Title: The Sweet Hostage
Cast:
-Kim Ryeowook / Wookie
-Kim Yesung and other
Genre: Romance, Crime
Disclaimer: Semua cast milik Tuhan, orangtua nya dan SMEnt. Fict ini merupakan remake dari novel karya Nesti Mindha. Saya cuma mengubah beberapa saja.
Summary: Ryeowook patah hati ketika tahu kekasihnya tidur dengan dosen genit di kampusnya. Untuk balas dendam, Ryeowook mengobrak-abrik rumah dosennya. Namun, aksi Ryeowook direkam oleh pria menyeramkan. Pria itu mengancam akan menyebarkan video itu kalau Ryeowook tak mau membantunya.
Warning: Genderswitch, Typho(s) bertebaran. Don't Like Don't Read, ok?
~YeWook~
"Jadi, mobilmu hancur total?"
"Aku baru saja ditelepon. Kata mekaniknya, luarnya saja yang parah. Mesinnya masih oke."
"Ah, menurutku itu hancur namanya. Walaupun bengkel itu bisa mengembalikan seperti semula, hasilnya tak akan sesempurna cat asli. Pasti lama-lama appa kan tahu, dan kau pasti akan kena getahnya," omel Eunhyuk di seberang telepon.
Kuakui, aku tak bisa memendam masalahku tanpa berbagi dengan Eunhyuk. Dia penasihat terbaikku, walaupun dia Ratu Ngomel dan ahli membuatku marah tentang masalah Yesung, khususnya kejadian terakhir di bake shop. Tapi demi masalah ini, aku sengaja menunda amarahku. "Kalau begitu, aku akan mengakuinya kalau sampai appa menanyakannya. Kau tahu kan kalau aku ini anak gadis kesayangannya?" sindirku.
Selama kami tumbuh bersama, memang terlihat jelas aku dianggap anak emas appaku. Semasa kecil, akulah si anak bandel dan si tukang pembuat onar. Sedangkan Eunhyuk adalah sosok anak manis, jauh bertolak belakang denganku. Tapi, akulah yang selalu appa bela setiap eomma mengeluarkan "taringnya" atas ulahku dan keinginanku untuk selalu men jadi prioritas utama appa. Awalnya aku masa bodoh, tapi semakin aku tumbuh, aku merasa berslah kepada Eunhyuk yang selalu bersikap sebagai kakak yang baik. Dia tak pernah protes, penyabar, penyayang, dan selalu mengerti keadaanku.
Eunhyuk pura-pura tergelak. "Oh ya, benar. Meskipun kau tak melaporkan masalah ini kepada appa dan polisi, kau akan tetap menjadi incaran penjahat itu. Mereka akan dengan mudah dengan membunuhmu. Kuucapkan selamat, adikku tersayang."
"Tidak! Sebelum penjahat itu membunuhku, aku yang akan membunuh mereka duluan. Mereka kira aku bodoh dan penakut, padahal aku tahu siapa mereka." Aku meringis senang.
"Oh.. oh.. apakah dosen genit itu yang kaumaksud?" Suara Eunhyuk mirip suara orang tercekik.
Tawaku meledak, "Memangnya siapa lagi kalau bukan perawan tua itu? Oh, dibantu satu orang lagi kurasa. Karena pagi ini aku melihat mantan pacarku terlihat sangat senang. Dia tertawa sepanjang pagi." Aku menggeram.
Terbayang lagi Changmin dan gerombolannya duduk berkelompok di kantin pagi tadi. Saat itu aku berniat menyusul Kibum dan Taemin yang sudah duluan makan di kantin. Dari kejauhan aku melihat tawa Changmin yang begitu lepas dan bahagia, membuat kecurigaanku semakin kuat. Sejak Changmin tahu aku 'meneror' dosen tercintanya itu, dia jarang terlihat tertawa dan wajahnya seperti tertekan. Bukannya aku besar kepala, tapi aku memang bisa merasakan perbedaannya. Dan pemandangan pagi ini adalah buktinya. Dia dan Jessica pasti bersorak gembira karena sukses membalas perbuatanku.
"Astaga! Mereka benar-benar brengsek! Apa kau sudah melabrak mereka?" Tanya Eunhyuk bersemangat.
Pikiran Eunhyuk sejalan denganku dalam hal ini. "Sayangnya belum. Aku masih menyiapkan kejutan, lagipula dosen itu pagi ini tak terlihat di kampus. Mungkin aku harus menjenguk rumahnya. Siapa tahu saking senangnya mengerjaiku, dia jatuh sakit."
"Jangan, Wookie! Jangan datangi rumahnya. Kau bisa selesaikan di kampus, Bahaya kalau kau ke rumahnya. Sulit menebak apa yang bisa dilakukan seseorang saat dalam keadaan marah dan tertekan," omel Eunhyuk lantang di telingaku.
"Ayolah, Hyuk,, Aku bisa jaga diri. Lagipula dalam situasi ini, akulah orang yang marah tertekan itu! Sudah ya, aku mau makan dulu, mengisi tenaga."
