Tell Me

Happy New Years minna-san :D Oke, lagi2 author harus minta maaf karena telat update, hehe. Tapi tenang aja. Mskipun telat author nggk ada niat buat cut fanfic ini kok ^^ Dan btw terimakasih buat yang menanti dan kasih review ya. Review kalian sangat berarti buat author. Review dari kalian bisa numbuhin semangat buat author nerusin fanfic ini. So, jangan bosan2 buat kasih review ya minna :)

Minna Jasmine: Hehe, maaf ya baru update lagi :) Duh~ udh nyampe belum ya hehehe :B Hehe iya emng agak gantung. Soalnya author cumn mau ngasih tau ke reader kalo fic ini nggk macet tengah jalan kok. Makanya jadi gantung gt :p Oh jgn khawatir, akan tiba saat Neji menyesal. Tunggu aja ne wkwk. Hehe, iya emng. Author punya kok stock fanfic Tenten dgn crack pair di laptop. Saking bnyknya smpe bingung gmn bikin lnjutan ceritanya hehehe. Sampe bingung juga ngasih judulnya wkwk. Happy reading ya. Semoga chapie ini gak mengecewakan ^^

Rika: Hehe, udh di update. Maaf telat dan makasih reviewnya. RnR ya ^^

Lanjutannya Mana: Hahaha, author langsung ketawa baca nama kamu :D Sampe review 3 kali :D Nggak muak kok. Author malah seneng ^^ Makasih jg udh kasih smngt :) Hehe, iya gpp kok. Tp author bakal lebih seneng lagi kalo di sapa lewat review kaya gini. Makasih ya reviewnya. Happy read ^^

Amekomiko: Udah. RnR ya ^^

Guest: Hehe, iya udh di lanjut. Happy read and don't forget review ne ^^

Oke, udh di bales semua review. Yosh, tinggal baca sekrg. Happy read minna-san ^^ RnR please :)

xXx

Suara pintu terbuka sedikit mengejutkan Sasori yang kala itu masih berada di ruang meeting. Tak berapa lama kemudian, seorang pria berambut silver menampakkan wujudnya kemudian menyodorkan segelas kopi pada temannya itu. Tanpa banyak bicara Sasori segera meraih kopi pemberian temannya itu lalu meneguk sebagian isi dan kembali fokus pada berkas-berkas di atas meja.

Helaan nafas berat dari pria berambut merah itu terdengar jelas di telinga Hidan. Membuatnya mau tidak mau memalingkan wajahnya ke arah samping. Mata Hidan tertuju pada secarik kertas yang kini berada di genggaman Sasori. "Surat apa itu?"

"Hanya salinan dari surat wasiat Ayahku." Jawab pria itu santai dan kembali membereskan kertas-kertas berserakan di atas meja.

"Dan.. kenapa kau membawa benda itu?" Telunjuk kanan Hidan menunjuk ke arah kertas yang sudah berada di dalam map milik Sasori.

"Sebenarnya Ayahku lah yang harusnya menghadiri rapat ini. Tapi karena ada urusan mendadak, beliau menyuruhku untuk menggantikan dirinya. Dan kenapa surat ini ada di sini adalah untuk membuktikan kalau aku adalah pewaris tunggal perusahaan Ayahku. Dengan adanya surat ini aku berhak menyampaikan pendapatku di sini mewakili Ayahku yang sudah memberikan kepercayaanya padaku." Jelas Sasori kembali meneguk sedikit kopi miliknya.

"Begitu... Lalu, apa yang menganggumu akhir-akhir ini? Jika kuperhatikan kau sering menghela nafas beratmu. Seolah banyak beban berada di sana." Hidan melirik punggung belakang Sasori.

"Tidak ada masalah. Hanya saja aku sedang kesal dengan seseorang."

"Siapa?" Dahi Hidan berkerut serius.

"Kau tidak perlu tau." Jawab Sasori singkat.

"Kenapa kau ini? Hei, setiap kali kau ada masalah kau selalu cerita padaku. Kau berubah akhir-akhir ini. Kau lebih senang menyendiri, tiba-tiba menghilang, dan tidak banyak bicara."

"Apa selama ini aku pribadi yang cerewet?" Tanya Sasori balik.

"Tidak juga. Tapi kulihat kau agak berbeda. Biar kutebak.. Apa kau terbelit hutang?"

"Hutang apa?" Jawab Sasori dengan nada malas.

