"Akankah Berhasil? – Unknown"
.
.
Sebelumnya:
'Dia tidak berniat keluar dari sekolah, kan?'
.
"Apa yang akan kalian lakukan pada mereka bertiga?"
.
'Bagaimana bisa ada kamera di halaman belakang?'
.
"Tenang saja, Ami. Selama anak-anak belum menunjukkan tanda-tanda mereka telah melihat videonya di sosial media, kita aman."
.
.
.
.
Ohayou, Taiga-chan~
© riryzha
Kuroko no Basuke
© Fujimaki Tadatoshi
Chapter 10
Warning: OOC, typo, dan segala ke-absurd-annya
.
.
.
Video tentang pembullyan yang dialami Kagami menyebar luas dalam waktu semalam. Sebelumnya, video yang hanya berdurasi 30 detik tentang pot yang jatuh hampir menimpa Kagami sempat hilang di y*utube. Namun dua hari kemudian video berdurasi hampir sejam di mana isinya menceritakan tentang tiga orang perempuan yang kerap kali melakukan sesuatu dengan barang teman satu angkatannya dan diakhiri dengan ketiganya menjatuhkan pot dari atas dan hampir mengenai anak tunggal dari Kagami Reo dan Kagami Saika menjadi trending topic hingga ke sosial media lainnya.
"Mereka dari kalangan berada tapi melakukan sesuatu yang tidak bermartabat? Memalukan." kicau seorang pengguna twitt*r sambil membagikan video dari y*utube ke akun twit*rnya.
"Kupikir ia baik seperti saat ia menyapa kami. Tapi ternyata ia memiliki wajah busuk di balik topengnya." kicau salah satu kakak kelas dari Teiko Academy.
"Memangnya anak baru itu salah apa sampai diperlakukan seperti itu?"
"Aku tidak menyangka di sekolah elit pun ada pembullyan seperti ini."
"Mungkin karena kalah cantik akhirnya mereka bertiga melakukan hal keji seperti itu?"
"Orang tuanya memang selain mengajarkan bisnis, juga mengajarkan cara bermain kotor kah?"
Dan masih banyak lagi komentar dari netizen yang membanjiri kolom komentar di y*utube serta sosial media lainnya.
Izumi, Ina dan Ami tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan mendekam dalam kamar mereka masing-masing setelah membaca beberapa komentar pedas masyarakat umum dan teman sekolah mereka.
~Ohayou, Taiga-chan~
Taiga hanya bisa terpaku begitu Sora menyodorkan tab padanya.
"I-ini ap-apa, Sora-nee?" tanya Taiga gugup.
"Lihat saja sendiri." setelahnya Sora hanya duduk diam. Membiarkan Taiga tenggelam dalam isi konten yang ada di layar tab.
Dari detik menjadi menit hingga tepat satu jam Taiga habiskan dengan tangis dan sesekali napasnya tercekat. Ia tidak menyangka orang yang ia pikir tidak sengaja menyenggolnya di hari pertama ia masuk akan menjadi pelaku dari pembullyan yang ia alami.
"T-tapi kenapa bisa?" tanyanya.
"Aku bahkan tidak mengganggunya. Tapi kenapa malah ia membullyku?" Taiga mendengar Sora menghembuskan napas dengan kasar.
"Dengar, Taiga. Terkadang kau harus lebih peka dengan flawless yang kau miliki itu." kening Taiga berkerut.
Sora mendengus kemudian melanjutkan.
"Kesempurnaan seseorang kerap kali membuat yang lainnya menjadi iri dan kemudian gelap mata."
"Tapi kenapa mereka harus iri denganku?" Sora terkekeh pelan.
"Karena anak perempuan Ayah memiliki keindahan yang tidak mereka miliki." Kagami Reo tiba-tiba saja datang dan duduk di sebelah kanan Taiga.
"Daddy! Daddy baru pulang?" tanya Taiga sedikit kaget.
"Begitulah. Butuh waktu cukup lama untuk menyelesaikan semuanya sampai aku melewatkan makan malam bersama kalian." Reo mendesah lelah kemudian melonggarkan ikatan dasinya dan menyandarkan punggung pada sofa putih ruang keluarga.
"Mau kuambilkan air minum?" tanya Taiga.
"Tidak usah. Biar pelayan yang mengambilkan." tolak Reo.
"Jadi, sudah sampai mana percakapan kalian?" tanya Reo sembari menatap Sora dan Taiga bergantian.
