Suara api yang membakar bongkahan kayu terdengar keras sekali di ruang komite Konoha Musical Academy yang sunyi dini hari ini. Tiga orang sedang duduk memutari meja kecil sambil mengatur napasnya sebaik mungkin guna menyegarkan pikiran dan menyerap energi. Seorang diantaranya sudah muak dengan kesunyian ini dan berdiri angkat bicara, "kenapa kau berlaku tidak adil, Tsunade?"
"Tidak adil bagaimana?" yang ditanya semakin menenggelamkan punggungnya pada sofa beludru, ia duduk tidak seperti biasanya kini, pantatnya tidak lagi menyentuh pangkal kursi dan punggungnya tak lagi tegak sempurna. Ia lelah.
"Bagaimana mungkin kau membuat aturan sesuka hatimu tanpa berdiskusi dengan kita dan memberitahu mereka?"
"Kita sudah sepakat akulah ketua juri pada audisi kali ini dan aku memiliki hak veto—jika kau lupa, jadi jangan mempermasalahkan tangisan dan cemohan mereka tadi."
"Kau tidak adil!" Orochimaru kembali duduk dan menyesap tehnya perlahan, ia tak mau berdebat lagi dengan Tsunade, percuma, wanita tua yang masih gadis itu akan tetap memertahankan argumennya apapun yang terjadi.
"Memang, tapi suatu hari nanti mereka akan berterima kasih atas apa yang kulakukan saat ini—"
"Tsunade—"
"Mereka harus tahu jika dunia ini tidak adil dan siapa yang egois ia yang akan berkuasa."
"Kau gila!"
"Bukan aku tapi Dan. Dia yang membuatku percaya teori bodohnya."
"Dan tak pernah mengatakan itu."
"Yeah tapi dia melakukannya—" Orochimaru membuat gerakan bibir seolah akan berucap lagi tetapi Tsunade buru-buru mengakhiri perdebatannya. "Case closed! Audisi tahap kedua berakhir! Aku pergi," Tsunade berdiri dan menerjang pintu secepat mungkin tetapi kata-kata Orochimaru mendahului langkahnya.
"Kau tak bisa mencampuradukkan masalahmu dan Dan dengan hidup orang lain. Asal kau tahu Dan tak pernah seburuk apa yang kau pikirkan."
Tsunade menghentikan langkahnya, rahangnya mengeras, ia cengkram kuat-kuat kesepuluh jarinya. Kenapa hal yang berusaha ia lupakan diungkit kembali? "Tidak, dia egois dan licik. Dia mampu menghancurkan hidupku, masa depanku, karierku, dan hatiku, dia pergi tanpaku…"
"Dia pergi karena ia harus pergi! Sadarlah Dan sudah—"
"Lalu bagaimana denganku yang tetap tinggal dan hampir gila karenanya? Aku hampir mati berkali-kali karena xanax(1)," mata Tsunade mulai berkaca-kaca.
Orochimaru terdiam, ia menatap sendu Tsunade, dia benar-benar masih gadis, labil dan keras kepala. Orochimaru kembali duduk di kursinya yang membelakangi pintu. Ketukan hak tinggi terdengar keras mengalahkan suara perapian namun hanya beberapa saat. Suara kayu yang terbakar api kembali mendominasi ruangan itu.
.
.
.
Tenten berlari kencang menerabas tirai merah, matanya memerah dan berkaca-kaca, seruan Sakura padanya sama sekali tak diindahkannya. Hatinya serasa ditusuk ribuan jarum setelah Orochimaru menyatakan dia gagal melanjutkan perjuangannya dalam audisi SMF, sebenarnya bukan karena kegagalannya sih, toh Tenten sudah berkali-kali gagal menjadi pemeran utama dalam drama musikal yang diadakan tiap tahun di KMA, ini lebih kepenghianatan Sasame padanya. Bagaimana bisa seseorang yang dipercayai Tenten hampir selama ia duduk di bangku sekolah, mengatakan hal-hal yang buruk tentangnya, oh bahkan ia memfitnah Tenten!
Tenten terus berlari sesekali menyeka air matanya, hanya genangan bening yang mampu di tangkap korneanya, satu yang ada di pikirannya; lari, lari, dan lari sejauh mungkin—hingga ia sama sekali tak sadar sudah jatuh terduduk.
"Kalau jalan pakai mata dong!" cela seseorang yang ditabrak Ten-ten. Gadis bercepol itu mendongak dan cepat-cepat berdiri seraya minta maaf berkali-kali.
"Matamu dimana sih? Lihat bajuku kotor semua!" Ten-ten memerhatikan pemuda di depannya sedang mengibas-ngibaskan kemeja putihnya yang kini menghijau. "Dasar bodoh!"
Tenten merasakan darahnya menguap, ditutupnya kedua matanya rapat-rapat hingga buliran air mata membanjiri pipi berisinya, ia mencoba menulikan pendengarannya dan kembali berpikir jernih—bersikap sportif seperti biasanya jika dia kalah, namun olokan dan umpatan pemuda yang ditabraknya tadi—dan masih berdiri di tempatnya sambil Tetap mencemoohnya, membuat ia membuang napasnya panjang sekali lewat mulutnya.
"Bisakah kau diam?" Tenten memotong sumpah yang tak tuntas diucapkan pemuda berambut gondrong di depannya.
"Mana mungkin aku bisa diam jika kau merusak kemeja mahalku!"