"Kalau bukan hutang, lalu apa?"

"Apa menjadi temanku dekatku tidak cukup bagimu? Apa kau mau kuangkat menjadi pengacara dan sekretaris pribadiku?"

"Tidak tidak tidak. Menjadi temanmu saja sudah lebih dari cukup." Tolak Hidan cengengesan. "Hei aku tau. Mungkin kau butuh seseorang untuk menghiburmu. Bagaimana kalau kita ke Club malam? Di sana pasti bantak wanita cantik dan sexy."

"Maaf. Tapi aku tidak tertarik. Kau saja yang pergi." Kata Sasori melangkah keluar ruangan.

Melihat reaksi temannya yang cuek, Hidan segera mengambil langkah seribu untuk membuntuti Sasori di belakangnya. "Ayolah. Hari ini saja. Tidak akan lama."

"Tidak."

"Kumohon. Sekali ini saja. Kudengar di sebrang jalan ada Club malam yang besar dan ramai. Kita coba saja kesana."

"Untuk apa?"

"Tentu saja untuk bersenang-senang."

"Tidak terimakasih." Tolak Sasori tanpa berhenti melangkah.

"Aku traktir." Hidan memberikan penawaran terakhirnya.

"Baiklah, tapi hanya sebentar." Kata Sasori enteng.

"Huh, ternyata itu alasanmu menolak." Cibir pria itu.

"Jangan salah. Bukannya aku tidak punya uang. Aku hanya tidak mau membuang-buang uangku di tempat seperti itu."

"Dasar pelit."

"Pelit sekali-sekali tidak masalah bukan?" Sasori tertawa renyah.

oOo

Makan malam kali ini terasa sedikit berbeda. Karena untuk malam ini, di rumah keluarga Iruka kedatangan seorang tamu yang sudah lama di nantikan oleh Akane. Pria berambut panjang cokelat terurai dengan mata lavender indahnya tengah menikmati makan malam yang di suguhkan oleh keluarga Iruka. Ia duduk dengan manis di sebrang meja lebih tepatnya duduk di sisi kiri putri Iruka bernama Tenten. Pria itu masih fokus dengan seonggok daging tenderloin panggang yang sudah di bumbui dengan bumbu-bumbu khas keluarga Iruka yang tersaji tepat di atas piringnya sembari sesekali menjawab pertanyaan- pertanyaa ringan yang di lontarkan oleh kedua orangtua gadis di sampingnya. Begitu juga Sakura yang duduk di sisi lain meja. Hanya bisa manggut-manggut dan menjawab apa adanya ketik di tanya soal Sasori yang tidak bisa hadir malam ini.

Hingga tiba saatnya Akane kembali mengobrol dengan Neji dan melontarkan satu pertanyaan yangembuat Neji sedikit canggung menjawab pertanyaan dari Akane yang agak sulit untuk ia pikirlan jawabnnya. Bukan karena ia tolol atau apapun. Tapi pertanyaan yang baru saja terlontar membuat dirinya enggan menjawab di karenakan ada gadis itu di sampingnya.

"Neji, kenapa tidak menjawab? Bagaimana hubunganmu dengan Tenten? Apa semuanya baik-baik saja?" Kembali Akane bertanya karena ia tidak mendapat jawaban dari pria itu.

"Ehm..."

"Kami berdua sedang ada masalah Kaasan." Jawab Tenten tiba-tiba.

"Masalah? Masalah apa?" Akane memajukan sedikit tubuhnya karena penasaran.

"Kaasan tidak perlu tau. Ini masalah pribadi antara aku dan Neji. Seperti halnya remaja-remaja lain yang sedang pacaran pasti akan selalu ada masalah yang datang." Jawab Tenten sembari memasukkan secuil daging kedalam mulutnya.

"Apa ini karena ulahmu Tenten? Tidak mungkun seorang Hyuuga Neji membuat masalah." Wanita karir itu menarik mundur dirinya dan meletakkan kedua tangannya di atas meja menatap gadis berambut cokelat gelap tersebut secara seksama.

"Tentu saja Kaasan. Semua karena aku egois dan tidak peka untuk memperhatikan sekitar karena itulah kita berdua bermasalah. Maka dari itu, mulai sekarang aku akan belajar untuk memberikan apa yang aku miliki pada orang lain yang lebih membutuhkan. Tanpa imbalan tentunya. Aku juga harus mulai memperhatikan orang-orang yang ada di sekitarku. Mereka yang bersikap bak malaikat belum tentu mereka memiliki sifat yang sama di belakangku. Benar begitu kan... Tousan?" Tenten menaikkan sebelah alisnya menatap Iruka yang berada di samping Akane.

