A/N : ONE WORD TO DESCRIBE THIS CHAPTER : HELL TO WRITE, SORRY FOR THE DELAY
BAH, I DO NOT OWN KH
WARNING : AU , OOC, ETC, MTC ,
Chapter 9 : choose me
Sudah sebulan berlalu sejak Aku menemukan fakta tentang Xion. Awalnya kukira akan gampang saja membicarakan masalah ini dengan Roxas. Tentu saja kenyataannya hal ini lebih sulit dari dugaanku. .Tiap kali topik mengenai Xion terlintas di benakku Aku akan mengalihkan pikiranku menjadi apapun , bahakan hal yang terkonyol sekalipun
Akhirnya tanpa kusadari waktu sebulan telah berlalu . Bulan November yang menjadi awal musim salju yang beku bahkan sudah berakhir untuk menjemput bulan Desember yang bahkan lebih dingin. Bulan Desember adalah bulan penutupan semester yang amat sibuk di Twilight High. Siswa dituntut untuk bekerja lebih ekstra dalam esai-esai PR, tugas kredit dan tentu saja Ujian Akhir Semester. Posisiku sebagai murid pindahan mengakibatkanku harus belajar dua kali lipat lebih banyak dari siswa lainnya.
Sambil menopang daguku, Aku mencoba menyelesaikan persamaan linear di buku yang tergeletak di meja belajar kamarku. Sebab ujian terakhirku besok adalah matematika,pelajaran ter-tidak favoritku. Tapi alih-alih menjawab soal di buku teksku yang jumlahnya entah ada berapa. Aku justru mencorat-coret kertas buku catatanku sampai penuh dengan coretan-coretan tidak penting. Salah satu gambar terbesar di kertas itu adalah seorang remaja cowok dengan rambut pirang acak-acakan yang mengarahke kiri kepalanya dan seorang remaja perempuan yang tidak berwajah. Meski tidak mengenali sang perempuan, Aku yakin bahwa dia adalah Xion Metis. Bahkan tanpa sadar aku mengakui bahwa Roxas dan Xion memang cocok satu sama lain.
Aku mencoret gambar pensil itu dengan segera dan merobek kertasnya untuk kubuang ke tempat sampah di samping meja kayu bercat putih ini. Aku harus fokus, tegasku pada diri sendri. Susah memang karena Aku benar-benar tidak pernah bisa matematika. Kubolak-balik buku teks merah itu untuk mencari soal yang lebih mudah untuk di jawab,meski kurasa Aku tidak pernah menguasai subjek apapun di pelajaran ini.
Di hadapanku sudah ada Roxas yang tengah tertidur pulas sejak kira-kira sejam setelah kami mulai membahas logaritma. Roxas berkeras untuk membantuku belajar matematika karena kami punya kelas yang sama. Meski akhirnya dia berakhir tertidur dengan kepala di atas catatan matematikanya yang penuh rumus. Menghela nafas panjang kututup buku teks setebal 200 halaman itu. Tidak ada gunanya belajar lebih lama lagi. Toh Aku tidak akan menjadi jenius matematika dalam waktu sehari, Cuma buang-buang waktu saja.
Kualihkan perhatianku pada remaja yang tengah tertidur di hadapanku. Rambut pirang emasnya bahkan tidak mau merebah bahkan saat ia tertidur. Sementara bulu matanya yang panjang tampak menyentuh pipi atasnya. Dibawah lampu kamarku yang amat terang Aku bahkan bisa melihat bekas-bekas luka berwarna perak di kulitnya yang terbakar matahari. Aku menjulurkan tanganku untuh menyentuh pipinya yang dingin, Dia bergerak sedikit karenanya namun segera kembali tertidur. Kuguncangkan bahunya sekarang. Dia tetap tidak bergeming.
Aku menyerah. Aku bangkit dari kursi kayu ku dan berjalan ke arah Roxas di seberang meja. Dengan susah payah Aku menyeret tubuhnya yang kurus tapi berotot ke ujung ranjangku, Aku tidak pernah tahu dia seberat ini. Roxas bereaksi karena ini. Setengah tidur, dia meraih bantalku dan tertidur di detik berikutnya. Kuselimuti Roxas dan mengatur suhu pemanas di kamarku sebelum kutinggalkan Roxas di kamarku.