"Aku sudah bilang minta maaf."
"Permintaan maafmu tidak bisa mengembalikan apapun."
"Tapi setidaknya aku merasa bersalah dan mau mengakuinya, bukan?"
"Tch, makanya kalau berlari jangan sambil menangis. Gunakan matamu untuk berjalan!"
Tenten semakin gondok, diayunkannya tangan terkepalnya pada kepala pemuda itu, dilemparkannya juga gelang plastik tepat di hidung pemuda di depannya. "Kenapa sih kau selalu merasa paling benar, kau membuat segalanya seperti keinginanmu dan akhirnya berantakan, lalu aku memperbaikinya dan kau masih merasa kurang—"
Pemuda tampan di depan Tenten mengerjap-ngerjapkan matanya heran. Mana mungkin gadis yang tadi baru saja menangis beberapa detik yang lalu, kemudian tenang sepersekian sekon, kini merancau dan marah-marah sendiri? Cepat sekali hatinya berubah.
"Bisa-bisanya kau melempar semua kesalahan padaku, kau tahu—aku hampir mengutarakan seluruh hidupku padamu. Kau tahu apa artinya itu? Aku memercayaimu dan sekarang—"
"Hei, hei," Tenten terus merancau tak jelas bahkan kini ia memukul-mukul keras bahu pemuda di depannya.
"Dasar penghianat! Cepat mati sana!" Pukulan keras mendarat di pipi pemuda tak berdosa di depan Tenten, tak mau memperpanjang masalah, Tenten mengambil langkah seribu meninggalkan pemuda sial itu diam sendiri menikmati kesakitan dan… kebahagiaannya?
.
.
.
Sakura menggelengkan kepalanya seraya mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali ketika membaca tiga baris paling menarik hatinya di papan pengumuman di salah satu koridor KMA pagi ini. Sudah hampir lima menit ia berdiri dan membaca berulang-ulang tiga baris itu, ia merasa yakin dengan penafsiran otaknya mengenai pengumuman itu, tapi rasanya ada sesuatu yang tak bisa dipercaya dengan itu semua.
"Mana mungkin… harusnya salah satu dari kami, bukan?" bisiknya tak percaya.
"Ya salah satu dari kita yang akan mendapat peran utama. Jangan sombong, Haruno."
"Aikawa?" Sakura menoleh dan menatap tak suka pada Karin yang berdiri sambil meletakkan tangannya dibawah dagu seakan memamerkan tattoo sementaranya yang berbentuk burung phoenix di telapak depan tangannya.
"Itu hanya kebetulan saja. Jangan bermimpi untuk dapat peran utama."
'Jadi benar.' Batin Sakura membenarkan tafsiran otaknya tadi soal kelolosannya dirinya dan Karin dalam audisi SMF tahap kedua yang artinya Sakura dipastikan mendapat peran dalam drama musikal SMF tahun ini. Tapi mana mungkin? Bukankah hanya satu orang saja yang lolos dalam audisi itu seperti audisi Sasame dan Tenten. Sakura memang tak tahu betul apa yang selanjutnya terjadi setelah ia menangis dan berlari menuruni panggung. Ia hanya ingat pelukan Gaara saja saat ini (Sakura merona ketika memikirkan ini).
"Jangan menatapi Sakura seperti itu!" Sakura segera tersadar dari lamunan singkatnya ketika sebuah tangan besar penuh lemak menariknya mundur.
"Chouji?"
"Oh jadi ini nerd ke delapan?" Karin mengikik diikuti kawan-kawannya. Sakura mengumpati semua kawanan Karin—termasuk Karin, kecuali Ino yang terlihat sekali tak menikmati tawa mengejeknya.
"Dia bukan nerd!"
"Apa dong? Badan gentong? Keringat bau lemak? Atau—"
"Jangan memperolok orang seenakmu, Aikawa. Kau tak lebih baik dari Akimichi!"
"Ah namanya saja seperti nama kripik di jalanan," Karin memamerkan tattonya lagi tapi kini dengan gaya lain dan ini semakin membuat Sakura ingin menjambak rambut merahnya—dia menggigiti kuku merahnya dengan wajah diimut-imutkan, "apa sih yang lebih baik dari Aikawa Karin yang sexy dan si berisi ini?"
"Orang yang berisi lebih banyak dipilih dari pada orang kurus sepertimu—"
Karin menautkan alisnya bingung, wajahnya menantang mendengar argumen Sakura selanjutnya.
"Jika kau harus memilih kado yang besar atau yang kecil, maka mana yang kau pilih? Orang cerdas akan memilih yang besar," Sakura menarik lengan Chouji untuk menjauh, "dan lagi Chouji memiliki bokong besar yang menggoda daripada kau!" Sakura memberanikan diri menepuk pantat Karin dan cepat-cepat memasang ekspresi kecewa seolah tak ada apapun yang bisa disentuhnya tadi. "Dasar penderita anorexia nervosa(2).
"SIAL!" Sakura tertawa bingar mendengar umpatan Karin padanya, diremasnya tangan empuk Chouji penuh damba, ia tak mungkin lupa dengan pelajaran singkat yang diberikan Chouji sebelum audisi tahap dua kemarin.
"Terima kasih, kau berbuat banyak padaku hari ini," ujar Chouji sambil mencengkram kuat jari-jari kurus Sakura.