"Wook, tunggu! Wook…"
Aku menekan tombol di kabel headset-ku dan menarik lepas headset itu dari telinga. Hilang sudah teriakan Eunhyuk dan nyaman rasanya. Gara-gara melihat Changmin tadi di kantin, napsu makanku jadi hilang. Akhirnya, sekarang perutku jadi keroncongan. Aku beruntung saat melihat papan restoran fast food di kiri jalan, jadi secepatnya kubelokkan mobilku.
xXxXx
Sebenarnya ini sudah lewat jam makan siang, tapi antrian di konter cukup panjang. Aku mengantri di konter ketiga, berada di urutan keempat dalam berisanku.
Otakku sedang kebingungan memilih menu apa yang akan kupesan saat aku tak sengaja melihat Kyuhyun di meja kasir kedua. Seorang pelayan menyerahkan nampan berisi beberapa gelas cola dan meminta Kyuhyun menunggu sejenak.
Gawat! Alarm tanda bahaya memenuhi pikiranku. Aku sedang tak ingin bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan Yesung sekarang. Firasatku bertambah buruk saat kuhitung gela cola di hadapan Kyuhyun, tiga gelas, berarti dia tak sendirian. Beruntung aku berdiri di belakang lelaki bertumbuh besar dan tambun sehingga menutupi tubuhku dari Kyuhyun. Harap-harap cemas aku memutar kepala dan mengedarkan pandanganku untuk menemukan…
Rambut pirang lelaki yang sangat kukenal. Yesung..
Aku memaki-maki dalam hati sembari bergerak maju dan menyembunyikan wajahku dari Kyuhyun, lalu kembali mencuri pandamg ke arah Yesung yang duduk di kursi dekat dinding kaca bagian bangunan ini. Beruntung mereka tak melihat wajahku ketika masuk, pasti gawat jika mereka tahu aku disini. Aku bisa melihat tatapan yeoja-yeoja yang melirim kagum ke arah Yesung yang saat ini memakai kaos merah dan bercelana pendek. Mereka saja terpukau, apalagi aku, yang berdiri dengan lutut gemetar dan suhu tubuh meningkat. Rasanya sudah seabad tak bertemu dan mendengarkannya memanggilku dengan suaranya yang khas, tapi melihat senyumnya sekarang…
Semburat panas di pipiku kian menjadi dan terasa membakar seluruh tubuhku. Seorang wanita berambut coklat kemerahan duduk di sebelah Yesung, membalas senyumannya sambil melontarkan kata-kata yang membuat wajah Yesung bersemu merah. Belum puas, tangan wanita itu terangkat dan mengusap pipi Yesung dengan sayang.
Aku harus mencekik wanita itu.
"Selamat siang, mau pesan apa?" Suara wanita di depanku membuatku tersentak. Aku menatapnya dengan napas memburu dan mata membelalak lebar. Orang-orang di antrian memandangi heran. Barulah aku sadar di mana aku sekarang. Sementara Kyuhyun sudah menghilang dan pelayan itu menatapku takut-takut.
"Satu double cheeseburger, satu Coke dan satu kentang goreng ukuran besar. Dibungkus ya!" Suaraku terdengar seperti robot, begitu juga gerakan tubuhku saat mengeluarkan beberapa uang untuk membayarnya. Begitu pesananku siap, segera saja aku menyambarnya dan berlari tanpa menoleh ke arah Yesung lagi.
Tubuhku terhantam cukup keras, tapi bersyukur tak sampai tersungkur jatuh dan menyebabkan daftar kesialanku bertambah panjang.
"Ah, maaf. Anda baik-baik saja?"
Tubuhku menegang menatap wanita yang berdiri di depanku dengan tatapan khawatir. Dia baru saja kembali dari tempat cuci tangan saat aku mengincar pintu sampiing restoran ini. Sialnya aku ini, kenapa sih nasib selalu mempertemukanku dengan orang-orang yang membuat otakku bertambah kacau?
Kupaksakan tersenyum, tapi sulit sekali mengangkat sudut-sudut bibirku sementara membayangkan wanita inilah yang tadi mengusap-usap Yesung dengan… argh… "Ya.. Jangan khawatir. Saya baik-baik saja. Permisi.."
Bisa dikatakan aku berlari ketika meloloskan diri dari wanita itu dan masuk ke mobilku yang pengap. Kulempar bungkusan makanan ke jok samping, hilang sudah selera makanku. Kupukul setir mobil yang tak bersalah, lalu kubenamkan wajahku dia atasnya. Berikutnya hanya ada suara detak jantung cepat dan isakan kecil.
Kau tak pantas menangisinya, Wookie. Sejak awal kau sudah tahu dia penjahat kan? Dia buronan dan tak ada yang menjamin kalau dia bukan pembunuh. Sejak awal kau Cuma sanderanya kan? Kau cemburu? Kau mencintainya? Tidak! Cinta tak datang secepat itu. Dia mempermainkan kakakmu dan sekarang… lihat wanita itu. Dia mempermainkanmu, Wookie!
"Arghh.."
