3xgamesDisclaimer : Death Note selalu milik Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata sensei
Rating : M (Untuk jaga-jaga saja karena ada contens pembunuhan, gak ada lemon)
Pairing : gak ada, L saja, Watari juga
Special makasih buat para pembaca yang sudah menyempatkan diri mampir di fic sya.
Warning
Pembunuhan, dll
Semua tempat-tempat maupun kejadian yang ada fic ini merupakan fiktif.
Secara tak terduga terkadang plot meloncat-loncat, njelimet, membosankan dan lambat.
Dan bagi teman-teman yang mengikuti cerita fic ini, maafkan saya atas keterlambatan pengupdate-tan fic ini. Tidak ada alasan lain karena hanya akanmembuat sebuah alasan klise yang akan saya sebutkan.
.
.
Akhirnya sampai juga di chapter 10, walaupun kasus pembunuhan ini belum terpecahkan hahaha.
Dan ini kehidupan L versi saya sendiri
.
.
Maaf mengganggu kesibukan Anda Sir Watari. Perkenalkan nama saya Diana Hill, saya merupakan keluarga korban pembunuhan pertama dari tiga pembunuhan yang terjadi di Winchester. Jika tidak keberatan saya sangat ingin menemui Anda. Sekarang saya tinggal di kamar bernomor 302 lantai 3 sebuah apartemen kecil beralamat di Santa Monica street berdekatan dengan bekas pabrik daging olahan ilegal. Ketika mendengar kabar bahwa mayat putra saya telah dicuri, seseorang memberitahu saya untuk bertemu Anda secepatnya. Saya akan sangat menghargainya, mohon tolong saya! Terima kasih.
.
.
"Chapter10"
.
.
.
Aku menghela nafas serta bersiap-siap melepaskan ibu jari dari gigitanku. Ketika kusadari sedang membaca memo Mrs. Diana Hill bertepatan dengan jarum jam menunjukkan pada pukul tujuh tigapuluh malam. Selesai membacanya kembali kumasukkan memo itu ke dalam saku celana, dan entah kenapa aku mulai merasa gusar. Ditandai oleh keringat dingin mengering di sekitar tengkuk leher. Ini disebut gejala pelemahan otak akibat rasa ketakutan pada suatu sebab. Aku berusaha melupakannya sambil berjalan menyelusuri lorong Wammy House sampai lima detik kemudian kotak hitam kecil dari saku celana bagian belakangku bergetar. Aku melihat pesan Watari yang sedang menungguku di ruangan makan. Lalu secepat angin aku segera bergerak menuju ke sana.
Sesampainya di ruangan makan aku sempat takjub oleh pekerjaan para pengurus Wammy's mengatur lilin-lilin sedemikian rapi di sekitar meja makan seolah-olah menganggap pesta penjamuan merupakan salah satu aktivitas penting dari dasar kemanusiaan. Kami, bangsawan Inggris percaya bahwa estetika manusia terletak pada makanan yang dihidangkan di atas piring mereka. Serta cara mereka menyantapnya, menusuk-nusukkan garpunya ataupun meyayat daging memakai pisau perak bercampur darah yang membangkitkan nafsu setan mereka akan sebuah reputasi diri. Sedangkan aku sendiri masuk dalam kategori 'tanpa aturan' karena cara makanku lebih praktis daripada orang-orang lainnya. Aku hanya menyukai apa-saja yang kupilih, tidak banyak komentar, lebih banyak membungkuk serta menguasai makanan manis. Hingga pada masa usia sembilan tahunku, usia kekanak-kanakanku, kebetulan aku bertemu orang-orang Wammy's House yang mempunyai panggilan baru untukku sebagai bocah hitam beraroma gula.
Seakan mengetahui keinginanku, ternyata Wammy sudah duduk tenang di atas kursi aluminium sambil merapat pada meja makan dengan ditemani secangkir teh jasmine beserta sepiring hidangan pembuka yaitu sup tiram cita rasa Prancis. Aku meliriknya sebentar lalu memilih tempat duduk berjarak setengah meter darinya. Aku berjongkok di atas kursi ketika seorang pengurus menghadiahiku selembar kain bersih. Aku menggunakan kain itu sebagai penutup supaya terhindar dari kotoran atau di lain sebab kugunakan untuk sekedar formalitas eksperimen dalam penerapan pelajaran di kelas tata-krama. Aku mengaduk-aduk isi cangkir teh semirip gaya Wammy, lalu menyeruputnya sebentar dan memasukkan lagi empat blok gula ke dalam cangkir. Lilin-lilin berjajar menyinari, sementara aku dan Wammy masih diselimuti keheningan karena Elena Dempsey meninggalkan dunia kami begitu cepat.
"Bagaimana keadaan Rachel?" Tanyaku, memecah keheningan melalui pertanyaan cukup berkelas. Aku menganggapnya seperti itu sebagai bentuk rasa keperdulian.
"Tidak begitu baik. Depresi akutnya kambuh," jawab Wammy.
"Well, hanya Elena yang cukup lihai dalam menangani hal ini," kataku sinis.
