Title: Different
Pair: ChanHun (Chanyeol-Sehun)
Other pair: temukan saja di dalamnya
Genre: YAOI of course, INCEST, romance
Rate: M
ChanHun
.
.
.
.
.
Chanyeol dan Sehun duduk di kursi tunggu ruang ICU. Keadaan Pak Choi sangat lah parah karena kecelakaan tadi. Mobilnya menabrak kendaraan lain lalu terbalik hingga sebagiannya rusak, Polisi mengatakan itu karena rem yang tidak berfungsi.
Sehun melihat kedatangan seorang wanita paruh baya yang sepertinya adalah istri Pak Choi. Wanita itu sudah menangis sejak dari perjalanan ke Rumah sakit.
"Presdir Park, apa yang terjadi pada suamiku?" ia langsung mencengkram kedua lengan Chanyeol dengan air mata berderai.
"ia mengalami kecelakaan Nyonya" kata Chanyeol dengan nada suara dan wajah penuh penyesalan.
Tubuh wanita itu lemas, Sehun langsung menangkapnya lalu mengajak istri Pak Choi untuk duduk. Ia terus menangis dalam pelukan Sehun.
Sehun sendiri tak bisa mengatakan hal apapun, ia mengusap punggung istri Pak Choi untuk menenangkannya. Chanyeol terlihat sangat bersalah, Sehun sangat tau itu dari kegelisahan Chanyeol sedari tadi.
Beberapa menit kemudian Dokter keluar dari ruang ICU, mengatakan bahwa terjadi benturan hebat di kepala Pak Choi sehingga menyebabkan Pak Choi mengalami koma sampai waktu yang belum bisa diprediksi.
Chanyeol menggeram, mengatakan bahwa dia ingin Pak Choi sembuh apapun yang terjadi. Semua biaya harus lah Chanyeol yang menanggung karena Pak Choi sudah menjadi bagian dari keluarganya selama ini.
Dan dalam situasi ini pun istri Pak Choi masih mengkhawatirkan soal Chanyeol.
"Presdir, bagaimana dengan tugas suamiku? Apakah ada yang bisa menggantikannya untuk membantumu?"
Chanyeol tersenyum hangat, ia mengusap lengan wanita itu. "akan ada karyawanku yang lain yang akan menggantikan tugasnya sementara waktu. Nyonya tenang saja"
"apa.. Minsoo bisa membantumu, Presdir?" Minsoo adalah putra Pak Choi yang berada di tingkat akhir masa kuliahnya.
"jangan, bisa mengganggu kegiatannya. Dia belum saatnya mengemban tugas berat seperti Ayahnya"
Sedikit banyak Sehun terpesona pada kebaikan hati Chanyeol, dia tersenyum memperhatikan bagaimana sejak tadi Chanyeol menenangkan istri Pak Choi.
Setelah banyak berbicara dengan istri Pak Choi, Chanyeol pun pamit keluar dari kamar rawat Pak Choi.
"bagaimana?"
"aku tidak tega melihat keadaan Pak Choi"
"itu juga yang membuatku tidak mau masuk ke dalam" Sehun menghela napas, "apa istrinya sudah berhenti menangis?"
"ya, dia sangat terpukul. Para Polisi sudah menyelidiki penyebab kecelakaan Pak Choi, tapi aku masih merasa ada yang janggal"
"maksudmu?"
"saat pergi bersamanya, mobil Pak Choi baik-baik saja dan remnya berfungsi dengan baik" kedua alis Chanyeol menyatu dalam.
Sehun tidak ingin Chanyeol banyak berpikir, dia pasti sudah sangat lelah dengan semua hal yang terjadi. "sudahlah, ayo kita pulang dan kau harus istirahat" ia berjalan lebih dulu.
Chanyeol pun mengikuti Sehun dari belakang. Ia bersyukur Sehun mau menemaninya walaupun harus sulit membangunkan Minseok saat akan izin pergi tadi.
"hei, kau yakin akan pulang ke rumah Minseok lagi dan membangunkannya di pagi buta begini?"
Sehun menatap Chanyeol sebentar, "kau benar. aku pasti mengganggu tidurnya lagi. lalu aku harus ke mana?"
"ke rumahku tentu saja"
Ia melihat penampilan Chanyeol yang seperti orang depresi sejak mendengar kabar Pak Choi kecelakaan, Sehun khawatir Chanyeol tidak bisa mengurus dirinya sendiri bahkan untuk sekedar menenangkan diri dari sebuah masalah.
"baiklah aku ke rumahmu"
.
.
.
.
.
Sehun bosan mendengar nada tunggu yang itu-itu saja saat menghubungi Minseok.
"orang ini benar-benar nyenyak rupanya" Sehun meletakkan ponselnya kembali, ia melihat Chanyeol yang sudah selesai mandi lalu kini telah memakai piyamanya yang mungkin saja harganya sangat mahal terlihat dari bahannya yang nyaman.
Chanyeol duduk di sebelah Sehun, harum tubuhnya menguar ke hidung Sehun lalu tanpa sadar pipi anak itu merona.
"ada apa? barusan kau menghubungi siapa?" tanya Chanyeol.
"aku coba menghubungi Minseok hyung, dan syukurnya dia masih tertidur nyenyak tanpa terganggu"
Pria itu mengangguk. "sekarang tidur lah, kau juga harus istirahat" Chanyeol mengusap pipi Sehun. ia selalu jatuh cinta ketika memandang wajah cantik adiknya, entahlah dia juga tidak mengerti.
