"Himuro…. Tatsuya?"
Setelah Kagami mengucapkan nama itu, sang werewolf mengeluarkan suaranya. Kepalanya menunduk lalu entah bagaimana bulu-bulu hitam yang ada di tubuhnya perlahan menghilang tergantikan oleh sosok lelaki dengan warna rambut yang sama dengan bulunya, poni rambutnya cukup panjang sampai menutupi mata kirinya dan di dekat mata kanannya terdapat sebuah beauty mark. Lelaki itu kini mengenakan sebuah hoodie abu-abu dipadukan dengan T-shirt putih dan jeans yang tidak ketat di bagian paha sampai betisnya, lalu kalung cincinnya memperindah penampilannya.
Lelaki itu tersenyum mengarah Kagami maupun Sora. "Well, Taiga, it's been a while, am I right?" ucap Himuro dengan Bahasa Inggris yang baik namun masih ada aksen ke-Jepang-an.
"What the hell are you doing in here?" Kagami mengeratkan genggaman tangannya dengan Sora. Matanya menatap tajam Himuro.
"Kami memerlukan darahnya." Jawab Himuro dengan langsung dan menggunakan Bahasa Jepang. Kagami mengerutkan keningnya, "huh?"
"Vampire yang ada di belakangmu. Kami memerlukan darahnya."
Kagami tertegun ketika Himuro mengatakan 'vampire' dan itu sangat tertuju kepada Sora. Perempuan yang di belakangnya itu sedikit menarik tangannya. "Aku.. vampire?" Kagami mendengar gumaman pelan Sora.
"Dia seorang manusia, Tatsuya!" Kagami dengan segera menangkas pernyataan Himuro.
Himuro menaikkan salah satu alisnya, "Oh. Kalau begitu berikan dia kepadaku," ucap Himuro sambil mengulurkan kedua tangannya. "Tidak akan!" Kagami kembali membuat gelombang api pada tangannya, Himuro yang melihat ini hanya mendecak kesal lalu ia bertransformasi lagi menjadi serigala.
"Kalau begitu aku akan memaksa mengambilnya."
Ia berlari mendekati Kagami dan Sora. Kagami sudah siap meluncurkan tinjunya ke Himuro namun hal itu batal karena tiba-tiba saja Himuro terjatuh tak sadarkan diri ke tanah.
"Heh, tidak akan! Perempuan itu milik ak—kami."
Seseorang kini sudah berdiri di belakang badan serigala Himuro itu. Baik Sora maupun Kagami mengangkat wajah mereka dan menemukan sosok yang paling mereka kenal. "Ahomine!"
Aomine menyeringai kecil sambil berjalan mendekati mereka, sebelumnya ia hendak sedikit menendang tubuh tak berdaya Himuro. "Geez, Kagami, setiap Sora selalu bersamamu pasti selalu muncul masalah yang membahayakan nyawanya."
Kagami tahu bahwa nya yang dimaksud adalah nyawa Sora. Karena, mau gimana lagi, Aomine pasti tidak peduli dengan nyawa salah satu Head Representative of Dunkel Dorm! Kagami menggeram pelan.
Namun emosi Kagami mereda begitu ia merasakan bulir-bulir salju mulai turun menyentuh permukaan wajahnya. "Huh?" Sora mengangkat wajahnya, begitu pula Aomine dan Kagami. "….Yuuki?" Kagami bergumam pelan namun perempuan disebelahnya dapat mendengarnya dan menolehkan kepalanya kepada pemilik rambut merah-hitam itu.
Sora menyadari bahwa Kagami memang tampan. Memang. Namun selama ini dia menyukai Kagami, ia tak pernah melihat ekspresi Kagami yang kini berubah menjadi sangat tenang. Rahangnya pun tak terlihat kaku, pancaran matanya memberikan suasana seperti anak kecil yang baru melihat salju.
"…. Sebentar lagi akan ada badai salju, lebih baik kita kembali ke academy sekarang juga."
'Badai salju?'
"Soraaaaa!" seorang anak laki-laki berteriak sambil berlari mengejarku. Aku tertawa kecil dan terus belari menjauhinya ke dalam seluk beluk pepohonan.
Tanpa ku sadari, aku sudah berlari sangat jauh hingga kehilangan seluruh tenagaku. Dadaku terasa berat sehingga aku harus berhenti di bawah sebuah pohon untuk mengambil nafas lalu hendak berlari lagi,
"Bo! Kena kau!"
