[ Katedral Pravil di pinggiran kota Waterford, pagi hari seminggu kemudian. ]

TOK TOK.

"Kami dari kantor pos! Ada surat untuk Anda!"

Pravil yang sedang berdoa di katedralnya, perlahan menolehkan kepalanya ke belakang, di mana pintu itu diketuk dengan pelan. Ia lalu menyudahi doa pagi harinya, dan berjalan tergesa-gesa menghampiri pintu itu. Begitu ia membuka pintunya, ia mendapatinya ada seorang laki-laki berpakaian khas pengantar surat. Di tasnya yang berat terlihat gemuk, sepertinya ia baru saja memulai hari-harinya.

Si pengantar surat itu lalu berkata dengan lirih, "Surat Anda datang dari Ms. Oxenstjärna, Mr. Mullineaux."

Wajah sang pastor itu berseri-seri. Ia lalu mengambil surat itu dengan nada senang, "Terima kasih, Tuan. Semoga Tuhan memberkati kehidupan Anda!"

.

.

.

The Basketball Which Kuroko Plays ~ The Legend of Emperors

© Himomo 'JuvenilElmir' Senohara / 背野原 火桃

Disclaimer : The Basketball Which Kuroko Plays © Tadatoshi Fujimaki

Warnings : OOC, AU, ada karakter dari game lain (Marlina, Roxy, Koris, Pravil, Alexi, Talia / Hero Dream © Efunen Company) dan menggunakan surname khas Eropa Barat, OC, etc.

A/N (Mun) : YAY! Aku sengaja membagi chapter ini menjadi banyak kejadian, karena peran para Emperor dan anak-anak dari masa sekarang mulai aktif sekarang! Oh ya, timing di era 14XX dengan era Kagami dan Kuroko bisa berbeda karena merupakan perbedaan time-nya, bisa jadi 1 minggu di abad 14XX hanya sama dengan 1 hari dan demikian juga sebaliknya!

.

.

.

Paris, tanggal DD bulan MM tahun 14XX.

Selamat pagi / siang / malam.

Semoga Tuhan memberkati Anda berempat.

Kami sudah dengar beritanya dari Ms. McLaughlin, kalian berempat berencana memulai perjalanan usai menginvestigasi Sky Emperor, ya? Ms. Hartmann, dari lubuk hati kami, kami sangat kaget ketika menerima surat yang mengatakan bahwa Anda sudah yakin kalau Anda sudah benar-benar bertemu dengan Sky Emperor tanpa memberitahu pejabat pemerintahan yang menugaskanmu. Benar-benar nekat.

Yah, kami sendiri memutuskan untuk mengambil sikap statis terhadap keributan yang terjadi di angkatan kami.

Mr. Łuchweizscz sendiri memutuskan untuk membekukan masa jabatannya sebagai Letjen Korps Ksatria St. Petersburg di Russia dan juga jabatannya sebagai ketua korps ksatria di angkatan asalnya—negara Polandia—segera setelah menerima surat dari kalian. Saya sendiri memutuskan untuk tetap bergerak di bawah laskar korps sihir Kerajaan Swedia. Kalian tahu tidak, negaraku mendadak memutuskan untuk netral terhadap kejadian ini?

Mengenai tujuan kalian kali ini, saya sarankan agar kalian berlayar ke kota Calais, Perancis Utara. Kami sebenarnya berniat mengajak Ms. de Blais untuk bertemu kalian bareng kami, karena kami pikir Ms. de Blais cukup kuat untuk menambah pengawal. Mr. Łuchweizscz sendiri tidaklah cukup kalau harus mendampingi sang Sky Emperor. Lagian, Ms. de Blais sebenarnya juga hendak bertolak ke Asia. Dan kebetulan sekali... Kami berkumpul di kota Calais secara bebarengan. Mr. Łuchweizscz datang ke kota itu dua minggu yang lalu, aku sehari setelahnya dan Ms. de Blais tiga hari sesudah aku.

