Maaf banget karena lagi-lagi telat update. Bulan lalu bener-bener maleeeeessss untuk ngerjain apapun. Spesial ucapan terima kasih atas riview-nya untuk:

Thia Nokoru : yup! Ini udah update! Makasi banyak udah ngikutin sampai chap ini…!

Chibiballoon: hai, chibi! Yang paling melankolis? Wah, untung gak dibilang yang paling lebayissss... ehehehehe... makasi udah ripiu ya!

Haza ShiRaifu: Sai kejam? Iya, dia belum pernah rasain di-shannaro ama sakura kali ya?*plak makasi udah ripiu yaaaaaaa! ^.^

tiffany90: hai, fany! Makasi ya udah ripiu! Seneng banget deh, rasanya! Ripiu lagi?

Eky-chan: iya, yang pas tts itu emang seru abis rasanya ya? Makasi udah ripiu! Seneng banget kalo ada yang suka. Ehehe...

AyameHyuga: makasi banyak udah ripiu.. iya, maunya bikin si Sai lebih sakit hati. Tapi susah! Apalagi mikirin si Sai yang nangis darah, kok gak cocok ya? Iya, Sai emang lemot bangett! Perlu digetok sekali kali ya?

Kikyo Fujikazu : wah, makasi banyaaaakkk! Ceritanya makin bagus? Aduh senangnya#plak ehehehe…!

Kim Geun Hyun: haiii! Makasi udah ripiu ya! Si sasuke bener-bener OOC ya? Bisa-bisanya jadi lembut, ehehehe! Lucu dan sedih? Maunya sih bikin sedih doang, tapi ide buat bikin lelucon garing malah bertebaran di sana sini. Jadinya kaya gini deh! Ehehehe...!

Nyx Quartz: wah, yang jelas chap depan adalah chap terakhir. Tunggu aja ya? Happy ending? Gak janji lhoo... tergantung mood nanti gimana jadinya*plaaaaakkk. Btw, makasiiii banyak udah ripiu..!

X : hai! Makasi udah ripiu! Aduhh.. gak perlu minta maaf kok! Fic luna emang masih jelek, maklum baru belajar. Hehehehe... tenang aja, gak masalah kok! Btw, ripiu lagi?

Andromeda no Rei: Makasi udah ripiuuu ^.^ kasian sasuke? Iya, kasian, kasian, kasian *upinupinmode. Iya nih, kok sakura jadi cengeng begini ya? Yah, namanya juga cinta*dishannaro

Risuki Taka: maaf ya, gak bisa update kilat, tapi makasi udah ripiuuu! Nasibnya saku? Silakan dibaca di sini*dikasibogem

Zoroutecchi: iya, sai mau pergi. Tiga kali lebaran baru balik*lukatebangtoyib. Makasi udah ripiu yaaaaaa! Ehehhe

Ruffie-chan: Oh, jangan salah, Ino baik kok! Percaya deh, ama sayaaa! Kalo perlu belah dadaku sekarang juga*dilemparkeantartika. Makasi udah ripiu yaaa! Ripiu lagi?

Honeya : Maaf banget karena update-nya lama, tapi makasi atas ripiunya! Kayaknya semua orang kasian ama sakura ya? Gak ada yang kasian ama luna ya?*plak#apaansihmaksudnya. Hehehhehe.. ripiu lagi?

Sichi : gregetan? Maaf banget atas keleletan updatenya dan makasi atas ripiunya ^o^

Hime Aletta : Sakura ama siapa ya kira-kira… hmmm… gimana yaaa?*plaakkk makasi udah ripiu yaaa! Ehehehe ^u^

Fuyu-yuki-shiro: kabur? Enggaak~~ Sai Cuma mau pergi kok*dor Makasi udah ripiu ya! Tapi maaf ya, karena gak bisa update kilat. Mau ripiu lagi?

Nanairo Zoacha: aduh malu baca ripiu kamu. Makasi banyak ya! Panggil aja Luna, oke? Wah, idenya bagus! Tapi sayang chap depan adalah chap terakhir, maaf yaa..! sekali lagi, makasi banyaak!

Yosh! Semuanya udah dibales, sekali lagi, maaf atas keterlambatannya dan terima kasih banyak untuk review-nya! Btw, ini adalah dua chapter terakhir lhoooo~~!

.

.

.

.

.

.


.

Sakura?"

"Eh, Sa-sasuke?"

"Syukurlah kau mengangkatnya. Aku sudah berkali-kali menelponmu, tapi tak pernah kau jawab."

"Maaf, tadi aku tertidur."

"Kenapa dengan suaramu? Apa kau habis menangis?"

"..."

"Baiklah, aku hanya ingin bertanya padamu. Apa kau sudah diberitahu oleh Sai?"

"... Tentang apa?"

"Aku mungkin bukan orang yang tepat memberitahumu soal ini. Tapi melihat gelagat Sai, aku rasa dia tidak mengatakannya padamu."

"..."

"Sai akan pergi. Pergi dari Konoha. Dia sudah memutuskan tinggal di Oto."

"A... pa?"

"Dan kurasa... dia tidak akan kembali ke Konoha."

"Ke-kenapa? Kenapa dia harus pergi?"

"... Aku juga tidak tahu, Sakura."

"Ke... napa?"

"Sakura... aku memang telah berkata akan menunggumu, tapi jika keadaan sudah seperti ini... bisakah kau menyerah dan memulai sesuatu yang baru?"
"..."

"Bisakah kau melupakan Sai jika kuminta itu padamu?"

"Sa-sasuke... aku... aku..."

