Chapter 10 On Sunday

Hari minggu. Hari yang di tunggu-tunggu semua orang. Hari dimana tak melakukan apa-apa adalah pilihan yang terbaik. Hari yang cocok untuk bermalas-malasan. Di hari minggu pagi, Tetsuya sibuk di dapur miliknya dengan bau ikan goreng yang sangat mengundang selera. sedikit suara 'pletok-pletok' kadang terdengar dan Tetsuya harus membentengi dirinya dengan tutup panci agar tidak terkena minyak panasnya. Ini sangat menjengkelkan memang. Tapi, ikan laut yang baru saja di beri Kise kemarin benar-benar terlihat enak.

Tuk-tuk-tuk, bunyi suara langkah yang sedang menuruni tangga. Pluk! Gubrak! "Tetsunaaaa…. Suara apa itu?" ucap Tetsuya kaget bahkan dari dapur suara nya pun terdengar. Tetsuya mengecilkan api nya dan menghampiri suara tersebut. "Ada apa denganmu?" gadis cantik dengan surai biru panjang nya tergeletak di bawah tangga sambil memegangi belakang kepalanya. "Pasti sakit." Tetsuna mengangguk. "Ada apa dengan mu pagi-pagi begini? Apa yang kau pikirkan sampai terjatuh dari tangga seperti ini?" Tanya Tetsuya lagi. Tetsuna malah mengucek matanya mencoba untuk melihat lebih jelas apa yang terjadi. Piyamanya telah kusut dan berantakan atas peristiwa pagi ini.

"Akashi-kun?" kini ucapan Tetsuna membuat Tetsuya bingung. Apa yang sebenarnya terjadi dengan adiknya. "Akashi-kun? Ada apa dengan nya?" Tetsuna masih dalam bayang-bayang mimpi. "Farella Uptocimus." Wuss angin datang dari arah depan dengan pintu yang membuka secara keras. "Apa-apaan kau pagi-pagi memanggil Akashi-kun kesini Tetsuna?" Tetsuya benar-benar bingung apa yang sebenarnya terjadi. "Ada apa memanggilku kesini?" Akashi tanpa memberi salam masuk seenaknya. "Eh? Akashi-kun? Apa yang kau lakukan disini?"Tetsuna baru tersadar setelah mendengar suara Akashi. Ia melihat dirinya sendiri sangat berantakan dan masih memakai piyama, benar-benar memalukan untuk dilihat.

"Bau apa ini Tetsuya?" Harum ikan gorengnya berubah menjadi bau gosong yang tak karuan karena terlalu lama ia tinggal. Tetsuya segera meninggalkan mereka berdua tanpa menjawab atau mengatakan apapaun. "Gawat." Tetsuya lari secepat mungkin untuk menemui ikan gorengnya yang sudah berubah warna menjadi hitam. Tepukan kecil di jidat dan sedikit desahan keluhnya membuat pagi indah di hari minggunya kacau. "Tetsuya-nii apa masakan mu gosong?" Tetsuya berbalik arah melihat dua orang yang sudah membuat moodnya menjadi buruk di hari yang cerah ini.

"Ini semua karena kalian. Kalian harus memakannya." Ucap Tetsuya tanpa jeda. Tetsuya agak merengut melihat ikan gosongnya. Sebelum Tetsuya ceramah panjang lebar, Tetsuna memilih untuk mandi dan segera bersiap untuk sarapan. Di meja makan kini ada Tetsuya, Tetsuna dan Akashi. "Ada apa dengan mu Tetsuna, di hari minggu pagi ini kau memanggil Akashi-kun?" ucap Tetsuya sedikit kesal. Karena tugasnya yang telah di rebut dari Tetsuya, rasa kesalnya masih saja membekas membuat Akashi yang terlihat tampan pun ingin di tamparnya bulak-balik. "Ah baiklah karena Kise yang memberikan ikan ini sepertinya ia harus ikut makan bersama kita." Tanpa persetujuan Tetsuya. Tetsuna menelpon Kise dan menyuruhnya untuk sarapan bersama.