Kuputar kunci mobil dan kuinjak pedal gas dalam. Aku melesat cepat dari sana menuju tempat pembuangan emosi, pelampiasan kemarahan sudah menanti.
xXxXx
Sexy, Free and Single milik Super Junior mengentak lembut dari radio mobilku. Tanpa sadar kepala dan kakiku bergerak-gerak mengikuti iramanya. Bahakan kau ikut menyanyi tanpa peduli remahan kentang goring yang kukunyah jatuh mengotori kursi. Masa bodoh. Aku sedang dalam misi menipu diri. Maksudku, berusaha sekuat tenaga melupakan apa yang kulihat tadi. Aku berusaha melupakan Yesung dan segala sesuatu yang menyangkut dirinya.
Saat lagu berakhir, perasaan sebal itu muncul lagi. Aku sudah berjanji, setidaknya untuk sisa hari ini, aku tak akan menangisi Yesung. Kulirik jam di dasbor, hampir jam Sembilan malam dan rumah di balik pagar tembok putih itu masih sepi persis ketika aku datang siang tadi. Jessica tak ada di kampus dan rumahnya kosong. Batal sudah balasan kejutan untuknya, padahal aku sudah bersemangat sekali menjadikannya tempat pelampiasan emosiku.
Ah, rasanya berat juga berada di sini, karena tempat ini adalah awal pertemuanku dengan buronan itu dan menjadi awal kesialan-kesialan yang menimpaku.
"Cukup! Jangan mengingatnya lagi," pekikku. Kuputuskan untuk bersabar sedikit, mungkin Jessica punya janji kencan lain. Malah bagus kalau aku memergokinya pulang membawa pulang lelaki lain, itu bisa menambah daftar catatan hitamnya.
Burgerku sudah habis sejak sore, kentang goreng juga barusan habis dan minumanku tinggal satu sedotan lagi. Kumatikan radio dan menggantinya dengan menyalakan TV mobil. Pantulan sinarnya mungkin akan membuat orang yang lewat curiga, apalagi sudah sejak siang aku memarkir mobilku di depan rumah Jessica. Tapi bisa saja kan, mereka menganggapku kerabat Jessica yang setia menunggu kepulangannya? Terserahlah.
Televisi yang menyala langsung mennyiarkan berita, Biasanya aku langsung mengganti chanel dengan acara yang menarik lainnya, tapi kali ini aku tak berminat. Pikiranku mengembara kemana-mana.
Apa yang dilakukan Changmin sekarang?
Aku mengambil ponsel dan mendial nomor seseorang. Cukup lama nada tunggunya hingga telepon diangkat.
"Yeoboseyo,," sapa lawan bicaraku, suaranya terdengar kecil tertelan sura berisik di belakangnya.
"Yeoboseyo, Yun.. Changmin lagi bersamamu tidak?"
"Iya nih, Wook. Kami baru saja manggung. Kamu mau bicara dengannya?" Teriakn Yunho mencoba melawan kebisingan.
"Tidak usah." Aku menarik napas, mencoba sekuat tenaga umtuk tidak bicara meluap-luap karena menahan emosi seharian. "Changmin mengajak orang lain tidak kesana?"
Tak ada jawaban beberapa detik, dan aku bisa tahu apa yang dipikirkan Yunho, informan terbaikku. Dia mulai tergagap. "Ti..Ti-tidak.."
"Kumohon, Yun.. Aku Cuma ingin tahu apakah Jessica ada di sana?" rengekku.
Suara berisik di belakang Yunho mulai berkurang. Kurasa karena Yunho sudah bergerak menjauh dan menghindari kebisingan itu, atau tepatnya menghindar dari Changmin.
"Wook, bukannya aku tak mau memberitahumu. Tapi gara-gara pertengkaranmu dengan Changmin waktu lalu, konsentrasi Changmin pecah. Manajer kami mengamuk terus karena performa dan pamor band kami berkurang. Kamu tahu kan, wartawan gossip terus memburunya untuk mencari tahu alasan putusnya kalian berdua. Sudah begitu, Changmin kepergok mabuk oleh wartawan. Sialnya dia memukul cameramen media itu. Beruntung Changmin tak dilaporkan polisi, tapi kami jadi bulan-bulanan pers… Maaf, Wook, tapi aku tak mau kau memperpanjang masalah," terang Yunho dengan nada memohon.
Aku kaget dengan berita Changmin yang memukul cameramen. Tak bisa kubayangkan dia mengepalkan tangannya yang mulusnya itu lalu menghantamkannya ke muka seseorang. Kelakuannya sangat berbeda dengan citra "malaikat" alias anak baik-baik yang sudah dibangun Changmin. Wah, sudah berapa lama kau melewatkan acara gossip? Mau tak mau, sebagian besar hatiku bersorak senang atas berita itu.
"Aku minta maaf kalau putusnya hubungan kami berdampak buruk pada band kalian. Tapi kamu tak bisa menyalahkanku, Yun," tegasku.
Yunho menghela napas. "Memang, ini semua gara-gara Changmin. Kalau boleh jujur, dia bukan Changmin yang dulu kukenal."
Aku ikut menghela napas, memyetujui pernyataan Yunho. "Yun, kumohon, kasih tahu aku, Jessica ada di sana tidak? Aku janji tak akan mencari masalah dengan Changmin. Aku Cuma ingin bertemu Jessica. Dia berhutang sesuatu padaku."
