The Omega
~HunHan~
.
.
.
.
Pagi ini aku tak menemukan Sehun di sampingku, aku merengut kesal. Meregangkan tangan lalu berdiri perlahan sembari memegangi perut bagian bawah hendak pergi ke kamar kecil, namun ketukan dipintu menghentikanku melanjutkan langkah.
"Tuan, Tuan Park Jihoon ada di bawah."
Park siapa? Seingatku aku tak memiliki teman bernama Park itu, dan jika memang benar itu temanku berarti semua temanku memang tidak tahu diri.
"Ah ya, aku akan segera ke bawah." Jawabku.
Apa kau berpikir aku akan turun menemui seseorang dengan wajah bantal? Yang benar saja. Aku tak peduli jika orang itu pergi karena jengkel menungguku mandi dan berpakaian yang pantas.
Namun saat aku turun dan menemuinya di ruang tamu aku melihat punggung seseorang yang jelas menungguku. Aku berdehem keras dan orang itu reflek menoleh ke arahku, aku tak bisa untuk tidak terkejut ketika ternyata orang itu adalah pria yang tempo hari lalu bersama tuan Oh.
Aku lupa siapa namanya tapi yang jelas kenapa dia mencariku?
"Hai, selamat pagi!" Sapanya riang.
Pria muda itu menghampiriku dengan bersemangat, bahkan dia tersandung oleh kakinya sendiri karena terlalu bersemangat. Pria yang ceroboh untuk orang yang dibawa tuan Oh, kau tahu ayah Sehun dengan wibawa dan ketegasannya sebagai seorang pemimpin nyaris sempurna seperti Alpha dengan orang seceroboh dan ceria seperti dia? Aku curiga.
"Uh... Hai?" Balasku.
"Oh pasti kau bingung, benar?" Dia mengulurkan tangannya.
"Namaku Park Jihoon." Dia memperkenalkan dirinya.
"Aku Xi-"
"Tunggu, aku tahu namamu!" Dia mengangkat tangannya di depan wajahku, terlihat berpikir mengingat namaku mungkin?
"Xi... Xi..."
Aku merotasikan mataku, jika tak tahu seharusnya dia tak usah bersikeras. "Aku Xi Luhan." Aku memperkenalkan diriku sebelum dia berhasil menyebut namaku.
"Ah iya benar, Xi Luhan." Dia tersenyum ceria.
"Oke Luhan aku tak mau basa-basi, aku hanya ingin tahu kebenarannya darimu," Kebenaran apa? Aku mengerutkan keningku. "Apa kau benar calon istri Sehun? Atau calon istri Yeonseok?"
Hah?
.
.
.
Semua orang tak ada di rumah, yang ku maksud adalah Sehun dan tuan Oh, aneh bukan mereka tak ada di rumah dalam waktu yang bersamaan? Ayah Sehun itu ayah tersibuk yang pernah ada selain ayahku, tentu menurutku.
Kau tahu aku tak bisa keluar sendirian, semua orang serentak melarangku yeah dan kau tahu betul alasannya. Jadi, aku terperangkap di rumah bersama seorang pria muda bernama Jihoon, pria milik tuan Oh.
Aku tak bisa untuk tidak tersenyum mengingat alasannya datang pagi-pagi menemuiku, itu cukup konyol karena Jihoon hanya memastikan aku bukan kekasih gelap tuan Oh yang tengah hamil tua. Aku dapat mengerti mengapa dia sampai seperti itu, terkadang memiliki kekasih dengan kadar ketampanan diatas rata-rata itu membebaniku. Tampan, kaya, dan seorang Alpha? Semua orang rela menjadi jalang demi disentuhnya.
Aku penasaran bagaimana bisa Jihoon memiliki hubungan dengan pria sibuk seperti tuan Oh, bahkan tuan Oh jarang menikmati hari liburnya. Dengan rentang umur yang ambigu aku rasa hubungan mereka seperti daddy-baby. Ah aku tahu hubungan seperti itu dari Minseok, kau tahu Minseok tahu banyak hal seperti itu.
