Disclaimer:
Naruto milik Masashi Kishimoto
Sword Art Online milik Reki Kawahara
.
.
.
Multipairing:
Naruto x Asuna
Kirito x Shino
Genre: adventure/scifi/family/romance
Rating: T
Setting: Canon (Sword Art Online)
Note: cerita agak berbeda dari canon-nya. Tapi, ada adegan yang ambil dari canon-nya, dengan sedikit pengubahan yang disesuaikan dengan kondisi fic ini.
Sabtu, 27 Agustus 2016
.
.
.
Fic request untuk Firdaus Minato
.
.
.
CHAPTER KALI INI SANGAT PANJANG!
SELAMAT MEMBACA YA!
.
.
.
MY BROTHER, YOU ARE THE BEST
By Hikasya
.
.
.
Chapter 10
.
.
.
Pada akhirnya, misi memburu naga putih itu jadi juga dilakukan. Hanya Naruto, Asuna dan Lisbeth yang pergi ke lantai 55 untuk mencari logam langka yang dimakan oleh naga putih tersebut. Tidak tampak Kirito dan Sinon yang ikut bersama mereka. Begitu juga para Akatsuki itu, yang lebih memilih pergi ke lantai lain untuk mencari tahu tentang informasi guild kriminal seperti Darkness Moon itu. Diperkirakan masih ada anggota Darkness Moon yang tersisa, berkeliaran untuk terus membunuh para pemain lain.
Hari itu juga, mereka berangkat. Lalu Naruto mendapatkan pesan dari Kirito bahwa Kirito mengajak Sinon pergi ke Algade untuk menemui Agil karena Agil ingin bertemu dengan Kirito dan Sinon. Naruto mengerti dan membalas pesan Kirito itu.
Setelah itu, sesampainya di lantai 55 itu. Naruto dan dua gadis itu pergi menemui NPC tetua berjanggut putih yang bercerita panjang lebar seperti kemarin itu. Mereka mendengarnya dengan bosan hingga akhir yang berujung tentang naga putih tersebut.
Tak lama kemudian, mereka meninggalkan desa tersebut. Berjalan bersama di hamparan salju. Tampak matahari akan tenggelam di ufuk barat. Cahaya senja jingganya menodai pemandangan sekitar. Sangat indah dan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Lisbeth memalingkan kepalanya dan memandang Naruto. Sementara Asuna berjalan di antara mereka.
"Hmmm... Apa kamu sudah dengar kalau naga putih itu nokturnal. Apa kamu tahu letak gunungnya di mana, Naruto?"
Menatap ke arah Lisbeth sebentar, Naruto mengarahkan pandangannya pada sebuah puncak putih yang mencakar langit.
"Ya, aku sudah tahu gunungnya itu. Jadi, kuharap kamu tidak menyulitkan kami ketika tiba di sana."
"Huh..."
Lisbeth berwajah sewot dan melempar tatapan tajam pada Naruto.
"Oke, ayo kita pergi! Aku juga ingin cepat-cepat melihat muka frustasimu!"
"Oh ya? Justru kamu yang akan frustasi nantinya."
Mereka berdua menatap tajam antara satu sama lain. Lalu Lisbeth membuang mukanya dengan sebuah 'hmph'. Sementara Asuna hanya tersenyum geli melihat interaksi mereka.
Tapi, entah mengapa, Lisbeth malah teringat seseorang yang ada di hatinya. Rasanya Naruto mirip dengan seseorang itu. Meskipun dia berdebat dengan Naruto, hatinya mulai terasa sedikit terhibur karena selalu merindukan seseorang itu.
Dia menggelengkan kepalanya dengan paksa demi menghilangkan pikiran-pikiran tentang seseorang ini dan kemudian mulai merintis jalannya melewati salju.
Meskipun kecuraman gunung naga putih itu terlihat berbahaya dari jauh, ternyata sebenarnya sangat mudah didaki.
Sewaktu mereka memikirkannya lagi, banyak tim dadakan yang berhasil melakukan ini tanpa masalah, jadi tidak mungkin pendakian ini susah.
Walaupun sudah petang, yang mempengaruhi kekuatan monster yang muncul, monster terkuat yang mungkin muncul sekarang hanyalah tengkorak es bernama "Frost Bone".
Apalagi, monster bertipe tulang bukanlah tandingan bagi gada milik Lisbeth. Lisbeth dengan mudah terus meremukkan mereka dengan suara rekah yang jelas.
Setelah berjalan melalui jalanan berlapis salju selama beberapa lusin menit dan berbelok menuju tebing es yang curam, mereka sudah mencapai puncaknya.
Bagian bawah lantai selanjutnya sangatlah dekat. Tiang-tiang raksasa dari pilar-pilar kristal yang rekah menonjol dari lapisan salju yang tebal. Cahaya ungu dari matahari terbenam terbiaskan oleh tiang-tiang ini dan terhambur menjadi spektrum warna-warni pelangi, melukis pemandangan yang hanya bisa digambarkan dalam mimpi-mimpi.
"Waah...!"
Begitu Asuna bersorak tanpa ditahan dan akan berlari ke sana, Naruto menggenggam tangannya untuk menghentikannya.
"Asuna... Kamu mau kemana?"
Asuna menoleh ke arah Naruto. Dia tersenyum ngeles.
"Ah, maaf."
Lisbeth mengingatkan mereka berdua.
"Hei, sebaiknya kita harus berhati-hati. Pertama, siap-siap memakai kristal dulu."
Menghadapi ekspresi Lisbeth yang sangat serius, Naruto hanya bisa mengangguk tanpa perlawanan. Asuna juga mengangguk.
"Benar juga, Lis," kata Asuna.
Lisbeth mewujudkan kristalnya lalu menaruhnya ke dalam kantong celemeknya.
Sesudah itu, Naruto menatap wajah kedua gadis itu secara bergantian.
"Dan juga, dari sekarang akan mulai berbahaya, jadi sebaiknya aku melanjutkannya sendiri saja.
Begitu naga putihnya muncul, kalian berdua sembunyi saja di balik pilar kristal sebelah sana dan jangan sekali-kali keluar."
Asuna tersentak dan protes dengan perkataan Naruto yang seenaknya.
"Apa!? Kamu menyuruhku dan Lis bersembunyi!? Jangan remehkan aku! Aku akan ikut membantumu!"
"Iya... Kenapa? Levelku juga lumayan tinggi! Aku juga mau membantu!"
"Tidak boleh!"
Bola mata Naruto yang biru menatap tajam langsung pada wajah dua gadis itu. Begitu melihat pandangan Naruto yang begitu menajam, Asuna mengerti bahwa Naruto benar-benar khawatir terhadap keselamatannya dan Lisbeth. Hal tersebut berasal dari lubuk hati Naruto yang paling dalam. Jadi, Asuna menghela desahan panjang dan mengalah. Dia tidak berkata apapun dan hanya mengangguk kecil.
Sebuah senyuman simpul menjalar di wajah Naruto. Selagi dia membelai kepala Asuna dan berkata,"Ya sudahlah, ayo pergi."
Asuna hanya terus mengangguk.
Melihat adegan itu, Lisbeth merasa seperti atmosfernya tiba-tiba berubah sama sekali.
Setelah bepergian sejauh ini dengan Naruto dan Asuna, dia merasa sedikit iri melihat kemesraan mereka. Hal ini membuatnya teringat lagi dengan seseorang itu. Sehingga dia terbawa suasana. Terasa menyedihkan jika merasakan cinta bertepuk sebelah tangan seperti ini. Harapan ingin memiliki seseorang itu, hanyalah impian yang jauh sekali, yang manapun, dia sama sekali tidak merasa kalau ini adalah pertemuan yang mengingatkannya tentang seseorang itu.
Lebih dari setengah pengalamannya adalah menempa senjata, jadi dia sudah pernah memasuki medan tempur yang kejam ini sebanyak dua kali. Pertama kalinya bersama seseorang itu.
Tapi, Lisbeth merasa laki-laki berambut pirang ini berbeda. Dia punya tatapan yang hanya dimiliki oleh orang yang bertarung setiap hari di tempat paling berbahaya. Sama halnya dengan seseorang itu.
Dia terus berjalan dengan emosi campur aduk sebelum sebentar kemudian dia dan dua temannya tiba di bagian tengah puncak.
Dengan cepat, mereka melihat kesana-kemari, tapi tidak menemukan tanda apapun dari naga putih. Namun, mereka melihat sebuah wilayah yang tersegel oleh pilar-pilar kristal.
"Wow..." seru Asuna yang takjub.
Di situ terdapat sebuah mulut gua raksasa yang berdiameter setidaknya sepuluh meter.
Cahaya yang terpantul di dinding menjangkau jauh ke dalam lubang, sementara kegelapan yang tak tertembus menutupi wilayah yang lebih dalam lagi.
"Dalam sekali..." ujar Naruto dengan nada datar.
Dia menendang sebuah bongkahan kecil kristal ke dalam lubang itu. Kristal yang jatuh itu berkilau sesaat sebelum sama sekali menghilang tanpa suara.
"Jangan jatuh."
"Tidak kok, Naruto!"
Tidak lama setelah Asuna menjawab, sebuah lengkingan liar yang tajam menembus keluar dari gua itu dan menjalar ke seluruh gunung melalui udara yang ternoda biru oleh matahari terbenam.
"Sembunyi di balik situ!"
Naruto menunjuk ke arah sebuah pilar raksasa terdekat dan berbicara dengan nada memerintah. Asuna dan Lisbeth buru-buru mengikuti instruksinya. Lalu Asuna melambai berlebihan pada bayangan Naruto dan berteriak keras.
"Hei... serangan naga putih itu adalah sayatan menggunakan kedua cakar, tiupan yang membekukan, dan serangan badai salju... Ha-Hati-hati!"
Setelah dengan cepat menambahkan kalimat terakhir itu, Asuna melihat Naruto, yang menjaga punggungnya tetap ke arah Asuna dan Lisbeth, sok keren memberi tanda 'oke' dengan tangan kirinya.
Ruang kosong di depannya mulai bergetar, dan sebuah sosok besar meledak keluar dari lubang tersebut.
