Title : Lonely [없구나]
Cast : Kaisoo (Kai x Kyungsoo)
Chanbaek (Chanyeol x Baekhyun)
Cameo : EXO member & Super Junior member
Genre : Romance, Angst
Rating : T
Disclaimer : Kaisoo and Chanbaek is belong to each other & SM Entertaintment, but THE STORY IS BELONG TO ME! No plagiat!
Summary : Dalam hidupnya, Kyungsoo selalu mengalah dengan hyungnya, Baekhyun. Bahkan ia harus merelakan orang yang ia sukai untuk Baekhyun. Kyungsoo tak butuh apapun dalam hidupnya selain melihat orang yang ia sayangi bahagia. Hingga akhirnya Kyungsoo merasa bahwa ia hanya akan selalu sendirian. KAISOO! CHANBAEK! SLIGHT!CHANSOO - EXO FIC! YAOI! BL! DLDR!
WARNING! TYPOS BERTEBARAN! YAOI! BOY X BOY!
GET AWAY IF U DON'T LIKE IT! YOU'VE BEEN WARNED!
NO BASH! NO FLAME!
ALL POV IS AUTHOR POV!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Naeun-ssi?" Kyungsoo menatap Naeun dengan tatapan tak percaya
"Oh… Jadi ini café ini milikmu? Sebenarnya suasana café ini bagus, tapi sayangnya minuman ini tidak enak."
"Ne? Tidak enak? Boleh aku mencobanya sedikit?" Kata Kyungsoo
"Boleh saja. Ini… Biar aku saja yang memberimu."
Dengan senyum kemenangan, Naeun menumpahkan seisi jus itu ke atas kepala Kyungsoo. Kyungsoo hanya mampu terdiam dan membiarkan Naeun melakukan hal itu. Para pengunjung dan pelayan lainnya terpaku melihat kejadian itu.
"Dio-ssi, Jongin oppa hanya milikku. Jangan pernah bermimpi untuk memilikinya, arasseo?" Naeun mengemasi barang-barangnya dan segera meninggalkan Kyungsoo yang masih terdiam dengan kepala basah.
.
.
.
.
[CHAPTER 10]
.
.
.
.
ENJOY!
.
.
.
.
"Dio-ya…! Gwaenchanha?" Luhan segera menghampiri Kyungsoo yang masih berdiri terpaku sambil menundukkan kepalanya yang basah oleh jus tadi
"Dio-ya, ayo masuk ke dalam." Minseok merangkul Kyungsoo dan membawanya masuk ke dalam
Kyungsoo terdiam dan membiarkan Minseok serta Luhan membawanya ke dalam. Ia tak mengucapkan sepatah kata pun. Luhan dan Minseok segera membersihkan seluruh tumpahan jus di kepala Kyungsoo dan menyuruh Kyungsoo untuk segera keramas dan berganti baju. Kyungsoo mengangguk pelan dan segera menuruti kata mereka.