Aku melamun sekejap saat mengambil sesendok sup tiramku lalu memasukkannya ke dalam mulut. Jika bisa disimpulkan maka kasus pembunuhan Elena merupakan langkah awalku meyakinkan diri untuk mengambil rencana menemui wanita bernama Ms. Gloria Perskin—kekasih Robert Downey yang saat ini sedang mendekam di rumah sakit jiwa Winchester. Enampuluh tiga persen wanita itu dapat membantuku menyelesaikan secret data yang terus berputar-putar di otakku, disamping kondisi mentalnya yang limapuluh persen menyulitkan. Aku sudah memperhitungkan jika esok hari adalah waktu paling tepat menemuinya. Kurasa aku tidak perlu berspekulasi lebih jauh sebelum menemukan data-data akurat. Terkadang hal ini malah melemahkanku serta gagal mengantisipasi masalah.
"Apa sore tadi terjadi sesuatu, Lucious?"
Suara hangat Wammy membuyarkan lamunanku.
Aku mengangguk sambil menelan sup tiram panas di sendok ke empat. "Mrs. Diana Hill datang mencarimu, berpas-pasan denganku dan menitipkan sebuah memo," ujarku singkat.
Lalu Wammy memandangiku dengan kesan menyelidik.
"Berpas-pasan—?"
Aku menghentikan kegiatanku menyendoki makanan. Mengulum ibu jari, agar menandakan sikap wajarku terhadap sindiran Wammy.
"Kau benar, aku menemuinya dan melakukan tatap muka. Aku mengenalkan diri sebagai Ryuzaki, sembilanpuluh tiga persen kejadian tadi bisa dikatakan mendesak, Wammy," ujarku defensif.
Kemudian telapak tanganku merogoh ke dalam saku celana dan mengambil secarik kertas yang akan kuberikan kepada Wammy. Dengan sukarela dia menerima surat itu kemudian membuka kotak kaca mata dari dalam kantong jas hitamnya. Melalui kotak kaca matanya, Wammy mengambil kain berwarna biru yang terlipat. Lima detik dia mengelap kaca matanya menggunakan kain biru tersebut lalu secara cermat membaca isi tulisan di memo Mrs Diana Hill.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Wammy setelah selesai membaca.
Aku memutar kepala dan menghiraukan sup tiram panasku di meja.
"Mulai sekarang kita memang harus banyak bergerak. Tapi untuk menemui Mrs. Diana Hill, aku perlu memastikan dulu beberapa hal."
"Maksudmu?"
"Kau pasti bisa menyangkanya, Wammy (Aku menunjuk kertas memo yang dipegang olehnya). Sepintas pesannya ini terasa aneh."
Wammy membaca ulang kalimat-kalimat yang tertulis di memo. Bola matanya tampak membulat dari balik kaca mata beningnya. "Maksudmu, ini terbaca jelas di kalimat kedua," ucapnya.
Aku menelan ludah kemudian mengangguk membenarkan ucapan Wammy.
"Yah, dari kalimat itu saja kita tahu jika Mrs. Diana Hill seorang warga sipil namun sudah mengetahui jika rentetan pembunuhan yang terjadi di Winchester saling berkaitan. Putra kesayangannya menjadi korban pembunuhan pertama, pembunuhan gedung opera Crystal Limbrown serta terakhir pembunuhan di rumah sakit Elena Dempsey yang belum dipublikasikan."
Wammy membuat senyum wajah berseri. "Seperti kegemaranmu L, ini mengarah pada garis aljabar."
Aku tidak bisa membalas senyum Wammy. Sejenak aku merasa Alma telah memberikan kutukan padaku karena memiliki wajah datar seperti mumi.
"Sembilanpuluh persen aku menyakinkan diriku melalui sebuah cara."
"Kau melakukannya pada Mrs. Diana Hill," ujar Wammy.
"Ya, seperti katamu setiap hari untuk selalu bereksperimen dalam membaca gerak-gerik manusia."
Saat ini aku mulai bosan dengan sup tiram dan menyeruput secangkir teh dengan menambahkannya dula blok gula pasir. Kemudian bersiap meneruskan kata-kataku,
"Aku memberitahunya kalau salah satu staff Wammy' House telah di bunuh di rumah sakit."
"Apa kau menyebut nama Elena?" bisik Wammy.
"Sama sekali tidak," jawabku ringan. "Tapi uniknya Mrs. Diana Hill seakan mengetahui jika pembunuhan terhadap staff Wammy merupakan bagian dari serentetan pembunuhan yang terjadi di Winchester. Dengan gamblang di memonya tertulis sudah terjadi tiga pembunuhan."
"Apa sekarang kau juga mencurigai Mrs. Diana Hill?"
"Tujuh puluh empat persen aku masih tetap meyakini analisa awalku, Wammy. Aku hanya menyambung garis aljabar yang kau sebutkan tadi. Mari kita umpamakan secara singkat jika keberadaan Mrs. Diana Hill merupakan sebuah variabel bebas yang cuma memiliki hubungan dengan korban pertama, tapi tidak terkait dengan yang ke-dua maupun yang ke-tiga. Maka dilihat dari sini kita belum bisa menarik kesimpulan jika satu variabel saja tidak saling terkait."