Hening sesaat sebelum akhirnya Yunho menyerah. "Aku tahu, Wook? Selain Changmin, Jessica-lah yang seharusnya disalahkan atas terpuruknya band kami. Perempuan tak tahu malu itu sudah mengacaukan hidup Changmin. Sebelum taruhan sialan itu, Changmin sudah menjalin hubungan dengan Jessica. Maaf, karena baru memberitahumu sekarang, Wook. Jessica ada di sini kok. Tolong selamatkan Changmin dari kekacauan."
Mataku terpejam dan kugigit bibir bawahku kuat. "Jadi, di mana kalian sekarang?"
Setelah Yunho nenyebutkan lokasi suatu tempat, kututup ponselku. Gigiku gemeletuk menahan emosi. Ucapan Yunho barusan berputar-putar di kepalaku. Changmin memang sudah berkhianat sejak dulu. Betapa bodohnya aku ini,..
Ah, sudahlah. Bukan saatnya bersedih sekarang. Kini saatnya balas dendam yang sesungguhnya.
xXxXx
Aku kurang menyukai tempat ramai, apalagi pub. Namun kali ini demi tugas mulia yang kuemban, kurelakan sebagian hati kecilku yang kecewa berat.
Aku juga sedikit merasa menyesal karena seharian ini aku sudah seperti satpam menunggui rumah Jessica, dan kini aku tampak menyedihkan sebagai mantan artis yang bau keringat. Seharian aku belum sempat pulang. Tapi jika aku pulang hanya untuk sekedar membasahi tubuhku dengan parfum mahal lalu aku ke sini tanpa mendapati pasangan mesum itu, pasti aku akan menyesal berkali lipat.
Setidaknya aku masih beruntung, karena pagi tadi aku memakai legging hitam dipadu minidress biru langit bercorak garis-garis. Cukup layak untuk ke pub. Kuputuskan untuk melepas kardiganku dan memamerkan bahu dan lenganku yang putih bersih.
Tinggal urusan sepatu.. Hm, aku ingat pernah dipaksa eomma menemaninya ke acara pesta temannya naik mobil ini. Waktu itu kakiku bengkak karena kelamaan berdiri, dan begitu keluar dari ballroom, kulempar high heels-ku ke bawah kursi belakang. Mungkin masih ada.
Yup, ketemu! Aku siap melaksanakan aksiku.
Kembali aku menatap cermin yang menggantung di atas dasbor, debu dan minyak di wajah sudah kubersihkan dengan tisu dan kertas penyerap minyak. Sedikit menebalkan beda dan lipstick serta langkah terakhirku, menguraikan rambut panjangku dan menyisirnya rapi. Kuanggap penampilanku cukup sempurna.
Aku merasa sedikit konyol karena bibirku mengucapkan sebaris do'a begitu turun dari mobil. Kupikir tak ada salahnya berjaga-jaga tentang kemungkinn terburuk yang bisa saja terjadi di dalam sana. Aku berjalan tegap dan terkesan sok angkuh menuju pintu masuk pub yang dijaga dua pria berotot berpakaian serba hitam. Changmin pernah mengajakku ke tempat seperti ini untuk menemaninya manggung. Kibum, Taemin dan aku pernah iseng-iseng menikmati hiburan malam, tapi selebihnya bisa disebut aku hanya gadis rumahan yang memuakkan seperti kata Changmin. Ya ampun, mengingat namanya saja membuatku marah.
"Bisa tunjukkan kartu identitas?" tegur salah satu penjaga pintu pub.
Kusodorkan kartu identitasku dengan raut tak sabaran dan kubayar uang masuknya. Tanpa panjang lebar lagi, aku segera masuk ke ruangan yang ingar-bingar.
Kata Yunho, ini pub baru yang mulai beroperasi sekitar sebulanan, jadi mereka memberikan harga miring, dan memberikan acara-acara keren untuk menarik pengunjung. Dan malam ini, TVXQ Band tampil sebagai hiburan pendukung.
Aku sempat ingin berteriak karena begitu sesaknya pub ini dengan manusia-manusia yang berpakaian glamor dan minim, sambil berharap Jessica langsung muncul di hadapanku. Tapi karena aku tak mungkin melakukan hal sekonyol itu, kupaksakan diriku berbaur dn berimpitan dengan pengunjung pub sembari menajamkan mata mencari sosok Jessica.
Sebuah neja bar moderna terletak lurus dari pintu masuk, kursi-kursi tingginya hampir terisi penuh. Kuamati, tak ada Jessica di sana. Ruangan yang cenderung suram dengan kerlap-kerlip lampu pub yang berpitar dan berpendar membuatku semakin menyipitkan mata saat aku mengitari ruangan yang sesak oleh manusia.
Sesaat aku berhenti, memfokuskan mata ke arah panggung yang terletak di tengah ruangan. Anak-anak muda seumuranku terlihat sedang asyik berjingkrak mengikuti alunan music yang terdengar menghantam gendang telinga. Pasti bukan band-nya Changmin. Aku masih berusaha mencari keberadaan Jessica ataupun Changmin tanpa memedulikan lirikan dan siulan menggoda dari sekelompok namja sok keren.
