Title : Beside You
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Summary : Bahkan mata pisau itu tak memihak siapapun. Haruskan Sakura menangis? "Aku tidak ingin kau mati! Kenapa harus kau? Kenapa bukan aku?!" FINAL CHAPTER UPDATE! Mind to RnR?
Pairing : Sasuke U. dan Sakura H. slight many pairing hahaha
Genre : Romance-Tragedy
Rated : T
Warning : OOC, Gaje, Garing, TIDAK ADA OC, (maaf baru dikasih tau) akan ada death chara. Bukannya ngga dikasih tau dari awal. Melainkan ingin bikin penasaran :D
Author Notes :
Chapter 10 come! Hahaaa TENONENOT-TENOOOOOTENOTENOOOOOT :D
Maaf telat Update! Gomen-nasai! Maaf banget kali ini telatnya LEBIH keterlaluan huaaaa gomen! DX *nyembah-nyembah*
Banyak misstypo pulaaaa… huaaaaaaa —pundung dipojokan—
Terima kasih pada yang sudah mereview.. Terus review yaaa…
Chapter 10 ini mogok sampai sebulan kurang *sweatdrop* GOMEN!
Maaf juga kalau chapter 9 kemaren masih jelek dan kurang ngena, serta kurang bisa dimengerti
Maaf kalo ceritanya tambah garing dan gaje, dan maaf kalo masih ada typo. Saya adalah manusia yang tak luput dari typo dan teman-teman *readers bermunculan sweatdrop*
Yang penting bacalah Final Chapter ini, kupersembahkan untuk senpai dan readers. Semoga kalian puas! Yeaaaaaaaaaaah!
***000***
"Nona Sakura, tuan Hidan sudah datang."
"Saya hanya menemukan jasad Kin mengambang di tengah kolam renang.." suara Anko parau, seperti menahan tangis.
Anko dan Suigetsu hanya mengangguk patuh. Sasuke berjalan menuju pintu keluar mansion ini. "Ayo Gaara, kita temui 'putri' kita.." Gaara, diikuti Anko segera berlari mengejar Sasuke. Gaara tersenyum. Dalam hatinya, ia mulai merelakan sang gadis. Dan semua pengorbanannya ini akan dibayar dengan senyuman manis Sakura. Tak perduli ia harus berkorban apa pun, agar sang gadis tetap tersenyum.
Beside You
Chapter 10 : Choise and Promise
Suara beberapa langkah kaki memecah keheningan hutan. Membahana ke setiap sudutnya. Menimbulkan gema disekitarnya. Sasuke memimpin dari dua orang dibelakangnya. Tak ada yang bersuara. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Setiap langkah yang ada semakin memperseram suasana. Apa yang akan dilakukan Itachi? Apa yang terjadi pada Sakura? Pertanyaan seperti itu berputar-putar diotak Sasuke dan Gaara.
GRUSAK! BRUAK!
Anko tiba-tiba terjatuh. Ia menjerit histeris, merasa kakinya tersangkut sesuatu. Gaara segera berlari ke sisi kaki Anko, mencari tahu apa yang disandung Anko. Sesosok tangan pucat muncul dari balik semak-semak, yang ternyata menjegal kaki kanan Anko. Mayat kah?, pikir Gaara ragu.
Perlahan, Gaara menyingkap semak-semak itu. Berharap tak menemukan hal apapun yang tak ia inginkan. Sasuke berdiam didekat Anko, mencoba membuat gadis itu tenang. Sesosok pucat berambut merah, tampak terkapar dibalik semak-semak itu. Mata Gaara membulat kaget. "Sasori-niisan!"
Gaara segera menarik tubuh Sasori keluar dari semak-semak. Kemeja putih yang dikenakan Sasori kotor, dan berlumur darah. Tubuhnya panas, dan wajahnya memerah. Beberapa bagian pakaiannya sobek dan penuh luka. Gaara menatap niisan-nya ngeri. "Anko, kau kuberi tugas untuk membawa dan merawat Sasori di mansion."
Anko mengangguk. Ia kemudian meraih tubuh Sasori, mencoba membuat pegangan Sasori kukuh padanya. Lalu dengan cepat ia menghilang setelah mengucapkan, "Baik tuan!"
Sasuke menjulurkan tangannya pada Gaara yang masih berjongkok. "Kita lanjutkan?"
Gaara mengangguk pasti, lalu menerima uluran tangan itu. "Tentu saja!"
Gaara dan Sasuke kini berjalan berdampingan. Keduanya masih terdiam. Gaara melirik Sasuke dengan ekor matanya. "Hey.."