Aku duduk di atas sofa dengan kaki kanan ditekuk sembari menikmati cokelat yang dibawa oleh Jihoon, tentu dengan Jihoon. Dia membawa banyak makanan manis, rasanya tak apa jika ditinggalkan dengan banyak makanan manis.
Aku suka makanan manis.
"Ngomong-ngomong, boleh aku tahu bagaimana kau dan tuan Oh dekat?" Aku bertanya memulai percakapan.
Aku meliriknya dari ekor mataku dan dia terlihat riang seperti biasa tanpa tersipu atau semacamnya, jika aku pribadi mungkin aku akan sangat memerah. Dia bergeser menghadapku, berdehem sebelum menjawabku.
"Kau tahu itu sangat klise, jatuh cinta pada pandangan pertama?" Dia terkekeh. "Kami bertemu saat dia tengah meninjau universitas untuk Sehun."
Wow terdengar seperti drama.
"Bagaimana denganmu?" Giliran dia bertanya.
Aku menghisap ibu jari berlumuran cokelat, mengingat lagi bagaimana aku bertemu dengan Sehun. Kupikir itu biasa saja, kami berteman dan tanpa kami tahu kami ditakdirkan bersama lewat status Alpha-Omega. Kupikir?
"Ya seperti lingkaran pertemanan lalu boom!" Aku menjelaskan dengan singkat lalu tertawa.
Dia menangkup wajahnya, menatapku seperti tengah menatap adegan romantis dalam drama. "Apa?" Aku mengerutkan kening.
"Itu keren." Komentarnya.
"Kau seorang Omega, benar?" Dia bertanya.
"Ya."
"Itu keren, bagaimana kau hamil dan-"
"Aku tak dapat membedakan apa itu pujian atau hinaan." Aku cemberut.
"Hei itu pujian! Itu benar-benar keren ketika seorang pria hamil," Dia menjelaskan.
Aku tak menemukan dimana letak kekerenan itu, kurasa dia hanya menghiburku.
"Kau keren Luhan."
Aku memutar bosan mataku lalu tersenyum. "Kau tahu, aku sempat tidak menyukai ini,"
Dia mengerutkan kening. "Kenapa?" dia bertanya.
"Seperti yang kau lihat aku ini pria yang tampan, menjadi Omega memukulku telak."
Jihoon mengamatiku lalu mengangguk, kurasa dia setuju. Aku tersenyum percaya diri.
"Ya kurasa kau bisa mendapat beberapa gadis, tapi kau tahu gadis manapun tak menginginkan jika pacar mereka seorang Omega."
Sialan.
.
.
.
Aku dan Jihoon dekat hanya dalam hitungan jam, menanti kepulangan masing-masing pria kami membuat kami banyak berbicara, dia seperti seorang teman yang hampir selama hidupnya bersamaku. Aku merasa sangat cocok dengan Jihoon. Sampai sore hari Jihoon pun tak ada tanda-tanda akan pulang, aku pikir dia menunggu ayah Sehun.
Jihoon kembali dari dapur dengan satu botol cola dan keripik kentang, aku heran karena dia mengambil sendiri camilannya ketika dia bisa duduk dan membiarkan pelayan bekerja. Dia duduk di sampingku, kau harus tahu berapa lama kami berada di ruang santai setelah jenuh di ruang tamu. Berbicara-menonton televisi-berbicara, nah itu yang kami lakukan.
"Aku bisa bermain piano, mau lihat?" Tawarnya.
"Tentu, dan aku bisa bernyanyi."
"Keren!"
Jihoon membantuku berdiri, saling melempar senyuman ceria lalu dia menggenggam tanganku dan menuntunku ke ruang tengah di mana tempat itu biasanya menjadi ruangan untuk acara seperti pesta. Saat kami keluar dari ruang santai kami sama-sama tersentak ketika melihat Sehun dengan seragam sepak bola dan keringat disekujur tubuhnya, ewh.