"Kenapa yeoja itu bisa sampai menumpahkan minuman ke kepala Dio? Apa dia sudah tidak waras?" dengus Luhan kesal
"Ini salahku. Pasti minuman yang kubuat benar-benar tidak enak sampai-sampai yeoja itu menumpahkannya pada Dio." Sesal Minseok
"Lain kali kau harus membuatnya dengan benar, Minseok-ah… Bagaimanapun juga, hal ini sudah membuat malu Dio dan menjatuhkan reputasi café kita di hadapan para pengunjung." Ucap Luhan dengan nada kecewa
"Ne. Mianhae…" Minseok menunduk penuh sesal
"Nan gwaenchanha… Hyungdeul tidak usah mengkhawatirkanku." Ucap Kyungsoo yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah sehabis keramas
"Ini salahku, Dio-ya.. Mianhae.." kata Minseok sambil menatap Dio dengan tatapan memelas
"Aniya hyung. Kkokjeonghajima…" Kyungsoo tersenyum
"Sudahlah Dio-ya… Ini memang salah Minseok. Lain kali ia memang harus lebih teliti dan konsentrasi saat membuat jus agar rasanya tidak mengecewakan pelanggan." Ucap Luhan penuh profesionalitas
"Aniya… Jusnya sangat enak, jeongmal. Aku sempat menjilat jus yangada di dekat bibirku sedikit. Hanya saja yeoja itu memang tidak menyukaiku. Jadi… Lupakan saja kejadian tadi." Kata Kyungsoo dengan ekspresi seolah tak terjadi apapun
"Ne?" Luhan dan Minseok menatap Kyungsoo dengan tatapan bingung
"Lupakan saja, ne?" pinta Kyungsoo
Luhan dan Minseok tak menjawab apapun dan hanya diam. Setelah itu mereka mulai bekerja seolah tak terjadi apa-apa. Sulli dan Soojung sebenarnya penasaran dengan kejadian tadi, namun mereka tak ingin mengungkit masalah tadi dan pura-pura tidak tahu apa-apa lalu bekerja seperti biasa.
.
.
.
.
Baekhyun menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal. Namun gerakannya terhenti saat merasakan pergerakan kecil di samping tubuhnya. Dilihatnya Chanyeol masih terlelap. Baekhyun tersenyum dengan wajah memerah menahan malu. Baekhyun mencoba melepaskan pelukan Chanyeol pada pinggangnya. Namun Chanyeol malah mengencangkan pelukannya. Baru saja hendak protes, Baekhyun langsung dibungkam morning kiss oleh Chanyeol.
"Mau kemana, chagiya?" tanya Chanyeol masih dengan tertutup
"Mwoya? Chagiya? Siapa yang bilang kalau aku sudah jadi kekasihmu, Park Chanyeol?" kata Baekhyun sambil menahan tawa
Chanyeol membuka matanya sedikit, lalu tersenyum sambil menyentuh sebuah tanda kemerahan di pundak kiri Baekhyun. Chanyeol menutup matanya lagi.
"Ini. Lihatlah tanda ini di kaca. Ini adalah tanda bahwa Byun Baekhyun adalah milik Park Chanyeol sejak tadi malam, sekarang, sampai selama-lamanya." Kata Chanyeol dengan nada sengau khas orang baru bangun tidur sambil mengelus tanda merah buatannya di kulit putih susu Baekhyun.
Baekhyun tertawa mendengar ocehan Park Chanyeol yang terlampau puitis itu.
"Arasseo, Mr. Park. Aku harus mandi karena rasanya tubuhku benar-benar tidak enak dan lengket. Geurigo, aku sangaaatt lapar." Kini Baekhyun telah berhasil duduk di tepi tempat tidur
"Ne. Aku akan tidur sejenak. Kau mandilah, aku akan menyusul nanti." Ucap Chanyeol dengan nada malas sambil tetap menutup matanya
"Dasar pemalas!" Baekhyun melempar bantal ke wajah Chanyeol
"Biar pemalas, kau tetap cinta padaku kan?" ucap Chanyeol dengan penuh percaya diri
"PD sekali!" cibir Baekhyun disambung dengan kekehan kecil dari bibir tipisnya
Baekhyun melangkahkan tubuh polosnya ke kamar mandi, sedangkan Chanyeol terlelap lagi. Sepertinya Chanyeol sangat kelelahan setelah menggagahi Baekhyun semalaman penuh.
.
.
.
.
Heechul melangkahkan kakinya dengan mantap saat menapaki lantai gedung 'Lee Corp.' yang merupakan sebuah perusahaan ternama. Ia mendatangi meja resepsionis yang tak jauh dari hadapannya.
"Selamat siang, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang resepsionis dengan ramah
"Bisakah saya bertemu dengan Lee Donghae?" Heechul menyerahkan sebuah kartu nama milik Donghae yang ia miliki
"Apakah anda sudah membuat janji terlebih dahulu, tuan?" tanya resepsionis itu lagi setelah membaca kartu nama yang diperlihatkan Heechul barusan.