"Hn?" mata onyx Sasuke melirik kearah Gaara. Mereka masih terus berjalan.
"Ada yang ingin kutanyakan.." Gaara menunduk. kembali menatap jalanan yang ada dihadapannya.
"Apa?" Sasuke memasukan tangannya kedalam saku celananya.
"Apa kau benar-benar mencintai Sakura?"
Keduanya berhenti bergerak. Saling memandang. Sasuke menatap langsung kedalam bola mata Gaara. "Kenapa kau tanyakan hal itu?"
"Karena aku penasaran." Gaara balik menatap Sasuke. Sasuke tak bergeming.
"Bagaimana kalau pertanyaan itu dikembalikan ke padamu?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya, menantang pemuda berambut merah ini.
Gaara melipat kedua tangannya di dada. "Kau dulu saja yang jawab, kan aku yang bertanya duluan."
Sasuke menghela nafas panjang. "Aku sangat mencintainya. Melebihi apa pun."
Gaara mencelos. Ia tahu jawaban seperti itu akan keluar dar mulut Sasuke. Begitu umum, begitu polos. "Apa yang telah kau lakukan demi dia?"
"Aku membiarkanmu maju sepuluh langkah lebih maju selama sepuluh tahun ini. Kupikir Sakura menyukaimu saat kita masih kecil. Karena cara dia menatapmu itu berbeda. Apalagi ia menyangka kau yang telah menyelamatkan nyawanya ketika tenggelam disungai. Aku memutuskan mundur dan membiarkan kalian bahagia. Kukira saat aku kembali, kau sudah memilikinya—membahagiakannya.." Sasuke berkata panjang lebar.
Gaara mengkerutkan keningnya. "Maksudmu?"
"Hatiku terasa perih saat melihat kalian berdua bermain. Aku tahu anak umur 6 tahun kurang pantas merasakan yang seperti itu. Tapi aku meyakini kalau Sakura adalah cinta matiku." Sasuke mengalihkan pandangannya, kembali menarik nafas panjang. "Dan aku sangat hancur ketika Sakura berjanji akan menjadi mempelai wanitamu saat dewasa kelak.."
Gaara terhenyak. "Itu kah alasan kau pindah?"
Sasuke masih buang muka. Wajahnya sangat kacau. "Ya."
"Hanya itu?" tanya Gaara ragu.
"Hanya itu." Sasuke mengepalkan erat kedua tangannya. Kedua tangannya meraih kerah kemeja krem Gaara. Mata onyx dan jade itu saling beradu. "Makanya aku kesal saat bertemu Sakura kembali, ternyata langkahmu yang seharusnya sudah sepuluh itu ternyata masih dititik nol. Kau masih jadi sekedar 'sahabat' untuknya! Padahal aku sudah mengorbankan perasaanku demi kau! Seseorang yang kuanggap paling pantas jadi pendampingnya! Seseorang yang kuanggap paling pantas jadi rivalku! Seseorang yang kuanggap sahabat, dan aku mengorbankan perasaanku untukmu.."
Wajah Sasuke benar-benar merah. Gaara tertegun. Selama ini Gaara tak pernah memikirkan Sasuke. Yang ada dibenaknya hanya kebahagiakan Sakura. Hanya perasaan Sakura. Sedikitpun Gaara tak pernah memikirkan Sasuke. Atau orang lain disekeliling Sakura. Gaara merosot dari tempatnya berdiri. Ia berjongkok. Malu. Dan Gaara kini sadar kalau dia dibutakan oleh cinta, oleh keegoisannya sendiri.
Sasuke ikut berjongkok. Tangan kanannya menepuk bahu kiri Gaara. "Sudahlah.."
"Maaf aku.." Gaara menahan air matanya keluar. Ia senang, sedih, kecewa. Senang ternyata Sasuke menganggapnya sahabat, bukan musuh. Sedih karena ia menyadari dirinya egois. Kecewa karena ternyata dirinya sangatlah sombong, hingga menganggap dirinya paling pantas untuk mendampingi Sakura.
"Ayolah, Sakura tak ingin berlama-lama dekat dengan Itachi.." ucap Sasuke membujuk Gaara. Sasuke lalu berdiri, ia kembali mengulurkan tangan kanannya pada Gaara. "Ayo selamatkan sang putri!"
Gaara tersenyum. ia meraih uluran tangan Sasuke, lagi. "Ayo!"
