berhenti memanggilku dengan nama menggelikan itu? Aku tak tahan mendengarnya, dan aku masih memiliki nama asli asal kau tahu"
Kyuhyun tersenyum dingin, "Aku melakukannya karena tahu kau tak menyukainya, Changmin~"
Changmin mengertakkan gignya, "Well, itu terserah kau, karena dirimu salah satu makhluk fana yang tak di terima dimanapun."
Kyuhyun tak mengatakan apa-apa untuk menjawab, tapi ekspresi tegang pada wajahnya menyadarkan Sungmin akan apa yang dirasakannya.
Kelihatan tak menyadari betapa menyakitkan kata-kata yang ia ucapkan, Changmin merangkul santai tubuh Victoria, "Kau masih belum mengatakan kenapa mencari Priapus begitu penting bagimu."
Rahang Kyuhyun berdenyut, "Karena dia mengutukku seperti ini dan aku tak bisa bebas dari kutukannya. Aku ingin dia disini untuk mencabuti bagian-bagian tubuhnya yang tak bisa tumbuh lagi."
Wajah Changmin memucat. "Berani sekali dia. Kalau Mom tahu pasti sudah dibunuh."
"Apa kau benar-benar berpikir dia mengutukku tanpa sepengetahuannya? Aku tak sebodoh itu. Wanita itu sama sekali tak peduli dengan apa yang menimpaku."
Changmin menggelengkan kepala. "Jangan mulai lagi. Waktu aku mengantarkan hadiah-hadiahnya padamu, apa kau lupa menyuruhku mengembalikannya atau akan menjejalkan semua hadiah itu ke bokongku. Ingat?"
"Kau tahu kenapa?", tanya Kyuhyun dengan sinis. "Zeus mengusirku dari Olympus setelah beberapa jam aku dilahirkan dan dia —Aprodite, tak mau repot-repot membelaku. Satu-satunya hal yang kalian lakukan hanya menumpuk penderitaan di atas kepalaku."
"Oke, kuakui, beberapa di antara kami seharusnya bersikap lebih baik padamu, tapi.."
"Tidak ada kata tapi. Faktanya tak ada satupun di antara kalian yang memperdulikanku, terutama dia"
"Itu tak benar, Mom tak bisa melupakan penolakanmu. Kau itu anak kesayangannya."
Kyuhyun mencibir, "Menyayangiku dan membiarkanku terkurunng di sebuah buku selama dua ribu tahun terakhir? Lucu."
Sungmin merasakan sakit hati Kyuhyun. Bagaimana mungkin Kakaknya hanya berdiri di sana, mendengarkan dan tak melakukan apapun untuk menolong adiknya dari nasib yang lebih buruk dari kematian?
Pantas saja Kyuhyun mengutuk dan membenci mereka.
Tiba-tiba Kyuhyun merengut belati dari ikat pinggang Changmin dan menyayat pergelangan tangannya sendiri.
Sungmin terkesiap saking ngerinya, tapi belum suara apapun keluar dari mulutnya, luka Kyuhyun sembuh seketika tanpa meninggalkan setetes darah pun.
Mata Changmin membelalak, "Sial," bisiknya. "Itu salah satu belati terbaik yang diberikan Hephaestus."
"Aku tahu," Kyuhyun mengembalikan belati itu pada Changmin. "Kau saja bisa terbunuh karena belati itu, tapi aku tidak. Aku sudah dikutuk sepenuhnya oleh Priapus."
Sungmin melihat kengerian di mata Changmin ketika menyadari makna di dalam kalimat Kyuhyun. "Aku tahu dia membencimu, tapi aku tak menyangka dia bisa melakukan hal serendah ini. Ah, apa sebenarnya yang dipikirkannya."
"Aku tak perduli dengan apa yang ada di otak kosongnya, yang kuinginkan hanya kebebasan."
