Maaf updatenya lama banget. Ini chapter terakhir, saya persembahkan untuk kalian yang bener-bener penasaran sama nih fanfic. Ok segitu saja basa-basinya, semoga terhibur, selamat membaca.


Dunia tercipta dibagi menjadi tiga bagian: dunia bawah, tengah dan atas. Dunia bawah adalah dunia di mana para monster berasal, baik itu dari kalangan hewan, hantu, siluman ataupun manusia. Sedangkan dunia tengah hanya dihuni oleh makhluk-makhluk normal saja, tidak mencapai tahap monster. Dan untuk dunia atas ditempati oleh makhluk-makhluk suci.

Dunia sudah dibagi dalam kehidupan yang berkeadilan. Tidak akan ada seorang pun yang dapat berpindah dunia kecuali para elf yang telah mati. Mereka sebenarnya makhluk dunia tengah, tapi saat mati roh mereka berpindah ke dunia bawah dan tinggal di sana selama mereka masih menginginkan kehidupan. Namun jika mereka tak memiliki harapan ingin tetap hidup, rohnya akan pergi menghilang entah itu ke surga atau neraka.

Masing-masing dunia telah memiliki satu penjaga. Dunia atas dijaga oleh makhluk yang disebut Sky, sedangkan dunia tengah disebut Ira lalu dunia bawah disebut Groud. Masing-masing dari mereka memiliki kekuatan yang berbeda tetapi kehebatan mereka sama. Mereka tidak akan pernah bertarung karena sebenarnya mereka tidak bisa bertemu satu sama lain.

Sky memiliki tubuh seperti manusia, kekuatannya berhubungan dengan benda-benda angkasa. Dia memiliki istana yang besar tertutupi oleh lubang hitam dan tak bisa dilihat oleh manusia. Meskipun dia memiliki istana, dia tak memiliki satu pun pelayan atau prajurit. Dia tidak merasa kesepian, karena dia diciptakan tidak bisa merasakan kesedihan.

Ira tak memiliki wujud, tapi dia selalu ada di mana-mana. Tak seorang pun luput dari pengawasannya di dunia tengah. Kekuatannya belum dituliskan di buku manapun, masih menjadi misteri. Ditambah lagi, apa dia memiliki istana atau tidak bahkan belum ada penjelasannya sama sekali. Para Sejarawan di dunia masih mencari-cari informasi tentang Penjaga dunia tengah ini.

Sementara Groud memiliki wujud seperti siluman. Diceritakan dalam sebuah buku yang berasal dari nenek moyang salah satu suku di pedalaman negara tropis, dia memiliki tanduk yang melingkar ala kambing petarung di atas telinganya, berkepala manusia, bertubuh kekar, dan yang paling mencolok darinya adalah singgasananya. Ke mana pun ia pergi selalu membawa singgasana miliknya. Terbang seakan tak terpengaruh oleh gravitasi dan satu lagi yang mencolok darinya, yaitu syalnya yang panjang melingkar di lehernya mengibas ke belakang. Dia adalah Penjaga yang paling gagah daripada kedua saudaranya, Sky dan Ira. Meskipun sifat mencoloknya adalah sifat yang kejam tanpa ampun.

Dalam chapter sebelumnya Screish dan Naruto pergi ke dunia bawah untuk membawa Hinata kembali. Meskipun mereka tahu bahaya kali ini bukanlah bahaya biasa, namun bahaya yang benar-benar bahaya, mau tidak mau mereka harus berhadapan dengan Penjaga dunia bawah yang terkenal mengerikan itu.

The Keeper of Underworld, sebutan kerennya.


Cerita ini hanya khayalan belaka, tidak nyata, hanya untuk hiburan. Ambil positifnya aja ya?


Mereka berlari, hanya itu yang bisa kita tahu saat ini.

Screisch dan Naruto terus berlari melewati tempat yang bisa dibilang terowongan atau gua.

Tidak, kalian salah.

Tempat itu seperti bidang empat sisi yang berbentuk seperti terowongan panjang yang di setiap sisinya bergambar kotak-kotak hitam putih seperti papan catur. Terowongan itu seakan sedang bergoyang-goyang atau mungkin lebih tepat disebut dengan meliuk-liuk, seperti sedang di dalam perut monster saja.

"Tempat ini membuatku pusing," kata Naruto yang berlari di belakang Screisch.

"Kau harus menahannya, Naruto, kita hampir sampai!" tegas Scresich yang tak kalah pusingnya, sampai-sampai keringatnya menetes dari pelipisnya.

"Sial, kepalaku seperti mau pecah!" Naruto mulai frustasi. Ia pun mendahului Screisch.

"Hoy, Naruto, kau tidak boleh ceroboh! Setelah melewati tempat ini akan ada jurang yang sangat dalam, jangan sampai berteriak atau kau akan membangunkan para Pemakan~sial!"

Belum sempat Screisch selesai bicara, terowongan yang sedang mereka lewati tiba-tiba menghilang dan tergantikan oleh tempat yang dipenuhi kehampaan, hanya ada langit yang berwarna putih, dan warna hitam jika kita melihat ke bawah. Benar, saat ini mereka berdua sedang dalam posisi jatuh.

"Sial, sekarang apa lagi?!" Suara Naruto menggema.

"Dasar Bodoh! Kubilang jangan berteriak!"

Raungan tiba-tiba terdengar, dan itu membuat mereka berdua terdiam. Seperti raungan monster yang sedang marah. Grrruarrr! Begitu. Tidak hanya sekali atau dua kali, tapi berlangsung sampai saat ini dan mungkin tidak akan berhenti karena Screisch dan Naruto masih ada di tempat hampa ini.

