"ITACHI!"
"SASUKE!"
Kantuk menguap seketika dari benakku. Rumah ini terlalu besar, terlalu sepi. Terlalu banyak ruang, terlalu sedikit ditinggali orang.
Sudah bertahun-tahun aku tidak mendengar suara dinaikkan di rumah yang penuh kenangan pahit ini.
Jantungku berdebar.
Hanya perasaanku saja.
Ya, kan?
Sebelum menyadarinya, kakiku sudah membawaku ke koridor utama lantai satu.
Ruang kerja Fugaku.
Biasanya aku akan menghindari tempat ini.
"BANGUN, SASUKE!"
Jantungku melompat.
"TARIK KATA-KATAMU, ITACHI!"
Energi di kakiku bagaikan menguap. Andaikan saja aku lebih feminin seperti anak gadis di film-film, pasti sekarang aku sudah terduduk di lantai, terisak dan memikirkan seribu kemungkinan skenario buruk yang sedang bermain di balik daun pintu ukir mewah Fugaku.
Tapi sayangnya bagiku yang punya reflek tubuh yang baik, energi negatif bekerja sama seperti injeksi adrenalin.
BRAK!
Masih bisa kuingat baik sensasi menyesakkan dada saat pintu ruang kerja Fugaku terbuka lebar.
Aku tidak pernah menjerit sekeras itu dalam hidupku.
"SASUKE-NII-CHAN!"
Darah.
Aku mencium darah.
Tatapan dingin Itachi terasa menusuk. Ia belum pernah memperlihatkan ekspresi sekejam itu; atau itu hanya karena tangannya mencengkeram rambut Sasuke hingga wajahnya yang babak belur terangkat dari posisi telungkupnya di lantai?
"ITACHI-NII! HENTIKAN!"
"Jangan berteriak."
Nafasku tercekat di tenggorokan. Suara Itachi setajam pisau.
"Jangan berteriak pada kakakmu, Tenten."
Itu terdengar seperti...ancaman.
Sasuke mendesis. Kalau dia tidak mengeluarkan suara sedikit lebih cepat, aku pasti akan mengira dia tidak sadarkan diri.
"Beraninya kau...bicara seperti itu pada Tenten...!"
"Sasuke-nii..." aku terisak. Suaranya terdengar serak dan kesakitan.
Apa-apaan ini?
Dengan kasar kepala Sasuke dilepaskan ke lantai. Hal berikutnya yang kutahu, kakiku membawaku berlari ke arah Sasuke.
"Cukup sampai di situ." geram Itachi dengan suara beratnya. Lenganku ia genggam dengan kuat, energiku terkuras hanya dari mencoba melepaskannya.
"Ten...ten..."
Pandanganku menjadi kabur. Suara batuk Sasuke menyuntikkan rasa takut dan khawatir yang teramat sangatーdarah yang mengalir di ujung bibirnya hampir menyamai deras air mataku.
"Anak ini...dia langsung membalas memukul saat kutanya bagaimana rasanya saat dia menyentuhmu."
"?!"
'Sehebat apa sensasi yang kau dapatkan sampai kau berhasil ikut membuatnya terlena, Sasuke?'
"Itachi-nii...kenapa-"
'Apa yang menghentikanmu dari mengambil kesuciannya? Rasa takutmu?'
"Jangan berani bangkit dari sana, Sasuke." Itachi mulai menyeretku keluar ruangan. "Kalau kau lakukan itu, akan kupatahkan tanganmu."
"!"
'Nafsumu lebih rendah dari binatang.'
"Kembali ke kamarmu, Tenten."
"Tidak mau!"
Tanpa peringatan, Itachi mencengkeram rahangku. Dahinya sangat dekat dengan dahiku aku bisa merasakan lebam yang meradang di sana. Meski tidak separah Sasuke, Itachi juga menanggung luka.
"Bagaimana dia menyentuhmu?"
Dengan rahang terkunci rapat, aku tidak dapat menjawab pertanyaan Itachi. Tapi aku sadar; ia sengaja melakukannya.
"Kh...k!"
"Dia menciummu di bibir? Bagaimana dengan lehermu?"