Ketika kami menerima surat dari kalian, kami baru saja sampai di kota Paris, kebetulan sekali, bukan?

Nah, saya sudah sediakan akomodasi serta tiket kapal di Inggris. Kebetulan, kakakku Diana tinggal di sana dan tentunya kalian (minus Mr. Kuroko dan Mr. Kagami) sudah kenal dengannya 'kan? Semoga perjalanan kalian menyenangkan, dan titip salam untuk kak Marlina dan Ms. Alexi. Jangan lupa untuk tetap jaga pola makan, Ms. McLaughlin!

Tertanda,

Theresia Oxenstjärna / Rhee Oxenstjärna.

.

.

.

[ Sehari setelahnya ]

("Text" = bahasa Irlandia, "Text" = bahasa Middle-English)

PYAK! PYAK!

Hari yang sangat dinanti-nantikan kuartet itu akhirnya tiba juga.

Pagi yang indah menyambut dermaga pelabuhan kota Waterford, di mana mereka akan memulai start line-nya.

Kagami yang sudah menyimpan pakaian SMA Seirinnya, rupanya sudah bergaya khas bangsawan Inggris. Setelan pakaian kebesaran dengan lengan menggelembung dan berlipat-lipat—kalau tidak disebut agak kusut—pada semua bagiannya melekat pada tubuh Kagami dan Kuroko, plus dekorasi pada lehernya sehingga mereka lebih tepat dipandang sebagai duo ilmuwan daripada duo bangsawan.

Lain lagi dengan Hartmann, ia masih mengenakan pakaian tidak sopan seperti halnya McLaughlin—sebuah tanktop berwarna ungu bergariskan kuning dan celana ketat berwarna magenta. Lengan bawahnya juga dipasangi semacam stoking berwarna ungu bercorak khas batik dengan warna garisnya putih keperakan. Di atas rambut ungunya, ada baret berwarna merah yang berhiaskan sebuah bulu burung berwarna merah dan warna dominannya merah dengan dua garis berwarna masing-masing hijau di bawah dan kuning di atas.

"Well, ayo kita mulai." ujar Hartmann sambil mengangkat koper-kopernya dengan enteng.

"Osh!" Kuroko dan Kagami mengamini perkataan Hartmann.

Roxy yang masih berpakaian khas pirate, lantas menimpalinya, "Kita akan berlayar selama kira-kira 4 sampai 10 hari ke Aberystwyth, namun karena kita adalah kelompok penyihir dengan misi khusus, saya bisa menyewa kapal lain. Jika menggunakan sihir, kita dapat mengurangi harinya menjadi hanya 2 hari saja atau bahkan hanya kira-kira 23 jam. Itu pun jika kita menggunakan sihir punya Lord Kuroko."

"Ossshh—."

BRUK.

Mereka berempat menangkap suara yang jelas-jelas berasal dari belakang Kagami. Begitu mereka menoleh, di sana terdapat Kagami yang menangkap tubuh Kuroko yang pingsan. Hartmann dan McLaughlin segera panik, dan tiba-tiba Kuroko yang terkulai lemah menggeliat di kedua tangan Kagami yang menopangnya, "Uuugghh..."

Tunggu... Rasanya aku kenal dengan suara itu... Hartmann dan dua temannya menyadari suara tersebut.

"Sial..." ujar sosok tersebut sedikit kesal seraya berdiri lagi dengan bantuan Kagami. Beruntung mereka kali ini sudah tidak kaget lagi akan keberadaannya.

Kagami yang melihat sosok sahabatnya yang kini berganti kepribadian menjadi sosok yang itu, lantas bertanya dengan panik, "Ke-Kenapa kau malah muncul di saat beginian, Kuro—eh maksudku... Yang Kuroko Tetsuryu-san...?"