"Hm, begitulah." Jawab Iruka singkat.

"Tenten. Kau bicara apa? Apa maksudmu? Tolong jelaskan lebih rinci." Akane sedikit heran.

"Tidak ada Kaasan. Lupakan saja. Isi kepalaku agak sedikit kacau akhir-akhir ini. Mungkin karena aku sering mengkonsumsi junk food? Baiklah aku akan menguranginya mulai sekarang." Gadis itu menenguk segelas air mineral di dalam gelasnya dan tersenyum lebar.

"Hm sudahlah." Kata Akane menyudahi dan beralih pada Neji. "Neji tolong kau jaga Tenten. Meskipun kadang dia ingin menang sendiri, tapi sebenarnya dia gadis yang baik dan penyayang."

"Tentu saja Baasan. Jangan khawatir." Jawan Neji sedikit lirih dengan kepala tertunduk.

"Aku sudah selesai. Aku mau ke supermarket di ujung jalan. Ada sesuatu yang harus kubeli." Gadis bercepol itu lantas bangkit dan berlari kecil menghampiri jaket tebalnya yang tergantung di gantungan kayu di dekat pintunya.

"Maaf, tapi aku akan menyusulnya." Tanpa Sakura kira Neji pamit dan segera berlari menyusul saudaranya yang sudah terlebih dahulu pergi.

"Andai Sasori berada di sini, pasti akan sangat menyenangkan bagimu ya Sakura." Akane tersenyum menatap anak gadisnya.

"Eh.. A-no, te-tentu saja Kaasan." Jawab Sakura gagap.

.

Kedua kaki jenjang Tenten sudah memasuki ruangan dingin ber-AC. Tanpa membuang banyak waktu lagi, ia melenggang lebih dalam sembari tangan kanannya menyambar sebuah keranjang plastik di ujung ruangan tersebut.

Beberapa kebutuhan wanita yang ia cari sudah ia dapatkan. Hanya mungkin ia ingin membeli beberapa camilan dan minuman kaleng untuk menemaninya menonton kaset film yang baru saja ia beli beberapa waktu yang lalu, di kamarnya.

Tenten dengan santai berjalan ke meja kasir dan meletakkan keranjangnya di atas meja. Dan tanpa ia duga, dua kaleng minuman ringan tiba-tiba ikut serta masuk ke dalam keranjangnya. Otomatis matanya segera tertuju pada orang yang melukakukan hal itu. Hanya senyuman kecil dan kedikan kedua bahu yang ia dapat ketika ia melihat pelakunya.

"Semuanya 74 yen." Kata sang kasir yang segera menyadarkan Tenten.

Tenten segera mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya namun ia urungkan ketika sang kasir berkata "Jumlah uangnya 100 yen ya tuan." Kembali kedua fokus Tenten tertuju pada lembaran uang di tangan sang kasir yang kini sudah berada di dalam mesin kasir. Tenten beralih menatap Neji yang berdiri tanpa memandangnya.

"Kembaliannya 26 yen tuan. Terimakasih dan silahkan berbelanja kembali." Kata sang kasir yang hanya di balas senyuman ramah oleh Neji.

Kedua tangan pria itu segera menyambar barang belanjaan di atas meja kasir dan segera melangkah keluar. Karena kedua tangannya penuh dengan barang belanjaan milik Tenten, ia menggunakan bahu kirinya untuk membuka pintu kaca dan menahan pintu agar tak tertutup dengan sebelah kakinya. Masih dengan posisi yang sama, Neji memandangi Tenten yang masih diam tak berkutik di dalam supermarket dengan tatapan yang tak dapat Neji artikan. Satu siulan yang cukup keras keluar dari bibir Neji berhasil membuat Tenten sadar dan segera mengikutinya keluar. Setelah gadis itu berada di sampingnya, Neji segera melepaskan kakinya yang ia gunakan untuk menahan pintu dan melangkah pergi mengikuti Tenten yang sudah jalan terlebih dahulu.

.

