Title : Love Confused!

Pair : Main! KyuMin, Slight! SiMin.

Cast : Kyuhyun, Sungmin, Siwon, and Others. (akan bertambah seiring berjalannya cerita... )

Rate : T

Genre : Shounen-ai, Romance, Hurt (May be)

Warning : Boys Love, OOC,Abal, Gaje, Typos Gk nyambung, Ngebosanin. De eL eL. Don't Like Don't Read.

Summary : Cinta itu terkadang membingungkan. Sungmin mencintai Siwon, tapi Sungmin sendiri tidak mengetahui ada Kyuhyun yang diam-diam memperhatikannya. Sampai akhirnya Sungmin sadar bahwa intensitas Kyuhyun di sisinya begitu berarti. Lalu bagaimana dengan Kyuhyun? (Failed Summary -.-")

Disclaimer : KyuMin saling memiliki, dan FF ini sepenuhnya milike saya. Don't Copas, Key~!

A/N : Langsung baca aja! Maaf ya, kalau membosankan dan berkesan bertele. Ini sudah jalan ceritanya seperti itu. Saya usahakan 2 part lagi END! Terimakasih atas semua partisipasi kalian :)

.

.

.

enJOY~

.

.

.

Chap. 10

.

Kyuhyun pernah berkata, hal yang paling disukai olehnya—dulu hingga sekarang—adalah, bercanda dengan Sungmin hyung-nya di atas tempat tidur. Bergocoh, gelitikan pinggang, melempar bantal, saling mencubit bokong, ataupun menendang—meski pelan—bahkan membunuh—oh, maaf! Yang terakhir itu tidak termasuk.

Seperti saat ini misalnya, Kyuhyun terus saja menggelitik pinggang Sungmin, karena pemuda bertubuh mungil itu mengejek dengan mengatakan bulu ketiaknya yang lebat bak hutan belantara. Oh, jelas. Tentu saja Kyuhyun merasa terhina, padahal Kyuhyun sendiri sangat yakin, bahwa tidak mencium bau badannya satu harian, maka Sungmin berakibat tidak akan bisa tidur tenang. Hei, ia tak bohong, Sungmin memang sangat suka tidur di bawah ketiaknya.

"Gyahahaha... hentikan, Kyunie! Aku hanya berbicara fakta, dan kau harus mencukur bulu ketiakmu itu."

Tak ada lagi suasana kecanggungan setelah itu. Sungmin seperti mengalihkan rasa bersalah Kyuhyun padanya, dan untungnya itu berhasil. Bahkan, bisa dikatakan Sungmin terlihat lupa diri dan begitu menikmati gelitikan di pinggang, bersamaan dengan deru napas Kyuhyun yang ikut menggelitik lehernya. Sungmin juga tidak bisa menolak, karena ia tahu dari dulu Kyuhyun memang suka menggesekkan hidung di kulit lehernya.

Tubuh mungil itu menggeliat tak nyaman, merasa sesak dengan berat badan Kyuhyun yang membebani bagian perutnya. Tapi Kyuhyun tidak peduli, ia malah semakin gencar menggelitik daging yang menyembul di bagian perut sang hyung.

"Dan kau juga harus menghilangkan lemak di perutmu ini, hyung."

"Kyaaa~! Kyaaa~!" Sungmin berteriak menggerakkan tubuhnya, berusaha agar jari-jari itu tidak menjalar kemana-mana. "Kyahahaha... aku sudah lelah, Kyunie. Jangan gelitik lagi, dan kau jangan menghina perutku yang seksi ini." Protesnya lagi.

"Aku hanya berbicara fakta, hyung." Kyuhyun menyeringai.

Kegiatan tak jelas itu terus saja berlangsung, sampai rasanya Sungmin kesusahan untuk mendapatkan udara. Dan gerakan tangan Kyuhyun baru terhenti, ketika telinganya menangkap bunyi seperti pintu diketuk.

TOK! TOK! TOK!

"Tuan Muda..." terdengar suara sapaan dari luar pintu kamar—yang tak tertutup.

Kyuhyun menoleh, bersamaan dengan Sungmin—yang mungkin mendengar—dan ikut menoleh. Ada Seo ahjumma berdiri di sana. Jari-jari Kyuhyun masih berada di perut Sungmin, dengan posisi tubuhnya yang masih menindih tubuh mungil tersebut. Mungkin keduanya tak sadar, tapi hal tersebut berhasil membuat maid tua itu tersenyum malu. Ok, seharusnya hal itu menjadi pemandangan yang biasa buat Seo ahjumma, akan tetapi itu dulu ketika kedua tuan mudanya masih unyu-unyu, imut, dan selalu wangi dengan bedak bayi. Tapi sekarang? Wanita itu tahu, bahwa satu diantara tuan mudanya—

"Seo ahjumma?!" Sungmin berseru, membuyarkan lamunan maid tersebut.

"Maafkan saya, Tuan muda." Ujarnya merasa tak enak. Seo ahjumma menunduk, agak canggung dengan keadaan yang ia lihat. Pasalnya, keadaan tuan mudanya yang bertubuh mungil itu, sangat... berantakan dengan kausnya yang terangkat hingga dada. "Maaf, bila saya menganggu." Lanjutnya lagi.

Kyuhyun mengernyit, mengganggu? Pikirnya heran.

Kepalanya pun menunduk untuk melihat Sungmin, dan bola matanya membesar begitu menyadari posisinya yang sekarang ini.

Akan tetapi sebelum Kyuhyun sempat bangkit dari atas tubuh Sungmin, maid tersebut kembali bersuara, "Saya hanya ingin menyampaikan pesan bahwa Nyonya Lee telah tiba satu jam yang lalu. Saya mohon maaf karena lupa mengatakan bahwa saat itu Nyonya sudah dalam perjalanan menuju ke Rumah. Dan—" Seo ahjumma memberi jeda, ia mengangkat kepalanya mencoba memberanikan diri menatap kedua orang—yang entah mengapa masih bertahan pada posisinya. "—Nyonya Lee ingin bertemu dengan kedua Tuan muda." Katanya dengan tubuh membungkuk sebelum berlalu, dan memilih menutup pintu kayu berukiran klasik tersebut.

.

.

.

Senyum manis itu seharusnya membuat Kyuhyun tenang. Cantik, seperti putra lelakinya yang sangat ia cintai. Namun itu bisa menjadi hal yang sangat menyeramkan, jika yang dilakukan wanita yang kelak menjadi Ibu mertuanya itu hanya terdiam sambil tersenyum dengan pandangan tajam yang terus tertuju padanya.

Beberapa saat lalu setelah Seo ahjumma menyampaikan pesan untuk kedua tuan mudanya, Kyuhyun segara melesat, memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Sedangkan Sungmin, Tuan muda Lee yang manis itu begitu senang dengan setumpuk buah tangan yang dibawa Ibunya dari Jepang. Terlalu larut, hingga ia lupa dengan keberadaan Kyuhyun sekarang ini.

Lama diliputi keheningan, akhirnya sang Ibu memutuskan bersuara, "Kyuhyunie, apa kabarmu, nak?" tanyanya.

Pemuda tinggi itu sedikit terkesiap, ia mengangkat kepalanya guna menatap ibu. "B-baik-baik saja, Eomma." Mungkin senyuman Ibu Lee terlalu mempesona, hingga suara yang keluar dari bibir Kyuhyun terdengar gugup ketika menjawab.

"Aigo~~" sosok wanita penuh perhatian itu tampak mendesah, sebelum beranjak dari duduknya dan melangkah pelan melewati meja besar yang menjadi pembantas, untuk mendekat pada remaja yang selama ini ia anggap sebagai putranya sendiri. "Lalu Kyuhyunie tak ingin memeluk eomma, hum?" ujarnya sembari merengut kecil.