Kuroko Tetsuryu sang Sky Emperor lantas memijat-mijat dahinya, "Aku barusan mendapatkan sinyal buruk... Entah kenapa ada semacam pesan telepati dari Seiji—maksudku Flame Emperor bahwa ada kejadian yang mendadak... Entah apa itu artinya. Tapi susah juga kalau harus bergerak sedangkan Kuroko Tetsuya-sama masih tertidur di dalam tubuhnya sendiri..."

Roxy lalu memijat bagian belakang lehernya dengan malas, "Sulit dipercaya, kau ternyata malah muncul lagi, Lord Tetsuryu... Eh, kau yang muncul di saat ini biasanya akan disadari oleh semua orang di sini, lho?"

"Jangan khawatir, Ms. McLaughlin. Aura saya lebih sulit dikenali, karena pada dasarnya semua anggota Sky Tribe memang beraura minim... Kemudian satu lagi." Sang Sky Emperor mengulas senyuman khasnya, yang membuat dua wanita yang sangat tangguh itu blushing parah.

"Apakah itu, Lord Tetsuryu?" Kali ini gantian Hartmann yang bertanya dengan nada penasaran.

"Di dalam tubuh ini, aku pasti akan sangat kesulitan mengendalikan kekuatan udara ini... Jadi tolong ajarkan Kuroko Tetsuya-sama untuk mengendalikannya, sebagai ganti aku..." bisik sang Sky Emperor lirih sebelum akhirnya ia kembali bergantian dengan sang 'cicit buyut'-nya menampakkan diri di depan mereka bertiga.

-xXx-

[ Di utara hutan belantara antara negara Thailand, Vietnam dan negara-negara tetangganya, sore harinya ]

("Text" = bahasa Melayu Kuno)

GRATAK GRATAK.

CRASSHHH! ZRUGGGHHHH!

Sejumlah sulur kayu raksasa menyerbu pedesaan yang berada jauh di utara hutan belantara itu. Banyak api yang mengerubungi pedesaan itu, dan semua penduduk desa itu berhamburan dengan wajah ketakutan. Banyak di antara mereka yang dibunuh dengan brutalnya, tidak terkecuali kepala desa itu. Sekelompok manusia yang lain, mengenakan tudung hitam yang besar terlihat membawa pedang yang berlumurkan darah para korbannya, dan juga di antara mereka ada seorang laki-laki yang berwujud sangat jelek.

Laki-laki itu berambut hijau terang dengan wajah penuh bercak kehitaman yang menjalar hingga melewati sisi kanan wajahnya dari sisi yang berlawanan dan juga sampai pada tangan kirinya. Pada tangan kanannya justru terlihat sulur yang terbelah-belah menjadi tidak terhingga, dan banyak diantaranya yang tertanam dalam tanah dan juga membunuh korbannya lewat tangan tersebut.

SRESH SRESH ZRUGH!

Manik emerald-nya memandang kehancuran yang terjadi pada pedesaan itu, dan ia kemudian berkomentar dengan sinis, "Semua manusia di sini tidaklah berguna... Bagaimana aku bisa berkembang jika mangsanya tidak seberapa?"

"Hihihi... Jangan khawatir, Emperor-ku. Sedikit lagi ke utara, kau akan menginjak daerah kekuasaan Hóng Wáng-Seiji... Bunuh dia dan klaimkan Sky Emperor. Kami, Forest Tribe, siap membantumu setiap saat." Tiba-tiba di belakang pria berambut hijau gelap itu, seorang pria berambut raven dengan poni dibelah persis di tengahnya muncul sembari memeluk leher milik pria tersebut.

"Flame Emperor, huh... Apa tidak ada sinyal keberadaan Emperor yang lain? Aku... Aku ingin kehancuran semua Emperor dan hanya diriku yang bertahan hidup..." ujar pria yang disebut Emperor itu datar.

"Bahkan hampir semua Emperor sudah muncul, kecuali sang Magic Emperor... Apa perintahmu selanjutnya, Midorima?" tanya pria itu menyeringai kejam.