"Maaf, apa benar malam ini TVXQ Band tampil disini?" tanyaku pada seorang waitress yang lewat di depanku.
"Ya, benar. Mereka ada disana, sibuk melayani tanda tangan dan foto bersama." Tunjuk waitress itu dengan seringai lebar.
Aku balas tersenyum sekilas dan pergi tanpa berniat memesan minuman apapun. Sepertinya, kalaupun minum minuman nonalkohol, aku tetap akan mabuk karena amarah.
Dari tempatku berdiri, tampak di pojok ruangan sebuah sofa hitam diduduki anggota TVXQ Band. Yunho juga masih di sana, duduk bersenda gurau dengan para penggemarnya. Tapi tak ada Changmin diantara mereka, termasuk Jessica. Kembali pikiranku menjadi kacau dan darahku terasa mendidih. Bisa saja aku bertanya kepada Yunho dimana Changmin sekarang, tetapi aku tak mau mendapat tatapan tak suka dari gadis-gadis penggemar karena telah mengganggu mereka. Kuputar kepalaku dengan perasaan marah dan kutajamkan kembali pandanganku seantero pub. Aku baru saja akan berputar arah saat kulihat sekelebat sosok Jesica sedang terburu-buru masuk ke toilet. Secepat kilat aku melangkah kesana.
Toilet wanita di pub ini tak terlalu luas, hanya ada lima bilik toilet yang bernuansa putih. Ada beberap kebetulan yang membuatku senang. Pertama, aku tak melihat keberadaan petugas cleaning service. Kedua, seorang pengunjung toilet terakhir baru saja keluar dan tinggal aku dan dosenku tercinta di toilet ini. Jessica terlonjak kaget saat akan memasuki salah satu bilik toilet paling pojok dan mendapati di belakangnya setelah mengunci pintu ruangan toilet dari dalam.
"Heh! Kenapa kau disini? Mau apa kamu?" teriak Jessica sambil berkacak pinggang berjalan ke arahku.
Aku menahan napas dari serbuan aroma toilet umum sambil berdecak pura-pura kaget. "Aduh, tenang, sonsae.. Rileks saja! Sebagai mahasiswi yang sopan, saya Cuma mau menyapa dosen tercinta yang hari ini tak saya jumpai di kampus. Dan justru.. oh.. saya tak menduga bisa bertemu di tempat sekeren ini," kataku dramatis.
Jessica membalas senyumku dengan pelototan marah. "Dasar mahasiswi tak tahu aturan!" teriaknya.
"Jaga mulutmu, Sonsaengnim!" balasku. "Kita tahu siapa diantara kita yang tahu aturan."
Jessica tampak kalut sejenak, lalu merogoh tas tangannya. Aku sudah mulai menciut karena kukira dia akan mengeluarkan senjata tajam, ternyata dia mengeluarkan rokok. Dan dalam beberapa detik dia sudah berhasil menyalakan rokok untuknya sendiri.
Jessica terkekeh. Mengangkat alisnya ke arah sambil mengembuskan asap rokoknya tinggi-tinggi. "Oke. Mau apa kau mengunciku disini? Kau mau Changmin?"
Wow! Dosenku ini memang perawan tua yang punya banyak kejutan. Lihat! Tampangnya sekarang sudah jauh berbeda dari kesan dosen professional. Dia sudah berubah wujud ke sosok aslinya tanpa butuh tongkat ajaib Sailormoon, hanya butuh pancingan amarah dan tempat lebih tertutup.
"Oh, terima kasih banyak . Aku benar-benar bersyukur bisa lepas darinya."
Jessica terkekh lagi. "Oh ya? Kulihat kau sangat menderita diputuskan Changmin. Mumpung sedang berdua, kita bisa saling curhat." Dia mengisap rokoknya dalam-dalam. Kubiarkan dia berceloteh sebelum 'kutendang'. "Ryeowook yang malang, kau tahu tidak, changmin selingkuh denganku seminggu setelah kalian jadian?" Mata Jessica mengamatiku cukup lama. "Ya ampun, kau benar-benar tak tahu?" tawa Jessica meledak.
Kukepalkan tanganku erat menahan emosi. "Sialan! Kau sengaja menggodanya kan?"
Wajah Jessica memerah puas. Bahkan aku sebal dengan air mata yang keluar dari efek tertawanya yang memuakkan.
"Mungkin iya, mungkin tidak. Waktu itu mobilku mogok dan kebetulan kekasihmu yang tampan dan hot itu menolongku. Aku memintanya mampir ke rumah, tiba-tiba suasana jadi romantic dan…" Dia melirik nakal ke arahku dan tertawa makin keras. "Waktu Changmin kutanya apakah dia tak menyesal, dia menggeleng. Katanya kau terlalu mudah ditipu. Dan alasan dia tak mau putus denganmu sejak dulu adalah.. kukira kau sudah tahu jawabannya kan?"
"Demi pamor.. cih!" desisku jijik.