"Lalu"
Wammy menyela kata-kataku ketika aku menyereput teh karena tenggorokanku terasa kering. Kemudian aku turun dari kursi dan berjalan bungkuk menuju kotak pemutar musik klasik yang terletak enam meter dari meja makan. Aku memilih piringan hitam bernuansa harmonis dan menyetelnya untuk memaknai diskusiku bersama Wammy yang mulai mengarah ke titik lebih serius. Setelah bunyi stereo memberikan penjagaan melodius di setiap bagian ruangan, aku kembali ke kursi dan mengambil posisi sama seperti semula.
Kemudian aku menyeruput teh lagi. Untuk sekedar memastikan tenggorokanku tidaklah kering.
"Dalam kasus pembunuhan berantai ini, Mrs. Diana Hill menjadi korban tidak langsung karena putranyalah yang dibunuh. Latar-belakangnya adalah ibu rumah tangga biasa, wanita paruh baya penderita Tuberkulosis dan memiliki putra pendiam penjaga rumah sakit. Setelah diketahui putranya tewas terbunuh, dia tidak punya pilihan selain menyerahkan kasus tersebut ke tangan polisi. Posisinya saat itu hanyalah sebagai wanita putus- asa yang menunggu pelaku pembunuhan putranya ditangkap lalu dijebloskan ke penjara. Kemudian selang beberapa hari terjadi lagi pembunuhan ke-dua, ke-tiga. Sampai di tahap ini, dia masih memiliki posisi 'belum menyadari' adanya keterkaitan antara pembunuhan-pembunuhan itu dengan pembunuhan putranya karena rasa ketidaktahuan serta ketidakperdulian. Dia tetap menjalani hidup sebagai wanita paruh baya biasa hingga datanglah hari dimana dia memiliki peran—maka situasi inilah yang kusebut variabel bebas namun kapan saja dapat dimasukkan ke variabel lainnya yang tidak terkait untuk mempengaruhi peristiwa dan menarik kesimpulan."
"Wanita paruh baya biasa yang memiliki peran," Wammy bergumam.
"Well, Dia hanya wanita biasa namun tiba-tiba mengetahui adanya keterkaitan antara semua pembunuhan berantai di Winchester. Sebelumnya limabelas persen bisa saja Mrs. Diana Hill malah tak mengetahui pembunuhan-pembunuhan lainnya itu. Lalu—apa yang mendasari semua ini?"
"Mrs. Diana Hill mulai menyelidiki kasusnya," sahut Wammy.
Aku mengulum ibu jari, "Lebih dari itu, Watari."
"Seseorang mengirimnya atau memperalatnya," jawab Wammy.
Aku terus berjongkok sabil memasukan empat blok gula pasir lagi kedalam cangkir tehku yang ke-tiga. Dan bersiap merasiokan jawaban Wammy.
"40% seseorang mengirimnya dan 60% seseorang memperalatnya."
"Itukah perbandingannya, Lucious."
"ini bukanlah perbandingan tetapi memang kubagi kedua ratio itu ke dalam satu bilangan probabilitas. Seseorang sedang mengirim dan memperalat Mrs. Diana Hill untuk menyerang Wammy's House."
"Lalu, apa ada titik terang lain dari peristiwa ini?" bisik Wammy. "Dan tindakan kita selanjutnya terhadap Mrs. Diana Hill"
Aku mengangkat tangan kananku ke atas. Meminta salah seorang pengurus Wammy's House membawakanku makanan sangat manis semacam jeli nata. Aku melakukannya semata-mata sebagai wujud protes atas aksi Watari yang mengujiku agak berlebihan. Dan aku mulai membayangkan jika dia sering menikmatinya, memberikan pertanyaan-pertanyaan dari hasil analisaku.
"Aku ingin membahas lagi tentang eksperimen membaca gerak-gerik manusia," ujarku.
Wammy mengangguk.
"Tadi aku mengatakan kepada Mrs. Diana Hill kalau salah satu staff Wammy's meninggal karena di bunuh."
"Ya—"
"Aku mengatakan itu untuk menjebaknya. Tanpa disadari, aku telah memberikan efek psikologis terhadapnya oleh sebab dua alasan berbeda tapi mirip. Delapanpuluh empat persen Mrs. Diana Hill memang sudah mengetahui Elena terbunuh dan sembilan puluh persen mengetahui Elena 'akan' di bunuh."
Jariku menunjuk kembali isi memo dari Mrs. Diana Hill yang tergeletak di meja. Bola mata Wammy mengikuti arah telunjukku menuju satu baris kalimat.
"Lihat baris kalimat ini Watari; seseorang memberitahu saya untuk bertemu Anda 'secepatnya'. Bukankah ini janggal? Seperti yang di katakan Mrs. Diana Hill kalau dia ingin segera menemuimu namun dia malah tidak menulis kalimat; Jika tidak keberatan saya sangat ingin menemui Anda 'secepatnya'."