Berbagai macam poligon-poligon besar berbentuk aneh muncul dalam aliran yang berkelanjutan. Selagi terus bermunculan, mereka saling bersambungan satu dengan yang lain dan identitas sosok besar itu pun makin jelas. Jeritan yang menggentarkan orang menggaung tak terkendali sekali lagi. Tak terhitung banyaknya pecahan yang terhambur keluar ke semua arah sebelum menghilang ke dalam sinar cahaya.
Seekor naga putih yang ditutupi semacam sisik dari kaca es muncul. Pelan-pelan dia mengepakkan sayapnya yang besar selagi melayang-layang di langit. Situasinya menakutkan atau mungkin lebih pantas digambarkan sebagai sangat sangat indah. Dia membelalak dengan matanya yang besar, terwarnai merah delima, memberikan tatapan merendahkan pada mereka bertiga.
Naruto dengan tenang menggapaikan tangannya menuju punggungnya dan menghunuskan pedang satu tangannya yang berwarna jingga dan emas dengan nada sempurna. Kemudian, seakan suara itu mengirimkan sebuah sinyal, sang naga putih membuka rahang raksasanya dan dengan suara keras, menyemprotkan gas putih yang bergelombang.
"Itu tiupannya! Lari dari situ!"
Meskipun Asuna berteriak, Naruto tidak bergeming. Dia berdiri tegak sempurna dan melambung ke atas dengan pedang di tangan kanannya.
Tidak mungkin senjata seberat itu bisa menangkis sebuah serangan tiupan!
Segera setelah Lisbeth memikirkannya, pedang Naruto mulai berputar seperti kincir angin yang berpusat di tangannya. Berdasarkan efeknya yang berwarna kuning, pastilah itu sebuah skill pedang. Dalam hanya sedetik, pedang tersebut mencapai kecepatan yang tak terlihat oleh mata manusia dan tampak seperti perisai cahaya.
Tiupan es itu mengalir langsung ke arah perisai cahaya selagi memancarkan cahaya putih yang memusingkan, memaksa kedua gadis untuk mengalihkan kedua mata masing-masing. Tapi, saat menghantam pedang - perisainya Naruto, udara dingin itu terhambur seperti teruapkan.
Asuna lekas fokus pada badan Naruto untuk memastikan HP-nya.
Mungkin memang mustahil untuk benar-benar menangkis tiupan itu, karena bar nyawanya pelan-pelan terkuras. Tapi, yang mengejutkan adalah, luka yang diterimanya sudah pulih hanya dalam beberapa detik. Itu pasti skill bertarung "Battle Healing" yang levelnya sangat tinggi - tapi untuk menaikkan skill ini, orang tersebut harus menerima luka pertarungan yang sangat banyak. Mempertimbangkan lantai yang sekarang, mustahil melakukan itu tanpa membahayakan dirinya.
Naruto, siapa dia...?
Baru sekarang Lisbeth mulai benar-benar penasaran mengenai identitas swordman ini.
Kekuatannya yang tak masuk akal membuatnya terlihat seperti pemain kunci strategis. Tapi namanya tidak termasuk ke dalam daftar pemain guild terkuat yang didominasi KOB.
Saat ini, Naruto, yang telah memprediksi dengan akurat akhir dari serangan es yang gencar ini, mulai bergerak. Dia menerobos kabut bersalju dan meloncat menuju sang naga yang tengah mengambang di udara.
Normalnya, ketika menghadapi musuh yang terbang, seseorang harusnya menyerang pertama kali dengan tombak atau sejenis senjata lempar, hanya setelah senjata jarak jauh tersebut memukul jatuh musuh ke darat dahulu baru para pemakai senjata jarak dekat ikut bertarung.
Tapi secara mengejutkan, Naruto terbang ke atas sampai dia hampir menyentuh kepala naga putih itu, di mana dia mulai mengawali kombinasi teknik pedang berturut-turut di udara.
Dengan dentingan tajam, serangan gencar Naruto menghantam torso naga putih pada kecepatan lebih cepat dari yang bisa diikuti mata manusia. Meski naga putih itu membalas dengan kedua cakarnya, perbedaan kemampuan mereka berdua terlalu jauh.
Saat Naruto sudah pelan-pelan mendarat ke tanah, bar HP naga putih itu sudah berkurang lebih dari sepertiganya.
Ini pembantaian satu arah. Menonton pertarungan luar biasa ini membuat badan Lisbeth tak henti-hentinya bergidik. Sementara Asuna memasang ekspresi khawatir pada Naruto.
Tiba-tiba, naga putih itu menyasar Naruto yang mendarat dan meletuskan tiupan esnya, tapi kali ini dia berlari untuk menghindari serangan itu dan kemudian kembali meloncat ke udara.
Dengan suara yang berat dan dalam, sebuah serangan yang kuat menghantam sasarannya, dan HP naga putih itu pun berkurang signifikan.
Bar HP-nya langsung berubah dari kuning ke merah, pertarungan itu harusnya berakhir hanya dengan satu atau dua serangan lagi. Asuna memutuskan kali ini dia akan membantu Naruto dan mengambil langkah maju dari balik pilar kristal.
Saat itu juga, seakan dia punya mata di belakang kepalanya, Naruto tiba-tiba berteriak.
"Bodoh! Jangan keluar dulu, Asuna!"
"Apa? Jelas-jelas sudah mau selesai, kan? Cepat selesaikan saja!"
Begitu Asuna menjawab dengan suara keras...
WHUUUSH!
Naga itu, terbang lebih tinggi lagi dari yang tadi, membentangkan penuh sayapnya. Begitu sayapnya terkepak ke depan, salju yang tepat di bawah naga itu meletup beterbangan.
"...!?"
Asuna dan Lisbeth berdiri membeku terkejut oleh adegan di hadapan mereka. Naruto menancapkan pedangnya ke tanah beberapa meter di depan mereka dan menggerakkan mulutnya seperti ingin memberitahu mereka sesuatu, namun sosoknya segera terhalangi oleh salju. Sesaat kemudian sebuah tekanan yang hebat, seperti sebuah dinding angin, menghantam dan dengan mudah meniup mereka ke udara.
Sial, serangan badai salju!
"KYAAAAA!" teriak kedua gadis itu.
Saat Asuna terguling di udara, dia akhirnya ingat apa yang dia sendiri ucapkan mengenai serangan naga putih. Untungnya, skill ini daya serangnya tidak besar, jadi dia dan Lisbeth hampir tidak mendapat luka apapun. Mereka membuka lebar kedua lengan masing-masing dan mengambil postur mendarat.
Tapi, begitu saljunya menghilang, tidak ada pijakan di tanah di hadapan mereka.
Itu lubang raksasa yang ada di puncak gunung. Mereka telah tertiup ke udara tepat di atas lubang raksasa ini.
Pikiran mereka langsung berhenti, seluruh tubuh mereka benar-benar membeku.
"Ini pasti bercanda...," Lisbeth panik. Dia tersenyum kikuk.
"AH, KI-KITA DI JURANG KEMATIAN, LIS!" pekik Asuna yang juga panik.
Dengan pikiran mereka yang sama sekali lumpuh, mereka hanya bisa menggumamkan kata-kata itu, seraya tangan kanan mereka menggapai udara sia-sia...
SET!
Dua tangan yang hanya ditutupi sarung tangan kulit berwarna hitam tiba-tiba menyambar tangan mereka.
Mata mereka yang tak fokus tiba-tiba terbelalak.
"...!"
Naruto, yang tadi menghadapi naga putih itu di tempat yang jauh, berpacu ke sini dengan kecepatan menakutkan dan melompat ke udara tanpa ragu-ragu. Dia menarik dua tangannya untuk menggenggam tangan kedua gadis itu lalu menarik dua gadis itu dalam dekapannya. Setelah itu dia melonggarkan dua lengannya untuk melingkarkannya pada punggung dua gadis itu dan memeluk dua gadis itu dengan erat.
"Pegangan yang kuat!"
Mendengar suara Naruto bergaung di samping telinga mereka, mereka melupakan diri mereka sendiri dan memeluk erat badannya dengan kedua lengan mereka.
Naruto dan dua gadis itu mulai jatuh sekejap kemudian.
Di tengah mulut gua itu, mereka bertiga jatuh lurus ke bawah sambil berpelukan antara satu sama lainnya.
WHUUUUSH!
Angin menderu-deru di telinga dan mantel mereka berkibar liar.
Kalau lubang ini terus memanjang ke bawah sampai ke permukaan lantai, maka jatuh dari ketinggian ini artinya kematian yang pasti. Pikiran ini tiba-tiba melintas di benak Lisbeth, tapi dia hanya tidak merasa ini benar-benar terjadi sekarang. Yang bisa dia lakukan hanyalah terbengong menatap lingkaran cahaya putih yang menghilang.
"Asuna, peluk aku erat-erat!" perintah Naruto pada Asuna yang dipeluknya dengan tangan kiri."Lis, kamu juga!"
Kedua gadis itu mengangguk cepat tanpa bersuara. Tangan kedua Asuna merangkul tubuh Naruto, sedangkan Lisbeth merangkul leher Naruto. Sementara tangan kiri Naruto merangkul pundak Asuna dengan kuat.
BETS!
Tiba-tiba, tangan kanan Naruto langsung menyabet pedangnya yang sempat dimasukkan lagi di sarung yang terpasang di punggungnya, pada saat menolong Asuna dan Lisbeth yang akan jatuh ke jurang. Lalu tangan kanannya yang memakai pedang mulai bergerak. Dia mengangkat pedang itu dengan paksa dan mengayunnya ke depan. Sebuah kilatan cahaya meletup, ditemani oleh gema keras 'clang' dari logam yang saling berbenturan.
Gaya tolaknya mengubah lintasan jatuh mereka, mendorong mereka menuju dinding gua. Dinding beku yang biru pelan-pelan mendekat, dan kedua gadis itu tak bisa berbuat apapun selain menggigit gigi masing-masing. Mereka akan tabrakan!
Tepat sebelum mereka akan membentur dinding, Naruto mengangkat pedang di tangan kanannya sekali lagi dan menusukkannya ke dinding dengan kekuatan penuh. Percikan api meledak keluar seakan senjata itu membentur batu asah. Serangan tiba-tiba itu mengurangi kecepatan jatuh mereka, namun tidak mampu untuk benar-benar menghentikan mereka jatuh.