Suasana semakin membuat merinding. Semuanya mendadak menjadi gelap, dan mereka berdua masih dalam posisi jatuh.

"Hoy, Naruto..." Screisch tampak menatap diam dengan wajah gelisah ke belakang Naruto, "aku peringatkan kau, jangan sampai menengok ke belakang, kau mengerti? Kau mengerti, kan? Hoy..."

"A-Apa maksudmu? Jangan menakutiku...~" Naruto benar-benar menengok belakangnya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat sepasang mata tajam sangat besar dengan mulut yang dipenuhi gigi yang penuh dengan air liur ada di sana. Itu hanya berwujud mata dan mulut saja. Seperti... Seperti... sang Pemilik mata dan mulut itu sedang mengawasi mereka.

"Ini gawat!" Screisch kelihatannya tahu sesuatu, "Naruto, pejamkan matamu, jangan melihatnya! Kalau tidak, roh kita akan dimakannya dan tubuh kita akan terjebak di sini selamanya!"

"Ha? Apa maksudmu?"

"Kita akan mati, Sialan!" Scresich memperjelas sambil cepat-cepat memejamkan matanya.

"H-Hoy, jangan tinggalkan aku!" Naruto juga.

Mereka berdua pun memejamkan mata.

Manusia terkuat, Screisch pun sampai ketakutan seperti itu. Perjalanan mereka ini benar-benar berbahaya. Naruto tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Screisch pun begitu. Dia hanya tahu dari membaca buku, nama-nama dari makhluk peliharaan sang Penjaga, salah satunya makhluk tadi.

Sepertinya sudah waktunya mereka membuka mata.

"Sekarang kita di mana lagi?" Naruto mengalihkan pandangannya ke sekeliling dan hanya terlihat bunga matahari yang ada.

"Mungkin kita sedang di kebun bunga," ucap Screisch juga terlihat bingung.

"H-Hah?! Itu tidak mungkin. Setelah apa yang kita lewati tadi, kenapa kita berakhir di tempat~"

"Selamat datang di Dunia Bawah, Manusia." Suara berat tiba-tiba mengagetkan mereka.

Naruto melihat sekeliling tapi tidak ada orang lain.

"Ada tujuan apa kalian ke tempat berbahaya ini?" Suara itu terdengar lagi. Seperti berasal dari langit saja.

"Aku ingin membawa Hinata kembali!" lantang Naruto.

"Oh, maksudmu nyawa gadis elf yang baru tiba tadi ya?"

"Aku ingin membawanya kembali tapi aku minta dia hidup sebagai manusia."

"Dasar Manusia Rendahan. Benar-benar egois."

"Aku akan melakukan apapun sebagai taruhannya, meskipun itu nyawaku sekalipun!"

"Nyawamu itu tidak terlalu berharga bagiku, apa hanya itu saja?"

"Apapun. Asal aku bisa membawa Hinata kembali!"

"Baiklah, aku terima itu. Tapi sebelumnya, kau harus menghiburku terlebih dulu."

"Bagaimana aku bisa melakukan itu?"

"Lihatlah ke bawah."

Naruto pun melihat ke bawah.

"Hah? Di bawah tidak ada apa-apa kecuali bunga matahari." Naruto kembali mengadahkan wajahnya, "Apa yang sebenarnya harus aku...~" ia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya

Entah kenapa, pedangnya terlepas begitu saja dari tangannya. Ia terpaku dengan apa yang dilihatnya sekarang.

Kepala orang.

Sangat besar.

Hanya kepala saja.

Mata kepala orang itu mendelik tanpa pupil di bola matanya. Mulut ternganga lebar memperlihatkan air liurnya yang seperti ingus kental yang menetes-netes mengenai beberapa bunga matahari hingga membuat bunga-bunganya kering seketika. Darah mengalir dari mata ke pipi, juga dari telinga.

Sangat mengerikan.

Tidak bertubuh, hanya kepala saja, dan itu sangat besar. Dan jelas sekali kalau Kepala Orang Saja itu ada di atas Naruto sekarang—seakan mau memakannya.

Tempat yang dipenuhi bunga matahari, tempat Naruto berada saat ini tiba-tiba berubah menjadi tempat kosong.

Lantai menjadi putih bersih. Langit juga putih.

Belum lama setelah Naruto melepaskan pedangnya, dan pedang itu masih belum dikatakan jatuh.

Benar, pedang itu masih ada di udara dan mungkin akan memakan waktu seper sekian detik hingga pedang itu benar-benar jatuh.

Nol koma nol... atau berapa, entahlah, tapi kita lihat saja.

Pucuk pedang itu terlebih dulu mengenai permukaan, kemudian memantul ganti gagangnyalah yang mengenai permukan, lalu memantul lagi pucuk pedangnya yang kena permukaan, memantul lagi gagangnya yang kena, terus seperti itu hingga pedangnya terbaring sempurna di lantai.

Naruto tampak sudah tak terlihat di tempatnya.

Kepala Orang Saja itu kelihatannya sedang mengunyah sesuatu. Kress! Kress! Suara dari mulutnya—terdengar seperti kita sedang memakan daging mentah dan alot saja. Ditambah lagi, mulutnya tak henti-henti meneteskan air liur yang tampak seperti ingus kental yang warnanya gelap, dan asal kalian tahu, itu menjijikan—seperti kita sedang meminum segelas ingus kita sendiri.