"Tak sebanyak yang kau perbuat kemarin," Sakura tersenyum dan melepas genggamannya ketika sudah merasa jauh dari Karin dan membaca plakat kayu bertulis 'toilet'. "Aku mencuci tangan dulu. Sampai jumpa!"
Chouji mengangguk dan berlalu pergi sambil mengunyah kripik kentangnya. Sakura cepat-cepat memasuki salah satu bilik toilet dan membuang segala racun dalam tubuhnya. Ia membasuh tangannya dengan air dan sabun sambil menoleh curiga pada salah bilik toilet yang masih saja tertutup sejak ia masuk toilet tadi. ia mendekati pintu bilik itu dan mendorongnya pelan, tak lama kemudian ia memundurkan tubuhnya beberapa centi, terkejut melihat seseorang dengan dandanan awut-awutan keluar dari sana.
"Tenten?"
"Hai!" Tenten menyisir rambutnya dengan jari dan membasuh wajahnya dengan air dingin, dibersihkannya jejak-jejak tidur di sekitar mata dan bibirnya.
"Sejak kapan kau disini?"
"Kemarin aku menangis di toilet hingga tertidur dan ketika bangun sudah gelap saja dan pintu utama toilet sudah terkunci."
"Dan kau tidur disini—" Sakura takjub ketika Tenten mengangguk tanpa ragu, mana ada orang seberani Tenten tidur semalaman dalam keadaan gelap. Di toilet lagi! Sakura ingat film-film horror bersetting di toilet.
"Oh ya, selamat!" Tenten tersenyum sambil mengulurkan tangannya di depan perut Sakura.
Sakura enggan menyambut uluran Tenten tapi sebelah tangan gadis itu sudah lebih dulu membimbing tangan Sakura untuk bersalaman, "Tenten—"
"Jangan merasa bersalah begitu! Kau lolos aku ikut senang juga."
"Aku tidak tahu kenapa aku bisa lolos, aku… sangat beruntung."
"Ya kau beruntung kemarin. Ingatlah keberuntungan tak datang dua kali, jadi untuk audisi selanjutnya kau harus menggunakan kemampuanmu!"
"Audisi apa lagi?"
"Tentu saja untuk menentukan pemeran utama—"
Sakura mangut-mangut mengerti ditatapnya wajah ceria Tenten, "dan kau?"
"Ah tenang saja masih ada audisi lain untuk paduan suara, pemain orchestra, narrator, dan penarik tirai."
"Tenten—" Sakura tak bisa berhenti tersenyum melihat semangat membara Tenten, ia peluk erat sahabat barunya itu penuh sayang, "kau bau."
Tenten terkekeh dan merentangkan ketiaknya di depan hidung Sakura, "makanya aku mau pulang dan bolos. Tuliskan catatanku ya!" Tenten memberikan kunci platina pada Sakura mengizinkan secara tak langsung pada sakura untuk membuka lokernya.
"Ya jika aku tak malas." Tanggap Sakura penuh canda.
.
.
.
Sasuke menatap sekelilingnya bosan dan ingin pergi. Suasana kantin siang ini yang ramai dan berisik membuatnya ingin cepat-cepat enyah dari sini. Diam-diam ia menyalahkan nama belakangnya yang menyebabkan ia masih duduk di kursi khusus d salah satu sudut kantin—membuatnya semakin mudah diperhatikan dan ingin cepat-cepat selesai saja hari ini. Didengarnya beberapa murid KMA yang sedang berdiskusi tentang gaya rambutnya yang baru dipotong, dalam hati Sasuke menyesal juga ikut-ikutan gaya rambut yang sedang tren saat ini, jika dia tetap membiarkan rambutnya apa adanya pasti para cewek itu takkan mengomentari mahkotanya.
"Hai! Selamat siang semuanya!" sapaan riang Konan setelah bunyi nyiiing panjang khas mikrofon yang ditepuk, membuat Sasuke memalingkan wajahnya menatap panggung kecil di sudut kantin lainnya, ia bersyukur berkat suara Konan yang cukup meredam ocehan gak penting ruangan ini membuat komentar-komentar soal gaya rambut baru Sasuke tersamarkan.
Rupanya dia sudah pulang! Batin Sasuke setelah mengerjapkan matanya berkali-kali dan menyakinkan dirinya sendiri jika perempuan berambut pendek disana adalah Konan. Pasalnya beberapa bulan terakhir ini Sasuke sering sekali melihat Itachi murung sambil menggenggam ponsel—sepertinya ia bimbang antara menghubungi Konan apa tidak, Sasuke dan Itachi tahu betul Konan adalah salah satu penyanyi papan atas yang namanya sudah mendunia. Lagu-lagunya juga sudah menduduki tangga lagu internasional dan aksinya juga sudah menjajali beberapa panggung konser seluruh dunia.
Sasuke sendiri masih ingat terakhir kali ia bertemu dengan Konan adalah saat perempuan itu memaksanya mengajari Sakura untuk bermain ice skating musim dingin tahun lalu. Perempuan itu sudah banyak berubah, namanya tidak bisa lagi diremehkan seperti dulu, bahkan kini tanpa perlu embel-embel lady,princess, queen, diva, atau sebagaiannya—orang-orang bakal mengenalnya dan mengakui kehebatannya karena dia adalah Konan.