"Taiga tidak paham sama sekali atas dasar apa orang-orang kurang pendidikan itu membullynya." Sora mendengus.
"Hahaha! Memang tidak diragukan lagi betapa polosnya anak Ayah ini!" Reo tertawa kencang. Sangat kencang hingga membuat Saika turun dari lantai dua dengan tergesa-gesa.
"Ada apa, Anata?!"
"Tidak apa-apa, Sayang. Hanya anak kita ini begitu menggemaskan hingga aku ingin memberinya seorang adik." Saika merona.
"Jangan bercanda, Reo! Umur kita sudah tidak lagi muda!" Saika memukul pelan lengan suaminya.
"Serius aku akan mendapatkan seorang adik?!" mata Taiga berbinar. Membuat Reo tidak tega mengatakan kalau ia hanya bercanda.
"Taiga, kau ingin mempunyai adik?" Taiga mengangguk.
"Aku mau! Aku ingin bermain dengannya dan mengajarkannya bermain basket!"
Saika mendelik menatap suaminya sementara yang ditatap hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maafkan, Ayah. Ayah tadi hanya bercanda."
Taiga muram.
"Kupikir kalian akan memberiku adik…."
"Hm, itu-" belum sempat Reo menjelaskan, Taiga memotong ucapannya.
"Hah, aku mau tidur dulu. Selamat malam, Tou-san, Kaa-san, Sora-nee." dengan wajah sedih Taiga meninggalkan ruang keluarga.
"Lihat apa yang kau lakukan!" ujar Saika dengan tatapan marah.
"Yah…" Reo menggaruk kepala.
"Pfft-HAHAHAHAHA!" tawa Sora pecah karena tidak sanggup menahannya lagi.
"Reo-jiji, kau harus meminta maaf pada Taiga."
"Aku tahu…"
"Atau kalau tidak ia akan mendiamkanmu hingga kalian benar-benar memberikannya seorang adik." Sora mengedipkan mata lalu berlalu meninggalkan ruangan.
Sementara di dalam kamar, Taiga tertawa puas berhasil mengerjai ayah dan ibunya.
~Ohayou, Taiga-chan~
Ketiganya tidak masuk sekolah. Berkebalikan dengan Kagami Taiga yang akhirnya kembali menampakkan diri di Teiko Academy. Baru saja mobil ayahnya memasuki area sekolah, keributan tercipta dan banyak anak murid dari kelas 10 hingga kelas 12 berkerumun di depan lobby. Menunggu sang Kagami muda turun dari mobilnya.
"Kagami-san, kau baik-baik saja?!"
"Kau pasti takut. Aku akan melindungimu!"
"Mau aku bantu bawa tasmu?"
Dan masih banyak lagi suara dari murid-murid Teiko memenuhi pendengaran Kagami yang bahkan tidak ia kenal.
"A-ano…" Kagami bingung harus bagaimana. Ia merasa tidak enak untuk menyela.
"Maaf semuanya. Sebentar lagi bel masuk akan segera berbunyi. Sebaiknya kalian segera menuju kelas masing-masing. Terima kasih." Akashi Shiori, sang ketua yayasan Teiko mendatangi kerumunan itu. Anak-anak segera membungkukkan badan kemudian menuruti ucapannya. Menyisakan ia dan Kagami Taiga saja di sana.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Taiga-chan. Mari ke ruanganku."
Kagami hanya bisa mengangguk dan mengikuti Shiori ke ruangannya yang berada di lantai dua. Sesampainya di ruangan, Kagami dipersilakan duduk sementara Shiori dengan tenang menuangkan teh ke dalam cangkir.
"Minumlah."
Kagami lagi-lagi hanya bisa mengangguk dan menenggak sedikit cairan berwarna cokelat terang itu.
"Itu teh melati. Aku mendapatkan dari temanku yang seminggu lalu baru saja pulang dari Indonesia."
"Um… pantas saja aku mencium aroma harum melati." terang Kagami takut-takut.
"Tidak perlu takut, Taiga-chan. Aku tidak mengigit kok." Shiori tersenyum simpul.
"A-ano… apa yang ingin anda bicarakan, Akashi-san?"
"Aku sebagai ketua yayasan secara pribadi ingin meminta maaf atas ketidak nyamananmu yang bahkan belum lama menjadi murid Teiko Academy." Shiori berdehem sejenak sebelum melanjutkan.