Midorima, nama lain sang Forest Emperor tersebut, lalu menengadahkan kepalanya menghadap langit oranye yang mewarnai hari tersebut. Sesaat kemudian, ia lalu berkata dengan penuh amarah, "Hancurkan semua pedesaan dan berikan aku makanan yang enak. Sepertinya si bodoh Ground Emperor belum juga menemukan Tribe-nya sendiri... Bawa dia kemari dan akan kumakan jiwanya. Dan satu lagi."

Pria itu dengan khidmat menggangguk, "Ya, Emperor?"

Seringaian penuh makna dan niat yang terselubung terlukiskan dari bibir dingin Midorima, "Siapkan pasukan untuk menggempur daerah Flame Emperor usai berhasil memakan jiwa Ground Emperor. Dengan kekuatan gabungan itu, aku mungkin bisa menahan api laharnya Flame Emperor. Kau adalah bawahan terbaikku, jadi lakukannya dengan cepat, Takao."

GRIT.

"Hihihi... Baiklah, Yang Mulia Forest Emperor... Semuanya demi Forest Tribe! ! !" Takao, sang bawahan Midorima, lalu bersimpuh dengan agung di belakang Midorima dan seketika lenyap ditelan bumi.

Begitu Midorima menyadari bahwa Takao sang bawahannya sudah hilang pergi entah ke mana, ia lalu mengangsurkan tangan bersulur-sulurnya, dan menggerakkannya untuk menghancurkan tubuh para manusia malang yang terjebak dalam lilitan sulur kayu berbahayanya, "Sky Emperor, huh... Kuroko, aku tidak sabar untuk mencicipi dirimu. Kuat atau tidaknya tergantung lidahku, Kuroko."

-xXx-

[ Era Kagami dan Kuroko, SMA Seirin sore hari sehari kemudian ]

PLUK PLUK.

BRUK.

BRAAKKK.

"Jeeezzz... Semua yang dibutuhkan tupai kecil ini..." desis Riko kesal.

Di depannya, setumpuk buku yang bersampul cokelat tua terlihat menjulang tinggi di atas salah satu meja perpustakaan SMA Seirin. Kini, Riko, Hyuuga, Izuki dan Kiyoshi berdiri bareng Momoi yang sudah 'diundang' Riko untuk masuk—jika tidak menggunakan kata menyusup—serta si tupai mungil nan imut itu. Tupai itu lalu menyilangkan kedua tangannya, "Oke, semuanya sudah siap-cit. Ayo kita selidiki-cit."

Momoi lalu mengambil buku pertama dari tiga 'gedung buku' itu dan mulai membuka sampulnya. Riko, Kiyoshi dan Hyuuga juga mengambil buku yang lain, sedangkan Izuki membukakan satu-satunya gulungan besar berisikan map dunia pada abad ke 15. Tupai itu lalu berjalan di atas gulungan map itu dan menunjuk daerah yang sekarang adalah perbatasan barat negara China, "Daerah ini kira-kira menjadi TKP peperangan para Emperor pada tahun 11XX-cit. Aku ingin mencari informasi apapun yang mungkin ada kaitannya dengan cara mengirim aku kembali ke era itu-cit."

"Lantas apa hubungannya dengan daerah itu, Ymirelmir?" tanya Izuki masih penasaran.

"Dengar. Ada kemungkinan di eraku sudah ada yang memulai pergerakannya—musuh bersama kami-cit. Kemungkinannya di situlah akan terjadi The Holy Tribe War II alias Perang Suku Suci II-cit. Aku tidak ingin diriku terjebak di sini selama-lamanya, jadi aku ingin memberi kalian informasi agar bisa menanyakannya ke siapa saja yang mengetahuinya-cit." jawab tupai itu tegas.

"Eh? Itu mah akan tambah sulit dong, Ymir-chan." sela Momoi dari balik buku bersampul merah tua.