"Selanjutnya!" teriakan penuh semangat Konan membuat Sasuke kembali menatap panggung kecil di ujung kantin. Beberapa peserta audisi drama musikal hampir seluruhnya sudah tampil, tadi Sasuke juga sempat melihat beberapa orang yang ia tahu—tapi tak ia kenal, tampil sesuai dengan aturan main audisi kali ini. Audisi kali ini adalah audisi untuk penentuan peran, peserta diharuskan mengambil salah satu kertas undian di dalam tabung di tengah panggung lalu memainkan perannya sesuai dengan peran yang di dapatnya.
Sasuke sempat memerhatikan beberapa murid yang mendapatkan peran nyentrik sepert Karin yang berakting a la penari striptease, Ino yang membacakan puisi tentang ayam peliharaannya yang mati hingga menangis tersedu-sedu, Tayuya sebagai cewek psycho, Naruto sebagai waria yang mencari 'pelanggan', Sakura yang berlakon sebagai orang gila, dan lainnya. Sasuke sedikit terperangah dengan beberapa aksi mereka tetapi tidak menampakannya dengan ekspresi frontal seperti gadis-gadis komentator rambutnya tadi yang tidak segan berteriak memuji.
Audisi berlanjut dengan tampil secara berkelompok sesuai keinginan juri—juri kali ini adalah akatsuki (sebuah himpunan khusus para alumni terbaik KMA tiap tahunnya yang dibina khusus untuk membantu kemajuan KMA sendiri), beberapa dari mereka harus berakting dengan peserta lain tanpa skenario namun tetap memertahankan perannya tadi. Sasuke hampir saja meloncat karena tertawa melihat adu akting antara Sakura si orang gila, Tayuya si psycho, dan Ino si penyayang ayam.
Cerita bermula ketika Ino tiba-tiba menyalahkan Sakura atas kematian ayamnya dan Sakura sendiri hanya menanggapi tuduhan Ino dengan wajah konyol dan omongan nyelenehnya, tak sedikit pengunjung kantin ini—yang memang sengaja berkunjung untuk melihat pemain drama musikal tahun ini, tertawa terbahak-bahak. Namun, beberapa saat setelah Tayuya masuk, mereka mencibir gadis anggota geng Karin yang sengaja memukuli Sakura.
Konan yang melihat unsur kesengajaan disini segera men-cut audisi dan mempersilahkan mereka kembali duduk. Lalu ia memanggil peserta-peserta lain secara acak penuh kegembiraan.
Audisi berkahir ketika senja mulai membayang. Beberapa peserta sudah mengetahui perannya di drama musikal nanti dan juga sudah menerima kertas print out berisi plot adegan, dialog, dan deskripsi lengkap tentang pemain drama kali ini yang bertema roman-horor berjudul Dracula. Sasuke ingin cepat-cepat menerima segepok kertas itu dan menuntasakan membacanya, sedikit banyak ia penasaran akan perannya.
"Ya dua tempat tersisa yaitu peran sebagai Mina Murray dan Elisabeta, siapa yang belum menerimanya?" Tanya Konan antusias, walau ia sendiri sudah tahu siapa itu, tak lama kemudian Haruno Sakura dan Aikawa Karin sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Kami benar-benar bingung menentukan kalian sebagai apa, kalian berdua benar-benar memukau tadi, Sakura benar-benar seperti orang gila yang menyebalkan," Konan cepat-cepat tersenyum ke arah Sakura karena kalimat terakhirnya, "dan Karin yang memualkan seperti pelacur sebagai penari striptease." Konan melambai hangat pada Karin yang menatapnya jengkel.
"Jadi untuk membuat drama ini sukses kalian harus membangun chemistry dengan sang pemeran utama—Dracula," Konan berjalan melewati beberapa meja dan menarik lengan Sasuke, ia menyeret sepenuh tenaga pemuda dingin itu hingga di atas panggung. "Here he is, Uchiha Sasuke as Dracula who make decision!"
"Hah? Bagaimana bisa?" celetukan Sakura yang menurutnya pelan dan hanya bisa didengar olehnya, rupanya cukup keras hingga membuat Deidara dan Tobi menatapnya penuh keanehan.
"Kau mengatakan sesuatu, Nona?" Sakura yang dihampiri Deidara hanya bisa menelan ludah dibalik telapak tangannya yang menutupi bibirnya, ia merutuki kebiasaan bodohnya yang selalu berkomentar apa adanya, Sakura membuat catatan besar di otaknya jika sebelum berbicara ia harus berpikir terlebih dahulu dan jangan terlalu keras jika berucap.
"T-tidak."
"Katakan saja, Nona. Jangan berbicara di belakang seperti pecundang." Sakura dapat melihat jelas sebelah mata Deidara yang tak tertutup poninya berkilat mengejek, kata terakhir Deidara cukup membuat Sakura merasa diremehkan. Sakura bukanlah gadis penakut seperti yang dibicarakan Deidara!
"Aku bukan pecundang!"
"Kalau begitu jelaskan apa yang kau katakan tadi, Nona." Rayu Deidara, kini tangan pemuda itu sudah melingkar pada bahu Sakura, membuat sekujur Sakura bagai tersengat listrik, bagaimana mungkin kau bisa tenang jika orang yang bahkan tak kau tahu namanya sedang berlaku sangat akrab padamu?
"Bagaimana bisa…" Deidara menirukan ucapan Sakura dalam desisan, kepalanya mengangguk seolah meminta kelanjutan pernyataan Sakura, "Uchiha Sasuke yang bahkan tak mengikuti audisi apapun bisa mendapat peran utama hanya dengan duduk di pojokan kantin."