Kyuhyun menatap bola mata yang mirip dengan orang tercintanya. Lengan kecil wanita itu terbuka, siap menerima pelukan. "Bogoshipoyo, Eomma~~" tawa renyah dari bibir sang Ibu harus teredam saat tubuh tinggi Kyuhyun mulai berdiri dan menyambut pelukan hangat tersebut.

Tak bisa dipungkiri, Kyuhyun memang merindukan calon Ibu mertuanya ini. Beliaulah yang selama ini menjaga dan membesarkannya, terlebih sosok ini pula lah yang telah melahirkan seorang anak lelaki berparas cantik, yang sangat ia cintai. Bukan Kyuhyun tak menyayangi orang tua kandung dan kakak perempuannya, hanya saja ia memang perlu berterima kasih pada sosok yang memeluknya ini. Karena Beliau, Kyuhyun seolah merasa sudah ditakdirkan untuk putranya saat pertemuan pertama itu. Terdengar sedikit aneh memang, tapi Kyuhyun merasa yakin karena ia memang benar-benar mencintai sosok manis itu tanpa bersyarat.

"Ne, eomma juga merindukanmu, Nak." Kyuhyun bisa merasakan kenyamanan berbeda, saat tangan Ibu menyapu lembut bagian belakang tubuhnya. "Ayo kita duduk di sana, eomma ingin membicarakan sesuatu padamu." Sejenak, Kyuhyun menahan pergerakan kakinya. Tiba-tiba saja perasaan khawatir meliputi isi kepalanya. Otaknya berpikir, menyimpulkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh calon ibu mertuanya ini.

Ya, Tuhan~ mungkin perasaanku saja, Kyuhyun membatin berusaha berpikir tenang.

"Ayo~!" menggerakkan kaki, Kyuhyun pun terpaksa mengikuti langkah yang mengiring tubuhnya untuk duduk di tempat yang ditunjuk Ibu. "Bagaimana dengan sekolah kalian?" Ibu bertanya sesaat setelah mendudukkan tubuhnya di sofa.

Kyuhyun kembali mengikuti, "Tidak ada masalah, Eomma." Jawabnya.

"Apakah uri Sungminie menyusahkan uri Kyuhyunie?"

"Aniya..." Kyuhyun menggeleng. Tidak sedikit maksudnya, lanjutnya dalam hati. Hell yeah! Karena Ia tak mungkin berbicara se-gamblang itu.

Sesaat sebelum kembali memutuskan untuk bertanya, Ibu tergelak guna menghapus aura kecanggungan yang begitu kental. "Lalu—" ia memberi jeda untuk menatap ke bola mata Kyuhyun, dan tepat pada saat itu pemuda tinggi tersebut balik menatap manik coklat Ibunya. "Eomma melihat kau hampir saja memperkosa uri Sungminie, Kyunie."

DOOR!

Peluru tak nampak itu begitu jelas mengenai kepala Kyuhyun, membawa ingatannya pada kejadian beberapa saat lalu bersama Sungmin. Kyuhyun merinding tat kala mendengar kalimat tersebut diucapkan dengan suara yang lembut diiringi desisan tertahan dari bibir calon mertuanya ini. Ia lebih memilih mati sekarang, detik, dan menit ini juga. Demi Tuhan, Kyuhyun memilih ditembak mati oleh calon Ibu mertuanya ini, dari pada ia harus—

"Kau lupa menutup pintu kamarmu, Cho Kyuhyun!"

Seluruh urat dan otot persendian di tubuh pemuda Cho itu melemas. Lidahnya terasa keluh, bersamaan dengan bulir keringat yang mulai membasahi pelipisnya. Wajahnya yang putih semakin memucat. Jantungnya seolah berhenti berdetak, enggan untuk mengedarkan sel merah menuju wajahnya guna—walau sedikit—menyamarkan warna putih pada wajahnya.

Tak pelak, pemuda bertubuh jangkung itu pun mulai berperang batin. Tidak! Tidak! Tidak! Ia tidak pernah bermaksud seperti itu. Kyuhyun berani bersumpah, bahwa sedikit pun dirinya tidak berniat untuk memperkosa pujaan hatinya, sebagaimana yang dikatakan oleh sang Ibu.

Dengan bibir bergetar, Kyuhyun berusaha berkata, "E-eomma... a-aku... ti-tidak—" namun entah mengapa lidahnya benar-benar terasa kaku. Menggepalkan kedua telapak tangannya erat, Kyuhyun bersiap menerima konsekuensi.

Ibu Lee yang memperhatikan Kyuhyun, mengatupkan bibirnya rapat selaras dengan rahangnya yang mengeras. Akan tetapi, memperhatikan lebih jelas raut wajah dari calon menantunya yang tampan kini malah berubah bak manusia tanpa nyawa, dan tanpa bisa bertahan lebih lama, tiba-tiba saja, "Hmptt—pwahahahaha~~ aigo... aigo... Kyuhyun-ah~~ ahahahaha~~" tawanya pun pecah. Kyuhyun memasang wajah seperti orang kehilangan akal.

Mengabaikan itu, sang Ibu terus saja tertawa terbahak, membuat Kyuhyun menganga lebar karenanya. Sudah gila kah eommanya ini?, pikirnya random. Demi Sungmin, putra dari Nyonya Lee yang terkenal imut seantero marmut, otak Kyuhyun hanya mampu menyimpulkan hal demikian. Hei, bagaimana tidak? Wanita paruh baya itu dengan tatapan tajam, menuding Kyuhyun memperkosa putranya, kemudian setelahnya ia malah tertawa.

Dipenuhi dengan berbagai macam pikiran, rasanya Kyuhyun berkeinginan lari dari ruang kerja Lee Appa ini.

Dengan ragu, Kyuhyun mengulurkan tangannya, mencoba menyadarkan sang Ibu. Namun sebelum itu terjadi, tawa menggelegar Ibu kembali terdengar. "Ahahahaha... Ya, Tuhanku~~" Kyuhyun berjengit.

Alih-alih tertawa sambil melirik geli wajah remaja tampan ini, namun tiba-tiba saja tawa dari wanita paruh baya tersebut mereda secara perlahan. Ia sadar, calon menantunya itu tengah menatap aneh padanya. "Aigo~~ Huft~ ah~!" Ibu Lee menarik napas guna mengisi kekosongan paru-parunya yang sempat habis karena tertawa. Sedangkan Kyuhyun, pemuda berambut ikal itu terdiam, memperhatikan.

Wajah pemuda Cho yang kebingungan itu begitu aneh, menggemaskan, lucu, sekaligus membuat orang merinding dalam waktu yang bersamaan.

"Eomma tak menyangka kau bisa tahan, Kyuhyunie..." ucap sang eomma, dadanya naik turun mencoba tenang.

Dahi Kyuhyun berkerut hingga alisnya tampak menyatu layaknya tokoh anime Angry Bird yang terkenal itu. Namun detik kemudian bola matanya membulat besar, "Eomma tidak memarahiku?" tanyanya dengan intonasi suara terdengar panik.

"Awalnya begitu." Sekilas Ibu tampak tersenyum tak acuh, dan memilih menata rambut ikal sebahu miliknya. "Eomma harap kalian tidak tidur bersama lagi." lanjutnya, dan bersamaan dengan itu rambut-rambutnya yang tadinya mencuat kini kembali rapi.

Ibu Lee menatap Kyuhyun dengan bibir tipisnya yang mengukir senyum, "Apa kau paham, Kyunie?" Kyuhyun merengut, tampak tak setuju dengan perkataan ibunya barusan.