Suara lengkingan dari logam yang memotong berlanjut selagi pedang Naruto terus memotong dinding esnya. Lisbeth memutar lehernya untuk melihat ke bawah dan sadar bahwa mereka sudah bisa melihat dasar gua yang tertutup salju. Dia mengamatinya makin dekat dan dekat, sampai hanya ada sekitar beberapa detik lagi yang tersisa sebelum mereka tabrakan. Sementara Asuna berusaha ingin menahan diri dari berteriak, jadi dia menggigit bibirnya dan memeluk erat Naruto.
Naruto melepaskan pedangnya, menggunakan kedua lengannya untuk memeluk dua gadis itu dengan erat, dan memutar badannya supaya dia yang berada di bawah. Lalu...
BRAAAAAK!
Sebuah benturan. Suaranya amat keras.
Kepingan-kepingan salju yang terlempar ke udara oleh gaya yang dihasilkan oleh jatuhnya mereka mulai mendarat dengan pelan di pipi kedua gadis itu sebelum meleleh.
Sensasi dinginnya menarik kembali pikiran-pikiran Lisbeth yang terpencar. Dia membuka matanya, dan pandangannya bertemu dengan bola mata coklat karamel Asuna yang berbaring sangat dekat sekali darinya.
Naruto masih memeluk mereka dengan erat, dia mengangkat sudut mulutnya dan tersenyum lemah.
"Masih hidup?"
Asuna mengangguk dan menjawab.
"Iya, masih hidup."
Selama beberapa lusin detik atau mungkin beberapa menit, mereka hanya berbaring diam dalam posisi itu. Lisbeth melepaskan diri dari Naruto dan Asuna. Membiarkan mereka berdua berpelukan seperti itu.
Lisbeth terbaring dengan pikiran kosong saat menyaksikan kemesraan Naruto dan Asuna. Rasanya iri sekali.
Panas dari tubuh Naruto membuat Asuna bisa tenang dan mengosongkan pikiran.
Setelah beberapa saat, Naruto melepaskan lengan Asuna dan kembali berdiri pelan-pelan. Pertama, dia mengambil pedangnya yang jatuh dekat situ dan mengembalikannya ke inventarisnya, setelah itu menarik keluar sebuah botol yang sepertinya adalah ramuan penyembuh kelas atas dari kantong di pinggangnya. Lalu Asuna duduk dan mengambil ramuan penyembuh yang sama dengan Naruto. Lalu dia juga mengambil sebotol lagi untuk Lisbeth.
"Sudah, minum saja, Lis."
"Oke."
Lisbeth mengangguk dan duduk untuk menerima ramuan itu sambil memeriksa bar HP-nya sendiri. Dia masih mempunyai sekitar sepertiga, Asuna masih mempunyai sepertiga yang sama dengannya, tapi Naruto, yang langsung membentur tanah, sudah sampai di zona merah.
Dia menarik sumbatnya dan meneguk cairan manis itu dalam satu tarikan nafas, lalu berpaling pada Naruto. Masih dalam posisi rileks, Lisbeth mulai menggerakkan bibir yang kesulitan mengatakan hal baik.
"Uhmmm... ma-makasih sudah menyelamatkanku..."
Naruto memperlihatkan dengan lemah wajah datarnya yang biasa dan menjawab.
"Masih terlalu cepat berterima kasih padaku."
Dia melirik langit sesaat. Kedua gadis itu memperhatikannya.
"Syukurlah naga putih itu tidak mengejar kita, tapi bagimana caranya kita keluar dari sini...?"
"Eh... kita tidak bisa teleport saja?" Lisbeth menggapai saku celemeknya dan mengambil sebuah kristal biru berkilauan untuk menunjukkan pada Naruto. Tapi...
"Sepertinya itu tidak bisa, perangkap ini dibuat khusus untuk pemain, aku ragu kita bisa keluar segampang itu."
"Kenapa bisa begini...?"
Naruto mengisyaratkan pada Lisbeth dengan matanya untuk mencobanya, jadi Lisbeth menggenggam kristal itu dengan erat dan memberi perintah.
"Teleport! Lindus!"
SIIIING!
Teriakannya menggema kosong pada dinding yang beku sebelum akhirnya menghilang.
Kristal itu hanya terus berkedip dengan bisu.
Asuna meremas pelan bahu Lisbeth tanpa membuat suara apapun.
"Kalau kupikir kita bisa memakai kristal, pastinya tadi sudah kupakai waktu kita jatuh. Tapi karena tempat ini rasanya adalah zona anti kristal...," sahut Naruto dengan nada serius.
"..."
Kepala Lisbeth jatuh dalam keputusasaan, Asuna meletakkan tangannya di kepalanya dengan sebuah 'pat' dan mengusutkan rambutnya.
"Sudah... Sudah, jangan menangis, Lis. Kalau kita tidak bisa memakai kristal, pasti ada jalan lain untuk keluar dari sini."
"Mungkin tidak, mungkin ini adalah lubang tak bisa keluar yang menjamin kematian... Atau harus kubilang, kita sudah mati, Asuna!"
"Hmmm, kamu benar juga."
Menonton Naruto mengangguk setuju, sekali lagi membuat Lisbeth kehilangan semua energi di badannya.
"Si... Sikap kamu bagaimana?! Kamu bisa sedikit lebih positif lagi tidak sih, Naruto?"
Setelah Lisbeth tiba-tiba berteriak, Naruto berwajah datar dan berkata.
"Ekspresi marah itu jauh lebih bagus seperti kamu, pertahankan terus ya!"
"APA KATAMU!?"
Pipi Lisbeth bersemi merah dan tubuhnya membeku di tempat. Asuna merasa iba, lalu mengangkat tangannya dari kepala Lisbeth dan kembali berdiri.
"Ya, ayo kita coba beberapa cara. Ada ide?"
"..."
Lisbeth tersenyum pahit pada Asuna, yang jelas-jelas tidak terpengaruh oleh situasi mereka sekarang dan mempertahankan sikapnya yang biasa. Merasa sedikit lebih gembira, dia menampar pipinya dengan kedua tangannya lalu berdiri.
Dia mengamati sekelilingnya. Bagian bawah gua ini adalah permukaan es yang datar dengan sedikit salju. Diameternya harusnya sekitar 10 meter persis seperti mulut gua. Dinding es di dekat puncaknya terus memantulkan cahaya matahari terbenam, namun tempat ini sebentar lagi akan benar-benar ditelan kegelapan.
Dia mengamati sekitarnya, tetapi tidak ada jalan keluar yang kelihatan baik di dinding maupun di lantai. Dia menaruh kedua tangannya di pinggang, memeras otaknya, dan memberi tahu pada Naruto dan Asuna tentang ide pertama yang terpikir olehnya.
"Hm... bisa kita minta tolong seseorang?"
Naruto menyangkalnya seketika.
"Uh... Sepertinya tempat ini dianggap sebuah dungeon."
Pemain yang didaftarkan sebagai 'teman', seperti Gaara dalam kasus Lisbeth, bisa berkomunikasi melalui sejenis pesan disebut 'pesan pribadi'. Tetapi, fungsi tersebut tidak bisa digunakan di dalam dungeon, 'sistem jejak' juga tidak bisa digunakan untuk menemukan mereka.
Lisbeth membuka layar pesan dalam harapan buta, tapi seperti kata Naruto, memang tidak bisa.
"Jadi... Bagaimana kalau kita berteriak pada pemain lain yang datang memburu naga itu?" usul Lisbeth lagi.
"Kurasa kita sekitar 80 meter jauhnya dari atas, jadi kuduga suara kita tidak akan mencapai sejauh itu," Naruto menyangkal lagi ide Lisbeth itu.
"Kurasa iya... Tunggu! Sekarang kamu yang kasih ide, Naruto!"
Ketika Lisbeth mengecam Naruto, dia kesal karena Naruto terus menerus menyangkal ide-idenya. Naruto menjawab dengan sesuatu yang tak masuk akal.
"Lari di dinding."
"Kamu bodoh ya?"
"Yaaa... Ayo kita cari tahu."
Selagi Lisbeth dan Asuna menatapnya dengan ekspresi tercengang, Naruto berjalan ke salah satu sisi gua dan mulai berlari menuju dinding di sisi yang berlawanan dengan kecepatan yang tak wajar. Salju beterbangan dari lantai dan badai angin menerpa muka mereka.
Persis sebelum Naruto menabrak dinding, dia menundukkan badannya dan melompat ke atas dengan gaya ledakan. Dia menginjak dinding di ketinggian yang tak bisa dipercaya dan kemudian mulai berlari secara diagonal di dinding tersebut.
"Ya Tuhan...," Lisbeth tercengang.
"Naruto, apa yang dilakukannya sih?" Asuna menepuk jidatnya.
Selagi mereka menonton dengan kagum, Naruto sudah jauh di atas mereka dan berlari ke atas dalam pola spiral di dinding seperti salah satu ninja dari film kelas tiga. Siluetnya semakin kecil dan kecil...
SYUUUUT!
Lalu, ketika dia sepertiga perjalanan ke atas, tiba-tiba dia terpeleset!
"AAAAAAAAH!"
Naruto menggelepar selagi dia jatuh menuju kepala dua gadis itu. "KYAAAAAAA!"
Begitu dua gadis itu mengelak mundur bersamaan sambil berteriak, muncul lubang berbentuk manusia tepat di tempat mereka berdiri tadi.
BRAK! GEDUBRAAAAAAK!
Semenit kemudian, setelah Naruto menghabiskan ramuan penyembuhnya yang kedua, Asuna duduk di sampingnya dan mengeluh.
"Aku tahu kamu itu dingin, tapi aku tidak pernah membayangkan kalau kamu sebodoh ini."
"Aku bisa berhasil kalau ancang-ancangnya lebih panjang lagi."
"Tidak mungkin."
Asuna langsung membalas dengan pelan. Sementara Lisbeth duduk tidak jauh dari mereka.
Naruto mengabaikan ucapan Asuna dan kembali memasukkan botol ramuan yang kosong ke kantongnya. Setelah merenggangkan lengannya, dia berkata.
"Ya, sudah terlalu gelap, jadi kita berkemah di sini saja."
Asuna mengangguk cepat dan tersenyum.
"Untungnya, kupikir tidak akan ada monster yang akan muncul di lubang ini."
Matahari sudah terbenam, dan dasar lubang ini sudah menjadi lumayan gelap.
"Sepertinya iya...," Lisbeth membenarkan perkataan Asuna tadi.
