Disclaimer : Naruto bukan milik saya
Don't like don't read
Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC
.
.
Hanami
.
.
Hinata meletakkan telapak tangannya di pipi Sasuke. Ibu jarinya membelai perlahan tulang pipi pria itu.
Pria ini memiliki salah satu kekuatan mata terkuat di muka bumi. Sasuke bisa menciptakan kehancuran dan kerusakan hanya dalam hitungan detik.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Sasuke perlahan.
Hinata kembali menarik tangannya. "Aku sedang memikirkan betapa mudahnya kau menghancurkanku."
"Apa kau takut?"
"Bohong jika aku mengatakan tidak." Kata Hinata sambil meletakkan dahinya di dada Sasuke.
Kontak fisik kini menjadi hal yang biasa diantara mereka. Tidak ada lagi rasa canggung yang tersisa ketika mereka berdua berbaring bersama dalam keadaan tanpa busana. Untuk apa merasa canggung? Toh, tiap malam mereka akan melepaskan pakaian yang melekat di badan lalu saling bercumbu mesra, itu adalah rutinitas mereka.
"Kau benar, aku bisa menghancurkanmu dengan mudah."
Hinata lalu menciptakan jarak diantara mereka agar bisa menatap Sasuke. "Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Hm."
Hinata akan menganggap itu sebagai 'iya'.
"Seperti apakah perjalanan penebusan dosamu dulu?"
"… mengapa kau bertanya ini?"
"A-aku hanya i-ingin mendengar cerita petualanganmu." Bisik Hinata.
"Itu bukanlah cerita tentang petualangan."
Hinata menatap Sasuke agar pria itu mau bercerita.
"Itu hanyalah cerita mengenai pengembaraan biasa, tanpa arah dan tujuan. Aku hanya menurut kemana kakiku akan membawaku untuk menyaksikan seperti apa dunia ini."
"Sampai sejauh mana kau pergi?"
"Cukup jauh."
"Apakah ada tempat yang kau sukai?"
"…. Tidak."
"Mengapa?"
"Semuanya terlihat sama. Setiap kali aku mendongakkan wajahku maka aku selalu melihat langit, matahari, bulan, dan bintang yang sama."
"Lalu mengapa kau selalu melanjutkan untuk berjalan?"
Sasuke nampak berpikir sejenak. "Karena ketika aku mengunjungi sebuah tempat yang baru dan asing, aku bisa berjalan dengan bebas tanpa takut ada seseorang yang bisa mengenaliku. Aku akan berjalan dan berjalan hingga berhenti di suatu tempat dimana tidak ada seorangpun yang tahu nama 'Uchiha'. Ketika tidak ada yang mengenaliku, aku bisa menemukan sebuah ketenangan karena tidak ada seorangpun yang tahu tentang kejahatan yang kulakukan ataupun kesalahan yang kuperbuat. Dan ketika mereka mulai sadar siapa aku sebenarnya, aku akan kembali berjalan pergi."
"Apakah suatu saat nanti kau akan kembali pergi meninggalkan Konoha?"
Sasuke menatap Hinata lekat-lekat. "Jika 'ya' maka apa yang akan kau lakukan?"
Hinata tersenyum getir. "Aku tidak akan pernah bisa menahanmu untuk tetap tinggal disini. Jika kau memutuskan untuk pergi, maka aku tidak bisa menghentikan niatmu itu."
"Seandainya aku memang pergi, apakah kau akan membenciku?"
"Jika 'ya' maka apa yang akan kau lakukan?" Balas Hinata.
"Maka bencilah aku."
"Aku tidak ingin membencimu."
Kini mereka berdua terdiam.
Hinata memejamkan matanya. Ia tahu Konoha menyimpan beberapa kenangan buruk yang tidak bisa dilupakan Sasuke. Tidak ada seorangpun yang bisa melupakan rasa sakit kehilangan seluruh anggota keluarga dan klan.