"Tapi Minnie hyung yang selalu meminta untuk tidur bersama, Eomma. Dan karena dia juga aku harus menderita..." Belanya.

"Kau seharusnya bisa menolak."

"Aku sudah melakukannya, namun percuma. Dia tetap memaksa, dan jika aku bersikeras, maka ia akan mengatakan aku tak sayang padanya. Ukh... menyebalkan!"

"Benar begitu?" Ibu menatap curiga, tapi Kyuhyun mengangguk, membenarkan.

"Baiklah. Lalu, apa kau sudah menyatakan perasaanmu pada uri Sungminie?"

Kyuhyun yang sebelumnya sempat menunduk, sontak mengangkat kepalanya menatap sang Ibu. Apa yang harus ia katakan? Kenyataannya, bahwa Sungmin sekarang sedang berpacaran dengan ketua kelas mereka. Entahlah... Kyuhyun tidak tahu bagaimana perasaan namja manis itu terhadap dirinya.

"Kyu—"

"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, Eomma. Bahkan Sungmin hyung kini tengah berpacaran dengan teman sekelasku." Oh... haruskah Kyuhyun menganggap Siwon seorang teman?

Tatapan Ibu berubah sendu. Sebelah tangannya sigap membawa tubuh tinggi Kyuhyun ke dalam sebuah pelukan hangat. Ia sangat menyayangi Kyuhyun. Biar bagaimanapun, karena kehadiran Kyuhyun lah, maka putra pertamanya itu bisa kembali ceria.

"Ayo berbagilah pada eomma, sayang..." Kyuhyun tanpa bisa menolak, ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada sang Ibu.

"Aku sangat mencintai Minnie hyung. Aku tak tahu bagaimana tanggapannya ketika aku mengatakan yang sesungguhnya padanya, Eomma. Aku tak akan siap jika pada akhirnya Minnie hyung tidak akan menerimanya, dan malah berujung dia akan menjauhi aku."

Mungkin Kyuhyun sendiri tak sadar bahwa suaranya terdengar parau di telinga sang Ibu, bahkan wanita paruh baya itu dapat merasakan tubuh kurus yang berada di dalam pelukannya bergetar menahan tangis. Yeah, air mata Kyuhyun keluar tanpa diminta.

"Sshhh~ itu tidak mungkin, Kyunie. Uri Sungminie sangat menyayangimu, dan dia tidak akan mungkin menjauhimu." Kata Ibu mengelus sayang punggung lebar Kyuhyun.

"Aku berharap begitu, Eomma. Namun seandainya ia tidak bisa menerima perasaanku, maka aku akan menyerah dan pergi." Ibu menggeleng pelan mendengar pernyataan Kyuhyun barusan. Meski ia tidak berhak melarang Kyuhyun, tapi sang Ibu tidak akan terima dengan hal itu.

"Tidak, Kyunie! Kau tidak boleh pergi."

"Aku tidak akan pergi, jika Minnie hyung menerima perasaanku, Eomma."

Suara Kyuhyun terdengar tegas, hal itu lantas membuat sang eomma melongggarkan pelukannya untuk menatap calon menantunya yang tampan ini. Sorot yang terpancar dari Obsidian itu menjelaskan ketegasan dengan ucapan Kyuhyun yang memang tidak main-main.

Bola mata Ibu berkaca-kaca, "Hiks, lalu Kyunie berniat meninggalkan eomma, hum?" Kyuhyun mengangguk, membuat sang Ibu kesal dan memukul bahunya keras.

"Kau jahat!" rajuknya.

"Aww~ Eomma, sakit!"

"Eomma tak peduli."

"Hiks! Eomma~" Kyuhyun menyembunyikan wajahnya di bahu sang Ibu, ia tak ingin terlihat cengeng. Tapi air mata bodoh itu terus saja keluar, dan membasahi kemeja berbahan satin yang dikenakan Ibu. "Aku akan mengatakan perasaanku, dan tentang perjodohan itu, tapi nanti. Namun—" memberi jeda, Kyuhyun menarik napas dalam, "—jika Sungmin hyung menolak itu semua, maka aku akan segera meninggalkan Korea untuk menyusul keluargaku di LA."

Ibu tanpa bisa berkata, hanya menangis tersedu di dada Kyuhyun. Ia sebagai Ibu, juga tidak boleh bersikap egois dengan memaksa kehendaknya sendiri. Ia hanya bisa berharap dan berdoa, agar apa pun yang menjadi keputusan sang anak, semoga itulah yang terbaik.

"Eomma, uljima~~!"

Mendorong kuat bahu Kyuhyun, Ibu berseru keras membuat remaja tanggung itu mendelik kaget, "Ya! Bocah pabo. Lalu kau pikir aku tidak bisa melihat warna merah di leher anakku, eoh?" katanya marah.

Kyuhyun terbungkam, tapi ia malah semakin sedih menatap raut ketidak relaan yang tergambar jelas di wajah sang Ibu. Ia mengerti itu hanya sebuah alasan, untuk membuat dirinya semakin bersalah, dan pada akhirnya ia akan tetap berada di keluarga Lee dengan mengorbankan perasaannya. Sebisanya, Kyuhyun mempertahankan ekspresi stoicnya tetap terjaga, dingin dan tenang.

"Kau bahkan sudah menandainya, dan sekarang kau berbicara seolah menyerah."

Kyuhyun menunduk, menolak tatapan menuntut yang tertuju padanya, "Aku tidak akan menyerah, Eomma. Suatu saat nanti, aku yakin akan memilik Minnie hyung sepenuhnya. Aku akan meraih hatinya, dan kemudian hatiku juga akan dimiliknya. Kelak, hubungan kami akan terjaga selamanya."

Walau saat ini, Kyuhyun sendiri tak yakin, tapi perkataan yang baru saja keluar dari bibirnya, membuat motivasi tersendiri untuknya. Yeah, menyemangati diri sendiri mungkin tidak mengapa. Mimpi untuk bisa bersama dan membahagiakan Sungmin pasti dapat ia raih.

"Baiklah, sekarang bersihkan air matamu itu. Anak eomma tidak ada yang sejelek ini!"

Perlahan sebuah senyum terbentuk di bibir tebal Kyuhyun. Ia lega, itu berarti sang Ibu menghargai keputusannya. "Eomma, maskaramu luntur, dan Anda terlihat seperti hantu." Balas Kyuhyun.

"Mwo?" pemuda itu mengangguk semangat.

"Omona~~ tidak mungkin!"

"Ya! Eomma, kau tak perlu panik. Aku bisa membantumu." Tangan besar Kyuhyun segera meraih wajah sang eomma, dan membersihkannya secara perlahan. "Nah, selesai. Dan Anda masih terlihat saja jelek!" kata Kyuhyun santai, dan dengan begitu satu jitakan kecil di dahinya, ia terima dengan ikhlas(?)

Pletak!

"Yak! Bocah kurang ajar!"

Alih-alih merasa sakit, Kyuhyun malah tertawa terbahak. "Muahahahahaha..."

Kini, Anak dan Ibu yang tidak ada hubungan darah itu sama-sama tertawa. Melepas, dan berusaha melupakan sejenak duka lara. Tapi itu tak lama, saat tiba-tiba saja pintu ruang kerja tersebut terbuka lebar, menampilkan sesosok kelinci bertubuh gembul—Lee Sungmin—di depan pintu.

"Yah! Apa yang kalian tertawakan?" kedua tangannya dipenuhi berbagai benda dan bungkusan.

"Aigo~ Sungminie. Kenapa mengejutkan eomma, eoh?" Ibu dengan terburu-buru memperbaiki dandanannya, agar terlihat biasa.