Changmin menganguk. Untuk pertama kalinya Sungmin dapat melihat simpati dan keprihatinan pada wajah dewa itu. "Baiklah, Adik Kecil. Bersabarlah dulu, biarkan aku menemui Mom dan mencari tahu pendapatnya tentang masalah ini."
"Kalau dia memang menyayangiku seperti yang kau katakan, kenapa kau tak memanggilnya sekarang dan biarkan aku sendiri yang berbicara dengannya."
Changmin memandang Kyuhyun dengan tatapan konyol. "Karena terakhir kali aku menyebut namamu, dia menangis selama satu abad. Perasaannya benar-benar terluka karenamu."
Walaupun tubuh dan wajah Kyuhyun terlihat tenang, Sungmin yakin Kyuhyun juga merasakan penderitaan yang sama seperti Ibunya. Bahkan mungkin lebih besar.
"Aku akan menanyakan pendapatnya dan menemuimu segera," kata Changmin mengeratkan rangkulannya di tubuh Victoria, "Oke?"
Kyuhyun mengulurkan tangan dan merengut kalung di leher Changmin, menariknya lepas dengan satu sentakan.
"Hei!" sergah Changmin, "Hati-hati dengan itu."
Kyuhyun menggenggam rantai kalung itu, membiarkan liontin berbentuk busur kecil terjuntai terayun. "Ini kusita, jadi kau pasti akan kembali."
Kelihatan sangat kesal, Changmin menggosok-gosok lehernya. "Hati-hati dengan itu. Busur itu berbahaya kalau di tangan yang salah"
"Jangan takut. Aku mengingatnya dengan baik."
Mereka berdua saling pandang.
"Sampai nanti." Changmin menjentikkan jarinya, kemudian ia dan Victoria menghilang di tengah kepulan asap keemasan. Langit yang keabu-abuan tadipun turut menghilang.
Sungmin melangkah mundur, pikirannya berputar-putar. Ia tak bisa mempercayai apa yang baru ia lihat dan dengar.
"Aku pasti bermimpi" bisiknya. "Apa karena aku terlalu banyak menonton film Xena dan Hercules?". Sungmin berdiri diam sambil berusaha mencerna apa yang telah terjadi, "Itu tak mungkin nyata. Pasti hanya halusinasi."
Kyuhyun menghela napas lelah. "Kuharap juga begitu."
"Ya Tuhan! yang tadi itu Eros!" seru Ryeowook dengan bersemangat —telat tentunya. "Eros si Cupid yang menggemaskan penebar cinta."
Kyuhyun mencibir. "Dia sama sekali tak menggemaskan, kalau tentang cinta, sepertinya dia lebih sering mencabik-cabiknya."
"Tapi dia bisa membuat orang jatuh cinta"
"Tidak," cetus Kyuhyun, mempererat genggamannya pada kalung itu. "Yang ia tawarkan hanya ilusi. Tidak ada kekuatan apapun yang membuat manusia saling mencintai. Cinta itu datangnya dari hati." ada kepedihan di dalam suaranya.
Sungmin menatap Kyuhyun, "Kau mengatakannya seolah pernah merasakannya."
"Memang."
Sungmin bisa merasakan kepedihan Kyuhyun seolah itu kepedihannya sendiri. Lembut, ia menyentuh lengan Kyuhyun, mengusapnya. "Apa yang terjadi dengan HyunMin?" tanya Sungmin pelan.
Dengan mata yang tampak tersiksa, Kyuhyun memalingkan wajahnya.
Sungmin berdehem, "Ehm, apa benar kau putra dari Aphrodite?"
Kyuhyun memelototi Sungmin dari sudut matanya, "Aku bukan putra siapapun. Ibuku menelantarkanku, ayahku tak mengakuiku dan aku di besarkan di medan perang entah di bawah kekuasaan siapupun."
Kata-kata itu langsung menyayat hari Sungmin, pantas Kyuhyun begitu, kondisinyalah yang membuat ia seperti ini. Ia bertanya-tanya apakah masih ada orang yang memeluk Kyuhyun dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan dipuaskan olehnya?
