LavenderKu a Naruto Fanfiction
Chapters 10
Rate : M (kekerasan)
Genre : Action, Romance
Disclaimer : Naruto Cuma punya Masashi Kishimoto! Mitsuki Cuma pinjam tokohnya!
Warning : alur kecepatan, pendiskripsian suasana kurang gerget, gaje, OC, OOC, GAJE, super aneh, NO LEMON
Baturaja, 15 Januari 2015
By
Mitsuki HimeChan
~o0o~
.
.
Suasana di Konoha High School terlihat ramai dan keceriaan terlihat jelas oleh para murid dan pengunjung yang berdatangan memenuhi seluk beluk sekolah.
Cafe Neko-Chan
terlihat ramai oleh pengunjung, makanan yang disajikan pun serba kue manis dan ice cream berbagai rasa yang membuat pengunjung betah berlama-lama berada didalam cafe apalagi maid nya cantik dan tampan siapa yang tak tertarik.
Hinata tampak cantik dengan pakaian maid yang ia kenakan dengan rok yang mekar dan tanpa lengan memperlihat sebagian dadanya namun tertupi oleh selendang warna hitam yang diikat kebelakang serta sebuah kalung dengan bandul nya sebuah lonceng kecil dan pita dikedua pergelangan tangannya dan juga bando berbentuk telinga kucing.
"Hinata kau kawaii sekali." Puji Matsuri kagum.
"Arigatou." Ujar Hinata merona.
"Hinata antarkan kue ini cepat!" Seru Sari.
"Iya!" Sahut Hinata bersemangat.
Hinata mengambil nampan yang berisi tiga piring kue dan tiga gelas jus jeruk.
Hinata mengantarkan pesanan kemeja nomor lima dan senyuman nya terpatri melihat ayah, ibu, dan suaminya duduk mengitari meja dan tersisa satu kursi untuknya duduk.
"Ayah! Ibu! Naruto-kun!" Serunya bersemangat dan menaruh nampan diatas meja dan menaruh piring berisi kue di depan suami, ibu, dan ayahny serta gelas jus jeruk.
Srett..
Hinata menarik kursi dan duduk sambil memeluk nampannya.
"Kawaii ne." Kata Naruto memuji dan senyuman terparti diwajah tampannya.
"Arigatou Naruto-kun." Ucap Hinata merona karna sudah banyak hari ini yang memujinya kawaii.
"Gomen Hinata-chan, kami terlambat datang apalagi sekarang telah pukul sepuluh siang." Kata Hikari.
"Tidak apa bu." Tukas Hinata lembut menatap amethyst sang ibu.
"Bagaimana dengan belajar mu?" Tanya Hiashi.
"Baik ayah dan minggu depan bagi rapot nya." Jawab Hinata.
"Baguslah." Kata Hiashi senang mendengarnya lalu memotong kue dipiring menggunakan sendok dan memakannya secara perlahan.
"Bagaimana yah enak gak?" Tanya Hinata penasaran akan pendapat sang ayah akan kue buatannya.
"Enak tapi terlalu manis." Jawab Hiashi.
"Arigatou tou-san." Seru Hinata senang mendengarnya.
Naruto dan Hikari juga ikut mencicipi kue buatan Hinata dan tentu mereka tersenyum karena rasanya sangat enak dan manis.
Naruto menghentikan makannya dan meraih gelas yang berisi jus jeruk dan meminumnya.
"Nande Naruto-kun?" Tanya Hinata heran melihat tingkah sang suami.
"Manis sekali kuenya." Celetuk Naruto setelah menghabiskan jus jeruk lalu menaruh gelasnya dimeja.
"Kamu gak suka manis Naruto-kun?" Tanya Hinata kembali.
"Aku suka manis tapi kue ini kelewat manis." Jawab Naruto.
Hinata mengangguk mengerti.
"Dimana teman mu yang lain Hinata?" Tanya Hikari.
"Yang lain?" Tanya Hinata.
"Iya kan minimal muridnya tiga puluh orang dalam satu kelas, ini cuma ada beberapa orang yang ada." Jelas Hikari.
"Oh itu sebagian memang tinggal dikelas buat buka stand sisanya ikut lomba futsal, basket, renang, lari dan itu antar kelas." Ujar Hinata.
"Aku jadi ingat masa SMA." Naruto terkekeh mengingatnya.