Bukannya menjawab, Sungmin mengerucutkan bibirnya dan balik bertanya, "Tawa eomma dan Kyunie terdengar sampai ke bawah. Apa yang kalian bicarakan?" katanya sambil berjalan menghampiri Ibu dan adiknya.

Berbagai oleh-oleh yang berada di kedua tangannya tadi, ia tumpahkan begitu saja ke wajah Kyuhyun. Entah itu sengaja, atau merasa cemburu karena dirinya tak diajak bercanda. Hah... entahlah. Sungmin hanya menganggap kedua orang yang terbengong ini sedang bercanda dan tak berniat untuk mengajak dirinya ikut serta.

"Tidak ada hal penting yang sedang kami bicarakan, Chagi." Ibu berusaha membuat suasana terlihat santai. "Kyuhyun hanya menceritakan tentang hal konyol dari tayangan televisi." Kata Ibu membuat alasan.

Hell!

Alasan macam apa itu? Kyuhyun melototi Ibunya. Bukannya ia tak terima dengan alasan itu, hanya saja ia takut Sungmin bertanya-tanya hal aneh padanya.

"Oh~" namun tanggapan yang ditunjukkan oleh pemuda mungil itu malah sebaliknya, membuat Kyuhyun merubah cepat ekspresinya, dari yang semula panik kini tampak seperti kehilangan akal. Huft~ rupanya pemuda Cho itu salah menduga atau mungkin terlalu percaya diri.

"Kyunie!" Tiba-tiba namja manis itu berseru. Mendekat, dan mendudukan tubuhnya diantara Kyuhyun dan sang Ibu. "Lihat ini!" meraih sesuatu yang berada diatas kepala Kyuhyun, dan kemudian memperlihatkannya pada sang adik. Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya.

"Eomma membawa dua pasang piama berwarna biru tua dan merah muda. Itu berarti, yang tua itu kau dan yang muda itu aku! Sudah jelas, yang pink buat Minnie hyung, kemudian yang biru buat Kyunie. Bukankah seperti itu, eomma?" Sungmin bertanya sekaligus meminta persetujuan atas penjelasannya barusan. Bola matanya berkedip lucu menunggu sang eomma mengangguk setuju.

"Ne, yang biru buat Kyunie, dan yang merah muda itu untuk Minnie." Ibu tampak menahan tawa geli, mendengar perkataan polos putranya.

"Yeay~~!" Sungmin bersorak senang, sedangkan Kyuhyun menerima kain tersebut dengan wajah datar. Hei, apa maksudnya Biru tua dan Merah muda, dengan dirinya dianggap tua dan Sungmin malah beranggapan dirinya muda.

Aish... penjelasan tak penting, cibir Kyuhyun dalam hati.

"Ayo, kita harus memakainya bersamaan, Kyunie!"

Dengan paksa, Sungmin menarik tubuh gontai Kyuhyun untuk berjalan mengikutinya. Mungkin Sungmin berniat memarkerkan beberapa buah tangan yang dibelikan Ibunya. Beberapa benda yang sengaja dibeli hampir bersamaan, walau mungkin hanya berbeda warna dan ukuran.

Keduanya pergi, tanpa memedulikan sosok wanita yang melempar senyum lemah ketika melihat dua punggung putranya menghilang di balik pintu.

.

.

.

Sebagai pemuda tampan yang bakal menjadi seorang Direktur muda, rasanya Kyuhyun ingin menjadi anak penurut untuk menunjang mimpinya tersebut. Mungkin sebagai salah satu contoh—kecil—ia bisa menurut dengan mendengar nasihat-nasihat calon Ibu mertuanya.

Tapi apa yang bisa Ia lakukan, saat harapan dan kenyataan itu nyatanya sering tidak sejalan?

Kemudian Kyuhyun hanya bisa menghembuskan napas lelah, membuat bulu mata lentik dari sosok manis di depannya ini bergerak lembut.

Beberapa saat lalu, setelah selesai makan malam. Sungmin segera meminta izin pada Ibunya meninggalkan meja makan untuk kembali ke kamar, dan tentu saja Kyuhyun harus ikut serta. Di depan Ibunya pula pemuda manis bertubuh mungil itu meminta pada sang adik untuk bisa tidur bersama, seperti biasanya.

Kyuhyun tidak berbohong. Ibu tentu saja bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika Kyuhyun menolak, maka Sungmin akan menghentak-hentakan kaki sembari merengut kesal dengan pipi yang menggembung pula.

Setelah itu, Kyuhyun hanya bisa pasrah saat tangannya diseret paksa oleh calon istrinya yang tak peka dengan situasi gawat tersebut—menurutnya.

Dalam keheningan malam yang hanya ditemani deruan napas lembut Sungmin, Kyuhyun hanya tersenyum sembari menatap teduh wajah malaikat sosok tercintanya itu.

Sebelah tangannya ia gunakan untuk menopang kepalanya, dan kemudian tangannya yang lain terjulur, mengelus sayang pipi putih sang hyung. Tanpa bisa ditahan, kedua sudut bibirnya tertarik lebar membentuk senyum tulus. Lama—mengagumi sosok manis di depannya, perlahan Kyuhyun mendekatkan wajahnya untuk mengecup dahi indah itu.

Chup~

Obsidian kelam itu tampak terpejam, seolah menyalurkan segala rasa dari tumpuan bibirnya yang menempel lama di dahi sang hyung. Kyuhyun menarik diri, mengecup pelan bibir Sungmin, sebelum akhirnya ia berbisik di telinga sang tercinta. "Jaljayo, Yeobo~" dan selanjutnya tubuh tinggi itu merebah, menyusul cintanya yang terlelap lebih dulu.

Kyuhyun tersenyum dalam tidurnya. Jauh dari lubuk hatinya, ia tak akan pernah bosan mengatakan dua buah kata itu. Berharap—meski ia hanya berani mengatakan saat Sungmin tak sadar—semoga di dalam mimpi, sang pujaan hati bisa merasakan cinta tulusnya.

.

Akhirnya Sungmin bisa membuka mata ketika napas lembut Kyuhyun mulai menerpa bagian rambut depannya, pertanda lelaki berkulit pucat itu sudah terlelap. Bola mata bak rubah itu berkedip, sebelum memutuskan membalik tubuh dengan cepat. Memunggungi wajah yang entah mengapa di penglihatannya tampak lebih tampan dari biasanya.

Sebenarnya, tujuan awal Sungmin memaksa Kyuhyun untuk tidur di kamar yang sama malam ini, adalah ia yang berniat bertanya tentang sesuatu hal yang cukup mengganggu pikirannya selama satu harian, atau tepatnya saat mata polosnya(?) melihat sesuatu yang tak seharusnya ia lihat. Akan tetapi, ketika dirinya mulai bertatapan dengan Kyuhyun, semua kata yang sebelumnya sudah ia siapkan membuyar. Merasa frustasi dengan isi kepalanya, pada akhirnya Sungmin mencoba untuk memejamkan mata. Tapi ternyata ia tak bisa.

Di dalam satu selimut yang sama, Sungmin meremas kuat kain tersebut. Ia dapat mendengar dengan jelas bagaimana Kyuhyun berucap lirih di telinganya. Sungmin tidak mengerti perasaan apa yang ia rasa saat ini. Yang jelas, wajahnya memanas bersamaan jantungnya yang berdegup kencang.

Kebingungan meliputi isi kepalanya. "Yeobo?" Sungmin bergumam dengan bola mata berkedip—berulang.

Otaknya tidak dapat berpikir, namun yang jelas ia merasa bahagia. Dan seketika perasaan resah dan kegalauan yang sesaat lalu memenuhi pikirannya kini sirna. Tanganya bergerak mengambil lengan putih itu, kemudian menyampirkannya pada pinggang ramping miliknya.