***
Mata jade itu semakin meredup lemah. Ini adalah tempat yang sepertinya menyedot seluruh tenaganya. Luka ditangan dan kakinya mengering. Ia melirik kebelakang dengan ekor matanya. Melirik kearah pemuda yang tadi menipunya, dan menjebaknya. Sakura sejak awal telah menaruh curiga padanya, namun semua kecurigaannya hilang gara-gara satu kata, satu nama. Sasuke Uchiha. Ironis sekali.
"Oohh, mereka datang untuk menjemput sang putri.." guman pemuda itu halus.
Mata Sakura mengikuti gerak mata onyx pemuda ini. Tampak dua orang pemuda berambut hitam dan merah berjalan berbarengan kearah Sakura yang kini berada tepat diatas jembatan di sungai kecil ini. Gaara dan Sasuke bagai membelah lautan violet. Dekapan tangan Itachi yang diujung tangannya memegang pisau itu mengeras. Sakura semakin lemah gara-gara obat bius yang diberi Itachi tadi.
"Eit! Mendekat lagi, nyawa gadis ini melayang." Itachi menekankan pisaunya kearah leher Sakura, menggertak kedua pria itu untuk mundur lagi.
"Apa maumu?" Gaara bertanya dengan suara yang menekan.
"Seperti de javu ya?" Itachi mengikik. "Bedanya sekarang bukan Matsuri yang kusekap."
Gaara hampir maju lagi, sebelum ditahan oleh Sasuke. Gaara memejamkan matanya, lalu kembali menatap sangar Itachi. "Apa maumu, huh?"
"Aku mau Sasuke."
Gaara dan Sasuke saling menatap. Sasuke kembali menatap kakaknya. "Dan yang kau inginkan dariku, adalah kematianku kan?"
Itachi tak menjawab. ia malah menarik pisaunya dari leher Sakura.
"Lalu apa yang akan terjadi padamu bila Sasuke mati?" Gaara menyela.
"Sepertinya aku akan berkumpul dengan seluruh keluargaku dialam kematian.." ucap Itachi, kembali mengikik.
Gaara dan Sasuke terhenyak. Keduanya berpikiran yang sama, 'Orang ini benar-benar gila!'
"Kenapa?" Itachi menatap Gaara dan Sasuke bergantian. "Kalian tak ingin berkorban nyawa demi gadis ini? Gadis yang kalian bilang, sangat kalian cintai?"
Sakura terhenyak. Mata jadenya yang redup berusaha menatap kearah dua orang yang berdiri dihadapannya. Dua orang yang telah memikat hatinya, dua orang yang selalu ada untuknya. Sakura harus memiliki pilihan. Pilih salah satu dari keduanya. Dipikir-pikir, ia terlalu serakah untuk berusaha membuat keduanya tetap berada disampingnya. Sakura menatap kearah pemuda bermata onyx, lalu beralih kea rah pemuda berambut merah disebelahnya. Dan Sakura memilih..
"Sakura, sikut perutnya!!!" seru Gaara, membuat Sakura spontan menyikut perut Itachi.
Itachi mengerang kesakitan. Sakura mengambil kesempatan ini untuk lari kearah Gaara dan Sasuke. Namun yang tak disangka, Itachi ternyata melemparkan pisaunya kearah Sakura. Mata Sasuke dan Gaara menangkap gerakan benda mungil nan tajam itu melesat. Dengan serampak tanpa dikomando mereka berdua berlari kearah Sakura, dan pisau itu pun menerapkan apa yang menjadi pilihan gadis bermata jade ini.
***
Sasori membuka matanya, menatap Anko yang sedang menyembuhkannya dengan obat seadanya. Sasori mencoba bangkit. "Hn.."
"Jangan bangun dulu, tuan. Anda masih terlalu lemah.." ucap Anko, kembali membaringkan Sasori ketempat tidurnya.
"Ini dimana?" tanya Sasori lemah.
"Ini di mansion keluarga Haruno, tuan.." jawab Anko dengan tundukan yang biasa.
"Kalau begitu mana Gaara?" tanya Sasori cepat. Mata hazelnya menatap langsung kearah Anko.
"Tuan Gaara dan Tuan Sasuke sedang melakukan pengejaran atas diculiknya nona Sakura oleh Itachi.." ucap Anko, masih menunduk.
"Sial!" Sasori segera berdiri. Badannya oleng, namun Anko segera menyanggahnya. "Kau, antarkan aku ketempat itu.."
"Tidak bisa tuan. Saya diberi perintah oleh tuan Gaara untuk menjaga anda di mansion ini." Anko kembali mendudukkan Sasori ditempat tidurnya.
"Meskipun nyawa Gaara terancam?" tanya Sasori cepat.