"Kalau begitu...," Naruto membuka sebuah layar dan mewujudkan beberapa barang. Sebuah lentera, panci, beberapa kantong kecil yang membuat kedua gadis itu bertanya-tanya karena tidak tahu gunanya apa, dan tiga gelas pun muncul.
"Eh? Untuk apa ini, Naruto?" tanya Asuna yang tercengang.
"Ya, aku yang akan memasak buat kalian," jawab Naruto santai.
"Tapi, aku bisa memasak buat kalian, kan?"
"Sekali-sekali biar aku saja yang memasak. Ya, walaupun skill memasakku tidak sehebat kamu, Asuna."
"Ah, terserah kamu saja."
Asuna membiarkan Naruto melakukan semua ini. Lalu Lisbeth juga ikut bertanya pada Naruto.
"Kamu selalu bawa-bawa ini, Naruto?"
"Aku lumayan sering berkemah di luar."
Begitulah, Naruto berkata dengan ekspresi begitu serius hingga Lisbeth tidak berpikir kalau dia bercanda.
Naruto mengklik lenteranya, lentera itu menyala dengan suara 'fwoosh' dan menerangi sekitarnya dengan cahaya oranye yang lembut. Dia menaruh pancinya di atas lentera itu, kemudian memasukkan beberapa bongkah salju sebelum menuangkan isi kantong kecil tadi. Dia menutup panci itu dengan tutupnya dan meng-dobel klik-nya, sebuah layar timer memasak pun muncul.
Asuna dan Lisbeth segera mencium aroma herbal. Sekarang mereka baru sadar, mereka belum makan apa-apa selain sarapan tadi pagi. Perut mereka tiba-tiba menuntut makanan dengan keras seakan baru saja ingat kalau sedang kelaparan.
Timer masaknya menghilang dengan suara 'pin pon,' kemudian Naruto membagi isi panci itu ke dalam tiga gelas.
"Jangan terlalu berharap, keahlian memasakku masih jauh dibanding dengan Asuna. Tapi, beginilah yang bisa kubuat," Naruto memberikan dua gelas itu pada dua gadis itu."Nah, ini buat kalian berdua."
"Makasih...," balas Asuna dan Lisbeth kompak.
Kehangatannya berpindah ke tangan mereka melalui gelas yang diserahkan Naruto pada mereka. Isinya adalah sop sederhana dari daging kering dan bumbu-bumbu dari tumbuhan, namun level bahan-bahannya sepertinya tinggi dan rasanya lebih dari enak. Panasnya juga menyebar ke seluruh tubuh mereka yang dingin.
"Hmmm... Enak juga. Di mana kamu membelinya, Naruto?"
Naruto melirik ke arah Asuna. Kedua tangannya memegang dua sisi gelas.
"Ah, di toko langgananku. Kamu tidak perlu tahu."
"Apa? Kenapa begitu?"
Asuna tampak sedikit emosi. Namun, Naruto hanya menanggapinya dengan santai.
"Sudahlah... Habiskan saja sopmu itu."
"Huh..."
Dengan perasaan jengkel, Asuna meminum supnya dengan cepat. Naruto hanya tersenyum simpul melihatnya.
Adegan yang sangat menyentuh hati Lisbeth. Dia hanya mampu terdiam untuk mendengarkan percakapan mereka.
Teringat lagi pada seseorang yang sangat dicintainya.
"Perasaan ini misterius sekali... Aku tidak merasa kalau ini nyata."
Lisbeth bergumam sambil meminum sopnya.
"Hmmm...," pandangan Naruto dan Asuna tertuju padanya.
Dia melanjutkan perkataannya karena menyadari kedua temannya mendengarkannya.
"Maksudku situasi ini, berkemah di wilayah yang belum terjamah dan makan bersama orang tak dikenal... Seperti itulah..."
Naruto manggut-manggut dan menyahutnya.
"Ah, iya juga... Itu karena kamu pengrajin. Aku melakukan PuG dengan pemain-pemain lain dan lumayan sering berkemah dengan mereka."
"Hmm, benarkah? ...ceritakan dong padaku, tentang dungeon-dungeon dan semuanya."
"Huh? Hmm... Oke. Walau menurutku sih tidak menarik... Oh tunggu, sebelum aku mulai..."
Naruto mengumpulkan gelas-gelas yang kosong serta panci, lalu mengembalikannya ke dalam inventarisnya. Dia membuka panelnya lagi dan mewujudkan dua benda yang terlihat seperti bongkahan pakaian yang tergulung.
Kedua gadis itu memperhatikannya dengan seksama.
Setelah dia membukanya, terungkap bahwa itu adalah kantong tidur. Penampilannya sama persis dengan yang di dunia nyata, hanya saja lebih besar.
"Ini barang-barang kelas atas. Menjaga panas dengan sempurna, ditambah efek sembunyi dari monster agresif."
Naruto melemparkan satu kepada Lisbeth. Lisbeth menangkapnya. Kemudian Naruto melirik Asuna sambil tersenyum simpul.
"Asuna, kamu bisa tidur bersamaku dalam satu kantong. Soalnya aku hanya punya dua kantong tidur."
Wajah Asuna memerah padam. Dia menunjukkan kedua matanya yang tajam.
"Tidak! Aku mau tidur sama Lis saja!"
"Ah, baiklah. Itu terserah kamu saja."
Lisbeth tersenyum mendengarkan mereka. Dia mengajak Asuna untuk tidur berdua dengannya.
"Ayo, sama aku saja, Asuna."
"Iya, Lis."
Sewaktu Lisbeth menghamparkan kantong tidur itu di atas salju, ukurannya tampak bisa memuat tiga orang seukurannya. Memang pas jika tidur berdua dengan Asuna. Kebetulan sekali.
Tercengang oleh ukurannya, Asuna berkata pada Naruto.
"Kamu hebat juga membawa barang-barang ini kemana-mana, dua lagi..."
"Ya, aku harus memanfaatkan inventarisku untuk sesuatu, kan?"
Naruto lekas menanggalkan equipment-nya dan berbaring di kantong tidur sebelah kiri. Lisbeth juga menanggalkan mantel dan gadanya. Sedangkan Asuna menanggalkan mantelnya lalu berguling masuk bersama Lisbeth ke dalam kantong tidur.
Memang barang kelas atas, di dalamnya sangat hangat, dan jauh lebih lembut dari kelihatannya. Mereka terpisah sejauh satu meter dengan lentera di antaranya. Tapi, Lisbeth masih merasa sedikit kesepian, jadi dia berbicara lagi untuk menghilangkan kesunyian.
"Hmm... iya, lanjut dengan ceritanya, Naruto...," Lisbeth sangat penasaran.
"Aku juga akan mendengarkannya," Asuna juga ikut berkomentar.
"Ah, iya..."
Naruto pelan-pelan mulai bercerita setelah dia meletakkan kepalanya di atas tangannya. Dia bercerita waktu dia dijebak oleh MPK - para kriminal yang dengan sengaja mengumpulkan massa untuk menyergap pemain-pemain lain di dalam dungeon, dan bertarung melawan gerombolan bos dengan damage kecil tapi HP-nya kira-kira untuk dua hari penuh dengan bergiliran tidur dengan pemain-pemain lain. Ada juga waktu dia melempar dadu dengan seratus pemain lain untuk sebuah sebuah item langka. Serta menolong para pemain lain yang terjebak dalam ancaman guild kriminal. Semua ceritanya menggetarkan, menyenangkan, dan sedikit menggelikan. Cerita-ceritanya juga membuat satu hal menjadi jelas - dia adalah seorang Clearer, mereka yang mempertaruhkan nyawa di garis depan. Tapi, juga berarti orang ini dibebankan dengan nasib ribuan pemain. Dia bukan jenis orang yang harus membahayakan nyawanya hanya untuk menyelamatkan orang lain.
Asuna memandang wajah Naruto dengan lama. Mata Naruto yang biru memantulkan cahaya dari lentera.
"Naruto, boleh aku tanya sesuatu...?"
"Kenapa Asuna?"
"Kenapa kamu menolongku dan Lis waktu itu...? Tidak ada jaminan kamu bakal berhasil. Ya, lebih mungkin kalau kamu cuma akan mati bersama kami, jadi... Kenapa...?"
Ekspresi Naruto mengeras untuk sesaat, tetapi dia segera mengendur ke wajahnya yang biasa dan merespon dengan suara tenang.
"Aku lebih memilih mati bersama mereka daripada menyaksikan orang lain mati tanpa melakukan apa-apa. Apalagi kalau orang itu adalah cewek seperti kamu dan Lis. Keselamatan kalian berdua adalah utama bagiku."
Asuna terdiam sejenak. Begitu juga dengan Lisbeth.
Lalu Asuna berkata lagi pada Naruto.
"Ka-Kamu memang benar-benar payah seperti adikmu itu. Kamu mungkin cuma satu-satunya orang yang bakal bicara seperti itu."
Walau Asuna membalas dengan ketus, matanya tidak mampu menahan air matanya. Sebagian hatinya sakit, dan dia mencoba sekeras mungkin untuk mengendalikan dan menyembunyikannya. Dia sudah pernah mendengar kata-kata sekeras kepala, setulus, dan sehangat itu semenjak dia datang ke dunia ini. Tidak, dia bahkan belum pernah mendengar kata-kata seperti itu sebelumnya di dunia nyata.
Perasaan tersiksa dari kesendirian dan keinginan untuk lebih berinteraksi dengan orang lain yang telah terkubur dalam di sudut hatinya tiba-tiba berkobar dan menelannya seperti badai.
Dia ingin kehangatan Naruto semakin dekat untuk hatinya dan merasakannya...
Tanpa menyadarinya, kata-kata itu tercurah keluar dari mulut Asuna.
"Naruto... Maukah kamu... menggenggam tanganku?"
Dia mendekat ke arah Naruto, menarik lengan kanannya keluar dari kantong tidur, dan menggapaikannya ke sebelah kirinya.
Mata Naruto menyipit lembut, tapi dia menjawab 'iya' dengan suara pelan lalu mengulurkan tangan kirinya. Begitu jemari mereka bersentuhan, mereka berdua menyentakkan tangan masing-masing untuk menjauh sesaat, tapi kemudian mengulurkannya lagi untuk saling berpegangan tangan.