"Apa kau tak senang dengan kehadiranku disini Tetsuya?" tanya Akashi menyulut emosi Tetsuya. "Tidak. Aku baik-baik saja. Tak senang atau pun marah. Kau hanya perlu memakan ikan gosong itu Akashi-kun karena ini semua salahmu." Ucapnya bernada kesal lagi. "Bisakah kau salahkan adikmu sendiri karena dia yang memanggilku secara mendadak pagi ini." Ting-tong. Lagi-lagi ada orang masuk tanpa permisi walaupun sudah memencet bel depan rumah. Kise tak lagi segan masuk rumah kembar bersaudara ini. Ia sudah menganggap ini rumah keduanya di dunia manusia. "Pagi… semuaaaa… Terima kasih telah mengundangku sarapan-ssu." Cerianya di hari minggu, berharap Kise bisa menebarkan keceriaannya di dapur Tetsuya ini. Tapi, sayangnya tidak, surai merah dan biru yang hampir kembar ini membuat suasana dapur sedikit mencekam.

"Duduklah Kise-kun, kita akan mulai makan." Tak banyak suara hanya sedikit cerita dari Kise masalah ikan laut yang ia dapatkan. "Benar-ssu. Ini kudapat dari manajerku karena aku sudah bekerja keras saat pemotretan di pantai kemarin. Karena terlalu banyak makanya ku berikan untuk Tetsuyacchi." Tetsuna menaggapi nya dengan berbagai pertanyaan. "Masakanmu cukup enak Tetsuya." Celetuk Akashi. "Apa itu hinaan atau pujian?" jawab Tetsuya tanpa menoleh. "Apa itu terdengar seperti hinaan? Bukankah jelas-jelas itu pujian." Sejak Akashi bicara, itu selalu membuat mood Tetsuya bertambah jelek.

"Hey bagaimana jika kita pergi hari ini? Ke taman bermain mungkin?" Ucap Tetsuna berusaha untuk mencairkan suasana. "Tidak mau." Ucap Akashi dan Tetsuya bersamaan. "Kise-kun apa yang harus kita lakukan agar mereka tak seperti ini terus?" Tetsuna agak berbisik pada Kise. "Mana aku tau Tetsunacchi. Aku pun tak tau bagaimana ini bisa terjadi." kepala kuning dan biru hanya bisa menggeleng lelah.

-0-

"Pada akhirnya hanya kita berdua yang pergi Tetsunacchi." Setelah pertengkaran tak jelas yang terjadi di dapur Tetsuya pagi ini. Setelah makan, Akashi lebih memilih untuk pulang tanpa berpamitan. Tetsuya lebih memilih untuk masuk kamar tanpa bicara apa pun. Tinggal Kise dan Tetsuna yang masih ada di meja makan. Mereka berdua memutuskan untuk menghirup udara segar di hari minggu.

Kise telah siap dengan levis hitam, kaus putih lengan panjang dengan rompi coklat dan topi yang sudah bertengger di kepala kuningnya. Sedangkan Tetsuna sudah siap dengan dress putih selutut dengan sepatu tali hitam yang simple.

"Bagaimana caranya membuat mereka menjadi akrab?" Tetsuna berulang kali mengucapkan itu sepanjang perjalanan. "Entahlah, aku juga tidak tau-ssu." Bertanya pada Kise? Jelas hal yang salah. Di hari minggu cerah kota Tokyo, sungguh pemandangan yang menenangkan melihat pejalan kaki dan kendaraan yang berkendara secara teratur. Setelah beberapa saat, Tetsunadan Kise memilih untuk bersantai di kafe pusat kota. Latte kesukaan Tetsuna setelah milkshake dan Kise yang tak mau kalah untuk memesannya, di temani sepotong kue yang cantik yang siap untuk di santap kapan saja.

"Ettoo.. Tetsunacchi sebenarnya ada hal yang ingin ku tanyakan," Kise sedikit menggaruk kepala nya yang sudah di pastikan tak gatal itu. "Apa itu Kise-kun?" Tetsuna tentu menjawab nya tanpa ragu. "Apakah saat kemarin kau ke rumah ku kau melihat buku saku kecil warna hitam dengan tinta emas mengkilat?" lanjut Kise mencoba untuk bersikap biasa.