"Wookie..." ujar Sungmin pelan, "Rasanya aku pernah mendengar saat kuliah, di zaman itu para orang tua memukuli putra mereka agar menjadi tangguh di medan perang. Agar sanggup menanggung rasa sakit akibat peperangan yang ada, aku benar?"
Kyuhyun menyela sebelum Ryewook menjawab, "Benar, dan setahun sekali mereka mengadakan pertarungan di antara para putra prajurit untuk melihat siapa yang terkuat diantara mereka"
"Dan banyak pemuda-pemuda yang tewas karena hal itu." tambah Ryeowook. "Entah di saat pertarungan ataupun setelahnya." Ryeowook melirik Kyuhyun sedih, "Sebagai seorang putra dewi, kurasa kau sanggup melewatinya."
"Ya, memang," tak ada emosi dalam suara Kyuhyun, membuat Sungmin merasa ingin menjangkau dan memeluk Kyuhyun saat itu. Tapi ia tahu, Kyuhyun tak akan menerima hal itu, karena ia bukan pria lemah.
"Kalian tahu," kata Ryeowook, mencoba mencari topik pembicaran lain, "Aku merasa lapar. Bagaimana kalau kita makan burger Hard Rock?"
Kyuhyun mengerutkan dahi. "Kenapa dari tadi kalian bicara dalam bahasa yang aneh? Untuk apa makan makanan yang sekeras batu (Hard Rock)?"
Sungmin tertawa keras, Astaga kenapa ia tak pernah memikirkan hal itu.
"Funny, ayo kutunjukan apa itu burger Hard Rock."
Meninggalkan lahan parkir, mereka menyeberang menuju sebuah caffe berlantai dua dengan papan nama bertuliskan Hard Rock di atas pintunya. Antrian di depan pintu yang lumayan panjang memperlihatkan bahwa caffe itu termasuk tempat yang sering dikunjungi.
Saat mereka berpikir untuk ikut mengantri di antrian paling belakang, seorang wanita berambut kecokelatan dengan celemek hitam terikat di pinggul rampingnya, berdiri di depan pintu sebagai penerima tamu memanggil. Mempersilahkan masuk terlebih dahulu tanpa perlu mengantri terlalu lama.
"Hei! kami lebih dulu mengantri" seru seorang pria mendekati si penerima tamu.
Wanita itu menatap dengan tajam, "Meja kalian belum siap." ucapnya sinis, kemudian memandang Kyuhyun dengan penuh kekaguman dan tersenyum lebar. "Ikuti aku..", langkah kakinya membawa ketiga orang itu masuk ke dalam caffe, sengaja berjalan dua langkah di depan, ia menggayunkan pinggulnya saat melangkah bermaksud menggoda pria tampan yang mengikutinya dibelakang.
Ryeowook melirik Sungmin dengan geli sambil menunjuk wanita di depannya diam-diam.
"Biarkan saja", kata Sungmin. "Kita bisa menyelip sepuluh orang karenanya."
Wanita itu membawa mereka ke lantai dua, meja tersudut yang tertutup oleh sekat tanaman menjalar, "Silahkan," katanya, menyentuh lengan Kyuhyun. "Kupastikan pesananmu datang secepatnya," ujarnya berlalu sambil mengedipkan sebelah mata.
"Cih, kenapa ia hanya berbicara seolah hanya ada Kyuhyun, memangnya kita ini apa, hantu?" ujar Ryeowook setelah memastikan si penerima tamu itu tak terlihat lagi.
"Kupikir, ya" timpal Sungmin sambil mengambil tempat duduk yang menghadap ke dinding belakang.
Ryeowook memilih duduk di kursi yang berseberangan dengan Sungmin, dan Kyuhyun —sesuai dugaan, mengambil kursi di sebelah Sungmin.
Sungmin memberikan Kyuhyun daftar menu.
"Aku tak bisa membacanya," kata Kyuhyun.
