A/N: Yo ane balik lagi~ mueheheh~ chapter kali ini kayaknya bakal jadi chapter dimana bersatunya AkaKuro! Yaay! Tapi masih kayaknya loh :v /plak/ ehem- daripada penasaran dibaca aja~ Happy Reading!
" Itu karena...saat berada di dekat Akashi-kun jantungku selalu berdetak dengan tidak normal. Kadang-kadang aku juga tiba-tiba gugup sendiri." Jawab Kuroko dengan polosnya. Kadang-kadang author heran nih anak makan apa sih?
"Tetsuya..." Akashi terhura- terharu maksud saya mendengar ungkapan polos Kuroko. Oh ayolah, itu artinya Kuroko menyukainya kan? Kan? Hanya saja Kuroko yang terlalu polos untuk menyadarinya.
Sementara di balik pintu sana, para kepala pelangi yang memang masih asik dengan kegiatan menguping mereka(?) langsung menggigiti tembok. Bahkan Midorima sampai headbang ke tembok berkali-kali tapi kepalanya masih saja utuh.
"ya? Kenapa Akashi-kun?" Tanya Kuroko pada Akashi yang kini sedang sembah sujud dengan air mata yang menggenang ingin turun di pelupuk matanya. Sungguh author ga tahan pingin nistahin Akashi disini /plak/
Akashi menggeleng. "Tidak apa Tetsuya...aku sedang bahagia sekali saat ini" Kata Akashi sambil langsung memeluk Kuroko dan menguyel-uyelnya(?) bagaikan anak kucing.
"Akashi-kun tidak apa?" Tanya Kuroko khawatir melihat tingkah kapten tim basketnya yang mendadak manja layaknya anak berumur 5 tahun itu. Bukannya menjawab, Akashi malah memeluk Kuroko main erat seakan kalau dilepas Kuroko bakal kabur. Kuroko pasrah, saat ini ia sedang berusaha mengurangi detak jantungnya yang berdetak secepat pacuan kuda. Apa dia salah makan? Atau jantungnya sakit? Tapi waktu di periksa ke dokter jantungnya masih baik-baik saja. Setidaknya begitu isi kepala Kuroko yang memang dasarnya polos overload yang bikin author ataupun reader juga jadi pengen nyulik Kuroko dan menyekap- oke kembali ke cerita.
"Aku sayang Tetsuya" Kata Akashi sambil perlahan melepaskan pelukannya pada Kuroko.
"Eh?" hanya itu respon Kuroko. Entah kenapa wajahnya terasa panas. apa mungkin demam mendadak? Pikirnya.
Akashi mendekatkan wajahnya dengan Kuroko. Semakin dekathingga tangan Kuroko tiba-tiba menahan wajah Akashi. Kuroko kenapa kamu menghancurkan harapan para readers nak? /author nangis di pojokan/
"Kenapa Tetsuya?" Tanya Akashi dengan wajah sedih. Entah kenapa kok Akashi tiba-tiba ekspresif sekali?
"I-itu...rasanya jantungku mau copot Akashi-kun" kata Kuroko dengan gugup dan wajah yang memerah.
"Tenang Tetsuya, kalau jantung Tetsuya copot aku akan memasangkannya" Kata Akashi nyeleneh.
"Eh? Memangnya Akashi-kun dokter bedah?" tanya Kuroko bingung. Seingatnya Akashi bahkan belum mendapat gelar sarjana untuk membedah seseorang. Nak kamu polos banget sih. Akashi hanya terkekeh kecil mendengar penuturan Kuroko.
"Kenapa Akashi-kun tertawa?" Tanya Kuroko dengan nada kesal dan sedikit menggembugkan pipinya yang masih di hiasi sedikit rona merah.
"Tidak apa Tetsuya...sekarang bagaimana kalau aku menyembuhkan jantungmu?" Kata Akashi sambil mengelus pelan kepala Kuroko. Membuat rona merah yang tadi sudah tipis kini kembali mejadi merah pekat.
"Eh bagaimana Akashi-" Belum selesai Kuroko berbicara perkataannya dipotong oleh jari telunjuk- jari telunjuk! Bukan bibir loh! /plak/
"Aku akan melakukannya dengan caraku sendiri Tetsuya.." kata Akashi sambil berbisik tepat di telinga Kuroko. Kuroko nurut-nurut aja, perasaan yang dirasakannya saat ini membuatnya tidak bisa melancarkan protes dan segala tetek bengeknya.