'Ah apakah buku saku yang ku temukan kemarin?' dalam hati Tetsuna bicara, Tetsuna memutuskan untuk menggeleng dan berkata tak tau apa-apa. "Memangnya buku apa itu Kise-kun?" Tanya Tetsuna berpura-pura tak mengerti buku yang di maksud. "Ah tidak penting, itu hanya buku catatan kecil semacam diary begitu." Kise melambaikan tangannya bermaksud tak perlu memikirkan hal itu lagi. "Oh begitu. Ah Kise-kun aku ingin bertanya, kenapa tato di dada mu itu bergambar sayap? Dan sejak kapan? Kenapa agak memudar." Kise sedikit kaget dengan pertanyaan itu. Jelas-jelas ia tak ingin membahasnya.

Tapi, Kise berpikir berulang kali pasti Tetsuna akan terus menanyakannya jika ia tak menjawabnya dengan jujur. Terus terang mungkin adalah pilihan terbaik. Lagi pula Kise sudah dianggap keluarga oleh Tetsuna. Setidaknya jujur adalah hal yang harus dilakukan seorang keluarga kan. "Etto.. sebenarnya ini…." Tunjuk Kise ke arah tato sayapnya. Tetsuna memperhatikan baik-baik apa yang sebenarnya Kise ingin katakan. "Ini adalah tanda bangsawan di Kerajaan Veranda. Setiap anggota Kerajaan Veranda memiliki tanda sayap ini. Kami bangsawan iblis akan menerima tanda itu sejak lahir. Tanda itu akan muncul ketika kau adalah seorang bangsawan atau keturunan kerajaan." Tetsuna mengangguk-angguk mendengar penjelasan Kise.

"Rakyat biasa di dunia iblis pun mempunyai tanda tapi berbeda dari milik kami. Rakyat biasa memiliki tanda semacam api menyala di punggungnya." Tetsuna mengangkat tangan nya seakan ingin bertanya pada guru di kelas. "Aku ingin tanya. Tanda apa yang di miliki Akashi-kun? Lalu kenapa tanda milikmu memudar?" Kise agak merengut, menunduk dan kemudian menampakkan wajah sedihnya. "Akashicchi memiliki tanda yang sama denganku."

"Itu artinya Akashi-kun juga seorang bangsawan iblis." Selak Tetsuna membuat Kise kesal omongannya di potong begitu saja. "Etto.. maaf Kise-kun lanjutkan." Lanjut Tetsuna lagi. "Iya, Akashicchi juga seorang bangsawan tapi aku tak tau kedudukan apa yang di miliki Akashicchi di kerajaan veranda. Lalu masalah pudarnya tanda ini, sebenarnya aku telah membenci dunia iblis, aku lebih menyukai dunia manusia. Semakin aku membencinya semakin tanda ini akan pudar. Tapi, saat tanda ini pudar aku tak akan punya tempat untuk kembali." Jelas Kise panjang lebar. Tetsuna tak mengerti apa maksudnya kata-katanya yang terakhir.

"Apa maksudnya itu Kise-kun?" Kise hampir saja jatuh. Mata biru Tetsuya bertemu dengan cerahnya iris matahari Kise. "Tetsuyacchi apa yang kau lakukan disini? Bukankah tadi kau ada di rumah?" Tetsuya menggeleng. "Aku sudah disini sejak awal ceritamu." Keberadaannya begitu tipis sehingga adiknya pun tak menyadari kehadiran Tetsuya. "Hufft.. kau membuat jantungku hampir copot-ssu." Kise menghela napas. Berusaha menenangkan detak jantungnya dan mengatur nafasnya. "Lanjutkan cerita mu Kise-kun." Ucap Tetsuya lagi. Tetsuna tak ingin ambil pusing jika Tetsuya disini. "Sabar-ssu. Maksudnya saat tanda ini benar-benar hilang sepenuhnya aku tak akan di terima di dunia iblis dan tak bisa tinggal selamanya di dunia manusia. Apa kau pernah nonton anime Death Note, orang yang menggunakannya tak akan di terima di surga ataupun neraka. Mungkin semacam itu-ssu."