"Kyah! Hahaha!" Aku terkejut ketika anak laki-laki itu tiba-tiba muncul dari atas dengan keadaan kebalik. Kutebak kakinya bergelantung di salah satu dahan yang pendek mendekati daratan. Lalu ia meloncat turun menuju tumpukan salju yang ada di atas tanah.
Tanpa ku sadari juga, salju kini turun semakin lebat. "Cari aku!" Lelaki itu berlari pergi meninggalkanku, tidak mau kalah, aku mengejarnya dalam salju ini.
Namun terus berlari justru keadaan angin terus semakin kencang dan saljunya juga ikut turun semakin lebat. Tak lama aku sudah kehilangan jejaknya, hanya saja karena keinginanku untuk tidak kalah dari permainan ini, aku terus berlari mencoba mencarinya. Berlari dalam kegelapan bukanlah hal yang menyenangkan, sungguh.
Pada akhirnya, aku tersesat dan tak tahu arah untuk kembali ke rumah.
Lalu aku mencoba berteriak nama lelaki itu, sayangnya aku tidak ingat sama sekali namanya. Ah! Seandainya aku ingat!
Beberapa saat kemudian, aku melihat sebuah bayangan seseorang dibalik putihnya salju. Bayangan itu mendekat dan menampilkan sosok seseorang dengan mata merah pekat dan taring yang tajam. Orang itu menatapku dengan tatapan bahwa aku inilah mangsanya.
Tunggu, sepertinya aku tahu jenis makhluk ini.
Vampire.
Seketika rasa panik menjulur di tubuhku. Aku harus segera—
"Sora!"
"Eh?" Sora menatap Kagami yang tiba-tiba berteriak. "Kau… tidak apa-apa?" Kagami menurunkan suaranya dan Sora mengangguk pelan. Lelaki berambut merah itu tersenyum kecil lalu mengacak rambut cokelat Sora.
Di sisi lain, Aomine menggeleng pelan lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan Sora dan Kagami.
Perjalanan menuju academy sangatlah tidak memakan waktu lama. Kagami membawa sebuah motor sport dan membonceng Sora sedangkan Aomine….. entahlah, Sora tidak tahu kemana keberadaan lelaki itu ketika mereka pulang. Tiba-tiba saja Sora tidak dapat menemukan keberadaan Aomine setelah ia pergi menjauhi mereka berdua.
Kecepatan motor Kagami mendekati 80km/jam, sangat cepat untuk sebuah motor yang menyebabkan Sora memeluk pinggang Kagami dengan erat.
Perjalanan dari stadium kota menuju academy tidak memakan banyak waktu –terutama jika kau mengebut. Kagami memasukkan motornya ke dalam area academy dan berkendara menuju garasi khusus untuk murid Dunkel yang memiliki kendaraan.
Kagami menghentikan motornya, membiarkan Sora turun dari motornya lalu mengikuti lelaki berambut merah itu yang menaruh motornya di dalam garasi. Setelah mengunci motornya, Kagami berjalan menggandeng Sora menuju bangunan dorm.
Di kepala Kagami terngiang kejadian sebelumnya dimana seseorang yang ia kenal, Himuro Tatsuya sedang berada di Jepang.
Himuro Tatsuya adalah seorang lelaki yang lebih tua dari Kagami beberapa tahun. Ia bertemu dengan Kagami ketika Kagami berumur sekitar 5 tahun. Bagi Kagami, Himuro sudah seperti kakak laki-lakinya sendiri. Ia lah yang mengenali Kagami dengan dunia basket dan bela diri. Dimana Kagami merasa sedih, Himuro akan ada untuk menghiburnya. Dimana Kagami merasa senang, Himuro pun ikut senang.
Namun, selama Kagami mengenal Himuro, ia tidak pernah tahu bahwa Himuro adalah seorang werewolf.
Hal ini membuat pikirannya kacau sehingga setelah berpisah dari Sora ia segera berjalan menuju sebuah perpustakaan kecil milik Rintaro. Perpustakaan itu terletak di sebelah ruang kerjanya, namun perpustakaan itu hanya bisa dimasuki melalui sebuah pintu rahasia dibalik lemari besar di kantor Rintaro. Jadi, Kagami pergi menuju kantornya terlebih dahulu.
Untungnya, disaat itu Rintaro sedang ada urusan di luar kota jadi ia bisa keluar masuk tanpa khawatir (mengingat juga statusnya sebagai Head-Representative Dunkel yang memiliki akses pada banyak hal di Academy). Setelah berada di dalam kantor Rintaro, ia segera mengunci pintu.
