Halo, kembali lagi bersama author abal disini! Lagi males, jadinya lama deh~
Mereka berjalan makin jauh, mblasak-mblasak melewati rerumputan, dan juga melewati sebuah hutan kecil. Yadi sudah berkostum penjelajah, lengkap dengan topi dan sepatu botnya. Gilbert juga memakai baju yang sama, tapi Roderich malah dikasih baju penjelajah perempuan, dengan alasan (palsu) bahwa baju laki-lakinya habis.
Di dalam gedung PFI…
Eliza sedang duduk di ruangannya, mengorganisir beberapa jadwal untuk kegiatan-kegiatan organisasi. Tiba-tiba, terdengar suara mesin pesan. "Yadi dari divisi tiga, datang membawa calon anggota."
"Bagus, terimakasih atas beritanya." Kata Eliza, dan ia segera menekan salah satu tombol di mejanya. Muncul sebuah jalan rahasia, dan ia menuruni tangga ke dalam. Tak berapa lama, jalan itu tertutup.
Kembali ke trio…
Mereka terus berjalan. Yadi menebas beberapa dedaunan yang menghalangi. Mereka melihat sebuah gubuk dari kejauhan. Nampaknya gubuk itu terletak di 'The Heart of the Jungle' aka tengah hutan.
"Nah, ini dia! Gubuk pendaftaran! Hei, itu petugasnya! Eh," kata-kata Yadi terputus. "Apa?" Tanya Roderich yang untungnya sudah ganti baju jadi bajunya yang biasa meski tak pas dengan latar hutan ini. "Hebat! Yang menyambut kalian adalah ketuanya langsung! Duh, sebuah kehormatan besar~ Ayo!" Mereka berlari ke gubuk pendaftaran itu.
Disana, Eliza sudah menunggu dengan bahagia. 'Akhirnya ada anggota baru! Setelah tiga tahun menunggu~ akhirnya datang! Dua LAKI-LAKI pula!' Pikirnya bahagia.
Mereka tiba, dan Yadi berteriak, "Halo~ Bu Eliza, anda disini~?" Eliza muncul dari balik tirai dan tersenyum pada mereka. "Nah, itu Bu Eliza, ketua sekaligus pendiri dari PFI. Kalian pasti senang bertemu dengannya~" Kata Yadi.
"Salam Yaoi, Bu Eliza!" kata Yadi memberikan salam khas PFI. "Salam yaoi juga, Yadi. Apa saja yang kau dapat sejauh ini?" Tanya Bu Eliza. "Oh~ bBanyaaak~" Yadi mengeluarkan kameranya, dan memperlihatkan foto-foto, mulai dari foto Uke!Roderich sampai foto PruAus crossdress. "OH SO SWEEEEET~" teriak Bu Eliza fangirling.
"Itu belum seberapa, Bu. Masih banyak foto-foto lain yang saya dapatkan di tempat dan waktu yang tak terduga." Kata Yadi promosi. "Yaudah, nanti kamu ke kantorku, dan akan kuperbesar di layar LCD dan akan diperlihatkan ke seluruh anggota! Aku tak tahu bagaimana respon mereka~" Kata Eliza. "Ya pasti macem-macem dong, Bu." Kata Yadi sweatdrop.
"Ooke, ini calon anggotanya, Bu." Kata Yadi menunjukkan Roderich dan Gilbert. 'Ohmygod yang itu uke banget tampangnya!' Pikir Eliza saat melihat Roderich. 'Yang satu itu seme bangeeeeet~ pas buat dipairingin!' Pikirnya saat melihat Gilbert.
"OHMYGOD! Kalian pacaran nggak?" Tanya Eliza histeris. "Tentu saja! Ya kan, Roderich sayang~?" jawab Gilbert. "Gil, jangan buka rahasia sembarangan!" Kata Roderich malu.
"Supaya tidak menimbulkan 'kerusuhan dan hal-hal yang tak diinginkan', sebaiknya kita rahasiakan saja hubungan mereka. aku khawatir kalau terjadi apa-apa dengan mereka gara-gara anggota disini." Kata Yadi ke Bu Eliza.