"Ijinkan aku berada di sisimu, Sakura..."

.


.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: AU, OOC, Typo, alur kecepetan, dll…

.

Happy Reading

.

Chapter 10: Ups! Tunggu!

.


Sai's POV

.

.

"Ya, semuanya sudah kuselesaikan, Paman Danzo," kataku pada suara di seberang telepon. "Aku mengerti, aku akan berangkat secepatnya ke Oto."

Aku menunggu, mendengarkan Pamanku berkata sesuatu.

Aku menggeleng, " Tidak. Aku tidak perlu berpikir ulang, ini memang keinginanku. Ternyata aku memang tidak cocok berada di Konoha." Atau di mana pun, lanjutku dalam hati.

Setelah beberapa menit berlalu, yang diisi dengan percakapan ringan mengenai kepindahanku ke Oto, aku menutup percakapan kami karena masuknya Ino ke kamarku.

"Hai, Sai!" sapanya di ambang pintu. Sedetik kemudian dia berjalan dan duduk di samping ranjangku, "Kau benar-benar akan pergi ke Oto?"

"Apa kau tidak suka aku pergi ke Oto?" tanyaku padanya sambil memilah-milahku kuasku.

"Bukannya begitu... tapi apa kau tidak apa-apa? Maksudku, kau tidak menyesal pergi dari Konoha?"

Aku berbalik dan menatap Ino dengan senyum palsuku, "Kau dan Paman menanyakan hal yang sama. Tidak," aku menggeleng, menegaskan perkataanku, "aku tidak menyesal. Ini memang keinginanku."

Ya, keinginanku.

"Begitu..." Ino berdiri dan mendekat ke arahku. Lalu meletakkan telapak tangan kanannya di pipiku, " Lalu kenapa kau terlihat bimbang dan juga sedih? Sai, jika kau memang ingin tinggal di sini, kau tidak usah memaksakan diri. Kau bisa-"

"Tidak," selaku dengan nada tegas. "Akan lebih baik bagi dia jika aku pergi dari sini. Jadi aku-"

"Dia?" ulang Ino. Langkahnya mundur perlahan, kembali duduk di tepi ranjang sambil menatapku, lembut, "Sepertinya aku ketinggalan banyak hal."

"Tidak seperti yang kau pikirkan, hanya saja..."

Perkataanku terhenti. Kebingungan menyergapku dalam diam. Entah mengapa tiba-tiba aku teringat Sakura, tidak, sebenarnya aku selalu mengingatnya –tiap detiknya. Hanya saja aku selalu memutuskan bahwa akan lebih baik bagiku untuk tak mengingatnya.

Bayang Sakura saat berciuman dengan Sasuke, memukul hatiku, membuat suara retak yang lirih terdengar di dalam sana.

Aku tidak bisa menampik jika aku terluka melihatnya.

Hatiku sakit serta amarah bisa saja menguasaiku tiap menitnya jika aku mengingat hal itu lagi.

Tapi cukup.

Itulah yang seharusnya terjadi.

Ya, aku sudah tahu dari dulu, bahwa skenario hidup mereka berdua pasti akan bertemu, entah kapan itu –yang bisa dipastikan terjadi hari ini.

Mungkin Sasuke bisa menyembunyikannya dari semua orang, tapi tidak dariku –saudara kembarnya. Menyembunyikan fakta bahwa dia, Sasuke Uchiha, mempunyai perasaan yang sama dengan gadis Emerald itu.

Ya, hanya saja Sasuke terlalu keras kepala untuk mengungkapkannya, mengatakan betapa penting keberadaan gadis itu baginya dan juga... bagiku.

Namun kenyataan itu membuatku senang. Senang karena mungkin, aku masih bisa menengahi hubungan mereka berdua. Senang karena aku beranggapan bahwa aku masih memiliki harapan untuk berada di sisi Sakura.

Tapi kini aku sadar, bahwa pihak ketiga tidak akan selamanya bisa berada di tengah. Bahwa sudah saatnya aku menjauh, pergi dari lingkaran hubungan mereka berdua.

Sasuke dan Sakura, mereka sudah seharusnya bersama, tanpa aku di dalamnya.

Apa yang dirasakan Sakura padaku hanyalah delusi semata. Pelariannya karena Sasuke tak kunjung membalas perasaannya. Tempat pengganti untuk hatinya yang tertuju pada Sasuke.

Aku, bukanlah siapa-siapa, melainkan seseorang yang mirip dengan Sasuke, penggantinya.

Ya, pasti begitu. Air mata itu juga bukan sepenuhnya untukku kan?

Keberadaanku hanya membuatnya resah dan bingung. Aku harus pergi, agar gadis itu menyadari bahwa hanya Sasuke yang dicintainya.

Bukan aku –orang luar yang tiba-tiba masuk ke hidupnya dengan cara kesalahpahaman.

Dia tidak pernah menyukaiku, tidak pernah mencintaiku.

Itu hanya delusi, delusi, delusi-

Lalu seketika senyum manis gadis itu terhampar di benakku, aku tidak bisa tidak merafalkan nama itu di hatiku, berulang kali, terus-menerus hingga aku gila.

Sakura.

Sakura.

Sakura.

Sakura.

Aku menutup wajahku dengan sebelah tangan, frustasi.

"Sai? Kau kenapa?"

Suara Ino menyadarkanku dari lamunanku, aku lantas jatuh terduduk dengan perasaan membuncah yang kali ini teramat sulit untuk dikendalikan.

"Dia menangis karena aku, Ino. Selalu begitu. Aku hanya bisa membuatnya sedih, marah, dan menangis."