Seantero kantin tiba-tiba sunyi senyap. Semua mata tertuju pada Sasuke yang masih berdiri tanpa ekspresi seolah tuli dengan cemohan implisit Sakura. Sasuke sendiri tak ambil pusing pada awalnya tetapi ketika Deidara dan Tobi mendekatinya sambil melontarkan tantangan dia mulai menanggapi ucapan Sakura. Padahal dia tadi sempat mengolok Sakura dalam hati karena mudah terpancing kata-kata Deidara, tapi sepertinya sekarang Sasuke juga mulai terpancing.
"Iya, ya, apa karena KMA milik yayasan Uchiha makanya Sasuke bisa menjadi tokoh utama—"
"Itachi dulu juga begitu, Dei, hmmm… tapi bagaimana sih kemampuan mereka—"
"Yeah, yeah, karena nama keluarga toh."
Sasuke mendecih apalagi ketika nama keluarganya disangkutpautkan, ia berjalan mendekati Sakura dan segera menarik sebelah lengan gadis itu menuju panggung kecil dimana ia berada tadi, dalam perjalanannya ia merebut paksa gitar Naruto yang dipeluk pemuda periang itu. Sasuke memaksa Sakura duduk di ujung panggung dengan sorot matanya dan gerakan tangannya, ia sendiri langsung menjatuhkan bokongnya tepat di depan Sakura. Jadi kini posisinya Sakura berada beberapa centi lebih tinggi diatas Sasuke yang sedang bersila.
"Ada satu hal yang ingin kuucapkan padamu sejak dulu," Sasuke menutup rapat kedua matanya, "resapi tiap kata-kataku—" Sasuke berusaha menelan ludahnya dan mengeluarkan kata-kata yang paling ia benci, ia merasa lidahnya pahit setelah mengatakan itu, "—kumohon."
Petikan gitar segera membaha setelah Sasuke berhenti berbicara. Pemuda itu menunduk dalam, menyembunyikan kedua matanya di balik poni panjangnya, penjuru kantin tiba-tiba hening ketika pemuda itu mulai mendongak—menunjukkan matanya yang sayu penuh keputusasaan, dan bernyanyi, "waiting for your call, I'm sick, call I'm angry—"
Sakura tak bisa untuk menganga ketika ia tahu Sasuke sedang menyanyi apa. Gadis itu semula tak percaya jika Sasuke bernyanyi tepat di depannya, tapi kemudian ia menyadari mengapa pemuda itu duduk di depannya. Pemuda menyebalkan itu sedang menyanyi untuknya! Ya Sakura masih bisa mengulang jika ditanya apa yang dikatakan Sasuke tadi. Tapi benarkah Sasuke menyanyi untuknya?
Sakura sendiri tak bisa menjawab, jika menjawab tidak karena dia tahu betul Sasuke tak pernah sekalipun tertarik padanya, jika menjawab ya karena tatapan Sasuke yang begitu mengintimidasinya, memaksanya untuk percaya dan segera menerima cintanya. Apalagi artikulasi pemuda itu yang begitu jelas, pemuda itu seolah berbicara tentang perasaannya, Sakura seperti melihat Sasuke bercerita padanya.
"Cause I was born… to tell you I love you… and I am torn… to do what I have to, to make you mine—" Sakura merasakan pipinya memanas, tiba-tiba terselip rasa bersalah pada Sasuke yang selama ini ia anggap sombong dan dingin, pemuda itu tak seburuk yang Sakura pikirkan, pemuda itu manis dan begitu romantis, dia begitu tak segan mengungkapkan perasaannya pada seorang gadis dengan cara yang mungkin kelihatannya memuakkan dan klasik. Tapi percayalah kau akan meleleh—jika kau coklat, jika diperlakukan seperti ini.
Sasuke terus menggenjreng gitarnya sambil sesekali menatap Sakura, meminta sesuatu hal pada gadis itu, "And I'm tired of being all alone, and this solitary moment makes me want to come back home—" pemuda itu begitu terlihat lelah menanti dan berharap, keputusasaan jelas terapnacar dari kedua mata legamnya, tak jarang pemuda itu menggeleng dan tersenyum pahit seperti menyesali hidupnya.
Sasuke menghentikan musiknya dan berbisik lirih, "i know everything you wanted isn't anything you have." Sasuke memberanikan diri menggenggam tangan Sakura dan masih memasang mimik berharap pada gadis itu, Sakura hampir saja meremas jari-jari Sasuke yang menyelip diantara jarinya namun urung setelah sorakan penuh kekaguman dan tangan Sasuke yang tiba-tiba melepaskan tangannya dengan kasar dan menatapnya dengan seringai kemenangan.
Jadi hanya akting! Batin Sakura geram, segera ia memasang tampang jengkel, menyesal dia sempat kasihan dan menanggapi serius kata-kata Sasuke. Sialan!
"Jangan mencoba meremehkanku, Haruno!" Sasuke melenggang pergi denga tatapan tajam penuh penghinaan, Sakura terus mengikuti langkah pemuda itu hingga ia berbalik menatap yang lain selain Sasuke, tanpa sadar ia menghela napas lega karena jantungnya berhenti berdetak hebat.
.
.
.