"Oh," ujar Sungmin malu karena tak terpikir hal itu. "Kupikir di zamanmu mereka sudah mengajarkan membaca."
Kyuhyun menggosok dagu dengan tangannya dan kelihatan jengkel atas komentar Sungmin. "Sebenarnya mereka mengajarkan baca-tulis. Masalahnya yang diajarkan itu bahasa kuno, Sansekerta dan jenis beberapa bahasa yang pastinya tak kau gunakan lagi dimasa ini", ujarnya merentangkan tangan di atas meja.
Ryeowook menatapnya dan terkesiap. "Apa itu seperti yang kuduga?", Ia menyentuh tangan Kyuhyun yang membiarkannya menggamit tangan kanan itu dan memandangi cincin yang terselip di jarinya.
"Ming, apa kau pernah melihat ini?"
Sungmin memajukan badan supaya bisa melihat cincin yang diperhatikan oleh Ryeowook.
"Tidak," jawabnya polos.
Ryeowook memutar bola matanya, jengah. Bagaimana ia bisa lupa, Sungmin tak perduli sama sekali pelajaran sejarah di kelas.
Cincin itu berbentuk seperti naga yang melingkar di jari Kyuhyun, berwarna emas yang bahkan tetap berkilat walau di sinari oleh lampu remang-remang caffe, batu Rubby sebagai mata sang naga dan Zambrud di bagian mulutnya.
"Indah" gumam Sungmin.
"Ini cincin jenderal, kan?" tanya Ryeowook. "Kau bukan tentara biasa. Kau seorang jenderal!"
Kyuhyun mengangguk muram, "Mungkin sekarang penyebutannya seperti itu."
Ryewoook mendengus saking kagumnya. "Ming, kau tahu tidak, untuk mendapatkan cincin seperti itu, Kyuhyun harus menjadi seseorang yang sangat penting di masanya. Cincin itu tak diberikan pada sembarang orang. ckck, aku terkesan"
"Hm," komentar singkat Kyuhyun.
Untuk pertama kalinya, Sungmin merasa iri karena gelar Ph.D. dalam bidang sejarah kuno Ryeowook. Temannya itu begitu tahu banyak mengenai Kyuhyun dan dunianya, tapi ia tahu tak membutuhkan gelar seperti itu untuk memahami betapa menderitanya Kyuhyun yang telah mengalami perubahan drastis dari seorang komandan yang di elu-elukan menjadi seorang pemuas seks bagi para wanita.
"Aku berani bertaruh kau pasti jenderal yang hebat" ujar Sungmin.
Kyuhyun mengalihkan perhatiannya pada Sungmin. Untuk suatu alasan yang ia tak mengerti, pujian Sungmin yang tulus terasa menghangatkannya.
"Aku berjuang keras"
"Kau pasti sudah melalui banyak rintangan dan pertarungan. Entah berapa banyak darah yang tumpah untuk mendapatkan itu."
Kyuhyun tersenyum. Ia sudah tak memikirkan kemenangan-kemenangannya selama berabad-abad lalu.
"Aku pernah menghabisi satu pasukan sendiri," ujarnya. Keduanya larut dalam tatapan yang entah mengartikan apa.
"Hei," seru Ryeowook, menyela mereka. "Apa aku boleh melihat busur Cupid?"
"Oh ya," timpal Sungmin, tersadar. "Bolehkan kami melihatnya?"
Kyuhyun mengeluarkannya dari kantong saku dan meletakkan di atas meja. "Hati-hati", ia memperingatkan Ryeowook ketika wanita itu mencoba meraihnya. "Panahnya masih penuh. Tertusuk sekali saja kau akan jatuh cinta pada orang pertama yang kau lihat."
Ryeowook segera menarik tangannya.
Sungmin mengambil garpu dan menggunakannya untuk menarik kalung itu mendekat. "Apa memang panah Cupid sekecil ini?"
Kyuhyun tersenyum. "Apa kau pernah dengar ungkapan, ukuran itu tak penting yang terpenting adalah hasilnya?"