Benar, kan? Itu sangat menjijikan.

Dan sepertinya sudah cukup lama Kepala Orang Saja itu mengunyah, dia pun terdiam. Sesekali dia tersenyum dengan wajahnya yang mengerikan. Kemudian suara aneh terdengar setelah itu.

GLEK!

Dia menelan sesuatu.

Tapi di sisi lain sepertinya kita melupakan seseorang.

Di mana Screisch?


Chapter END : We Are Assassins


Kali ini kelihatannya kita sedang ada di hutan. Lihatlah di sekeliling, hanya ada pepohonan dan juga tak jarang semak belukar. Atau di bawah, tanahnya tampak lembek—sepertinya beberapa saat yang lalu turun hujan.

Sekarang mari alihkan pandangan ke arah seekor elang yang tampaknya sedang mengawasi sesuatu dari atas ranting pohon. Dia hanya terdiam.

Apa dia sedang mengincar mangsanya?

Mungkin tidak, karena yang dia lihat bukanlah tikus atau kelinci melainkan seseorang yang berdiam diri berdiri dengan mata tertutup.

Itu Naruto.

"Ugh..." Dia membuka matanya. "Kupikir... aku sudah mati dimakan monster kepala itu tadi."

"Sekarang kau ada di sebuah dunia kecil yang belum pernah dihuni manusia sebelumnya." Sang Penjaga berbicara.

"Apa sang Penjaga itu sepengecut ini sampai-sampai tidak mau menampakkan dirinya saat berbicara?"

"Jaga mulutmu! Kaupikir aku ini siapa? Dasar Manusia rendahan, bersyukurlah karena aku mau memberimu kesempatan."

"Cepat beritahu saja, bagaimana bisa aku menghiburmu?"

"Hah... Oy, Ses-chan, adikmu ini benar- benar tidak tahu sopan santun ya?"

Naruto terheran. Apa maksud perkataannya? Apa sang Penjaga itu sedang berbicara dengan orang lain? Dan siapa itu Ses-chan?

"Y-Yah... dia memang seperti itu." Suara Screisch.

"A-Aniiwe?" Naruto melihat sekeliling tapi tidak ada orang lain selain dia. "Apa maksudnya ini?!"

"Begini, Naruto, s-sebenarnya... sebenarnya... sang Penjaga dunia bawah, Groud-sama adalah guruku dulu," jelas Screisch.

"Hah?! K-Kupikir... Kupikir kita berlatih di tempat yang sama."

"Bukan begitu. Begini... waktu kau pergi berlatih pertama kali, aku tidak benar-benar langsung pergi ke kota, aku berlatih dengan sang Penjaga, terutama Groud-sama ini."

"T-Terutama? Jadi maksudmu... k-kau dilatih oleh tiga Penjaga dunia sekaligus? Itu gila!"

"Begitulah."

"Tapi jika itu benar, bukankah kau tidak punya waktu? Butuh bertahun-tahun untuk menjadi kuat. Tapi setelah kuhitung mulai dari aku berlatih hingga kau mengabariku akan menikah dan punya seorang putri, itu tidak memungkinkan. Memangnya kau bisa membalikkan waktu apa?" Naruto semakin bingung.

"Satu jam di dunia nyata adalah 2 tahun di alam para Penjaga menurut hitungan manusia," timpal sang Penjaga, Groud.

"Benar-benar tidak adil. Pantas saja kau sangat kuat." Naruto menghela napas.

"Memangnya kaupikir aku bisa mencegah meteor jatuh hanya dengan latihan senjutsu dari kakek itu apa? Jangan bodoh," lekas Screisch.

"Lalu kenapa kau tadi kelihatan sangat ketakutan dengan makhluk mata tadi meskipun kau sudah pernah berlatih di dunia bawah? Apa kau berakting lagi?" Sepertinya Naruto sedikit kesal karena ditinggal.

"Aku tidak tahu kalau ada makhluk itu, meskipun pernah baca di sebuah buku. Lagipula makhluk itu benar-benar membuatku ngeri, apa salahnya?" jelas Screisch.

"Setidaknya kau harus ada di sini bersamaku, bukan malah ikut-ikutan tidak menampakkan diri?" Naruto mengangkat tangannya—memanggil pedang Durandal. Mungkin dia tahu kalau dia akan bertarung.

"Itu tidak akan aku izinkan. Kau ingin menyelamatkan gadis itu, dan asal kautahu saja, aku belum pernah memberikan kesempatan ini pada siapapun sebelumnya. Kau harus menghargai kesempatan ini dengan kehormatanmu sebagai ahli pedang," kata sang Penjaga, Groud.

"Iya iya, makanya cepetan dong beritahu aku bagaimana cara menghiburmu?"

"Hm... sungguh tidak punya sopan santun. Baiklah, kau hanya perlu bertarung dengan makhluk yang ada di depanmu saat ini. Kau kalah, kembalilah dengan tangan kosong. Kau menang, bawa gadis itu. Tawaran yang menguntungkan bagimu, kan? Jadi berterimakasihlah."

Ada seekor kanguru di depan. Naruto tidak begitu mengerti kenapa yang jadi lawannya adalah seekor kanguru yang berpenampilan aneh.

Coba kalian lihat apa yang dikenakan kanguru itu di tangannya. Sarung tinju warna merah. Meskipun hanya sarung tinju saja yang aneh darinya, bagaimanapun juga tetap saja itu tidak biasa.