"hentikan" Sehun merasa jantungnya akan meledak, jadi dia menyingkirkan tangan Chanyeol lalu memandang ke arah lain agar tidak terkena serangan panik.
"kenapa?" Chanyeol tau saat ini Sehun tengah malu-malu.
Sehun berjengit saat menangkap seringaian Chanyeol. "kenapa sekarang kau jadi lebih sering menunjukkan wajah mesummu? Atau ini sebenarnya sering kau lakukan sebelum bertemu kembali denganku?"
Chanyeol tertawa, "aku kan sudah bilang, aku ini laki-laki. Hormonku kuat, Sehun"
"aku juga begitu, Park Chanyeol" tanggapan Sehun masih sama.
"kalau begitu apa yang salah dengan mesum? Mesum itu ada dalam diri setiap manusia, tergantung bagaimana cara mereka menunjukkannya pada yang lain. Ada yang benar-benar tidak menunjukkannya, dan ada juga yang menunjukkannya secara jelas"
Sehun menyernyit, "kau tipe yang mana sebetulnya?"
"aku menunjukkannya dengan jelas, hanya di hadapanmu"
"aku tidak suka topik pembicaraan ini" Sehun mendorong pelan tubuh Chanyeol yang semakin dekat saja dengannya.
"kau menyukainya, pipimu memerah" ia terkikik.
"tidak!"
"salahkan kulitmu yang terlalu putih" Chanyeol memeluk pinggang Sehun dan otomatis membuat tubuh mereka menempel dengan erat.
"kita hanya bisa tidur selama tiga jam sebelum kegiatan kita masing-masing dimulai pagi nanti"
"kalau begitu manfaatkan waktu tiga jam ini dengan bermesraan"
"manfaatkan waktu tiga jam ini dengan tidur nyenyak, Park Chanyeol" Sehun menyentil dahi Chanyeol. sebenarnya Chanyeol sudah akan teriak karena sentilan Sehun begitu kuat dan menyakitkan, namun dia menahannya dengan baik.
"ini tiga jam yang singkat sebelum sembilan jam lamanya tidak akan bertemu denganmu"
"Chan─ mphh" Chanyeol tak dapat menahannya lagi, dia langsung menyambar bibir Sehun kemudian melumatnya pelan.
Sehun menghela napas di antara ciuman yang lama-kelamaan menjadi cumbuan panas ini. pikiran yang tadinya kosong tanpa gairah sedikitpun kini menjadi penuh fantasi nikmat akibat tindakan Chanyeol.
Mau tidak mau, Sehun menginginkan lebih.
Chanyeol melakukan ini bukan tanpa alasan.
Disamping ia tidak bisa menahan gejolaknya, ia juga baru bisa merasa tenang dan menghilangkan semua beban di pikiran hanya dengan bersama Sehun.
Ia tidak tau bahwa Sehun juga merasakan hal yang sama. Hanya dengan Chanyeol, ia berharap hanya dengan Chanyeol Sehun bisa melupakan semua kejadian mengejutkan dalam hidupnya akhir-akhir ini.
Mereka sudah polos tanpa pakaian selembarpun.
Sehun meraung nikmat, kedua tangannya meremas rambut Chanyeol dengan gerakan abstrak sampai berantakan saat Chanyeol mengulum penisnya di bawah sana.
"ohh ahh Chanyeol" punggungnya bersandar pada bantal empuk di belakang, kedua kakinya mengangkang lebar dengan Chanyeol di antaranya saat ini.
Chanyeol menghisap penis itu kuat-kuat, mengocok twinsball Sehun agar lebih memberi rangsangan kuat padanya. hasilnya, Sehun menggelinjang keenakan akibat ulahnya.
Penis Sehun basah mengilat karena ludah Chanyeol bercampur dengan cairan pre-cum miliknya. Pipi Sehun merona parah, tatapannya melemas ke arah Chanyeol. karena itu, Chanyeol bersumpah wajah cantik Sehun saat ini adalah pemandangan terindah untuknya.
Chanyeol membungkuk di atasnya, ia kembali melahap bibir Sehun seakan tidak ada hari esok. Tangan kanannya mengocok penis Sehun lalu tangan kirinya sibuk mencubit puting Sehun hingga mencuat tegang.
"hnghh mphh" desah Sehun tertahan karena ciuman Chanyeol yang lihai.
Sehun mengagumi otot lengan Chanyeol yang terbentuk sempurna, ia mengusap-usapnya di bagian sana hingga beberapa kali. serius, Sehun menyukai tubuh Chanyeol.
Ketika ciuman mereka berakhir, Chanyeol memasukkan penisnya ke lubang Sehun. adiknya itu memekik pelan karena penis Chanyeol selalu terasa begitu besar mengoyak lubangnya.
"akhh Chanyeol nghh" ia menggigit bibir bawahnya yang sudah membengkak.
"nikmati ini" Chanyeol berbisik di telinganya kemudian mulai menggerakkan pinggul, memaju-mundurkan penisnya di dalam lubang Sehun.
Ia benci melihat seringai mesum Chanyeol, tapi dia menyukai bagaimana perlakuan Chanyeol di atas ranjang. Sehun merona hebat ketika prostatnya mengenai ujung penis Chanyeol, begitu menggairahkan.
"ohhh God, Chanyeol" Sehun tak bisa menggambarkan bagaimana nikmatnya ini.
Semakin lama, gerakan Chanyeol semakin cepat. Dengan mudahnya dia menarik kedua kaki Sehun agar tubuh Sehun sepenuhnya berbaring di atas ranjang tanpa bersandar lagi pada bantal, membuat penisnya leluasa menyentak prostat Sehun karena kaki Sehun mengangkang lebar.