"Tepat sekali, sayang." Jessica kembali tertawa dan aku tak tahan untuk segera mencekiknya. "Kau benar-benar mudah ditipu. Aku sudah lama tidur dengan kekasihmu, tapi baru kemarin-kemarin kau mengacak rumahku. Sangat kekanakan. Padahal kalau kau bicara baik-baik, kita bisa berbagi kan? Lebih asyik." Dia mengerling nakal. Menjijikkan.
Tawa Jessica berubah menjadi erengan saat terjanganku mendarat di tubuhnya. Penuh amarah, kutekan tubuhnya ke dinding toilet yang dingin. Kucengkeram kerah bajunya sampai rokoknya melorot. Matanya menatapku takut. Dia gemetar.
"Berbagi? Dasar perawan tua menjijikkan!" Kubenturkan lagi tubuhnya ke dinding dan baklas kutatap wanita itu dengan garang. Dia kembali mengerang. "Kalian bodoh kalau menganggapku bakalan diam saja atas semua yang kalian lakukan. Kau bisa saja merusak mobilku, tapi lain kali aku tak hanya mengobrak-abrik rumahmu, tapi akan kubakar!"
"Me-merusak mobilmu?" tanyanya dengan suara tersendat.
"Oh, bukan merusak! Kau Cuma menghancurkan mobil kesayanganku. Aku berjanji akan membuat sisa hidupmu dan Changmin tak aman lagi. Akan kubuat karir kalian hancur berantakan."
Kedua mata Jessica memandangi takut bercampur kebingungan, dan dia mengernyit saat aku menekan tubuhnya dengan salah satu lututku. "Aku tak tahu apa-apa soal mobilmu."
"Kurang ajar!" Kecengkeram pipinya yang dipoles makeup tebal dengan tangan kananku. "Katakan, siapa yang kaubayar untuk memecahkan kaca mobilku? Changmin?"
Jessica menggeleng dengan susah payah. Dia berusaha mendorongku, tapi gagal. "Aku tak tahu apa-apa, brengsek!"
Saat itulah, tamparan yang sudah lama kutahan, mendarat tepat di pipinya yang langsung menjalarkan warna merah ke seluruh wajahnya. Dia menjerit dan hampir menangis. Sekuatr tenaga dia berusaha membalasku, tapi tekananku semakin kuat. Jangan kira aku bakal menyesali perbuatanku mengingat wanita yang kutampar adalah dosenku sendiri. Dia pantas mendapatkannya.
"Sumpah! Bukan aku yang merusak mobilmu!" teriaknya sambil terisak. Suaranya mencicit. Mungkin dia sedikit shock atas tamparanku.
"Jangan sok cengeng! Bicaralah jujur atau kulaporkan ke polisi!"
Aku masih memelototi Jessica yang ternyata secengeng tikus, saat terdengar suara batuk serak tertahan di ruangan yang terkunci ini. Tubuhku menegang, sepertinya Jessica juga, karena dia memandangiku dengan raut cemas. Kucoba memasang tampang santai. Tak masalah kalau ada orang yang menguping di ruang ini. Yang tak kuinginkan adalah orang itu beranggapan kalau aku hendak membunuh Jessica, walaupun keinginan itu ada dan sangat besar di otakku.
Suara batuk itu terdengar lagi diikuti suara pecahan benda.
Alisku terangkat, menatap penuh tanya pada Jessica. Namun wanita itu hanya membuang muka dengan ekspresi pasrah. Kulepaskan cengkeramanku dengan kasar dan Jessica langsung merosot ke lantai tanpa perlawanan. Dia hanya memandangku sejenak sebelum akhirnya membuang muka lagi. Tak kuacuhkan tingkah Jessica dan aku bergerak menyusuri bilik toilet hingga langkahku terhenti di depan bilik paling pojok yang pintunya tertutup separuh. Pintu bilik yang dituju Jessica ketika aku masuk mengagetkannya. Semua pintu itu sama saja, tapi aku langsung melihat perbedaannya begitu aku mendorong pintu itu…
"Aku tak merebut kekasihmu. Aku hanya benar-benar jatuh cinta padanya."
Seluruh pancaindraku terasa lumpuh. Telingaku berdenging kuat, tapi aku masih mendengar gumaman lirih dari mulut Jessica yang terdengar di belakang sana. Bahkan setelah kupaksa menghilangkan bayangan kabur di mataku yang perih, aku tetap bisa melihatnya.
Pecahan botol kaca bening berserakan di sekitar kloset, dan seorang lelaki yang tampak berantakn serta kesakitan duduk di atas penutup kloset. Tangan krinya menggenggam jarum suntik yang mungkin baru saja dia tancapkan di lengan yang kini terkulai lemas. Tak ada sorot mata dan gairah hidup terpancar di matanya. Dia seperti seonggok bonek tali yang dicampakkan.
Lelaki itu adalah Changmin…
xXxXx
Aku langsung membalikkan badan setelah aku dan Changmin berpandangan dengan tatapan shock. Jessica masih di sana, tersungkur lemas di lantai dengan makeup yang berantakan oleh air matanya. DIa terus menikmati rokoknya tanpa memedulikanku lagi. Tingkah dua orang bodoh itu semakin membuatku kalut. Inikah maksud semua omongan Yunho? Sekacau inikah kehidupan Changmin? Dan Jesica ikut andil di dalamnya?