Apa kanguru itu dari sirkus? Jangan bodoh. Memangnya di dunia bawah ada yang seperti itu apa?

Kanguru itu juga tampak melompat-lompat layaknya atlet tinju.

Oke, Naruto tahu tidak seharusnya meremehkan lawan. Dia sepertinya tidak sia-sia memanggil pedangnya duluan tadi.

"Jangan kecewakan aku, Kanguru-san." Naruto mengacungkan pedangnya ke arah hewan itu.

"Seharusnya aku yang mengatakan itu."

Hoy hoy hoy, dia bisa bicara rupanya.

"K-Kau tahu apa maksudku?!" Naruto juga terkejut.

"Aku adalah salah satu peliharaan terkuat yang dimiliki Groud-sama. Berbicara dengan bahasa manusia tidaklah sulit bagiku." Beberapa kali dia melakukan tinju untuk pemanasan.

Naruto tersenyum. "Kita lihat saja nanti, apa kau bisa membuatku berkeringat?" Dia membungkuk sedikit sambil membentangkan pedangnya ke belakang.

Kanguru itu tertawa layaknya pria. "Kenapa kuda-kuda seorang ahli pedang seperti orang yang baru awal-awal memegang pedang?"

Naruto semakin lebar tersenyum. "Kau sudah tahu kalau aku ini ahli pedang, tapi kau tidak tahu apa maksud kuda-kuda sepele yang sedang aku lakukan ini."

"Aku peringatkan. Kita sedang ada di pulau kecil. Mungkin kita akan berakhir bertarung di atas laut. Dan... jika kau punya masalah dengan tekhnik berdiri di atas air, jangan kaupikir 1 persen pun bisa memiliki kesempatan untuk menyentuhku!"

"Aku tidak butuh 1 persen untuk memiliki kesempatan menyentuhmu karena aku punya 100 persen untuk membuatmu babak belur!"

Mereka berdua terdiam setelah itu. Hanya saling menatap tajam dengan senjata mereka masing-masing. Kanguru dengan sarung tinjunya, dan Naruto dengan pedangnya.

Sekarang mari kita alihkan sebentar pandangan ke arah elang yang sempat kita lupakan di awal tadi. Dia menengok ke kanan-kiri dengan cepat ala ayam yang sedang melihat sana-sini. Matanya yang tajam sudah tak melihat ke arah Naruto lagi. Dia mulai melebarkan sayapnya sebelum kemudian terbang menjauh dari tempat yang akan menjadi arena pertarungan.

Lihat, setelah dia terbang beberapa bulunya tampak terlepas dan melayang-layang jatuh. Dan dari balik bulu-bulu itu kita bisa lihat Naruto sudah ada di belakang Kanguru dengan pedangnya yang teracung ke depan agak ke atas.

Darah menetes.

Pipi Kanguru tergores, tapi dia tersenyum. "Cepat juga kau. Kepalaku mungkin sudah melayang tadi jika aku tidak menghindar sedikit," katanya.

Naruto memutar tubuhnya sambil mengayunkan pedangnya ke arah Kanguru. Sepertinya dia sedang tidak ingin bicara. Dia fokus bertarung.

Kanguru juga memutar tubuhnya, meskipun pedang Naruto sudah sangat dekat di lehernya. Tapi dia lebih cepat. Dia menghajar Naruto tepat di perut hingga membuatnya muntah air kemudian terpental menabrak sebuah pohon.

Kali ini Kanguru itu melompat-lompat kecil mendekati Naruto. Tapi seketika itu Naruto sudah ada di depannya sambil mengayunkan tinjunya.

"Kaupikir bisa mengalahkanku dengan itu?" Kanguru juga mengayunkan tinjunya.

Tinju mereka pun saling bertabrakan sampai sebuah kawah tiba-tiba terbentuk di tanah tempat mereka berdiri.

Tangan yang Naruto gunakan untuk meninju berdarah.

"Lihat. Tanganmu saja tidak kuat menahan tinjuku, kau perlu latihan yang lebih...—" Kanguru terdiam seketika.

Pedang Naruto tampak sedang terayun ke leher si Kanguru. Sudah kena kulit, tapi hanya menyentuh saja belum melewati kulit.

Kanguru sesegera mungkin memukul tangan kiri Naruto yang tengah mengayunkan pedang itu.

Naruto mundur beberapa langkah ke belakang, dan pedangnya terlempar jatuh.

Kanguru berhasil selamat.

"Pintar juga. Kau membuatku teralihkan pada tangan kananmu, sementara tangan kirimu fokus membunuhku. Tapi aku heran, kenapa leherku yang selalu jadi titik prioritasmu untuk mengalahkanku?"

Naruto terbatuk beberapa kali memegangi dadanya, tapi dia tersenyum. "Memangnya siapa yang bilang akan mengalahkanmu?" katanya.

Kanguru terheran.

Naruto tersenyum iblis. "Aku akan membunuhmu!"

Tubuh Naruto mendadak saja terangkat. Mulutnya ternganga lebar. Matanya mendelik sampai pupilnya tak terlihat. Kanguru tiba-tiba meninju perutnya lagi.

Waktu seakan melambat. Naruto masih terangkat.

Kanguru mendekatkan mulutnya di telinga pemuda itu. "Coba saja kalau bisa."

Kemudian dua tinju, Naruto terima di wajah dan dadanya. Lalu empat tinju di bahu dan paha. Dua tinju lagi. Sepuluh tinju lagi. Duapuluh tinju lagi. Kanguru terus meninju sampai bisa kita lihat dia seakan-akan memiliki banyak tangan saja.