"Sai..." Pandangan Ino melembut, tapi dia hanya terdiam di depanku.

"Itu artinya aku harus menjauh darinya bukan? Jika aku pergi, beban di hatinya akan menghilang, kan?"

Aku menunduk dengan perasaan sesak yang aneh melingkupiku. Bukan seperti itu yang kuinginkan, sungguh.

Aku hanya bingung. Bingung akan apa yang harus kulakukan agar Sakura bahagia, agar air mata itu tak mengalir lagi, agar kata benci itu tak terucap lagi, tertuju padaku lagi.

Aku tidak ingin dia membenciku.

Jauh di sudut hatiku, aku ingin memilikinya, aku ingin dia juga menatapku sama seperti dia menatap Sasuke.

Maka, saat kata benci itu terucap aku tidak tahu lagi harus berkata apa, berbuat apa. Karena jika aku mengejarnya lagi, menarik tangannya, dan aku ingin sekali memeluknya erat hingga dia tidak pergi lagi, tapi aku takut.

Aku takut jika dia kembali menampikku lagi. Karena aku yakin aku tak akan sanggup jika harus menerima penolakannya lebih dari pada ini.

Karena itulah aku membiarkannya pergi.

Karena itulah aku tidak mengejarnya.

Saat itu aku menyadari, bukan Sakura yang harus pergi, tapi aku. Hanya aku.

"Sai..."

Aku mendongak dan menyadari jika Ino telah berdiri di depanku.

"Dulu aku tidak menyadarinya, tapi setahun terakhir ini, semua lukisanmu mempunyai kesamaan ya?" kata Ino sambil tersenyum ke arahku, memegang lukisan kecil.

"Ya?" kataku bingung.

"Sudut pandangnya," jelas Ino. "Kau melukisnya di satu tempat, kan?"

Aku mengangguk.

"Aku boleh tahu di mana?"

Dalam ragu aku menjawab, "Perpustakaan sekolah."

Ino tersenyum seraya menaruh lukisan itu, "Waktu itu aku tidak sadar, tapi itu dia, kan? Gadis yang bersama Sasuke... itulah alasan kau selalu melukis lukisan yang sama kan? Pertama kali bertemu dengannya, aku tidak menyadari hal itu. Tapi... setelah melihatmu mengejarnya tanpa peduli pada sekitarmu, aku seketika paham."

Ino tersenyum padaku, "Dia istimewa bagimu, kan?"

Terdiam, aku kehilangan kata-kata.

"Sai... aku mengerti jika menetap di Oto adalah keinginanmu sendiri. Tapi, Sai yang berada di Konoha sudah banyak berubah ya? Dan kau tahu? Aku menyukai perubahanmu itu? Bagaimana denganmu? Tidakkah kau berpikir bahwa kau juga membawa perubahan bagi orang lain?"

.

mmmoooonnn

.

Aku termenung sendiri di kamarku, memikirkan perkataan Ino.

Lalu aku berjalan pelan dan mengusap pelan lukisan itu. Lukisan tentang Sakura.

Hei, Sakura...

Kau tidak tahu bahwa kita sebenarnya pertama kali bertemu saat musim gugur menjelang. Itu adalah hari pertama aku menginjak Konoha sejak bertahun-tahun aku tinggal di Oto. Sebenarnya aku bisa saja langsung menemuimu kala itu, tak perlu menunggu satu tahun lagi sampai kau menginjak kelas dua untuk bertemu.

Tapi... entahlah. Aku tidak tahu mengapa aku tidak pernah mempunyai cukup keberanian untuk menemuimu. Jadi yang bisa kulakukan hanya melukismu, memandangimu dari jauh. Selama waktu yang terasa mengabur itu aku terus menyelidiki bagaimana perasaanmu tanpa sepengetahuanmu, aku selalu melihatmu.

Lalu tanpa kusadari, hari-hari pun berlanjut, musim semi kembali menyapa, dan aku kira, kini aku sanggup untuk menampakkan diri di hadapanmu. Kemudian kau datang, dengan senyum manismu, yang kau berikan untuk Sasuke seorang. Ada denyut aneh saat itu, denyut yang perlahan kemudian kumengerti.

Sakura... pertama kali aku menatap mata Emerald-mu, pertama kali aku berbicara padamu, kau tidak tahu jika kakiku gemetar kala itu, dan aku hanya bisa membuatmu kesal. Tapi melihatmu yang masih memedulikanku meskipun aku hanya bisa membuatmu kesal, tanpa sepengetahuanmu, aku merasa sangat bahagia.

Aku tidak tahu bagaimana waktu berlanjut, yang kutahu hanya aku tidak ingin menyakitimu. Namun ternyata itu semua hanya gaung tak terdengar. Keberadaanku hanya membuatmu terluka.

Karena itu, selamanya aku tidak akan menceritakan perasaan berharga ini dalam hatiku. Cukup hanya aku yang tahu. Aku juga tidak akan pernah melupakan hari itu –hari dimana aku berkenalan denganmu.


.

.

mmmoooonnn

.

.


Sakura's POV

.

.

Viscaria.

Satu lagi nama bunga yang berhasil kuketahui.

Aku terbangun dengan kepala yang terasa berat tak karuan dan juga dengan mata bengkak yang susah terbuka.

Aku menangis semalaman.

Menangis terus hingga kelelahan dan tanpa sadar aku jatuh tertidur.

Dan detik ini juga, air mataku menetes lagi kala bayang Sai menyelimuti pikiranku lagi.

Tidak mau hilang.

Terpatri indah di hatiku.

Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja.