Dua manusia yang saat ini berjalan santai di atas trotoar hanya saling diam tanpa berbicara sepatah katapun keluar dari bibir mereka masing-masing. Sesekali suara kantong plastik yang berbenturan dengan kaki Neji dapat sedikit memecah keheningan di antara mereka berdua. Dalam hati Tenten ia berharap sampai rumah dengan segera.

Setelah sampai di depan pintu rumahnya, Tenten dengan segera menyambar dua kantong plastik dari tangan Neji dan segera mengeluarkan dua minuman dari dalam plastik dan segera menyerahkannya pada Neji.

"Terimakasih sudah mengantarku dengan selamat. Pulanglah, ini sudah malam aku yakin Sakura pasti sudah tidur." Kata Tenten dengan wajah yang sangat amat biasa.

"Bolehkah aku memintamu untuk melakukan sesuatu untukku?" Pria itu bertanya ragu.

Tenten tak menjawab. Hanya tatapannya yang semula tertuju pada hamparan rumput di kebunnya kini beralih kearah Neji. Keduanya menatap manik mata masing-masing seolah menyiratkan keseriusan.

"Aku sangat mengerti bagaimana perasaanmu saat ini terhadapku ataupun Sakura. Dan dalam hal ini, aku lah yang paling bersalah di banding Sakura. Tapi jika aku bisa meminta, bisakah kau bersikap sedikit lebih hangat pada Sakura meskipun kalian sedang berselisih. Aku tidak memintamu untuk memafkan kami. Aku hanya berharap kau bisa sedikit bersikap ramah pada Sakura." Pinta pria itu.

"Kenapa aku harus melakukan semua itu setelah semua yang kalian berdua lakukan padaku?" Pertanyaan yang keluar secara spontan dari mulut Tenten itu membuat seorang Hyuuga Neji bungkam.

"Karena dia saudaramu." Neji membalas singkat.

"Bukankah seharusnya hal itu yang menjadi alasan kuat agar semuanya tidak menjadi seperti ini?" Kedua mata gadis itu terlihat sayu ketika kata-kata 'Saudara' di jadikan alasan oleh pria ini agar ia bisa bersikap ramah pada Sakura. Jika kata-kata 'Saudara' bisa meluluhkan hatinya untuk memaafkan Sakura, lalu kenapa hal yang sama tidak terjadi ketika gadis itu memutuskan untuk mengambil jalan sendiri tanpa ia ketahui.

"Lalu apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkan kami?"

"Jangan tanyakan hal itu padaku. Tanyakan pada dirimu sendiri, kenapa kau melakukan semua ini padahal kau tau yang paling terluka pada akhirnya adalah gadis yang kau cintai. Pernahkah kau berpikir tentang itu?" Tanya Tenten seolah dirinya adalah seorang polisi yang mengintrogasi pencuri.

Neji bungkam. Bukannya ia tidak memiliki jawaban. Namun jika ia menjawab pertanyaan yang gadis di hadapannya lontarkan akan menambah panjang masalah yang ujungnya berimbas pada Sakura.

"Jangan berpikir aku akan menyakiti Sakura. Aku tidak akan pernah menyentuh seujung rambut gadismu itu. Biar bagaimanapun aku adalah wanita. Aku tau bagaimana perasaan Sakura jika 'Seandainya' aku ada di posisinnya sekarang." Kata Tenten yang sembari menggerakkan kedua jarinya ke udara.

Kata-kata Tenten yang baru saja ia dengar seolah memukul mundur dirinya untuk segera memutar otak dan bermain dengan pikirannya. Gadis macam apa yang ada di depannya ini? Kenapa ia bisa membaca pikirannya dan seolah tau apa yang akan ia lakukan. Dan lagi ia tidak menyangkan gadis yang sempat ia pandang sebelah mata memiliki sifat yang sangat jauh berbeda dari kelihatannya. Bahkan Sakura yang terlihat anggun dan manis juga kadang kala bersikap kasar jika ia sedang kesal. Apalagi jika ia sedang ada masalah. Tapi Tenten...

"Neji, kau belum pulang?" Tanya Akane yang tiba-tiba sudah berada di belakang Tenten yang tengah berdiri di ambang pintu.

"Ah ya, dia akan segera pulang Kaasan." Jawab Tenten santai.

"Tapi ini sudah hampir malam. Tidakkah sebaiknya kau menginap di sini?" Tawar Akane yang berhasil membuat kedua remaja itu terkejut.

"Ti-tidak perlu Baasan. Aku pulang saja." Kata Neji gelagapan.