Gaara menggerakkan jari-jarinya seolah bermain gitar di lorong dekat kantin. Sesekali ia menggoyangkan kepalanya mengikuti irama permainan bass solo dari mp3 ponselnya, sudah berkali-kali ia menatap arlojinya dan ujung koridor bergantian, dan mendesah kecewa menanti sesuatu yang begitu ditunggunya. Gaara begitu jengkel orang yang ditunggunya tak juga menampakkan siluetnya, padahal Sabaku terakhir itu ingin cepat-cepat pulang ke rumah dan mempraktekkan musik yang ia dengar kini.
Berkali-kali ia mencoba membunuh waktu dengan membalas pesan singkat Naruto yang sama sekali tak penting untuknya, Gaara ingin mengakhiri percakapan tak jelasnya dengan Naruto secepat mungkin tapi ia tak enak hati, pasalnya salah satu sahabatnya itu sudah berbaik hati membagi instrumen musik yang didengarnya kini. Lagipula jarang-jarang ia bercanda lewat pesan singkat dengan Naruto.
"Gaara?" Suara Sakura membuat hati Gaara melega. Pemuda itu cepat-cepat mematikan music player pada ponselnya dan menatap Sakura dengan tatapan sulit diartikan.
"Kau ini lama sekali sih."
Sakura tak bisa menahan pipinya memanas, ia tahu betul arti sapaan Gaara tadi. Salah tingkah ia hanya menggaruk sebelah pipinya dan tersenyum seramah mungkin, "kenapa kau tak pulang?"
"Aku ingin pulang denganmu."
Sakura meleleh untuk kesekian kalinya hari ini, bagaimana bisa ia bersikap biasa saja sedangkan orang yang tidak memiliki hubungan khusus dengannya bersikap seolah mereka memiliki ikatan spesial. "M-mengapa?"
"Tak baik gadis sepertimu pulang malam sendiri." Sakura tersenyum penuh arti, diperhatikannya lekuk wajah Gaara yang terpahat sempurna, tanpa disadarinya Sakura sudah memegangi dadanya mencoba menenangkan debaran jantungnya.
"Kau kenapa? Kedinginan?" Gaara membuat gerakan akan melepas jaketnya tapi Sakura buru-buru mengibaskan tangannya tanda penolakan lalu menunjuk mantel tebal yang dipakainya. "Baiklah, ayo pulang."
Sakura mengangguk pasrah. Ia berjalan sambil menunduk disisi Gaara tak sadar jika sebelah tangannya menggenggam ujung jaket Gaara. Ini bukan pertama kalinya Gaara mengantarkan dia pulang tapi rasanya seperti pertama kali dulu—begitu membuatnya gugup. "Mau secangkir teh?" Sakura menggeleng cepat, "musim panas begini mana enak minum teh."
Gaara sedikit menekuk wajahnya, ia ingin berlama-lama dengan Sakura tapi gadis itu sepertinya tidak. Padahal beberapa menit yang lalu pemuda itu ingin segera pulang dan menggerayangi gitarnya. Aneh!
"Yeah," Gaara memakai helmnya sambil menaiki motor merahnya. Ditepuknya bagian belakang jok motornya untuk menghilangkan debu disana, tubuhnya terasa tersengat listrik saat Sakura memegangi pinggangnya sebagai penahan agar gadis itu tak jatuh ketika mencoba menaiki motornya yang cukup tinggi. "Pegangan yang erat." Gaara mencoba peruntungannya kini, memerintahkan Sakura untuk setidaknya memegang erat pinggangnya, syukur-syukur kalau melingkari pinggangnya.
"Umurmu berapa?"
"Tidak sopan," Gaara terkekeh dan membuka kaca helmnya, menatap Sakura yang berusaha menyamankan diri di jok motornya yang sempit. "Tujuh belas, kenapa?"
"Aneh saja, pemuda sepertimu sudah boleh membawa kendaraan ke sekolah. Kau punya SIM?"
Gaara menggeleng dan seketika wajah Sakura memucat, sepertinya gadis itu mengurungkan niatnya untuk pulang bersama Gaara. "Tenanglah, aku sudah bisa mengendarai motor dengan sopan."
"Bukan itu, maksudku bagaimana jika ada polisi yang menanyakan SIM-mu?"
"Tak ada polisi yang seperti itu padaku."
"Bohong."
"Aku serius!"
Sakura memasang tampang sama sekali tak mengerti. Setahunya orang boleh mengendarai kendaraan jika sudah lolos ujian dan memiliki SIM.
"Memang kita dilarang untuk menggunakan kendaraan pribadi jika kita belum memiliki SIM dan belum cukup umur. Tapi peraturan itu berlaku jika kau ketahuan bukan? Selama tidak ya tidak apa-apa."
"Tapi bagaimana bisa kau selalu lolos dari polisi di pinggir jalan?"
"Biasanya sih beberapa temanku mengirim pesan singkat beberapa daerah yang sedang melakukan razia. Jadi aku bisa menghindari jalan itu."
Sakura mangut-mangut paham, keheranannya hilang sudah sejak ia masuk di KMA. Ternyata KMA tak seburuk yang ia kira, disini tidak hanya berisi genk-genk yang suka bertanya soal kau-punya-apa, kesombongan, tidak mau kalah, dan bullying, tapi disini juga ada rasa solidaritas tinggi kepada sesame, semacam mengingatkan kalau ada razia ini.