"Sehun ughh" ia membungkuk lagi, merasakan kenyalnya prostat Sehun ketika bertemu dengan ujung penisnya. Chanyeol tak perlu lagi mengocok penis Sehun karena dia tau tanpa disentuh olehnya pun, Sehun sebentar lagi akan klimaks.
"hhh ah ah ahh" ia mendesah bernada seiring hentakkan Chanyeol, kedua tangannya masih berpegangan pada lengan kekar Chanyeol hingga tubuhnya bergetar.
Chanyeol mendekatkan wajahnya pada Sehun, bibir mereka hampir bersentuhan namun Chanyeol lebih memilih menatap wajah cantik Sehun dalam jarak dekat seperti ini.
Sehun membalas tatapan Chanyeol, mencoba membaca arti tatapan itu namun ia gagal. Kenikmatan ini membutakan Sehun untuk sesaat.
"akhh ahh Chanyeol, lebih cepat" ia berbisik, tatapannya memelas pada Chanyeol.
Lubang Sehun berkedut pelan, memberikan sensasi ketat pada penis Chanyeol. ia menerobos paksa lubang yang sesekali merapat itu.
Barulah kali ini Sehun merasa seperti dibelah dua, rasanya menjadi perih namun geli. "ohh! Tidak, Chan─ ahh!" ia mendongakkan kepala saat merasa gerakan Chanyeol menggila.
Chanyeol tak mengatakan apapun, ia hanya menggeram pelan sambil memperhatikan wajah Sehun dengan tatapan tajamnya. Sehun adalah tipe yang berisik ketika bercinta, dan Chanyeol sangat menyukai ketika mendengar Sehun memekik nikmat karenanya.
Tubrukan penis Chanyeol pada lubang Sehun menyebabkan suara yang jelas dan membuat keduanya semakin terangsang.
Sehun kini berpegangan pada bantal di atas kepalanya, ia mencengkram ujung bantal itu hingga mengerut saat mulut Chanyeol bermain pada dada dan putingnya. Tubuhnya terhentak ke atas dan ke bawah karena gerakan Chanyeol, ini begitu panas.
"nghh ah ah ahh" salivanya menetes dengan indah di sudut bibir.
Lidah Chanyeol menjilat sensual puting tegang Sehun, ini salah satu bagian favoritnya di tubuh Sehun karena puting Sehun sungguh menggemaskan. Ia menghisap yang sebelah kiri dan sesekali menggigitnya.
Sehun masih menahan klimaksnya karena ia merasa ingin klimas bersamaan dengan Chanyeol. ia melihat ke bawah, pipinya semakin merona hebat memperhatikan Chanyeol bermain-main dengan putingnya.
"eunhh ohh Chanyeol, lebih cepat" ia kembali memohon.
Chanyeol selesai bermain dengan puting Sehun, dia kembali berhadapan dengan wajah cantik adiknya lalu menatapnya lagi seperti psikopat gila.
"hmm kau menikmatinya sayang?" Chanyeol berbisik di bibir Sehun, lalu Sehun hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.
Mereka terus bertatapan ditengah gerakan brutal Chanyeol. Sehun mengusap rambut Chanyeol ke belakang karena sudah basah terkena keringat, dengan begitu juga dia dapat melihat wajah Chanyeol secara keseluruhan.
Penis Sehun berkedut kencang, ia sudah tidak bisa menahannya lagi.
"eunghh akhh" Sehun meringis.
Chanyeol mengecup bibirnya, "keluarkan saja, jangan kau tahan. Itu menyakitkan.."
"ahhh!" pemuda cantik itu menyemprotkan spermanya yang deras lalu membasahi perutnya dan perut Chanyeol.
"kau lega, hm?" Chanyeol mengangkat kaki kiri Sehun ke bahunya, dengan bebas dia menggesek penisnya pada rektum Sehun.
Sehun kembali menggigit bibir bawahnya merasakan hantaman penis Chanyeol yang bertambah gila pada prostatnya.
"ahhh Chanyeol ohh nghh"
Penis besar itu akhirnya berkedut, Chanyeol melesakkan penisnya lebih dalam lalu menghentakkannya tidak beraturan karena merasa akan segera mencapai puncak.
"Sehun, aku mencintaimu" kata-kata itu terdengar tepat di telinga Sehun lalu sedetik kemudian sperma Chanyeol menyembur di dalam tubuhnya.
"ahhh" Sehun memekik pelan, sperma yang hangat itu memenuhi lubangnya menghantarkan sensasi menyenangkan pada seluruh pembuluh darahnya.
Keduanya mengatur napas mereka yang terengah-engah. Chanyeol menurunkan kembali kaki kiri Sehun, ia mengusap-usap paha Sehun untuk menenangkan adiknya dan juga memberikan rasa nyaman.
"mhh kau benar-benar memanfaatkan waktu tiga jam ini dengan baik, Park" Sehun mencibir.
"hahaha sebenarnya ini belum cukup untukku" Chanyeol mencium bibir Sehun yang dibalas dengan tidak semangat oleh pemuda cantik itu, Chanyeol tau dia sudah mengantuk berat.
"eunhh cukup, aku ingin istirahat" Sehun menyamankan posisinya dan tanpa menunggu lama dia sudah tertidur nyenyak.
Tak bisa Chanyeol bayangkan bagaimana dirinya tanpa Sehun. tatapan itu menjadi sendu, menggambarkan dirinya sendiri jika harus menghadapi sesuatu yang memaksanya berpisah dengan Sehun.