"Sayangnya belum." Kata Heechul
"Jwiseonghamnida tuan, anda harus membuat janji dulu sebelum bertemu dengan direktur."
"Tapi…"
"Jwiseonghamnida. Ada yang bisa saya bantu?" Ucap resepsionis pada orang lain yang baru saja datang dengan tidak memperdulikan keberadaan Heechul di sana
"Agasshi, saya ingin bertemu dengan Donghae!" ucap Heechul dengan suara cukup nyaring
"Security, tolong bawa orang ini keluar." Pinta resepsionis itu pada sepasang security yang tak jauh dari pintu masuk
"YA! Andwae! Aku harus bertemu dengan Donghae! YA! Lepaskan aku! Lepas!" Heechul meronta liar saat kedua security itu mencengkeram tangannya dan mencoba menyeretnya keluar
"Ada apa ini?" tanya sebuah suara asing yang sepertinya merasa terganggu dengan keributan di dekat pintu masuk
"Sajangnim, orang ini ingin bertemu dengan anda, namun ia belum membuat janji dan malah membuat keributan disini." Lapor si resepsionis tadi
"Donghae-ssi?" Heechul sangat terkejut menatap sosok di hadapannya itu dan menghentikan rontaanya
"Heechul-ssi?" Donghae membenarkan letak kacamatanya sambil me
"Tolong lepaskan aku!" Heechul segera berdiri dan merapikan bajunya
"Heechul-ssi, ada apa datang ke sini untuk mencariku?"
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu menyangkut hyungku, Kibum." Ucap Heechul dengan nada angkuh
"Geu—geurae.." ucap Donghae dengan nada gugup
Donghae segera mempersilahkan Heechul untuk ikut dengannya ke ruangannya.
.
.
.
.
"Jadi apa yang akan kuketahui tentang Kibum darimu?" tanya Donghae dengan nada datar
Heechul yang sejak awal mati-matian menahan emosi akhirnya tak bisa menahannya lagi. BUAGH! Sebuah pukulan keras ia layangkan dengan tinjunya ke wajah Donghae.
"Ige mwoya?!" Donghae terlihat tak terima dengan perlakuan Heechul yang secara tiba-tiba memukulnya
"Itu balasan karena kau telah membuat hidup hyungku menderita!" seru Heechul dengan mata berkaca-kaca
"Mwoya?"
"Kau meninggalkannya saat ia mengandung anakmu! Dan karena mempertahankan anak dari orang brengsek darimu, dia harus mempertaruhkan nyawanya yang sudah tipis karena menderita kanker. Apa kau tahu kalau ia tidak mempertahankan darah daging kalian, Kibum hyung tidak akan meninggal? Suamiku tidak perlu menikahinya hanya untuk menghindari malu dari keluarga besar kami! Dan kau dengan brengseknya tidak mau bertanggung jawab dan pergi begitu saja. Hyungku sudah berkorban begitu besar untukmu dan hanya menyakitinyalah yang bisa kau lakukan. Namja macam apa kau ini? Apa hatimu terbuat dari kayu?" bentak Heechul nyalang
"Me—mempertahankan anak kami? Apa maksudmu? Bukankah anak itu digugurkan oleh Kibum?" Donghae memegangi pipinya yang masih terasa ngilu
"Digugurkan? Kalau memang anak itu digugurkan, tidak mungkin anak itu lahir dan menjadi anak emas suamiku! Betapa malangnya nasib anak itu memiliki ayah sebrengsek dirimu. Kyungsoo… Kenapa hidupnya sangat menyedihkan…? Akupun sempat membencinya sebelum mengetahui siapa dia sebenarnya. Sejak bayi ia sudah tidak diinginkan oleh ayahnya… Seharusnya aku tidak memperlakukannya dengan buruk." Airmata Heechul lolos begitu saja dari mata bening milik Heechul yang memerah karena marah dan juga sedih
Donghae tersentak. Ia seolah tertampar dengan sangat keras sekali lagi, bahkan kali ini lebih menyakitkan dari pukulan Heechul tadi. Donghae tak kuasa menahan berat tubuhnya dan langsung jatuh terduduk setelah mendengar seluruh kata-kata Heechul. Ia beribu-ribu menyesali perbuatannya di masa lalu.