"Ada apa dengan kepercayaan dirimu tadi?" Kanguru berhenti meninjunya. "Mana hawa membunuhmu tadi?! Tunjukkan padaku!" Dia kembali meninju Naruto. Tapi kali ini hanya dengan satu tinju saja. Meskipun begitu, satu tinju itu bisa membuat pohon-pohon di sekitarnya menikung seperti tertiup angin.

Naruto pun terlempar. Menabrak batang pepohonan hingga patah. Terus terlempar melewati hutan, pantai lalu terguling-guling di atas air laut. Terus terguling-guling hingga si Kanguru menghentikannya hanya dengan menyentuh bahunya saja.

Selain itu Kanguru juga cepat, kalau saja dia tidak secepat itu tidak mungkin bisa menghentikan Naruto tadi.

Si Kanguru menyentuh bahu Naruto sepertinya bukan suatu kebetulan. Saat ini kita hanya bisa melihat Kanguru itu sendiri di atas air laut. Dia sendirian berdiri di atas air.

Di mana Naruto?

Dia tenggelam.

"Ugh..." Tampak beberapa gelembung keluar dari mulutnya, mungkin karena dia mencoba bernapas.

Naruto semakin tenggelam.

"Sial! Aku tidak boleh mati di sini!" Dia pun mulai menggerakkan kakinya untuk berenang ke permukaan.

Namun ketika sudah sampai di permukaan, ada sesuatu yang membuat Naruto melupakan si Kanguru. Dia sudah tak di laut lagi.

"Sial, si Penjaga itu sepertinya merubah dunia seenaknya lagi!" Naruto berdiri di atas air.

Tempat ini seperti danau neraka yang dipenuhi oleh tulang manusia yang sedikit demi sedikit menguap menjadi asap yang baunya seperti daging busuk. Lebih jelasnya, danau darah.

Dan lihatlah di sekitar danau. Ada banyak makhluk aneh yang seakan sedang menunggu Naruto agar lekas keluar dari danau. Mempunyai kepala kambing, badan kurus kering sampai kelihatan tulang rusuknya, kaki layaknya kambing, tapi kedua lengannya sangat berotot ala tangan atlet angkat besi. Mereka berdatangan berbondong-bondong seakan ingin melihat Naruto.

"Goatman, sebut saja mereka dengan nama itu," kata Kanguru yang berada tak jauh dari Naruto.

"Apa mereka juga peliharan tuanmu?" Naruto mengangkat tangannya, dan saat itulah pedangnya muncul.

"Makhluk kotor seperti mereka bukanlah peliharaan Groud-sama. Mereka hanya penghuni di tempat ini," jawab Kanguru. "Asal kautahu saja, mereka itu kuat lho. Aku peringatkan, sebaiknya kau tidak terpental lagi saat kuhajar atau mereka akan menangkapmu."

"Hey... kakimu... kenapa?" Naruto melihat kaki Kanguru yang entah sejak kapan mulai berubah menjadi kaki manusia.

"Kalau aku melompat terus, akan jadi susah menghajarmu makanya kali ini aku lebih memilih berlari," jawabnya.

"Dasar Kanguru egois, kau merusak seni alam di dunia tengah. Kanguru itu suka melompat, dan kau harus memegang prinsip itu agar—" Ucapan Naruto terhenti. Tiba-tiba saja Kanguru menghajar wajah pemuda itu. Sepertinya peliharaan sang Penjaga dunia bawah ini tidak suka dikomentari.

"Cobalah untuk tidak tertangkap oleh para Goatman, Uzumaki Naruto," bisik Kanguru.

Lagi-lagi Naruto terlempar.

Dan sepertinya dia sedang dalam bahaya. Dia sudah tak di danau lagi. Dia menabrak batang pohon karena terlempar keluar dari danau.

Makhluk-makhluk yang disebut Goatman mulai mengerubungi Naruto. Beberapa dari mereka tampak menjilati tangan Naruto seperti sedang mencicipi makanan saja. Semakin lama mereka semua mulai saling tarik-dorong hanya untuk menjilati tangan pemuda itu.

"Mbeeek!" Mereka mulai mengeluarkan suara. Awalnya hanya satu, tapi semakin lama mereka semua bersuara layaknya kumpulan kambing yang cerewet minta makan. Berisik sekali.

"Hey, apa-apaan ini? Menjijikan! Hey, jangan jilat tanganku! Hey!" Naruto tampak jadi bahan tarik tambang bagi para Goatman. Ada yang memegang tangan, kaki, baju sambil terus menjilatinya. Mereka terus saling tarik.

Para Goatman itu sungguh punya lengan yang kuat, Naruto sampai meringis kesakitan. Dia merasa seperti kaki dan tangannya akan putus.

"Sial! Hentikan woy! Tanganku... mau putus... Sialaaan...! Sial! Siaaal! Siaaaaaal! LEPASKAN! LEPASKAN AKUUU! SIAAAAAAAAAAAAL!"

Para Goatman mulai melepaskan Naruto. Mereka sedikit menjauh darinya. Sepertinya mereka agak takut dengan teriakan Naruto tadi.

"Di mana Kanguru itu? Kalau begini terus, bagaimana aku menghadapinya?" Naruto tidak bisa melihat sekeliling karena para Goatman yang mengerubunginya.

"Mbeeek!" Lagi, para Goatman mengeluarkan suara itu. Mereka seperti sedang saling berkomunikasi layaknya ibu-ibu gosip.