"Tapi, mungkin saja dia menulis memo ini dalam keadaan terburu-buru," ujar Wammy.
"Tidak—" kataku santai. "Akulah yang mengarahkannya menulis memo seperti itu."
Bola mata Wammy membulat. Dia ikut menyeruput teh jasmine miliknya. Sudah yang ketujuh kali.
"Bagaimana?" seru Wammy.
"Pertama aku sengaja mengatakan pada Mrs. Diana Hill kalau Watari tidak bisa ditemui waktu sekarang karena sibuk serta bersamaan salah seorang staff Wammy's House dibunuh yang bertujuan untuk mengamati reaksinya. Dia bersikap wajar namun agak ekspresif ketika mengatakan putranya juga dibunuh sama seperti Elena. Dari sini aku mulai menarik kesimpulan bahwa Mrs. Diana Hill mengetahui pembunuhan ke-tiga berkaitan dengan pembunuhan berantai Winchester. Sebenarnya dia tidak perduli terhadap pembunuhan lainnya tapi menjadi sangat perduli ketika seseorang memberinya peran. Aku sendiri tahu Mrs. Diana Hill bukanlah tipe orang yang pintar mengklamufase emosi karena pada dasarnya dia bukanlah seorang penjahat profesional. Dia bertambah ekspresif saat aku menyinggung suaminya dan bercerita tentang putra malangnya yang sedang jatuh cinta kepada seorang gadis. Sama seperti wanita setengah baya kebanyakan secara alami dia masih memerlukan seseorang diajak mengobrol mengenai masalahnya. Di sinilah aku menjalankan peranku sebaik-baiknya sebagai bocah tak tahu apa-apayang bertugas sebagai pengantar pesan."
"Karena itu kau memberitahuku berpas-pasan dengannya," sindir Wammy.
"Setelah aku menyelidiki Mrs. Diana Hill aku memberi 94% kadar kemungkinan bahwa seseorang memberikanya sebuah penawaran yang tidak bisa ditolak olehnya. Tujuan orang itu pertama: tentu saja membungkam Wammy's House melalui peran Mrs. Diana Hill. Dan kedua: membuat perjanjian tak masuk akal dengan Mrs. Diana Hill tanpa paksaan agar alasannya membunuh tercapai. Hasilnya cukup memuaskan sebab Mrs. Diana Hill mempercayainya dan sangat menginginkan penawaran itu. Mereka menjalankan rencana awal dengan mengirim Mrs. Diana Hill ke Wammy's House setelah orang itu memberikan kelas akting khusus kepadanya. Dia datang ke sini tetap sebagai wanita biasa, korban putus-asa yang meminta bantuan sambil memperhitungkan rasa belas kasihan kita. Tentunya. Tapi, bagaimanapun juga Mrs. Diana Hill bukanlah seorang penjahat kelas atas, dan mudah bagiku mempengaruhinya dalam memberikan 50% efek psikologis disertai oleh gejala utamanya."
"Lalu kau sengaja mengatakan kalau staff Wammy terbunuh, L" sambung Wammy.
"Ini semacam eksperimen, Watari," sungutku. Lalu aku mengambil enam kotak jeli nata dari atas nampan dan membuka salah satunya yang berasa mangga. "Bujukanku berhasil mempengaruhinya menulis kalimat di memo tentang pengetahuan dirinya atas keterkaitan pembunuhan berantai. Karena dari awal Mrs. Diana Hill memang menilaiku sebagai bocah kecil yang kebetulan bertemu dengannya. Dia tidak bisa menutupi emosi alaminya terhadapku, sampai aku memanfaatkan itu. Ketika berbicara bersamaku seakan perasaan alaminya sebagai wanita baik hati muncul. Lambat laun dia kembali beranggapan bahwa memintamu datang menemuinya merupakan sebuah dosa besar oleh sebabnya dia menulis pesan di memo yang memiliki kebenaran makna: Seseorang sangat ingin menyuruhku untuk menemui Anda. Jika memenuhi permintaan ini maka Anda bisa menolong saya. Maafkan saya."
"Dan seratus persen titik terang lainnya itu berarti untukku sendiri," bisik Wammy.
"Benar sekali, seratus persen kau akan dibunuh jika memenuhi pesan yang tertulis di memo itu— Watari," sambungku sambil membuka satu kotak jeli nata rasa strawberry.
"Namun sayangnya pembunuhan terhadapku bukan masuk dalam daftar dari serentatan pembunuhan berantai yang terjadi di Winchester," ujar Wammy sarkastis.
"97% orang yang bertindak sebagai pengeksekusimu adalah August Spark mantan tentara SAS, sama seperti pembunuh Crystal Limbrown. Sedangkan orang dibelakangnya memiliki jaringan hebat yang mampu mencari informasi tentang secret investigasi Wammy's House" kataku enteng.