Ini semua gara-gara Huang Zitao yang sudah kembali bebas berkeliaran di luar sana.
Sebenarnya, pikiran Chanyeol menjadi kalang-kabut. Ia takut Sehun direbut oleh orang lain dengan cara kotor lalu dia tidak bisa melindungi Sehun sekuat yang dia bisa.
Chanyeol harus segera menemukan si brengsek itu.
Dia mengecup kening Sehun dengan lembut, "mimpi indah"
ChanHun
Hyorin merapihkan penampilannya di depan cermin.
Gila, ini gila. Dia mendadak dijadikan sekretaris pribadi pengganti Pak Choi oleh Chanyeol. ia harus memberikan yang terbaik karena terpilih dari sekian banyak tangan kanan kepercayaan sang Presdir.
"maaf membuatmu jadi harus berangkat ke Cina lebih dulu, Hyorin" Chanyeol melangkah mendahuluinya memasuki gedung Rumah sakit tempat Grandma dirawat intensif oleh tim Dokter canggih.
Hyorin dengan tegang mengikuti langkah Presdir dari belakang. "itu tidak masalah, Presdir. Dengan begini kau bisa menggajiku lebih tinggi" sedetik kemudian Hyorin membekap mulutnya sendiri akibat sifat ceplas-ceplosnya yang sulit dihilangkan.
Chanyeol tersenyum, "dan aku menyukai sikapmu yang tidak dibuat-buat itu"
"maaf Presdir" Hyorin berkata kikuk.
"bagaimana keadaan Grandma?" ia bertanya lebih dulu sebelum bertemu dengan Dokter yang merawat Grandma.
"belum ada kemajuan Presdir, Dokter mengatakan bahwa keadaan Nyonya besar justru semakin hari semakin menurun"
Chanyeol menghela napasnya dengan kasar. "apa lagi yang harus kulakukan?" ia bertanya pada dirinya sendiri.
"Tuan Park Chanyeol" seorang Dokter menghampiri mereka. ia menyapa dengan bahasa Inggris fasih karena selama berinteraksi, Chanyeol dan Dokter ini memang harus menggunakan bahasa Inggris.
"Dokter Yixing, apakah benar keadaan Nenekku semakin buruk?" Chanyeol bertanya tanpa basa-basi.
Raut wajah Dokter Yixing menjadi mendung seketika. "itu benar, Tuan Park. Sepertinya Nenekmu tidak bisa bertahan lebih lama lagi"
Haruskah Chanyeol menerima kenyataan ini?
Pertama Ibu, lalu selanjutnya Grandma. Tuhan sedang memberikannya ujian macam apa sebenarnya?
"tidak adakah lagi yang bisa kau lakukan?" dia memelas.
Dokter Yixing menggelengkan kepala, "sampai saat ini aku dan Dokter yang lain masih melakukan berbagai cara tapi Nenekmu tetap tidak memberikan respon apapun dari fisiknya"
"aku masih tidak bisa masuk ke dalam untuk menjenguknya?"
"maaf Tuan Park, kau belum bisa menemuinya. Ini untuk kebaikannya juga, dia butuh istirahat total"
"lalu setelah itu istirahat panjang maksudmu, hah?!" karena emosi Chanyeol akhirnya membentak sang Dokter.
Namun Dokter Yixing hanya diam, dia maklum dengan sikap Chanyeol barusan. Banyak anggota keluarga pasien yang ditemuinya begitu depresi bahkan berniat untuk memukulinya karena tidak bisa menyelamatkan pasien.
Hyorin kembali tegang di belakang sang Presdir. Bagaimana dia harus berhadapan dengan Chanyeol yang sedang frustasi seharian ini nantinya?
"maafkan aku, Tuan Park" hanya itu yang bisa Dokter Yixing ucapkan.
Chanyeol mengusap kasar wajahnya, "tolong usahakan bagaimanapun caranya. Aku tidak mau kehilangan lagi"
Setelah mengucapkan itu, Chanyeol pergi dengan langkahnya yang seakan penuh beban. Hyorin mengikutinya dari belakang tanpa bicara apapun bahkan hingga mereka berada di pesawat untuk kembali ke Seoul, Hyorin masih tidak berani untuk bicara.
.
.
.
.
.
Sehun mengusap perutnya, masakan Victoria begitu lezat dan berhasil membuatnya kenyang.
"aku ingin memanggilmu Ibu mulai sekarang, apa boleh?" dengan polosnya Sehun bertanya pada Victoria.
"apa?!" Minseok menoleh kaget.
Victoria tertawa geli. "panggil saja aku Ibu, tidak masalah kok"
"apa?!" lalu sekarang Minseok menoleh kaget pada Victoria.
"kau kenapa sih hyung? pelankan suaramu" Sehun menendang kaki Minseok.
"maksudmu apa memanggilnya Ibu? Victoria kan cantik, dia belum tua!"
"jadi maksudmu semua yang dipanggil Ibu itu harus tua?"
"tentu saja, bodoh" Minseok menyernyit kesal.
"pokoknya aku mau memanggil Victoria dengan sebutan Ibu"
"Noona, noona! Panggil dia Victoria noona, dasar tidak sopan!"
"Ibu! Ibu!" Sehun memekik.
"hahaha tidak masalah sayang, nantinya kan aku juga pasti akan dipanggil Ibu oleh anak-anakku" Victoria memeluk lengan Minseok agar pacarnya berhenti marah-marah.