"Hinata, kamu harus jadi anak yang pintar, rajin, dan taati suami mu." Ujar Hiashi pelan.
"Iya ayah aku janji." Hinata tersenyum.
Disisi lain Gaara yang memperhatikan keluarga kecil Hinata sejak tadi hanya mendengus kesal melihat Naruto yang dimatanya hanyalah bocah berkepala duren yang menganggu kehidupan asmaranya.
"Sudahlah Gaara relakan Hinata, masih banyak perempuan diluar sana." Celetuk Sai yang menghampiri Gaara yang memperhatikan Hinata dari kejauhan.
"Hinata, dia sangat berarti bagi ku dan hidup ku." Ucapnya pelan.
"Akan aku dapatkan Hinata." Lanjutnya.
"Jangan sampai ambisi mu itu merusak persahabatan yang sudah lama kita bangun." Ujar Sasuke yang berdiri dibelakang Gaara.
"Seburuk apapun dia, dia tetap suami Hinata dan Hinata mencintai suaminya." Ujar Sai bijak dan menepuk pudak Gaara.
"Jangan pisahkan mereka." Ujar Sasuke dan berdiri disamping Gaara.
"..." Gaara terdiam dan menyingkirkan tangan Sai dari pundaknya, "Aku menyayangi Hinata." Ujarnya pelan dan beranjak pergi meninggalkan Sai dan Sasuke yang menatapnya heran dan menggelengkan kepala melihat tingkah temannya.
~o0o~
.
.
Sesosok pria berdiri tegap didepan sebuah sekolah Konoha High School. Mata obsidan nya menatap semua murid dengan tatapan biasa tanpa minat untuk memasuki sekolah.
"Oh,, jadi ini sekolah mu Hinata-sama." Ujarnya pelan dan salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk seringai kecil lalu berlalu meninggal tempat ia berdiri dan menghilang dibelokkan jalan.
.
.
.
.
"Hinata-chan, ayah dan ibu harus pulang." Pamit Hiashi.
"Cepat sekali." Ucap Hinata.
"Ayah harus kerja, Hinata-chan." Tukas Hikari lalu beranjak dari duduknya menghampiri putrinya.
Cup.
Hikari mencium dahi Hinata dan menatap lembut putrinya penuh kasih, "Ibu sayang Hinata-chan." Kata Hikari sayang.
Cup.
Hiashi ikut mencium dahi Hinata.
"Kami permisi." Kata Hiashi dan menggandeng tangan istrinya dan beranjak meninggalkan Hinata dan Naruto yang masih terduduk dalam diam dan hening.
"Kita keliling stand yang lain yuk." Ajak Naruto memperhatikan amethyst Hinata yang melihatnya malu-malu.
"Tapi perkerjaan aku disini belum selesai." Kilah Hinata.
"Begitu ya."
"Naruto-kun tidak kerja?"
"Hari ini aku libur jadi aku mampir kesini."
"Em ya udah tunggu bentar ya, aku mau melaksanakan tugas ku dulu nanti kita keliling." Kata Hinata.
"Ya aku tunggu." Sahut Naruto. Hinata tersenyum kecil mendengarnya lalu beranjak meninggalkan Naruto untuk sebentar dan melanjutkan tugasnya.
Drrrt.. Drrrt..
Naruto melihat ponselnya bergetar yang tergeletak disamping piring kue.
Ia gapai ponselnya dan mengangkat telpon masuk.
"Hallo?"
'Hallo Namikaze.' Jawab orang yang menelpon.
"Apa mau mu?" Tanya Naruto to the point.
'Hem he..' Suara itu terkekeh pelan dan Naruto kesal mendengarnya.
"Apa ada yang lucu?" Kata Naruto bertanya dingin.
'Namikaze kau sangat menarik apalagi istri mu itu sangaaatt cantik mengesankan.' Desisnya.
Naruto panas mendengarnya dan mengepal tangan kirinya, "Jangan main-main dengan ku.."
"Obito." Lanjutnya.
'Sebentar lagi kau akan mendapat kabar dari orang yang kau sayangi siapa namanya ya aku lupa oh iya benar perempuan yang selalu mengikuti mu itu.'
"Yuura?"
'Ya benar Yuura apa dia kekasih mu? Dia selalu berada disamping mu.'