"A—aku… Aku tidak bermaksud meninggalkannya. Saat itu aku benar-benar bingung harus melakukan apa. Orangtuaku memaksaku untuk melanjutkan perusahaan ini yang hampir bangkrut. Aku tak punya pilihan lain. Aku sangat tak siap menjadi seorang ayah saat itu, apalagi dengan situasi yang sangat membuatku tertekan. Orangtuaku mengancam akan menyakiti Kibum apabila aku tidak mematuhi mereka saat itu. Akupun memutuskan untuk melanjutkan perusahaan secepat mungkin, lalu mencoba menemukan Kibum. 5 tahun aku berjuang, akhirnya aku punya kesempatan untuk mencari Kibum. Sayangnya, aku tak bisa menemukannya. Yang kuketahui hanya dia sudah meninggal sangat lama dan sempat menikah dengan Siwon. Sejak saat itu, kupikir Kibum benar-benar melupakanku dan sudah menggugurkan bayi dari namja seburuk aku jauh-jauh hari sebelum menikah dengan Siwon." Kata Donghae sambil menelan salivanya dan memejamkan erat matanya menahan perih saat mengingat masa lalu kelamnya
"Kau pengecut, Donghae-ya! Kenapa kau tak mengatakan apapun pada hyungku saat itu? Dia benar-benar terluka dan membencimu. Sayangnya hatinya terlalu lembut untuk menggugurkan bayi tak bersalah di rahimnya. Sekalipun Kyungsoo adalah anak dari namja brengsek sepertimu, Kyungsoo tidak tahu apa-apa sehingga Kibum hyung rela mempertahankannya, meskipun ia harus menggantinya dengan nyawanya sendiri. Kibum hyung mengidap kanker otak yang sesungguhnya tidak boleh hamil ataupun melakukan operasi dan hal-hal yang menguras tenaga lainnya. Namja mana yang bisa setabah Kibum hyung saat itu? Ia seorang namja, namun ia hamil dari orang yang bukan suaminya, lalu ia harus merelakan nyawanya sendiri untuk anak yang sedang ia kandung. Satu kali ia memutuskan untuk mempertahankan kandungannya, maka ia juga harus merelakan nyawanya. Aku yakin kau bahkan tidak tahu bahwa Kibum hyung mengidap kanker, bukan?" Heechul tersenyum remeh pada Donghae yang kini terpaku dengan wajah pucat
"A—aku tidak tahu tentang hal itu. Seandainya aku tahu, aku tidak akan membiarkan Kibum hamil. Aku….. Aku benar-benar menyesal…." Donghae kini menundukkan kepalanya sa,bil mengusak matanya yang berair karena tidak kuat menahan rasa perih di dadanya saat mengingat Kibum dan masa lalu mereka
"Tentu saja kau menyesal. Kau benar-benar berhasil membuat hidup hyungku hancur. Bahkan Siwon harus menanggung malu dengan menikahi Kibum hyung. Siwon terlalu mencintai Kibum hyung sampai-sampai ia merelakan Kibum hyung padamu yang hanya bisa menyakitinya. Ia bahkan tidak pernah melupakan rasa cintanya pada Kibum hyung meskipun sudah menikah denganku. Sekarang Siwon pasti sangat senang karena ia bisa bertemu Kibum hyung di sana." Heechul menghapus airmatanya yang mengalir di kedua sudut matanya
"Maksudmu..? Si—Siwon… Siwon sudah meninggal…?" Donghae serasa tersambar petir di siang bolong mendengar kata-kata Heechul
"Ne… Hanya itu yang ingin kusampaikan. Aku akan pergi. Terima kasih karena sudah membuatku puas melampiaskan seluruh kesedihanku padamu hari ini. Annyeong." Ucap Heechul dengan nada datar setelah berhasil menguasai kesadarannya secara penuh dan berhenti menangis. Ia melangkah menuju pintu sebelum Donghae menahan kepergiannya
"Jamkkanman!" seru Donghae sebelum Heechul menghilang dari pandangannya
"Kyungsoo.. Bolehkah aku bertemu dengannya?" pinta Donghae
"…" Heechul tak menjawab
"Hanya itu… Hanya dengan merawat Kyungsoo, aku bisa menebus sedikit kesalahanku pada Kibum…" ucap Donghae dengan nada lemah penuh sesal yang mendalam
"Mianhae.." ucap Heechul menahan perih
"…?" Donghae tak mengerti
"Kyungsoo… Dia pergi dari rumah… Itulah yang membuat Siwon begitu stress dan tertekan hingga ia pergi secepat ini."