Tersenyum bodoh, namja manis itu—kembali—berusaha memejamkan mata dengan perasaan yang berbeda. Kali ini dengan perasaan bahagia membuncah di hatinya. Jantungnya berdebar kencang, dan sepertinya Sungmin mulai terbiasa untuk menikmati degupan keras dari dadanya, yang disebabkan oleh Kyuhyun-nya itu.

.

~Love Confused~

.

Siang ini, tempat yang menyediakan makanan dan minuman di Sekolah itu, tampak ramai di jam istirahat pertama. Yeah, duduk tenang dengan otak yang harus dipaksa untuk fokus pada pelajaran, berhasil menguras energi dan menciptakan konser kecil yang begitu terdengar jelas dari dalam perut para murid. Maka sebab itulah suasana Kantin hari ini cukup ramai, yang tentu saja sebagian besar diisi para siswa dan siswi. Termasuk diantaranya—

Ketua kelas yang tampan bersama kekasihnya yang imut, dan oh... juga ada Tuan muda Cho yang jenius itu di sana—disatu meja yang sama. Cukup mudah untuk ditebak, mengapa pemuda berwajah stoic dengan segala pesona yang ia punya, duduk manis berhadapan dengan dua orang yang tak pernah ia anggap menjalin hubungan tersebut.

Sungmin is Mine. Don't ever touch him, stupid horse!

Kyuhyun merasa kesal, karena ia hanya bisa berteriak di dalam hati. Pegangan tangannya pada tangkai benda berbentuk cekung itu mengeras. Sendok itu terlihat bengkok, dan mungkin sebentar lagi akan patah. Kemudian, rasa kesalnya semakin bertambah ketika merasa tak memiliki kesempatan untuk mendaratkan sendok yang ia pegang ke dahi pemuda Choi yang sok—coret—tampan itu.

Yaish! Kyuhyun bisa menduga bahwa membersihkan bibir sang hyung dari sisa-sisa makanan hanyalah alibi belaka yang dijadikan Siwon untuk bisa mencari kesempatan, menyentuh hyungnya tercinta. Otak jenius Kyuhyun segera bekerja, mencari akal agar perhatian pemuda bertubuh mungil itu bisa teralih padanya. Baginya, tidak ada istilah 'Dunia serasa milik berdua' jika orang yang bersama Sungmin itu adalah Choi Siwon.

Sedikit tak yakin sebenarnya, tapi Kyuhyun harus mencoba. Ia menggeleng mencoba mengusir ekspresi kesal yang sesaat lalu tergambar jelas di wajah tampannya. "Minnie hyung, aku ingin disuapi~~" Kyuhyun berujar, dengan tampilan wajah yang kini terlihat lugu.

Sungmin yang tadinya menunduk malu—karena sang kekasih—kini pandangannya beralih, mendongak menatap sang adik. Kyuhyun mengulum senyum melihat usahanya mulai menampakan hasil.

Sekilas lalu, kalau tidak salah Sungmin seperti menangkap nada manja yang keluar bibir sang adik. "Huh?! Barusan Kyunie mengatakan apa?" tanyanya memastikan. Nyantanya Sungmin memang kurang mendengar apa yang dikatakan Kyuhyun.

Dalam hati pemuda Cho itu berdecak kesal. "Aku ingin disuapi oleh Minnie hyung. Tiba-tiba saja aku tidak berselera untuk makan. Mungkin kalau disuapi olehmu, makanan ini akan cepat habis." Kata Kyuhyun lagi dengan suara terdengar lebih kekanakan dan manja.

Sungmin berkedip lucu, memperhatikan wajah Kyuhyun. "Tapi 'kan Kyunie sudah besar," katanya, dan sukses membuat Siwon tersenyum menang.

Ish... tuh 'kan?! Ini sulit. Namun bukan Cho Kyuhyun namanya, jika ia harus menyerah semuda itu. Lihat saja!

"Ya sudah, kalau Minnie hyung tidak mau..." Kyuhyun menunduk berpura sedih. Ia mengaduk pastanya dengan wajah tak berselera. Siwon yang melihat itu nyaris memuntahkan isi perutnya. Dunia terasa bergoncang, ketika matanya tak sengaja melihat aegyo gagal yang dilakukan pemuda tersebut.

Hoek!, diam-diam tanpa—sepengetahuan Sungmin—Siwon membuat gesture mual, yang tentu saja ia pastikan lebih dulu bahwa bocah Cho itu melihatnya.

Namun rupanya itu cukup berpengaruh bagi namja bergigi kelinci tersebut. Manik karamelnya sontak meredup, melihat sang adik mengaduk makanannya tanpa berniat memasukan ke dalam mulutnya. Sungmin sedikit khawatir, karena pada dasarnya selera makan Kyuhyun memang sedikit buruk. Ia tak suka bila melihat tubuh tinggi itu hanya dilapisi oleh tulang dan kulit.

"Yah! Aegyo-mu buruk sekali, Kyunie. Aish, Minnie hyung sudah sering mengajarimu, tapi kenapa kau selalu gagal?!" Teriak Sungmin tiba-tiba, dan sukses membuat Kyuhyun mendelikkan mata, terkejut. "Jangan diaduk-aduk seperti itu, kemari biar hyung menyuapimu." Dan kalimat terakhir berhasil membuat bola mata Kyuhyun bersinar terang.

Yes!, Kyuhyun berteriak girang di dalam hati. Kepalan tangannya mengambang di udara, dan itu sengaja ia lakukan di depan Siwon. Bermaksud membalas dendam.

Kemudian Kyuhyun berpikir, karena ia calon suami dari Sungmin, rasanya mencari sedikit kesempatan mungkin tidak masalah. "Gomawo, Minnie hyung~~ saranghae~~" maka dengan pasti Kyuhyun menjatuhkan diri ke dalam pelukan Sungmin. Beruntung Sungmin mempunyai refleks yang cukup bagus, tubuh Kyuhyun yang saat itu sudah duduk di sisi kirinya, dengan sigap ia tangkap.

Hanya saja—ah! Mungkin apa yang dikatakan Kyuhyun barusan bermaksud menunjukkan rasa senang dari hatinya. Ia tidak akan mungkin bisa mengungkapkan kata itu jika dalam keadaan yang sesungguhnya. Dan apa yang dikatakannya terakhir, berhasil—kembali—menciptakan detakan yang mulai disukai Sungmin. Mungkin sebentar lagi akan menjadi candu tersendiri untuknya. Kemudian, tanpa sadar, bibir plum sewarna sakura itu tertarik dibagian kedua sisinya. Di sisi berbeda, Kyuhyun sedang melemparkan senyuman—menawan—miliknya ke arah Siwon yang sedang menggepalkan kedua tangannya.

Rupanya, bendera perperangan sudah berkibar. Siwon yang cukup pintar, tentu bisa membaca situasi bahwa bocah Cho yang berasal dari gelapnya kegelapan itu juga tengah menaruh hati pada sang malaikat pujaan.

Memutar bola mata dengan malas, Choi Siwon mendengus, sinis. Cih! Ingin rasanya, ia menghapus seringai menyebalkan itu dengan melumuri bibir tebal itu menggunakan saus yang ada di meja ini. Ia tak akan kalah, dan Ia tak akan mau kalah dari bocah setan itu. Biar bagaimanapun Siwon merasa dirinya lebih unggul, dengan menyandang status sebagai kekasih dari seorang Lee Sungmin.

Sedangkan Kyuhyun? Hei, Sungmin hanya menganggapnya tak lebih dari seorang adik. Siwon terkekeh dengan hasil pikirannya barusan.