Tupai yang bernama Ymirelmir itu lalu mendelik ke gadis berdada subur itu, dan kemudian membantahnya, "Justru itu, di era ini memberi informasi kepada seseorang adalah hal yang bagus-cit. Siapa tahu bisa di-follow oleh seseorang yang tahu sesuatu tentang ini-cit. Eh, bagaimana nasib temanmu yang jatuh sakit itu, Ms. Momoi-cit?"

Gadis berambut pink itu mengangkat kedua bahunya, "Aku belum mengunjunginya hari ini, namun kelihatannya masih belum pulih. Aomine-kun masih dalam status comatose dan bahkan mungkin akan bertambah parah. Tuh, ada bercak hitam di tubuhnya—."

DEG.

"—lalu dia kadang-kadang terlihat hidup, kadang pula terlihat mati. Merepotkan banget, menyusahkan mamanya saja!" sambung Momoi kesal.

Riko lalu menyandarkan pelipis sebelah kanannya pada telapak tangan kanannya dengan siku tangan itu menyentuh meja tersebut, "Aomine benar-benar deh. Momoi, kau benar-benar tidak tahu penyakit yang menyerangnya? Terlihat aneh kalau dia seperti itu... Seperti zombi saja."

Momoi cuma bisa menggeleng pelan, "Sampai sekarang dokter sedang menelitinya. Bisa dibilang, ini kasus yang sangat langka, begitulah kata mamanya Aomine-kun. Haaahhh... Payah deh. Kalau Aomine-kun sudah sembuh, aku yang bakal menggebuk terus memberi latihan Hellish dengan resep yang diberikan Aka-chan waktu SMP dulu!"

DEG.

KRING KRING KRING.

"Hyuuga! HP-mu berbunyi tuh!" Riko mendelik ke Hyuuga dan memberi peringatan.

"Ah iya, sebentar mau keluar—."

"Nggak usah, tidak ada orang di sini kecuali kita. Petugas perpustakaan saja sudah pulang dari tadi, aku yang dititipi kuncinya nih." sanggah Riko.

"Baiklah."

Hyuuga lalu mengambil HP bercorak merah tua yang ada di balik saku celana seragam gakuran SMA Seirinnya dan kemudian membuka screen dan menekan tombol hijaunya. Beberapa selang setelah deringan kedua, akhirnya yang meneleponnya bersuara juga, "Hyuuga! Aku Ootsubo, kapten tim basket Shuutoku, masih ingatkah kau?"

Sang kapten klub basket SMA Seirin ini lalu menggangguk pelan sambil membuka halaman berikutnya buku yang dipegangnya, "Yaaaa, waktu pertandingan WC lalu kita sempat tukar-tukaran nomor HP bareng kapten dari Yosen, Touou dan Kaijou, bukan? Ada apa, Ootsubo-san?"

"Ada berita buruk. Aku tahu ini mungkin tidak ada kaitannya dengan kalian, namun karena aku tidak tahu nomor Momoi Satsuki dan Wakamatsu yang tadi kutelepon sebelumnya memberitahuku bahwa Momoi ada di perpustakaan SMA Seirin, jadi kau kuhubungi. Jangan khawatir, kau juga berhak diberitahu kok, Hyuuga." ujar Ootsubo di seberang HP-nya.

Hyuuga menggangguk pelan, "Yaaa. Kasih tahu aja, Ootsubo-san."

"Barusan Wakamatsu menerima telepon dari ibunya Momoi, katanya Momoi harus cepat kemari ke RS Yumekijima. Kondisi Aomine Daiki itu memburuk." ujar Ootsubo lirih.

DEG.

Wajah Hyuuga memucat mendengar berita tersebut. Kondisi Aomine memburuk? Apa jangan-jangan seperti apa yang dikatakan Momoi tadi?