Tetsuna menyeruput latte nya. Cukup mencengangkan cerita ini. Tetsuna tak tau harus berkata apa. "Apa posisimu di kerajaan veranda Kise-kun?" Tetsuya memecah keheningan, pertanyaan nya tak tanggung-tanggung. Rasa ingin tau sudah menguasainya. Tetsuya benar-benar harus tau, ini mungkin saja bisa membongkar jati diri Akashi dan mengetahui tujuan sebenarnya datang ke dunia ini. "Etto…." Kise cengengesan sambil menggaruk belakang kepalanya yang pasti tidak gatal itu. "Haruskah aku mengatakannya-ssu?" ucap Kise lagi sambil malu-malu. Kembar bersaudara di hadapannya mengangguk dengan mantap ingin mengetahui sebenarnya siapa Kise di dunia iblis.

-0-

"Ah, apa yang akan ku lakukan di hari minggu ini ya?" Akashi bosan. Benar-benar bosan. Sejak kedatangannya beberapa bulan lalu, yang ia lakukan hanyalah mempelajari dunia manusia. Belajar dan terus belajar. Tak bedanya dengan kehidupan nya di dunia iblis. Ingin jalan-jalan tak tau ingin kemana. Terbang di langit pun mustahil pada saat siang hari sangat mencolok. Akashi lalu bersiap dengan pakaian kasual remaja pada umumnya dan memutuskan untuk jalan-jalan santai di sekitar kota. Pertengkarannya dengan Tetsuya selama beberapa hari ini membuatnya cukup pusing. Ia harus tiga kali berdiskusi dengan Tetsuya masalah tugas kelompoknya. Padahal karya tulis mereka sebenarnya akan siap dalam waktu cepat. Mungkin sehari atau dua hari jika Akashi dan Tetsuya tidak selalu bertengkar masalah pembagian tugas.

Tetsuya bersikukuh ingin mengganti dua puluh persennya pekerjaan Akashi dan itu sangat di sayangnkan. Tapi Akashi sadar jika ia menentangnya lagi, bisa-bisa seluruh tugasnya diganti dengan pekerjaan Tetsuya. Terik matahari cukup panas menyinari bumi siang ini. Akashi cukup menyukai udara di dunia manusia. "Segar sekali, walaupun ada sedikit polusi." Ucapnya sambil berjalan tak tentu arah.

"Hei, apakah aku harus meminta maaf pada Tetsuya karena perbuatanku kemarin." Akashi berpikir, ia tak ingin memiliki musuh di dunia ini. "Tapi bagaimana caranya? Apa aku harus membelikan sesuatu sebagai permintaan maaf." Manusia memang cukup rumit. Hanya hal-hal sepele saja bisa membuatnya begitu marah. "Tidak-tidak," Akashi menggeleng. "Dia pasti akan marah jika ku beri sesuatu dan pasti akan berkata 'memangnya aku seorang gadis kau beri hadiah segala sebagai permintaan maaf'" Akashi seakan ingin mengutuk dirinya sendiri.

Langkah nya terhenti saat melihat orang yang di kenalnya sedang duduk bersama. Kaca transparan yang memerlihatkan ketiga temannya sedang berbincang riang, melihat Kise tertawa juga membuatnya sedikit iri. "Akashi, apa yang kau lakukan disini?" seseorang dengan kacamata yang selalu ia benarkan padahal sebenarnya tak turun telah muncul di hadapannya. Surai hijaunya yang terlihat lembut bergoyang mengikuti arah angin. "Ah. Shintarou.. aku hanya sedang jalan-jalan." Midorima memberikan amplop dengan frame biru pada Akashi. "Ini benda keberuntungan mu hari ini. Tadi pagi aku melihatnya di oha asa." Lalu Midorima meninggalkan Akashi sendirian tanpa perlu mendengar jawaban Akashi.

"Apa ini?" Akashi membuka isinya. Ada sebuah surat dan ternyata isinya kosong. "Apa ini benar-benar tanda untuk ku agar meminta maaf pada Tetsuya?" Akashi berpikir sejenak sambil melihat kearah ketiga temannya.