Kyuhyun masih memeluk tubuh mungil yang memunggungi Siwon. ia terdiam memperhatikan pemuda Choi itu. Dahinya berkerut, tampak tak suka mendengar tawa merendahkan itu.

Apa yang sedang dipikirkan kuda jelek ini?, Kyuhyun bertanya dalam hati, terlebih pertanyaan itu ditujukan untuk dirinya sendiri.

Pemuda Cho itu masih saja berpikir, sampai sebuah suara berhasil menghancurkan lamunan dari ketiga orang tersebut.

"Excuse me!" sapa seorang namja tampan. Wajahnya terlihat ramah, saat senyum manis terkembang di bibir tipisnya. Rupanya sedikit terlihat kekanakan, namun tampak gagah dalam waktu bersamaan. Di sebelahnya ada seorang namja dengan rambut kuning yang begitu mencolok. Entahlah... sedikit aneh, kenapa namja itu bisa bebas dari jerat peraturan sekolah elit ini?!

Apakah bisa ditebak siapa kedua namja itu?

"Lee seonsaengnim?!" sahut Sungmin lebih dulu, ketika Kyuhyun mulai melepas pelukannya untuk melihat siapa yang telah mengganggu kegiatannya.

"Ne, Sungminie. Apa kami boleh bergabung di meja kalian?" Dan ternyata itu Donghae seonsaengnim bersama kekasihnya Lee Hyukjae. Guru muda itu masih saja tersenyum, berharap dengan senyum manisnya itu, maka ketiga orang yang lebih dulu duduk di meja ini, akan menerima penambahan orang. Kebetulan tersisa dua kursi di sana.

Siwon ingin menjawab, tapi ada Eunhyuk—mantan kekasihnya. Dan itu membuatnya enggan membuka suara. Sedangkan Kyuhyun tampak tak terlalu peduli, dan akhirnya Sungmin memutuskan untuk menyetujui.

"Tentu saja, seonsaengnim. Silahkan!" Sungmin tersenyum dengan gigi kelinci yang terlihat bersinar terang di mata Donghae.

"Aigo~ panggil hyung saja, Sungminie~" Ujar Donghae sesaat setelah mendudukan tubuhnya bersebelah dengan Eunhyuk. Sebelah tangan guru Lee terulur, hendak—

"YAAAAAAAA!" Eunhyuk, Kyuhyun maupun Siwon berteriak begitu kencang, sampai-sampai sebagian murid tersedak oleh makanan yang berada di mulut mereka. Tak luput Sungmin juga kaget sambil memegang bagian dadanya.

Meja yang mereka tempati berbentuk persegi yang sedikit memanjang. Guru Lee dan kekasihnya duduk berhadapan dengan Sungmin—yang tubuh mungilnya di kepung oleh Kyuhyun di bagian kiri, dan Siwon di bagian kanan.

Lee Donghae tersenyum kikuk kepada kekasihnya, "Aku hanya sedikit gemas, Hyukie baby~" katanya sembari mencubit pipi Eunhyuk untuk melampiaskan keinginannya yang gagal mencubit pipi gembul Sungmin.

Kyuhyun mendengus melihat kelakuan sepupunya itu. Sedangkan Siwon, tiba-tiba saja memasang ekpresi Jong Woon seonsaengnim di wajah tampannya. Entah mengapa Siwon merasa tidak menyukai keadaan sekarang ini. "Sebaiknya kita kembali makan!" serunya dengan ekspresi tak terbaca.

Terlihat tidak ada yang ingin merepotkan diri untuk menyahuti, tanpa banyak bicara mereka kembali memakan makanannya dengan tenang. Ah—tidak! Tidak sepenuhnya tenang, sebab—

"Ya! Hyung, aku tak mau itu!" tolak Kyuhyun, saat melihat sayur bernama sawi bertengger nyaman di atas sendok.

"Tidak apa-apa, Kyunie. Ini sehat! Aaaaa~~"

"Shireo!"

Siwon mendengus keras. Bola matanya berputar hingga—hampir 360 derajat. Menyebalkan!, keluhnya. Ia pun memilih memindahkan pandangannya ke depan. Namun itu malah membuat empat sudut di kepalanya semakin terlihat jelas—mendapati Donghae sambil tersenyum, mengelus sayang rambut mantan kekasihnya.

ARRRGGGHH... SIAL!, Siwon berteriak frustasi—di dalam hati. Urat-urat kecil dibagian wajahnya tampak menyembul.

Situasi macam apa ini? Demi Tuhan, Siwon akan mengutuk saya(?) jadi cantik, jika dirinya terus saja dihadapi dengan keadaan yang paling menyebalkan ini. Mempunyai kekasih, tapi memilih mengabaikan dirinya yang tampan hanya demi seorang magnae setan seperti Cho Kyuhyun. Dan lagi harus melihat mantan kekasih yang masih ia sayang, sedang bermesraan dengan pacar barunya. Hell?!

Samar-samar Siwon mengerang pelan. Keberadaannya seperti tidak dianggap. Dari pada ia harus mati muda karena kesal, akhirnya Siwon secara dewasa makan dalam diam sambil melirik datar kekasihnya.

Di sela-sela menyendokkan makanan ke mulutnya, Sang ketua kelas yang tampan itu berpikir. Sungmin terlihat bersemangat menyuapi adiknya. Ia tentu tahu, bahwa kedua orang itu tidak memiliki hubungan darah sedikitpun. Akan tetapi, melihat sikap Sungmin yang mampu mengabaikan dirinya demi magnae setan itu, membuat Siwon beranggapan Sungmin juga memiliki perasaan sepesial kepada adiknya.

Lebih dari hubungan hyung dan dongsaeng mungkin?!, Siwon menggeleng, mengusir pikirannya barusan. Tapi... aish! Kalau mungkin praduganya itu benar, maka bisa saja perasaan Kyuhyun bersambut, dan ia akan kembali patah hati untuk kedua kalinya. Bagaimana ini?, Siwon membatin gusar.

Baru saja ia berniat untuk berpikir, namun tiba-tiba saja dari arah belakang tubuhnya, Sungmin dan juga Kyuhyun, datang seorang wanita berseru dengan nada ceria ketika menyebut nama orang yang sudah ia blacklist di dalam otaknya.

"Kyuhyun oppa!" Semua mata tak terkecuali Siwon sendiri, berbalik melihat tamu baru yang datang.

Saat itu, Kyuhyun sudah bersiap menerima suapan Sungmin selanjutnya. Akan tetapi, Sungmin harus membiarkan tangannya terangkat ke udara bersama sendok yang ia pegang ketika kepala adiknya menoleh melihat seseorang yang datang memanggil namanya.

"Oh, Qiannie waeyo?" tanya Kyuhyun ketika melihat gadis keturunan cina itu sudah berdiri di depannya. Sungmin yang tadinya sempat ikut menoleh, cepat-cepat memalingkan wajahnya pada makanan Kyuhyun yang hampir habis.

Tak ada yang menyadari bibir plum berbentuk unik itu kini berpola seperti kerucut. Ia melirik sekilas sekitarnya—baik itu guru Lee, Eunhyuk, Siwon dan tentu saja Kyuhyun kini menatap intens sosok gadis berambut coklat tersebut.

Lupakan Minnie! Lupakan itu. Biar bagaimana pun Kyunie pasti lebih menyukai bibir sensualmu, kata Sungmin membatin, berusaha meyakinkan diri.

"Ah, ini!" gadis itu menyerahkan sesuatu ke arah Kyuhyun.

"Apa itu?" tanya Kyuhyun, dan bersamaan dengan itu pula, Sungmin memasukan makanan—yang akan ia suapi kepada Kyuhyun—ke dalam mulutnya. Bahkan ia menambah satu sendok lagi. Tampak tak peduli, padahal ia sedang memasang pendengarannya baik-baik.