Kakinya lalu melangkah mendekati sebuah lemari besar. Ia bergerak menuju ujung sisi lemari lalu menariknya, menjaga juga agar buku-buku yang ada tidak jatuh. Ketika lemari sudah bergeser, tampak sebuah pintu kayu yang terlihat masih baru walaupun pintu itu sudah ada sejak lama.
Kagami memutar knop pintu dan membukanya, lalu ia melangkah masuk. Ruangan yang ada di dalamnya cukup gelap namun Kagami tahu dimana lokasi tombol lampu jadi ia menyalakan lampunya dengan cepat.
Lampu di ruangan itu akhirnya menyala. Sinar putih menerangi dinding dan lemari kayu yang berisi banyak buku tentang berbagai hal. Kagami bergerak menuju lemari buku yang berisi buku-buku tentang jenis-jenis makhluk yang ada di dunia ini.
Matanya menatap jeli huruf-huruf Jepang yang menjelaskan judulnya. Vampire, Human, Android, Witch, dan sebagainya. Hingga akhirnya ia menemukan buku yang ia cari, Werewolf.
Tangannya meraih buku itu lalu membuka lembarannya satu persatu. Mata membaca kalimat-kalimat yang tertera. Lalu ia membuka index buku dan mencari halaman yang menyatakan nama-nama keluarga yang termasuk dalam golongan Werewolf.
Itu berujung pada penemuannya di bagian nama dengan awalan H, Himuro.
"Vampire yang ada di belakangmu. Kami memerlukan darahnya."
Kagami menyeringitkan dahinya, lalu ia membalikkan halaman buku itu. Tak lama ia menemukan sebuah bagian yang menjelaskan sesuatu yang menarik namun tak ia sukai.
Sora membuka pintu kamarnya, lalu ia melangkah masuk. Ia tidak begitu terkejut ketika mendapatkan Aomine sudah terbaring di kasurnya sendiri (secara tidak langsung Sora menerima keadaan seluruh murid di academy itu yang 'unik' dan termasuk Aomine karena ia seorang Vampire).
"Maaf merepotkanmu atas kejadian tadi…" ucap Sora pelan sambil duduk di kasur miliknya yang bersebrangan dengan kasur Aomine.
Aomine mengangkat tangannya lalu melambaikannya sebagai tanda 'tidak masalah'. Sora tersenyum kecil lalu membaringkan badannya.
"Dua hari lagi di Sapporo terdapat sebuah festival besar. Apa kau tertarik untuk pergi kesana, um maksudku kesana bersamaku? Mumpung kita dalam sesi libur." Sora membalikkan badannya mengarah Aomine. Sedangkan lelaki berkulit gelap itu tampak terkejut dengan kedua bola matanya kini menatap Sora.
"Hah? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Aomine yang membuat Sora tersenyum. Lalu lelaki berkulit gelap itu menghembuskan nafasnya berat, "baiklah." Mendengar jawaban itu, senyum Sora semakin lebar. "Kalau begitu, dari kota menuju Sapporo setidaknya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Eum… Aomine, apakah tidak apa-apa jika kita berangkat pagi hari dan menghabiskan waktu siang hari disana? Jika kau keberatan karena sinar—"
"Tidak apa-apa. Metabolisme tubuhku dapat menahan sinar matahari." Aomine memejamkan matanya.
Sora mengendus pelan, "baiklah kalau begitu. Aku akan mengingatkanmu besok. Selamat tidur, Aomine."
Aomine tersenyum kecil ketika mendengar ucapan selamat tidur dari Sora. Setelah itu ia benar-benar tertidur sedangkan disisi lain Sora terbangun dari kasurnya dan menuju kamar mandi.
Di kamar mandi, Sora mengganti pakaiannya menjadi t-shirt dan training panjang untuk tidur. Lalu ia juga membersihkan wajahnya, membasuhnya dengan air dingin di wastafel. Kemudian ia mengangkat wajahnya menuju kaca yang melekat rapi di dinding berwarna abu-abu gelap itu. Matanya menatap tajam ke sosok pantulan dirinya.
"Vampire yang ada di belakangmu. Kami memerlukan darahnya."
Maksud dari lelaki Werewolf itu dirinya kan?
Tapi…. Bukankah ia seorang manusia… murni?
Mata cokelat itu adalah mata aslinya. Tidak berwarna merah.
Gigi taringnya tidak panjang dan lancip.