Anko terhenyak. Ia memberanikan diri menatap Sasori. "Maksud tuan?"
"Yang diincar Itachi bukanlah penderitaan Sasuke.." Sasori menunduk. "Ia sebenarnya menginginkan kebahagiaan Sasuke."
Anko terdiam. Masih tak mengerti.
***
Mata Sakura terbelalak. Ia masih terlalu terkejut untuk bisa bergerak normal lagi. Betapa tidak, orang yang amat sangat ia sayangi telah mengorbankan nyawanya untuknya. Sakura balas memeluk orang yang melindunginya erat. Sakura jatuh merosot dari tempatnya berdiri, masih memeluk orang yang melindunginya. "Kenapa kau melindungiku, Gaara?"
Wajah Gaara menampakkan raut kesakitan yang teramat sangat. Peluh membanjiri tubuhnya, menahan seluruh rasa sakit yang bersarang dari pisau yang kini menancap di punggung kanannya, tepat menusuk hatinya. Darah mengucur deras dari punggungnya, membasahi hampir setengah kemeja kremnya, dan darah yang tak sedikit itu pun ikut membasahi kemeja biru Sakura. Gaara tersenyum. "Aku lebih senang kalau kau yang selamat.."
Sakura memeluk Gaara erat. Sakura membenamkan wajahnya pada bahu bidang Gaara. Menutupi wajahnya yang meneteskan air mata, deras darah yang mengucur keluar dari punggung Gaara. "Tidak Gaara.. tidak.. kau menyiksaku bila berlaku seperti ini.."
Sasuke yang memegangi Itachi, lalu melumpuhkan Itachi dengan sekali pukul. Membuat Itachi pingsan seketika. Dengan cepat ia meraih ponsel di saku celananya, dan kemudian menghubungi rumah sakit.
Gaara melemah. Sorot matanya redup. "Sepertinya pisau itu telah menerapkan pilihanmu..ya, Sakura?"
Sakura terdiam. Terlalu sibuk dengan perasaan yang berkecamuk didadanya. "Tidak Gaara! Pisau itu tak mendengarkan dengan baik apa pilihanku!!"
"Ssst.." Gaara berusaha keras memindahkan tangannya kekepala Sakura, mengelusnya pelan, menenangkan gadis berambut merah muda ini. "Aku sudah pernah mengatakannya padamu, 'Aku tak ingin air matamu mengalir karena 'ku, apalagi karena Sasuke. Kuharap kau menjaga air matamu, jangan sampai menetes dan habis..' ya kan, Sakura?"
Sakura mengangguk, masih membenamkan wajahnya pada dada Gaara. Gaara masih menahan sakit yang bersarang dipunggungnya. "Lalu kenapa kau tak menurutinya? Hentikanlah, jangan menangis.."
Sakura perlahan mengangkat wajahnya, menatap Gaara. Menelusuri lekuk wajahnya. Gaara berusaha keras memindahkan tangan kanannya kewajah Sakura, mengelusnya pelan. Mata jade nya berusaha melihat saluruh lekuk wajah Sakura. Berusaha menghafal wajah gadis cantik ini. Takut tak bisa lagi melihatnya. Jari-jari Gaara menyeka air mata yang turun. "Kau cantik kalau tersenyum.. ukh!"
"Gaara!" ucap Sakura spontan.
Gaara tersenyum, masih menahan sakit. "Dulu Sasuke yang memberiku kesempatan seperti ini. Tapi aku tak menggunakannya dengan baik. Maka sekarang, giliranku untuk memberi kesempatan ini kepada Sasuke.." Gaara menarik nafas panjang. "Ingat lah kalau aku selalu mengawasimu. Aku tak ingin kau menangis. Lihat saja kalau kau.. berani menangis.. aku.. akan.. marah.. hh.."
"Gaara!" Sakura memeluk Gaara lagi. "Aku mencintaimu Gaara, jangan pergi kumohon.."
"Harus.. ada.. yang pergi.. hh.. kau.. sudah memilih.. Sakura.." ucap Gaara, tersenggal-senggal disisa nafasnya. "Jika.. tak ada.. yang pergi.. maka selamanya.. kita.. akan terus.. seperti ini.. dan kisahmu.. tak akan.. ada akhirnya.."
"Tidak.. kumohon.. bukan ini yang kuinginkan.. bukan seperti ini pilihanku.." ucap Sakura, dan air matanya kembali mengalir.
"Ini.. sudah.. seharusnya.. terjadi.." Gaara tersenyum. "Pilihanmu.. pilihanku juga.."