Karena Roxas tengah tidur nyenyak di kamarku maka Aku melangkah memasuki kamar bercat gelap milik Roxas. Aku tidak pernah benar-benar berada lama di kamar ini untuk memperhatikan isi kamarnya. Tidak begitu banyak perbotan di kamar luas ini. Hanya tempat tidur mahogany besar berseprai putih di ujung kamar, beberapa perbotan lainnya dan pintu kayu di ujung lainnya yang mengarah ke kamar mandi dan walk in closet . Sementara ada sofa putih dengan karpet beludru warna hitam yang di taruh berhadapan dengan jendela kaca amat besar yang hanya ditutupi gorden putih tipis, dari jendela ini Aku bisa melihat bulan purnama sempurna yang terutup awan hitam menyinari petak-petak kebun mansion Cavaler yang tertutup salju putih.
Satu hal yang menarik perhatianku adalah meja kabinet panjang di ujung dinding yang menghadap tempat tidur. Tepat di bawah tv LCD ada deretan foto yang tampaknya menggambarkan perjalanan hidup Roxas. Mulai dari foto keluarga Cavaler yang menampakkan Mr dan Mrs Cavaler yang masih sangat muda. Mereka berdua tampak sangat bahagia, Mr Cavaler tampan dengan rambut pirangnya yang berdiri dan Mrs Cavaler yang cantik dengan rambut pirang tua sebatas bahu. Ventus yang masih berusia lima tahun dirangkul oleh Mr Cavaler, dan Roxas yang masih bayi di gendongan Mrs Cavaler. Foto saat dia dan Ventus bermain di sebuah lading bunga tulip warna warni saat tampakna dia masih lima tahun dan Ventus sepuluh tahun.
Foto Sora dan Roxas diusia sembilan tahun tengah bermain bola sementara Kairi yang berambut pendek menonton mereka di ujung lapangan. Roxas dua belas tahun bersama Hayner, Pence dan Olette tengah berada di Sanlot,Roxas dan Hayner tengah bermain struggle-semcam olah raga khas remaja Twilight Town sementara Pence dan Olette menyemangati dari bawah ring . Kemudian foto paling baru adalah yang paling besar berpigura silver; foto pernikahan kami. Hatiku terasa agak ngilu melihat ini, Aku mengalihkan pandanganku pada laci cabinet dengan segera untuk menghindari perasaan aneh yang mendera ulu hatiku. Bergerak otomatis tanganku mendorong keluar laci kayu ash yang tidak terkunci itu.
Di dalam laci nyaris kosong dengan tingkat debu yang parah, meski begitu satu-satunya benda di dalamnya; album foto berat bersampul kulit warna hitam tampak bebas debu. Didorong oleh rasa ingin tahu yang bergejolak kuambil album foto itu.
Album foto itu berisi lebih banyak kenangan Roxas. Isinya didominasi oleh tempat-tempat berlatar gelap dan anggota organization XIII. Foto-foto Roxas yang sepucat tengkorak dan berwajah muram menghiasi halaman-halaman pertama album itu, sebagian besar ada Axel, Demyx dan Larxene yang tersenyum lebar (sadis untuk Larxene)tetapi wajah Roxas bisa menyaingi ekspresi kosong Zexion yang tertangkap kamera di foto-foto berikutnya. Beberapa halaman berikutnya seperti flashback, semakin kebelakang maka semakin tua fotonya dan semakin sengsara wajah Roxas. Satu foto yang menyita sehalaman penuh adalah foto anggota XIII lengkap, sepertinya diambil saat Roxas berhasil menjadi anggota ke-13.
Melangkah ke halaman berikutnya membuatku tercengang. Di penuhi foto-foto Roxas yang tersenyum dan mengenakan jaket putih dengan bordiran kata dusk di dadanya. Di setiap fotonya Roxas ditemani seorang gadis sebayanya yang berjaket putih identik dengan Roxas. Gadis itu berambut hitam pendek menyentuh leher dengan mata biru yang berkilau, kulitnya putih meski agak terbakar. Dia sangat cantik dengan senyum lebar yang menghiasi bibirnya.
Di lembaran terakhir adalah foto Roxas dan gadis itu tengah memakan es krim berwarna biru muda di Clock Tower Twilight Town saat senja,wajah mereka yang tersenyum bahagia bercahaya tertimpa cahaya keemasan mentari sore . Di bawah foto itu tertulis dengan tulisan ramping rapi ber tinta hitam
ROXAS & XION 12/07/08
Always there for each others…
Nafasku tercekat seketika seakan ada orang tak terlihat yang pernah Aku memandang sesuatu dengan kebencian yang amat sangat seperti ini. Dengan tangan yang bergetar karena luapan emosi Aku melempar album itu kembali ke dalam laci.