Ini bukan apa-apa. Pasti, semuanya akan memudar saat aku bisa melupakannya.

Melupakan Sai.

Aku... baik-baik saja tanpa Sai... Pasti aku bisa. Pasti. Pasti.

Dan kembali air mata ini mengalir dalam diam.

.

mmmoooonnn

.

"Sakura-chan? Kenapa kau tidak sekolah tadi?" tanya Hinata. Selepas sekolah dia langsung pergi ke rumahku, untungnya Naruto tidak ikut. Karena ada rapat guru, mereka bisa pulang cepat. Kenapa akhir-akhir ini selalu ada rapat guru ya?

"Aku cuma kelelahan saja, kok. Bukan hal penting," jawabku sambil berbaring di ranjang.

"Bukan hal penting?" ulang Hinata dengan nada bertanya. "Lalu kenapa matamu bengkak dan suaramu terdengar aneh? Apa kau habis menangis?"

"Gak ada-"

"Jangan bilang tidak ada apa-apa," sela Hinata tegas. Dia menggenggam erat tanganku dan menatapku tajam. "Apa karena Sai? Atau pernyataan Sasuke kemarin?"

Aku bangun dan memalingkan wajahku ke jendela, memikirkan hal lain selain masalah ini. Jujur, rasanya melelahkan harus memikirkan terus menerus mengenai perasaan Sasuke padaku dan juga kepergian Sai.

Itu semua membuatku bingung dan sedih. Tapi aku harus apa? Aku hanya bisa pasrah dan menerimanya saja kan?

"Pernyataan Sasuke kemarin telah menyebar ke seluruh sekolah, kau tahu? Ini lebih hebat dibanding pernyataanmu dulu."

Aku hanya bergumam tak jelas menanggapinya, "Hm..."

"Semuanya penasaran dengan jawabanmu, termasuk aku, tentunya..." terdengar helaan nafas, "Dan juga semua ingin tahu bagaimana hubunganmu dengan Sai setelah semua ini."

Keheningan menyapa kami, dan aku tidak berniat mengakhirinya. Ah, langit yang kelam di luar sana membuatku hatiku bertambah muram, membuatku teringat pada Sai lagi.

Mudah-mudahan hujan tidak turun lagi...

... karena aku tidak ingin mengingat Sai lagi.

"Sai hari ini tidak sekolah juga," kata Hinata pada akhirnya. Mungkin dia tahu bahwa percuma menunggu jawabanku.

"Aku tahu," jawabku tanpa memandang Hinata.

"Ada kabar yang beredar bahwa Sai akan pindah sekolah," ujar Hinata.

"..."

"Katanya dia akan kembali ke Oto."

Aku memalingkan muka dengan air mata yang kembali menetes. Seketika, Hinata langsung memelukku. Dia tidak bertanya apa-apa lagi. Hinata hanya memelukku, membiarkanku menangis. Lagi.

.

mmmoooonnn

.

"Jadi itu benar?"

Aku mengangguk, "Sasuke yang mengatakannya padaku. Tadi malam."

"Begitu..."

Hinata menggenggam tanganku, "Jangan sedih, Sakura-chan. Walau Sai pergi, kalian masih bisa berhubungan kan? Konoha dan Oto kan tidak terlalu jauh. Kau juga masih bisa menghubunginya lewat tel-"

"Semua sudah berakhir," selaku dengan tangan yang mengepal erat.

"Sakura-chan..."

"Semuanya sudah berakhir, Hinata. Aku dan Sai, sudah bukan siapa-siapa lagi. Kami sudah berakhir," ulangku lagi dengan nada lebih tegas.

"Tapi kenapa? Bukankah kalian berdua baik-baik saja? Apa karena Sasuke? Apa karena Yamanaka?" tanya Hinata.

"Bukan semuanya," jawabku pelan. "Tapi karena aku. Karena Sai tidak menyukaiku. Dia... dia tidak punya perasaan apa pun padaku. Karena itu..."

Mataku berair lagi.

Sial. Sial. Sial.

Harus berapa kali aku menangis?

Aku kuat. Akan kubuktikan bahwa aku kuat, bahwa aku bisa mengatasi semua ini.

Semua ini bukan apa-apa.

"Itu tidak benar. Sai mana mungkin tidak menyukaimu. Kenapa kau berpikir seperti itu?"

"Lalu aku harus berpikir seperti apa lagi?" tanyaku dengan nada bergetar. "Aku selalu, selalu berpikir bahwa mungkin Sai menyukaiku, bahwa apa yang kurasakan bukan perasaan sepihak. Bahwa semua perhatian itu hanya milikku, bahwa kehadirannya hanya karena aku. Tapi..."

"Sakura-chan..."

Nada suaraku melemah, "Tapi... semuanya hanyalah pemikiranku. Keinginanku. Delusi atau apapun itu. Semuanya terpatahkan saat aku membuka mata, dan melihat kenyataannya."

Sesak. Sesak sekali. Apa yang kulakukan agar sesak ini menghilang?

"Sai... tidak menyukaiku," Aku menggeleng kepalaku kuat-kuat. "Tidak. Tidak. Tidak-"

"Sakura-chan, aku rasa kau salah. Mungkin karena emosi sesaat kau tidak bisa berpikir jernih. Tidak bisakah kau melihatnya? Tatapan mata Sai sama seperti tatapan mata Sasuke padamu."

"Kalau memang seperti itu... Jika memang Sai menyukaiku, kenapa dia tidak mengatakan bahwa dia sudah bertunangan?" suaraku bergetar lalu semakin lama semakin terdengar keras, keluar bersama semua sakit hati yang lama terpendam. "Kenapa dia bersikap lembut pada gadis itu? Kenapa dia berciuman dengan gadis itu? Kenapa dia tidak marah saat Sasuke menciumku? Kenapa saat itu dia mengejarku?"