Wammy mengalihkan pandangannya terhadapku. Sedangkan aku malah memperhatikannya lebih lekat. Garis-garis keriput tipis di wajahnya melengkung, sejenak aku hampir lupa tentang usianya. Selain Roger dia adalah ayah spesial bagi bocah-bocah Wammy's House. Sejak aku menerima tumpukan berkas kasus pembunuhan pertama, sampai sekarang tak mungkin bisa kulupakan asal mulaku meringkuk kedinginan di bawah hujan salju bulan Desember. Seorang pria paruh baya mengajakku pada perubahan hidup dan mengenalkanku pada seorang pria paruh baya lainnya yang bermartabat, setelan jas hitam rapi dengan rantai arloji menggantung dari saku kemejanya, bau parfum seharum susu karamel serta senyum memikat ala pria paruh baya berumur limapuluhan. Dialah Quillsh Wammy, pengasuhku berzodiak Taurus yang gemar memberikanku permainan-permainan terbaik.
"Aku menunggu keputusanmu, L," ujar Wammy spontan.
Sedangkan aku mengerjap ingin melompat dari kursi duduk. Memeluk tubuh Wammy.
"Kau rela mempertaruhkan nyawamu demi sederet argumen," tanyaku.
Wammy berpikir sejenak. Lalu menghela nafas lembut.
"Tidak, Namun pasti ada suatu cara untuk menghentikan pembunuhanku."
Kemudian aku membalik sepuluh bungkus jeli nata yang kutumpuk. Berjatuhan seindah kelopak mawar yang terlepas dari tangkai.
"Tapi terkadang ada suatu hal di luar kontrol...,"
Tiba-tiba Wammy menatapku mencurigakan. "Kau tak menggunakan kadar kemungkinan untuk suatu hal di luar kontrol itu," ujar Wammy sambil tersenyum.
Aku terdiam. Seakan merasakan tangan-tangan halus transparan muncul dari bawah kursi. Mencekikku. Tengkuk leher mulai digerayangi oleh keringat dingin, dia menjebakku.
"Baiklah, sebelum pergi menemui Mrs. Diana Hill, aku punya permintaan lain."
Wammy sedikit terkejut. Tapi dia sempat menyelesaikkan sendok terakhir dari sup tiramnya.
"Apa?" seru Wammy.
"Buatkan dua indentitas palsu dalam waktu semalam! Untukmu dan untukku."
"Besok pagi kita mengunjungi Ms. Gloria Perskin di rumah sakit jiwa," sambungku tegas.
Kedua alis Wammy terpaut. Dia mengerutkan dahi.
"Terlalu beresiko, Lucious. Aku bisa mengunjunginya sendiri tanpamu."
"Sekali ini saja Wammy!" kucondongkan tubuhku sepuluh inci ke depan sambil membulatkan bola mata ke arah Wammy. "97% kode mendesak. Kau ingat!" tambahku.
Kurasakan jiwa memberontakku ingin melompat keluar. Secara naluri aku berpendapat jika ini nasib terburuk menjadi seorang bocah. Aku merengek, meminta belas kasihan, serta bermaksud mengingkari perjanjianku dengan Wammy. Metode penyamaranku cuma dikecualikan saat keadaan benar-benar mendesak. Aku harus selalu tak terlihat dan bergerak di balik layar selagi kemampuan detektifku masih belumlah teramat hebat. Kalkulasi pekerjaan lapanganku sekitar tiga persen, dengan angka terbaik ketika melakukan investigasi di gedung opera. Kutambah dua persen lagi saat tindakan gagah beraniku bertatap muka dengan DK serta Mrs. Diana Hill tanpa topeng. Namun kuakui dari lubuk hati terdalam bahwa pertemuan dengan DK merupakan segelintir insting pengecutku karena menganggap tak lama lagi dia akan masuk ke dalam kantong mayat. Aku ingat pernah membuat janji padanya untuk melindungi. Janji omong kosong yang terlontar begitu saja dari mulut dan akan kurealisasikan melalui satu-satunya cara yaitu; menangkap August Spark. Aku juga tak ingin melihat kematian terlampau banyak, tapi di sisi lain jalan keluar memecahkan kasus sedikit terhambat. Perasaan tak masuk akal ini membuatku ingin mengulang lagi waktu sama seperti memasuki perpustakaan Wammy's House pertamakali lalu mengambil satu buku di rak khusus. Aku ingin menyelami isi pikiran Robert Downey lebih lanjut.
"Berapa persen kadar kemungkinan keseriusanmu menemui Ms. Gloria Perskin?" tanya Wammy.
"Delapan puluh lima persen aku berharap bisa bertemu langsung dengan orang terdekat Robert Downey," gumamku.
Agak wa-was aku melirik Wammy melepas kacamatanya lalu menggantungkannya di saku kemeja. Di saat bersamaan aku membuka jeli nata terakhirku dengan rasa paling kusukai; jeruk. Tiga detik kemudian Wammy melipat tanganya di atas meja. Bola mata abu-abunya memolototiku.
"Apa alasannya hanya untuk kesenangan?"
Aku menggeleng secepat mungkin.