Aku tidak tahan lagi pada semua ini. Segalanya akan jauh lebih mudah kalau Roxas menolakku dari awal. Akan lebih mudah kalau dia menolak semua ini sepertiku. Tapi dia tidak mau kan?. Akhirnya Aku harus tersiksa...
Ujian Matematika esoknya terasa benar-benar kabur di ingatanku. Aku ingat berkutat di kelas bercat pucat berusaha menyelesaikan soal dari Miss Belle guru Matematikaku yang luar biasa baik hati. Tetapi bagaimana tepatnya Aku bisa mengerjakan ke empat puluh lima nomer ujian penuh angka itu. Aku tidak tahu, sungguh.
Karena saat berikutnya Aku sadar. Aku sudah berada di kafetaria bersama Hayner, Pence, Olette, Sora dan Kairi yang mengitariku . Kairi dan Olette tengah sibuk membahas soal fisika mereka dari ujian sebelumnya, menyesali ini-itu yang mereka anggap keliru, Aku tidak tahu apa yang mereka pintar dan Mr Philip guru mereka sangat adil dalam member nilai . Sementara Sora bertampang muak mendengarnya, Hayner hanya diam memainkan fettucininya yang mulai dingin. Dia terlihat sedikit bermasalah karena rambut pirangnya tampak lebih berombak dari biasanya.
"Kau pucat Namine. Kenapa, sakit?" Tanya Pence di sebelahku. Remaja gemuk berambut hitam itu satu-satunya yang memperhatikanku yang bertampang kusut karena gelisah. Aku tersenyum lemah dan menggeleng.
"Ujianmu kacau, Namine?" kini giliran Hayner yang bertanya, dia sudah mendorong fettucininya yang tak tersentuh ke seberang meja. Sora mengawasi fettucini itu dengan tatapan liar.
"Yah..Kurasa begitu" jawabku lesu. Hayner tertawa hambar.
"Ujian mu tidak bakal separah Sora. Di kimia dia malah tidur" kata Hayner mencoba menyemangati meski Sora menatapnya mencela.
"Seni ku juga pasti kacau. Aku dapat Miss Ariel,dan Aku tidak bisa menyanyi sama sekali" gumam Pence santai sambil mengecek kameranya. Olette dan Kairi sudah menyelesaikan ujian fisika mereka yang mereka ulang secara verbal dan kembali kepada kami.
"Hei Nami, Setelah ini kita mau ke rumahku, kau mau ikut?"ajak Kairi dengan senyum tipis di wajahnya. Dia sepertinya masih sedikit shock dengan jawaban ulangan fisikanya.
Aku sudah pernah ke Apartemen Kairi sebelumnya, Apartemennya ada di pusat kota dan meski tidak begitu luas karena dia tinggal hanya bersama Aqua (Ayah Kairi adalah gubernur di Radiant Garden ). Tapi Apartemen itu luar biasa menurutku.
"Ya tentu" Aku mengangguk menyetujui toh Aku tidak tahu Roxas ada di mana. Dia menghilang begitu saja ketika bel terakhir berbunyi.
Di Apartemen Kairi yang nyaris menyerupai rumah model (lengkap dengan runway pribadi , studio foto mini, manekin-manekin bergaun modis yang bertebaran di setiap sudut bahkan ruang duduk dengan pasir hangat yang menggantikan tegel) Sora, Hayner dan Pence langsung menyerbu dapur untuk makan kue kering ber chips sementara Aku,Kairi dan Olette berbaring terlentang di ranjang Kairi yang berseprai Hot pink meyilaukan mata.
"Jadi…"ujar Kairi berlambat-lambat, dia bangkit dari pelukannya yang erat terhadap bantal bulu angsanya dan memandangku penuh makna. Aku menganggat sebelah alisku tanda tidak mengerti, Olette tampaknya tahu kemana arah pembicaraan Kairi karena dia ikut duduk dan nyegir kearahku.
"…apa?" tanyaku sedikit cemas, Kairi hanya melebarkan seringainya jadi Olette yang mengambil alih pertanyaan Kairi.