Tiga yeoja sudah berdiri tak sabar ketika aku membuka pintu toilet. Mereka memandangi dengan tatapan aneh, termasuk dua orang pria yang berdiri di depan toilet pria. Kubiarkan mereka berbisik-bisik dan mengumpat sebal karena aku menyabotase toilet.
Tubuhku serasa mendidih dan akan meledak di antara tekanan emosi dan tangis tertahan. Rasanya sangat berat ketika aku menembus orang yang berjubel di dalam pub. Aku menjerit kecil saat seorang pria bertubuh tambun tiba-tiba bergerak mundur tanpa melihatku di belakangnya. Karena sedikit kaget, aku kehilangan keseimbangan dan limbung ke kursi di belakangku. Beruntung aku masih bisa menggapai punggung kursi sehingga tak terjungkang. Beberapa orang di sekelilingku, termasuk wanita yang duduk di kursi itu membantuku berdiri. Aku tersenyum masam sambil menggumamkan maaf dan terima kasih.
Sambil merapikan baju, aku berniat melesat dan segera pergi dari tempat ini. Tapi sekali lagi aku dikejutkan oleh pemandangan yang membuat jantungku berdetak semakin cepat. Dua orang itu berdiri di depan meja bar, berbicara akrab dan terlihat sangat intim. Apalagi saat wanita tinggi itu menggelayut manja di lengan seorang pria.
Hankyung…
"Kamu tak apa-apa kan?" Tanya wanita yang membantuku berdiri.
Aku masih terpaku, berusaha percaya bahwa sosok yang barusan kulihat adalah Hankyung, pria berkemeja sport keren dan kali ini terlihat sangat berbeda dengan Hankyung yang kukenal. Perbedaannya terlihat semakin nyata karena kehadiran wanita seksi itu. Aku merasa oksigen yang kuhirup semakin menipis. Aku harus benar-benar keluar dari pub sialan yang menjadikan kehidupan cintaku hancur dalam semalam.
Oke, memang tak ada apa-apa antara aku dan Hankyung. Mungkin selama ini hanya aku yang keliru menafsirkan kebaikannya. Aku tak pantas marah melihatnya memeluk wanita itu. Begitu juga dengan Changmin. Lelaki brengsek, bagian masa laluku yang buruk, yang lebih memilih popularitas, dosen perawan tua, dan.. baru kuketahui lebih memilih obat-obatan terlarang. Satu lagi, Yesung. Puncak dari kesialan drama percintaanku. Aku terlalu tolol sampai-sampai bisa dipermainkan oleh cinta.
Jadi, mengapa aku menangis seperti ini?
Beban di pundakku masih terasa berat saat sisa-sisa hujan mengenai tubuhku begitu aku keluar dari pub. Aku tak peduli dan justru senang karena alam menemaniku menangis. Sepertinya aku terlalu mendramatisir keadaan.
Langkahku terseok-seok karena sibuk menangis dengan otak kacau, tapi aku masih bisa menangkap suara kecipak air dan langkah kaki di belakangku. Aku berbalik dan mendapati dua pria berjaket kulit membuntutiku.
"Maaf, apa kita saling kenal?" tanyaku serak, berusaha menghentikan isakanku. Kakiku telah membawa tubuhku ke areal parkir di samping pub. Jaket mereka tak terlalu basah, membautku merinding menyadari kemungkinan mereka sudah mengikutiku sejak di dalam pub tadi. Sadarlah aku sekarang, mereka ini dua pria yang melototiku di depan toilet.
"Kau Ryeowook kan? Ada orang yang mau bertemu denganmu?" jawab pria berkepala botak. Kulit kepalanya tampak mengilat terkena cahaya. Ketakuatan mendadak menderaku. Area parkir sepi. Ku yakin semua orang masih asyik di dalam pub, apalagi hujan begini. Harusnya kutulis juga di buku daftar masalahku, bahwa masalah datang berarti masalah buruk juga ikut datang. Aku sedikit mencuri pandang ke sekitarku, tak satupun petugas parkir terlihat, apalagi mobilku cukup jauh di belakang. Situasi ini mengingatkanku saat kejadian mobilku dirusak.
Aku mengangguk ragu dan sedikit demi sedikit melangkah mundur sambil meremas tas tanganku, berharap kegugupanku hilang. "Siapa?"
"Ada di dalam, sebaiknya kau ikut kami dulu," jawab si botak. Pria yang lebih seram dan berotot di sampingnya memelototiku.
Di dalam mana? Terlalu mencurigakan. Tampang dua lelaki ini mirip penjahat di film-film. Mendadak semua kekacauan otakku berubah menjadi ketakutan. Bulu kudukku meremang saat hujan mulai deras lagi dan udara terasa semakin dingin. Mereka mendekat, seolah mau menerkamku. Refleks aku melangkah mundur.
"Maaf, mungkin lain kali saja. Aku harus segera pulang." Aku berbalik, melangkah cepat dan kudengar mereka terus membuntutiku.
Tiba-tiba terdengar suara berat dari pria berotot yang sedari diam. "Tangkap dia!"