Asuna menggenggam erat tangan Naruto, yang jauh lebih hangat dari sop yang baru saja dia makan. Meski punggung tangannya masih terletak di atas es, dia tidak merasa kedinginan.
Lisbeth yang terbaring di samping kanan Asuna, hanya mampu mendengarkan percakapan Asuna dan Naruto. Dia merasa terasingkan di antara sepasang manusia yang telah terjalin dalam ikatan pernikahan. Betapa menyenangkan jika telah menemukan orang yang sehati denganmu. Membuatmu merasa bahagia bila selalu bersamanya.
Karena itu, dia juga ingin merasakan kehangatan manusia. Dia merasa kalau dia akhirnya memahami kerinduan apa yang mengendap di sudut hatinya semenjak dia datang ke dunia ini.
Karena dia takut menjadi sadar dengan fakta bahwa dunia ini adalah sebuah ilusi. Bahwa tubuh aslinya berada di suatu tempat yang jauh, tidak terjangkau seberapapun kerasnya dia mencoba, dia terus membuat tujuan untuk dirinya dan memfokuskan segalanya pada pekerjaannya. Dia menyakinkan dirinya kalau menaikkan level skill blacksmith-nya dan mengembangkan tokonya adalah kenyataannya.
Tapi, sebagian dirinya selalu menyadari kalau semua ini palsu, tidak lebih dari sekedar data.
Yang dia dambakan adalah kehangatan manusia asli seperti yang dilakukan oleh Asuna dan Naruto.
Tentu saja, badan Naruto juga adalah data. Kehangatan yang dirasakan Asuna sekarang hanyalah sinyal-sinyal elektronik untuk direspon otaknya. Namun, dia akhirnya menyadari bahwa itu tidak masalah. Dia bisa merasakan hatinya, baik di dunia nyata maupun di dunia buatan ini, inilah satu-satunya kebenaran yang ada.
Begitu Asuna menggenggam erat tangan Naruto, dia tersenyum dan menutup matanya. Walaupun jantungnya berdetak sangat cepat, sayangnya dia cepat tertidur dan kesadarannya terseret ke kegelapan yang nyaman.
Sesaat menyadari Asuna yang sudah tertidur, Naruto masih memandang wajahnya. Dia juga tersenyum dan berucap.
"Hei, Lis! Apa kamu sudah tidur?"
Tidak ada jawaban dari Lisbeth. Rupanya dia sudah tertidur. Air bening menetes dari sudut kedua matanya karena merindukan seseorang yang dicintainya.
"Kirito...," bisiknya pelan.
Mengantarkannya ke dalam mimpi yang berada dalam kegelapan bersama laki-laki berpakaian serba hitam, Kirito Black Swordman.
.
.
.
Wangi manis yang menyegarkan perlahan-lahan singgah di hidung Lisbeth. Pelan-pelan dibukanya matanya dan melihat seluruh dunia diliputi oleh sinar putih. Cahaya fajar, yang sudah terpantul beberapa kali oleh dinding es, membuat salju di dasar gua tampak gemerlapan.
Dia menggeser matanya dan melihat sebuah teko bertengger di atas lentera, dengan uap yang bergoyang di atasnya. Sepertinya wangi ini berasal dari situ. Di depan lentera itu, seseorang duduk. Wajah seseorang itu hanya bisa dilihatnya dari samping. Namun, begitu dia melihat sosok seseorang itu, tampaknya api kecil dalam hatinya telah menyala dan merasa tenang. Naruto menolehkan kepalanya, mengungkapkan senyuman kecil, dan berucap.
"Pagi!"
"Pagi!"
Lisbeth menjawabnya. Selagi dia bersiap untuk bangun, ternyata Asuna juga bangun. Lalu dia menyapa Lisbeth yang berada di samping kanannya.
"Ah, Lis... Pagi!"
"Pagi."
Kedua gadis itu tersenyum antara satu sama lainnya. Kemudian Asuna baru sadar bahwa tangan kanannya, yang harusnya bergantung keluar saat dia pergi tidur, sudah terletak kembali dengan rapi di dalam kantong tidur. Dia bawa kehangatan yang tertinggal di telapak tangannya ke bibirnya, lalu melonjak seketika.
"Ini minuman buat kalian berdua."
Tiba-tiba, Naruto membawakan mereka dua cangkir panas, yang baru saja menggeliat keluar menuju salju. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka terima cangkir itu.
Asuna duduk di samping Naruto. Sedangkan Lisbeth duduk berhadapan dengan mereka. Kedua gadis itu saling memperhatikan isi yang ada di cangkir masing-masing. Isinya adalah sejenis teh bunga beraroma mirip mint yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Pelan-pelan mereka meminumnya seteguk demi seteguk. Memperkenankannya tenggelam dengan lembut ke dalam badan mereka. Hati mereka menghangat gembira.
Asuna menggeser badannya, menyandarkannya tepat pada Naruto. Begitu dia memutar kepalanya, mata mereka bertemu sekejap sebelum lekas berpisah. Selama sebentar, hanya suara tiga orang meminum teh yang terdengar.
Lisbeth terdiam sembari menonton mereka. Hatinya begitu iri melihatnya.
"Naruto..."
Akhirnya, berbisik dengan suara pelan selagi mata Asuna terus menatap cangkirnya.
"Hmmm?"
"Kalau kita benar-benar tidak bisa keluar dari sini, kita bertiga mau melakukan apa?"
"Tidur setiap hari."
"Cepat sekali jawabnya. Pikirkan sedikit lebih serius lagi dong!"
Asuna tersenyum sambil mendorong lengan Naruto dengan sikunya.
"Tapi, itu tidak buruk juga sih..."
Setelah mengatakannya, Asuna mulai menyandarkan kepalanya menuju bahu Naruto.
"AH!?"
Tiba-tiba Naruto menjerit dan condong ke depan. Asuna, kehilangan sandaran, berakhir jatuh ke tanah dengan bunyi yang menyedihkan.
GEDEBUK!
"Duuh, tadi itu kenapa?!"
Asuna mengeluh marah selagi menegakkan kembali tubuhnya, namun Naruto berdiri bahkan tanpa menoleh kembali. Lisbeth pun keheranan dan meletakkan cangkirnya di atas salju.
"Ada apa sih, Naruto?" tanya Lisbeth.
Naruto tidak juga menjawab. Menyusul kemudian, ia berlari menuju bagian tengah lubang melingkar ini.
Karena curiga, kedua gadis itu juga bangun dan mengikutinya.
"Apa sih?" kata Asuna heran.
"Oh, tunggu sebentar..." Naruto berlutut di lantai dan mulai menyingkirkan salju, yang menumpuk di tanah, dengan kedua tangannya. Dia lekas menggali lubang yang dalam selagi bunyi kikisan berkumandang.
Lalu...
"Ah!?"
Sorot cahaya keperakan tiba-tiba berkilas ke dalam mata kedua gadis itu. Sesuatu yang terkubur jauh di dalam salju memantulkan sinar matahari terbit.
Naruto menggali keluar benda itu, mengambilnya dengan kedua tangannya, lalu kembali berdiri.
Tak mampu menahan rasa penasaran, dua gadis itu mengintainya dari jarak yang teramat dekat.
Benda itu persegi empat, putih keperakan, transparan. Cuma sedikit lebih besar dari kedua tangan Naruto. Bentuknya familiar, dengan ukuran yang familiar — sebongkah material logam. Tapi, Lisbeth belum pernah lihat yang berwarna seperti ini.
Lalu Lisbeth menyentuh pelan material itu dengan jari tangan kanannya. Sebuah layar otomatis langsung muncul. Nama benda itu "Bongkahan Crystalite".
"Ini... Ini bukannya..."
Saat Lisbeth memandang wajah Naruto, dia pun, mengangguk dengan wajah bingung.
"Ya... Ini logam yang kita cari... kenapa ada di sini ya...?"
"Tapi, kenapa itu bisa terkubur di sini?"
"Hmm..."
Naruto terus menatap bongkahan yang tergenggam di tangan kanannya seraya berpikir, sebelum melepas keluar ucapan singkat, "Ah... Naga putih itu memakan kristal... Yang disuling di perutnya menjadi... Hmmm, jadi begitu!"
Tampaknya dia telah memahaminya dan mulai tersenyum, lalu melemparkan bongkahan logam itu ke arah Lisbeth. Lisbeth buru-buru menangkapnya dengan kedua tangan dan menahannya di dekat dadanya.
"Hei, apaan sih?! Jangan cuma berhenti setelah paham sendiri!" sahut Lisbeth.
"Memang apa maksudnya, Naruto?" Asuna benar-benar sangat penasaran.
"Gua ini bukan jebakan. Ini sarang sang naga," jawab Naruto dengan wajah datarnya.
"Eh... Eeeh!?" kedua gadis itu ternganga lebar.
"Dengan kata lain, bongkahan itu adalah ekskresi sang naga. Fesesnya."
"Fe..."
Saat pipi Lisbeth kejang-kejang, dia menjatuhkan pandangan pada bongkahan di dadanya.
"GEEEE..."
Tanpa berpikir, dia melemparnya pada Asuna.
"WAAAAA!" Asuna menangkapnya dengan mimik wajah yang geli. Lantas melemparkannya kembali pada Naruto.
"Apaan sih kalian berdua itu?"
Bongkahan itu dipukul mundur oleh Naruto dengan cekatan menggunakan ujung-ujung jarinya. Setelah saling melempar satu sama lain seperti anak kecil, akhirnya mereka berhenti.
Dengan cepat, Naruto mengembangkan bidang itemnya untuk menyimpan bongkahan itu.
"Ya, kalau begitu, tujuan kita sudah tercapai. Sekarang, yang tersisa adalah..." Naruto memegang rambutnya.
"Kalau saja kita bisa keluar dari sini..." Lisbeth melipat tangannya di dada.
"Benar. Tapi, bagaimana caranya?" Asuna memegang dagunya dengan tangannya seraya berpikir keras.
Mereka bertiga menghela napas seraya bertukar pandangan.
"Untuk sementara waktu, tidak ada pilihan lagi selain mencoba apapun yang terpikir."
"Kurasa begitu, Naruto. Ah, coba aku punya sayap seperti naga..."
Saat Lisbeth mengatakannya, sadar akan sesuatu, dia membiarkan mulutnya termangu, kehilangan kata-kata.