"Kau yakin?" Tanya Tenten membuat Neji sedikit terkejut.

"Sangat yakin. Kau tidak perlu khawatir." Jawab Neji mantap.

"Aah~ jadi kalian sudah baikan?" Akane menatap kedua manusia itu berbinar seolah mereka berdua adalah seonggok daging salmon segar yang siap di masak.

"Hm, begitulah Kaasan." Senyum palsu dengan segera terulas di bibir Tenten. "Lebih baik Kaasan segera masuk kedalam. Bukankah ini waktunya untuk Kaasan bermain dengan Tousan di dalam?" Kedua tangan Tenten yang tadinya mengenggam kantong plastik kinu beralih mendorong punggung ibunya agar segera masuk.

"Aah~ baiklah baiklah. Kau Neji, hati-hati di jalan ne. Ini sudah malam, tidak perlu kebut-kebutan. Kau terlalu tampan untuk mati muda."

"Kaasan, kau ini bicara apa? Jangan berpikir yang tidak-tidak." Kata Tenten mendorong wanita itu masuk.

Kekehan kecil keluar begitu saja dari bibir Neji tanpa ia sadari. Satu hal yang membuatnya harus kembali memutar otak. Kenapa bukan gadis ini yang ia cintai? Tenten gadis yang baik, periang, juga sangat dewasa dan pengertian. Jika dari awal Tenten yang ia pilih, semua akan baik-baik saja dan berjalan sesuai rencana. Tunggu sebentar, kenapa pikiran seperti itu terlintas di kepalanya? Jika dari awal ia memilih Sakura, bukankah seharusnya hal semacam itu tidak boleh terjadi. Lalu apa maksud dari semua ini? Mungkinkah kini keyakinan hatinya akan Sakura mulai goyah? Ataukah ini hanya semacam godaan sesaat.

"Lebih baik kau pulang. Ini sudah hampir larut." Kata Tenten hendak menutup pintunya.

"Ta-tapi masih banyak yang ingin kubicarakan denganmu." Pria itu sedikit berteriak.

"Lain kali saja."

Itulah kata terakhir yang Neji dengar sebelum Tenten benar-benar menghilang dari hadapannya.

"Lain kali? Aku tidak yakin memiliki keberanian bertemu dan berbicara dengamu... Jika hari itu tiba." Gumam Neji melangkah gontai meninggalkan ambang pintu keluarga Iruka.

oOo

Gemerlap lampu warna warni yang merata di atas atap sesekali menyorot ke arah para pengunjung yang kebanyakan seorang pria yang duduk di kursi dekat bartender yang sedang menunjukkan aksinya pada para pengunjung dua di antara pengunjung, terdapat dua pria yang tengah sibuk dengan urusannya masing-masing. Si pria berambut silver dengan teman wanita yang baru saja di kenalnya, sementara pria yang satunya masih asik memandangi ponselnya sejak ia menginjakkan kakinya di tempat bising ini.

Pria berambut merah itu melarikan matanya ke arah sudut ruangan dan tanpa sengaja ia melihat seorang wanita berpakaian minim berwarna merah cerah melambai kearahnya ketika mata mereka bertemu. Wanita tersebut melemparkan senyuman pada sang pria sembari melambaikan tangannya manja. Melihat hal itu, si pria hanya membalasnya dengan tawa renyah dan kembali memainkan ponsel di genggamannya.

Tak perlu waktu lama, sebuah lengan yang cukup besar tiba-tiba saja menyambangi bahunya. Dari baunya saja Sasori sudah tau siapa gerangan yang menganggu ketenangannya. Ia menoleh kearah kanan dengan tatapan tanpa semangat. Bukan karena dirinya mabuk, tapi karena memang ia benar-benar tidak ingin berada di sini. Yang ia inginkan hanyalah kembali ke hotel atau bahkan pulang.

"Hei kawan, lihatlah. Para wanita di sini sedang memperhatikanmu. Semua wanita itu tertarik kepadamu... Kecuali dia." Hidan berbisik kecil kemudian terkekeh melihat gadis yang baru saja dia kenal menatap balik dirinya. "Kau tidak tertarik pada mereka?"

"Tidak." Balas Sasori singkat.

"Ada apa denganmu? Kau terlihat sedikit pucat. Apa kau sakit?" Pria berambut silver itu sedikit memajukan tubuhnya.

