Jimin kecil meniupi bunga bunga dandelion yang tumbuh liar di taman tempatnya bermain. Setelah bunga tersebut habis, Jimin berlarian ke sana kemari.
Ia sedang menikmati waktu bermainnya, lebih tepatnya berusaha menikmati. Karena sudah dua minggu ini Yoongi pindah rumah dan tak bisa menemani Jimin bermain lagi.
Jimin kecil sudah lelah hanya mengurung diri. Hingga akhirnya hari ini ia keluar, siapa tau saja ada yang menarik perhatiannya.
Tapi sudah dua jam ia berkeliaran di taman bermain, tapi tak ada satu pun anak yang muncul di sana. Membuat Jimin hanya bisa berjalan jalan kecil, berputar putar di sekitaran area taman bermain hingga lelah.
Jimin rindu Yoongi Hyung nya. Jimin tak mau Yoongi pergi, bahkan saat keberangkatan Yoongi saja Jimin menangis kencang di pangkuan orang tuanya.
Dulu, hanya ada Yoongi. Maka saat Yoongi meninggalkannya, Jimin jadi tak punya siapa siapa lagi.
Ada Namjoon, tapi dia selalu menyebalkan saat main dengan Jimin. Bermain curang, mengejek dan tak jarang juga membuatnya menangis. Sedangkan Chanyeol terlalu sibuk dengan sekolahnya.
Jimin sebal.
"Hey pendek." Jimin menoleh kearah sumber suara. Seorang bocah seumurannya terlihat berdiri dengan sebuah bola merah menyala di pelukannya.
"Ayo main bersama!!"
Jimin tau bocah itu, dia adalah anak dari kelas yang sama di sekolahnya. Dia menyebalkan juga sangat kurang ajar. Bagaimana bisa dia mengatai Jimin pendek padahal tinggi mereka tak beda jauh.
Jimin benci anak itu. Walau hanya ada satu anak monyet dan anak itu di dunia, Jimin lebih memilih menari dengan anak monyet ketimbang bermain dengan anak itu.
Jimin membuang muka pura pura tak peduli.
"Selain pendek kau juga tak bisa mendengar ya?"
"Aku bisa mendengar!!" pekik Jimin tak terima.
"Lalu kenapa kau mendiamkan ku?" tanya anak itu.
"Karena kau jelek weeek."
Tak di sangka, bukannya melawan anak itu malah menangis sesegukan membuat Jimin merasa bersalah.
Baru saja ia hendak menghampiri anak itu, seorang remaja seusia Yoongi datang dengan wajah tertekuk.
"Apa yang kau lakukan pada adikku eoh?"
Nyali Jimin menciut, ia ketakutan melihat wajah remaja itu yang sangat menyeramkan jika sedang marah.
"Aku... Aku..." tak ada yang bisa Jimin lakukan selain menunduk takut.
"Dia mengataiku jelek Hyung." si bocah tadi mengadu sambil masih terisak.
"Apa, kau mengejek adikku jelek?"
"Dia yang mengataiku pendek!" Jimin merasa tak terima, oh ayo lah mereka masih enam tahun. Masih sangat bocah, wajar jika saling mengejek.
"Kau memang pendek!"
"Dan kau memang jelek!"
"Huweeeeeee Hyungieeeeee."
"Jelek, cengeng, jelek."
Bugh
Jimin merasakan kepalanya di hantam sesuatu yang keras.
Anak itu terjatuh kebelakang, membuat kepalanya terkena ujung perosotan yang tajam.
Dari sana semuanya menjadi gelap yang Jimin rasakan hanya kecupan kecupan kecil di permukaan kulit wajahnya. Geli, ia tak tahan untuk tak membuka mata.
Menyambut senyum Yoongi yang menyapanya di pagi hari.
"Hehe hay sayang, tidurmu nyenyak sekali."
LITTLE
Jimin sudah bilang kalau ia tak suka mengenakan suit dengan dasi kupu kupu, itu sangat tidak nyaman. Seolah mencekiknya.
Tapi Yoongi memaksanya mengenakan stelan itu ketika mereka hendak menghadiri acara pernikahan Seokjin dan Jaehwan disebuah hall hotel bintang lima.
Acaranya sangat resmi, jadi Jimin tak mungkin mengenakan kaos dan jeans apa lagi piyama.
Jadi mau tak mau ia harus rela dengan pakaian yang ia kenakan.
"Jangan memasang wajah begitu. Aku tak mau di tuduh tak membahagiakanmu." Yoongi yang sedang menyetir tak bisa fokus akibat bibir Jimin yang terus maju kedepan.
"Kau memang tak pernah membahagiakan ku."