Naruto menggunakan kesempatan ini untuk menjauh dari mereka. Melompat, berlari menginjaki beberapa kepala mereka dan melompat lagi. Akhirnya dia bisa berlari menjauh dari para Goatman itu.

Sekarang di mana Kanguru?

Naruto mengamati sekeliling tanpa mengurangi kecepatan larinya. Tidak ada Kanguru di manapun, hanya terlihat pepohonan yang kering dan tinggi dengan tanah gesang yang permukaannya tak karuan—seperti ada di sebuah hutan yang mati, tak ada tumbuhan lain selain batang pohon tanpa daun.

Naruto mengernyitkan matanya saat sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi di sekitar. Dia sedang melewati makam, yang terlihat. Ada banyak sekali batu nisan di sekeliling, kebanyakan berbentuk salib dan ukurannya cukup besar. Namun yang membuat aneh bukan itu, tapi di atas makam-makam yang terlihat ada tangan yang bermuncullan.

Semakin lama mulai jelas seperti apa pemilik tangan itu. Bangkit dari tanah. Jumlahnya mulai bertambah dan bertambah. Itu mayat hidup. Mereka mulai berjalan, kemudian berlari secepatnya mengejar Naruto.

"Kenapa di tempat ini ada makhluk seperti mereka?" Dia mempercepat larinya.

Mayat-mayat hidup itu benar-benar mengerikan. Mereka seperti memaksakan tubuhnya untuk berlari apapun keadaannya, entah salah satu kakinya yang sudah tak ada, kepalanya sudah putus, cuma setengah badan, dan yang paling mengerikan ada yang berlari sambil membawa kepalanya sendiri atau berlari seperti orang mabuk tanpa kepala beberapa kali menabrak pohon tapi tetap saja terus berlari.

Naruto tiba-tiba menghentikan langkahnya karena seorang mayat hidup menghadangnya. Mayat itu tidak bergerak dari tempatnya setelah itu. Dia hanya memukul-mukuli dadanya sambil terbatuk-batuk. Kemudian dia memuntahkan cairan hitam kental yang disertai ular-ular kecil hidup bercorak zebra.

Naruto tidak ingin mencemari pedangnya, ia pun kembali berlari secepat mungkin. Tidak ada waktu untuk melayani para mayat hidup itu. Dia harus segera menemukan Kanguru atau Hinata tidak akan bisa ia bawa kembali.

"Hoy, Kanguru, jangan jadi pengecut! Apa kau tidak ingin bertarung dengan—" Naruto tiba-tiba memiringkan tubuhnya karena sebuah batang pohon mendadak melesat ke arahnya dari depan.

Tidak hanya itu saja. Kanguru tampak berdiri di atas batang pohon itu. Kakinya terayun seperti akan menendang bola.

Naruto hanya terbelalak menyadari kaki Kanguru sudah ada dekat di wajahnya. Sial! umpatnya dalam hati sebelum kemudian terlempar ke belakang mengarah pada para mayat hidup tadi.

Hidung Naruto berdarah karena tendangan Kanguru. Sekarang ia dikerubungi mayat hidup yang tampaknya ingin menjadikannya bagian dari mereka.

Tetapi, Naruto tidak ingin mati sekarang.

Dia pun memutar pedangnya. Darah warna hitam kemudian terciprat ke mana-mana. Sepasang tangan, kaki bahkan kepala sekalipun melayang-layang di udara. Pedang Naruto basah akan darah.

"SIAAAL!" Naruto kembali berlari. "KANGURU, BERTARUNGLAH DENGAN JANTAN!" teriaknya lagi.

Sesuatu yang aneh entah sejak kapan sudah terlihat di belakang Naruto. Berwarna hitam, memiliki sepasang mata merah dan mulut yang tersenyum lebar bagai iblis.

Naruto melirik sekeliling. Ada banyak sekali genangan air, apa baru saja turun hujan ya?

Tanpa ia sadari, Naruto menginjak salah satu genangan air itu. Bulatan-bulatan kecil air yang diakibatkan injakan Naruto pun mulai terciprat. Belum. Mungkin lebih tepat belum bisa dikatakan terciprat karena bulatan-bulatan airnya juga belum jatuh ke suatu tempat. Masih dalam keadaan melayang. Kadang bulatan air itu menjadi lonjong, kadang bulat, kadang juga bulat tak beraturan bahkan menjadi dua.

Dan ketika satu bulatan air itu jatuh ke tanah, bisa kita lihat Naruto sudah menghadapkan tubuhnya ke bayangan yang dari tadi membuntutinya. Tangannya terbentang ke belakang dan tanpa pikir panjang langsung ia ayunkan pedangnya ke bayangan itu.

WUSH! Suaranya begitu jelas ketika pedang Naruto mengenai bayangan itu.

"Sepertinya aku merasakan kekuatan aneh yang ada padamu sekarang." Kanguru akhirnya menampakkan diri. Dia berdiri di atas pedang Naruto.

"Aku akui kau sungguh kuat, tapi aku peringatkan jika kau lengah jangan salahkan aku kalau kepalamu terbang nanti." Naruto memperlihatkan kedua matanya yang tampak seperti mata katak.

"Begitu ya. Aku pernah mendengarnya. Kekuatan yang muncul dengan mengumpulkan energi alam ke dalam tubuh dan menjadikan energi itu sebagai kekuatan sendiri, Senjutsu. Tapi tetap saja itu bukan kekuatanmu sendiri, kau cuma mengemis pada alam agar memberikan kekuatannya kepadamu. Tidak lebih!"