"Betul, dan sebaiknya jangan sebarkan fotonya, nanti mereka akan bertanya-tanya tentang asal foto tersebut, dan langsung mencurigai kami, secara kami yang paling mirip bahkan pelaku di foto tersebut, lalu meminta termasuk memaksa kami melakukan adegan tersebut." Pinta Roderich. "Aaaah… jujur saja, Roderich, kau sebenarnya mau, kan?" kata Gilbert santai.
"Baiklah, tunggu sebentar ya, tuan-tuan, saya hendak berbincang sebentar dengan Yadi." Kata Bu Eliza, mengajak Yadi ke balik tirainya.
"Kamu ini gimana sih… harus nunggu 3 TAHUN dulu dan itu pun kau hanya bawa DUA? Aduuuh…" Bu Eliza ngomel-ngomel. "Iya, iya, sabar bu, orang sabar doujinnya banyak…" Yadi mencoba menenangkan Bu Eliza. "Aaah…!" Bu Eliza berteriak frustasi. "Tenang bu! Nanti asma ibu kambuh!" Kata Yadi. "heh! Aku nggak asma!" Bu Eliza terlihat sangat marah. "Tenang bu! Lagipula, mereka berdua kan laki-laki, bisa kita ajakin ber-crossdress, kan?" Eliza tenang kembali akhirnya. Yadi pun lega.
Mereka kembali, dan Bu Eliza berkata, "Tes dimulai… sekarang."
Mereka berempat duduk rapi di bangku yang telah disediakan, mengelilingi sebuah meja bundar. Bu Eliza memberikan formulir ke Roderich dan Gilbert. "Kalian isi ini dengan data kalian, kalau bisa seunik mungkin [dan berhubungan dengan yaoi, tentunya]. Kalian ada pulpen, kan?" Tanya Bu Eliza. "Ehh… ada, Bu." Jawab Roderich. "Ah, tuan-tuan, tak usah terlalu formal. Panggil saja aku Eliza, tapi jika kalian lebih suka, kalian boleh tetap memanggilku Bu Eliza, meski itu membuatku terdengar lebih tua." Jelasnya ramah.
Mereka berdua mengisi formulir itu, sementara Yadi menceritakan bagaimana pertama kali ia pertama kali masuk PFI. "Pertama kalinya aku tahu PFI itu juga bersamaan dengan ketika aku menyadari aku itu seorang fudanshi. Kemudian, aku pergi ke daerah pantai Surabaya, yang juga kalian lewati waktu itu. di jalan, aku ketemu Bu Eliza. Waktu itu, dia pakai topi yang kayak punya nenek-nenek itu, jadi kutanya dia, 'Nek, Nenek tau nggak hutan terdekat lewat mana?' Otomatis dia marah besar dan menggetokku pakai wajan. Lalu dia nanya dengan ketusnya, 'Mo ngapain emang, masuk hutan segala?' dan kujawab 'Nyari gedung PFI, Ne- maksudku Bu.' Lalu, Bu Eliza mengajakku mblasak-mblasak keluar masuk hutan, melewati rintangan berupa rumah doujin raksasa, dan sampai di gubuk ini. Ia menjelaskan bagaimana PFI berdiri, dan katanya anggotanya belum terlalu banyak. Oh, rintangan untuk sampai ke PFI itu selalu berganti, tergantung orang yang mencoba ke sana."
"mMaksudmu?" Tanya Roderich. "Begini. Contoh, kau suka apa?" Tanya Yadi balik. "Hmm… Kue, pianoku, biolaku, emm…" Roderich masih berpikir. "Sudah, cukup segitu. Kau ingat kan waktu itu kita melewati rumah kue? Nah, itulah rintangan bagimu. Sebenarnya rintangan ini ditujukan agar kau bisa menahan diri dan meninggalkannya agar bisa lebih cepat sampai. Tapi, kamu malah menghabiskan seluruh rumah itu dalam setengah jam." Kata Yadi agak kesal. Wajahnya seakan sedikit menyiratkan 'kalau-kau-tak-makan-rumah-itu-mungkin-kita-bisa-sampai-lebih-cepat.'