Aku menarik nafas, sementara isak kecil kembali keluar dari mulutku.

("Kalau begitu, bukankah sudah waktunya kita akhiri semua ini?")

"Kenapa..."

("Karena itu, lebih baik kita berpisah, dengan begitu kau akan bahagia...)

"Kenapa dia... kenapa dia malah bilang kalau semua ini harus berakhir? Aku tidak ingin berpisah dengannya, aku tidak ingin semua ini berakhir, Hinata..."

"Sai selalu memerhatikanmu..." kata Hinata.

Aku mendongak seketika dan melihat Hinata sedang tersenyum, lembut.

"Sai selalu pulang sekolah paling akhir. Dia selalu berada di tempat yang sama, di sudut belakang dekat jendela perpustakaan. Aku tahu karena akulah pengurus perpustakaan. Dia selalu di sana. Kau tahu kenapa?"

Aku mengusap air mataku dan mendengarkan ucapan Hinata tanpa berniat menyelanya.

"Untuk melukis," jawab Hinata. "Dan sepertinya salah satu lukisan Sai ada di sini."

"Dia melukis pohon Sakura. Dari sana memang tampak bagus untuk dilukis," jawabku sambil melihat lukisan Sai yang teronggok di lantai kamarku.

"Tapi walau begitu, saat musim semi berakhir, dia tetap melukis di sana. Jadi aku rasa bukan Pohon Sakura yang dilukis, tapi seseorang yang memiliki nama musim semi."

"Aku?" tanyaku ragu.

"Kau selalu beristirahat di sana, kan Sakura? Setiap selesai karate, kau selalu berada di sana," kata Hinata.

"Gak selalu sih..."

"Tapi Sai selalu menunggumu di sana, tanpa kau tahu kalau dia selalu ada. Kau hanya tidak sadar, Sakura-chan. Saat kau sakit di sekolah, bukankah Sai yang dengan sigap menggendongmu ke ruang kesehatan? Saat kau kehujanan seorang diri, bukankah hanya dia yang menawarkan payungnya padamu? Saat kau sedih karena Sasuke mengacuhkanmu, bukankah Sai yang membuatmu ceria lagi? Walau dia punya cara tersendiri untuk itu, tapi itu semua sudah jelas bukan?"

Aku menggeleng.

"Sai menyukaimu, Sakura-chan..."

"Tidak mungkin," gumamku lirih, dengan perasaan tak menentu, aku mengulanginya dalam hati: tidak mungkin Sai menyukaiku.

.

mmmoooonnn

.

Aku merapikan rambutku dan memakai jaket karena dinginnya hawa di luar. Aku melirik jam di dinding. Pukul tiga sore.

Apa Sai sudah pergi ke Oto? Kenapa bisa secepat itu? Apa dia sudah memutuskan hal itu jauh-jauh hari sebelumnya?

Aku menghela nafas panjang sembari menepuk-nepuk pelan pipiku.

"Semangat, Sakura!" kataku pada diriku sendiri dengan nada yang jauh dari kata semangat. Lantas aku mengambil tas selempangku, memasukkan dompet ke dalamnya. Entah apa saja yang kumasukkan ke dalamnya, aku terlalu malas untuk mengingatnya.

Baru saja beberapa tapak langkah kuambil menjauh dari rumah, tubuhku langsung berhenti karena sosok seseorang.

Padahal belum sedetik yang lalu aku sedang memikirkan tentang ke mana aku harus pergi, tapi kini rasanya aku ingin masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di kamarku, seharian.

Aku tidak bisa, tidak sanggup berhadapan dengan orang ini.

Tapi aku bukan gadis lemah. Ya, bukankah aku sudah memutuskan untuk menjadi kuat? Bukankah aku sudah tidak ingin menangis lagi?

Langkah demi langkah kutapaki, mendekat ke arahnya, namun bukannya menjadi kuat, mengapa dadaku kian bertambah sesak?

.

mmmoooonnn

.

"Boleh bicara sebentar?" sapa gadis itu sambil tersenyum lembut.

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali.

Gadis di depanku ini sangat cantik, perangainya juga terlihat sopan dan baik.

"Apa?"

Yamanaka Ino, tunangan Sai itu, mendekat ke arahku, masih tetap tersenyum lembut, padaku.

Kenapa dia tersenyum padaku?

"Aku hanya ingin bicara sebentar. Punya waktu?"

Aku berpikir sejenak, lalu menyerah. Sudahlah, tidak ada salahnya berbicara dengannya. Lagipula, aku penasaran dengan gadis ini. Untuk apa dia ingin berbicara denganku?

"Baiklah, aku tahu tempat yang cocok untuk mengobrol," jawabku.

Dia tersenyum, "Syukurlah! Aku kira kau akan menolaknya."

Aku hanya tersenyum sekilas padanya, rasanya tak sulit melakukan hal itu di depan gadis ini.

Dia... ehm, baik.

.

mmmoooonnn

.

"Tempat ini bagus..." komentar Yamanaka Ino saat kami duduk di salah satu meja kafe ini.

Aku menggangguk, menyetujui ucapannya. Ya, tempat ini memang bagus. Saat ini kami berada di Rosemary Cafe. Tempat ini tak berubah sedikit pun dari terakhir kali aku kemari. Tetap indah dan memabukkan, tapi mengapa aku merasa hampa?