"Dia bukan kekasih ku."
'Lalu?'
"Apa mau mu?"
'Aku hanya bertanya jangan marah.'
"Kau!"
'Kita akhiri percakapan kita Namikaze kau tau aku sangat sibuk.'
Tuut.. Tuut..
Naruto menggeretakan giginya kesal dan telpon diputuskan membuatnya terbakar emosi.
Drrrt..
Melihat ponselnya kembali bergetar Naruto langsung mengangkat telpon tanpa melihat nama yang tertera.
"Ada apa?!" Tanyanya cukup kesal.
'Naruto-sama, anda harus segerah kekantor ada kabar buruk.' Naruto kembali merasakan kepalanya berdenyut sakit dan emosi menguasai pikirannya.
"Berengsek!" Desisnya kesal dan menutup telpon lalu beranjak pergi dengan cepat dan tergesah.
Hinata yang baru saja melihat reaksi suaminya yang menerima telpon dan terlihat kesal membuatnya khawatir dengan keadaan suaminya.
"Ada apa Hinata?" Tanya Gaara yang menghampiri Hinata.
"Tidak ada." Jawabnya.
.
.
~o0o~
.
.
BRAAAK!
"KURANG AJAR!" Bentak Naruto keras dan menggebrak meja keraja kasar hingga barang-barang yang ada diatas mejanya ia berjatuhan dilantai.
"BERENGSEK!"
BRAAAAK!
Naruto kembali membentak dan menatap orang-orang yang dihadapannya penuh amarah dan emosi.
"Gomenasai Naruto-sama." Kata Yamato menyesal dan menundukkan kepalanya tak berani mendongak menatap Naruto walaupun sebentar hanya Yuura yang berani menatap Naruto dingin tanpa ekspresi diwajah datarnya.
"APA KALIAN BODOH HAH?! JIKA BOM ITU MELEDAK DIDALAM PABRIK DAN SEMUA BOM DAN SENJATA YANG KITA BUAT JUGA MELEDAK TAMAT RIWAYAT KARYAWAN!"
"Kami sudah berjaga siang dan malam tuan ku bahkan sangat ketat." Ujar Yamato.
"Ada penyusup didalam pabrik." Timpal Yuura.
"Amunisi." Desisnya tajam.
"Pabrik itu terdapat banyak amunisi! Apa kalian mau mati hah?!" Lanjutnya membentak.
"Maafkan kami." Ujar beberapa orang dibelakang Yamato.
"Keluar!" Desis Naruto.
"KELUAR!" Bentaknya keras dan orang-orang itu keluar dengan cepat takut mendapat amukkan Naruto dan akan berakhir dengan kematian jika tidak keluar dengan segerah.
Hanya Yuura yang tertinggal didalam ruangan tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri.
Naruto menghempaskan tubuhnya dengan kasar dikursi kebesarannya dan memijit dahinya merasakan rasa sakit dan nyeri dikepalanya.
"Kau kenapa?" Tanya Yuura membuka suaranya dan menghampiri Naruto.
"Kepala ku pusing." Jawab Naruto menahan sakit kini matanya tertuju dengan beberapa dokumen diatas mejanya. Kepalanya makin terasa nyeri.
"Pulanglah aku akan mengerjakan beberapa dokumen ini." Kata Yuura dingin.
"Biarkan aku saja." Tukas Naruto.
"Pulanglah ini sudah pukul dua belas siang dan juga jemput Hinata-sama pulang." Kata Yuura tak ingin dibantah.
"Kau saja yang jemput Hinata pulang sekolah." Jawabnya dingin dan masih memijit dahinya.
"Naruto-sama." Kata Yuura penuh penekanan.
"Ck!" Naruto berdecak kesal menatap Yuura yang memerintahnya.
"Naruto!" Seru Yuura mulai emosi.
"Ck diamlah." Ketus Naruto tajam.
"Otouto!" Bentak Yuura emosi.
Naruto tertegun mendengar Yuura memanggilnya 'otouto' sebuah panggilan yang sudah lama ingin ia dengar lagi namun tak dapat ia dengar namun kini ia dengar kembali dari bibir Yuura.
Naruto terkekeh pelan dan menatap Yuura yang kini berdiri dihadapannya dan hanya dipisahkan oleh meja kerja Naruto.