"Seharusnya aku bertindak lebih cepat dan tidak mendiamkan begitu saja sesuatu yang bahkan aku sudah pantau sejak awal."
"Tidak apa, Shiori-san. Saya mengerti sebagai ketua yayasan dan pebisnis yang memiliki banyak relasi, Anda harus memikirkan matang-matang tindakan apa yang harus Anda lakukan. Mengingat hampir semua yang bersekolah di sini berasal dari kalangan berada." Kagami menggelengkan kepala.
"Kau tahu, kau selalu memandang segala sesuatu secara positif. Dan itu yang selalu membuatku semakin suka denganmu." hampir saja Shiori berfangirling ria dan mencubit kedua pipi chubby Kagami.
"Erm, terima kasih atas pujiannya, Shiori-san. Tapi tidak sepenuhnya yang Anda katakan tentang saja benar. Saya kerap kali merasa rendah-Ah! Maaf saya jadi melantur." Kagami membuang mukanya yang memerah.
"Tidak usah sungkan untuk bercerita padaku, Taiga-chan. Kau sudah kuanggap menantuku sendiri." Shiori tersenyum lebar.
"EH?! Anda pasti bercanda." Kagami terkekeh pelan sambil menggaruk tengkuk.
"Oh iya Shiori-san, sepertinya saya tidak bisa berlama-lama di sini. Jam masuk kelas sudah lewat dari sepuluh menit dan saya sudah tertinggal materi pelajaran seminggu yang lalu. Em, saya tidak mungkin melewatkannya lagi, bukan?"
"Ah, iya. Kalau begitu akan aku antar kau ke kelas sekaligus menjelaskan kepada guru pengajarmu pagi ini bahwa aku memanggilmu sehingga kau terlambat masuk kelas."
"Terima kasih, Shiori-san. Maaf aku merepotkanmu." Kagami membungkukkan badan.
"Tidak usah sungkan. Ayo." Keduanya keluar dari ruangan yayasan dan menuju kelas Kagami yang berada di lantai 1.
"Taiga-chan… ah tidak apa." Kagami menaikkan alisnya namun tidak berkomentar apapun begitu mendengar Shiori tidak jadi mengatakan sesuatu padanya.
"Kalau begitu saya masuk ke kelas dulu ya, Shiori-san." Kagami kembali membungkukkan badan sebelum masuk ke kelasnya.
"Belajar yang rajin, Nak. Jangan sampai segala sesuatu menurunkan semangatmu." bisiknya lirih sebelum kembali ke ruangannya.
.
.
.
TBC
Phew! Akhirnya sampai juga kita di sini, reader-tachi!
Bagaimana? Apakah kurang puas? Apa kalian masih ingin melihat trio kwek kwek itu tersiksa?
Aku juga ingin menyiksa mereka! MUAHAHAHAHA~
Tbh, sebenarnya saya harusnya tengah mengerjakan cerita saya yang sudah terlalu lama terbengkalai. (HARUSNYA!)
Tapi… (ALASAN KLISE NIH PASTI!)
Saya sendiri juga penasaran dengan akhir untuk cerita yang mengangkat tema pembully-an di sekolah ini. Terutama dengan masih maraknya kejadian tersebut terjadi di masyarakat. Apakah di antara reader-tachi ada yang mengalaminya? Atau mungkin ada teman kalian yang mendapat perlakuan demikian? Semoga saja tidak ya. Kalaupun kalian mendapati hal itu terjadi di depan mata kalian, jangan sampai kalian ikut-ikutan. Tetapi kalian harus memberi dukungan moril kepada yang terkena bully agar mereka merasa tidak sendiri.
Ah, saya jadi banyak bicara dan sok menggurui deh.. (tehee~)
Btw ada yang tahu apa yang sebenarnya ingin Shiori sampaikan kepada Kagami?
Hemmm, coba tebak.. XD
Itu akan jadi clue untuk chapter selanjutnya loh~~ ;;))
Dan maaf loh ya. Untuk merayakan hari ulang tahun Babang Sei saya tidak bisa menyajikan apapun. Cuma yah… uhuk! Cuma bisa memperlihatkan bahwa Kagami sudah mendapat restu dari salah satu calon mamah mertuanya. (Cieee~)
Sudah ah saya kebanyakan cakap tidak jelas hehehe
Kalau begitu saya pamit undur diri.
Sampai bertemu di episode selanjutnya~
Ciaossu~