Oh apa yang anak itu katakan. Coba bilang sekali lagi ketika Jimin menangis tersedu sedu karena terlalu bahagia saat Yoongi membelikan boneka babi super besar minggu lalu.
Ayolah Min Yoongi, kebahagiaan tak bisa kau ukur dengan besarnya boneka babi yang kau beli.
Setidaknya sesuatu lain yang berukuran besar bisa membuat bahagia. Uang jajan contohnya.
(͡ ͜ʖ ͡) (͡ ͜ʖ ͡) (͡ ͜ʖ ͡)
"Leherku tercekik Hyung aku tak bisa bernafas." Jimin berbicara dengan mulut yang di lebar lebarkan. Sudah mirip ikan koi yang di masak ibu Yoongi tempo hari.
"Kau terlihat manis dengan dasi kupu kupu itu."
"Jadi menurutmu aku tak manis jika tak mengenakan dasi bodoh ini?"
Jimin mulai merajuk. Apa yang harus Yoongi lakukan yatuhan? Apa dia harus pura pura mati?
"Maksudku, kau jauh lebih manis jika memakai dasi itu. Bukan berarti kau tak manis, tapi kadar kemanisan mu bertambah beberapa persen saat memakai dasi itu "
Senyap, Jimin sama sekali tak menanggapi ucapan Yoongi. Apa benar benar marah, pikir Yoongi.
Hingga akhirnya, ketika mobil terhenti di lampu merah Yoongi melirik kearah Jimin. Yang ternyata sudah menyumpal kedua telinganya dengan earphone.
Sialan, Yoongi ternyata tak di dengar kan dari tadi.
Nasib nasib.
LITTLE
Suasana pesta hampir sama dengan pesta pernikahan Jimin dan Yoongi waktu itu. Tak banyak yang datang, hanya segelintir orang yang dekat dengan Seokjin dan Jaehwan saja sepertinya.
Dekorasi hall di buat sepink mungkin, dengan di padukan warna putih ruangan terasa sangat nyaman.
Di atas pelaminan Seokjin berdiri di sebelah Jaehwan yang tampak gagah dengan stelan jas warna putihnya. Begitu juga Seokjin sendiri yang terlihat manis mengenakan jas pink pastel.
Tapi percayalah, semempesona apapun pengantin yang tengah berbahagia itu. Pandangan Jimin hanya tertuju pada tumpukan makaron di atas meja makanan. Ingin rasanya langsung menyerbu kue kue itu, tapi mau bagaimana lagi. Tangan Yoongi senantiasa menggenggam tangan Jimin, membuat Jimin tak bisa leluasa.
Belum lagi dasinya yang ugh serasa mengikat kuat kuat lehernya. Jimin kesulitan bernafas.
Dan sekarang adalah giliran mereka untuk memberi selamat pada kedua mempelai.
Seokjin menyambut mereka denngan heboh, tapi Yoongi malah memandang sahabatnya itu dengan tatapan sinis yang bodo amat.
"Aah Yoongi, akhirnya aku bisa menyusulmu. Walau nyatanya kau tetap saja bermain curang."
Jaehwan hanya menatap geli pada istrinya tersebut. Ia awalnya sangat heran, bagaimana bisa Yoongi yang sudah seperti antartika bersahabat dengan Seokjin yang lebih mirip musim semi. Begitu berlainan.
Tapi ia juga kadang merasa iri pada persahabatan mereka yang kental. Yoongi selalu ada untuk Seokjin dan begitu pula sebaliknya
"Apanya yang curang, aku tidak memaksa siapapun untuk menikah denganku."
Jimin mendengus kesal, yakin sekali pria ini kalau ia tak memaksa.
"Yaa apapun itu tapi selamat lah. Kau jadi tak kehilangan warisanmu."
Deg
Yoongi melotot kearah Seokjin. Melihatnya Seokjin sadar sesuatu dan refleks memukul bibirnya.
Jimin belum tau prihal masalah itu. Bodoh.
Namuan merasa tak ada reaksi lebih dari istri kecilnya itu, Yoongi segera menoleh dan mendapati si mungil yang tengah memperhatikan deretan kue manis di bawah sana.
Oh Yoongi selamat.
Dia rasa
LITTLE
Seberapa inginnya Jimin mamakan kudapan yang banyaknya minta ampun Itu, ia tetap saja tak bisa memakannya.
Lagi lagi itu Karena dasi kupu kupunya.
Jimin sebal bukan main. Ia sama sekali tak membiarkan mulutnya menanggapi semua ocehan Yoongi. Bahkan hingga mereka keluar dari hall.
Buru buru, memang benar. Selain karena Yoongi malas berlama lama di tengah sekumpulan orang orang itu, Jimin juga takut kalau kalau Taehyung akan melihatnya.