Kulitnya tidak sangat pucat seperti kulit Aomine yang pucat –walaupun kulitnya gelap.
Tidak. Tidak mungkin ia adalah seorang Vampire.
Sora menghela nafasnya lalu ia menepuk wajahnya pelan. 'Ayolah aku bukan seorang Vampire' ucap batin dirinya.
Setelah itu ia berjalan keluar dari kamar mandi menuju kasurnya. Ketika ia hendak menjatuhkan dirinya ke atas kasur, Sora mencium aroma musky-cinnamon-pine yang kuat. Sora memalingkan wajahnya menuju Aomine lalu hidungnya mengendus aroma tersebut.
Aroma itu berasal dari Aomine yang tertidur. Sora mendekatinya lalu duduk di sampingnya. Tangannya yang ramping meraih kening Aomine lalu mengusap rambut navy bluenya.
Dan aroma yang ia cium semakin kuat.
Saking kuatnya membuat Sora merasa haus akan sesuatu. Sora memejamkan matanya lalu membaringkan dirinya di sebelah Aomine. Badannya mengarah ke lelaki pemilik surai navy blue itu. Wajahnya bergerak menuju leher Aomine. Ditaruh kepalanya pada bahu Aomine. Dengan mata yang masih terpejam, ia menghirup aroma maskulin Aomine yang sangat kuat.
Hal itu berakhir pada Sora yang melingkarkan lengannya pada Aomine dan ia jatuh tertidur.
Aomine Daiki terbangun dari tidurnya ketika ia merasakan hawa panas menyelimutinya.
Kelopak matanya terbuka. Remang-remang cahaya bulan malam menyinari kamarnya, tidak hanya itu, cahaya bulan juga menyinari sosok perempuan yang kini tertidur di sampingnya dengan suhu tubuh yang tinggi dan penuh keringat.
'Demam?'
Aomine bangun dari posisi tidurnya menjadi duduk lalu menaruh tangannya di kening Sora. "Sora?" panggilnya pelan. Tangan itu turun menuju pipinya, kemudian turun menuju lehernya dan ke bahunya. Ia mengguncang perempuan itu.
"Sora!"
Mata Sora masih terpejam, nafasnya terengah-engah. Aomine tahu sesuatu ada yang tidak beres. Namun ia tidak tahu pasti apakah Sora sakit demam dan mendapat mimpi buruk atau…..
Atau?
Tunggu!
Aomine mengerjapkan matanya. Ia tahu apa yang terjadi. Dan ia juga tahu apa yang harus ia lakukan maka ia segera meraih pergelangan tangan Sora dan mengigitnya.
Begitu digigit oleh Aomine, kedua kelopak mata Sora terbuka. Ia terbangkit dari posisi tidurnya menjadi duduk sambil mengerang kencang. Iris matanya yang awalnya berwarna cokelat kini berubah menjadi merah pekat. Mata itu kemudian menjatuhkan tetesan air mata ke wajahnya.
Aomine menekan bekas gigitan di pergelangan tangan Sora dengan jari tangan kirinya sedangkan tangan kanannya meraih wajahnya dan menyeka air mata yang jatuh itu. Sora memejamkan matanya. "Daiki…. Tubuh ini….." bibir Sora bergetar.
Aomine mengangkat alisnya, Sora sebelumnya tidak pernah memanggilnya dengan nama awalannya kecuali ketika Aomine iseng dan memintanya.
"Tunggu," Aomine meraih sebuah botol air minum dan sebuah botol yang berisi kapsul darah. Ia segera membuka tutup kedua botol itu, mengambil satu kapsul dan mencelupkannya ke botol berisi air tersebut. Kapsul itu perlahan memudar di dalam air dan menyatu dengan air, membuat airnya berubah menjadi berwarna merah darah yang pekat dan juga rasanya.
Aomine menyentuhkan kepala botol air minum ke bibir Sora, ia membantu perempuan itu untuk meminum cairan tersebut. Aomine berharap Sora akan menjadi lebih tenang. Lalu sang perempuan meneguknya dengan pelan hingga tiba-tiba ia terbatuk keras.
"P..perih…"
Inilah yang Aomine takutkan.
Ia sangat takut jika tubuh seorang Vampire tidak bisa menerima darah yang sudah menerima banyak bahan kimia. Terutama jika 'seorang' itu adalah diri Sora yang sebenarnya.