-0-

"APAAAAAA?" Kembar bersaudara tersebut teriak bersamaan dengan Tetsuya yang tetap saja tanpa ekspresi. "Apa kau serius Kise-kun?" Tanya Tetsuna lagi tak percaya. "Aku tak bohong Tetsunacchi. Kali ini aku benar-benar tak bohong."Kise berusaha terlihat tertawa dengan mata yang tertutup. "Jadi selama ini kau adalah seoran g pangeran di kerajaan veranda?"

"Lalu apa yang membuatmu meninggalkan kehidupanmu sebagai pangeran disana?" Tetsuya benar-benar kepo hari ini. Ia ingin mengetahui semuanya dengan paksa. "Etto… Haruskah aku ceritakan bagian ini juga?" Tetsuna bilang tentu saja Kise harus membagi kebahagiannya pada temannya. Padahal ini adalah kisah yang benar-benar tak ingin di ulang lagi oleh Kise. "Baiklah tapi berjanjilah kalian tidak akan menyelak saat aku cerita ya-ssu."

-0-

"Kerajaan veranda memilih seorang pangeran bukan berdasar darah keturunan kerajaan tapi berdasar kemampuan yang di miliki pemuda yang memiliki tanda sayap di dadanya tentu saja harus seorang laki-laki, Saat itu entah kenapa aku terpilih sebagai pangeran kerajaan veranda secara mendadak. Sebenarnya aku pun tak mau menjalani kehidupan seorang pangeran karena aku tau itu akan menjadi sangat sibuk-ssu. Tapi keluarga ku tetap memaksa ku untuk menerima tawaran kerajaan karena dengan begitu keluarga ku juga akan selalu mendapat fasilitas kerajaan layaknya seorang bangsawan-bangsawan lain.

Kau tau? Dalam keluargaku hanya aku yang mempunyai tanda sayap ini entah mengapa aku pun tak mengerti. Jadi keluargaku yang lain sebenarnya di pandang sebagai rakyat biasa maka dari itu aku tetap menerima tawaran kerajaan. Awalnya aku menikmati peranku sebagai seorang pangeran. Tapi suatu hari, aku benar-benar menyesal-ssu aku menerima tawaran tersebut.

Saat itu diadakan pesta dansa untuk melantikku sebagai pangeran. Aku dan kedua kakak ku sangat senang. Bahkan mereka loncat kegirangan karena memakai gaun kelas atas yang di sediakan kerajaan. Maka itu kami berfoto untuk mengenang hari pelantikanku di taman bunga dengan pakaian terbaik kami.

Setelah berfoto tiba-tiba saja ada yang menembak kedua kakak ku dengan alat khusus. Kau tau kami bisa mati dengan alat khusus yang jika ku sebutkan kalian pun tak akan mengerti. Saat itu benar-benar mengerikan. Kerajaan bagai di terror, aku sungguh sedih saat kedua kakak ku mati di hadapan ku tanpa tau siapa yang membunuhnya. Aku mencoba melarikan diri dari kerajaan agar tak terbunuh. Sejak saat itu, terus saja ada kejadian aneh yang bisa saja membahayakan nyawaku.

Aku benar-benar putus asa. Keluarga dibantai habis tanpa tau siapa yang melakukan itu. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke dunia manusia dan terjadi lah insiden kecelakaan keluarga Tetsuyacchi.

Saat itu aku sangat iba melihat Tetsuyacchi dan Tetsunacchi. Aku melihat kalian seperti melihat diriku sendiri. Jadi aku memutuskan untuk merawat kalian dan mengabdi pada kalian sambil menebus dosaku pada kalian."

-0-

"Ya, begitu lah ceritanya-ssu, sangat panjang bukan?" Kise berusaha untuk tak terlihat sedih. "Apakah sejak saat itu kau membenci dunia iblis?" Mulut Tetsuya hari ini benar-benar harus di kunci. Tetsuna hampir saja memukul kakak nya agar tak bicara sembarangan. "Ya dan sampai saat ini aku tidak tau siapa pelakunya." Ucapnya pelan.