GREB!
Dari samping, Sasuke ikut memeluk Gaara. "Ya. Bukan seperti ini caranya.."
"Sudahlah.." Gaara tersenyum kearah kedua sahabatnya. "Aku yang.. memilih.. seperti ini.."
Wajah Sasuke memerah, menahan air matanya. Baru saja ia mengatakan perasaannya pada sahabatnya, kini Gaara sudah harus pergi. "Gaara.."
"Kalian.." Gaara mencoba menarik nafas lagi, walau berat. "Aku ingin.. kalian.. gunakan kesempatan.. yang kuberikan.. dengan baik.. jangan sia-siakan.. ku mohon.. ini.. permintaan.. terakhirku.. huh!"
Sorot mata Gaara meredup, seiring tertutupnya mata light turquoise itu. Badan Gaara tiba-tiba melemas. Pegangannya kepada dua sahabatnya lepas. Suhu badannya turun menjadi dingin. Sakura mengguncang-guncang tubuh Gaara. "Gaara kumohon! Bangun Gaara!!"
Namun tak ada respon. Sakura terhenyak. "Tidak.."
"Dia sudah pergi, Sakura." Sasuke mengelus lembut rambut Sakura. Mencoba menenangkan gadis ini.
"Tidak.. tidak.." ucap Sakura tanpa menoleh. "Aku tidak ingin kau mati! Kenapa harus kau? Kenapa bukan aku?!"
"Sakura.." Sasuke merenggut. Ia memejamkan matanya perlahan. Sakura merasa sangat kehilangan Gaara. Apalagi Sasuke. Baru hari ini mereka berdua berbaikan dan bekerja sama dengan baik, dan dihari yang sama pula, Gaara pergi meninggalkan mereka.
Sakura memeluk tubuh Gaara yang sudah tak bernyawa erat. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang merona kemerahan. "GAARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!"
***
Pemuda berambut hitam panjang itu meringkuk dipojok ruangan. Badannya kaku. Banyak sekali bekas lecet disana-sini. Ruangan ini lembab dan bau. Entah apa yang membuatnya tahan berada disana.
Derap langkah kaki mendekat kearah ruangan itu. Bunyi besi berdesing, membuat pria itu menoleh. Polisi menatapnya kasihan. "Hey Uchiha, hari ini adalah hari eksekusimu!"
Itachi tersenyum menyeringai. Menatap beberapa orang yang mulai mengangkat tubuhnya. Ya. Itachi divonis mati. Atas kejahatannya mencelakai banyak orang, dan juga membunuh salah satu putra dari seorang pengusaha ternama. Itachi membunuh Sabaku No Gaara. Atas dasar itu, ia dijatuhi hukuman terberat, yaitu hukuman gantung. Sementara Hidan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas andilnya dalam pembunuhan berencana ini.
Itachi diseret selama melewati lorong menuju ruang eksekusinya. Kakinya sudah tak mau digerakan lagi. Ia tak mau menjemput maut. Namun perbuatannya lah yang membuatnya begitu. Itachi sampai diruangan itu. Saat pintu dibuka, sinar matahari langsung membuat mata onyx itu kesakitan, lalu akhirnya beradaptasi dengan sinar itu. Itachi menatap satu-satu orang yang hadir sebagai penonton kematiannya. Ada beberapa murid SMA Konoha yang sekelas dengan Sasuke, dan beberapa murid Suna Gakuen yang dekat dengan Gaara. Dan ia terkejut saat mendapati sosok berambut raven dan berambut merah berdiri dihadapannya, mencegatnya. "Sasu-chan dan Sasori.."
"Aniki, saya telah mengampuni kesalahanmu. Begitu juga dengan teman-temanku. Saya mewakili teman-teman juga meminta maaf kepada aniki, bila kami punya salah.." ucap pemuda raven itu sopan, sambil membungkuk.
"Hehe.." si sulung Uchiha malah tertawa. "Kau senangkan karena sekarang kau dapat kebahagiaanmu? Berterima kasihlah, baka otoutou.."
"Ie." Sasuke kembali berdiri tegap. "Apa maksudmu?"
"Pemuda berambut merah itu mati, jadi kau tak usah bersusah payah untuk menyingkirkannya. Sekarang kau bisa memiliki nona Haruno itu.." Itachi tersenyum puas.
BUK!
Tak kuasa menahan amarahnya, Sasuke memukul pipi Itachi keras, hingga pemuda itu jatuh terjengkang kebelakang. "Brengsek!! Yang kau bunuh itu sahabatku! Aku lebih bahagia kalau dia yang bahagia!!!!"