"Kau darimana?!" Aku menjerit padanya tanpa menunggu lama.
Bagaimana bisa dia pergi lama meninggalkanku untuk bermain sepak bola?
"Ya Sehun, kau darimana? Kau meninggalkan Luhan sendirian! Dia menuruni tangga sendirian apa kau tahu itu?!" Jihoon terlihat sedikit bersungut-sungut.
"Kenapa kau tega meninggalkanku?"
"Kenapa kau tega meninggalkannya?"
Aku dan Jihoon terdiam sejenak sembari menatap satu sama lain setelah secara kebetulan mengucapkan kalimat yang sama diwaktu yang bersamaan. "Wow, apa itu tadi?" Tanyaku.
"Tadi itu keren." Katanya.
Lalu kami tertawa lepas dan melupakan sejenak eksistensi Sehun.
Sehun berdehem untuk mengingatkan kami akan keberadaannya. "Jadi kenapa kau ada di sini?" Sehun bertanya pada Jihoon. "Bersama dengan Luhan?"
"Apa kau tak menyukaiku?" Jihoon cemberut.
"Kurasa."
Aku memelototinya. Kenapa Sehun bisa sekasar itu pada Jihoon? "Hei dia menemaniku, dia menyelamatkanku dari kebosanan!" Ucapku.
"Ya, terima kasih untuk itu Jihoon sekarang kau bisa pulang."
"Sehun!" Aku menjerit.
Dia menatapku datar dan bertanya benar-benar datar. "Apa?"
"Aku mencari Yeonseok, di mana dia?"
"Dia tak ada di sini."
"Aku tahu itu bodoh!" Jerit Jihoon frustrasi.
.
.
.
Aku keluar dari kamar mandi dan hal pertama yang ku lihat adalah Sehun dengan ponselnya, dia tengah asik bermain permainan. Aku berdiri di depan cermin, menatap refleksiku sembari mengeringkan rambutku dengan handuk. "Menurutku Jihoon menyenangkan, maksudku dia seperti teman kita, jika kau dekat dengannya." aku menggantung handuk di bahuku, berbalik untuk menatapnya.
"Ya." Dia menyahutiku dengan acuh dan mata yang masih tertuju pada ponsel.
Aku mendengus, kembali pada cermin aku menatap perutku. Mengusapnya melingkar sembari tersenyum lembut. "Hai little Lu," Sapaku pada bayi kecilku.
"Hai mommy!"
Aku terkekeh ketika mendengar suara Sehun yang mencicit untuk mendapatkan suara imut.
"Kau tahu mommy sedang kesal pada daddy-mu," Aku melirik tajam Sehun di belakangku.
"Maafkan daddy, Mommy."
"Oh tidak semudah itu karena daddy-mu juga mengabaikanku."
Aku melihat Sehun beranjak dari tempat tidur, menghampiriku lalu memelukku di belakang. "Mommy, daddy bilang dia minta maaf." Dia meletakan dagunya di pundakku.
Aku menggeleng, tetap bersikeras untuk marah pada Sehun. Dia mengecupi pundakku lalu terkekeh. "Oke, aku tak akan mengabaikanmu," Dia menarik wajahku, menatapku dengan lembut sedangkan aku tetap merengut kesal.
"Pakai bajumu sayang, kau tak ingin Sehum kecil kedinginan bukan?" Dia mengecup bibirku.
Aku mengerutkan dahiku. "Tidak ada Sehun kecil, hanya ada Luhan kecil." Aku menggangguk pasti.
"Baik, bayi bisa menjadi Luhan dan Sehun kecil."
Dia mencium bibirku, menangkup wajahku dan aku perlahan menutup mataku menikmati ciuman lembutnya. Ciuman yang lembut, pipiku memanas karena ciuman yang bahkan tak ada nafsu didalamnya. Sehun perlahan melepaskan tautan bibirnya, mengusap pipiku dengan ibu jarinya lalu tersenyum.