"Kise-kun, kau boleh main kapan saja ke rumah kami, kau boleh makan apa saja yang ada di rumah kami." Tetsuna benar-benar berusaha menghibur Kise. Tapi Kise malah tertawa setelah mendengar perkataan Tetsuna. Dari jauh terlihat surai merah, mendekati ketiga orang yang sedang bersantai kini.

"Ada apa dengan wajah kalian? Sangat aneh." Akashi benar-benar tak berbasa-basi. "Akashi-kun? Untuk apa kau kesini?" Tetsuna sedikit kaget dan coba merapihkan dress dan rambutnya. "Hufft.. bisakah kau tak membuatku marah Tetsuya. Aku kesini untuk meminta maaf padamu." Tetsuya sedikit bingung. untuk apa iblis sombong ini meminta maaf. "Akashi-kun, aku punya permintaan. Bisakah kau mengabulkannya? Dan sebenarnya aku tak ingin kau menolaknya."Tetsuna tiba-tiba memotong pembicaraan.

"Apa yang ingin kau minta Tetsuna?" Tetsuya tak suka jika Tetsuna berhubungan dengan Akashi apalagi ini menyangkut kontraknya. "Apa itu? Katakan saja. Memang sudah tugasku untuk mengabulkan semua permintaanmu." Tegas Akashi.

"Aku ingin kau dan Tetsuya-nii tak pernah bertengkar lagi." Yang namanya di sebut pun terlonjak. "Permintaan macam apa itu Tetsuna? Aku tak bisa mengubah perasaan atau hati seseorang."

"Jika tak bisa gunakan dengan usahamu sendiri Akashi-kun." Simpang empat terlihat di kening Akashi. "Kurasa aku tak mungkin bisa akur dengan Akashi-kun."

"Hey, Tetsuya bukankah ini permintaan adikmu sendiri?" Tetsuya menghela nafas. "aku berjanji aku akan memaafkanmu dan tak akan bertengkar lagi dengan mu jika kau mau menjawab semua pertanyaanku." Kise merasa kan firasat buruk. Sepertinya kata-kata Tetsuya hanya akan membuat Akashi kesal lagi. Kise memilih diam dan memperhatikan.

"Aku tak akan menjawab jika itu membahas masa laluku."

"Kau tak bisa memutuskan secara sepihak begitu Akashi-kun. Bukankah kau sudah berjanji tadi?"

"Hah? Bukankah kau yang memutuskan nya secara sepihak? Lagipula aku tidak berjanji Tetsuya. Jangan suka mengarang sesukamu."

Tetsuna menepuk keningnya. Harusnya ia tak usah meminta hal semacam itu. Dan beginilah akibatnya. Bukannya tambah baik malah sebaliknya.

"Kenapa kau keras kepala sekali Akashi-kun?"

"Bukankah kau yang keras kepala Tetsuya. Yang selalu ingin mengetahui urusan orang lain?"

"AKASHI-KUN, TETSUYA-NII BERHENTIIII… " Teriak Tetsuna membuat beberapa pelanggan di kafe tersebut menengok. "Bisakah kalian tidak bertengkar di tempat umum. Terkadang aku malu pergi dengan kalian."Kise tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Tetsuna yang putus asa. Semuanya diam kecuali Kise yang tak berhenti tertawa. Tetsuna mencubit kecil paha Kise yang membuat Kise sedikit menjerit. "Aw,, sakit Tetsunacchi. Bisakah kau sedikit lemah lembut tanpa ada kekerasan?"

"Kenapa kau selalu mendramatisir kata-kata mu Kise-kun?" Tetsuna tak tahan dengan tingkah dramanya Kise.

"Sama seperti Akashi-kun yang selalu mendramatisir keadaan." Tetsuya membuka mulut lagi. Akashi mencoba untuk tak menyahuti Tetsuya. Tak ada yang menyahut. Semuanya terdiam memilih untuk diam daripada memulai perang argument lagi. Tetsuna menyeruput latte nya lagi dan nihil ternyata hanya ruang kosong yang ada. Satu gelas latte habis dengan akhir perbincangan yang tak menyenangkan.