"Tunggu. Jadi, sungai bir awesome yang kita lewati waktu itu rintangan bagiku?" Tanya Gilbert. "Yup. Rintanganku sendiri adalah rumah doujin, karena kalian tahu, aku paling gak tahan kalau ada setumpuk doujin di sebelahku dibiarkan begitu saja. Pasti kubaca." Kata Yadi.
"Yadi, bagian keahlian ini diisi apaan?" Tanya Roderich. "Oh, yang itu kau isi dengan keahlian paling menonjol yang kamu miliki [tapi kusarankan jangan tulis 'membuat kue', nanti kau akan ditaruh di pekerjaan dapur aka tukang masak]. Kamu kan pandai main musik, tulis aja." Jawab Yadi.
Beberapa saat kemudian… "Aku yang awesome ini sudah selesai! Taruh mana?" Tanya Gilbert. "Taruh saja di depanmu. Boleh aku lihat?" Pinta Yadi. "tTentu saja boleh!" Gilbert memberikan formulirnya ke Yadi.
Yadi membaca formulir itu dalam hati. 'Nama, Gilbert beilschmidt. Umur, -entahlah, umur itu tak awesome-. Alamat, di jerman. Jangan tanya lebih detil. Hobi, melakukan hal awesome. Fandom favorit, fandom tempa aku yang awesome ini berasal. Tokoh favorit dari fandom tersebut, aku yang awesome ini dong! Pairing favorit, apapun bolehlah, tapi yang terpenting jika ada aku mesti dipasangkan dengan yang awesome juga, seperti Roderich uke-ku tercinta~ dengan ini menyetujui menjadi anggota PFI yang baik, produktif, tidak menyimpang dari hukum dasar PFI, dan . Hm, model tandatangannya unik juga.' Pikir Yadi setelah membaca formulir itu. lalu, ia mengembalikannya ke Gilbert.
Setelah mereka selesai, Yadi mengumpulkan formulirnya dan membawanya ke ruangan Bu Eliza. TOK-TOK-TOK… Yadi mengetuk pintu ruangan Bu Eliza. Beberapa saat kemudian Bu Eliza membukakan pintu. Tanpa berkata apa-apa, Yadi masuk. mereka sibuk berdiskusi di dalam. Beberapa saat kemudian, Bu Eliza keluar ruangan dan berkata, "Tuan Beilschmidt dan Tuan Edelstein, dipersilahkan untuk memasuki ruangan saya untuk sedikit evaluasi mengenai formulirnya." Mereka berdua memasuki ruangan, diikuti oleh Bu Eliza sendiri.
Ruangan Bu Eliza berkesan aneh, agak gelap, dan sedikit tercium bau darah, membuat Roderich agak gemetaran dan menggenggam erat tangan Gilbert. Ada sebuah meja penuh arsip, dan sebuah kursi di belakangnya. Ada pula dua buah kursi untuk tamu. Bebrapa kamera tergantung di tembok. Figura-figura yng membingkai gambar yaoi juga terlihat di seluruh penjuru ruangan. Sekilas, nampak seperti ruangan seorang bos, dengan unsur eksentrik.
"Nah, evaluasi untuk formulir kalian. Nampaknya kalian adalah dua orang fudanshi berbakat. Tuan Beilschmidt, anda bisa menjadi penulis cerita, sementara Tuan Edelstein bisa menjadi pengatur musik latar. Dan ngomong-ngomong, jawaban anda sangat unik, Tuan Beilschmidt. Ujian kedua akan dimulai sebentar lagi. Bersiaplah." Katanya.
Haah~ selesai! Di-publish semenit sebelum tahun baru! Maaf kalau agak nggantung juga ni cerita. Saia harus cepat bertindak pada cerita lain yang ingin publish di menit pertama tahun baru! Later in the next chapter! #ngilang