"Mwoya?" Donghae ingin sekali membunuh dirinya sendiri saat ini juga
"Kyungsoo sampai saat ini belum ditemukan. Tak ada seorangpun yang tahu keberadaannya. Aku dan Baekhyun, anakku, sudah mencarinya sejak 3 tahun lalu, namun kami tidak bisa menemukannya. Na kalkke." Heechul langsung melangkah pergi dengan tergesa-gesa
Donghae terdiam sejenak dan langsung berteriak nyaring.
"ARRGHHH!" Donghae membanting barang-barang yang ada di atas meja kerjanya dengan penuh kemarahan.
Tiba-tiba, Donghae bertingkah seperti sedang mencari sesuatu. Ia mencari-cari handphonenya dan setelah mendapatkannya, ia segera menelpon sebuah kontak di sana.
"Cari orang bernama Do Kyungsoo sampai ketemu! Aku akan membayar 800 juta won saat kau berhasil membawa orang itu ke hadapanku!" ucap Donghae kasar
Donghae mematikan teleponnya dan berteriak lagi sambil mengusak rambutnya kasar.
.
.
.
.
Kyungsoo berjalan pelan menuju rumahnya. Sepanjang jalan ia merenungkan kejadian di café ketika Naeun menuangkan segelas jus stroberi ke atas kepalanya. Kyungsoo sedih karena ternyata Naeun menyimpan dendam padanya. Ia yakin sekali kalau Naeun tidak akan berhenti mengganggunya. Langkah lemah Kyungsoo terhenti tepat setelah ia memasuki pekarangan depan rumahnya. Dilihatnya pintu rumahnya terbuka. Kyungsoo membulatkan matanya dan bergegas masuk ke dalam.
"Ige… Ige mwoya…?" Kyungsoo menatap sekeliling ruang tamunya yang benar-benar berantakan seperti habis diacak-acak oleh seseorang
Kyungsoo segera masuk ke kamarnya dan memeriksa barang-barang berharganya. Namun anehnya, tak ada satupun barang berharga milik Kyungsoo yang hilang. Kyungsoo menghela napasnya, lalu berjalan menuju dapur.
"HWAA!" serunya nyaring ketika melihat sebuah tulisan di dinding dapurnya.
Kyungsoo memejamkan matanya karena ketakutan. Tulisan itu begitu besar tertulis di dinding dapur Kyungsoo dengan cairan merah yang pekat seperti darah. Kyungsoo mencoba membuka matanya perlahan lalu membaca tulisan itu.
'JAUHI JONGIN OPPA ATAU KAU AKAN TAHU AKIBATNYA!'