"Kenapa, Lis?"
Menghadapi Asuna, yang mengamatiku, dengan kepalanya miring ke samping.
"Hei... Kata Naruto, tempat ini sarang naga, kan?"
"Ah iya... Selama ada fesesnya, itu..."
"Itu tidak penting! Naga itu nokturnal, sekarang sudah pagi, bukannya dia akan pulang ke sarangnya...?"
"..."
Selama sebentar, pandangan kedua gadis itu dan pandangan Naruto bertemu, yang terdiam, kemudian merek bertiga menengadah ke langit di pintu masuk lubang. Tepat pada saat itu...
SET!
Jauh di atas, tinggi di udara, di antara potongan melingkar cahaya putih, lahirlah bayangan hitam remang-remang. Bayangan itu bahkan bertambah besar selagi mereka menatapnya. Hanya butuh sekejap sebelum mereka dapat melihat sepasang sayap, ekor yang panjang dan empat kaki bersenjatakan cakar.
"Dia... Dia..."
Mereka mundur bersama. Sayangnya, tentu saja, tidak ada tempat buat kabur.
"DIA DATANG!"
Kedua gadis itu menjerit keras kecuali Naruto. Mereka mengeluarkan senjata masing-masing.
Sang naga putih, yang menukik turun ke dalam lubang, menyadari keberadaan mereka dan mengeluarkan raungan bernada tinggi, berhenti persis sebelum menghantam tanah. Kedua mata merahnya dengan pupil vertikal dipenuhi rasa bermusuhan yang jelas pada penyusup-penyusup di sarangnya. Akan tetapi, tidak ada tempat bersembunyi di bawah lubang sempit itu. Lisbeth mempersiapkan gadanya seraya menekan rasa gugup dan Asuna sudah siap untuk menghunuskan rapier-nya pada sang naga.
Sama halnya, Naruto menyiapkan pedang satu tangannya dan maju ke hadapan kedua gadis itu, berkata dengan cepat.
"Dengar, kalian berdua tetap di belakangku. Langsung minum ramuan setelah kehilangan HP walau sedikit."
"I-Iya..."
Asuna dan Lisbeth cuma mengangguk patuh kali ini.
Sang naga membuka mulutnya yang besar dan meraung sekali lagi. Kedua sayapnya menciptakan hembusan angin yang menghempaskan salju ke udara.
BITAN! BITAN!
Ekor panjang sang naga menyentak tanah, setiap hentakan menggali parit yang dalam di permukaan bersalju itu.
Mengacungkan pedang di tangan kanannya tanpa jeda, untuk memperoleh inisiatif, Naruto mendadak menghentikan pergerakannya tepat sebelum dia akan menyerbu maju.
"Ah... Mungkin..."
Ia berujar dengan suara pelan.
"A-Ada apa?"
Asuna bertanya padanya.
"Tidak..."
Tanpa menjawab pertanyaan Asuna, Naruto menyimpan pedangnya ke dalam sarung, dan tiba-tiba berbalik lalu merangkul kedua gadis itu dengan erat menggunakan kedua lengannya.
"Eeeh!?"
Tanpa mengerti apapun, dua gadis itu panik dan dua gadis itu diangkat naik setinggi bahu Naruto. Naruto menggendong mereka seperti menggendong karung beras di atas bahu.
"He-Hei, kamu mau... Wahh!" Asuna dan Lisbeth berkata dengan kompak.
ZUBAN!
Suara keras berbunyi bersamaan dengan hentakan Naruto, dan bersama dengan itu, pemandangan di sekeliling menjadi kabur. Naruto berlari menuju dinding dengan tenaga kasar. Persis sebelum menabrak, ia melakukan lompatan hebat, dan seperti upaya kemarin untuk keluar, ia mulai berlari di permukaan dinding yang cekung. Namun, seakan tidak punya niat untuk naik, orbitnya tetap datar. Kepala sang naga yang penuh nafsu makan berputar dan terus menyasar mereka, akan tetapi Naruto terus berlari dengan kecepatan melampaui yang bisa diikuti sang naga. Dengan meninggalkan seberkas cahaya kuning seperti kilat. Itulah "Yellow Flash."
Beberapa detik kemudian, ketika Naruto akhirnya mendarat di dasar lubang, mata kedua gadis itu benar-benar pusing. Akhirnya mereka membuka mata masing-masing setelah mengedipkan mata mereka tak terhingga kali, di hadapan mereka adalah bagian belakang sang naga. Sang naga telah kehilangan mereka dan mengayunkan kepalanya ke kiri dan kanan dengan gelisah.
Baru saja kedua gadis itu berpikir kalau Naruto berencana untuk menyerang dari belakang, Naruto secara mengejutkan diam-diam mendekati sang naga. Dengan cepat, dia melompat tinggi dan mendarat di ekor sang naga yang berayun-ayun.
Di saat itu, sang naga mengeluarkan pekikan bernada tinggi. Jeritan kaget atau mungkin itu cuma khayalan Lisbeth saja. Merasa makin tidak mampu memahami maksud Naruto, Lisbeth juga baru akan berteriak.
Tiba-tiba sekali, sang naga putih membentangkan kedua sayapnya dan mulai naik dengan tajam dengan kecepatan yang menakutkan.
Kemudian Naruto berlari cepat di sepanjang ekor naga sampai di punggung sang naga.
"HUUFH!"
Angin menerpa wajah kedua gadis itu. Tanpa waktu untuk memikirkan tentang itu sekalipun, tubuh mereka melayang di udara dengan gaya seperti ditembakkan panah. Selagi mereka berpegangan pada punggung sang naga, ekor sang naga bergoncang ke kiri dan ke kanan sambil berlari mendaki lubang. Bagian bawah lubang yang melingkar itu sangat cepat terpisah jauh.
"Asuna, Lis! Pegangan!"
Merespon suara Naruto, kedua gadis itu saling berpegangan erat pada dua bahunya tanpa sadar. Cahaya matahari menyinari bubungan es di sekitar yang menjadi semakin cerah terus menerus dengan puncak suara angin yang menusuk berubah dengan rumit— Saat itu mereka mengira dunia meledak dalam cahaya putih, mereka terbang keluar dari lubang.
Saat dua gadis itu membuka mata masing-masing yang berkedap-kedip, pemandangan dari atas lantai 55 yang luas menyebar di bawah mereka.
Tepat di bawah adalah gunung salju berbentuk kerucut yang cantik. Sedikit lebih jauh, sebuah desa kecil. Di balik padang salju yang sangat luas dan hutan tebal, atap tirus dari setiap rumah di distrik utama tergabung bersama. Adegan dimana ini semua berkilauan, diwarnai cerahnya cahaya mentari, bahkan membuat mereka lupa dengan kengeriannya, tanpa sadar mereka bersorak.
"WAAAA..." Lisbeth tampak kegirangan.
"INDAHNYA!" Asuna tampak kagum. Wajahnya berbinar-binar.
"KITA AKAN MELOMPAT SEKARANG!"
Naruto juga berteriak keras, dan melompat cepat dari punggung sang naga. Dia membawa dua gadis itu seperti anak-anak dan mempercayakan dirinya pada inersia, menari di udara.
Penerbangan itu cuma beberapa detik, tapi terasa seperti sepuluh kalinya. Lisbeth yakin kalau dia tersenyum. Luapan angin dan cahaya menyapu bersih hatinya. Emosinya terhaluskan. Terasa bahagia berpetualangan bersama Naruto dan Asuna.
"Asuna, kamu tahu, aku..."
Lisbeth berteriak dengan sepenuh hati pada Asuna yang berada di depan matanya.
"Apa, Lis!?"
"Aku akan beritahu orang yang kusukai. Aku suka laki-laki yang bernama Kirito!"
"Apa!? Aku tidak dengar!"
"Bukan apa-apa!"
Berpegang erat pada bahu kiri Naruto, tawa Lisbeth meledak. Pada akhirnya, momen yang rasanya hampir seperti keajaiban ini berakhir, mereka mendekat ke tanah. Berputar untuk satu ronde terakhir, Naruto melebarkan kedua kakinya dan mengambil sikap mendarat.
BAFUN!
Saljunya berbunyi nyaring saat terbang ke udara. Terbang layang yang panjang. Mereka meneruskan perjalanan menembus kristal putih bagai penggerus salju selagi melambat, mereka akhirnya berhenti di dekat puncak gunung.
"Fuuuuh..."
Naruto menghirup nafas dan meletakkan dua gadis itu ke tanah. Dengan ragu, Asuna memalingkan kepala dan melepaskan bahu kanannya darinya. Sedangkan Lisbeth sudah melepaskan diri dari bahu kiri Naruto.
Mereka bertiga memandang ke arah lubang besar itu bersama, sang naga yang sepertinya kehilangan jejak mereka pelan-pelan berputar-putar di langit.
Naruto menempatkan tangannya di pedang yang ada di punggungnya, sedikit menarik bilahnya, namun segera mengembalikannya ke sarungnya dengan bunyi 'cling'. Dengan senyum simpul di wajahnya, ia menghadap sang naga dan berkata lembut.
"Kamu pasti kesusahan karena mereka yang datang memburumu sampai sekarang. Begitu cara mendapatkan itemnya tersebar, orang-orang yang datang untuk membunuhmu juga harusnya hilang. Jadi, mulai sekarang, hiduplah dengan tenang."
Menghadapi seekor monster, yang hanya bergerak sesuai algoritma yang diatur sistem, dan melakukan hal semacam itu, adalah hal yang Lisbeth anggap bodoh sampai kemarin. Namun, karena beberapa alasan, entah mengapa sekarang dia merasa dia bisa menyambut lembut ucapan Naruto ke dalam hatinya. Karena Naruto mirip dengan Kirito. Seakan-akan sosok Naruto kini berubah menjadi sosok Kirito sekarang. Menggapai dengan tangan kanannya, dengan lembut digenggamnya tangan kiri Kirito.
Mereka tanpa suara mengamati adegan ini saat sang naga putih menolehkan kepalanya, sebelum mengeluarkan pekik panjang yang jelas dan turun ke sarangnya. Hening.
Sebelum lama, Naruto melirik dua gadis itu, dan bicara.
"Kalau begitu, ayo pulang!"
Ternyata Lisbeth menyadari bahwa tangannya menggenggam tangan kiri Naruto. Sedangkan tangan kanan Naruto digenggam oleh tangan kiri Asuna.