Oh, kalian mau tanya bagaimana keadaan para makhluk pelangi lain yang ada di balik pintu sana? Mereka sudah kejang-kejag dan di larikan ke rumah sakit (jiwa terdekat)- bercanda, maksudnya mereka sudah tidak mempunyai semangat hidup lagi. Kalau malaikat mereka sudah menjadi milik orang lain untuk apa mereka hidup? Bener ga? Kata Kagami yang tiba-tiba jadi narator dan entah darimana datangnya.
"Kurokocchiku-ssu..." kata Kise lirih sambil menangis tersedu-sedu di atas bantal yang entah sejak kapan sudah ada di tangannya.
"Tetsu...gapapa lah, masih bisa liat Tetsu seneng gua juga seneng" Kata Aomine yang tumben-tumbennya bijak sambil mengelap air mata dan ingus yang dari tadi tidak mau berhenti mengalir.
"Kokoroku hancur berkeping-keping nanodayo.." Kata Midorima OOC sambil memukul tembok dan menjedukkan kepalanya dengan dramatis.
Momoi dan Murasakibara berpelukan teletubies dan menangis tersedu-sedu bersama-sama.
Inikah rasanya mendengar bahwa malaikat yang kita cintai menyukai orang lain? Aku tak rela maz. Hubby/waifu-ku malaikat, suka sama iblis maz(-ssu/nanodayo). Mungkin itu yang kini ada di pikiran para pelangi yang sedang gegana (gelisah galau merana) .
"bagus, sekarang yang berada di luarmasuklah!" Kata Akashi dengan suara lumayan keras. Para makhluk pelangi diluar sudah kalang kabut mendengar suara sang kapten. Jangan-jangan kapten mereka ini benar keturunan mama lauren? Atau dia seorang esper? Pikiran mereka mulai melantur kemana-mana.
"Jangan membuatku menunggu Ryouta,Daiki,Shintarou,Atsushi,Satsuki cepat masuk!" Kata Akashi dengan aura hitam yang pekat. Kalau seandainya aura bisa menghancurkan, mungkin sekarang ruangan itu sudah tidak berbentuk lagi.
Para pelangi yang tadinya kalang kabut kini langsung berbaris rapi dengan Kise di barisan paling depan sebagai umpan sasaran gunting yang pertama. Kise membuka pintu dengan sangat-sangat hati-hati, antisipasi jika tiba-tiba saja ada gunting melayang ke arahnya.
"A-ada apa Akashicchi?" Tanya Kise setelah berhasil masuk dengan selamat tanpa ada satupu gunting yang melayang. Begitu pula para pelangi lain yang juga sudah berhasil masuk.
"Aku akan memberikan pengumuman" Kata Akashi kemudian memeluk posesif Kuroko yang memang sedari tadi berdiri di sampingnya.
Para pelangi mengangguk pasrah, toh mereka sudah tau kalau sang pujaan hati sudah ada yang memiliki. Tapi modus masih bisa dipakai kan? Toh Kuroko juga menyayangi mereka meskipun dalam tanda kutip ada berbagai zone menyakitkan.
"Pertama, mulai hari ini Tetsuya adalah milikku! Siapa pun yang berani menyentuh atau menggodanya katakan selamat tinggal pada dunia." Kata Akashi sambil menodongkan gunting sakti mandragunanya. Para pelangi meneguk ludah was-was kalau nanti gunting itu terpeleset(?) dan mengenai mereka. Merasa tidak ada protes Akashi kembali melanjutkan perkataannya
"Kedua, kalian hanya boleh menyentuh Tetsuya kalau mendapat izin darinya!" Kata Akashi yang kali ini meodongkan guntingnya di hadapan satu persatu makhluk pelangi di depannya dan berhenti tepat di depan wajah Kise yang sudah pucat pasi.
"Dan yang terakhir, kalau ada apa-apa pada Tetsuya saat aku tidak ada, kulit kalian akan aku buat menjadi hiasan rumah ini! Kalian mengerti?" Kata Akashi mengakhiri pidato- eh pengumumannya dengan seringai sadis yang terpampang serta gunting yang di gerakkan membuat bunyi *ckris* *ckris* tepat di depan wajah Kise yang kini sudah sepucat mayat.