Minseok tersenyum, "anak-anak kita" ia mengoreksi ucapan Victoria. Gadis itu langsung merona karena kata-kata Minseok barusan.
Sehun merengut, benar kan dia jadi obat nyamuk. Seharusnya dia tidak makan siang di sini.
"hyung, sebaiknya kau cuci piring"
Minseok melongo, "memangnya kau siapa menyuruh aku mencuci piring?"
"aku Park Sehun" jawab Sehun dengan bangga.
"aku Kim Minseok" Minseok meniru gaya bicara Sehun untuk mengejeknya.
"aku Song Qian" sahut Victoria usil.
Hening sebentar.
"ya ampun pacarku cantik sekali tersenyum begitu" Minseok bergumam, ia membekap mulutnya seakan-akan terkejut pada kecantikan Victoria.
Victoria terkekeh, "jangan gombal" ia mencubit pinggang Minseok.
"aku tidak gombal sayang, itu kenyataan"
Sehun beranjak dari sana lalu memutuskan untuk mencuci piring saja daripada harus jadi obat nyamuk lagi.
Ngomong-ngomong, Sehun jadi iri pada Minseok dan Victoria yang dapat dengan bebasnya mengumbar kemesraan seperti itu di depan umum.
Lalu bagaimana dengannya dan Chanyeol?
Seketika Sehun tertawa geli sendiri, menepis pikiran konyolnya. Apa-apaan itu? memangnya siapa yang ingin mengumbar kemesraan di depan orang? Sehun tidak pernah melakukan itu bahkan dengan mantan pacarnya.
Itu menggelikan menurutnya.
Tapi kenapa dia tiba-tiba berpikiran seperti ini ya?
Apakah karena status mereka yang sebagai kakak-adik kandung?
Iya benar, status ini yang menghalangi mereka. status ini yang menunjukkan bahwa Sehun dan Chanyeol juga memiliki perbedaan mencolok.
Karena lama melamun, Sehun kaget saat mengetahui ia dipeluk seseorang dari belakang. Ia melihat lengan yang melingkar di perutnya saat ini.
"Chanyeol hyung?" dia menoleh ke belakang, tepat bertemu dengan wajah Chanyeol yang begitu dekat dengannya.
"apa yang sedang kau pikirkan? Kau bahkan tidak mendengar sapaan dariku"
"kapan kau kembali?" alih-alih menjawab, Sehun malah bertanya balik.
"baru saja aku kembali. Aku tidak bisa lama meninggalkanmu, aku harus memastikanmu aman"
Sehun tersenyum. "aku baik-baik saja, ada Minseok hyung dan Victoria noona di sini" ia melirik ke belakang, dua sejoli itu kembali bermesraan di sofa sambil menonton televisi.
"biar kubantu" Chanyeol meraih piring yang sedang dipegang Sehun.
"tidak, kau baru saja kembali. Kau harus istirahat, sebentar lagi aku selesai" Sehun menyingkirkan tangan Chanyeol, namun Chanyeol sesegera mungkin menggenggam tangan Sehun dengan erat tanpa ingin dilepaskan.
Sehun memperhatikan bagaimana tangan hangat Chanyeol meremas pelan tangannya yang penuh busa sabun.
"aku rindu padamu" Chanyeol mendekat, mengecup bibir Sehun.
"memangnya kita sudah tidak bertemu berapa hari?" ia terkekeh sambil melanjutkan kembali tugas mencuci piringnya.
"satu hari" jawab Chanyeol. dia meletakkan dagunya di bahu Sehun, terus memperhatikan wajah cantik adiknya.
"dan kau sudah rindu padaku? itu hebat sekali. aku terharu" Sehun berkata dengan nada bercanda.
"serius, aku rindu padamu"
"lalu apa? kau sudah di sini, bertemu denganku, apa masih rindu?"
"aku tidak merasa leluasa. Ada temanmu di sini"
"ini rumahnya, hyung. tentu saja dia di sini bersama pacarnya" Sehun mencuci tangannya setelah selesai mencuci piring.
"ayo kita keluar, aku ingin berduaan denganmu"
Sehun menyernyit, dia menatap ke mata Chanyeol namun hanya dibalas cengiran bodoh oleh pria itu.
"nada bicaramu seperti kau sedang memikirkan hal mesum"
Chanyeol tertawa pelan. "kau menyadarinya? Itu wajar karena aku mencintaimu"
"cinta tidak selalu berdasarkan dengan hubungan intim, hyung"
"aku mengerti. Aku kan hanya bercanda" ia mengusap rambut Sehun dengan gemas. "temani aku, hari ini aku harus menjenguk Pak Choi lagi untuk mengetahui keadaannya"
"baiklah." Sehun mengangguk. "hyung, aku akan pergi sebentar. Tidak sampai malam" dia menghampiri Minseok dan Victoria.
Minseok justru senang karena dia bisa melakukan sesuatu dengan Victoria, dan Sehun dapat menebaknya dari ekspresi sumringah Minseok. Dasar mesum.
"tentu saja. pergilah, hati-hati di jalan"
"Sehun, pacarmu sangat tampan!" Victoria berbisik gemas.
Sehun hanya tertawa lalu memakai sepatunya, sedangkan Chanyeol sudah menunggunya di depan pintu.
"Minseok-ssi, kami permisi dulu" pamit Chanyeol sebelum akhirnya dia pergi bersama Sehun.
.
.
.
.
.
Sehun tidak percaya ketika melihat keadaan Pak Choi saat ini.