"Memangnya apa masalahmu jika aku memang begitu?!" Naruto membalikkan pedangnya; membuat bagian tajam mengarah ke atas tepat ke Kanguru, kemudian ia balik badan dan ditebaskannya pedang itu bermaksud membelah si Kanguru mulai dari selangkangannya terlebih dulu. Namun sebelumnya Kanguru sudah menghilang.

"Kau memang lebih kuat dari sebelumnya, tapi kekuatan yang kaupinjam dari alam belum bisa menyamaiku sebagai peliharaan salah satu sang Penjaga." Kanguru berdiri di ranting pohon.

Naruto tampak berlari sekarang. Entah kenapa dia malah menjauh dari Kanguru bukan menyerangnya.

"Hey hey hey, padahal aku senang ketika kau mengatakan apakah aku bisa membuatmu berkeringat, tapi kenapa sekarang kau malah lari dariku?" Kanguru juga berlari untuk mengejar pemuda itu dengan kaki manusianya. "Ha?! Uzumaki Naruto!" Dia lalu tertawa jahat. "Cepat! Hadapi aku lagi!" Dia tertawa semakin gila.

"Jangan kaupikir aku sepengecut itu untuk meninggalkan musuh sepertimu!" Naruto mendadak memutar tubuhnya sambil melempar pedangnya tepat ke wajah Kanguru.

"Itu percuma!" Kanguru memiringkan kepalanya untuk menghindar. "Geh! Itu keputusan yang ceroboh. Kau membuang satu-satunya senjata yang kau gunakan untuk menghadapiku! Itu bodoh sekali! Sangat ceroboh! Kau bodoh!" Kanguru tertawa lagi. "Kau bodoh! Bodoh sekali! Sangat sangatlah bodoh!" Dia kelihatan senang seakan sudah menang saja.

Sementara itu, Naruto tampak mengayunkan tangannya seperti memegang pedang saja meskipun pedangnya sudah ia lempar tadi, dan itu membuat Kanguru terdiam yang terlihat sudah ada di depannya, dekat.

"Jadi begitu, kau bisa memanggil pedangmu lagi." Kanguru menebak-nebak.

"Ketahuan ya?" Dan benar saja, dalam sekejap pedang muncul di tangan Naruto yang terayun itu.

Kanguru melekungkan tubuhnya ke belakang hingga kepalanya menyentuh tanah sementara pedang Naruto masih terayun di atasnya.

SRASH! Suara yang dihasilkan pedang itu mampu membuat pohon-pohon di depan sana terpotong hingga membuat setengah wilayah hutan menjadi gundul.

"Mungkin kalau aku terkena seranganmu tadi bisa gawat." Kanguru sedikit melototkan matanya, kelihatannya dia cukup terkejut.

Naruto mendesah kesal. "Bisakah kau berhenti menghindar? Itu membuatku mulai tidak suka bertarung denganmu."

"Kalau begitu, kau tidak akan bisa menang melawanku!" Kanguru mengayunkan tinjunya.

Naruto bergeser sedikit ke samping sambil memiringkan tubuhnya untuk menghindar, dan itu membuat tinju Kanguru berhenti di depan dadanya.

"Pukulanmu tidak akan pernah mengenaiku lagi," kata Naruto.

"Kau beruntung bisa menghindari tinjuku kali ini. Mungkin jika kau tidak menghindar, kau bisa berakhir seperti pohon-pohon yang ada di sana." Kanguru tersenyum sombong.

Benar yang dikatakannya, ketika Naruto menengok ke arah sebaliknya dari pohon-pohon yang telah ia potong tadi bisa kita lihat tempatnya lebih parah—batang pepohonan remuk seperti dilanda angin ribut tanpa satu batang pun berdiri. Setengah wilayah hutan terpotong dan setengahnya lagi hancur berantakkan.

Sekarang hanya tanah mati yang terpandang ke manapun. Entah ada di mana para Goatman dan mayat hidup tadi pergi, tapi mereka sudah tak terlihat.

Kanguru dan Naruto pun saling melompat ke belakang.

Kanguru tampak membuka mulutnya lebar, dan seketika itu muncullah bulatan sebesar bola sepak yang wujudnya seperti matahari. Bola itu mulai menyerap sesuatu seperti bulatan-bulatan hitam kecil yang entah dari mana asalnya. Wujud bolanya mulai berubah dari wujud matahari menjadi gelap hitam. Tanah yang diinjak Kanguru pun tiba-tiba membentuk kawah. Bulatan-bulatan kecil hitam masih terus diserap bola itu dan kawah yang terbentuk tadi semakin besar.

"Kita sedang bertarung. Jangan seenaknya mengulur waktu hanya dengan serangan bola aneh lemah seperti itu," kata Naruto—dia kelihatan santai sekali, pedangnya bahkan tidak diangkatnya.

"Kalau menurutmu ini lemah, cobalah untuk menahannya!" Bola hitam pekat yang Kanguru ciptakan mendadak melesat cepat ke arah Naruto.

"Baiklah, itu bukan hal yang sulit."

Bola itu sudah dekat di depan Naruto.

"Itu mudah." Naruto cuma berjalan biasa mendekati Kanguru dan bola itu entah kenapa melewatinya begitu saja. "Lihat." katanya sambil tersenyum menang.

"Bagaimana mungkin?!" Kanguru mundur selangkah, terheran. "Padahal aku sudah membidikmu dengan benar. Apa yang sudah kau lakukan?"