"Gaara." Gaara hampir menekan kopling gasnya dan memasukan gigi sebelum sebuah suara yang akhir-akhir ini tak ia dengar menyapanya dengan nada yang aneh.
"Sai." Tubuh Sakura menegang ketika langkah Sai mulai mendekatinya dan Gaara, sekujur tubuhnya terasa mendingin, tangannya mulai basah dengan keringat, dan tangannya sudah meremas kuat jaket Gaara.
"Aku… ingin mengembalikan ini." Didorong penasaran Sakura menunduk menatap tangan Sai dan Sakura menahan napas melihat cutter yang baru kemarin menggores lengannya. Secara reflek ia memegangi bekas lukanya. Sementara Sai yang menyadari gelagat aneh Sakura segera melempar pandangan sehoror mungkin pada gadis itu.
"Siapa dia, Gaara?" Sai begitu menikmati wajah pucat Sakura. Dia semakin menyipitkan matanya ketika Gaara penuh keceriaan memperkenalkan Sakura padanya, mau tak mau gadis itu harus bersalaman dengannya. Sai terkekeh merasakan tangan Sakura yang lemas dan basah, "Shimura Sai."
Sakura tak menjawab, ia membuat gerakan menarik tangannya kembali di samping tubuhnya tetapi Sai mencengkramnya kuat. Gaara yang menyadari itu hanya berdehem, namun tak ada tanggapan dari Sai. Pemuda yang hobi mensketsa itu tetap menatap Sakura tajam dan tak juga melepas tangan Sakura. Ia berdehem lagi dan kini cukup panjang dan cukup dimengerti Sai jika Gaara tak suka dengan kegiatan Sai kini, dia melepas tangan Sakura walau dengan separuh hati.
"Omong-omong apa kau sudah selesai menggunakan cutter ini?" Gaara mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Belum sih, tapi aku akan sesegera mungkin menyelesaikannya, segera." Sakura benar-benar ingin pergi ke ujung dunia sekarang juga, bersembunyi di kolong semut dan berdoa agar Sai tak pernah menemukannya. Pemuda itu serius akan menghabisinya segera, oh bahkan dia mengucapkan kata itu dua kali!
"Umm… belilah sendiri, aku membutuhkan ini." Gaara tak tahu mengapa kalimat itu tiba-tiba terlontar. Tak biasanya ia seperti ini, biasanya jika ada orang yang meminjam hal kecil padanya Gaara takkan pernah menagih agar barang itu lekas kembali, kalaupun barang itu dikembalikan Gaara akan dengan senang hati menolaknya dan mengatakan bahwa barang itu boleh disimpan untuk si peminjam. Yeah, jangan salahkan kebiasaan manusia bergelimang harta ini. Tetapi kini Gaara ingin menyimpan cutternya.
Sakura sendiri merasa Gaara melindunginya secara tak langsung, walaupun ia tahu betul pemuda itu tak tahu apapun masalahnya dengan Sai, dan kemungkinan Sai menggunakan cutter lain untuk mencelakainya juga besar sekali kemungkinannya—oh Sakura bahkan berani bertaruh jika sepulang sekolah ini Sai akan membelinya.
"Oh." Sai menyipit tak suka dengan tindakan Gaara, tak biasanya Gaara begitu melabeli barang-barangnya. "Um, yeah, aku pergi dulu."
Gaara mengangguk dan menyalami Sai a la cowok—menjabat tangan kanan dan menabrakkan bahu kanannya. "Be careful."
Gaara mulai menggas motornya perlahan dan Sakura menoleh sebelum Gaara berbelok menuju jalan utama dan ia membulatkan matanya ketika mengetahui Sai masih melihatnya dengan tatapan mengancam dan seringai kekejaman. Sakura segera menenggelamkan wajahnya pada punggung Gaara dan melingkarkan tangannya pada pinggang Gaara seolah mencari perlindungan.
Sementara Gaara tersenyum bahagia tanpa tahu ketakutan Sakura. Peruntungannya berhasil!
.
.
.
Sore ini Itachi sedang galau di tengah keramaian café di pusat kota Konoha. Ia sengaja memilih bangku yang terletak di luar café sehingga (setidaknya) agar pikirannya dapat terpecah antara keramaian lalu lalang mobil, langit oranye, dan Konan. Ya, pikiran Itachi sedang dihantui sosok Konan yang baru seminggu yang lalu sampai ke Konoha. Memang Itachi sudah tahu kepulangan Konan sejak tujuh hari yang lalu tetapi baru hari ini ia berjalan-jalan dengan Konan, Itachi cukup mengerti jika Konan sering mengalami jetlag akhir-akhir ini.
"Lain kali berenanglah setelah naik pesawat." Nasihat Itachi membuat Konan mendongak menghiraukan katalog cincin pernikahan.
"Yeah," tanggap Konan asal. Ia kembali menekuni katalognya sambil membayangkan jika salah satu cincin itu melingkar di jari manisnya.
"Aku serius. Jetlag bisa disembuhkan dengan berenang."
"Iya, iya, kau perhatian sekali sih padaku? Pein saja tidak begitu," Konan terkekeh dan menutup katalog cincin itu. "Omong-omong kau pandai memilih tempat romantis." Konan menatap ke bawah, memang café yang biasa dikunjungi Itachi adalah café di suatu hotel berbintang dan terletak di lantai pertengahan. Jadi pemandangan sibuknya kota Konoha dapat terlihat jelas disini dan matahari tenggelam juga dapat terlihat jika langit tak mendung.