Sungmin memutar bola matanya, "Aku tak yakin kalau yang mengatakannya, dilihat dari ukuran milikmu yang besar."
"Ming!" Ryeowook terperengah. "Sejak kapan kau bisa berbicara seperti itu."
"Itu masih sangat halus dibandingkan cara kalian bicara selama ini mengenai masalah ranjangku."
Kyuhyun menyampirkan helaian rambut Sungmin di belakang telinganya. Sungmin tak tersentak kali ini.
Suatu kemajuan.
"Jadi bagaimana dia menggunakan benda sekecil ini?" tanya Sungmin masih dilingkupi rasa penasaran.
Kyuhyun menggerakkan jarinya dengan ringan di surai rambut Sungmin yang selembut sutra. Dengan cahaya remang-rmang sekalipun, rambut wanita itu masih tampak berkilauan. Ingin sekali Kyuhyun merasakan helaian rambut itu terurai di dadanya. Dan membiarkan wajahnya terbenam di sana merasakan tiap helaian itu membelai pipinya.
Memejamkan mata, Kyuhyun membayangkan seperti apa rasanya kalau tubuh Sungmin melingkupinya, dan suara desahan berat wanita itu di telinganya.
"Kyu?" panggil Sungmin menyadarkan Kyuhyun dari lamunannya. "Bagaimana benda ini digunakan?"
"Well, ia bisa mengubah ukuran tubuhnya menciut sesuai ukuran busur ini, ataupun membesarkan ukuran busurnya"
"Benarkah?" tanya Ryeowook. "Aku tak tahu kalau ternyata seperti itu. Kupikir ukuran Cupid selalu seperti bayi menggemaskan"
"Jangan lupa ia datang dalam bentuk biker tampan tadi" sindir Sungmin.
Seorang pelayan bergegas menghampiri mereka, mengeluarkan bloknot dan mengerling kepada Kyuhyun, seolah pria itu adalah tamu istimewa hari ini.
Tanpa menarik perhatian, Kyuhyun menyelipkan busur hasil jarahannya ke bawah meja dan memasukkannya ke kantong saku.
"Aku minta maaf karena sudah membuatmu menunggu. Seandainya aku tahu kau belum dilayani, aku akan langsung berada disini begitu kau duduk."
Sungmin mengerutkan dahi menatap pelayan muda itu.
Sial, apa tak bisa lima menit saja tak ada wanita yang melemparkan dirinya jatuh akan pesona Kyuhyun.
Bukannya kau juga termasuk?
Sungmin terdiam karena sebesit pikiran itu. Bukannya ia sama saja seperti yang lain? Memandangai bokong Kyuhyun dan hampir menetaskan air liur karena tubuh pria itu.
Tidak, dia berbeda.
Sama saja.
Bagai di hantam oleh pukulan tak terlihat, Sungmin memutuskan mulai sekarang ia tak akan memperlakukan ataupun melihat Kyuhyun seperti itu lagi. Kyuhyun bukan makanan yang menggiurkan untuk dimakan, tapi seorang manusia yang layak diperlakukan dengan hormat dan bermartabat.
Ryeowook segera memesan makanan untuk mereka bertiga, dan ketika si pelayan kembali dengan minuman pesanan mereka, gadis itu juga membawa seporsi chicken wing.
"Kami tak memesan ini," kata Ryeowook.
"Oh aku tahu." ujar si pelayan, namun matanya menatap ke arah Kyuhyun dan tersenyum. "Saat ini di dapur sangat sibuk, mungkin butuh waktu lebih lama sampai makanannya tersaji. Kupikir kau pasti lapar, jadi aku memberikan ini. Kalau kau tak suka aku akan membawakan yang lain. Tenang semua ini gratis," ucapnya panjang lebar, kembali mengelingkan mata, "Jadi apa kau mau yang lain? Yang bisa di bawa pulang dan dinikmati di atas ranjang, mungkin?"