"Hanya manisan buah, sebagai bentuk terimakasih karena Kyuhyun oppa sudah membantu membersihkan debu yang masuk ke mataku kema—"

"UHUK!" perkata gadis cina itu terpotong oleh sebuah batuk. Ia menoleh, dan—

"UHUK~! UHUK~! UHUK~! HOORGHH!"

"Minnie hyung!" teriak Kyuhyun panik.

"Sungminie hyung!" Siwon ikutan sigap.

"Lee Sungmin!" Guru Lee pun heboh.

"Sungmin hyung!" Eunhyuk segera berdiri.

Terakhir, gadis cina itu hanya terpekur dengan ekspresi bodoh di wajahnya. Bagaimana ceritanya, tiba-tiba Sungmin bisa tersedak oleh makanan yang ia kunyah?! Padahal sebelumnya Ia sempat melihat sunbaenya itu makan dengan manis. Namun tiba-tiba saja, wajah manis itu kini berubah merah pekat dengan bulir keringat yang menetes di sela helaian rambut hitam yang mengalir jatuh ke pelipisnya.

Victoria tergagap sesaat sebelum ia sadar, dan segera ikut bergabung dalam kepanikan yang melanda tersebut. Gadis cantik keturuan cina itu bingung harus berbuat apa?! Ia hanya berdiri dengan memandang bodoh ke arah empat namja yang terlihat khawatir melihat kondisi Sungmin.

Kyuhyun mengelus pundak Sungmin, dengan Siwon yang juga melakukan hal sama. Sampai-sampai Kyuhyun merasa jengkel dan memukul keras tangan besar yang menimpah tangannya. Dengan menjauhkan tangan Siwon dari atas tangannya, Kyuhyun meraih air minumnya untuk ia berikan pada sang hyung. Tapi keadaan Sungmin semakin parah, saat pemuda manis itu mulai tak fokus dengan beberapa gelas yang bersalipan menggerubungi wajahnya.

Menyadari warna wajah hyung-nya yang hampir menyerupai kapas, Kyuhyun menarik napas dan berteriak dengan marah, "YA! SUNGMIN HYUNG TIDAK BISA BERNAPAS KALAU KALIAN MEMBERIKANNYA MINUM DENGAN CARA BERDESAKAN SEPERTI ITU!"

Hening... ning... ning... ning.

Namun tak lama, ketika batuk kecil itu kembali terdengar, "Uhuk~!"

"Minnie hyung~~ ayo minum ini!" dengan sigap Kyuhyun meraih gelasnya dan menyodorkannya pada Sungmin.

"Uhuk~! Uhuk~!" Sungmin menerima, dan meminumnya dengan pelan.

"Minnie hyung, apa yang sedang kau pikirkan, kenapa kau bisa tersedak seperti ini, huh?" tentu Sungmin tidak bisa menjawab, alih-alih merasa kesal sekaligus panik, Kyuhyun menarik kemeja sekolahnya dari dalam celana, dan berdiri untuk mengelap wajah berpeluh Sungmin-nya.

"Apakah sudah lebih baik?" Kyuhyun bertanya, disela-sela ia yang masih membersihkan wajah manis tersebut. Dan tanpa diduga, pemuda manis itu mengangguk lemah, membuat berpasang mata menghela napas legah.

"Syukurlah," Kyuhyun kembali menududukan tubuhnya seraya mengusap lembut rambut Sungmin yang basah. Dan kejadian nyata itu ditonton langsung oleh sang ketua kelas, yang notabene berstatus kekasih Sungmin.

Siwon mendengus, nyaris tertawa sinis. Apa ini, heh? Pikirnya tak percaya.

.

~Love Confused~

.

Ujian Nasional untuk tingkat Sekolah Menengah Atas akan segera tiba. Siang tadi, di saat jam pelajaran terakhir, Tan Hangeng—lelaki berdarah asli cina yang tak lain menjabat sebagai Wali dari kelas III A, kelas Kyuhyun dan Sungmin—datang mengumumkan hal penting tersebut. Ujian Nasional akan dilaksanakan tak lebih kurang dari tiga minggu kedepan. Sebagai Wali kelas yang baik, tampan, ramah, dan juga sedang ditaksir oleh Heechul seonsengnim, guru tersebut juga tak luput memberi petuah-petuah kepada anak didiknya, agar kelak menjadi seorang sukes di masa depan nanti.

Namun siapa bisa menduga, saat di depan guru para murid akan mengangguk patuh, dan ketika sedang tidak berhadapan dengan guru mereka, maka murid-murid itu malah melakukan hal lain. Sebagai contoh, lihat saja ke Mansion keluarga Lee, tepatnya di kamar Tuan muda Lee.

Kyuhyun dan Sungmin bukannya mendengar nasihat gurunya dengan belajar, melainkan memilih bercanda. Ok! Awalnya mereka memang belajar. Kyuhyun yang memang pintar hanya membaca sebentar bukunya, dan setelahnya lebih memilih berkutat dengan benda portable kesayangannya. Akan tetapi kesenangan Kyuhyun itu tak bertahan lama, saat Sungmin mulai merasa bosan dengan soal-soal matematika yang dibuat Kyuhyun untuknya.

Kyuhyun bermain curang dan Sungmin tidak terima, kemudian tiba-tiba saja Sungmin melompat ke atas pangkuan Kyuhyun, membuat pemuda itu berjengit kaget. Dan lagi lagi ia tidak bisa marah ketika melihat wajah hyungnya bersinar cerah layaknya lampu penerang jalan di depan Mansion mereka. Lampu itu baru saja diganti oleh Yong Ahjussie kemarin, jadi wajar.

Diatas pangkuan Kyuhyun, Sungmin mulai menghayal yang tidak-tidak. Jadi seperti itu kejadiannya. Ternyata Kyunie hanya membantu gadis itu membersihkan debu dari matanya. Itu berarti Kyunie hanya mengajarkan ciumannnya pada Minnie, yeay~~!

Kyuhyun menyipitkan matanya melihat kelinci manisnya tersenyum-senyum sendiri. "Kenapa kau terus tersenyum, hyung?" tanya Kyuhyun membuyar lamunan namja berparas cantik tersebut.

"Huh?" Sungmin yang tadinya menatap kosong langit-langit kamarnya, kini mengalihkan pandangannya pada pemuda tampan yang jarak wajahnya terlalu dekat dengan dirinya. Ia tersenyum lucu dan menggeleng imut, "Tidak ada." Katanya mengerjap. Kyuhyun mendengus membiarkan Sungmin bermain dengan rambut ikalnya.

"Kyunie~!"

"Hmm..." Alih-alih menyahut, Kyuhyun memilih mengecupi leher putih Sungmin yang berada di depan matanya.

"YAH!"

"Wae?" Kyuhyun bertanya seperti tidak sadar dengan apa yang barusan ia lakukan.

Sungmin berdecak sebelum memutuskan untuk bertanya, sekedar memastikan. "Jadi Kyunie tidak mengajarkan Victoria berciuman 'kan?"

"Apa?"

"Jawab saja Kyunie~!"

Kyuhyun merengut, Ia sendiri tak mengerti maksud dari pertanyaan kelincinya ini. Sungmin yang menyadari raut kebingungan di wajah Kyuhyun, menghela napas pelan dan menggembungkan pipinya kesal.

Chu~

Pipi itu mengempis bersamaan dengan rona merah yang berkumpul cepat di wajah Sungmin. "jangan pasang wajah seperti itu?" ujar Kyuhyun dengan suara yang terdengar begitu merdu di telinga Sungmin.