Jika memang Sasuke memutuskan untuk pergi…
Apa yang bisa Hinata lakukan?
Hinata kembali membuka matanya ketika ia merasakan tangan Sasuke membelai pipinya.
"Apa yang telah kau lakukan padaku?"
Hinata mengerutkan dahinya. Apa maksud perkataan Sasuke itu?
Sasuke mendekatkan wajahnya. "Mengapa kau membuatku tidak bisa berhenti memikirkanmu? Mengapa kau membuatku selalu menginginkanmu?"
Jantung Hinata berdebar kencang.
"Kau seperti candu bagiku, apa kau tahu itu?"
"Ti-tidak." Bisik Hinata dengan lirih.
"Jika aku pergi, maukah kau ikut bersamaku?"
Sepasang bola mata Hinata membulat. "K-kau mengajakku?"
Sasuke hanya diam.
"Tidak bisakah kau tinggal di Konoha selamanya? Ini adalah tempat kelahiranmu, ini adalah tempat dimana teman-temanmu berada, ini adalah-"
"Tempat dimana semua anggota klanku musnah." Potong Sasuke dengan nada dingin.
"A-aku…"
"Aku memang telah bersumpah untuk melindungi Konoha, namun itu bukan berarti aku bisa melupakan apa yang telah terjadi. Aku tidak bisa jika harus mencintai Konoha sepenuhnya."
Dan ketika Hinata menatap mata Sasuke, ia tahu.
Kegelapan dalam diri Sasuke belum sirna sepenuhnya.
.
.
Festival Hanami yang Hinata tunggu-tunggu akhirnya telah tiba. Hokage-sama sangat murah hati dengan meliburkan semua shinobi untuk satu hari ini saja agar semua orang bisa berkumpul bersama keluarga serta teman-temannya untuk menikmati Hanami.
Para rookie 11 menggelar tikar dan duduk bersama di bawah pohon sakura yang sedang mekar-mekarnya. Sangat jarang sekali mereka mendapatkan kesempatan untuk duduk bersama-sama seperti ini. Tak jauh dari tempat mereka duduk, para sensei juga turut menggelar tikar, tak ketinggalan pula Hokage keenam yang ikut bergabung dan duduk bersebelahan dengan Maito Gai. Si kecil Mirai berlarian kesana kemari sambil ditemani oleh Akamaru sementara Kurenai terlihat asyik mengobrol dengan Shizune.
Suasana berlangsung dengan ceria dan menyenangkan. Suara obrolan dan tawa mengalir dengan deras. Chouji mengeluarkan setumpuk bento berukuran besar yang langsung diserbu oleh para nakama tanpa malu-malu lagi. Kotak bento itu langsung kosong hanya dengan hitungan menit, masakan Akimichi memang terkenal kelezatannya. Tak lama kemudian Sai turut bergabung sambil membawa empat botol sake yang langsung disambar dengan antusias.
Hinata lalu mengeluarkan sebotol besar teh manis dingin yang sengaja ia bawa dari rumah, tak lupa ia menawarkan minuman itu pada para teman-temannya.
"Terima kasih." Kata Tenten saat Hinata menuangkan minuman itu ke gelas plastiknya. Kunoichi bercepol itu lalu mengeluarkan sekotak sakura mochi. "Apa kau mau?" Tawarnya dengan ramah.
Hinata lalu mengambil satu tusuk sakura mochi yang berisi tiga buah kue berwarna pink, putih, dan hijau. "Terima kasih, Tenten-san." Ia lalu mulai mencicipinya. "Ini enak."
Setelah memakan habis kuenya, Hinata lalu mengeluarkan bento yang ia bawa. Ia membawa empat kotak bento, satu untuk dia, satu untuk Sasuke, dan dua bento besar berisi lauk-pauk untuk dibagi bersama para nakama. Membawa bento, makanan kecil, dan minuman adalah hal yang biasa dilakukan saat bersantai sambil menikmati Hanami. Tidak hanya Hinata, Ino dan yang lainya juga mengeluarkan bento mereka. Hinata lalu menyodorkan kotak bento berwarna merah pada Sasuke yang duduk disampingnya. Hinata sengaja menambah ekstra potongan tomat di bento Sasuke. Pria itu hanya mengangguk sekilas sambil menerima bento itu.