Susah payah aku mengeluarkan kunci mobilku, dan ketika aku melihat ke belakang, dua pria itu tengah berlari mendekat. Dengan kalut, takut, dan napas yang memburu aku cepat-cepat aku memasukkan kunci ke lubang kunci. Tapi baru saja aku meraih knopnya, satu tangan besar membekap mulutku.
"Diam dan patuhi kami, kalau kau mau tetap hidup!" ancam si pemilik tangan yang kini mencengkeram tubuhku. Mereka berusaha menyeretku tergesa-gesa sambil celingukan mengamati keadaan.
Aku berusaha menjerit, tapi si botak malah mengeratkan bekapan berjalan cepat di depan dan siap membuka pintu mobil yang terparkir tak jauh dari mobilku. Aku takut, tapi menyerah saat dua pria bertampang menyebalkan mencoba menculikku. Kukumpulkan kekuatanku pada ujung tangan dan gigiku. Kutarik tangan si botak yang membekapku, dan kugigit sekuat tenaga. Tak kugubris rasa asin yang amis di lidahku.
"Aduh! Brengsek!" makinya. Dan sebelum dia menarikku lagi, kuinjak kuat ujung sepatunya dengan tumit high heels ku. Kukerahkan seluruh tenagaku untuk mendorong pria itu sampai menubruk badan mobil di belakangnya. Kesempatan itu kugunakan untuk berlari menjauh.
"Bodoh sekali kau!"
Kudengar makian temannya yang kini berganti mengejarku. Aku sudah mencapai mobilku dan sukses membuka pintu mobil saat pria itu menjambak rambut dan menarikku kasar. Sentakan yang kuat menjalarkan sengatan panas di kepalaku.
"Tolooong… To-tolong…."
"Diam kau!"
Tinjunya bersarang di pipiku dan membuatku ganti berteriak kesakitan. Gila! Pria meninju wanita! Sama sekali bukan tindakan jantan.
Darah hangat merembes dari ujung bibirku, dan bogemnya membuatku pusing. Si botak sudah berhasil membawa mobilnya dan mendekat ke arah kami. Pria yang menjambakku membuka pintu belakang dengan satu tangan dan memdorongku masuk. Dia tak menduga saat aku berbalik cepat ke arahnya lalu memukulkan tasku tepat ke wajahnya. Sebelum dia menjambakku lagi, kutendang kemaluannya dengan sisa tenagaku. Seranganku berhasil membuatnya terjatuh dan mengumpat.
Aku hampir berhasil lagi menuju mobilku saat si botak ternyata keluar dari mobil dan hendak menangkapku. Aku berontak untuk melepaskan diri sampai kakiku terkilir, membuatku terjungkal, membentur trotoar parkir yang keras dan basah. Tubuhku berdebum dan rasa sakit menjalar di sekujur tubuhku.
"Yeoja sialan! Susah sekali kau ditangkap!" Si botak menjulang tinggi di atasku. Dia menyeringai saat memamerkan pisaunya di depan wajahku. Mata pisau itu berkilat-kilat, menandakan ketajaman yang sanggup merobek setiap lapisan kulitku. "Aku tak segan akan menghabisimu kalau kau melawan lagi!" ancamnya.
Jeritanku melengking lagi saat dia menjambak rambutku untuk menarikku bangun. Susah payah aku bangkit sambil memikirkan apalagi yang bisa kulakukan agar bisa lolos.
Tiba-tiba si botak terpental ke belakang, mengaduh dan memegangi kepalanya. Penjahat yang satunya tampak sudah agak pulih dari efek tendanganku di selangkangannya. Dai mendadak menyerbu dan bergulat dengan orang yang memukul si botak, tapi dengan satu kepalan tinju berhasil merobohkannya.
"Kau baik-baik saja, Ryeowook? Cepat bangun dan kita pergi dari sini."
Tadi aku sempat bertaruh dalam hati bahwa salah satu orang di dalam pub sana, enatah Changmin atau Hankyung, keluar menolongku. Tapi ternyata…
Napasku tercekat, kunci mobil yang kugenggam kuat serasa menusuk telapak tanganku. Aku abaikan pertanyaannya, hanya mataku yang terasa pedih. Mulutku bergetar ketakutan, begitu juga tubuhku semakin menggigil melawan dingin.
"Yesung…" Suara yang keluar dari mulutku hanya rintihan pelan.
Yesung membantuku berdiri lalu memapahku-setengah menggendong- ke arah motornya yang terparkir tak jauh dari parkiran mobil. Aneh juga bisa naik boncengannya tanpa memedulikan nyeri di seluruh tubuh, terutama kakiku. Detik berikutnya, Yesung sudah memacu motornya tanpa memedulikan terpaan hujan. Kedua tanganku melingkari pinggang Yesung penuh rasa takut, karena saat aku menoleh, kedua penjahat itu sudah bangun dan naik mobil mereka untuk mengejar kami.
TBC
Hai.. Sori atas keterlambatan update..
Sori kalau banyak typo, lagi males ngedit..
Sori juga karena minimnya yewook momen di beberapa chapter terakhir ini, tapi saya bisa pastikan chapter depan bakalan full yewook moment… Hihihi..
Makasih buat semuanya..
Sampai jumpa di chapter berikutnya..
