Nabila : Minna-san! Maaf atas keterlambatannya! Ternyata, tugasnya numpuk 2x lipat! Ulangan harian 3 kali berturut-turut di 4 mata pelajaran! *stress

Ok! Kita lansung aja ke story!

Naruto dan serialnya sepenuhnya milik Masashi Kishimoto-sama !

Peringatan : OOC, OC, GaJe, TYPO(s), puitis (gagal), alur gak beres, latar gak jelas, author sebleng, genre yang (sangat) mungkin tak sesuai, dan kelainan sejenisnya.


.

.

.

"Uh.." Naruto sedikit mengucek matanya pelan. Mencoba mengembalikan kefokusan penglihatannya. Baju kaos hitam lengan pendeknya terlihat basah karena keringat. Sedangkan celana orange nya terlihat kusut. Dia melihat sekelilingnya. Pintu, lemari, dan jendela. Sedikit meraba alas tidurnya, itu kasur.

"Aku seperti bermimpi buruk," gumannya sembari mengacak rambutnya sendiri "tapi lupa."

"Baka." Ejek sebuah suara dari alam bawah sadarnya. Tentunya, itu Kyuubi, rubah ter-unyu di Konoha. #ditikam.

"Jangan mengejekku, bola bulu!" bentak Naruto kesal pada Kyuubi yang malah asyik duduk bersila sambil menjilati tubuhnya (mandi). "Tapi, sepertinya mimpi yang benar-benar buruk sih. Hah! Entahlah!" omongnya pada diri sendiri. Kyuubi sweatdrop.

"Kau tahu sesuatu, Kurama?" tanya Naruto lagi. Kyuubi menghentikan acara 'mandi' nya itu. Lalu terlihat berpikir.

"Entahlah. Tadi malam aku memutus kontak pikiran dan indra kita" jawabnya santai.

Hening sesaat.

"EH?!" jerit Naruto gaje "Memangnya bisa?!" bingungnya.

Kyuubi menyeringai merendahkan. "Tentu saja bisa. Kau pikir kenapa aku bisa tidur tenang saat otakmu berpikir?" ejek Kyuubi lagi.

Naruto cengong. "Aku baru tahu." Sesalnya gak perlu "Seharusnya kau melakukannya saat aku sedang-"

"-berpikiran mesum saat melihat majalah dewasa di toko buku kemarin malam" sambung Kyuubi.

"EH?!"

Sementara Naruto asyik berdebat dengan patner raksasanya, Chimaru terlihat berdiri mematung didepan pintu kamarnya. Tatapannya kosong. Sesaaat kemudian, dia menarik napas panjang.

Braaaak!

"Uwaaaa!" jerit Naruto, terjatuh dari kasur kesayangannya. Dan kembali berciuman HOT dengan lantai.

Chimaru menatapnya kesal "Ini sudah jam setengah 9!" bentaknya "Katanya mau mengantar Sakura-san?!"

Naruto menepuk jidatnya –entah gimana caranya, mengingat dia masih nempel dilantai- lalu berdiri. Tanpa pikir panjang, dia langsung membuka bajunya.

"Kyaaaaaaa!" jerit Chimaru gaje sambil menutup wajahnya, yang membuat Naruto jijik. "Dasar, baka! Aku masih dibawah umur!" bentak Chimaru lagi sambil membanting pintu dengan keras.

Naruto cengong. Lalu memperhatikan tubuhnya yang bertelanjang dada. "Memangnya apa hubungannya?" herannya polos. Naruto, umurmu itu berapa sih?! Masih aja dobe. Ckckck…

Lalu,

"Nah! Sudah selesai!" ucap Naruto senang, memandang pakaian ninjanya yang terlipat rapi di meja. Juga kantong senjata yang berisi lengkap. Dan 2 pelindung kepala. Yang satu punyanya. Dan yang satu milik Neji.

Baju yang dipakainya, ya, baju santainya. Baju kaos hitam oblong lengan pendek dan celana orange nya. Entah karena suka sama tuh baju atau karena gak ada baju lain, yang dipakai itu itu aja.

Naruto tersenyum lega. Lalu melihat jam dindingnya.

Hening…

"APA?! SUDAH JAM SETENGAH SEPULUH?!"