Ootsubo lalu meneruskannya, "Aku juga tidak tahu ini ada kaitan dengan Aomine atau apa… Sebaiknya kalian waspada saja. Dua dari anggota tim reguler basket SMA-ku tidak masuk hari ini, dan satu dari mereka alasannya kurang jelas. Si shooter Midorima itu tidak masuk hari ini karena sakit, namun tadi siang aku dan ketua kelasnya mendapat telepon dari ayahnya, bahwa kondisi Midorima kritis hanya dalam hitungan beberapa jam setelah jatuh sakit. Yang lain, Takao, belum diketahui secara pasti keadaannya"

DEG DEG!

"Sudah ya, titip salam untuk anak-anak Seirin dan Momoi!" pamit Ootsubo.

TUT TUT.

Hyuuga mendesah lemah, napasnya sedikit memburu selagi ia menatap HP kesayangannya. Mata raven-nya Hyuuga lalu beralih dari screen HP-nya ke teman-teman yang menanti kabar darinya. Kapten klub basket SMA Seirin itu lalu menjelaskan apa yang disampaikan Ootsubo kepada mereka, "Momoi, kata Ootsubo, Wakamatsu bilang kalau kau harus cepat pergi ke RS Yumekijima. Kondisi Aomine memburuk."

DEG.

Momoi langsung memasang wajah pucat, "Be-Benarkah, Hyuuga-kun…?"

Satu anggukan menyakinkan datang dari Hyuuga.

"Oh tidak. Riko-chan, Hyuuga-kun dan teman-teman, aku permisi dulu ya! Maaf ya Ymir-chan!" Momoi dengan tergesa-gesa membereskan tas sekolah Touounya dan berlari pelan menjauhi Hyuuga dan kawan-kawan keluar dari perpustakaan tersebut. Setelah terdengar suara pintu dibanting cukup keras, Hyuuga lalu memijat lehernya sekali lagi, merasa sangat capek.

Riko lalu bertanya kepada Hyuuga dengan tatapan mengintimidasi, "Kau pasti menyembunyikan berita yang lain, Hyuuga."

"Iya, aku bahkan tidak bisa menghindari hal itu. Dengar, Midorima dan Takao absen sekolah dan latihan basket hari ini, dan keadaan Midorima katanya sakit dan masuk fase kritis hanya dalam waktu beberapa jam setelah ia jatuh sakit. Penyakitnya belum diketahui, sedangkan keadaan Takao hingga sekarang belum diketahui." jelas Hyuuga melepas kacamatanya.

DEG!

"A-Apa benar…?" tanya Izuki tidak percaya.

"Terlalu aneh kalau disebut kebetulan… Pasti ada sesuatu yang terjadi…!" sahut Riko panik.

CIT!

Empat pasang mata langsung melirik suara cicitan yang penuh amarah itu. Mereka mendapati si tupai mungil itu kini sudah mengeluarkan aura sadis seperti sang Emperor a.k.a Akashi. Mata hitamnya menyipit dengan dingin dan sang tupai itu lalu berkata dengan hawa membunuh, "Itu… Itu pasti ulah The Emperor of Darkness dan organisasi itu! Ru-Rupanya mereka sudah be-bergerak duluan-cit…! Nyawa orang yang bernama Midorima, Aomine dan Takao kemungkinan besar dalam bahaya-cit!"

-xXx-

.

.

.

"Nee, apa kau cemas akan upacara itu, Akashi-niisama?"

Dua gelengan kepala menjawab pertanyaan yang lembut dan penuh kekhawatiran tersebut.

Dua insan yang sedang berdiri di bawah pohon sakura yang lebat dan berbunga, terdiam sejenak. Seorang laki-laki bersurai merah membara memasang wajah usil dan sedikit cemas, dan seorang anak perempuan berambut biru cerah yang memasang wajah sebal. Laki-laki dewasa itu bersandar pada sisi pohon yang berlawanan dengan anak gadis itu, sembari menyilangkan kedua tangannya.

"Apa kau bakal khawatir aku akan hilang, Tetsumi sayang?" godanya jahil.

PUH.