"Sudah sejauh apa hubunganmu dengan Roxas?Sampai tahap paling nakal?" Tanya Olette dengan kedipan jail sementara Kairi terkikik senang. Mataku melebar mendengar ini dan tiba-tiba kurasakan punukku memanas. Aku menggeleng sekuat tenaga sampai kunciranku (yang memang sudah tidak kuat) terlepas.
"Ma-mana mu-mungkin!" kataku tergagap saking malunya. Aku memegang kedua pipiku yang kini sangat panas.
"Oh-Aku tidak percaya" kata Kairi penuh semangat matanya berkilat saat mengatakan ini, dia menyimpakkan rambut merahnya ke belakang kepalanya dan menyender kearahku. Ekspresi Olette setuju dengan Kairi.
"Roxas tipe cowok yang tidak suka basa-basi. Kalau mau pasti dia lakukan" kata Olette sambil susah payah menyembunyikan cengirannya.
Bahuku terasa jatuh Aku memandang ke manapun selain Kairi dan Olette.
"Dia tidak mau kalau begitu" gumamku.
Kukira ini akan menutup mulut kedua gadis berambut merah dan cokelat gelap ini. Tapi tawa mereka justru meledak tiba-tiba, Hayner sampai menyumpah keras-keras dari dapur ketika Sora tersedak mendengar tawa mereka yang membahana.
"Kau MAU melakukannya!Astaga Nami!tak Kusangka!" seru Kairi yang sepertinya hilang akal. Aku tidak tahu dari mana dia mengambil kesimpulan seperti itu.
"TIDAK! Yang BENAR saja!" Aku balas berteriak pada mereka yang hanya dibalas dengan cekikikan tak berujung. Kairi menghentak-hentakkan kakinya ke atas kasur sementara Olette menyeka matanya yang berair. Ya ampun...
"Tapi Aku tidak heran kalau kalian berdua 'melakukan itu'" ujar Olette sementara Aku memutar bola mataku dengan mencela, tapi wajah Olette berubah serius.
"Sungguh Namine. Roxas berubah kembali jadi Roxas yang dulu setelah bertemu kau. Dia tidak lagi seperti zombie berjalan setahun lalu"
Aku mendongak menatap Olette kali ini. Saat itu Aku teringat kalau sebelum Roxas bertemu Xion dan Organization XIII. Hayner, Pence dan Olette adalah sahabat terdekatnya. Agak aneh membayangkannya karena sekarang mereka agak canggung. Meski Aku masih melihat Hayner dan Pence sesekali bercanda dengannya di jam olahraga. Olette sedikit skeptis pada Roxas, mungkin karena perasaan Olette yang paling halus diantara pria-pria bebal yang mengelilinginya.
Suasana kamar Kairi menjadi berbeda sedikit. Kairi menjadi diam total dan merayap turun ke bean bag di samping tempat tidurnya. Sementara Olette memandangku dengan intens. Sepertinya dia menangkap bahwa Aku ingin informasi lebih lanjut soal ini.
"Jadi yah... Aku tidak tahu kenapa persisnya. Tapi Roxas mulai berubah dua tahun lalu. Dia tidak sering bersamaku Hayner dan Pence lagi. Sebagai gantinya luka-luka mulai muncul di badannya. Kami coba abaikan saja. Tapi makin lama makin parah, Hayner sampai berkelahi dengannya untuk bertanya kenapa dia sampai babak belur. Roxas tetap bungkam tentu saja, selalu keras kepala cowok itu. Akhirnya kami sedikit demi sedikit membuat jarak dengannya. Tapis setahun lalu adalah puncaknya. Dia benar-benar seperti orang mati. Tak pernah tertawa atau bicara lagi. Jarang masuk kelas dan lain-lain…" Suara Olette menjadi tercekat, dan kemudian dia hanya menggelengkan kepalanya dengan sedih.
Kairi bergerak tidak nyaman di tempatnya, tapi dia tidak berkomentar apapun. Termenung sesaat Aku dapat mendengar ucapan Axel padaku dari sebulan yang lalu, jelas dan keras terngiang di kupingku.
"Beri Roxas kesempatan Namine"
Dengan canggung Olette mengajak kami menonton tv, sepertinya Olette merasa sedikit bersalah karena telah merusak mood. Kairi yang tidak bisa menemukan hal lain yang menarik (kecuali bermain warcraft bersama cowok-cowok di luar bisa dibilang menarik) menyetujui usulan Olette dan menyalakan tv mungil di sebrang tempat tidurnya.