Seketika Kyungsoo menangis. Entah kenapa saat ini dia begitu lelah dengan segalanya. Ia sangat sedih karena kebahagiaan tidak pernah berpihak kepadanya. Semakin lama, ia semakin sadar bahwa ia memang ditakdirkan untuk selalu sendirian dan kesepian. Kehadirannya tidak diinginkan di dalam keluarga lamanya, bahkan ia dibenci oleh Baekhyun, saudara tiri yang sangat ia sayangi. Saat ia sudah memiliki keluarga baru, yaitu Choi halmeoni, beliau akhirnya meninggalkannya sendirian di dunia ini.
Kyungsoo duduk di sudut dapurnya, lalu menelungkupkan wajahnya dan menekuk kakinya. Kyungsoo menangis semalaman.
.
.
.
.
#NEXT DAY
Kyungsoo terbangun dengan posisi terbaring di lantai dapurnya. Ia tertidur sepanjang malam karena kelelahan menangis. Kyungsoo segera bangun dan memutuskan untuk mandi agar ia bisa cepat-cepat berangkat ke café. Ia begitu terkejut ketika melihat jam yang kini sudah menunjukan pukul sebelas siang. Ia sangat terlambat. Kyungsoo benar-benar mandi dengan tergesa-gesa. Tak dipedulikannya rumahnya yang berantakan seperti kapal pecah. Ia hanya fokus pada tujuannya untuk segera berangkat ke café.
Tak butuh waktu lama bagi Kyungsoo untuk segera sampai di café. Namun lagi-lagi ia terdiam melihat sebuah peristiwa di hadapannya. Saat ini Luhan dan karyawan yang lain sedang menangis sambil menutup telinganya karena takut pada orang-orang berbadan kekar yang sedang merusak seluruh properti di café itu.
"ANDWAE! GEUMANHAERA!" Kyungsoo dengan segenap kekuatannya mencoba menghentikan seorang namja berbadan kekar yang akan membanting sebuah kursi
"Jangan mengganggu, anak kecil!" Namja itu mendorong Kyungsoo hingga tubuh mungilnya terjatuh
"Dio-ya! Hajimayo!" teriak Luhan
Kyungsoo bangkit lagi, lalu mengulangi perbuatannya tadi. Ia sungguh tidak mau ada orang yang menghancurkan café yang sekarang menjadi hak miliknya. Sayangnya, ia sedang tidak beruntung hari itu. Kepala Kyungsoo menghantam kaki meja yang sedang di banting oleh salah satu namja kekar yang ada di sana. Jelas saja kepala Kyungsoo sobek dan mengalami pendarahan yang cukup banyak.
"DIO-YA!" seru Luhan dan Tao berbarengan
Luhan dan Tao segera membawa Kyungsoo ke rumah sakit, sedangkan Minseok dan lainnya menunggu di café.
.
.
.
.
Kyungsoo menatap nanar seluruh fasilitas café 'Good Day' yang kini telah porak poranda karena dihancurkan oleh orang-orang tak dikenal tadi. Karyawan lainnya kini sibuk memunguti barang-barang mana yang masih bisa diselamatkan, sedangkan Luhan dan Tao hanya mampu berdiri terdiam. Mereka tak tahu bahwa café akan menjadi seburuk ini karena mereka tadi mengantarkan Kyungsoo ke rumah sakit.
"Halmeoni…" gumam Kyungsoo pelan
Kyungsoo melangkahkan kakinya perlahan mendekati sisa-sisa meja dan kursi yang hancur di hadapannya. Matanya memanas dan airmata pun menetes deras dari mata bulatnya. Kyungsoo tak bisa menahannya lagi. Ini sudah keterlaluan. Kyungsoo ingin sekali menyerah pada takdirnya. Takdir yang menggariskan bahwa ia memang akan selalu sendiri. Tatapannya kosong, sedangkan tangannya terus meraba puing-puing kayu dan besi bekas meja dan kursi untuk mencari barang yang masih bisa dimanfaatkan.