"Jadi apa yang ingin kau katakan, hm? Aku berjanji tidak akan mengabaikanmu." Katanya.
Lagi aku merengut kesal, ternyata dia hanya asal menjawab tadi ketika aku membicarakan Jihoon. "Kau menyebalkan, aku membencimu!" Desisku.
Dia tertawa. "Baiklah, ini soal Jihoon, benar?" Aku memalingkan wajahku tak ingin menjawabnya.
"Aku tidak membencinya jika kau ingin tahu."
Perlahan aku melihat padanya, mengerjap bertanya. "Tidak?" Dia mengangguk. "Tapi kau terlihat..."
"Aku hanya sedikit tidak menyukainya."
"Kenapa?" Aku bertanya.
Serius, kenapa? Maksudku, Jihoon sangat menyenangkan seperti perpaduan Baekhyun, Minseok, Yixing, dan Tao! Lihat dia seperti empat teman kami dalam satu tubuh.
"Kau tak menyukai hubungannya dengan ayahmu?" Tanyaku.
"Sedikit.' Jawabnya.
Dia menjauh, pergi membuka lemari lalu menarik baju tidur untukku. Dia kembali dengan piyama bergambar kelinci kecil di seluruh pakaian, memakaikan pakaian itu padaku karena aku terlihat tak berniat bergerak untuk segera berpakaian. Aku terkekeh diam-diam.
"Apa karena terlalu klise?" Tanyaku dan dia mengerutkan dahinya. "Ya seperti... Um... drama? Cinta pada pandangan pertama."
"Apa dia yang mengatakan itu?" Dia berbalik bertanya dengan wajah kurang menyenangkan.
Ada apa?
Aku mengangguk dan dia bergumam. "Sudah kuduga."
Saat dia hendak menarik handuk di pinggangku aku menahannya. "Apa?" aku menatapnya bertanya.
Ku lihat dia menghela nafas. "Dengar, apa yang dikatakannya padamu tidak benar." Dia berkata.
"Apa... Apa maksudmu?"
"Hubungannya dengan ayahku tidak seperti itu, dia hanya anak yang suka mengunjungi klub malam."
"Hah?"
Aku tidak mengerti apa yang dikatakan Sehun, maksudnya Jihoon berbohong dan dia adalah anak nakal? Seperti itu? Oh serius!
"Kenakan celanamu sayang sebelum aku memakan milikmu." Dia memberikan celana piyamaku.
Aku masih berfokus pada apa yang Sehun katakan sehingga aku tak menanggapi godaannya. "Apa dia anak nakal?" Aku bertanya.
"Tidak juga, dia hanya satu-satunya orang yang jatuh cinta." Dia menjelaskan.
Aku mengerutkan dahiku. "Satu-satunya?"
"Karena sebuah kecelakaan ayahku bertemu dengan Jihoon, dan akhirnya dia harus bertanggung jawab."
Malam itu aku mendengar cerita Sehun tentang hubungan Jihoon dengan ayahnya, aku kecewa karena Jihoon berbohong padaku. Mereka bertemu di klub malam dan tak disadari tuan Oh meniduri Jihoon karena mabuk, dan berakhir Jihoon terus mengikuti tuan Oh karena telah jatuh hati padanya. Tidak ada hubungan spesial hanya sedikit pertanggung jawaban, entahlah aku tidak tahu tapi Sehun mempertegas tak ada apapun diantara ayahnya dan Jihoon.
.
.
.
Aku lapar dan aku tak terbiasa memanggil pelayan tengah malam begini, meski mereka dibayar aku tak tega aku masih bisa menuruni tangga sendirian. Sehun? Dia terlihat sangat kelelahan beberapa hari ini dan kau tahu Sehun tidur seperti orang mati jika sedang kelelahan.