Pemuda berwajah stoic itu mengulum senyum, saat mendapati Sungmin tanpa sadar menggeleng, mengerjap, dan juga memukul pelan kedua pipinya. Entah apa yang sedang dipikirkan kelincinya itu.

"Kyu~" panggil Sungmin lagi, sesaat setelah selesai mengambil keputusan. Yeah, mungkin saja Sungmin sedang memikirkan sesuatu. Pada dasarnya Kyuhyun bisa menyimpulkan dengan mudah dari ekspresi yang tergambar di wajah hyungnya.

"Ya?!" suara Kyuhyun menyahut, terdengar sabar. Seolah menunggu Sungmin menyampaikan hasil pikirannya tadi.

"Bagaimana kalau kita belajar berciuman saja?" Kyuhyun bergeming dengan sudut bibirnya yang terangkat. Ah~ ternyata Cho muda itu menebak dengan benar.

"Kau yakin, hyung?" Sungmin mengangguk. "Tidak akan menyesal?" sekali lagi kepala cantik itu bergerak, tapi kali ini secara horizontal. "Tapi ciumanmu begitu buruk, Minnie hyung" Tuntut Kyuhyun lebih lanjut. Wajahnya mendekat, dan bibirnya nyaris menyentuh bibir Sungmin.

"Aku tid—"

Chup!

Tanpa menunggu jawaban dari Sungmin, bibir Kyuhyun sudah menempel di bibir sewarna sakura tersebut. Melumatnya pelan, dengan lembut, dan penuh perhatian. Kyuhyun memiringkan kepalanya untuk menghisap bagian sudut, tampak bergairah meskipun pemuda Cho itu sama sekali tidak berharap lebih agar Sungmin membalas ciumannya. Terakhir, Kyuhyun menarik tengkuk Sungmin, menghisap penuh bibir cherry itu, sebelum melepas tautannya dan menatap Sungmin sambil tersenyum.

"Sudah kuduga ciumanmu buruk sekali, hyung."

Sungmin tak habis pikir, disaat dirinya hampir kehabisan napas. Ia malah mendapati Kyuhyun tersenyum miring—tanpa perlu repot-repot menarik napas dalam seperti yang dilakukannya saat ini. Kyuhyun seperti makhluk immortal.

"Hya! Itu karena Kyunie tidak memberi kesempatan untuk Minnie hyung mempersiapkan diri," Sungmin berpaling, malu dengan ucapannya sendiri.

"Oh, begitu kah?" Kyuhyun mengangguk polos. "Baiklah, aku akan memberimu kesiapan lebih dulu." Kata Kyuhyun.

Sungmin membulatkan matanya. Aish, tadi itu ia hanya bercanda untuk mengalihkan detakan yang disukainya itu. Pemuda manis itu sadar, kalau ciuman memang sangat buruk. Tapi sekarang Kyuhyun memberinya kesempatan, namun ia sendiri bingung harus melakukan apa.

"Baiklah, biar aku ajarkan!" Kyuhyun menghadapkan wajah Sungmin untuk melihat dirinya. "Sekarang buka mulutmu!"

"Huh?"

"Iya, ayo lakukan!"

"Aaaaa~~"

"Tidak perlu terlalu lebar."

"Aish... Aaa~"

"Sekarang keluarkan lidahmu." Sungmin yang memang tidak mengerti, terus menuruti intruksi Kyuhyun—gurunya. Pemuda Cho itu menyeringai ketika melihat lidah Sungmin menjulur di depan matanya. Mendekatkan wajah, Kyuhyun ikut mengeluarkan lidahnya, menyambut lidah basah sang hyung.

"Errnghh... hhk~" Sungmin hampir tersedak oleh saliva mereka yang menyatu. Kyuhyun membelitnya, dan menghisap kuat lidah Sungmin. Pemuda manis itu merasa sulit untuk mengambil napas.

Kyuhyun melirik kecil wajah yang menempel pada pipinya. Ia ingin tertawa melihat raut kesusahan sang hyung. Seringnya mereka melakukan ciuman, membuat keduanya tampak biasa. Atau Kyuhyun yang memang sengaja membiasakan diri mencium Sungmin. Hell, apa pun itu ia tidak peduli, pada dasarnya hal ini sudah menjadi bagian dalam rencananya.

"Seharusnya kau juga menggerakan lidahmu, Minnie hyung." Kyuhyun melepas tautan lidahnya.

"Hosh... hosh! Paboya! Aku tidak bisa bernapas, Kyunie!"

Khekhekhe... rasakan itu kelinci nakal!, batin Kyuhyun tertawa setan.

"Apa kau sudah bisa melakukannya?" Kyuhyun bertanya tanpa peduli dengan saliva yang membasahi dagunya. "Ayo lihat ke arahku, aku akan mengajarkan satu hal terakhir." Untungnya pengendalian diri Kyuhyun cukup kuat hari ini.

Kyuhyun berniat memberi instruksi terakhir sebelum mempraktikannya kembali pada Sungmin, "Nanti, jika aku menjulurkan lidah, kau harus menghisapnya, hyung. Tak perlu kuat, tapi usahakan lidahmu bergerak di dalam mulutku. Apa kau mengerti?" dan sebagai jawaban, kelinci manis itu menanggapi dengan satu anggukan polos.

Terlihat Kyuhyun sudah mengeluarkan lidahnya, menunggu Sungmin melakukan hal sama. Sejenak pemuda manis itu tampak ragu, namun perlahan wajahnya sudah mendekat pada Kyuhyun. Ia mulai bersiap, sedikit lagi dan—

"Tuan muda Lee!"

Pergerakan Sungmin terhenti oleh sebuah suara. Dengan jarak wajah yang sangat dekat dengan sang adik, Sungmin segera menoleh hingga bibir Kyuhyun mendarat manis di rahang mulusnya.

Kyuhyun mendengus, ia tahu siapa pemilik suara itu. Ukh, kenapa maid tua itu selalu menyela di saat yang tidak tepat?, bibir merah itu mencebik, menggerutu kesal di dalam hati. Akan tetapi itu tak lama saat matanya menemukan hal yang tak kalah mengasyikan. Kyuhyun memainkan bibir nakalnya di sekitar ceruk leher Sungmin. Mengecupnya berulang-ulang, dan sesekali menjilatnya secara seduktif.

"A-ada apa?" Sungmin berteriak keras, mulai tak berkonsentrasi dengan sesuatu yang bergerak di lehernya.

Seo ahjumma berusaha membuka pintu, namun rupanya terkunci. Tak biasanya siang hari begini, pintu tuan mudanya yang satu ini akan terkunci. "Tuan muda Choi mencari anda?"

"Argghh~~!" Dan bersamaan dengan itu, satu tanda merah kembali terukir di kulit leher sang hyung.

"Tuan muda?!"

"I-iya, aku akan turun ke bawah segera."

"Baiklah, saya akan menyampaikannya."

Sungmin tanpa perlu menjawab, kembali mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun. "Kyunie, aku harus melihat Siwonie di bawah." Sungmin berujar seolah meminta persetujuan.

Kyuhyun tak memandang Sungmin, obsidiannya fokus pada tanda merah yang baru saja ia buat. "Kalau begitu, aku ikut turun ke bawah." Sungmin mengangguk senang.

"Ayo!" Sungmin bangkit dari tubuh Kyuhyun dan menariknya untuk berjalan.

"Cih, mau apa kuda bodoh itu datang kemari? Mengganggu saja!" berjalan di belakang tubuh Sungmin. Kyuhyun bergumam dengan desisan tajam dari mulutnya.

.

TBC.


Saya sudah bersusah payah untuk Chap ini. Mohon Apresiasinya ya~~? Next, saya usahakan cepat publish! Gamsahae :*