"Dio-ya… Kau bisa istirahat dulu." Ucap Sulli mencoba menghentikan Kyungsoo yang terlihat begitu rapuh
"Aku tidak bisa membiarkannya, Sulli-ah… A—aku tidak ingin Choi halmeoni kecewa padaku. Karena akulah, semua ini terjadi. Aku harus bertanggung jawab." Bulir-bulir airmata lolos dari kedua sudut mata Kyungsoo
"Tapi kau tidak perlu seperti ini, Dio-ya… Ada kami di sini yang akan membantumu. Kau tidak sendiri, Dio-ya.." ucap Soojung
"Aniya. Aku memang akan selalu sendiri. A—aku akan menanggung semuanya. Tolong tinggalkan aku sendiri." Kyungsoo mengusap matanya dan segera menjauhi Soojung serta Sulli yang hanya bisa menatap iba pada Kyungsoo yang terlihat sangat terpukul
"Kemarin ada yang menuang jus ke atas kepalanya, sekarang bahkan menghancurkan café ini. Aku sangat kasihan padanya." Ucap Soojung dengan nada iba
"Ne. Aku sangat kasihan padanya. Semoga Tuhan memberkatinya." Ucap Sulli dengan nada tak kalah iba dari Soojung
Tak lama kemudian, datanglah sebuah mobil mewah yang sudah jelas diketahui oleh seluruh karyawan café bahwa itu adalah milik Jongin. Jongin keluar dari mobil dengan wajah yang terlihat berseri-seri. Ia membawa seikat bunga mawar merah muda. Sayangnya, sinar matanya meredup saat menatap café 'Good Day' yang sudah tak karuan bentuknya. Jongin langsung menghampiri Soojung dan Sulli.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" tanya Jongin dengan nada khawatir
"Tadi pagi ada sekelompok orang tak dikenal yang merusak café ini. Kami tidak bisa melakukan apapun." Jawab Soojung dengan nada lemah
"Ne, Jongin-ssi. Orang-orang itu terlihat sangat mengerikan karena mereka berbadan besar dan kekar. Kami tak berani melawan mereka, namun Dio yang mencoba menghentikan mereka malah terkena kaki meja dan harus dijahit di bagian kepala. Dio sangat pemberani." Tambah Sulli
"Mwoya? Terkena kaki meja? Bagaimana keadaan Dio sekarang?" tanya Jongin lagi dengan nada cemas
"Dio baik-baik saja saat ini, hanya saja ia terlihat sangat sedih dan tertekan. Apalagi, kemarin ada seorang yeoja yang mempermalukan Dio dengan menumpahkan jus stroberi ke atas kepalanya." Kata Soojung
"Dimana dia sekarang?" tanya Jongin tak sabar
"Dia sedang mencari barang berharga yang masih tersisa di dalam sana." Tunjuk Sulli
"…"
Tanpa menjawab, Jongin segera berlari ke dalam dan mencari Kyungsoo.
"Hiks.. Mianhae.. Hiks… Halmeoni.. Mianhae…"
Kyungsoo terlihat sedang mengumpulkan barang-barang seperti nomor meja dan beberapa kotak tissue yang masih dapat dipakai ke dalam sebuah kantung plastik besar. Ia terisak sendu. Jongin begitu terluka melihat Kyungsoo yang terlihat sangat terpukul.
"Dio-ya…" Jongin mendekati Kyungsoo yang masih terus memunguti barang-barang berharga di antara puing-puing yang ada
"…" Kyungsoo tak bergeming dan terus melanjutkan kegiatannya, ia berlagak seolah tak ada yang memanggilnya
"Dio-ya… Jangan mengabaikanku!" Jongin membuang bunga yang ia bawa di atas puing-puing kayu dan besi yang berserakan di lantai café
"…" Kyungsoo tak juga bergeming dan masih terus menangis
"DIO-YA!" bentak Jongin yang sudah tak tahan lagi
"Lebih baik kau pergi." Ucap Kyungsoo dengan nada dingin tanpa menolehkan kepalanya pada Jongin yang sedang berdiri di belakangnya
"Dio-ya… Kumohon jangan mengabaikanku…"
"Aku tidak mengabaikanmu. Aku sudah menyuruhmu pergi!" kini nada suara Kyungsoo mulai meninggi
"Dio-ya.. Aku tidak bisa pergi meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini."