Aku memandang Ino, dan entah mengapa aku malah membayangkan jika Sai-lah yang berada di hadapanku kini. Aku menggeleng pelan.

Sial. Kenapa susah sekali rasanya?

"Kau tidak apa-apa?" tanya Ino, terselip nada cemas di suaranya. Ya Tuhan, mengapa dia begitu baik? Jika seperti ini, aku tidak mungkin menyalahkannya kan?

Jika begitu, berarti hanya akulah yang patut dipersalahkan, kan?

"Aku... baik-baik saja," jawabku sambil menunduk dan memutar-mutar sendok ke dalam tehku. "Ngomong-ngomong, apa yang ingin kau bicarakan denganku?"

"Oh, iya... " Ino tersenyum. "Maaf, aku rasa kau pasti merasa terganggu dengan kehadiranku kan? Yah, bagaimanapun juga, posisiku memang tidak terlalu mengenakkan bagi kalian."

"Maksudmu?" tanyaku tak mengerti.

"Kau pasti marah pada Sai karena tak menceritakan siapa aku sebenarnya. Tapi... tolong maafkan dia. Kau tahu, di antara semua keluarganya, mungkin dialah yang paling tidak peka," jelas Ino.

"Oh... begitu," jawabku dengan nada datar. Apa yang kuharapkan dari semua itu?

"Kami adalah teman sejak kecil. Kau pasti sudah tahu jika Sai berada di Oto, jauh dari keluarganya sejak kecil. Pamannya yang bernama Danzo, mengangkat Sai sebagai anaknya, karena dia tidak mempunyai keturunan."

"Keluarga Sai mengijinkannya?"

"Sepertinya begitu, aku tidak tahu pasti sih..." jawab Ino. "Mungkin juga karena hal itulah, Sai jadi lebih tertutup, dibandingkan dengan Sasuke yang dibesarkan oleh keluarganya sendiri. Di sana ada ayah, ibu, serta kakaknya, sementara Sai sendirian, hanya dengan Paman Danzo yang suka menyendiri."

"Aku masih ingat saat masih kecil, Sai lebih suka menyendiri dan melukis seharian di kamarnya. Walaupun, kami berteman sejak kecil, bukan berarti aku mengetahui semua hal tentang Sai, dan juga bukan berarti Sai bisa begitu peduli akan keberadaanku."

"Sebenarnya apa maksudmu menceritakan hal ini padaku? Aku rasa ini bukan hal yang penting lagi untukku," tandasku sambil menggenggam erat cangkir teh itu.

"Maksudku yang sebenarnya adalah hanya ingin mengatakan bahwa, walaupun kami bertunangan, hubungan kami tak lebih dari sekedar teman masa kecil," Ino memandang mataku dan tersenyum getir, "Sai... hanya menganggapku teman, tidak lebih."

"Lalu bagaimana denganmu?"

Ino menghela nafas, "Aku sudah menyerah."

Alisku berkerut, "Apa?"

Ino nyengir, sampai matanya menyipit, "Dulu, aku memang menyukainya, tapi seiring dengan berjalannya waktu, aku tahu. Aku menyadari jika perasaan Sai padaku tidak akan berubah. Hanya teman, tidak lebih. " Ino memangku kepalanya. "Karena itu aku menyerah, walau kami sempat ditunangkan, tapi aku rasa hubungan ini tidak akan berhasil."

"Tapi, Sai mungkin menyukaimu juga..." kataku dengan suara bergetar. Apa ya, rasa sesak ini? "Kalau tidak menyukaimu, kenapa juga dia menerima pertunangan ini?"

"Karena saat itu Sai tidak memiliki alasan untuk menolaknya," jawab Ino. "Tapi sekarang dia punya..."

Ino menatap mataku tajam seraya tersenyum hangat. Tolong, jangan katakan... jangan katakan kalau... kalau alasan Sai untuk menolak pertunangan itu adalah...

"Kau..." kata Ino jelas, sangat jelas. Kata itu berdenging di sekitar telingaku, seolah-olah memberiku harapan.

Ya, harapan palsu.

Jangan pernah lupa, Sakura...

... jika semuanya sudah berakhir.

Berakhir...

.

mmmoooonnn

.

"Sai akan pergi," kataku memecah kesunyian yang terjadi beberapa menit lalu.

Ino menghela nafas, "Aku tahu... karena itulah-"

"Jangan bilang kau ingin aku menghentikannya," selaku tajam.

"Ya, itu memang tujuanku yang sebenarnya. Aku rasa kau pasti bisa menghentikannya. Kalau denganmu, pasti Sai akan-"

"Sudah berakhir," potongku.

"Apa?" tanyanya bingung.

"Antara aku dan Sai sudah berakhir. Darimana kau mendapat keyakinan bahwa aku bisa menghentikan Sai? Kenapa semua orang seolah-olah bekerja sama mengatakan hal omong kosong seperti ini padaku?"

Ino terdiam.

"Kenapa kau menyangkalnya begitu kuat?" tanya Ino heran. "Kau tahu, jika Sai-"

"Cukup!" selaku lagi. "Aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Kemarin, Sai sudah mengatakan semuanya dengan sangat jelas. Karena itu kurasa memang tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi."

"Sakura..."

"Menghentikannya? Kenapa harus aku? Dialah yang meninggalkanku, kenapa aku harus mengejarnya, jika dia berkata kalau semua ini sudah berakhir? Apa kau senang melihatku mengejarnya seperti orang tolol?" tanyaku beruntun dengan nada kesal.

Ino menunduk, "Maafkan aku... maaf..."