Oh, orang bodoh pun tahu apa maksud si pelayan. Rasanya Sungmin ingin menjambak rambut red-brown si pelayan dari akarnya.
"Ini sudah cukup, terima kasih." sahut Kyuhyun.
"Oh Tuhan, apa kau bisa mengatakan sesuatu lagi?" tanyanya dengan histeris. "Oh, bagaimana kalau panggil namaku! Namaku Yoona"
"Terima kasih Yoona."
"Oh~" bisiknya sedikit mendesah. "Itu membuatku bagai~ ah~". Setelah memandang Kyuhyun dengan nafsu untuk yang terakhir kalinya, gadis itu meninggalkan mereka.
"Aku tak percaya," komentar Sungmin. "Apa semua wanita selalu memperlakukanmu seperti itu?"
"Ya," jawab Kyuhyun, nadanya agak gusar. "Karena itulah aku benci bepergian ke tempat umum."
"Biarkan saja," kata Ryeowook, mencomot sepotong chicken wing, "Dia ada manfaatnya. Seharusnya kita harus lebih sering mengajaknya keluar."
Sungmin mencibir, "Asal gadis itu tak menuliskan nama dan nomor teleponnya di bon sebelum menyerahkan ke kita. Kalau dia sampai melakukannya, akan ku sumpal bon itu ke mulutnya."
Ryeowook tertawa terpingkal-pingkal.
Sebelum sempat Sungmin menanyakan sesuatu yang lain, sudut matanya melihat Changmin memasuki restoran dengan santai dan menghampiri meja mereka —duduk disebelah Ryeowook.
Ada memar ringan pada wajahnya di sebelah kiri di bagian Kyuhyun meninjunya tadi. Pria itu terlihat santai, walau tak bisa menipu mata Sungmin yang merasakan ketengannya seolah ia sudah siap lari tunggang langgang dalam sekejap mata.
"Bagaimana?" tanya Kyuhyun.
Changmin menghela napas panjang. "Kau mau kabar buruk, atau kabar yang sangat buruk?"
"Biar kupikirkan... Bagaimana kalau memulai dari sangat buruk?"
Changmin mengangguk, "Baiklah, yang paling buruk, kemungkinan besar kutukannya tak akan pernah bisa dihapuskan."
Kyuhyun menanggapi berita itu lebih santai daripada Sungmin. Ia hanya mengangguk paham.
Sungmin memicingkan matanya, "Bagaimana bisa kau melakukan ini padanya? Ya Tuhan, Orangtuaku pasti sudah mengobrak-abrik langit dan bumi untuk menolongku, tapi kau hanya duduk diam disini dan mengatakan Aku menyesal pada Kyuhyun. Kakak macam apa kau ini!"
"Sungmin," kata Kyuhyun dengan suara tegang, "Jangan menantangnya. Kau tahukan apa akibatnya."
"Itu benar, kau makhluk fa.."
"Dan seperti yang kukatakan sebelumnya, kalau kau berani menyentuhnya.." sela Kyuhyun, "maka akan kuambil belatimu dan mengoyak jantungmu."
Changmin segera menjauh, memundurkan tubuhnya bersandar. "Ngomong-ngomong kau lupa mengatakan keseluruhannya."
"Maksudnya?" Kyuhyun menatap Changmin dengan tatapan ganjil.
"Seperti fakta kecil bahwa kau tidur dengan salah seorang gadis perawan milik Priapus. Apa yang kau pikirkan saat itu? Bahkan kau memerawaninya tanpa repot-repot melepaskan jubah Priapus yang ia pakai sebagai tanda ia adalah pelayan kuil yang diserahkan untuk setia melayani Priapus. Kenapa kau melakukan hal semacam itu?"
"Kalau ingat, aku sangat marah padanya saat itu," ujar Kyuhyun dengan nada pahit.
"Kalau begitu, kau bisa memilih wanita lain yang dengan sukarela memberikan tubuhnya padamu, atau kalau kau menginginkan yang masih perawan tak tersentuh lelaki kau bisa memilih salah satu pengikut Mom."