"Hasratku adalah mengenal lebih dalam tentang pelaku. Mempelajarinya sebagai pertimbangan di masa depan. Dan Ms. Gloria Perskin merupakan sumber informasi terpenting dalam kasus pembunuhan berantai ini."
"Kau sudah memperhitungkan masalah peyakitnya."
"Ya," kataku pasti. "Penyakit gila paling buruk daripada penyakit lainnya."
Aku mereka ulang sebuah referensi dari pikiranku. Selain tentang gaya gerak gravitasi, sampai di umur tiga belas tahun mendatang. Aku bermaksud mengungkap misteri hilangnya kesadaran diri dari otak waras manusia.
Lima detik aku memikirkannya sampai bunyi ucapan Wammy berdengung di telingaku.
"Kenakanlah Topeng dan..."
"Penyamar suara," buru-buru aku menyambung ucapannya.
Lalu perlahan-lahan aku melompat turun dari kursi. Kumasukkan dua telapak tangan ke dalam kantong celana panjang. Aku berjalan membungkuk, sedikit meringis karena kurasakan tekanan yang berasal dari lambung. Ternyata perutku telah terisi penuh oleh sup tiram dan jeli nata.
Aku meninggalkan ruangan makan pada pukul delapan kurang lima menit sambil menyimpan emosi resah Wammy terhadap kepekaan lingkungan. Meskipun belum banyak memiliki penghargaan di dunia kriminal ataupun investigasi namun nama L seolah sudah diasah mirip berlian yang akan dijual dengan harga tinggi. Ketika Wammy mulai mengajariku berdiri di belakang layar untuk menyikap suatu kebenaran. Aku menyadari jika banyak manusia di bumi belum terlampau sadar akan makna penyucian diri, sehingga hanya keberuntunganlah senjata paling ampuh menjaga keselamatanku dari meningkatnya sistem kriminalitas. Namun bagiku dunia yang terbentuk oleh awan mendung tetaplah tampak menarik. Dan imbasnya ialah nama besar L akan terus menjulang naik diiringi oleh metode keselamatan juga akan terus diperketat. Dua tahun lagi jika kehidupan masih berpihak kepadaku maka sembilan puluh tiga persen aku tidak bisa berjalan sebebas sekarang ini.
Karena itu aku berupaya memahami keresahan Wammy hingga kupikirkan baik-baik untuk mengucapkan sepatah kata-kata egois kepadanya: "Tenang Wammy! Aku berjanji sekali saja melakukan ini." Sesaat sebelum meninggalkan ruang makan akibat perutku kekenyangan. Membutuhkan waktu sekitar dua menit menuju kamarku, aku tetap berjalan dingin menelusuri lorong sambil menyimak lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Mona Lisa yang dilukis oleh maestro veteran Leonardo da Vinci berdasarkan inspirasinya terhadap orang-orang tak beralis; (pendapatku)—tampak konyol menatap wajahku dalam persepsi kekejian. Karya teori konspirasi masterpiece yang banyak dicari sekaligus dibicarakan oleh profesor-profesor pecinta seni spiritual maka banyak pula replikanya bertebaran di etalase museum tiap-tiap negara. Sampai ketika dimana Wammy's House resmi berdiri sekitar tiga bulan, Roger membeli salah satu replikanya di sebuah pameran lukisan berkualitas atas rekomendasi museum internasional Inggris. Dan hingga saat ini dia tetap memajangnya di dinding lorong Wammy's dengan alasannya mengenang karya seni fenomenal.
Kemudian aku melanjutkan langkah lurus melewati beberapa lukisan. Punggung bungkukku diterpa oleh embusan angin malam membuatku sigap oleh suasana ganjil ketika melewati sebuah kamar tertutup rapat. Sang pemilik Rachel sedang berada pada pengawasan penuh para pengurus medis cadangan Wammy's sampai dia pulih dari depresi akut kambuhannya. Sekarang dia pasti di ruang kesehatan, terlentang di kasur dan jika beruntung sedang memikirkan keakurasian bakatnya membaca kematian. Diselimuti oleh perasaan ganjil lainnya aku menghentikan tubuhku tepat di depan pintu kamar. Telapak tanganku kukeluarkan dari kantong celana panjang lalu meletakkannya pada kenop pintu.
Aku memutar knop pintu ke kanan dan menyelinap masuk ke dalam kamar Rachel yang tidak terkunci. Hawa gelap langsung datang menghujani tubuhku sehingga tak lama membuatku bergerak cepat mencari-cari tombol penyala lampu serta menekannya. Cahaya putih lampu kamar menyala menampilkan benda-benda milik gadis muda eksentrik. Ruangan kamar berbau Aster dengan isian di dalamnya; ranjang, meja belajar, kursi belajar, lampu belajar, buku diari, lukisan-lukisan gotik, kumpulan buku dongeng hewan, biola, tiga sisir, koleksi pita rambut, lemari pakaian, lemari khusus pakaian dalam, jaket, piyama, sepatu bot dan akhirnya bola mataku berhenti. Aku menatap piagam kompetisi seni lukis pada tahun 1987 di Augsburg Jerman, bertuliskan nama 'Ramona Eloquent' yang terletak bersebelahan dengan buku diari di atas meja belajar. Lima puluh persen rasa penasaran menerorku untuk mendekati piagam itu. Kemudian aku mengambil langkah pelan melawati lantai kamar menuju meja belajar dan meletakkan ujung jari pada piagam, membolak-baliknya, serta mengamatinya. Kutemukan secarik tulisan kecil: Piagam ini kupersembahkan untuk perawat cantikku Elena di bagian bawah ujung kertas yang ditulis sendiri menggunakan spidol permanen.