Gadis itu menggeleng kepalanya dengan cepat, dan membalasnya dengan nada sebal pula, "Akashi-niisama menyebalkan. Bagaimana aku yang hanyalah seorang manusia ini bisa mencintai seorang Emperor yang kuat seperti Akashi-niisama. Pada dasarnya..."

"…Hukum Immortalitas melarang seorang Emperor mencintai manusia yang benar-benar tidak mempunyai sihir sama sekali? Payah benar jadi wanita. Kau seharusnya tahu jawabanku, Tetsumi." sambung pria yang bernama Akashi ini sambil bergerak mendekati sisi pohon di mana sang gadis berpakaian kimono tradisional bercorakan sakura berwarna biru cerah sebagai warna dominan.

Manik rubinya melihat gadis itu menunduk ke tanah dan diam-diam menetaskan air matanya.

TES TES.

Jujur, laki-laki dewasa itu sangat benci kalau harus melihat gadis pilihannya—yang sekaligus sangat dicintainya melebihi siapapun—mencucurkan air matanya karena sedih akan suatu hal. Tangisan seperti itu bagaikan menusuk dahinya dengan pedang yang paling tajam dan kuat, sangat menyakitkan.

GRASP.

Laki-laki itu kemudian memegangi kedua pundak gadis itu, dan mengeratkannya dengan penuh tekad dan kasih sayang, "Kau seharusnya tahu, Tetsumi. Aku tidak akan pernah memilih pasangan mana pun dari sejumlah Suku Suci dalam upacara pertunangan tersebut. Jika mau, aku akan menikahimu dan kita akan membuat keturunan, tidak peduli statusku sebagai seorang Flame Emperor!"

DEG.

"Ma-Mana mungkin!"

PLAAAKKK.

Satu tamparan melayang di pipi sebelah kiri lelaki yang bernama Akashi itu.

Mata rubinya melihat mata cyan-nya berkaca-kaca, dan gadis itu lalu meneruskannya dengan setengah membentak, "Akashi-niisama mending cari pasangan di luar sana! Aku tidak akan pernah cocok denganmu! Kenapa Kakak memilih aku yang hanyalah budak dari Dinasti Sun; yang diperjual-belikan dari rumahku…? !"

JLEB.

Bentakan gadis itu menusuk ulu hati sang Flame Emperor itu. Hati laki-laki itu tersayat-sayat mendengar bentakan tersebut.

"Ki-Kita hanyalah teman baik saja… Tidak…Aku hanyalah salah satu dari ribuan budak yang melayani Dinasti Sun! Kau harus tahu itu! Maafkan saya, Kak Hóng!" Gadis itu lalu mendorong tubuh laki-laki itu keluar dari jalurnya, dan segera berlari menjauhinya secepat mungkin.

DRAP DRAP DRAP.

"He-Hei Tetsumi—."

Sayang sekali, gadis itu keburu sudah menghilang begitu Akashi hendak menangkapnya. Kini harga dirinya sebagai seorang 'laki-laki' benar-benar runtuh hanya karena ini—ditolak cintanya oleh gadis tersebut. Baginya, semua wanita di dunia sama saja, dan yang membedakan Tetsumi itu dengan wanita lain adalah karena spesialnya gadis itu baginya.

.

.

"Hóng-sama…Anda mendapatkan surat dari Kuroko Tetsumi-san, mantan pelayan keluarga Dinasti Sun…"

Tangan kanan laki-laki berambut merah membara itu segera mematahkan kuas yang dipakainya selagi ia menulis risetnya. Mata rubinya menatap tajam salah satu pelayan wanita yang bertampang Cina tulen. Wanita itu menundukkan tubuh bagian atasnya tujuh puluh lima derajat dan menyodorkan laki-laki dewasa itu sepucuk surat yang berupa gulungan kecil bersampul merah.

Laki-laki itu lalu menanyainya dengan nada kesal, "Kau bilang apa? 'Mantan'…?"