"Nee-san." Naruto berucap pelan.
"Pulanglah." Pinta Yuura yang melemahkan nada suaranya.
Naruto mengangguk mengerti dan menurut, "Ya aku pulang." Naruto berdiri dari duduknya.
"Istirahatlah dirumah.."
"Otouto."
~o0o~
.
Sepasang muda mudi duduk berdua dikursi taman belakang sekolah dan heninglah yang tercipta diantara keduanya tanpa ada yang berani mengucapkan sepatah atau dua patah kata.
Seperti biasanya Hinata memainkan jari telunjukkannya menandakan dirinya gugup, "Hinata." Panggil Gaara pelan.
"Iya." Sahut Hinata.
"Aku mencintai mu Hinata, apa aku salah?" Tanya Gaara penuh harap dan menatap amethyst Hinata serius.
Tentu salah jika Gaara mencintai Hinata dan mengharapkannya karena Hinata telah terikat oleh benang merah kasat mata bersama seorang pria yang kini menjadi suaminya.
"Salah." Jawab Hinata mantap akan jawabannya.
"Kenapa? Apa karena Naruto?" Desis Gaara.
Hinata mengangguk.
"Tapi ada seseorang yang menyukai mu sudah sejak lama, Gaara." Ujar Hinata.
"Matsuri?" Tebak Gaara.
"Iya."
"Apakah ini alasannya ingin menjadi bagian dari kita?" Desis Gaara.
"Tidak."
"Kau bohong Hinata!"
"Aku tidak bohong!"
"Gaara, mengertilah Matsuri tulus berteman dengan kita tak ada maksud lain."
"Aku tak percaya!" Ketus Gaara.
"Gaara." Ucap Hinata pelan menatap sepasang jade dihadapannya.
.
Didalam kelas Matsuri dan Sakura melihat Naruto celingkak celingkuk mencari keberadaan Hinata dan terlihat jelas wajah Naruto pucat seperti orang sakit.
"Ada apa Naruto-san?" Sakura dan Matsuri menghampiri Naruto.
"Apa kalian lihat Hinata?" Tanya Naruto.
"Tidak, aku tidak lihat sebab aku dan lainnya baru saja membereskan kelas." Jawab Matsuri.
"Yang ku tau tadi aku lihat Hinata bersama Gaara ditaman belakang, kita kesana ja." Kata Sakura.
"Yasudah ayo dan tolong tunjukkan jalannya." Ujar Naruto.
"Baik." Jawab Matsuri dan Sakura bersamaan.
#
"Hinata." Panggil Gaara dan menggengam erat kedua tangan Hinata dan menatap sepasang mata amethyst dihadapannya dengan intens.
Hinata sedikit risih dan berusaha melepaskan tangan Gaara yang menggengam tangannya namun semakin Hinata berusaha melepaskan tangannya, genggaman Gaara semakin kuat dan erat.
"Lepaskan tangan ku Gaara." Kata Hinata mencicit pelan.
"Kenapa? Apa kau tidak suka?" Tanya Gaara penuh harap.
Tak jauh Naruto, Sakura, dan Matsuri baru saja sampai dan melihat Gaara menggengam erat telapak tangan Hinata.
Emosi Naruto semakin naik melihatnya dan mengepal tangannya siap menghajar Gaara.
"Gaara-kun." Cicit Matsuri pelan dan menutup mulutnya dengan tangannya dan mengalihkan penglihatannya melihat sepasang blue sapphire disampingnya berkilat emosi dan wajah tampan itu semakin pucat.
Perlahan Gaara mendekatkkan wajahnya dan menghampus jaraknya dengan Hinata dan menempelkan bibirnya dengan bibir mungil Hinata dan mengecap rasa manis disana.
Sakura membulatkan matanya tak percaya melihat adegan dihadapannya.
Begitu juga Matsuri yang menggelengkan kepalanya kecewa ya kecewa dirinya kecewa sangat kecewa dengan tidakkan Gaara yang mecium bibir Hinata.
Cukup!
Naruto tak dapat menahan emosinya yang berlipat ganda dan dengan cepat ia berjalan menghampiri Hinata dan Gaara.
Dengan kasar Naruto menarik tubuh Gaara dan menghemaskannya ketanah.
"Berengsek!"
Bugh!