Ada setitik rasa sesal tercipta di hatiku, kala aku melihat Ino. Bukan salahnya, tapi aku. Akulah yang bersalah di sini.

Selalu aku...

.

mmmoooonnn

.

Turun hujan. Hujan kali ini sangat deras, membuat suara berisik di telingaku. Kenapa harus turun hujan? Tidak tahukah bahwa hujan membuat perasaanku semakin tidak enak?

Aku mengepalkan tanganku erat, berusaha menenangkan perasaanku yang kacau balau.

Yamanaka Ino –tunangan Sai itu telah pergi beberapa menit yang lalu. Sedangkan aku masih tetap diam di kursiku, tak berniat beranjak sedikit pun dari sini.

Aku menghela nafas kesal. Kenapa semua orang suka sekali memberiku harapan palsu? Jika saja mereka tahu apa yang Sai katakan padaku, apa mereka masih bisa berkata jika pria itu menyukaiku?

Jika Sai menyukaiku, tanpa harus kuhentikan, dia pasti tidak akan pergi dari Konoha. Jika benar Sai menyukaiku, pastinya dia tidak akan membiarkanku menangis seorang diri di sini dan mengatakan jika semua ini telah berakhir.

Sai bodoh! Bodoh! Bodoh!

Tapi... akulah yang lebih bodoh, karena bisa-bisanya menyukainya. Kenapa hatiku tidak tetap menyukai Sasuke saja? Kenapa hatiku malah seenaknya berpindah menyukai Sai? Tidak tahukah bagaimana perjuanganku untuk mendapatkan Sasuke selama dua tahun belakangan ini?

Bagaimana semua hal itu bisa tak berarti hanya karena Sai?

Aku mengusap pelan mataku yang berair sembari meraih tasku dan berniat mengambil sapu tangan. Yang kuambil malah lukisan bunga dari Sai.

Aku menimbang-nimbang lalu meletakkannya di atas meja sambil menelusuri gambar-gambar bunga yang terlukis di sana. Hal konyol yang seharusnya tak kulakukan, karena membuatku teringat Sai lagi.

Mulai dari kiri ke kanan. Tanganku berhenti menunjuk di dua bunga yang aku tidak tahu namanya.

"Ini... bunga apa ya?"

"Yang pertama, Yarrow, dan di sebelahnya adalah Orchid," kata seseorang di sampingku yang membuatku sontak berbalik.

Pria berambut merah yang kukenal sebagai pelayan di sini, tersenyum ramah padaku, "Mau tambah minumnya?"

"Oh, Sasori..." aku menggeleng, "tidak usah, aku akan pergi sekarang. Terima kasih atas nama bunganya tadi."

Dia mengangguk sambil mengambil cangkirku. Mungkin karena dia adalah pelayan di tempat yang banyak bunga seperti ini membuatnya jadi banyak tahu mengenai jenis-jenis bunga.

Aku lantas berjalan keluar, berhenti sebentar di pintu masuk sambil merogoh isi tasku. Anehnya, kenapa aku selalu membawa benda-benda pemberian Sai?

Aku menghela nafas, sambil membuka payung merah berinisial S itu. Lalu berjalan pelan dan memutuskan untuk mengunjungi suatu tempat sebelum pergi.

Sambil berjalan, aku mengulang dalam hati nama bunga dalam lukisan Sai. Dimulai dari kiri.

Iris. Lilac. Oleander. Viscaria. Edelweis. Yarrow. Orchid. Uchiyamana. Sakura.

.

mmmoooonnn

.

Aku memeluk diriku sendiri, merasakan hawa dingin mengitari tubuhku. Hujan masih memukul bumi dan awan mendung di atas sana berarak beriringan, membawa suasana yang begitu kelam.

Sudah sore, pikirku. Hari ini banyak yang terjadi. Rasanya lelah juga jika terus seperti ini. Aku menepuk pipiku dengan tangan yang tak menggenggam payung, berusaha membuat rasa tak enak ini tak terlalu mengendalikanku.

Sangat susah dijelaskan bagaimana perasaanku kini. Rumit sekali. Terkadang, pikiranku kosong, membuatku melamun tak tentu arah, lalu kemudian aku teringat Sai, Sai, dan Sai... dan seperti yang sudah-sudah, aku akan merengut sambil menahan tangis.

Aku menghela nafas lagi. Aku tidak tahu bagaimana, tapi aku butuh pengalih pikiran, apapun itu. Karena itulah aku pergi ke menara ini. Menara dimana aku dan Sai... sudahlah! Untuk apa aku memikirkan hal itu lagi?

Aku hanya perlu menyendiri dan menyesuaikan hatiku, kemudian bangkit, menjalani hari-hari seperti biasa. Aku pasti bisa.

Aku membuka pintu menara dan mulai menapaki tangga panjang yang sama dimana dulu pernah kami tapaki bersama. Harusnya aku sedih lagi, menangis lagi, tapi aku hanya menghela nafas, berkali-kali.

Payung di tangan kiriku menitikkan air, membuat tangga itu basah. Penerangan di ruangan ini tak terlalu bagus. Beberapa menit sekali, terdengar suara petir jauh di atas sana yang berlomba dengan bunyi hujan yang deras. Terkadang aku memekik takut sambil memandang sekeliling.

Aku sendirian.

Sempat terpikir untuk pulang, tapi kakiku tetap melangkah, menapaki satu demi satu anak tangga. Aku tidak menyadari jika tubuhku gemetaran, entah karena kedinginan atau rasa takut yang hinggap perlahan-lahan itu.

Tapi yang jelas, aku tetap melangkah.