Jika seorang Vampire tidak bisa menerima jenis darah itu dalam tubuhnya, maka ia tidak akan makan apa-pun kecuali keinginannya : darah murni dari tubuh orang lain. Jika ia tidak makan, sama saja seperti manusia, mereka akan perlahan menjadi lemah. Pada beberapa kasus, ada Vampire yang memiliki grade tinggi namun karena lama tidak meminum darah manusia murni ia berubah menjadi Low-grade Vampire atau ia bisa berujung pada kematian.
Aomine tidak ingin Sora mati maupun gradenya turun.
Namun di saat seperti ini haruskah ia pergi menuju kota dan membunuh satu manusia untuk dijadikan santapan Sora?
Tidak. Itu tidak mungkin.
Lalu haruskah ia membunuh salah satu murid yang ada di academy ini?
Itu terlalu beresiko karena ia tidak ingin melanggar peraturan penting di academy tentang hak hidup para creatures –kecuali creatures yang membahayakan murid lain, maka creatures itu harus dimusnahkan oleh para representative dan partnernya (seperti Kagami dan Aomine).
'Berarti hanya ada satu jalan…'
Aomine menarik Sora mendekat tubuhnya. Tangan kanannya berada di belakang kepala Sora, ia menarik kepala itu mendekati lehernya. Kedua tangan Sora tiba-tiba mencekram lengan atas Aomine.
"Tidak apa-apa, ambil lah." Bisik Aomine pada telinga Sora. Perempuan itu menghembuskan nafasnya pada kulit leher Aomine, kemudian ia merasakan taringnya mulai memanjang dan meruncing. Tanpa ia sadari, taringnya sudah menembus arterinya, membuat darah Aomine keluar mengarah kulitnya dan Sora menghisapnya.
Tubuh Aomine merasakan geli pada seluruh bagiannya. Tanpa sadar, ia mengeluarkan suara erotis dari mulutnya.
Begitu ia sadar, ia segera menutup mulutnya, menahan suara itu keluar. Namun, hal itu tak bisa ia tahan dan berakhir ia membiarkan suara erotisnya keluar. Wajahnya memerah akan malu karena seharusnya ia bisa menahan hal itu.
Setelah Sora selesai mengambil darahnya, perempuan itu tertunduk. Keningnya ada pada bahu Aomine. Nafasnya terdengar berat di telinga Aomine. Lelaki itu meraih kedua tangan Sora lalu memegangnya erat, terkadang ia mengelus telapak tangan sang perempuan.
Aomine menarik wajahnya, menjauhi lehernya dari wajah Sora lalu meratapi kedua bola mata Sora dalam. Mata Sora memancarkan ekspresi kehilangan dan kebingungan walaupun otot-otot wajahnya tidak mendukung. Aomine kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Sora yang di permukaannya masih ada sedikit bulir darah, ia menempelkan bibirnya lalu menjilati darah-darah itu dan berakhir pada ia melepaskannya dengan sebuah suara kecupan.
"Selamat datang kembali, Sora Yuuki." bisik Aomine pelan.
Tangan Sora bergetar meraih wajah Aomine, memeganginya lembut pada pipinya. Kedua pupil Sora membesar,
"Daiki, inikah…. Dirimu?"
To be Continued
A/N : Entah kenapa saya agak kurang puas di chapter ini... Mana ditambah update yang lambat ;w; gomenasaiiiii. /bow/
saya kena writer's block untuk fic ini. Tiba-tiba gitu aja kehilangan semua sense-nya. Padahal dulu sense fic ini kuat banget, di otak udah terencana nanti bagaimana, ini bagaimana, itu bagaimana dan sekarang? Buyar begitu saja ;w;
Saya tidak bisa menjanjikan chapter 11 bakal update cepat ;w; karena saya sendiri perlu mendalami character development Sora disini yang 'sesungguhnya' sudah mulai keluar dan memori-memori Aomine, Sora, dan Kagami sendiri perlahan mulai muncul.
Untuk yang menanyakan kemunculan Akashi lagi, mungkin nanti. Saya mau fokusin ke jalan ceritanya dahulu. Akashi disini perannya ngga terlalu mempengaruhi plotnya jadi... ya... ._. (Kuroko juga, dia muncul cuman kenalan doang habis itu udah. sama aja kayak Akashi di chapter awal sih. orz)
Makasih ya udah mampir dan baca. Makasih juga buat 1,3k viewsnya, mungkin bagi author di luar sana itu sedikit tapi bagi saya ini sebuah hal yang banyak '-')9
Terlebih lagi makasih buat kalian yang udah ngasih review. 33 /tebar cinta/