:)

Skip Time

Naruto sedang berjalan terburu-buru disepanjang jalan. Diikuti Chimaru, yang berpaikan baju hitam lengan pendek dan bercelana putih selutut, dari belakang.

"Sial, kesiangan, ttebayo!" kesal Naruto sebal (?)

Hal itu menyebabkan Chimaru bersumpah serapah gaje "Salahmu karena bangun kesiangan, Naruto-sama!" bentaknya. Dan yang dibentak hanya berguman gaje. Gak dengar bentakannya mungkin.

Dari kejauhan, Naruto dapat melihat gerbang desa. "Sakura-chan…, sepertinya, hah, belum da.., tang…" ucap Naruto sedikit terengah-engah saat sudah sampai di depan gerbang.

Sedang Chimaru sedang mengajak ribut dua orang penjaga gerbang yang legendaris, Izumo dan Kotetsu. #legendaris dari mana tong?! *lempar sandal#

"Ohayo,Kotetsu-sama, Izumo-sama!" sapanya keras. Membuat dua penjaga kesanyangan kita ini terkejut dan membuat posisi siaga.

"Kau…" geram Kotetsu murka. "Baru saja bebas, kau muncul lagi!"

Izumo hanya menghela napas, lalu menepuk pundak Kotetsu "Tenanglah, yang penting kita tidak perlu lagi mengawasinya" ceramahnya, membuat Kotetsu yang tadinya pingin ngamuk, jadi tenang.

"Mengawasi?" heran Naruto yang tiba-tiba muncul. Mereka bertiga terdiam.

"Kau tidak tau, Naruto(-sama)" tanya mereka bertiga tak percaya. Hello, diakan Ninja yang telah menyelamatkan dunia Shinobi? Sannin terhebat? Jinchuuriki Kyuubi terkuat? Kenapa bisa kudet?

Naruto hanya cengengesan gak berdosa. "Oh, iya. Yang kuingat di surat itu, katanya kau tidak bisa keluar karena rumahku disegel. Lalu?" tanyanya heran.

"Akan aku ceritakan…" ucap Izumo cepat saat melihat perempatan amarah terpampang jelas di dahi Kotetsu. "dua hari yang lalu…"

'-')

Flash Back On

"Ah, panas sekali…" keluh Kakashi dari sebuah ruangan. Ruangan yang tidak asing. Ruangan khusus para pemimpin desa.

Yup, dia sedang berada diruang Hokage dan sedang berdiri santai di depan meja Hokage, membelakangi meja istimewa itu dan membaca laporan sialan yang gak habis-habis.

"Oh, Kotetsu, Izumo, ada apa ya?" tanya Kakashi pada sepasang patner yang muncul secara tiba-tiba dihadapannya. Diletakkannya kertas laporan yang sedari tadi dibacanya ke meja.

Kotetsu dan Izumo yang baru saja datang menampakkan wajah lesu dan kecapean? Entahlah.

"Kakashi-san…" ucap Izumo pelan "kami punya permintaan"

Kakashi menaikkan sebelah alisnya bingung. "Permintaan?" tanyanya.

"Tolong-"

"Kami memohon untuk membatalkan misi untuk mengawasi Chimaru" potong Kotetsu. Kakashi terdiam.

"HAH?!" kejutnya. OOC ? gak, itu emang sifat aslinya yang terpendam. Gak percaya? Ya udah. Author juga gak percaya. #jangan ganggu jalan cerita npa?! *lempar kapak#

Hening~

Kakashi berdehem. Mencoba mengembalikan image-nya yang sempat ternoda tadi. "Kenapa?" tanyanya gak jelas.

"Aku sudah tidak kuat lagi" balas Kotetsu yang ternyata paham dengan perkataan yang Kakashi ucapkan. Ajaib!

"Ehm…" Kakashi sedikit berpikir. "Baiklah" putusnya "Aku akan mengurusnya."

Kotetsu pun merasa sedang terbang ke langit ke delapan. #eh?

Izumo hanya menghela napas lega.

"Kita ketempat Naruto" titah Kakashi. Dan mereka pun pergi ke rumah Naruto dengan santai.

.

.

.