Itachi hanya tertawa. Membuat Sasuke semakin kesal. Hampir saja Sasuke memukul Itachi lagi, kalau saja para Sasori itu tak menahan Sasuke. "Sudah Sasuke! Kau harus tenang!"
"Dia membunuh ayahku, Kin, lalu sahabatku. Apa aku masih bisa tenang menghadapinya? Dia hampir mengincar nyawaku!" ucap Sasuke menggebu-gebu. Sepertinya kata-kata itu tertahan hingga hari ini.
"Kalau kau masih memukulinya, kau tak jauh berbeda dengannya!" ucap Sasori keras. Sasori merenggut jas sekolah yang digunakan Sasuke. "Bukan hanya kau yang membencinya! Aku juga sangat membencinya! Sahabatmu itu adalah sepupu yang paling ku sayangi!"
Sasuke terdiam. Sementara Itachi tertawa melihat Sasori menceramahi baka-otoutounya. Sasuke menoleh kearah Itachi. "Diam kau! Dasar brengsek!"
"Hentikan Sasuke!" bentak Sasori kesal.
Para sipir penjara itu kembali membantu Itachi berdiri, dan menariknya naik keatas panggung. Sasuke menatap setiap gerak anikinya. Itachi diberi waktu untuk menyampaikan kata-kata terakhirnya. "Ehem. Mungkin kalian disini menganggapku seorang yang gila.."
"Ya! Kau memang gila!" celetuk seseorang ditengah kerumunan itu. Namun Itachi tak perduli.
"Alasan aku membunuh hanya karena adikku satu-satunya, si baka otutou, Sasuke Uchiha. Aku iri dan menyayanginya," ucap Itachi sambil menunduk. Namun tak terlalu menunduk karena lehernya sudah dikalungi dengan tali tambang besar yang akan menjadi pencabut nyawanya. "Aku iri padanya, maka aku hendak membunuhnya. Tapi yang terbunuh malah Otou-san ku. Aku sayang padanya, maka kubunuh gadis bernama Kin dan si pemuda Sabaku itu.. hahaha.."
Hampir seluruh orang yang ada di tempat itu emosi mendengarnya. Betapa tidak, Gaara sudah seperti keluarga bagi mereka. Sasuke hanya diam. Itachi menyayanginya, maka dari itu dia membunuh Gaara? Tahu dari mana dia kalau Gaara akan berlari lebih cepat dariku?
Dan Sasuke langsung sadar saat pisau itu melesat, pisau itu bergerak sedikit melenceng dari Sakura. Seperti hanya akan membaret pinggang gadis itu, dan kalau saja Gaara diam, pinggangnya lah yang terancam. Dan Gaara berlari lebih cepat, karena dia atlit lari semasa SMP-nya. Maka pisau itu tepat menancap di organ vital Gaara. Yaitu hati. Sejak awal memang Itachi tak pernah benar-benar berniat mencelakai dirinya!
"Aku sudah selesai berbicara."
Sasuke tertegun, ia kembali mendongak untuk memperhatikan anikinya. Beberapa saat setelah itu. Sosok itu sudah menggangtung, dan tak akan berbuat onar lagi.
Sedih?
Ya. Sasuke merasa teramat sangat sedih. Kini yang ia punya hanya Sakura. Dan kini, Sasuke tak akan membiarkan gadis bermata jade itu menyusul kepergian sahabatnya. Sasuke mengepalkan erat tangannya. Dalam hatinya ia berjanji, kalau ia akan melindungi dan mencintai gadis Haruno itu dengan sepenuh jiwanya. Dan mengabulkan permintaan terakhir Gaara, serta tidak menyia-nyiakan apa yang dimaksud Itachi. Menjadikan Sakura sebagai pendampingnya.
***
Beberapa orang keluar dari kamar Sakura. Mereka teman sekelas Sakura. Sakura juga mendapat kunjungan dari Tsunade-sensei, wali kelasnya. Serta kunjungan dari Temari, Kankurou, dan Matsuri. Matsuri sempat menangis sambil memeluk Sakura, dan menyatakan apa yang ada dihatinya. Ia tak percaya kalau Gaara pergi secepat ini, bahkan sebelum gadis berambut caramel sempat ini menyatakan perasaannya pada Gaara. Namun sakura hanya diam. Memperhatikan. Sesekali ia mengangguk atau menggeleng.
Sakura duduk diranjangnya. Menatap hampa kearah jendela disampingnya. Kepergian Gaara sangat membekas dihatinya. Wajah Sakura sangat pucat. Hampir setiap malam ia menggumankan nama Gaara dalam tidurnya. Seseorang mengetuk pintu, lalu masuk.