Akhir-akhir ini aku selalu terbangun karena lapar membuat lemak berkumpul dan terakhir kali aku bercermin aku terlihat seperti babi, ewh.
CTASS!
CTASS!
Aku berhenti di depan ruang tamu, bunyi-bunyian aneh dari sana menyita perhatianku. Seperti bunyi... cambuk? Entahlah aku harus memastikannya.
"Ahh daddy..."
CTASS!
Aku melotot lalu segera berbalik ketika secara tidak sengaja bertemu pandang dengan mata sayu itu. Wow apa yang baru ku lihat? Aku kembali mengintip, memastikan bahwa orang yang ku lihat bukanlah Jihoon.
"Ahh daddy! Ahh!"
"Mmh ahh..."
Pipiku memerah, tanpa sadar aku meraba selangkanganku. Sial aku bangun. Tuan Oh benar-benar panas, tubuh kekarnya, wajah tampannya, dan caranya memperkosa lubang Jihoon benar-benar...
"Ugh Sehun..."
Aku memejamkan mata dan membayangkan Sehun melakukan itu padaku, meremas penis dibalik celana aku mendesah memanggil Sehun. Aku merapatkan paha dan menggigit telapak tanganku untuk meredam desahanku ketika aku mendapatkan klimaks, tersenggal menikmati klimaks-ku sehingga aku tak menyadari mereka telah berhenti bercinta.
Hawar-hawar aku mendengar mereka berbicara, aku terkesiap dan segera berdiri. Jika mereka tahu aku mengintip kegiatan mereka aku akan dicap buruk. Sejujurnya aku tak mengintip mereka, merekalah yang membuatku penasaran, aku hanya penasaran.
Aku terburu-buru menaiki tangga, mengabaikan perutku yang belum terisi dan masih merasakan lapar. Aku masuk ke dalam selimut di samping Sehun, berbalik berlawanan dengan Sehun lalu berusaha untuk tidur.
Ugh sial mereka masih membayang-bayangiku saat aku berusaha memejamkan mata. Aku berbalik menghadap punggung kokoh Sehun, aku menggigit bibirku keras ketika merasakan sengatan disekujur tubuhku ketika melihat punggungnya, hanya punggungnya.
"Sehun..." Aku menutup mulutku ketika tak sadar memanggil namanya.
Aku meringkuk, menyentuh milikku dan membuat tubuhku gemetar, mataku terpejam erat ketika jemariku meremasnya. "Ungh..."
"Aku terkejut ketika kau membangunkanku dengan baumu," Aku tersentak ketika tangan besar itu mencekal lenganku. "Kau berani bermain dengan penismu di belakangku, hm?"
Aku malu dengan ledakan euforia karena dia bangun. "Sehun..." Panggilku.
Dia bangun dari berbaringnya, duduk didepan kakiku yang meringkuk sebelum dia membuatnya mengangkang. "Sial, betapa aku ingin bercinta denganmu," Dia merunduk mulai mengecupi penisku.
"Sehuunn..." Aku menggeleng, memejamkan mata menikmati mulut hangatnya yang menelan utuh milikku.
"Uhh uhh Sehun!" Aku menekukan jari-jari kakiku ketika temponya membuatku hilang akal.
"Angh!"
Aku menghela nafas ketika semuanya telah keluar, ugh rasanya sangat banyak.
"Sehun?" Panggilku ketika melihatnya beranjak pergi.
"Aku akan membiarkanmu istirahat." Ucapnya.
Aku mengerti, dengan bauku di sekitarnya tak akan pernah bisa membuatnya tenang, dokter memperingatkan kami bahwa bercinta saat hamil tidak baik. Ugh aku ingin bercinta dengannya.
.
.
.
Hari ini adalah hari kelulusan Sehun dan teman-teman, oh tentu aku tak bisa melewatkan ini bahkan jika aku tengah sakit aku harus mengusahakan hadir. Aku bersama ayah Sehun akan pergi dan satu mobil dengannya, tapi ketika kami baru saja akan berangkat Jihoon muncul dengan cerianya.