"Hufft… maafkan aku Tetsuya. Tanya lah aku sesuka hatimu aku akan menjawab." Tak ada angin tak ada hujan. Akashi meminta maaf dan mengikuti semua permintaan Tetsuya. "Sudahlah Akashi-kun moodku hari ini benar-benar rusak. Mungkin aku akan menanyaimu lain waktu. tapi kau harus tetap menjawabnya dengan jujur. " dengan jawaban yang di berikan Tetsuya setidaknya, ia tak harus mengakhirinya dengan perang.

-0-

Dapur Tetsuya masih saja tercium bau gosong ikan gorengnya tadi pagi. Dan ini mengingatkannya akan ulah Akashi yang pagi-pagi telah mengacau di rumahnya. Tetsuya dan Tetsuna masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan tubuhnya. Perjalanannya hari ini yang hanya duduk di kafe seharian dan mendengarkan cerita panjang lebar dan bertengkar dengan Akashi juga membuatnya lelah.

Setelah mandi Tetsuna berencana untuk membaca buku saku yang ia temukan di rumah Kise kemarin. Tapi, setelah di cari di seluruh tas nya, buku saku itu tak di temukan. Tetsuna harus mencapai tiga kali untuk mengobrak-abrik isi tasnya dan bahkan untuk memeriksa rak bukunya tapi tetap tak di temukan. "Dimana aku menaruhnya?" Tetsuna panik. Itu mungkin saja hal yang berharga untuk Kise, padahal Tetsuna berencana setelah membacanya akan langsung mengembalikannya. Jika hilang begini. Ia akan sangat merasa bersalah pada Kise.

-0-

Setelah mandi Tetsuya mengunci kamarnya rapat-rapat. Mencoba menahan siapapun yang akan masuk ke dalam kamarnya. Buku saku yang di curinya tadi pagi dari kamar Tetsuna ia keluarkan. Melihat lekat-lekat tulisan apa yang ada di dalamnya tapi setelah di lihat ternyata. Zonk! Tetsuya tak mengerti apapun. "Tulisan apa ini?" ucapnya pelan.

Bruk! Bruk! Bruk! Seseoran menuruni tangga dengan cepat. Tok! Tok! Tok! "Tetsuya-nii, Tetsuya-nii buka pintunya.. "

"Ada apa Tetsuna?"

"Aku kehilangan buku saku kecil warna hitam apa kau melihatnya?"

"Etto..."

"Itu diaa,,, kenapa kau mengambilnya Tetsuya-nii..."

"Sebenarnya... pagi itu aku masuk kamar setelah bertengkar dengan Akashi dan kau dan Kise pergi jalan-jalan. Jadi aku memutuskan untuk mengerjakan tugas. Tapi ada beberapa hal yang tak ku mengerti. Ku pikir kau mempunyai jawaban jika ku cari di rak buku mu. Tapi, saat aku masuk ke kamar mu, buku saku hitam itu menyembul keluar dan menarik perhatian ku. Akhirnya ku simpan buku itu dan pergi menyusulmu karena rasa bosan. Tapi ternyata setelah ku buka, aku tak mengerti tulisan apa itu" jelas Tetsuya panjang lebar.

"Kembalikan padaku Tetsuya-nii.. buku itu sangat penting."

"Tidak akan Tetsuna, aku tau ini berhubungan dengan Kise-kun atau Akashi-kun."

"Tidak Tetsuya-nii kau harus benar-benar mengembalikannya."

"Tidak Tetsuna. Sebelum kau membacakan isi buku itu padaku."

"Baiklah aku bersedia Tetsuya-nii."

Notes :

Yatta Ch 10 selesai-ssu. Aku tak tau berapa chapter jadinya si Akashi iblis ini. Semoga cepat selsesai ya karena aku juga udah gereget endingnya kaya gimana wakakak Buat yang penasaran sama masa lalu akashi tetap stay tune yaa xD dan wah ada yang minta shonen ai gomennnnn aku ga bisa bikin cerita seperti itu otak nya belum nyampe wakakak gomen