"Bukan wanita itu yang membunuh istriku. Tapi Priapus."
Sungmin merasakan paru-parunya mengempis seketika karena perkataan itu, Apa Kyuhyun serius?
Changmin tak menghiraukan kekasaran adiknya. "Yah, Priapus masih marah karena itu. Dan dia ingin agar kejadian itu menjadi hinaan terakhir yang kau berikan."
"Oh aku mengerti," geram Kyuhyun. "Jadi maksudmu, kakak ku marah karena aku berani meniduri salah seorang perawan sucinya? sedangkan aku hanya boleh duduk diam dan membiarkannya membunuh keluargaku sesukanya?" amarah pada nada suara Kyuhyun membuat Sungmin bergidik.
"Apa kau bertanya pada Priapus kenapa ia mengincar keluargaku?"
Changmin menggosok matanya frustasi, helaan napasnya berat. "Kau ingat pernah mengejar dan mengalahkan Zhoumi di luar area pertarungan saat itu? Jangan bilang kau melupakan teriakan Zhoumi yang meminta pembalasan padamu tepat sebelum kau memenggal kepalanya."
"Itu adalah pertaruangan adil."
"Dan kau pasti tahu betapa bencinya Priapus padamu. Dia akan menjadikan itu kesempatan untuk memberimu pelajaran tanpa sanggahan"
Sungmin memandang wajah Kyuhyun, tak ada emosi sedikitpun pada wajah pria itu.
"Apa kau memberitahunya kalau aku ingin bertemu?" tanya Kyuhyun.
"Kau sudah gila? tentu saja tidak. Baru kusebut namamu saja dia sudah hampir meledak karena emosi. Katanya ia tak memperdulikanmu bila membusuk. Percayalah padaku, kau tak mau dekat-dekat dengannya."
"Oh, percayalah padaku, aku mau"
Changmin mengangguk, "Ya, tapi kalau kau membunuhnya. Kau akan berhadapan dengan Zeus, Tisiphone, dan Nemesis"
"Kau pikir aku takut?"
"Aku tahu kau tidak, tapi aku tak mau kau mati seperti itu. Berhentilah keras kepala tiga detik saja, kau tak berniat untuk membangkitkan amarah Zeus, kan?
Dari ekspresi wajah Kyuhyun, Sungmin tahu bahwa pria itu sama sekali tak peduli.
"Tapi," lanjut Changmin. "Mom menyebutkan suatu cara untuk menghapus kutukan itu."
Sungmin menahan napas ketika harapan melintas di wajah Kyuhyun. Mereka berdebar menunggu penjelasan Changmin.
Changmin melipat kedua lengannya, "Kau tahu segala sesuatu di alam semesta selalu berputar. Ada waktu untuk mengawali ada juga waktunya untuk mengakhiri. Karena Lee yang mengawali kutukan tersebut, maka kau harus dipanggil oleh Lee juga. Dimana wanita itu harus juga membutuhkanmu. Kau harus berkorban untuknya dan..." tiba-tiba Changmin tertawa terpingkal-pingkal. Sampai Kyuhyun mengulurkan tangan ke seberang meja dan merenggut kemejanya, "Dan?" tanyanya tak sabaran.
Changmin menepis tangan Kyuhyun, "Dan..", pandangan matanya tertuju pada Sungmin dan Ryeowook, "Bisa tinggalkan kami sebentar?"
"Asal kau tahu, aku ini seorang terapis seks," cetus SUngmin, "Apapun yang kau katakan tak akan membuatku terkejut."
"Dan aku tak mau pergi sebelum mendengar setiap detail menariknya," timpal Ryeowook.