"Saya memohon maaf sedalam-dalamnya, namun Kuroko Tetsumi-san baru kemarin lusa meminta diberhentikan oleh sang Kaisar. Semua ini atas permintaan wanita tersebut, dan satu-satunya yang ditinggalkan di Istana Terlarang ini hanyalah surat ini. Saya dititipi surat ini kala dia sudah benar-benar angkat kaki dari wilayah ini." pelayan itu menjelaskan dengan penuh kepasrahan.

BRUK.

Pelayan itu segera terkesiap kaget, dan segera menaruhkan surat itu di dekat mulut pintu, dan segera keluar dari kamar tersebut tanpa memberi salam.

BLAM!

Belum-belum pelayan malang itu melihatnya, laki-laki itu sudah menghantamkan tangan kanannya yang diselumuti api di atas meja kerjanya yang sudah hancur lebur. Napasnya terdengar memburu, dan pria itu hanya menggumam lemah, "Kenapa kau malah lari dariku…Kenapa…? Bukannya kita sudah berjanji kita akan selalu bersama, Tetsumi…?"

.

.

Tahun demi tahun berlalu.

Semua kenangan di masa lalunya kini benar-benar terkubur dan dikunci oleh ambisinya untuk membesarkan kerajaan Cina bersama sang Kaisar. Melupakan cinta pertamanya, dan juga dirinya yang polos serta candaan yang menghangatkan hari-hari panjangnya. Hingga suatu saat, laki-laki yang tak kunjung menua itu lalu mampir ke negara tetangganya yang berada di arah timur…

Dan mimpi buruk serta ketakutan yang terpenjarakan di dalam hatinya perlahan menguar hendak menguasai pikirannya…

Ketika ia menyaksikan dua manusia yang terbunuh kala bertarung melawan sesuatu yang mengerikan di saat ia hendak mengunjungi daerah pedesaan tak berpenghuni yang digosipkan masyarakat. Gosip itu menyebutkan, daerah itu dikutuk dan banyak arwah-arwah yang menakutinya, bahkan beberapa laki-laki paruh baya yang dikabarkan hilang ketika masuk ke daerah itu.

Satu dari dua mayat itu adalah seorang wanita tua bersurai biru yang menjelma menjadi putih keperakan, sebuah tanda penuaan yang terjadi padanya sebagaimana halnya manusia biasa. Sebilah pedang menghunus persis jantungnya, menghabisinya seketika.

Dan yang lainnya… Ia tidak asing dengan wajah itu. Seorang gadis yang jelas sebaya dengan gadis pujaannya dulu, hanya saja ia memiliki warna rambut merah menyala dengan warna mata biru seperti gadis yang sangat dicintainya. Gadis muda itu tewas dengan kepala ditusuk oleh beberapa pisau kecil. Otaknya memutar akal, menemukan satu fakta yang mengejutkan sekaligus sangat menyakitkan…

Bahwa wanita tua itu adalah Tetsumi, gadis yang selalu diidamkannya, dan gadis itu kemungkinan besar adalah anaknya sendiri…

Setelah menyaksikan neraka itu, gigi roda waktu kembali berputar dengan kejinya, tidak pernah mempedulikan tangisan serta kutukan yang dilancarkan dari lubuk hati laki-laki berambut merah membara itu; mengutuki kematian wanita tua yang harusnya dipinang dan dinikahinya dulu dan juga anaknya…

.

.

.

[ To be Continued ]

Sneak Peek

"Teman-teman! Kita sudah tiba di pelabuhan Aberystwyth! Persiapkan diri kalian, kita akan dijemput oleh Diana Oxenstjärna!"

.

"Ayo, kita temukan jalan untuk kembali ke era kita, Kagami-kun. Mohon bantuannya ya, Kak McLaughlin dan Kak Hartmann!"

.

'…—nahkan…—sab…—mi…'

.

"Namaku Jormungand, sang ular raksasa yang akan menghancurkan dunia."

.

"Hati-hati, semuanya! Makhluk ini rasanya mengerikan…"