Ingat, ia tak mungkin membari tau Taehyung soal pernikahannya dengan Yoongi. Walau sebenarnya ia juga bisa berkata jujur berhubung status Taehyung sebagai sahabatnya. Tapi sepertinya bukan ini saatnya.
Jimin tak mau ambil resiko kalau Taehyung akan mati karena serangan jantung.
Jadi pergi dari tempat itu secepatnya memang lebih baik dari pada berlama lama. Walau Jimin harus rela melapas soulmate sejatinya. Apa lagi kalau bukan tumpuka kue kue itu.
Namun bukan berarti juga Jimin rela. Ia masih ngambek pada Yoongi, tak mau bicara juga terus membuang muka.
Yoongi jadi gemas sendiri melihat kelakuan istrinya tersebut.
Hingga ia menghentikan laju mobilnya di sebuah taman dekat perumahan mereka.
Ia manatap Jimin yang seolah tak peduli jika Yoongi ingin melajukan mobilnya di perosotan sekali pun.
Pokoknya ia ngambek.
"Kau ini Kenapa sih Chim?"
Jimin tak menjawab, hanya bibirnya saja yang tambah maju.
"Kau kesal karena dasi itu?"
Tak ada jawaban.
"Atau karena kue kue di pernikahan Seokjin."
Dua kali benar, tapi Jimin masih enggan buka suara.
Yoongi jadi kesal. Di raihnya leher Jimin supaya mendekat kearahnya.
Jimin gelagapan. Apa yang akan di lakukan si mesum ini, pikirnya.
Tak banyak cakap, Yoongi mengalungkan tangan nya keleher Jimin. Membuat si mpunya makin bingung.
Yoongi mau jadi bottomnya? Yang benar saja.
Clik
Yoongi melepaskan kaitan tali pada dasi kupu kupuknya. Memyebabkan benda berwarna hitam itu jatuh ke pangkuan Jimin.
"Tunggu disini." ujar Yoongi setelahnya.
Ia meninggalkan Jimin begitu saja tanpa memberi tau ingin pergi kemana.
Jimin menunggu dengan sabar, setidaknya leher Jimin sudah tak sesakit tadi.
Ia sedang memainkan dasi kupu kupunya saat Yoongi datang dengan sebuah plastik berisi sebuah kotak dengan merk toko kue langganan Jimin dan Min Eomma.
"Kue mu. Makan, habiskan. Aku tak mau memakan sisa kue itu nanti."
Mata Jimin berbinar, isinya kotaknya adalah berbagai makaron dengan warna warna yang membuat Jimin tak sabar menyantapnya.
Sedangkan Yoongi hanya bisa menyembunyikan kebahagiaannya melihat Jimin yang makan dengan lahap lewat senyum tipis.
Talkless do more, Min Yoongi.
LITTLE
Hari hari berputar bagai roda sepeda Taehyung yang sering kempes.
Senang sering kali berganti dengan sedih. Tawa juga harus bergiliran dengan tangis.
Begitupun kebahagiaan Jimin dan Yoongi.
Oh ayolah, kehidupan rumah tangga tak akan selamanya mulus seperti pahanya Jungkook.
Ada kalanya Jimin harus mengalah pada Yoongi, tapi tak jarang juga Yoongi harus bersujud di bawah kekuasaan Jimin.
Yang terakhir lebih sering karena Yoongi yang terlalu memanjakan Jimin.
Tapi Jimin tak menyangka jika masalahnya kali ini sangat amat terasa berat.
Sore itu seperti biasanya, ada tugas dari guru Jimin. Membuat si manis harus rela mendekam di perpustakaan setelah bel pulang berbunyi.
Tak ada yang menemaninya. Taehyung sedang pergi berkencan dengan Hoseok dan Jungkook yang akhir akhir ini menempel padanya sedang ada tugas piket.
Alhasil Jimin sendirian di sudut perpustakaan dengan setumpuk buku referensi yang membuat matanya kelelahan.
Tapi tak lama.
Karena entah datang dari mana, seorang pemuda kini duduk di depan Jimin.
Jimin tak terlalu peduli karena ia masih harus mengejar waktu sebelum Yoongi menjemputnya beberapa menit lagi.
Tapi sebuah ketukan membuat atensi Jimin pada buku buku itu teralihkan.
"Terlihat sibuk sekali."
Ah ternyata itu Daehyun.
"Aah Daehyun Hyung, ia aku sedang ingin cepat cepat menyelesaikan tugasku."
Seketika hening, baik Jimin dan Daehyun tak ada yang buka suara mengenai pemikiran masing masing.
Jimin yang sedang bertempur dengan otak tumpulnya dan Daehyun yang tengah bergelung dengan pemikiran abstraknya.
Ini menyangkut Jimin dan pernikahannya.