Sesampainya dirumah Naruto….

"Permisi…" ucap Kakashi sopan sambil mengetuk pintu.

Kotetsu dan Izumo sweatdrop. Kan Chimaru itu dikurung? Terakhir yang mereka tahu (awasi), Naruto mengunci rumah dari luar.

Jadi, ngapain diketok?

"Tidak ada kunci rumahnya!" terdengar sebuah teriakkan keras dari dalam. Mereka yakin, itu suara Chimaru.

"Oh, iya…" ucap Kakashi dengan watadosnya. Kotetsu pun berniat untuk headbang ke dinding terdekat sebelum dihalangi oleh Izumo.

Izumo, kau penyabar.

Kakashi merongoh sakunya, dan keluarlah sebuah kunci pintu yang berbentuk seperti kunci. #digiling

Clek …

Pintu terbuka dan memperlihatkan Chimaru yang sepertinya sudah lama bertengger di depan pintu.

"Ada apa?" tanyanya sewot.

"Hanya mampir" ucap Kakashi dan mendapat deathglare panas dari Kotetsu. "Boleh masuk?" tanyanya sopan, salah tuan rumah.

"Terserah" balas Chimaru lalu menatap Kotetsu ramah "Ohayo, Kotetsu-sama!"

Perlahan senyuman Chimaru berubah menjadi seringaian jahil. Membuat Kotetsu sebal dan malu mengingat kejadian 'itu'.

Apa yang sebenarnya terjadi antara Kotetsu dan Chimaru? Entahlah, author malas ceritain, terlalu absurd soalnya. #trus yang lu tulis ini gak absurd?!

"Tandaima" ucap Kakashi gaje.

"Okaeri" balas Chimaru ikutan mabok.

Izumo sweatdrop angkut.

Diruang tengah…

Kakashi berdiri dibelakang Chimaru yang duduk bersila. Tarik napas, keluarkan.

Fuin : Pembatas Tubuh.

Seketika Chimaru merasakan panas di daerah bahu kanannya. Perih.

"ukh.." keluhnya. Tubuhnya melemah. Hampir saja dia ambruk, kalau saja Izumo tidak menahannya.

"Nah, selesai" ucap Kakashi kemudian, duduk bersila santai.

"Maksudnya?" tanya Kotetsu.

Kakashi berpikir "Bagaimana cara menjelaskannya ya…" ucapnya gantung "Yang pasti, sekarang Chimaru bisa bebas pergi kemanapun, kecuali keluar desa tanpa seizinku. Dia juga tak bisa menggunakan jutsu" jelasnya.

"Memangnya ada segel jenis itu?" penasaran Izumo.

"Yah, sensei baru mengajariku waktu itu" ucap Kakashi enteng "Dan ini fuin khusus. Jadi hanya bisa digunakan 2 kali dalam seumur hidup penggunanya"

Hening….

"Lalu kau mengorbankan 1 dari 2 kesempatan itu, hanya untuk bocah ini?!" bentak Kotetsu dan Izumo. Chimaru hanya melet ria. Gak terima dengan perlakuan Kakashi.

Kakashi nyengir. "Ya…, begitulah…" balasnya watados

'Aku ada firasat bahwa anak ini memiliki kekuatan besar yang tidak biasa. Anggap saja ini sebagai jaga-jaga. Bukan tidak mungkin kan, dia akan berniat menghancurkan desa?' batinnya waspada. 'Anak ini terlalu misterius'

Chimaru terdiam dan tertunduk, melirik Kakashi tajam. 'Sepertinya dia menyadari sesuatu.' Batinnya.

"Huwaaaa!" teriak Chimaru, membuat Izumo sontak melepas penahanannya padanya tadi, kaget. "Tanggung jawab!" geramnya gaje.

Semua yang ada disana pun mengernyitkan alisnya bingung. Kakashi hanya meletakkan segel kan? Tidak, -ehm, yah, walau gak mungkin– menghamilinya, kan?

Ok. Pikiran mereka mulai sinting. Mulai sinting.

"Kalian tau?" terang Chimaru "Gara-gara perlakuanmu tadi, aku jadi lapar lagi!"