"Sakura.."
Sakura menoleh, menatap orang yang baru masuk. Sudut bibirnya terangkat naik. Sosok berambut merah dengan mata jadeite yang sama sepertinya berjalan mendekati ranjangnya. "Gaa..—"
Namun sosok itu menghilang, seiring tampaknya orang yang sesungguhnya masuk kedalam kamarnya. "Sakura.."
Sakura terlihat kecewa akan kedatangan Sasuke. Perih terasa didada Sasuke. "Relakanlah dia.."
Sakura kembali menatap hampa jendela disampingnya, tak perduli akan Sasuke. Sasuke menghela nafas. Ia harus terbiasa seperti ini, sampai Sakura dapat menerima kematian Gaara. Pemuda berambut raven itu kemudian berjalan kearah jendela, lalu membukanya untuk pergantian udara.
"Sasuke.."
Sasuke menoleh. Hampir dua minggu setelah kematian Gaara, Sakura tak pernah berbicara padanya, maupun kepada orang lain. "Ya?"
"Apa aku sudah gila?" tanya Sakura bodoh. Matanya masih menatap hampa.
"Kau masih waras," jawab Sasuke sambil tersenyum hangat.
"Benarkah?" tanya Sakura datar.
"Ya." Sasuke menatap langit dengan tatapan menerawang. "Memangnya kenapa?"
"Kalau aku masih waras, mungkin aku bisa menjaga nyawa Gaara.." ucap Sakura, menatap kedua tangan putih pucatnya yang bertaut.
Sasuke terdiam. Ia merasa kalau dialah penyebab kematian Gaara. Sasuke lalu berjalan kearah ranjang Sakura. Kedua tangannya terjulur kearah gadis berambut merah muda itu, hendak memeluknya—menangkan sang gadis. "Kau tidak salah.." 'Tapi aku yang salah..' tambah Sasuke dalam hati.
Sasuke mempererat pelukannya pada Sakura. Sakura memejamkan matanya. "Lakukan saja permintaan terakhir Gaara."
"Hn?" Sasuke menatap gadis dalam pelukannya.
"Gaara masih mengawasi kita.." Sakura mendongak untuk menatap pemuda berambut raven ini.
Sasuke tersenyum. Jalu mencium lembut kening lebar Sakura. "Dan dia selalu ada dihati kita.."
***
Gadis berambut merah muda ini duduk dibawah pohon rindang. Ia tersenyum sambil menikmati semilir angin. Ia menyandarkan tubuhnya pada batang pohon. Mencoba membuat dirinya nyaman disana. "Sudah hampir lima tahun semenjak kejadian itu."
"Gaara, enaknya kau. Tiap hari dapat pemandangan dan suasana yang indah seperti ini," ucap Sakura, sambil menyelipkan beberapa helai rambut merah mudanya kebelakang cuping telinganya. "Kau sangat beruntung, kau tahu?"
Sakura menilik batu putih tinggi yang terletak disampingnya. Jemari lentiknya bergerak mengelus nisan putih itu. Nisan putih yang bertuliskan 'Sabaku No Gaara'. Sakura tersenyum lagi. "Kau akan tenang disini kan? Tempat yang kupilihkan untukmu ini, adalah taman lavender yang mengisi semua kenangan kita bertiga.. taman Lavender di Hokkaido ini telah menjadi rumah untukmu, Sabaku no Gaara."
Semilir angin seperti menjawab pernyataan Sakura. Sakura mengangguk. "Ya, jadi kau akan selalu mengingat aku dan Sasuke.."
Sakura melirik gundukan tanah didepan nisan itu. "Apa disana gelap?"
Gundukan tanah yang menimbun tubuh sahabatnya, yang menjadi tempat pembaringan terakhir baginya. Sakura harap ini adalah yang terbaik yang bisa Sakura berikan pada Gaara. Sakura memeluk nisan putih itu. Air matanya kembali menetes. "Kalau gelap, kau pejamkan saja matamu. Dan disana akan ada aku yang menemanimu.. akan ada Sasuke, Sasori-niisan, Kakashi-tousan, nenek chiyo, dan bibi Karura, Temari-neechan, Kankurou-niichan.. dan kouhai kesayanganmu, Matsuri-chan.."
Sakura teringat sesuatu. "Kalau begitu, kau akan bertemu ibu dan ayahku, serta Rin-kaasan ya? Sampaikan salamku untuk mereka ya.."