"Kau di jemput?" tanya Daehyun pada akhirnya. Ia benar benar tak bisa diam saja di hadapan Jimin.
"Ya, aku di jemput makanya aku harus segera menyelesaikan ini."
"Apa kau di jemput oleh orang itu lagi?"
Jimin tersentak, dan kontan mengalihkan pandangannya pada Daehyun.
"Ya, yah oleh dia." dan dengan canggung Jimin menjawab pertanyaan Daehyun.
"Suamimu?"
Mata Jimin melotot mendengarnya.
Tak bisa di percaya, Daehyun telah mengetahuinya. Tapi dari siapa?
Dari kakak mu yang baik hati dan tidak sombong. Rajin menabung wakaubkadang sering berbohong.
"Aah, benar yaa."
Daehyun mengangguk menyadari perubahan wajah Jimin yang kontras.
Dari sana pun ia sudah tau kalau ia terlambat dan kalah oleh orang itu. Parahnya, ia sendiri datang kepernikahan Jimin bahkan sempat mendoakan para mempelai.
Bodoh.
Wajah Jimin berubah sendu ketika mendapati air muja Daehyun yang makin keruh. Pemuda manis itu bahkan lebih memilih memperhatikan Daehyun ketimbang layar ponselnya yang berkerlap kerlip.
Panggilan suara dari Min Yoongi.
"Daehyun Hyung, aku..."
"Tak apa, aku tak akan memberi tau kan hal ini pada siapa pun."
Jimin menghela napas lega setelahnya. Ia benar benar takut kalau hal ini bocor sampai ketelinga sekolah.
"Tapi Jimin ada sesuatu yang membuat ku penasaran."
"Apa itu?" tanya Jimin.
"Apa kau terpaksa? Apa dia memaksa mu menikah dengannya?"
Jika Daehyun bertanya hal ini dua bulan yang lalu, mungkin Jimin akan bilang iya dengan semangat.
Tapi kali ini ia tak kuasa mengatakan hal tersebut
Ia senang berada di sisi Yoongi. Yoongi selalu tau apa yang ia inginkan. Selalu paham dengan apa yang Jimin perlukan. Jadi, masih adakah alasan untuk Jimin merasa di paksa?
"Tidak, aku bahagia bersama Yoongi hyung."
Daehyun melihat kesungguhan itu terpancar kuat dalam manik mata Jimin.
Tapi itu tak cukup.
"Jadi kau mencintainya?"
Jimin mengangguk.
"Tapi aku mencintaimu."
Runtuh, runtuh sudah tembok yang Jimin buat untuk membentengi hatinya dari Daehyun.
Pernyataan cinta yang Jimin tunggu selama ini terucap jelas dari bibir kakak kelasnya itu.
Tapi kenapa harus sekarang. Kenapa tidak sejak dulu. Sebelun Jimin mengaku kalah pada Yoongi, sebelum Jimin jatuh pada Hyung kesayangannya itu.
"Maaf." Jimin menunduk dalam.
"Aku tidak butuh maafmu. Aku tau kau terpaksa, melihat bagaimana kau menyembunyikan semuanya. Bahkan pada Taehyung, sahabatmu sendir."
Tidak. Bukan karena itu.
"Aku tidak terpaksa Hyung. Aku mencintai Yoongi Hyung."
"Dan kau tidak mencintai ku?"
Jimin terdiam. Untuk saat ini ia masih bingung dan meraba raba hatinya.
Ia masih berusaha melupakan segala kekagumannya pada Daehyun. Tapi jika Daehyun datang padanya dengan segala perasaan yang membuat Jimin terbuai, ia bisa apa.
Ia terlalu lemah. Pondasi bentengnya masih terlalu rapuh.
"Aku.. Aku minta maaf Hyung."
"Aku tidak butuh maafmu. Aku butuh pembuktian."
"Bukti?"
"Yah, buktikan padaku kalau kau sama sekali tak punya perasaan apapun padaku."
Jimin bingung. Apa maksud Daehyun?
"Hari minggu nanti, kita kencan. Dan buktikan padaku jika kau tak memiliki perasaan apapun untukku."
Jimin berjalan lembat di koridor, ia masih belum bisa memutuskan tentang permintaan Daehyun di perpustakaan.
Otaknya terlalu lelah untuk sekedar berpikir.
Ia butuh berandam di air hangat atau menanggelamkan diri di pelukan Yoongi.
Apa pun itu yang membuat perasaan Jimin tenang.
Tapi tidak begitu saja berakhir
Perasaan Jimin malah semakin campur aduk ketika kakinya membawa ia ke depan gerbang.
Mata kepalanya sendiri yang melihat Yoongi tengah berbincang dengan seseorang sambil sesekali tersenyum lebar.
Dan parahnya.
Itu Jungkook.
Tbc