"K-kami mengerti (ssu/nanodayo)" jawab para makhluk pelangi yang ditodong dengan gunting kompak.
"Ano...apa maksudnya dengan aku menjadi milik Akashi-kun? Dan Akashi-kun tidak boleh berbuat seperti itu pada teman-teman" kata Kuroko yang sudah bebas dari pelukan Akashi.
"Tetsuya...tapi…." Kata Akashi dengan memelas, ternyata sang pujaan hti masih belum mengerti isi hati yang sesungguhnya.
"Tidak ada tapi-an Akashi-kun" Kata Tetsuya tegas sambil berkacak pinggang. Posisi berubah sementara, Akashi berada di bawah dan Kuroko di atas, dalam arti lain bukan diranjang.
'Rasain tuh Akashi(-cchi/chin)' Batin para makhluk pelangi bahagia mendengar perkataan Kuroko.
Akashi pasrah, tak apa kalau dirinya tidak bisa menganiaya para makhluk pelngi itu, yang penting dia masih bisa menjadikan Kuroko Tetsuya miliknya.
"Baiklah Tetsuya, aku tidak akan menyakiti mereka, tapi Tetsuya harus menjadi milikku sepenuhnya….bagaimana?" Tanya, atau lebih tepatnya tawar Akashi sambil memasang seringai tersembunyi. Para makhluk pelangi di belakangnya merinding seketika, tanda-tanda bahaya langsung menggema di kepala masing-masing.
'Tidak! Kesucian Kuroko(cchi/chin) (ssu/nanodayo)!' Batin mereka semua kompak.
"Baiklah Akashi-kun" Jawab Tetsuya sekenannya. Oh tuhan,selamatkanlah Tetsuya kami ini dari iblis berkedok pemuda tampan berambut merah nan cebol itu! Batin kami semua(-Akashi&Kuroko) termasuk author kompak.
"Bagus.." Kata Akashi sambil menyeringai dan menepuk pelan kepala Kuroko. Para pelangi makin ketar-ketir dibuatnya.
Braaak
Suara pintu ruangan yang dibuka kasar tiba-tiba membuat seluruh insan yang ada di ruangan menoleh. Disana di pintu berdiri seorang dengan bibir yang sedikit terlalu maju yangsedang dihiasi aura hitam. Para pelangi termasuk Akashi langsung ciut. Kenapa dia bisa ada disini? Pikir mereka kompak.
"Akashi…..kau mau melakukan apa kepada Kuroko?" Tanya orang tersebut dengan senyuman yang cerah, berbeda 180 derajat dengan bakground petir di belakangnya.
"I-itu, aku hanya- bagaimana kau bisa ada disini Shuuzo!?" Kata Akashi mengalihkan pembicaraan sekaligus berani padahal kaki sudah bergetar hebat.
Nijimura Shuuzo orang dengan bibir agak maju tadi makin memperlebar senyumnya.
"Berusaha mengalihkan pembicaraan eh, Akashi-sama?" Kata Nijimura dengan nada dibuat se imut mungkin yang malah terdengar makin yandere.
"Ti-tidak!" Kata Akashi mencoba membantah. Para pelangi lain mengambil tempat masing-masing untuk melihat pertarungan kedua kapten mereka, siapakah yang akan menang? Author masih mikir jadi….
TBC
A/N: TBC dengan tidak elitenya X'D yak~ jangan ketipu ama A/N di atas~ AkaKuro masih harus melewati jembatan panjang~ fufufu~ pada dukung siapa? Akashi? Or Nijimura? Author sih bang Niji aja~ /plak/ btw maafkan updatenya yang molor sehari, itu di karenakan wi-fi author yang mogok lagi! Sekarang saatnya bales review ga login~
AkaKuroFans: makasih udah mau review dan nungguin terus~ ini udah update! Dan eh ada salah tulis ya? Kalo gitu makasih dah di ingetin! X'D
Akai Hanabi: Selamat datang di fic saya! *tebar kembang* bikin penasaran ya? Ini udah lanjut kok! Makasih reviewnya!
Guest: udah lanjut kok! Thanks for review!
Wizar-san: ini saya juga gatel pengen nistahin si Akashi! Semoga di chap ini udah nistah! Thanks for review!
Udah ya? Yaudh sekian~ akhir kata
Mind to review?