"Kurasa iya," Asuna tersenyum lembut.
"Mau pakai kristal?" Lisbeth buru-buru menawarkan ide pada mereka berdua.
"Tidak, jalan saja yuk."
Asuna menjawab seraya tersenyum dan melangkah maju serta memegang tangan kanan Naruto. Lisbeth pun ikut terseret karena tangannya ditarik juga oleh Naruto. Lalu dia menyadari sesuatu dan tersentak. Membuat Naruto dan Asuna menoleh ke arahnya.
"Ah... Lentera dan kantong tidur dan lainnya, kita tinggalkan ya?"
"Kamu baru bilang sekarang... Ya, tidak apa-apa sih. Mungkin ada orang yang mau pakai," Naruto yang menjawab disertai anggukan Asuna.
Mereka saling bertukar pandang dan tertawa kecuali Naruto yang tersenyum simpul. Kali ini dengan yakin, mereka mulai berjalan pelan melalui jalan setapak gunung, mengikuti jalan pulang. Lisbeth melihat sekilas lingkungan di sekitarnya, langitnya jernih, tanpa satu pun awan di langit.
.
.
.
"Aku pulang!"
Lisbeth membuka pintu rumah tersayangnya dengan penuh semangat.
"Selamat datang!"
Meski si NPC wanita penjaga toko yang berdiri di konter hanya membalas salamnya dengan sopan, dilambaikannya tangannya dan berbalik, memandang sekeliling tokonya. Dia pergi cuma sekedar sehari, namun anehnya, tokonya terlihat segar.
Naruto dan Asuna, yang telah membeli makanan take-out dari kios yang sama dengan kemarin, memasuki toko di belakang Lisbeth, dengan hotdog di mulut mereka.
"Bagaimanapun sekarang hampir siang, jadi kalian berdua harusnya makan di kios itu saja."
Selagi Lisbeth mengutarakan protes, Asuna tersenyum maklum dan Naruto cuma berwajah datar seraya menggerakkan tangan kirinya, memunculkan sebuah layar.
"Sebelum itu, ayo kita buat dulu, pedangnya."
Memanipulasi inventarisnya dengan cekatan, ia mewujudkan bongkahan perak. Lalu melemparkan bongkahan perak itu pada Lisbeth.
Lisbeth menangkapnya dengan hati-hati, — mengabaikan asalnya untuk sementara — dia mengangguk.
"Benar, aku akan kerjakan. Kalian berdua sekarang masuk ke ruang kerjaku."
Membuka pintu di belakang konter, bunyi berdebam kincir air menjadi terdengar jelas lebih keras. Menarik turun tuas di dinding, puputan mulai bergerak, mengirim udara masuk.
Tungku perapian langsung mulai menyala merah terang.
Dengan lembut Lisbeth menjatuhkan bongkahan itu ke tungku, dan berbalik ke arah Naruto.
"Pedang satu tangan yang lurus saja, kan?"
"Ya. Aku mengandalkanmu."
Naruto mengangguk sambil ia duduk di bangku bundar yang diperuntukkan bagi pengunjung. Sedangkan Asuna memilih berdiri untuk melihat Lisbeth.
"Dimengerti. Cuma peringatan, tapi hasil akhirnya dipengaruhi oleh faktor acak, jadi jangan berharap terlalu banyak ya."
"Kita tinggal pergi lagi kalau ini gagal. Kali ini dengan tali."
"Ya, tali yang panjang."
Mengingat jatuh yang hebat itu, tanpa Lisbeth sadari, hal itu sangat mengerikan. Menjatuhkan pandangannya ke tungku, dia sadar kalau bongkahannya telah cukup terbakar. Dikeluarkannya bongkahan itu dengan penjepit, lalu diletakkannya di alas tempa.
Dia mengambil palu smith terbaiknya dari dinding, melakukan pengaturan di menu, dan sekali lagi melirik wajah Naruto. Menjawab anggukan tanpa suaranya, dia tersenyum, dan dengan gagah mengangkat palu ke atas kepalanya.
Ditempanya dengan semangatnya, saat dia memukul logam yang bersinar 'kirmizi', bersamaan dengan bunyi yang sangat keras.
KAAAAN!
Sangat jelas, kilatan api yang terang melimpah berhamburan di sana-sini.
Di dalam seksi smith di 'Bantuan Referensi', mengenai proses pembuatan, "Sesuai dengan jenis senjata yang dibuat, dan tingkat logam yang digunakan, bongkahan perlu dihantam sebanyak jumlah tertentu."
Adalah semua yang tertulis untuk mendeskripsikannya.
Dengan kata lain, selama menghantam logam dengan palu, kemampuan pemain tidak berpengaruh, beginilah seharusnya cara membacanya, tetapi ada berbagai macam jenis rumor dan teori-teori gaib yang beredar tentang SAO, bahwa presisi dari ritme hantaman dan semangat bertarung sang blacksmith bisa mempengaruhi hasilnya, pendapat ini sudah melekat erat di benak masyarakat.
Lisbeth menganggap dirinya orang yang rasional, tapi dia cuma yakin dengan teori ini karena pengalamannya yang panjang. Oleh karena itu, dia menghilangkan semua pikiran lain selagi memproduksi senjata, mengkonsentrasikan kesadarannya di tangan kanan yang memukulkan palu, menghantam tanpa henti dengan pikiran kosong, itulah yang dia percaya.
Tetapi...
Sewaktu memukul bongkahan itu, menghasilkan bunyi gemerincing yang menyegarkan, berbagai pikiran berputar di kepalanya sekarang, tak bisa keluar.
Kalau pedang ini sukses dibuat, dan permintaannya selesai, Naruto tentu akan kembali menyelesaikan game di garis depan, dan seharusnya tak akan ada banyak kesempatan untuk bertemu. Meski dia datang untuk perawatan pedangnya, paling bagus sepuluh hari sekali.
Yang seperti itu, mengingatkannya pada Kirito, yang juga seorang Clearer yang menyelesaikan game di garis depan. Kirito sama seperti Naruto. Dia merasa ada suara yang berteriak dalam dirinya.
Selagi lapar akan kehangatan orang lain, tidak, itulah mengapa, itulah alasannya mengapa dia bimbang untuk memperpendek jarak dengan pemain laki-laki manapun sampai sekarang. Dia takut musim salju kesepian di dalamnya berubah drastis dengan cinta yang telah bertepuk sebelah tangan. Hal itu bukanlah cinta sejati, hanya angan-angan yang tercipta oleh dunia ilusi. Dia ingin melupakan Kirito. Tadinya dia berpikir begitu.
Tapi, masa lalu itu, saat merasakan kehangatan dari tangan Kirito, dia sadar, perasaan ragu itu adalah duri ilusi yang telah membelenggunya. Dia adalah dia — si blacksmith, Lisbeth, dan di saat bersamaan, Shinozaki Rika. Kirito juga sama. Bukan karakter dari game, tapi manusia sungguhan yang hidup. Karenanya, cintanya untuk Kirito, perasaan ini juga nyata.
Jika dia berhasil menempa pedang yang memuaskan, dia akan berusaha mencari Kirito lagi dan ingin bertemu dengan Kirito sebelum game ini berakhir. Bahwa dia ingin Kirito berada di sisinya, bahwa dia ingin Kirito kembali ke rumah ini dari labirin, setiap hari, itulah yang akan dia katakan pada Kirito yang belum sempat dikatakannya pada Kirito sewaktu itu. Bukan sebagai hubungan kekasih, tapi sebagai sahabat Kirito. Itulah lebih baiknya.
Di saat bongkahannya ditempa, kilauannya bersinar sangat terang, perasaan di dalam dirinya juga, tampaknya sudah menegaskan diri. Dia merasa perasaannya pada Kirito mengalir keluar dari tangan kanannya, mengucur pada senjata yang lahir dari palunya itu.
Akhirnya, saat itu pun datang.
Dia tak tahu berapa banyak hantaman sejauh ini — mungkin berada di antara dua ratus sampai dua ratus lima puluh kali — segera menyusul bunyi palu, bongkahannya melepaskan curahan cahaya putih yang jelas menyilaukan.
Objek persegi panjang itu berubah bentuk sedikit demi sedikit selagi bersinar. Bagian depan dan belakangnya mulai membesar, lalu kemudian, tonjolan yang menyerupai pangkal pedang menggelembung keluar.
"Aaaah..."
Melepaskan bisikan kagum dengan nada rendah, Naruto beranjak dari kursi, dan mendekat. Begitu juga dengan Asuna.
Begitu mereka menonton berhadapan, penciptaan objek itu selesai dalam hitungan detik, akhirnya menyingkapkan bentuknya sebagai pedang satu tangan panjang.
Cantik, pedang yang benar-benar cantik. Sebagai pedang satu tangan panjang, ia terlihat indah. Bilahnya pucat, dan ramping, walau tidak seramping rapier. Seakan mewarisi sifat bongkahannya, ia bisa terlihat sedikit bening. Bilahnya berwarna putih menyilaukan.
Gagangnya perak, dengan sedikit bubuhan warna biru.
"Dunia Di mana Pedang Melambangkan Pemainnya", bagai mendukung slogan itu, variasi senjata yang terpasang di SAO terlalu banyak. Jika seseorang menulis nama khas senjata-senjata di setiap kategori dari awal, katanya panjangnya akan mencapai ribuan baris.
Berbeda dengan RPG biasa, keanekaragaman nama senjata makin bervariasi semakin tinggi tingkat senjatanya. Senjata kelas rendah, misalnya, untuk pedang panjang satu tangan, "Bronze Sword", "Steel Sword", untuk yang bernama pasaran semacam itu, tak terhitung banyaknya jumlah pedang seperti itu yang ada di dunia ini, tapi bagi senjata-senjata tingkat tertinggi seperti yang ada di sini sekarang, ambillah misalkan "Lambent Light" Asuna, kemungkinan besar hanya ada satu di dunia, objek tunggal untuk jenisnya secara harfiah.
Tentu saja, rapier dengan tingkat kekuatan yang sama, baik buatan pemain atau drop dari monster, mungkin memang ada. Tapi, setiap dari mereka memiliki penampilan yang berbeda. Dengan itu, senjata level tinggi punya daya tarik tertentu, menjadi sesuatu seperti rekan tempat pemain berbagi jiwa.