Ia terbiasa melihat Pak Choi selalu berada di samping Chanyeol, namun sekarang ia terbaring lemah dengan keadaan fisik mengenaskan setelah mengalami kecalakaan.
"Presdir, sebenarnya menurutku ini adalah hal yang mencurigakan" Hyorin berbisik dan memulai analisanya setelah istri Pak Choi permisi keluar untuk membeli makanan.
Chanyeol mengangguk, "aku juga berpikir hal yang sama"
"haruskah aku menyelidiki ini, Presdir?"
"kau tanggap juga rupanya. lakukan apa yang menurutmu baik untuk dilakukan, Hyorin. Aku akan sangat berterimakasih padamu"
Hyorin tersenyum dan mengangguk, "baik, Presdir" ia meraih ponselnya lalu segera menghubungi seseorang.
"Pak Choi adalah orang yang baik, aku tidak menyangka dia mengalami kecelakaan seperti ini" Sehun bergumam.
Chanyeol mendengarnya, dia pun mendekat pada Sehun lalu mengusap punggung pemuda itu. "dan karena dia adalah orang yang sangat baik, maka aku yakin dia akan segera sembuh" ia berkata penuh keyakinan.
Sehun sedikit ngeri dengan tatapan tajam Chanyeol yang menerawang ke arah Pak Choi.
"kau berpikir ini bukan murni kecelakaan ya?" Sehun menebak.
Chanyeol dengan cepat mengangguk. "tentu saja. mobil Pak Choi selalu berada dalam keadaan aman, mobilnya terawat dengan baik, situasi seperti rem yang tidak berfungsi itu tidak pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi karena aku tau bagaimana canggihnya perawatan mobil Pak Choi"
Kedua alis Sehun ikut bertaut tajam, memikirkan bahwa perkiraan Chanyeol juga ada benarnya. Lalu siapa yang tega melakukan hal ini?
"rivalmu dalam bisnis?"
Tidak. Pak Choi hanyalah sekretaris biasa di mata para pebisnis lain yang mengenal Chanyeol. Ini sudah terjadi pada Pak Choi, maka orang ini tau bahwa Pak Choi adalah lebih dari sekedar seorang sekretaris yang selalu menyelidiki segala hal untuk membantu sang Presdir mencapai hal yang diinginkannya.
Orang yang melakukan ini adalah orang yang sudah mengetahui Chanyeol luar dan dalam. Orang yang berada di sisi Chanyeol terlalu dekat dalam jangka waktu sangat lama.
"aku masih menyelidiki ini, jadi aku belum menemukan jawaban pasti"
Sehun mengangguk-angguk, "hati-hati saja dalam melakukan sesuatu, hyung. ini juga berarti kau dalam situasi yang berbahaya"
Mungkin Sehun mengatakannya dengan nada suara datar dan sikap terlewat cuek, tapi Chanyeol tau jauh di dalam sana Sehun sangat khawatir padanya, sangat takut kehilangan Chanyeol.
Mereka lama terdiam, lalu Chanyeol menyeringai menandakan bahwa dia tau Sehun hanya berpura-pura cuek.
Dan itu benar, Sehun langsung berdecak kesal karena sikap cueknya terbongkar. "pokoknya jaga dirimu baik-baik" ia memukul lengan Chanyeol dengan cukup keras.
Chanyeol terkekeh pelan lalu merengkuh Sehun ke dalam pelukannya. "kau tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja"
Aku akan baik-baik saja.
Kata-kata Chanyeol membekas di otak Sehun. meski begitu, dia tetap menyamankan diri dalam pelukan hangat pria yang dicintainya ini.
"Presdir, aku baru saja menerima laporan dari Kepolisian" Hyorin melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan istri Pak Choi belum kembali. "memang benar terdapat banyak sidik jari pada mobil Pak Choi, juga beberapa mesin yang dirusak secara sengaja"
Saat itu juga Sehun melihat amarah Chanyeol sudah meluap namun mati-matian dia tahan. Sehun tau karena rahang Chanyeol mengatup dengan keras kemudian pria itu meneguk ludah dengan kasar beberapa kali.
"tenangkan dirimu" Sehun menggenggam tangan Chanyeol, "emosi tidak akan menyelesaikan apapun"
ChanHun
Sehun terbangun dari tidur dengan kepala yang terasa sedikit pening, ia melihat ke samping lalu mengusap rambut Chanyeol pelan. Pria itu masih nyenyak, mungkin lelah setelah aktivitas intim mereka beberapa jam yang lalu.
Tangannya meraih ponsel di atas nakas, memeriksa pesan masuk yang semuanya dikirim oleh Minseok.
Daripada membalas pesan Minseok, lebih baik Sehun menghubunginya saja.
Setelah menunggu beberapa detik, Minseok pun menjawab panggilannya. "Sehun, kapan kau pulang? Kau tidak ingin ikut makan malam di sini bersamaku dan Victoria?"
Sehun melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 7 malam.
"ah, maafkan aku hyung. sepertinya aku akan pulang terlambat, kau makan malam saja bersama Vic noona" ia memejamkan mata sebentar karena pening yang menyerang.
"kau masih bersama pacarmu? Ya sudah kalau begitu, nikmati waktumu dengannya ya" nada bicara Minseok terdengar menggoda.