"Aku baik-baik saja. Aku hanya sedang merindukan seseorang." Kata Sasori tersenyum renyah. Tangannya memainkan gelas berisi air soda dan sesekalu asik dengan wajah Tenten yang menghiasi benaknya.

"Tenten?"

Hidan terdiam melihat Sasori yang menganggukan kepalanya membenarkan pertanyaan sembari mengulas senyuman di wajah tampannya. Baiklah, mungkin ini saatnya untuk dia meluruskan otak sahabatnya yang menurutnya sedikit melenceng dari yang semestinya.

"Sasori dengarkan aku... Aku tau kau menyukai Tenten. Tapi kupikir rasa sukamu itu hanyalah sebatas 'Kagum' kini yang ada di otakmu hanya dia. Dan bahkan kini kau sudah merindukannya?" Nada suara yang setiap pria itu lontarkan sangat amat di mengerti oleh Sasori. Bukannya marah, Sasori bahkan merasa geli melihat tingkah temannya yang terlihat sangat lugu.

"Aku mengerti akan kemana arah pembicaraan ini Hidan. Tapi satu hal yang harus kau tau... Tenten bukan milik siapapun. Dia bukan milik pria lain atau bahkan Neji." Kata Sasori tegas.

"Bukan kekasih Neji? Jelas-jelas dia akan bertunangan dengan Neji kau bilang Tenten bukan kekasih Neji."

"Semua yang aku alami selalu aku ceritakan padamu. Sekecil apapun itu. Kau tau segalanya tentangku. Tapi apa kau pernah mendengar aku bercerita tentang gadis yang kusukai sudah memiliki kekasih? Jika pernah, tolong katakan padaku." Sasori menatap Hidan malas.

"Tidak juga sih. Tapi bagaimana kau tau kalau mereka berdua tidak memiliki hubungan?"

"Tenten sendiri yang mengatakan padaku. Meskipun mereka berdua sudah di jodohkan, tapi Neji tidak pernah meminta Tenten untuk menjadi kekasihnya."

"Itu bagus. Jika mereka ternyata tidak memiliki hubungan apapun."

"Apa bagusnya?" Giliran Sasori yang di buat bingung karena pertanyaan Hidan.

"Jika mereka tidak memiliki hubungan, itu artinya Tenten tidak terbuai terlalu jauh oleh seorang Neji. Dengan begitu tidak akan sulit untuk Tenten melupakan pria itu." Jawab Hidan polos.

"Inilah yang membuatku enggan jika memberikan pertanyaan yang sulit padamu. Apa baut-baut di otakmu sudah mulai karatan hingga memperlambat fungsi otakmu? Dengar Hidan... Semua tidak sesederhana yang kau pikirkan. Bertahun-tahun Tenten menyukai Neji. Dan pada saat dia sedang di atas angin karena kedua orangtuanya menjodohkannya dengan Neji, tak berapa lama kemudian ia harus menerima kenyataan kalau Neji sudah menyukai gadis lain. Dan yang lebih istimewanya lagi gadis itu adalah Sakura. Saudara Tenten sendiri. Sekarang bisa kau bayangkan betapa rumitnya masalah ini?"

"Sa-Sakura?"

"Kenapa kau terkejut seperti itu? Jangan bilang aku belum menceritakannya padamu." Sasori memandang Hidan dengan dahi berkerut dan hanya di balas gelengan oleh Sasori. "Ah ya, aku bercerita pada Deidara saat itu bukan kau."

"Lalu bagaimana dengan Tenten? Apa dia tau semuanya."

"Ya, dia sudah mengetahui semuanya." Senyum kecut terulas di bibir Sasori ketika ia mengingat bagaimana raut wajah Tenten saat gadis itu menceritakan semuanya dan menangis di pelukannya. Sangat menyakitkan melihat gadis yang ia cintai menangis karena lelaki lain.

"Lantas?" Hidan sebelah alisnya menatap Sasori serius.

"Kesempatan untukku." Kata Sasori singkat.

"Ya kau benar. Kau selalu memiliki kesempatan yang tak terduga. Kejadian yang hampir sama saat kau pertama kali bertemu Ino. Saat itu dia sedang terpuruk karena kekasihnya yang terjerat kasus kriminal akibat dari perbuatnnya yang selalu melakukan kekerasan pada Ino. Saat itu kau datang sebagai penghiburnya dan mencoba menghilangkan trauma di hatinya. Tanpa di sangka beberapa bulan kemudian kudengar kalian berdua sudah menjadi kekasih." Kata Hidan mencoba mengingatkan kembali kisah hidup temannya yang hampir mirip dengan serial drama di tv yang tiap malam Ibunya tonton dengan membawa serta sekotak tissu jika scene mengharukan sudah di munculkan.