"Hai!" Dia menyapa.
Jihoon bergerak untuk mengecup tuan Oh, aku segera mengalihkan pandanganku. Daddy-baby heh? Wow terdengar keren tapi tentu saja aku tidak ingin mempunyai hubungan seperti itu. Kau tahu hubungan seperti itu tak akan berjalan hingga pernikahan, mereka hanya menikmati hubungan mereka tanpa komitmen yang jelas. Itu yang kutahu tentang hubungan itu.
Jihoon ikut dengan kami untuk menghadiri kelulusan Sehun, dia bilang hari ini tak ada kelas. Khusus hari ini tuan Oh akan mengemudi, ketika Jihoon datang tuan Oh memerintahkan supirnya untuk pergi ke belakang.
Aku duduk di belakang, Jihoon bersama tuan Oh di depan dan dia berisik.
"Bagaimana dengan putih?" Jihoon bertanya untuk sesuatu yang aku tidak tahu pada tuan Oh.
"Tidak," Ku lihat bahunya turun pertanda dia kecewa akan jawaban tuan Oh.
"Baiklah, Ya."
Dia terkekeh setelah tuan Oh meralatnya. Jihoon menoleh padaku, menyapaku dengan senyuman sebelum bertanya sesuatu. "Kau akan memberi Sehun hadiah?"
Hadiah? Oh tidak aku lupa.
"Y-ya." Jawabku.
"Apa hadiah yang akan kau berikan padanya?" Tanyanya lagi.
"A-aku akan..." Aku menatapnya sedikit menunjukan kekesalanku. "Haruskah aku mengatakannya?" Aku mendengus.
Wajahnya berubah menjengkelkan, alis yang dia mainkan dengan senyum mencurigakan. Boleh aku melemparnya dengan kotak tissue?
"Aku mengerti Luhan, sangaaatt."
Seketika itu juga ku rasakan pipiku memanas, maksudku bukan itu! Jihoon salah paham! Aku hanya belum memikirkan hadiah untuk kelulusannya, aku benar-benar lupa.
Saat kami sampai di sekolah semua orang bahagia, mengenakan almamater, berfoto, dan ditemani orangtua masing-masing. Aku mencari keberadaan Sehun dan yang lain namun yang ku temukan hanya teman-teman, aku meminta izin pada tuan Oh bahwa aku ingin bertemu teman-teman lalu berjanji pada Jihoon yang memaksa agar aku duduk di sampingnya.
"Hai Lu, bagaimana kabarmu?" Yixing menghampiriku diikuti Jongdae.
"Apa kau percaya Baekhyun akan lulus?" Celetuk Jongdae.
"Wow kau meragukanku tuan Kim? Jika aku lulus kau berhutang sepuluh ribu won!" Ku lihat Baekhyun benar-benar percaya diri, senyum yang terkembang di bibirnya adalah senyum kebanggaan bukan senyum tengil seperti biasa.
"Luuuu!" Tao menjerit sembari menghampiriku, memegang tanganku seperti bocah yang tengah mengadu dengan air mata mengalir. Oh, ada apa?
"Jangan dengarkan dia," Minseok bersedekap dada. "Itu tidak penting sungguh."
"Terima kasih!" Tao mendelik pada Minseok.
"Lu aku akan berpisah!" Dia mengadu.
"Berpisah? Jangan khawatir kita bisa berkumpul seperti biasa-"
"Bukan kita!" Potongnya. "Aku dan Yiyang." Tao berbisik padaku.
Tao mengerang frustrasi, menatapku seolah aku adalah orang yang bisa membantunya. "Dia masih SMA dan aku akan segera kuliah, bagaimana ini Luhan? Kenapa aku setua ini?"
"Jadi kau pikir itu masalah besar?" Tanyaku.
"Tidak," Tao merengut lucu. "Tidak untukmu, tapi Ya untukku!" Dia menghentakan kakinya.