Sehun berdecak. "aku bertaruh kau juga habis melakukan sesuatu dengan Vic noona"
"tidak kok, aku dan Victoria tidak pernah lebih dari sekedar berciuman"
"aku tidak percaya, kau kan mesum"
"ya.. aku sesekali pernah memegang beberapa anggota tubuhnya, tapi itu sambil bercanda jadi Victoria tidak marah padaku"
Pembicaraan Minseok semakin tidak jelas dan Sehun malas mendengarkan lebih jauh. "baiklah hyung, kita lanjutkan nanti. sampai jumpa" lalu dia memutus sambungan dari Minseok.
Sehun meletakkan ponselnya lagi di atas nakas setelah itu dia terkejut karena Chanyeol memeluk pinggangnya. "hyung? kau terbangun?" ia memastikan sambil mengusap rambut Chanyeol.
"siapa yang kau hubungi?" suara berat Chanyeol yang serak terdengar, ia mendongakkan kepala lalu menatap Sehun.
"Minseok hyung. ayo bangun, antarkan aku pulang"
"tidak bisakah kau menginap di sini saja?"
"kau masih harus mengerjakan tugas kantor kan? aku tidak mau mengganggumu, sebaiknya aku pulang"
"aku masih rindu padamu" Chanyeol memeluk pinggang Sehun dengan erat kemudian menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Sehun, menghirupnya dalam-dalam seperti ganja.
Sehun ingin mengutarakan sesuatu yang sebenarnya sudah sejak lama dia pikirkan, sejak Ibu meninggal lebih tepatnya.
Tapi dia masih menahan diri karena melihat bagaimana Chanyeol tak dapat berpisah dengan Grandma beserta jabatannya di perusahaan.
Apalagi posisi Chanyeol yang begitu penting di perusahaan tersebut.
"bisakah kita pergi jauh dari sini? Melupakan segala hal yang sudah terjadi?" gumam Sehun.
Chanyeol menyernyit, ia menatap Sehun tepat di manik mata. "apa maksudmu?"
"mungkin semuanya akan berubah lebih baik jika kita meninggalkan masa lalu, kemudian melanjutkan hidup di tempat lain"
"kau ingin meninggalkanku?" Chanyeol terdengar khawatir.
"tidak, maksudku adalah kita. Kau dan aku. kita pergi ke tempat yang jauh lebih baik, hyung"
Chanyeol terdiam sejenak. Dia mengerti apa maksud Sehun sekarang, dia mengerti apa yang Sehun pikirkan ini sepertinya sudah sejak lama dia rencanakan.
"Sehun, kita tetap akan baik-baik saja di sini" Chanyeol menggenggam kedua tangan Sehun kemudian mengecupnya pelan. "aku akan menjagamu, selalu"
Sehun menghela napas sambil memperhatikan Chanyeol. "aku akan merasa lebih aman jika kita pergi dari sini"
"kau akan aman di sini, aku janji. Aku akan menjagamu" ia mencium bibir Sehun sekilas, "percayalah padaku, Sehun"
"apa yang membuatmu berpikir bahwa semua akan baik-baik saja?" samar-samar Sehun menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan sikap Chanyeol.
"Sehun, Grandma sedang dalam keadaan kritis dan perusahaan bergantung pada diriku. Aku tidak bisa pergi begitu saja lalu menelantarkan ribuan karyawanku"
Tidak, kau hanya memikirkan kesenangan duniawi yang kau banggakan.
"Sehun?" Chanyeol tidak dapat menebak arti dibalik diamnya Sehun saat ini. Sehun tidak menunjukkan ekspresi apapun dan Chanyeol benci ketika Sehun seakan menghakimi dosa-dosanya hanya dari tatapan mata.
"kau marah padaku?" dia bertanya lagi dengan hati-hati.
"lupakan saja. sekarang antar aku pulang, aku tidak bisa menginap di sini"
Sehun marah.
Chanyeol berpikir bahwa jawabannya tadi pasti akan membuat Sehun marah, tentu saja. sekarang lihat, akibat pendirian Chanyeol yang konyol, Sehun marah padanya dan sudah pasti tidak akan mau bertemu dengannya untuk beberapa hari.
Sehun beranjak, dia meraih pakaiannya yang tercecer di lantai lalu memakainya dengan cepat tanpa menatap Chanyeol.
Sebenarnya Sehun sudah bisa menduga respon Chanyeol, dia sudah bisa menduga jawaban Chanyeol ketika mengutarakan hal yang dia pikirkan tentang pindah ke tempat yang jauh.
Ini lah perbedaan mereka.
Chanyeol dan dirinya sangat lah jauh berbeda.
Bahkan setelah ditinggal pergi oleh Ibu, Chanyeol belum bisa sepenuhnya sadar bahwa harta kekayaan serta jabatan tingginya itu tidak berarti apapun dibanding kebahagiaan murni.
"tidak usah mengantarku, aku ingin pulang sendiri"
Chanyeol buru-buru memakai pakaiannya, dia berlari ke arah Sehun yang akan segera keluar dari kamarnya. ia menahan tangan Sehun secepat kilat, "kau boleh tampar aku, kau boleh pukul aku jika kau memang marah. Tapi aku mohon, jangan mengacuhkanku seperti ini"
Sehun menepis pelan tangan Chanyeol. "coba kau pikirkan, apa yang paling membuatmu bahagia dalam hidupmu selama ini?"
Chanyeol menangkap tatapan serius Sehun yang menusuk hingga ke jantungnya.
"apa, Park Chanyeol? apa yang benar-benar membuatmu bahagia?"
Lalu Chanyeol melihat punggung sempit Sehun perlahan menjauh, pergi, meninggalkannya yang hanya bisa mematung bodoh.
.
.
.
.
.