"Aku tak peduli. Terserah kau saja." Ucap Kyungsoo ketus
Jongin membulatkan matanya. Ini pertama kalinya Kyungsoo menanggapinya dengan kata-kata seketus tadi. Kyungsoo tak pernah seperti ini sebelumnya. Jongin sungguh heran dengan tingkah Kyungsoo yang mendadak aneh hari ini.
"Dio. Tatap aku. Sekarang." Jongin mencengkeram kedua tangan Kyungsoo dan menghadapkan tubuh Dio ke hadapannya secara paksa
"Apalagi Jongin-ssi? Mulai saat ini aku sudah tidak mau berurusan denganmu." Kyungsoo membuang mukanya ke samping sambil menggigit bibirnya menahan perih di hatinya saat mengatakan kata-kata tadi
"Ada apa, Dio-ya? Kenapa tiba-tiba kau seperti ini?"
"Lepaskan aku, Jongin-ssi. Pergilah. Aku benar-benar tidak ingin berurusan lagi denganmu." Nada suara Kyungsoo melemah dan airmata berlomba-lomba turun dari mata bulatnya
"Waeyo? Apa aku telah membuatmu sedih? Mianhae…" Jongin menghapus airmata Kyungsoo yang masih terus mengalir ke pipi tembamnya
"Aku sudah tak kuat lagi, Jongin-ssi… Pergilah sebelum semuanya terlambat… Aku tidak ingin membuatmu terluka." Kyungsoo membalikkan tubuhnya membelakangi Jongin
"Apa maksudmu, Dio-ya? Tentu saja kau tidak akan pernah membuatku terluka. Justru permintaanmu untuk menjauhimu yang akan membuatku terluka karena aku tidak bisa dekat denganmu lagi." Ucap Jongin dengan nada tulus
"Aniya. Kau tidak mengerti, Jongin-ssi… Pergilah. Kumohon." Ucap Kyungsoo dengan nada memelas
"Andwae. Aku tidak akan pergi."
"Kumohon Jongin."
"Andwaeyo. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Dio-ya."
"Pergi, Jongin!"
"Shireo." Keukeuh Jongin
"Jongin-ah… Wae? Kenapa harus aku…? Wae…?" Kyungsoo menangis lebih kencang dari sebelumnya
"Tak ada alasan, Dio-ya. Cinta tak butuh alasan. Neoreul saranghamnida." Ucap Jongin dengan tulus
"PERGI, JONGIN! PERGI! PER—!" Kyungsoo tak dapat berkutik ketika sepasang bibir nan lembut melumat bibirnya
.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE….!
HOLAAA SEMUAAANYYYAAA!
Seneng banget bisa ketemu kalian lagi.
Makasih buat supportnya di chapter 9 kemarin. Aku terharu…
Ternyata masih ada yang mau baca ff gaje nan ngaret ini.
Maaf yaa kalau di chapter ini banyak kekurangan kayak typo, alur kecepetan, watak tokoh labil dll…
Saya lagi punya perasaan gak karuan, jadi gini deh jadinya…
FF INI BAKAL TAMAT 2 CHAPTER LAGI LHO!
*gak ada yang tanya*
#ditendangreaders
Buat yang mau nonton TLP, semangat yaa…
Titip salam sayang buat abang ChenTroll tercinta yaa.. #bias
Bawa minum, jangan lupa makan dulu sebelum nonton & minum vitamin.
Hati-hati di jalan, berdoa sebelum jalan biar selamat sampai tujuan.
Buat yang gak nonton TLP, aku juga nggak kok…
Tanggal 6 September jadwalku padat bingit, bahkan bentrok sampe2 aku harus ngerelain satu acara yang aku suka banget.
다들은 힘내세요!
화이팅! 화이팅!
사랑해용!
XOXO