Karena nama senjata dan penampilannya diputuskan oleh sistem, bahkan Blacksmith, sang pembuatnya tidak begitu mengerti. Lisbeth mengangkat pedang yang gemerlapan di atas alas tempa itu atau setidaknya, dia mencoba mengangkatnya. Dia kaget dengan beratnya, yang tidak sesuai dengan penampilan luarnya yang elegan. Persyaratan kekuatan fisiknya tidak kalah dengan pedang jingga milik Naruto,"Fox Flash Sword". Menegangkan punggungnya, dia angkat pedang itu setinggi dada sambil menjerit.
Menyentuh dengan jari tangan kanannya, menopang dasar bilah pedang, dia mengkliknya sekali. Dia melihat layar pop-up yang bangkit ke permukaannya.
"Ya, sepertinya namanya Dark Repulser. Aku baru pertama kali mendengarnya, jadi aku tidak percaya ini disebutkan di daftar informasi toko sekarang. Nih, coba saja."
"Hm."
Naruto mengangguk dan menjangkaukan tangan kanannya, ia mencengkeram gagang pedang ini. Dia mengangkatnya seakan tak terpengaruh dengan beratnya. Melambaikan tangan kirinya untuk memunculkan menu utama, ia memanipulasi sosok equipmentnya, menyasar sang pedang putih. Dengan ini, pedang itu akan terpasang pada Naruto dalam sistem, memperkenankan potensi numeriknya untuk dipastikan.
Namun, Naruto langsung menutup layarnya, dan setelah mundur beberapa langkah, ia menukarnya ke tangan kiri, mengayunkannya berulang kali dengan bunyi kibasan.
"Gimana?"
Tanpa menunggu Lisbeth bertanya, Naruto diam menatap bilah pedangnya sejenak. Namun, segera, dia tersenyum simpul.
"Berat juga ya? Pedang yang bagus."
"Benarkah!? YESSS!"
Lisbeth melakukan pose kejayaan dengan tangan kanannya tanpa pikir. Dengan tangan itu terulur, diadukannya dengan kepalan tangan kanan Naruto. Asuna tersenyum melihat mereka yang mulai berteman dengan baik.
'Syukur ya... Lis... Naruto mau menerimamu sebagai teman baiknya. Aku senang sekali melihat kalian akrab seperti ini,' batin Asuna.
Sudah lama sejak Lisbeth merasa seperti ini.
Dulu sekali, saat dia berjualan dari kios di jalan utama lantai sepuluh, dia merasa seperti ini ketika senjata yang dibuatnya asal-asalan dipuji pelanggan. Dia senang karena dia menjadi seorang blacksmith, itulah perasaannya sejujurnya, dari dasar hatinya di detik itu. Saat dia terus mengasah kemampuannya dan pindah untuk berbisnis hanya dengan pemain berlevel tinggi, dia sudah melupakan perasaan ini sebelum dia menyadarinya.
"Masalah dengan hatiku, hah... semuanya..."
Menanggapi ucapannya yang keluar sambil lalu, Naruto memiringkan kepalanya dengan muka penasaran. Asuna juga memperhatikannya.
"Apa? Kamu mau bilang apa, Lis?" tanya Asuna heran.
"Ti-Tidak kok Asuna, bukan apa-apa. Ngomong-ngomong, minum di suatu tempat yuk. Aku lapar."
Meninggikan suara untuk menyembunyikan rasa malunya, dia mendorong punggung Asuna dan Naruto dari belakang. Dia bermaksud untuk keluar dari ruang kerja dengan sikap begitu, tapi sebuah pertanyaan mendadak menghampirinya.
"Hei, Naruto..."
"Hm?"
Naruto menoleh ke belakang. Asuna juga menoleh ke arah yang sama. Naruto melihat ke arah sesuatu yang tergantung di bahunya, pedang satu tangan yang berwarna jingga.
"Ngomong-ngomong... Di awal, kamu pernah bilang, pedang yang setara dengan yang ini, iya, kan? Pedang putih itu pastinya pedang yang bagus, tapi menurutku tidak beda jauh dengan pedang drop monster itu. Kenapa kamu perlu dua pedang yang serupa seperti ini?"
"Hmmm..."
Naruto berbalik, menatap Lisbeth dan Asuna dengan ekspresi yang menunjukkan bahwa dia ragu-ragu akan sesuatu.
"Ya, aku tidak bisa menjelaskan semuanya. Kalau kamu tidak akan bertanya lebih jauh dari itu, aku bisa kasih tahu kok."
"Apaan itu? Naruto, jangan main rahasia seperti itu," Asuna tampak sedikit sewot.
"Iya... Kamu sok keren sih," Lisbeth juga ikut berwajah sewot.
"Kalian berdua... Minggir sedikit."
Setelah Asuna dan Lisbeth melangkah mundur ke dinding ruang kerja, dengan pedang putih masih tergantung, Naruto menarik pedang jingga dari punggungnya dengan bunyi bernada tinggi, menggunakan tangan kanannya.
"...!?"
Kedua gadis itu tak bisa memahami tujuannya. Setelah tadi memanipulasi sosok equipmentnya, dengan sistem sekarang, status equipmentnya seharusnya hanya pedang di tangan kirinya, menggenggam senjata lain di tangan kanannya semestinya tidak berguna sama sekali.
Sebaliknya, dengan sesuatu yang terhitung sebagai status equipment yang aneh seperti itu, mengaktifkan skill pedang tidak dimungkinkan.
Melirik sekilas wajah Asuna dan Lisbeth yang kebingungan secara bergantian, Naruto dengan tenang memasang kuda-kuda dengan pedang kiri dan kanannya. Pedang kanan di depan, pedang kiri di belakang.
Merendahkan pinggulnya sedikit, dan dengan itu, tepat di detik berikutnya.
Efek kilasan kirmizi meledak, mewarnai ruang kerja dengan warnanya.
Pedang di tangan Naruto saling bergantian, menyerang sisi depannya dengan kecepatan yang tak bisa diikuti mata.
KYUBABABABABABA!
Bunyi ini menimbulkan tekanan di udara, dan meski tidak menyasar apapun, objek di dalam ruangan bergoyang.
Jelas itu teknik pedang yang diatur oleh sistem. Tapi, Lisbeth pernah mendengar ada skill yang memakai dua pedang!
Terlebih bagi Asuna, sangat kaget saat menyaksikan pemandangan di depan matanya. Dia tidak menyangka bahwa Naruto juga memiliki skill Dual Blades yang dimiliki Kirito.
"Ah, Naruto... Dia juga punya skill Dual Blades itu!?" gumam Asuna pelan.
Di depan mereka, berdiri diam selagi mereka menarik napas, Naruto mengangkat badannya, usai menyelesaikan teknik serangan berturutan yang mungkin mencapai sepuluh serangan berantai.
Menyimpan kedua pedang, mengembalikan hanya pedang di tangan kanan ke punggungnya, dia memandang wajah Lisbeth dan bicara.
"Jadi, begitulah... Aku perlu sarung buat pedang ini. Boleh aku pilih satu?"
"Ah... I-Iya."
Entah sudah berapa kali Lisbeth dibuat tercengang oleh Naruto. Walau dia seharusnya sudah terbiasa sekarang, untuk sementara, dia memutuskan untuk menahan pertanyaannya, menggapaikan tangannya ke dinding, menampilkan menu utama.
Menggulung layar penyimpanan, dia mengamati ringkasan dari stok sarung pedang yang dikumpulkannya dari pengrajin yang dekat dengannya. Memilih satu yang agak mirip dengan yang dipakai Naruto di punggungnya, terbuat dari kulit berwarna jingga, dia mewujudkannya.
Setelah dia memasangkan logo kecil tokonya, dia menyerahkannya pada Naruto. Naruto yang telah menyimpan pedang putih ke sarungnya dengan bunyi singkat, membuka sebuah layar dan menyimpannya. Lisbeth pikir dia akan memasang keduanya di punggung, tapi tampaknya tidak seperti itu.
"Jadi, ini rahasia? Yang tadi itu..." Asuna bertanya pada Naruto.
"Hn... Ya, iya. Jangan bilang siapa-siapa ya?"
"Oke."
Kedua gadis itu mengangguk cepat sambil tersenyum. Naruto tersenyum simpul pada mereka.
Informasi skill adalah garis hidup terpenting seseorang, jadi kalau Naruto menyuruh Lisbeth untuk tidak bertanya, Lisbeth tak akan menanyakannya. Di samping itu, Lisbeth senang Naruto bahkan membolehkannya mengintip rahasia Naruto itu. Dia begitu senang berteman dengan Naruto.
"Kalau begitu...," Naruto memasukkan kedua tangannya di saku celana panjangnya dan ekspresinya berubah menjadi datar lagi. "Ini menjadi akhir dari permohonanku. Aku akan membayar pedang ini. Berapa harganya?"
"Ah, tentang itu ya?"
Lisbeth melipat tangan di dadanya dan berpikir keras. Sedetik kemudian, dia menjawabnya.
"Tidak usah dibayar. Gratis kok."
"Eh?"
"Sebagai balasannya, aku ingin bersahabat baik denganmu. Bagaimana, Naruto?"
Mata Naruto menunjukkan sedikit tanda terkejut. Setelah itu, kedua matanya melembut.
"Boleh saja."
"Jadi?"
"Mulai hari ini, kita bersahabat. Aku, Asuna dan kamu adalah sahabat sejati."
Lisbeth terpaku di tempat. Asuna juga begitu. Lalu mereka tersenyum.
"YA!" seru dua gadis itu bersamaan.
Naruto mengacungkan jempolnya dengan mantap. Wajahnya berseri-seri.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Yup, sampai di sini chapter 10-nya. Jika ada waktu akan saya sambung ke chapter 11.
Di chapter 11, bakal ada guild kriminal yang akan mengejar Kirito dan Naruto. Siapa lagi kalau bukan guild Darkness Moon itu. Mereka tidak dapat dikalahkan begitu saja. Begitulah spoilernya.
Oh iya, ada yang setuju nggak Yui dimunculin di fic ini? Hm, itu tergantung sama yang request fic ini, bagaimana menurutmu, Firdaus?
Terima kasih atas perhatian kalian yang telah membaca sampai ke chapter 10 ini.
Minggu, 28 Agustus 2016