"Ino gadis yang baik. Hanya saja sikap tidak pedulinya dan keegoisannya membuat rasaku padanya perlahan hilang." Sasori menatap lemah kearah gelasnya.

"Dan belum tentu juga Tenten adalah gadis yang tepat untukmu. Bukan apa-apa, aku hanya tidak bisa melihat sahabatku terluka karena wanita."

"Hm, aku tau. Terimakasih sudah peduli padaku. Tapi untuk kali ini entah kenapa aku merasa Tenten adalah gadis yang istimewa." Pria itu tersenyum kecil.

"Baiklah aku akan mendukungmu. Dan jika kau merindukannya, kenapa kau tidak coba menelponnya?"

"Menghubunginya? Di tempat seperti ini? Apa kau tidak waras. Bagaimana kalau dia bertanya apa yang aku lakukan di tempat seperti ini. Dia bukan anak kecil. Dia bisa membedakan mana suara sound bar dan mana suara pendingin ruangan."

"Lalu apa yang kau mau? Pulang?"

"Ide yang sangat bagus."

oOo

Sekitar pukul 22.10 Sasori baru tiba di kamar hotelnya. Harusnya ia sudah tidur sekitar satu jam yang lalu. Tapi berhubung Hidan mengajaknya ke club malam, kini ia harus tidur terlambat dan mau tidak mau harus bangun pagi-pagi buta untuk menyiapkan berkas-berkas yang harus ia kirimkan pada ayahnya yang kini sedang berada di London. Seharusnya bisa saja ia menunggu kepulangan ayahnya dari sana. Namun berhubung mitranya yang tidak memiliki banyak waktu, terpaksa ia harus mengirim berkasnya ke London untuk mendapatkan tanda tangan dari ayahnya.

Langkahnya yang gontai membawa Sasori menuju tempat tidurnya. Sasori merebahkan tubuhnya fi atas tempat tidur king size dan lantas mengambil gagang telefon dan menghubungi seseorang di sana. "Tolong antarkan hot hazelnut dan es batu untukku. Terimakasih" Sembari menunggu pesanannya datang, ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dengan air hangat. Sudah bisa ia bayangkan pasti sangat nyaman di siram air hangat di saat seperti ini. Apalagi saat ini tubuhnya agak sedikit drop.

.

Setelah mengenakan kaos polosnya, ia segera beranjak ke tempat tidurnya lalu menyalakan televisi. Sesaat ia diam dan mengambil sesuatu dari dalam laci dan mengeluarkan benda tersebut dari plastiknya. Sasori memasukkan benda tersebut ke dalam mulutnya dan membiarkannya sesaat. Tak lama kemudian bel kamarnya berbunyi. Ia segera bangkit dari tidurnya dengan membawa serta benda yang masih berada di dalam mulutnya.

"Terimakasih." Kata Sasori setelah ia memberikan beberapa lembar uang tip pada pelayan. Sasori menutup pintu dengan tangan kananya sembari tangan kirinya melepas termometer yang sejak beberapa menit lalu ia biarkan di dalam mulutnya. Pria itu hanya tertawa kecil saat dugaanya benar. Ia sedang demam. Mungkin akibat kelelahan. Bekerja terlalu keras dan sering telat makan. Sedikit bingung ia sebenarnya. Ia sering seperti itu, namun baru kali ini ia drop karena kelelahan.

Sasori membawa pesanannya ke meja televisi dan menyesap sedikit hazelnut pesanannya sebelum ia meninggalkannya lagi untuk mengambil handuk kecil untuk mengompres lehernya menggunakan es batu. Setelah mendapatkan handuk dan meletakkan beberapa batu es di atasnya, ia meninggalkan minumannya yang masih mengepulkan asap di atas meja dan beranjak menuju tempat tidurnya. Tangannya membalutkan handuk pada beberapa batu es di sana dan segera menempelkannya pada leher kanannya. Entah kenapa demamnya kali ini membuatnya mengingat saat Tenten yang juga demam karena pulang terlalu larut dengannya. Baiklah, ia semakin merindukan gadis itu sekarang. Ia bisa saja menelpon gadis itu sekarang, tapi ia tidak yakin Tenten masih terjaga.