Hening…

"Ya sudah…" hela Kakashi lelah "Pergi sana ke Ichiraku!" titah Kakashi kepada Chimaru.

Dan langsung mendapat tatapan membunuh dari Kotetsu, dan tatapan "Kau akan membiarkannya berkeliaran?!" dari Izumo.

Cuek bebek, Chimaru langsung menerjang tasnya dan mengambil baju ganti. Yah, baju polos hitam lengan pendek dan celana putih pendek selutut. Gak modal. Masa pakai baju itu lagi?

Dan, pergilah Chimaru tanpa salam. Menuju Ichiraku.

Tertinggallah Kakashi, Kotetsu dan Izumo yang berada dalam keadaan yang mengerikan.

Ah, masa? Gak juga.

Cuman eneg aja.

"Jadi, sekarang apa?" tanya Izumo, menyikut Kotetsu yang asyik bersumpah serapah dalam duduknya (?)

"Jangan tanya aku!" bentak Kotetsu, membuat Izumo cengong dalam duduknya (?)

"Yare yare…, sepertinya aku akan terlambat untuk menemui Sai dan Yamato" guman Kakashi dalam du- #dibakar

Dan, begitulah, akhirnya 3 manusia nan absurd tadi pun pergi dari rumah Naruto, tak lupa mengunci pintu.

Tamat.

Flash Back Off

('-'

"Owh….," kagum Naruto gaje. "Jadi itu alasannya, kenapa Kakashi-sensei datang terlambat" mangutnya ngerti. Tumben.

"Betul." Pembenaran dari Chimaru. "Yah, walau sebenarnya aku gak cuman ke Ichiraku sih…'

"Sedang apa kalian disini?" suara datar pun terdengar dari belakang mereka. Naruto dan Chimaru membalikkan badannya dan melihat sosok wanita yang ditunggu dari tadi.

"Sakura-chan!/Sakura-san!" sambut keduanya serempak.

"Hn." Balas Sakura gaje.

'Ya ampun! Terlalu datar! Dia pasti lagi galau berat' batin Naruto prihatin. Salahkan Sasuke yang pergi seenaknya setelah perang.

"Ya sudah kalau begitu" ucap Sakura. Naruto berbinar-binar. Sakura ngomong duluan? Berarti sudah kembali seperti semula dong!

"Aku izin keluar desa untuk misi. Kotetsu-san. Izumo-san" salam Sakura lalu berjalan melewati naruto yang terlihat kehilangan roh. Galau.

Kotetsu dan Izumo cengong. Lalu menahan tawa.

"Tu- tunggu dulu! Sakura-chan!" sergah Naruto. Sakura berbalik dan menatap heran kearahnya.

"Ganbate!" sorak Naruto dan Chimaru berbarengan di iringi gerakan-gerakan penyemangat, yang malah membuat Sakura jijik pingin muntah.

"Terserah" ucap Sakura datar. "Aku pergi" salamnya.

Naruto senyum gaje. Chimaru facepalm, baru sadar, kenapa dia tadi ikutan?

Beberapa detik berlalu, setelah memastikan Sakura telah pergi, Naruto pun berbalik.

"Nah, bo- Chimaru, kau ikut pulang?" tanya Naruto membuat Chimaru tersentak.

Pulang?

Apa itu berarti, Naruto menerimanya?

"Woi!" sahut Naruto membunyarkan lamunannya.

"Ehm, mungkin nanti." balas Chimaru enteng. "Aku akan jalan-jalan dulu"

"Terserah" ucap Naruto cuek. Lalu menghilang dalam sekejap. Chimaru hanya berjalan dalam diam. Entah menuju kemana.

Izumo dan Kotetsu? Entahlah, mereka asyik berkutat dengan kertas-kertas yang-tidak-diketahui-asalnya di pos mereka.

Chimaru berlalu melewati beberapa toko bunga. Sesekali dia berhenti dan melihat-lihat bunga-bunga disana.

"Ehm, apa tulip merah tidak ada?" tanya Chimaru pada seorang wanita tua pemilik salah satu toko bunga disana.

"Maaf, tapi perang baru saja selesai." Ucap wanita itu ramah "Jadi, pengiriman beberapa stok bunga tertunda. Begitu juga dengan tulip" jelasnya.