Lalu akhirnya aku sampai di tempat teratas. Tidak ada pemandangan indah yang terlihat dari sana. Tidak ada warna lembayung senja yang perlahan-lahan menghilang. Tidak ada pelangi yang berlomba-lomba menampilkan keindahannya, berusaha menang dari bunga-bunga mawar yang terlihat menari-nari di bawah sana.

Hanya ada pemandangan kelam, dimana semua itu tersamarkan oleh hujan. Suara guntur di atas sana membuatku ketakutan, hawa dingin itu membuatku menggigil, dan hujan membuatku sedih.

Aaah... betapa aku tidak menyukai hujan kali ini.

.

mmmoooonnn

.

Aku menutup mata, seraya membayangkan masa lalu. Seharusnya aku melupakannya, tapi jangan tanya apapun. Kuakui aku memang keras kepala, tapi kali ini saja, biarkan aku mengingat semuanya sebelum Sai benar-benar pergi dari Konoha.

Sedih rasanya saat tahu dia pergi. Sesak saat tahu bahwa bukan Sai sendiri yang mengatakannya, tapi Sasuke.

Jahat sekali kau, Sai... pergi, tanpa mengucapkan perpisahan. Jika saja, aku sedikit lebih berharga bagimu, apakah kau akan mengucapkan selamat tinggal padaku sebelum pergi?

.

("Bukannya seperti ini pacaran? Berangkat dan pulang sekolah bersama, kencan, dan lainnya. Menurutmu apa yang kurang?")

("Entahlah. Ehm… bergandengan tangan, saling mengucapkan kata cinta, berciuman, memberi cincin, dan entahlah…")

.

("Bunga apa ini?")

("Cari saja sendiri. Oh ya, kita sudah melakukan apa yang kau katakan, apa kita juga harus berciuman?")

.

(!)

("Tinggal memberi cincin saja, kan?")

.

Aku tersenyum pedih saat mengingat hari itu. Sai memang pria menyebalkan dan suka seenaknya. Di tempat ini, pertama kalinya Sai menciumku, lalu dia juga memberikan sebuah lukisan padaku.

.

("Sai, mengapa kau menerima pernyataanku?")

("Jadi kau mau ditolak?")

.

Tapi sampai kini, dia tidak pernah menjawab pertanyaanku. Kira-kira, mengapa dia menerimaku saat itu ya?

Aku menghela nafas lagi. Mungkin sudah saatnya aku pulang. Aku melirik jam tanganku, jam lima sore. Padahal masih sore, tapi sudah segelap ini. Menyebalkan, mengapa hujan tidak juga berhenti?

Sebelum pergi, aku membuka lukisan Sai itu. Aku agak penasaran mengapa dia memberikan lukisan ini padaku. Ngomong-ngomong, Sai juga pernah bilang jika dia hanya perlu memberikanku cincin saja. Kenapa dia berbicara seperti itu? Kami memang berangkat sekolah bersama, kencan, bergandengan tangan juga pernah, apalagi berciuman. Tapi... dia belum memberiku cincin dan... menyatakan cinta padaku.

Ya ampun! Ternyata aku bisa melankolis juga.

Aku memandangi lukisan itu, sambil sempat berpikir tentang pernyataan cinta Sai. Memangnya dia pernah melakukannya? Kapan?

Hah... kenapa aku malah memikirkan hal itu? Menyerahlah Sakura! Sai akan pergi dari Konoha! Lagipula kalian sudah berakhir, tidak usah memikirkan hal yang tidak perlu seperti itu!

"Ehm... ini bunga... Iris, Lilac, Oleander, Viscaria, Edelweis, Yarrow, Orchid, Uchiyamana, dan... Sakura," kataku pelan.

Bahuku menegang sejenak, menyadari sesuatu. Tunggu sebentar! Entah mengapa, aku jadi teringat dengan perkataan Sai waktu itu...

.

("Lalu inisial ini? S dari Sai kan?")

("S dari Sakura. Aku menulisnya dengan tinta hitam, bagus kan?")

.

Mataku melebar saat mengingatnya. Jangan bilang kalau...

Iris. Lilac. Oleander. Viscaria. Edelweis. Yarrow. Orchid. Uchiyamana. Sakura.

Tidak... tidak mungkin...

Iris. Lilac. Oleander. Viscaria. Edelweis. Yarrow. Orchid. Uchiyamana. Sakura.

I.L.O.V.E.Y.O.U.S

I LOVE YOU S

("S dari Sakura.")

I LOVE YOU SAKURA

.

Tanpa kusadari air mataku perlahan mengalir, tanganku bergetar pelan, "Bodoh... kenapa menyatakan cinta dengan cara sesulit ini? Kalau begini kan, jadinya aku yang susah..."

Aku mengusap air mataku, "Sai memang bodoh..."

Beberapa menit dalam diam, akhirnya aku memutuskan sesuatu. Ya, aku tahu apa yang harus aku lakukan.

"Aku... harus menghentikan Sai pergi, bagaimanapun caranya, aku harus bisa menghentikannya!" tekadku.

Aku lantas menuruni tangga dengan cepat, seraya berharap Sai belum meninggalkan Konoha.

Oh, ya, aku juga harus minta maaf pada Hinata dan juga Ino. Mereka benar, ini bukanlah omong kosong, Sai memang menyukaiku... aku dan dia memiliki perasaan yang sama!

Sai, kumohon, jangan pergi dulu! Karena sekarang giliranku untuk mengatakan bagaimana perasaanku padamu... tanpa ada kebohongan sedikit pun.

Tunggu aku!


.

.

.

T*B*C

.

.


Review?