Drrt...

Ponselnya bergetar sebentar saat ia sedang asik dengan Tenten di kepalanya. Pesan masuk yang ia terima membuatnya sedikit terkejut. Seseorang yang ia rindukan tanpa di duga mengirim pesan singkat padanya 'Hei, apa kau baik-baik saja?' Tanyanya. Tanpa ba-bi-bu lagi ia memutuskan untuk menelponnya. Suara yang sangat indah bagi Sasori sesaat kemudian terdengar di seberang sana. Ia memejamkan matanya lega karena rindunya sedikit terobati meskipun ia tidak bisa mengungkapkanya secara gamblang.

"Kenapa belum tidur?" Sasori duduk di tepian tempat tidur tanpa melepas kompresan lehernya.

'Hm, aku hanya merasa khawatir padamu. Apa kau baik-baik saja, bagaimana dengan matamu?' Tanya Tenten khawatir.

"Mataku sudah baikan. Sekarang hanya sedikit demam tapi aku baik-baik saja. Terimakasih kau sudah peduli padaku."

'Ah~ a-anu, a-ku hanya...' Sasori terkekeh kecil.

"Aku tau, kau hanya ingin memastikan kalau mataku baik-baik saja. Kau tidak ingin mendapat masalah bukan?"

'Aku benar-benar mengkhawatrikanmu. Bukan hanya karena matamu yang jadi buram akibat ulahku.' Kata Tenten dengan nada sedikit kesal.

'Ah~ ya baiklah baiklah. Aku percaya." Kembali Sasori sedikit geli mendengar perkataan Tenten. "Hei, apa kabar kau hari ini?"

'Aku baik-baik saja. Seperti biasa. Tapi tanpa kau, hariku terasa sedikit berbeda.' Gadis itu tertawa renyah di sana.

Dapat Sasori tebak, gadis ini baru saja mengalami hal yang tidak ia duga. Namun ia masih belum tau apa itu. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Sasori.

'Hm, sepertinya.' Jawabnya lemah.

"Apa kau bertemu dengannya lagi?" Tanya Sasori serius.

'Ya. Kaasan mengundangnya untuk makan malam. Bukankah kau seharusnya tau, kau kan juga di undang.'

Benar, harusnya hari ini ia memenuhi undangan Akane Baasan untuk makan malam. Tapi karena pekerjaan, ia tidak bisa menghadirinya. "Apa dia mengatakan sesuatu padamu?"

'Tidak ada... Tidak perlu di pikirkan. Lalu bagaimana dengamu? Apa saja yang kau lakukan hingga demam menyambangimu?' Katanya berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Meski begitu, Sasori tau jika sebenarnya ada sesuatu namun Tenten tidak mau membahasnya. Ia bisa mengerti perasaan Tenten. "Ya~ seperti itulah. Seharian di kantor, dan pada akhirnya Hidan mengajakku ke club malam." Sasori mengedikkan bahunya.

'Club malam? Apa yang kau lakukan di sana?' Tanya Tenten.

"Aku hanya minum segelas soda. Dan Hidan... dia minum sedikit arak dan berkenalan dengan wanita." Jelas Sasori. "Ah~ satu lagi. Hidan menawarkan banyak gadis sexy padaku." Imbuhnya.

'Pasti kau bersenang-senang di sana.' Tenten tertawa sinis.

"Hanya Hidan. Aku tidak." Jawab Sasori singkat.

'Kenapa?'

"Mereka bukan tipeku. Lagipula gadis yang kuinginkan tidak ada di sampingku. Bagaimana caraku bersenang-senang?"

'Gadis yang kau inginkan sudah memiliki orang lain. Jika kau tidak segera melupakannya, seumur hidup kau tidak akan tau rasanya 'bersenang-senang' Sasori.'

"Hm, memang. Sakura bisa membuat hariku terasa menyenangkan. Tapi hanya ada satu wanita yang bisa membuatku bahagia seumur hidupku walaupun dunia tidak menginginkanku." 'Karena kau bukanlah sekedar dunia. Tapi kau adalah surga bagiku.' Lanjut Sasori dalam hati.

TBC

Thankyou minna-san :) Dan maaf telat ne, hehe. Sekali lagi review please :) See you guys ^_^