Chimaru mangut. Matanya dengan cermat memandang semua bunga yang ada disana. Memutar matanya kesana kemari. Lalu memutar sedikit kepalanya untuk melihat beberapa toko lain. Tiba-tiba pergerakannya terhenti saat melihat seorang gadis kecil berambut hitam, yang terlihat murung, sedang berjalan tak bersemangat.

Chimaru mengulas senyum tipis dan berjalan santai kearahnya. Nampak gadis itu tak menyadari keberadaan Chimaru.

"Sedang berbelanja, nona?" tanya Chimaru genit sambil nyengir.

Gadis tadi terkejut dan menatap Chimaru horror "Chi- Chimaru-san?" kejutnya.

"Kenapa?" cemberut Chimaru "Memangnya aku terlihat seperti hantu, hah, Konata?" semburnya pada gadis tadi yang ternyata adalah Konata.

Konata menggeleng pelan. "Ada yang ingin aku bicarakan" ucapnya serius.

Chimaru terdiam sebentar, lalu tersenyum tipis. "Baiklah, tapi jangan disini." Ucapnya "Ditempat yang lebih tepat" tambahnya lagi.

Konata hanya mengangguk setuju. Chimaru pun berjalan berdampingan dengan Konata dalam diam.

'Ingatannya kembali terlalu cepat' batin Chimaru.

.

.

.

"Yup! Selesai!" sahut Naruto senang. Sekarang dia sudah berpakaian ninjanya lengkap. Celana, baju, kantong senjata, dan pelindung kepalanya. "Yosh! Waktunya berangkat, dattebayo!"

Dia pun menghilang cepat dengan teleportasinya. Meninggalkan rumahnya yang kosong. Telihat pelindung kepala milik Neji yang terletak rapi di atas mejanya.

'Aku akan memberikannya pada Hinata-chan nanti'

Sekejap, Naruto kembali berada di gerbang desa. Setelah berijin kepada Kotetsu dan Izumo, Naruto langsung melesat pergi.

.

.

.

Sakura melompati cabang ke cabang dengan gesit. Ada perasaan khawatir yang menerjangnya. Entah mengapa ia merasa khawatir.

"Akh! Kuharap itu bukan hari ini!" ucapnya frustasi. Dia makin mempercepat pergerakkannya. Terburu-buru.

'Jika kalian bertarung hari ini, kalian akan tahu akibatnya!'

.

.

.

Naruto melompat dengan riang dari satu cabang ke cabang lain. Bersenandung tidak jelas. Terlihat sekali kalau dia sedang senang dan bahagia.

"Akhirnya, hari ini datang juga!" ucapnya senang.

'Jangan sampai kau melakukan hal bodoh nanti' nasehat Kurama dari pikiran Naruto.

"Diam, dan lihat saja, bola bulu!" ejek Naruto, walau dia yakin, setelah ini dia akan dilumat oleh Kurama.

'Aku datang, Sasuke!'

.

.

.

Mungkin dulu, dial ah yang selalu ditunggu.

Tapi sekarang lain.

Dialah yang saat ini menunggu.

Menunggu penyelamat hidupnya, yang sebentar lagi akan datang.

Rival abadi sekaligus sahabatnya.

Sasuke duduk tenang di salah satu cabang pohon. Dia mengukir senyum yang sangaaaaaaaaat tipis. Dia memikirkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.

'Setelah ini, apa aku akan kembali ke sana? Tempat dimana aku selalu bertengkar dengan Naruto. Tempat dimana aku selalu memandang rendah Kakashi. Tempat…, dimana aku melihatnya tersenyum dan mengkhawatirkan ku.'

.

.

.

"Jadi, Juugo, sedang apa kita disini?" tanya Karin kecut, memandang masam kearah Juugo yang asyik bermain dengan seekor tupai.

"Aku tidak tahu" balas Juugo datar. Karin hanya berdecih.

"Hei, untuk apa kita ke tempat ini?" tanya Suigetsu lagi "Apakah tidak aneh, jika Sasuke menyuruh kita untuk berkumpul di tempat ini?"

Semua hanya diam.

.

.

.

"Jadi, Konata, ada apa?" tanya Chimaru.