Naruto meraih kerah kemeja Gaara dan memukul wajah Gaara dengan kuat. Gaara mencoba melawan dengan meraih kerah kemeja Naruto namun tangannya dengan cepat digapai oleh Naruto memelintirkannya.
"Arrggggh." Gaara meringis kesakitan.
Untunglah Sasuke, Sari dan Sai cepat datang dan memisahkan Gaara dan Naruto.
Sakura, Matsuri, dan Sai menghampiri Hinata yang terisak sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"HENTIKAN!" Bentak Sasuke dan menarik lengan Naruto menjauh dari Gaara. Sai membantu Gaara berdiri dan melindunginya.
"Lepaskan aku!" Bentak Naruto marah.
"Cukup kau bisa membunuh Gaara." Ujar Sasuke menahan kedua lengan Naruto.
"Ck." Gaara berdecak kesal merasakan lengannya terasa sakit dan sudut bibirnya terluka.
"Lepaskan aku!" Desis Naruto namun diabaikan oleh Sasuke.
"Lepaskan aku." Lanjutnya dan dengan ragu Sasuke melepaskan tangannya dan membiarkan Naruto yang kini berjalan mendekati Gaara yang dihalangi oleh Sai.
"Jangan pernah mendekati dan menyentuh Hinata atau kau akan mati ditangan ku." Desis Naruto tajam dan berjalan meninggalkan Gaara menuju tempat Hinata duduk sambil terisak.
"Pulang." Kata Naruto dingin. Hinata menggelengkan kepalanya pelan takut, takut akan sosok Naruto yang marah padanya.
"Ayo pulang." Ajak Naruto lagi menahan emosinya.
Rasa sakit dikepalanya kembali menyerang dan Naruto menutup matanya sebentar menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya.
"Hiks hiks." Isak Hinata tertahan.
"Jangan sakiti Hinata." Pinta Sakura takut.
Naruto kembali membuka matanya mendengar pernyataan Sakura.
"Dia takut padamu Naruto!" Ujar Gaara tajam.
"DIAM!" Bentak Naruto dan meraih langan Hinata dan menarik Hinata dengan paksa.
"Sakit." Cicit Hinata pelan meraskan Naruto yang menyeret dan menariknya kasar mengikuti langkah kaki Naruto dan sempat berapa kali kaki Hinata tersandung namun tidak dihiraukan oleh Naruto yang tetap menyeretnya kasar.
"Kau puas?" Seru Sakura menatap Gaara penuh dengan kebencian.
Gaara bungkam melihat teman-temannya yang menatapnya jijik dan benci akan hal yang ia lakukan pada Hinata.
"Kau menjijikkan!" Ketus Sai dan beranjak pergi meninggalkan Gaara sambil menarik lengan Ino.
"Ayo Sakura kita pergi." Ujar Sari dan dibalas anggukkan Sakura.
Sasuke hanya diam kemudian beranjak pergi meninggalkan Gaara bersama Matsuri ditaman.
"Gaara-kun yang ku kenal sejak kecil adalah Gaara-kun yang baik dan tak pernah memaksakaan kehendak orang lain." Kata Matsuri menahan air matanya.
Gaara terdiam dan melihat Matsuri yang siap menumpahkan air mata.
"Aku kecewa sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Gaara-kun."
"Aku sayang Gaara-kun, aku mencintai Gaara-kun yang dulu bukan Gaara-kun yang sekarang! Aku benci Gaara-kun yang sekarang!" Kata Matsuri terus terang dan air matanya pun mengalir.
"Aku benci Gaara-kun." Lanjutnya lalu beranjak pergi meninggalkan Gaara dalam kesendirian.
"Aku salah maafkan aku.."
"Semuanya."
~o0o~
Jantung Hinata berdetak dengan cepat bahkan ia sulit untuk bernapas. Naruto mengemudikan mobil sport miliknya dengan cepat hingga spido meter telah menunjukkan angka tertinggi, semua kendaraan yang berada didepan mobilnya dengan cepat ia susul dan ia salip dan hampir menabrak sedangkan orang-orang yang melihat mobil sport itu melaju dengan kecepaan tinggi hanya dapat mengucapkan sumpah serapah kepada sipengemudi.
Setalah sampai didepan gerbang rumah Naruto menyalakan klakson mobilnya keras.
TIIIINNNNN!