"Wah, imutnya." Puji Tenten sambil mengamati potongan wortel yang dibentuk mirip bunga sakura di bento Hinata.
"Cicipilah."
Tenten mengambil satu buah tamagoyaki dan langsung memakannya. "Enak. Kau yang memasak semuanya?"
"Iya."
"Aku tidak pandai memasak." Keluh Tenten. "Aku hanya bisa membuat sushi dan onigiri saja."
"Jika belajar pasti bisa."
"Terima kasih, Sakura-chan." Suara keras Naruto terdengar menggema. Pemuda berambut kuning itu menerima dengan riang bento yang disodorkan Sakura padanya. Kiba dan Lee merapat ke arah Naruto karena merasa penasaran dengan isi kotak bento Naruto.
Hinata memakan bentonya dengan tenang. Akhir-akhir ini rumor tentang hubungan Sakura dan Naruto berhembus kencang. Semua orang membenarkan bahwa keduanya kini memang berkencan. Sampai saat ini Hinata masih teringat dengan tatapan Sakura pada Sasuke. Kunoichi berambut merah muda itu jelas-jelas masih menyukai Sasuke, lalu mengapa ia dan Naruto…
Hinata berhenti mengunyah. Jika Sakura memang menjalin hubungan dengan Naruto maka itu tidak ada hubungannya dengan Hinata. Ia tidak berhak ikut campur tentang masalah percintaan Sakura. Hinata lalu melirik Sasuke yang duduk di sampingnya. Ia tidak ingin membuat Sasuke salah paham, Hinata tidak ingin dituduh masih mencintai dan mengharapkan Naruto meski ia kini telah memiliki suami.
Jika ada yang bertanya apakah Hinata masih mencintai Naruto maka Hinata akan dengan tegas menjawab tidak. Hinata memang masih belum bisa melupakan Naruto, namun perasaan cintanya tidak lagi menggebu-gebu seperti dulu. Bisa dibilang jika perasaan cintanya kini perlahan pudar.
Itu adalah hal yang bagus kan?
Tiga puluh menit kemudian suasana berubah menjadi hingar-bingar karena Naruto dan Lee sedang bertanding siapa yang bisa menari paling konyol. Kiba dan Shino memukul-mukulkan sumpit pada botol yang telah kosong untuk menciptakan irama pengiring. Ino, Sakura dan Tenten mengiringinya dengan suara tepukan tangan, sesekali mereka meneriakkan kata-kata penyemangat. Suasana bertambah riuh karena kini semua orang di area itu turut menyaksikan pertandingan konyol itu dan bersorak-sorak ria, suara teriakan Gai-sensei yang penuh semangat terdengar sangat jelas.
Hinata kembali melirik Sasuke. Pria berambut hitam itu tetap terlihat tenang meski dikelilingi oleh keriuhan di sekitarnya. Hinata kemudian tersenyum ketika menyaksikan bibir Sasuke yang perlahan melengkung membentuk sebuah senyuman tipis.
Inilah yang dibutuhkan oleh Sasuke, berada di sekeliling teman-temannya.
Bukannya menyendiri dan menjalani kehidupan sebagai seorang pengembara.
Hinata lalu menyandarkan kepalanya di pundak Sasuke. Telinganya samar-samar bisa menangkap suara detak jantung Sasuke yang berdentum merdu. Hinata lalu menutup matanya perlahan saat Sasuke memeluk pinggangnya.
Berada diantara keriuhan dan hingar-bingar ini entah mengapa Hinata justru merasa tenang.
Pelukan di pinggangnya semakin bertambah erat.
.
.
Jangan lupa komen ya^^