"Bisakah kau mencarikan tempat romantis untuk pernikahanku?" Itachi tertegun. Ia baru ingat tiga bulan lagi Konan akan melepas masa lajangnya dengan pria brengsek yang Itachi kenal.
Itachi menggeleng yang diartikan Konan jika pria tampan itu tak bisa. Namun, Itachi sendiri menggeleng karena ia mencoba menolak ide otaknya untuk membeberkan kebusukan Pein pada Konan secepatnya. Bukannya Itachi ingin gadis itu terluka dan sakit hati, tapi ini lebih keegoisan dirinya yang tak ingin dijauhi Konan karena telah menjelek-jelekkan tunangannya, terlebih lagi Konan sangat percaya pada Pein dan yang terpenting wanita itu mencintai Pein.
"Itachi aku harus pergi," Konan sudah memasukkan katalog dan beberapa perkakas wanitanya ke dalam tas. Wanita itu juga sudah melambaikan tangannya memanggil pelayan untuk membawa bill. "Sepertinya Pein merindukanku."
Lengkungan bibir Konan membuat Itachi semakin tak bisa untuk berhenti berbohong pada gadis itu. Itachi tak ingin Konan kehilangan senyumnya lagi seperti saat ia kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan bertahun-tahun yang lalu.
"Yeah, pergilah." Sekali lagi Itachi mengartikan ucapannya berbeda dengan Konan, kini pria itu benar-benar rela melepaskan wanita itu untuk kebahagiaannya. Biarlah ia bahagia di atas kebohongan kami.
"Aa." Konan melenggang mendekati Itachi dan mengecup pelan pipi sahabatnya itu. Itachi hanya bisa diam sambil mencengkram kuat pinggul Konan seolah masih tak ingin Konan pergi. "Aku mau pulang, Itachi."
Itachi segera melepas pegangannya dan tertawa tanpa arti menatap Konan. "Salam deh untuk Pein."
"Salam apa?"
"Umm… salam aku mencintainya." Konan memukul pelan bahu Itachi tak suka, ia tak suka dengan guyonan Itachi itu.
"Jangan buat aku percaya dengan gossip kau gay ya!"
Itachi tertawa kecil, "salam persahabtan deh."
Konan mengangguk dan berlari kecil menuruni tangga. Selepas kepergian Konan, Itachi membuang napasnya sangat panjang, tepukan pelan membuatnya menoleh. "Sasu?"
"Sampai kapan kau mau membohongi dirimu?" Sasuke mencomot petocini Itachi yang tersisa setengah.
"Entahlah."
Sasuke mengangkat bahunya, "suatu hari otakmu akan mencemoh hatimu karena tak mau mendengarnya."
"Jujur itu sulit bodoh!" Itachi melempar lap di atas pahanya tepat di atas piring petocininya, membuat Sasuke mengumpatinya, "omong-omong si Haruno itu oke juga." Itachi tertawa mengejek ketika Sasuke menghentikan suapannya dan merengut sebal mengingat peristiwa tadi siang.
"Berisik."
Itachi tertawa keras kini. Geli melihat tingkah konyol adiknya. Satu sama!
TBC
4750 words
Glossary:
Xanax: obat penenang yang biasa dipake Whitney Houtson. Obat ini bisa ngasih semacem ketenangan berlebih karena sifatnya sebagai sedative (menenangkan).
Anorexia nervosa : penyakit psikologi yang tak membiarkan tubuhnya untuk makan, biasanya penderita suka mengeluarkan kembali makanan yang baru dimakannya dengan cara memuntahkannya (entah itu dengan memasukkan jari ke dalam kerongkongan, meremas-remas perutnya, dll). Mereka melakukannya untuk membuat penampilan mereka sempurna.
Selesaiii~~ ya ampun saya butuh waktu sedikit buat ngelarin chapter ini dan waktu lama buat niat bikin chapter ini. Haha #ditampar Yeah salahkan umur saya yaa yang mengharuskan saya untuk ngikutin ujian ala pelajar Indonesia (UNAS), jadi jiwaku tertuju pada UNAS aja deh #ea.
Anyway buat chapter kemarin banyak ya yang tiba-tiba benci ama Sasame, sori saya ga niat bikin bashing chara. Jangan ada yang benci Sasame ya gara-gara ini, benci saya aja yang sengaja buat dia begitu #nelen ludah. Dan soal Sasusaku yang ga nongol mmm… gimana ya, sampai chapter sepuluh ini masih pengantar loh, ya kalo diibaratin naik gunung kita masih di lembah, Saudara-saudara. Jadi sabar yaa buat scene cinta-cintaan, ga puas apa bercinta di dunia nyata? xDD~~#toeng Dan buat yang request fanfic sori banget ya, saya ga bisa, secara fiksi saya yang lain terbengkalai. Silahkan minta dibikinin para reviewers saya aja deh haha #digebukin rame-rame.
Oiya untuk cara penilaian Tsunade chapter lalu bener-bener pernah saya alamin loh, bedanya saya cuma disuruh presentasi makalah dan menyebutkan apa aja yang sudah saya garap. Dan saya dapat nilai minus! (karena memang saya ga ikutan garap haha).
Well, well, see you soon, don't forget leave your comment! It's valuable for me. (:0 #masuk kamar mandi Sasuke