"Baiklah kalau begitu." Changmin kembali memandang Kyuhyun. "Ketika wanita bernama Lee memanggilmu, kau tak boleh memasukkan sendokmu ke dalam cangkirnya sebelum hari terakhir kebebasanmu. Kemudian kalian berdua harus bersetubuh sebelum tengah malam dan menjaga agar tubuh kalian tetap menyatu sampai matahari terbit. Kalau kau menarik diri darinya sedetik saja entah dengan alasan apapun, maka kau akan segera tertarik kembali ke dalam buku, dan kutukan itu akan terus berlanjut.
Kyuhyun mengumpat dan memalingkan wajah.
"Tepat," kekeh Changmin, "Kau tahu betapa kuatnya kutukan Priapus dan kau tak mungkin bisa melalui tiga puluh hari tanpa bercinta dengan pemanggilmu"
"Bukan itu masalahnya," kata Kyuhyun dengan gigi yang dikertakkan. "Masalahnya adalah menemukan seorang wanita Lee yang kebetulan memanggilku."
Dengan jantung yang berdebar-debar saking gugupnya, Sungmin mencondongkan tubuhnya ke depan, "Apa maksudnya itu? Seorang wanita Lee?"
Changmin mengangkat bahu, "Yah, harus ada kata Lee di namanya."
"Seperti nama keluarga?" tanyanya kembali.
"Bisa saja."
Sungmin mendongak, menatap mata Kyuhyun yang tampak tersiksa. "Kyuhyun, namaku, nama lengkapku Lee Sungmin."
oOo
N/A :
Psyche : Adalah manusia yang di zamannya memiliki kecantikan yang setara dengan Aphrodite. Bukan seorang dewa ataupun dewi namun menjadi makhluk abadi karena kehendak Zeus. Wanita yang merupakan Istri sekaligus pengengkang sifat seenaknya sendiri dari Eros.
Hephaestus : Adalah dewa api, tukang kayu, penempa besi dan pengrajin senjata. Ia adalah putra pertama Dewa Zeus dengan Dewi Hera
oOo
Mulai chapter ini kalau ada yang bingung perubahan nama dewa ke manusia, maupun kebalikannya.. Mari bingung ramai-ramai ._.a *plak
Tapi nama mereka hanya berlaku di mana mereka muncul, jadi bila mereka muncul di dunia manusia, otomatis nama manusia mereka yang digunakan, dan kalau di dunia para dewa, maka nama dewa mereka yang dimunculkan.
Maaf karena lama tak update, dan maaf bila review-nya ada yang belum ku balas, karena, well, seperti chapter sebelumnya aku dalam keadaan urusan pribadi yang... silahkan di bayangkan sendiri :D *plak
Tapi sepertinya untuk sementara aku lumayan ada banyak waktu kosong, jadi sebagai ucapan maaf yang tak termaafkan ToT Bab 6, tak di potong menjadi, entahlah, awalnya berniat ku bagi jadi 2 bagian.
So, Full Bab 6 untuk chapter ini :)
Seperti Disclaimer di atas, cerita ini merupakan hak cipta dari SHERRILYN KENYON salah satu penulis terbaik di New York Times yang selalu membuatku tertarik dengan karya-karyanya. Karena ketertarikan itulah muncul keingianan menggugahnya menjadi sebuah fanfiction K-pop.
oOo
Untuk bagian ini mungkin tak ada hubungannya dengan apapun jadi silahkan close tab saja karena ini khusus buat anak-anak Umma ku Miinalee dan Sebastian Mamoru... Aku... ehem, sepertinya bagian ini harus ku ucapkan dengan bahasa biasa ku ke kalian ^^
"Gw ga tahu lu pada baca fic ini apa kagak, tapi kalau memang baca ya syukur aja deh buu~ :p
Gw tungguin loh ya, fic request-an gw, wkwkwk, abis ga ada kabar sampai sekarang nih '-')a
sebelum gw kesana, seperti yg gw minta dah kalian pada publish yo~ :p dah tamat mat mat mat sampai dicere bang amat (?)
Kalo ga, tiket SS5 lu pada gw tahan sampai konser selesai, wkwkwkwkw! *plak"