Selama setengah jam berlangsung kami menonton drama tentang seorang novelis pria yang membuntuti seorang detektif cantik namun bertempramen parah demi bahan novelnya. Mereka berdua tampak luar biasa memecahkan kasus kematian seorang penggiring pengantin tepat saat pernikahan akan berlangsung. Mau tidak mau pikiranku melayang, membayangkan kalau kasus itu nyata dan terjadi benar-benar di pernikahanku. Bukannya Aku mau ada yang meninggal, tapi mungkin saja keluarga Cavaler kemudian menganggapku seorang pembawa sial dan menolak menikahkanku dengan putra mereka. Jadi Ayah tidak punya pilihan lain selain membawaku pulang.
Aku bisa membayangkan tengah melukis di halaman belakang mansion kami dan menunggu dengan cemas hasil ujianku tanpa perasaan menyakitkan yang mengganggu di ulu hati tiap seseorang berkata bahwa Aku dan Roxas pasangan yang serasi.
"Hei Namine?" Pence muncul dari balik pintu kamar Kairi tepat saat sang detektif menemukan penggiring pengantin pria yang menghilang ditemukan. Aku menatap Pence ingin tahu,sementara Olette dan Kairi mengusirku keluar karena menganggu drama mereka.
"Ada apa Pence?" Aku menutup pintu Kairi dengan pelan dan Pence membawaku ke ruang tamu yang berantakan oleh tas kami. Disana Hayner dan Sora tengah bermain warcraft dengan sesendok penuh eskrim di mulut mereka. Kupikir Pence mau mengajakku ikut bermain game konsol mereka, sampai Pence menyikutku untuk menyadarkan bahwa remaja berambut emas ada di anatara Hayner dan Sora, mata birunya yang nyaris identik dengan Sora terpaku pada layar
"Roxas?"
Mendengar suaraku Roxas tersentak dan tersenyum kecil ke arahku, Hayner dan Sora bergumam tidak jelas dengan seringai jahat di bibir mereka. Roxas mendengus sebagai jawaban dan berjalan kearahku. . Dia sudah tidak mengenakan seragam sepert Hayner , Pence dan Sora. Sebaliknya dia mengenakan mantel hitam panjang selutut. Kuperhatikan ponsel android Sora ada di sampingnya, pasti Roxas tahu Aku dimana dari Sora.
"Hei Pence" Roxas mengangguk pada Pence yang membalasnya dengan highfive. Alih-alih mengatakan alasan mengapa tiba-tiba dia muncul di Apartemen Kairi, Roxas memungut ransel putihku yang tergeletak di lantai dan menyelampirkan di punggungnya.
Dengan seenaknya dia menarik tanganku keluar dari Apartemen dengan iringan siulan panjang dari tiga cowok yang tengah asyik dengan dunia mereka sendiri.
Udara di luar Apartemen Kairi benar-benar mengerikan. Siul-siulan angin dingin berhembus menghantam wajahku yang merah karena kedinginan. Kami tidak berbicara sama sekali karena gigiku menggeretak terlalu kencang untuk berkata apapun. Aku bisa melihat kupIng Roxas memerah karena suhu ekstrim hari ini. Semua ini karena Roxas tidak memarkir mobilnya di basement bawah tanah, melainkan di depan gedung Apartement bertingkat 30 itu. Begitu Roxas membuka pintu mobil silvernya yang tertutup salju sesenti,Aku langsung masuk ke dalamnya. Untungnya kali ini Roxas menyetel pemanasnya pada suhu yang wajar.
"Ja-jadi ada apa?" kataku sambil menggosok kedua tanganku yang sudah tidak bersarung tangan dan melirik ke arah Roxas yang tengah berkutat dengan setirnya, menyetir di musim salju tidak pernah menyenangkan.
"Yah,karena hari ini ujian sudah selesai. Kupikir tak ada salahnya kalau kita jalan-jalan sebentar. Kencan atau semacamnya" kata Roxas. Dia memicingkan matanya dan menggosok-gosok kaca mobil yang berembun agar mendapat jarak pandang yang cukup jauh.
"Er-Apa kau sadar cuacanya jelek sekali?" tanyaku, angka berwarna hijau yang menunjukkan 3 ͦ celcius di dashboard seakan memperingatkan kami.
Roxas tertawa, dia melambaikan tangannya sekilas seakan berkata itu cuma hal kecil. Aku mengangkat bahuku dan mengatakan terserah padanya.