Aku merasakan tengkukku agak bergidik setelah mengembalikan piagam itu ke tempat semula. Aku sempat melirik diari di sebelahnya tapi kuurungkan niat untuk membuka isinya. Lalu pelan-pelan perasaan ganjilku datang lagi ketika kunaikkan tubuh ke kursi, berjongkok menetralisi sekelebat suara melengking mirip tawa hantu yang tiba-tiba berdengung di telingaku, Lucious Lawliet akan mati(pertama). Lucious Lawliet akan mati(kedua). Lucios Lawliet akan mati(ketiga). Lucious Lawliet akan mati(Ke-empat)— Hingga suara melengking itu merenggang saat pintu kamar tiba-tiba tertutup dan mengunci sendiri. Cetar-cetar cahaya lampu utama kamar ikut meredup dan bola mataku mulai membulat di bawah sinar bola lampu kecil di meja belajar yang segera kunyalakan sebagai antisipasi. Kemudian aku memberanikan diri untuk membalikkan tubuh. Sangat-sangat berat sebab delapanpuluh lima persen aliran darahku tersumbat, membuatnya beku sepersekian detik. Aku ingin merogoh kotak hitam dari saku celana dan mengirim pesan ke Wammy namun pergelangan tanganku ikut mengalami efek dari penyumbatan aliran darah. Aku terpuruk, membeku, bergidik, berkeringat dingin, ketakutan melandaku seiring peningkatan rasa frustasi.
Melalui pantulan kaca jendela aku menyaksikan segerombolan kelelewar secara tak logis muncul dari salah satu lukisan Rachel. Lalu terbang berputar-putar membelakangi punggungku, menukik, melakukan manuver-manuver beringas seperti bermaksud mengerubungi serta menggigitku. Kelelawar-kelelawar itu mengeluarkan aroma sangit dari tubuhnya sampai aku ingin memaksakan diri menutup lubang hidung. Tiga detik mereka melakukan teror kepadaku hingga kejadian tak logis berikutnya datang saat lampu utama kamar benar-benar mati. Kali ini melalui pantulan kaca jendela yang ditemani oleh cahaya ringan lampu meja belajar, aku melihat sesosok monster jangkung bertubuh ramping keluar dari lukisan lainnya. Dia menyeret tungkai panjangnya berisik bergerak sedikit demi sedikit mendekatiku. Sedangkan aku masih berusaha menyabotase penyumbatan aliran darah yang terjadi tiba-tiba dan sangat memaksakan tubuhku bergerak. Kemudian saat paling krusial di dalam hidupku akhirnya terjadi ketika penyumbatan aliran darah terlepas sehingga kurasakan tubuhku mampu bergerak sedikit untuk sekedar melompat dari kursi sambil membalikkan badan. Sosok jangkung mulai menyerangku melalui aura jahatnya, memblokir arah pergerakanku bersiap menerkam perlahan-lahan, menikmatinya, dan aku hanya bisa bergeming menelusup ke kolong meja belajar. Tubuhku menggigil, meringkuk pasrah terhadap takdir yang kuhinakan lalu secepat mungkin aku merogoh kantong celana panjang mengambil benda kotak hitam alat komunikasiku. Bagaikan semacam listrik menyambar pergelangan tangan, benda kotak hitam itu malah memberikan efek kejutan menyengat. Aku menjantuhkanya di lantai sambil kulirik sebentar tampilan layar menunjukkan tulisan sinyal lost connected.
Lagi-lagi suara melengking mirip hantu bergema di telingaku, Lucious Lawliet akan mati(kelima). Lucious Lawliet akan mati(ke-enam). Lucious Lawliet akan mati(ketujuh)—sampai sosok monster jangkung sudah setengah meter dekatnya berada di depanku. Lalu melalui tangannya yang panjang ia berusaha menggapai tubuhku bersembunyi di bawah kolong meja. Aku melakukan perlawanan dengan menendang-nendangnya namun yang kurasakan dari alas sepatuku hanyalah berupa kepulan asap gelap. Aku tak merasakan apa-apa ketika menendangnya dan ini membuktikan bahwa delapan puluh sembilan persen kemungkinan dia bukanlah makhluk nyata atau tiga puluh empat persen kekuatanku belumlah kembali utuh.