"Kalau begitu tinggal kelas." Kataku sepontan dan berhasil membuat teman-teman tertawa.
"Gantikan posisi Baekhyun jika dia tinggal kelas!" Sahut Minseok.
"Oh brengsek kau Kim Minseok!" Umpat Baekhyun sebelum mengapit Minseok di ketiaknya.
Aku tertawa melihat Baekhyun dan Minseok, mereka terlihat tidak akur namun jauh dari apa yang terlihat mereka saling menyayangi dan peduli satu sama lain. Aku senang akhir-akhir ini Baekhyun terlihat lebih bahagia, sekarang dia jarang sekali mengeluh dan menjadi Baekhyun seperti saat pertama kali bertemu.
Beberapa dari kami mengabaikan Baekhyun dan Minseok, bahkan mereka pun mengalihkan mata mereka pada kedatangan Sehun dan Daniel. Sehun menatapku. "Ayah datang?" Tanyanya.
Aku mengangguk. "Ya dan Jihoon Juga." Jawabku.
.
.
.
Acara berjalan dengan lancar, semua temanku lulus aku sangat senang untuk itu. Minseok menangis, dia benar-benar menangis seperti bayi karena Daniel akan berkuliah di Amerika yang artinya mereka akan berpisah untuk waktu yang cukup lama. Aku pun akan menangis jika Sehun berada jauh dariku. Kami semua menenangkan Minseok, dia benar-benar seperti kehilangan separuh hidupnya.
"Daniel akan kembali, tenanglah Minseok." Jongdae mencoba membujuk Minseok agar berhenti menangis dan menahan lengan Daniel.
Mereka baru saja menjalin hubungan dan mereka seperti sudah bersama untuk waktu yang lama, entahlah sepertinya mereka benar-benar saling mencintai, Daniel begitu terluka ketika melihat Minseok menangis untuk kepergiannya. Lagipula masih ada satu bulan bersamanya, Minseok bisa memanfaatkan waktu itu.
"Apa aku harus kuliah di sana juga?" Minseok berkata dengan nafas yang tidak teratur, berusaha berbicara dengan keadaan masih dalam tangis.
"Jika kau bisa."
Baekhyun melihat ke arah lain dan bersiul ketika kami menatapnya tajam. Jongdae menghela nafas, sudah menyerah membuat Minseok melepaskan lengan Daniel. "Baiklah, selesaikan masalah kalian." Jongdae memberi isyarat untuk meninggalkan Daniel dan Minseok.
Kami semua kembali pada orangtua masing-masing mengingat acara telah selesai, kami akan pulang. Ngomong-ngomong, ada pesta malam ini di sekolah, aku tidak yakin aku bisa menghadirinya aku merasa tidak enak badan dan tak nyaman di perutku.
Tuan Oh pergi setelah mengucapkan selamat pada Sehun jadi di sini hanya ada aku dan Sehun juga supir yang tuan Oh panggil. Ugh, tentu Jihoon ikut bersama tuan Oh.
"Ingin pulang?" Tanyanya setelah kami duduk di kursi belakang.
"Hm," Jawabku dengan gumaman, menyandarkan kepalaku pada bahunya sembari mengusap perutku.
"Apa kau sakit?"
Aku mendongak, tersenyum lemah lalu menggeleng. "Aku hanya lelah-ahh!"
Aku meremat lengannya dengan keras, rasanya sakit benar-benar sakit!
"Se-Sehun, perutku sakit!"
.
.
END
.
.
Ada yang ingin ditanyakan tentang fanfiksi ini? berhubung ini sudah selesai saya akan menjawab semua yang kalian tanyakan disesi jawab (kalau banyak yang bertanya) barangkali ada yang kalian rasa janggal or something like that? So, put it your question on review.
Maaf untuk segala kekurangan dalam tulisan saya yang mungkin buat kalian gak nyaman saat bacanya, terima kasih!