Setelah memarkir mobilnya, Chanyeol masuk ke dalam gedung perusahaannya dengan tidak bergairah. Penampilannya pun hari ini tidak serapih dan semewah biasanya.
Dia hanya sedang malas melakukan apapun termasuk memilih dengan teliti outfit seperti apa yang ingin dia gunakan setiap harinya.
Chanyeol menyernyit bingung ketika keributan terjadi di ruangan pribadinya, ruangan Presiden Direktur.
Hyorin terlihat di sana, dia sedang marah-marah pada seseorang. Chanyeol berlari memasuki ruangannya, dia terkejut bahwa kini semua dokumen dan berkas-berkas pribadi miliknya dimasukkan ke dalam berbagai kardus, lalu satu per satu diangkut keluar ruangan oleh para petugas.
"apa yang terjadi─ Yongra?" Chanyeol melotot kaget saat melihat Yongra sedang bertatapan panas dengan Hyorin.
Gadis itu tersenyum pada Chanyeol. "maaf Park Chanyeol, sungguh sangat disayangkan sekarang ruangan ini sudah menjadi milikku"
"apa maksudmu?"
"Presdir, dia lah dalang dibalik semua ini!" Hyorin berteriak sambil menuding wajah Yongra menggunakan jari telunjuknya. "dia diam-diam menghasut semua pemegang saham dan memanipulasi surat pemindahan kekuasaan!"
"jaga bicaramu!" Yongra mendorong Hyorin dengan kasar.
Chanyeol langsung meraih tangan Hyorin lalu menarik sekretarisnya itu ke belakang tubuhnya. "inikah yang kau lakukan untuk balas dendam padaku?" ia menggeram.
"di dunia ini tidak ada yang namanya lapang dada menerima nasib, Park Chanyeol. aku harus berjuang untuk merubah nasibku" Yongra memperlihatkan sebuah surat yang dia pegang.
Itu adalah surat pemindahan kekuasaan, dan jantung Chanyeol serasa meledak di tempat saat melihat tanda tangan Grandma tertera di sana.
"kau lihat? Grandma sudah memandatkan perusahaan ini padaku"
"kurang ajar, jadi kau yang sudah membuat Grandma kritis seperti itu?! kau benar-benar jalang!" Chanyeol berteriak emosi.
"rumah Grandma beserta isinya, dan juga termasuk para maid yang bekerja di sana, resmi menjadi milikku. Kau dan Grandma sudah tak berhak lagi berada di sana" Yongra mengusap ukiran meja kerjanya yang baru, ukiran berbentuk namanya.
"Park Chanyeol, terima saja nasibmu sekarang."
Chanyeol dan Hyorin menoleh, melihat Ayah ─yang seharusnya masih berada di penjara─ kini masuk ke dalam ruangan Presdir lalu berdiri di sebelah Yongra.
"Ayah, untuk apa kau bekerjasama dengannya?" Chanyeol mengepalkan kedua tangannya dengan kesal hingga buku-buku jarinya memutih.
"aku memberikan Ayahmu saham cukup banyak karena jasanya membantuku mendapatkan tanda tangan para pemegang saham. Ayahmu memang jago berbisnis" Yongra duduk di kursinya. "sekarang, keluarlah. Kau bukan lagi seorang Presdir"
Ayah tidak mau menatap Chanyeol, dia hanya melihat ke arah lain.
Chanyeol menebak mungkin dia merasa malu karena sudah membunuh Ibu. apapun itu, Chanyeol tak dapat menahan emosinya lagi. dia berteriak menghampiri Yongra berniat untuk memukulnya, menampar, atau apapun itu untuk melampiaskan amarahnya.
Namun para petugas dengan cepat menahan tubuhnya, lalu dengan susah payah menyeretnya keluar dari ruangan.
"DASAR BRENGSEK! KALIAN AKAN TAU APA AKIBATNYA BERMAIN-MAIN DENGANKU!"
"aku mencintaimu tapi kau selalu mencampakkan aku! kau pikir, aku tidak lelah dengan sikapmu?! Sekarang terima apa yang sudah terjadi! Jika kau membalas perasaanku sejak dulu, aku tidak akan berbuat hingga sejauh ini!" Yongra menahan air matanya dengan napas memburu, menatap pada Chanyeol untuk mengeluarkan segala isi hatinya.
Chanyeol menggeram marah saat pintu ruangan Presiden Direktur telah tertutup dari dalam.
Ia dan Hyorin diseret hingga keluar dari gedung, Chanyeol melangkah gusar ke arah mobilnya yang terparkir lalu memukul kap mobil itu habis-habisan melampiaskan kekesalannya.
Hyorin panik, dia dengan berani menarik lengan Chanyeol agar berhenti memukul kap mobil mewah miliknya.
"Presdir! Presdir, hentikan! Tidak ada gunanya seperti ini!"
"mereka merebut semua ini dariku, dari Grandma! aku tidak bisa terima ini, Hyorin!" ia mencengkram bahu Hyorin lalu menatapnya dengan tajam.
Hyorin menahan sakit di bagian bahunya, "Presdir, kita bisa lakukan sesuatu! Aku akan membantu Presdir, kita bisa membalas mereka!"
Benar, Chanyeol harus melakukan sesuatu.
Chanyeol akan merebut kembali semua yang menjadi miliknya, Chanyeol akan mengambil semuanya kembali ke genggaman tangannya seperti sedia kala.
.
.
.
.
.
Tbc
Tidak ada edit, jadi maafkan typo-typonya ya~
Makasih selalu review, fav, dan follow semua ff gue. gue sayang kalian, i love you all *bow*