Sasuke melakukannya karena dia sayang padaku...!
Tidak ada suara keluar, tapi Itachi paham betul apa yang kucoba untuk katakan.
Di luar dugaan. Itachi menepuk pipiku pelan, kunci matinya ia lepas.
"Hei, Tenten-chan."
"...?"
"Grow. Up."
Jantungku melompat. Ketegangan di ruang kerja kembali memuncak.
"Ini bukan kisah romansa picisan, saudara kandung tidak boleh saling mencintai."
Enam laki-laki berpakaian jas warna hitam memasuki ruangan tanpa diundang. Dua dari mereka mengangkat Sasuke yang sudah tak berbentuk dari lantai, dua menahanku kabur, dua lagi berdiri di belakang Itachi.
"Sasuke!" seruku tanpa hasil. Kedua kelopak mata Sasuke terpejam sejak lama, dia pasti tidak bisa mendengarku sekarang.
"Ingat baik-baik saat kita bersenang-senang di taman bermain, Tenten." perintah Itachi dengan nada dinginnya.
"Karena itu akan jadi kali yang terakhir."
"...?! Ke mana kau akan bawa Sasuke?!"
Itachi mengusap darah di mulutnya menggunakan sapu tangan yang ditawarkan anak buahnya.
Bulu romaku meremang.
Aku melihat Fugaku.
"Ke manapun, di mana dia tidak akan melihatmu lagi."
"Jangan tinggalkan aku sendiri!" jeritku putus asa. Ini tidak boleh terjadiーaku tidak mau tinggal sendirian di rumah ini!
"Juugo."
Sesosok pria berambut oranye kecoklatan berdiri di sisi Itachi, mengangguk.
"Dia akan mengurusmu mulai dari sekarang. Juugo adalah pelayan, penjaga, dan penasihatmu."
"Kenapa kau melakukan ini?!"
Jemari Itachi menyisir surai hitamnya tidak sabaran. Belum sampai ke bagian belakang telinganya, karet pengikat rambutnya putus. Rambut Itachi terurai bebas.
"Demi keberlangsungan Uchiha, apalagi?"
Retinaku melebar.
"Danzo bilang padaku, Sasuke sangat berpotensi sebagai penerus. Aku bilang padanya Sasuke tidak harus menjabat di korporasi, karena ia kutugaskan untuk menemanimu."
"Lalu kenapa kau malah akan membawanya pergi?!"
"Aku tidak akan membiarkannya."
Itachi terdengar serius.
"Aku tidak akan membiarkan Ibu di surga menangis melihat dua anaknya berbuat dosa. Aku harus memisahkan kalian. Meski itu harus membuatmu kesepian."
"Tapi aku menyayangi SasukeーIbu pasti akan mengeーumbh!"
Lagi-lagi tangan Itachi menyelimuti mulutku.
Aku tidak pernah melihat Itachi semarah itu.
Tidak pernah.
"Jangan lanjutkan. Kau akan membuatku muntah."
Deg.
"Itachi-donno, jet pribadi anda di hangar sudah siap lepas landas."
Para pria berjas hitam mulai menyeret Sasuke yang tak sadarkan diri ke luar ruangan. Deru mesin mobil di luar rumah membuat pertanyaan akan tujuan mereka tidak diperlukan.
Itachi melempar satu tatapan terakhir padaku.
"Aku serahkan semuanya padamu, Juugo."
Ini bukan mimpi.
Bukan.
Duniaku sedang runtuh di hadapanku dan aku hanya bisa menonton.
"SASUKE!"
Apa tidak ada yang bisa kulakukan?
"SASUKE! BANGUN!"
Untuk memperbaiki semua ini?
"JANGANーJANGAN BIARKAN MEREKA MEMISAHKAN KITA!"
Transaksi dengan iblis pun aku rela.
"Nona, ini jam tiga dini hari. Sebaiknya anda kembali tidur."
"SASUKE!"
"Nona..."
Meski aku tahu rasa di antara kami berdua patut dipertanyakan, aku hanya ingin membalas rasa sayang Sasuke sebesar rasanya padaku.
Apa aku salah?
"SASUKEEEEEE!"