Tanpa disadari aku menutup mata rapat-rapat, mengumpat di dalam hati serta memanggil-manggil nama Wammy. Kulakukan ketiga cara efektif tersebut agar halusinasi ketakutan yang dilakukan terhadap diriku cepat berakhir. Lalu aku merangkul kedua lututku, mengambil posisi meringkuk lebih dalam di kolong meja. Sosok moster jangkung perlahan berhasil mencengkram pergelangan kakiku. Aku terkejut, reflek meraih kaki-kaki meja namun dengan kekuatan luar biasa si monster jangkung tak putus-asa menarik tubuhku tanpa keraguan. Aku merasa energi di dalam tubuhku cuma tersisa sekitar sepuluh persen maka kugunakan sebaik mungkin dengan mengambil benda kotak hitam yang kujatuhkan di lantai lalu melemparkannya pada moster jangkung. Tak berhasil. Tembus. Kotak hitam melewati mulus tubuh si moster jangkung dan membentuk kepulan asap hitam sekejap di sekitarnya. Aku melongo, sembilan puluh sembilan persen aku berada pada nasib buruk yang tak bisa kuhindari.
Monster jangkung berhasil menarik tubuhku dari kolong meja. Aku memikirkan semacam bilangan matematika berkebalikan yang pernah diajarkan Wammy untuk menilai segala macam sesuatu dari sudut pandang berbeda. Dia dapat mencengkramku tapi aku tak bisa melakukannya, dia dapat mencium bauku tapi aku tak bisa melakukannya, dia dapat melukaiku tapi aku tak bisa melakukannya, dia dapat membunuhku tapi aku tak bisa—suaraku melemah, aku mulai merasakan nafasku berat, terengah-engah. Syndrom titik klimaks ketakutan menyerang. Monster jangkung mengangkat badanku tinggi-tinggi ketika aku sempat melirik gestur wajah kebenciannya meluap-luap. Tanpa terbingkai senyum culas, dia menindas harga diriku seperti binatang buruan yang meringkih di jebakan kardus. Kemudian dengan senang hati si monster jangkung melempar kencang tubuhku ke arah jendela.
Prangg.
Tubuhku menghantam kaca. Aku tak merasakan kesakitan apa-apa selain perasaan seringan daun kering terbang. Gejolak kematian merangkul dalam bayang-bayang kesendirian yang selama ini kumimpikan. Aku sebagai seseorang pria muda bernama L tergeletak di atas peti mati dengan dikelilingi oleh bunga-bunga mawar. Aku melihat wajah Quillsh Wammy tak banyak ekspresi, setia pada setelan jas gelapnya, memilih mendedikasikan diri terhadap sakramen sakral. Dan tiba-tiba seorang gadis kecil muncul dari balik tubuh Wammy, membawa rangkaian bunga dan memakai gaun hitam terbaik dengan korset tampak merepotkan melingkar di pinggangnya. Sembilan puluh tiga persen gadis kecil itu menakutkan karena; tak punya alis, tak punya mata, tak punya hidung, tak punya mulut namun memiliki semacam ekspresi misterius yang tersembunyi dari wajah ratanya. Ketika rangkaian bunga yang dibawa si gadis dilemparkan ke peti mati maka hal tersebut merupakan tanda bahwa aku siap ditenggelamkan ke tanah. Satu demi satu pasir menumpuk, dan aku telah jatuh ke ruangan sempit.
Aku membuka mata, bau pengap menusuk hidung, kadar oksigen menurun sekitar tiga puluh persen. Aku tak bisa banyak bergerak, terlentang menatap penutup peti mati kayu cokelat di depan mataku. Sebisa mungkin menggerakan tangan sambil berharap bahwa kebijaksanaan hati si monster jangkung mau melapaskanku dari siksaan kematian. Aku meninju penutup peti mati sebanyak enam pukulan menggunakan kepalan tangan kanan. Penutup peti tidak bergeser, aku mulai frustasi selagi merasakan nyeri pada kepalan tanganku yang berdarah. Oksigen semakin menipis lalu kurasakan tekanan dari suatu pusat yaitu paru-paru yang akan meledak sehingga kuulangi lagi meninju penutup peti mati berkali-kali pukulan, menekan-nekannya, serta terakhir berteriak. Sampai kemudian—
L—.
Aku mencium aroma minyak gosok yang bercampur dengan alkohol. Seratus persen aku percaya sedang berada di ruang kesehatan. Kemudian aku melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan lewat. Sesaat aku hampir menyerah terhadap kesetabilan kenyataan sehingga membuatku mencubit pipi kiri tiga kali. Namun Wammy ikut meyakinkanku dengan berdiri tegap di samping. Dia menatapku melalui sinar mata yang pengertian untuk memberikanku pernyataan.
"Kau pingsan di lorong."
Aku tak menjawab ucapan Wammy dan berpura-pura kembali tidur sambil membenamkan tubuhku di dalam selimut. Sementara di ruangan lain, Rachel masih berada pada pengawasan penuh petugas medis cadangan.
.
.
Bersambung
.
.
A/N
Akan mulai banyak 'aksi' di chapter-chapter selanjutnya
Terima kasih bagi para pembaca yg udh mampir^_^
Silahkan jika ingin memberikan kritik atau review.
Salam hangat
Viloh