Sekarang, dia dan Konata duduk dibawah pohon rindang. Entah dimana.

Wajah Koanta terlihat ketakutan. Seperti baru saja mengalami trauma. Tapi, Chimaru sama sekali tidak terlihat khawatir. Dia hanya tersenyum tipis, seperti tak terjadi apa-apa.

"A.. aku.." gagap Konata. Chimaru menghela napas dan menepuk pundaknya.

"Tak apa. Aku juga tahu bagaimana rasanya." Chimaru tersenyum "Trauma akan kejadian yang mengerikan itu."

Chimaru hanya bisa memakluminya. Konata saat itu baru berumur 9 tahun, wajar jika dia ketakutan saat mengingat kembali peristiwa mengerikan 'itu'.

Konata tertunduk "Tapi.., kenapa?" air matanya turun dengan deras. "Aku takut..." ucapnya getir. Dia memeluk kedua lututnya, berharap memori itu akan hilang.

"Misi…" lanjutnya "Menghancurkan, sebelum dihancurkan …"

Chimaru menatapnya sendu. "Kita bisa melakukannya," ucapnya sembari menepuk kepala Konata, mencoba menenangkan "misi ini akan berhasil."

Konata mengangguk. Tangisnya makin keras. Chimaru hanya bisa mengelus pundaknya dan mengatakan hal yang mungkin bisa mendukung dan menenangkannya.

"Kita…," Chimaru menggenggam kedua tangan Konata erat "punya kekuatan yang cukup."

Konata menghentikan tangisnya, walau masih terisak.

"Tapi..," Konata masih ragu, Chimaru melepaskan tangannya, membiarkan Konata bergerak lebih bebas "apa kita harus melibatkan mereka?"

Jujur, Konata ragu akan semua yang dia lihat dalam memorinya. Tapi tidak dengan Chimaru. Wajahnya tampak tenang, tidak ada keraguan yang terlihat.

"Ya." Ucapnya datar "Mereka semua. Para Ninja Konoha."

Kali ini Konata mengangguk mantab. Sekarang dia yakin atas keputusannya.

.

.

.

"Kufufufu…" suara tawa kecil terdengar dari sebuah gua. "Ini akan menarik"

Suara itu makin terdengar jelas. Suara tepakan kaki pun terdengar menggema. Lalu, terlihat seseorang berjubah hitam dengan topeng macan, keluar dari gua itu.

"Invansi Konoha." ucapnya entah pada siapa "Membutuhkan persiapan yang lama."

'Bersiaplah, dunia Shinobi. Akan terror yang tidak kalian duga.'

.

.

.

TBC


Hening~

Masih hening~

Tetap hening~

Kok masih hening?!

Nabila : Hah.., akhirnya, lolos juga dari kejaran tugas sialan.

Ekfin : ehm, selamat.

Nabila : nee-san?!

Ekfin : hm.

Nabila : o.,ok minna-san. Maaf membuat kalian nunggu. Bener-bener. Kapok deh jadi kelas 9. Gak mau lagi. Tugas setiap hari ada. Kelar aja belum tentu.

Ekfin : yah, namanya juga tugas.

Nabila : oh iya. Minna, maaf ya, soal jutsunya Kakashi, saya gak tau bahasa jepangnya xD pengen liat google translate, takut salah :(

Ekfin : Dasar, otaku jadi-jadian. Eh, btw, tuh, ada yang nyariin kamu *nunjuk tanjakan

Nabila : EH?! *liat kearah yang ditunjuk* HIIEEE?!

Tugas : Ayo Nabila. Datanglah. Kami masih berantakan nih. Dandanin dong! Kalau gak, aku bilangin ortu ku! *nelpon guru killer.

Nabila : ampuuun!

US : Nabila…., ayo kesini. Belajar dulu.

Nabila : HELP ME! *kabur

Tugas & US : *ngejar Nabila

Hening~

Ekfin : nah, minna-san, terimakasih karena telah membaca fict ini sampai sekarang. Maaf karena keterlambatannya.

Nabila : *teriak dari jauh* Saya sadar kalau di fict ini terlalu gaje dan absurd, jadi, saya minta saran dan kritiknya, ya, senpai !

RnR ?