Dengan cepat satpam membuka gerbang dengan tergesah karena Naruto menyalakan klakson dengan keras menandakan dirinya marah besar dan karena tidak mau mendapat amukkan tuannya ia pun membukakan pintu.
Denga cepat Naruto menjalankan mobilnya memasuki halaman rumah yang cukup luas dan memakirkan mobil tepat didepan teras rumah. Dengan kasar Naruto membuka pintu mobilnya dan meutup pintu itu kembali dengan keras dan berjalan menuju pintu disebelahnya dan kembali membukanya serta dengan kasarnya ia menarik tubuh Hinata utuk keluar dari mobil.
"Hiks,, sakit..." Isak Hinata meringis kesakitan merasakan tangannya ditarik kasa oleh sang suami dan kembali di tarik secara paksa memasuki rumah. Beberapa maid yang melihat kejadiaan itu hanya dapat menutup mulut dan mata serta lebih memilih memasuki dapur atau kamar mereka.
BLAM!
Naruto menutup pintu dengan cukup keras lalu melemparkan tubuh mungil Hinata kekasur.
"Sudah cukup Hinata!" Desisnya tajam memandang tubuh Hinata dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Ma-maafkan aku hiks maaf hiks~hiks~~~"
Naruto kembali merasakan kepalanya berdenyut sakit dan memusingkan.
"Kau!" Ucapnya geram dan mendekati Hinata yang duduk dipinggir kasur dan memperhatikan selendang yang digunakan Hinata untuk menutupi dadanya yang kini telah lepas memperlihatkan belahan dadanaya.
"Mungkin dengan cara ini aku bisa memiliki mu." Disisnya lalu membuka jas hitam miliknya sedangkan Hinata merangkak mundur takut apa yang akan Naruto lakukan padanya. Naruto lansung membaringkan Hinata dengan kasar dikasur dan membuka semua pakaian maid Hinata dengan kasar.
"Ja-ja-ja-ngan Naruto-kun hisk hiks ku~ mohon~~"
"DIAM!"
"Kyaaaaaa!"
(AN : silahkan kalian imajinasikan sendiri adegan panasnya)
~Bersambung~
Kemikal kompon : sip
Go Minami Asuka Bi : wwkwkwk itachi nya alay oh ya ch 8 luka nya memang parah dan maaf aku lupa memperhatikan alurnya.
Makasih atas reviews nya benar" sangat bermenfaat. Aku memang author amatir hehehe.. Jadi iri kalau lihat fanfic author senior.
21 : dari kingstone? Maksudnya? Yang ku tau kingstone itu nama warnat di kota ku?
Guest : ini udah chapter selanjutnya dan Sari itu nama teman Matsuri di canon mereka selalu memperebutkan Gaara yang mejabat jadi Kazekage.
NameBlue S : terimakasih sudah membaca LavenderKu.
Aizen L Sousuke : Arigatou.
drakcitrus : terimakasih. Di chapter ini udah kan Hinata bilang ke Gaara kalau Matsuri mencintai Gaara dan Matsuri cukup kecewa dengan yang dilakukan Gaara.
Withachan : wkwkwkwk kamu ja bingung! Gimana aku? Tambah bingung hehehe.. Tapi makasih atas review nya.
Hayati JeWon : aku kurang bisa bikin adegan romance jadi inilah hehehe.. Arigatou reviewnya.
Firdaus Minato : GAK ADA LIME "
AsparxXx : kurikulum 2013 memang memusingkan "
Misti Chan : Yuura lah yang akan menjelaskan semuanya dan Naruto akan segerah pergi menjauh dari Hinata di chapter yang akan datang huahahahaha #tertawa_nista.
The KidSno OppAi : gak tau berapa chapter.
Chika Kyuchan : gpp kok kalau mau panggil aku himechan hehehe arigatou.
Firdaus Minato : Hinata akan menangis dan menyesal karena ia tau apa yang sebenarnya terjadi tapi ia tak bisa meminta maaf pada Naruto karena Naruto akan pergi jauh.
Akbarjr121 : makasih hahaha
RizkyAditya K : aku amatir mohon dimaklumi #pundung
.
.
.
Terimakasih untuk semua reviews nya ^^ dan sampai jumpa di chapter berikutnyaaaaaa bye bye ^^v see you
Salam Hangat Mitsuki HimeChan