Sejak awal Roxas tidak punya rencana cliché soal tidak mengajakkan makan di restoran atau sekadar menonton film di bioskop. Kami membeli cheese burger dan cola di sebuah restoran fast food dan makan di dalam mobil karena menurut Roxas, perjalanan kami akan sedikit lama.
Aku tidak mengeluh terlalu banyak, dan dia mengizinkanku memutar lagu-lagu jazz yang mellow agar tidak terlalu bosan dan bila Roxas familiar dengan lagunya dia akan ikut bernyanyi,Aku tidak pernah bilang pada Roxas tapi Aku selalu suka mendengarnya bernyanyi . Kami sangat rileks sampai setelah matahari mulai terbenam Aku baru sadar kami sudah ada di mobil kurang lebih dua jam.
"Kita mau kemana Roxas?" tanyaku yang mulai tidak sabar. Roxas Cuma menggeleng, kami sudah berada di luar Twilight Town sekarang, karena setengah jam lalu kami melewati gapura yang bertuliskan "SELAMAT TINGGAL TWILIGHT TOWN". Pemandangan di luar jendela sudah tergantikan dari gedung-gedung tak berujung menjadi kota sepi yang tertutup putihnya salju. Setelah Roxas berbelok keluar dari pusat kota yang sepi enuju jalanan lebar beraspal, pemandangan kembali terganti dengan pantai berpasir putih (meski sedikit tertutup salju) dan ombak laut yang berwarna jernih.
Dengan berani Roxas menanap gas mobilnya melewati turunan landai dari tanah yang mengeras menuju bibir pantai.
"Kita sampai" kata Roxas riang sambil tersenyum padaku. Tapi Aku tidak setuju dengan ekspresinya.
"Pantai, Roxas?di luar dingin sekali" keluhku.
Roxas mengabaikannya dan menarikku keluar dari mobil, benar saja. Angin pantai jauh lebih keterlaluan dari angin di Twilight Town. Segera saja wajahku memerah karena kedinginan. Roxas tidak membiarkanku berdiri begitu saja terlalu lama, dia menarik tanganku menuju ujung ombak yang menari di bibir pantai, dia melepas boot , sarung tangan dan mantelnya dan menaruhnya begitu saja di atas pasir. Dengan semangat dia berlari menendang air laut yang dingin.
"ROXAS?APA KAU GILA?" teriakku karena sekarang Roxas sudah berjalan semakin ke tengah.
"TIDAK NAM!KEMARILAH ! AIRNYA HANGAT!" Roxas balas berteriak. Aku menggeleng dan siap masuk ke dalam mobil Roxas yang hangat. Namun meski Roxas berada pada jarak yang cukup jauh dariku dia berhasil menangkapku dari belakang. Aku meronta-ronta sementara dia tertawa puas, dengan mudahnya dia mengangkatku ke salah satu bahunya. Begitu kami sudah sampai di dalam air Roxas melepaskanku tanpa perasaan.
Sekejab saja Aku langsung basah dari atas sampai bawah, dan Roxas benar; Airnya tidak sedingin yang kubayangkan. Selagi Roxas lengah tertawa kutarik kakinya sampa terjungkal ke bawah, sekarang kami sama-sama basah. Kami akhirnya bermain kejar-kejaran sambil menyipratkan air ke wajah satu sama lain sampai akhirnya matahari benar-benar telah meninggalkan kami,digantikan oleh cahaya bintang yang samar-samar.
Ketika kami naik kembali ke pantai, bibir kami biru saking kedinginan. Roxas masih sempat tertawa meski dia bergetar hebat saat memeluk bahuku.
"Aku bakal kena hypothermia" gumamku saat Roxas menyerahkan mantelnya yang kering padaku untuk menyelimuti diri.
"Aku bawa bajumu di bagasi. Rileks Nam"kata Roxas sambil berlari ke bagasi mobilnya dan kembali semenit kemudian dengan menyerahkanku Handuk,sweter putih dan celana jeans biru. Wajahku memerah tidak karuan saat sadar Roxas memberiku pakaian dalam juga.
Tampaknya Roxas tidak menganggap hal ini perkara besar karena dengan santainya dia membawaku ke pondok kayu yang terabaikan di ujung pantai.
"Ganti baju saja duluan. Aku akan berjaga di luar" gumam Roxas sambil mencengkram pakaian barunya erat-erat karena kedinginan.