Naruto tertawa kecil, "Apa kau tahu? Kekuatan yang berhubungan dengan sang Penjaga adalah kekuatan alam, itu termasuk dirimu. Cara kerjanya seperti magnet, jika kau mendekatkan kutub yang sama akan saling menolak. Jadi intinya aku menggunakan Senjutsu bukan untuk membuat diriku semakin kuat saja, namun juga sebagai alat penolak untuk segala serangan yang kau lancarkan padaku."

"Sejak kapan kau menyadarinya?"

"Ketika aku bisa menghindari pukulanmu sejak pertama aku memakai Senjutsu. Saat itu sebenarnya aku tidak benar-benar menghindar, itu hampir seperti refleks karena seperti ada sesuatu yang menolak atau memaksaku agar menghindar secepat mungkin. Dan itu juga bekerja pada bolamu tadi."

Ledakan pun tiba-tiba terjadi jauh di belakang Naruto hingga membuat langit menjadi gelap dan hanya cahaya yang berasal dari ledakan itu. Sepertinya ledakan itu adalah ledakan yang diciptakan oleh bola yang Kanguru lesatkan tadi.

Kanguru pun tersenyum. Dia menurunkan tangannya. "Aku kalah," katanya.

"Apa? Ini baru saja dimulai, kenapa kau tiba-tiba menyerah?" Naruto heran.

"Kau sudah tahu rahasianya. Lagipula percuma saja kita lanjutkan pertarungan ini, seranganku sudah tidak bisa mengenaimu lagi seperti katamu," jelas Kanguru.

"Jangan bodoh! Setelah kau mengahajarku dan mempermainkanku?! Tidak bisa! Kita harus selesaikan pertarungan ini!"

"Kau terlalu menghargai dirimu. Memangnya untuk apa kau ke sini, untuk apa kau bertarung denganku? Bukankah untuk menyelamatkan seseorang? Sadarilah tujuanmu! Jangan terlalu egois!"

Naruto hanya bisa terdiam. Kanguru benar, dia pergi ke dunia bawah hanya untuk membawa Hinata kembali. Hanya itu.

Kanguru mulai terlihat menjadi butiran-butiran cahaya putih. "Senang bertarung denganmu, Uzumaki Naruto. Mungkin suatu saat kita bisa bertarung lagi." Ucapan terakhirnya sebelum menghilang.

Tempat di mana Naruto berada pun mulai berubah. Tanah yang gesang mulai ditumbuhi rumput-rumput. Pohon-pohon berdaun lebat tinggi dengan cepat dan menutupi tanah dari sibar matahari. Kicauan burung mulai terdengar. Hutan yang sebelumnya tidak subur menjadi hutan hijau, seakan-akan Naruto sedang menyaksikan bagaimana kehidupan alam yang dari tidak ada menjadi ada.

"Naruto." Seseorang tiba-tiba menyentuh bahunya.

Itu Screisch. Dia tampak menggendong seseorang yang terselimuti kain putih tipis di punggungnya.

"S-Siapa yang kau bawa itu?"

Screisch menurunkan seseorang itu, "Apa kau tidak mengenal gadis yang jadi tujuanmu ke sini? Dia ini Hinata. Kau harus belajar mengenal orang yang kau cintai, Naruto."

"Sialan! Berani sekali kau menggendongnya!" teriak Naruto langsung.

"Hey, kenapa kau malah marah?"

"Seharusnya aku yang menggendongnya! Padahal aku sudah membayangkan kalau setelah mengalahkan Kanguru itu akan ada air terjun di depanku lalu Hinata ada di balik air terjun dan... dan... tanpa pakaian sedang menungguku terbaring di peti mati, kemudian... kemudian aku menggendongnya sambil merasakan tubuh telanjangnya. Oh, sialan, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya! Tapi kenapa?! KENAPA KAU YANG MEMBAWANYA?! SIALAAAN!"

Screisch tertawa, "Kupikir apa. Kalau kau ingin menggendongnya, gendong saja sekarang."

Naruto terdiam. "Apa tidak apa-apa? Kalau dia tiba-tiba bangun aku bisa saja mati."

"Tentu saja tidak apa-apa. Dia kan milikmu."

Naruto pun menggendong Hinata di punggung. Sekarang bisa ia lihat dengan jelas tangan gadis itu yang putih halus melingkar di lehernya, bisa ia rasakan napas gadis itu yang menderu di dekat telinganya, tekanan yang ada di punggungnya, juga kehangatan. Selain itu Hinata seperti baru mandi saja, ia terlihat segar dan baunya seperti sabun mandi. Dan yang paling penting adalah gadis itu bukan lagi Elf.

"Kita akan pulang, Naruto," ucap Screisch.

"Bagaimana caranya?"

"Kau cuma perlu diam, dan lingkaran sihir yang ada di bawah kita akan mengirim kita kembali."

Naruto pun melayangkan pandangannya ke bawah, dan yang ia lihat adalah setengah tubuhnya sudah menghilang termakan lingkaran sihir berwarna hijau yang berputar.

"Ini sedikit menakutkan."

"Jangan banyak komentar. Ini jalan satu-satunya untuk kita pulang yang teraman. Memangnya kau ingin melawan monster-monster seperti Pemakan Roh saat kita datang ke dunia bawah apa?"

"Tidak, terima kasih."

"Makanya tutup mulutmu."

Mereka pun menghilang, tertelan oleh lingkaran sihir itu.


THE END


Enaknya dibikinin sequel nggak ya? Gimana? ^_^