Pondok itu kecil sekali hanya ada satu ruangan untuk duduk-duduk dan tidak ada penerangan sama sekali jadi Aku terpaksa menggunakan ponselku untuk lampu sementara. Aku merapat pada pintu kayu pondok itu dan berganti baju secepat mungkin karena merasa kurang nyaman di sini.
Begitu Aku keluar, Roxas langsung menyerbu masuk. Dia sudah menanggalkan baju lengan panjangnya di bawah pintu karena sudah kelewat dingin. Aku mengambil baju itu dan melipatnya bersama tumpukan bajuku, dia juga meninggalkan mantelnya begitu saja tak jauh dari bajunya. Begitu Aku jongkok untuk mengambilnya, dari saku dalam mantel itu menyembul sesuatu yang tidak kusadari sebelumnya.
Topi merah-hitam Volcano dan pass menginap di rumah sakit Yen Sid.
"Namine?" suara Roxas memanggilku dari belakang. Aku balas menatapnya, entah darimana Aku dapat kekuatan untuk memberinya senyuman palsu sementara hatiku tidak keruan.
Dia masih belum bisa melupakan Xion. Apa yang kau harapkan darinya Namine?. Pikiranku berbisik
"Ada apa?" Roxas sekarang terdengar khawatir, Aku tidak menjawabnya sebaliknya Aku justru menatap matanya yang sebiru langit lekat-lekat. Aku berdiri sejajar dengan Roxas sekarang, kedua tanganku secara otomatis merayap naik dan mengalungkannya di leher Roxas.
Lupakan Dia Namine!. Sekarang sebelum semuanya terlambat dan menghancurkan hatimu,
Kuabaikan tatapan kebingungan Roxas, hanya satu yang kuperlukan. Bibir kami bertemu. Dia terasa sangat tegang awalnya, tapi perlahan dia menciumku balik dan merapatkan tangannya di pinggangku. Ciuman itu tidak berlangsung lama, Aku segera memutuskan kontak kami meski Roxas jelas tidak setuju.
Gunakan logikamu. Kau hanya buang-buang waktu saja!
Aku kembali tersenyum padanya, tidak kaku seperti yang biasanya kuberikan padanya. Itu mungkin senyum paling tulus yang pernah muncul dariku. Roxas balas tersenyum, cukup lebar hingga Aku bisa melihat garis-garis di sekitar matanya.
TINGGALKAN ROXAS !SEKARANG!
"Aku mencintaimu Roxas" ungkapku dalam bisikan halus. Roxas tertugun mendengarnya, Aku bisa melihatnya menelan ludah karena kaget. Tapi dengan cepat dia pulih dan memandang lurus kepadaku.
"Aku juga Nam. Aku juga mencintaimu" bisik Roxas sambil menyandarkan dahinya di dahiku. Aku bisa merasakan jemarinya meraba pipiku, cincin emas putihnya yang dingin terasa di pipiku. Aku tersenyum memikirkan ini. Aku punya cincin yang sama. Cincin pernikahan kami.
"…Aku tahu" kataku. Tepat sebelum bibirnya kembali menyentuhku. Aku mendorongnya menjauhiku. Ekspresiku mengeras dan kukatakan dengan tegas padanya.
"Kau mungkin mencintaiku tapi Kau jauh lebih mencintai Xion Metis"
CLIFFHANGER! EPIC FAIL!OH WHATEVER
Saya punya setumpuk alasan kenapa chapter ini telat sekali tapi yah...
Eniwei buat bonus ada sneak peek buat chapter 10 karena kalian sudah nunggu kelewat lama
"Dia seharusnya melupakan Xion, bagaimana pun juga Namine adalah Istrinya."
"Seifer sudah kembali, Roxas"
"musuh utama yang mungkin kau hadapi langsung adalah Seifer, Rai dan Fuu"
"Tapi sebagai temanmu,jujur saja Kau tidak akan kuampuni kalau kulihat Kau tidak mengeluarkan semua emosimu"
" Xion sendiri selalu bersamanya saat mereka masih dusk"
"Roxas bisa merasakan darah meleleh dari hidungnya"
"Mana cewekmu? Apa dia terlalu pengecut sepertimu untuk kembali setelah kuhajar dulu?"
okeh sekian dulu makasih untuk seluruh dukungan,kritik dan saran yang telah diberikan, Bila gak ada halangan Review reply menyusul nanti.
MAKASIH YA!