"Sakura!"
Sakura terhenyak. ia lalu menghapus air matanya. Segera ia berdiri. Tak lupa ia tersenyum lagi kearah gundukan tanah itu. "Ah Sasuke sudah memanggil.. kapan-kapan aku akan datang mengunjungimu lagi. Kau jangan takut ya, Gaara-kun.. jaa nee!"
Sakura lalu berlari menjauh dari pohon rindang itu, kearah pemuda dengan kemeja putih yang tak dikancingkan, memamerkan t-shirt merah maroonnya, serta celana hitam yang membuat penampilannya semakin gagah. "Sasuke!"
Sasuke tersenyum, ia merentangkan kedua tangannya, hendak menangkap kekasihnya. Dan hup! Sasuke berhasil menangkap Sakura, lalu memutar badannya, hingga kaki Sakura seperti terbang terbawa angin. "Nee, Sasuke.. turunkan aku!"
"Ie. Hahaha.." Sasuke menciumi dagu kekasihnya.
"Turunkan aku hey! Malu dilihat Gaara!" ucap Sakura sambil memukuli lembut dada Sasuke.
Sasuke menurunkan Sakura dari gendongannya, dengan lembut, sesaat kemudian pemuda raven itu mencium bibir Sakura. Sakura ikut memejamkan matanya, menikmati sensasi yang terasa dari bibir tipis Sasuke. Sasuke mengakhiri ciumannya. Ia menatap Sakura dalam. "Kurasa ini tempat yang tepat. Untuk menepati janjiku pada Gaara. Sakura.."
"Maksudmu?" Mata bulat Sakura menatap si pemuda dengan wajah stoic itu.
"Ano.." Sasuke grogi sendiri. Ia merogoh saku celananya dengan tangan kanannya, sementara tangan yang lain meraih tangan kanan Sakura. Dengan cepat, Sasuke memasangkan sebuah cincin yang indah, ke jari manis Sakura. "Mau kah kau, menikah denganku?"
Sakura menutupi pipi yang merona, dan bibirnya yang menganga kaget. Hal yang sudah ia tunggu semenjak setengah tahun lalu, akhirnya terwujud. Sasuke melamarnya. Sakura langsung memeluk Sasuke. "Aku sudah menunggu ini sejak lama.."
Sasuke tersenyum, diliriknya pohon rindang yang meneduhi makam Gaara. "Aku menepati janjiku.."
Semilir angin seperti ikut menyahut. Seperti menggambarkan perasaan Gaara. Tak mereka berdua sadari, sesosok dibalik pohon rindang itu mengawasi mereka. Mata jade nya menyorot senang. "Ya, kau menepatinya.."
Merasa tak ada lagi yang mengganjalnya, sosok itu lalu menghilang diterbangkan angin. Meninggalkan sebuah kelopak bunga sakura. Padahal disekitar situ tak ada pohon Sakura yang tumbuh.
Dengan lembut, Sasuke mencium bibir Sakura lama sebagai tanda kalau Sakura akan menjadi pendamping hidupnya selamanya.
THE END
!!!
Bernafas lega karena final chapter ini sudah selesai.
Puaskah?
Ada yang complain?
Ada yang menyangka kalau Gaara yang akan mati? Atau malah kalian nyangkanya Sasuke? *deathglare dari Kika-senpai*
Woh, aku sudah berusaha maksimal, dan kemampuanku hanya segini. Gomen!!
Yah, sepertinya saya akan selamat dari Kika-senpai. Karena bukan Sasuke yang mati. Tapi akankah saya selamat dari Aka-chan? Soalnya Gaara yang kubuat mati.. TT^TT aku juga sedih nyoo, kenapa bisa Gaara yang mati.. *plak!*
White : Black, dia bodoh ya?
Black : Ya kau tahu sendiri lah..
White : masa chara tercinta dibikin mati?
Black : ah aku sudah memakluminya..
Raisa : Kalian jahat, diri sendiri dibilang bodoh *pundung dipojokan*
Yasudah yasudah. Saya balas review dulu..
Naru-mania : Iyaaaa sudah update! Kelamaan yaa? *ditabok bulak-balik* iyaaaaa betuuuul XD wah kau pintar! Ah saya juga sedih, pacar sendiri dibikin mati! *dibakar rame-rame* oh ya oh ya? Sankyuuuuuuuuuuuu jadi maluuu :" ini sudah update! Review lagi?
Shiroi Yuri : heeeeh kauuu! Hidan memang jahat! *dirajam* nee? Bukannya aku yang ngasih tau ya? O.o apa sekarang kau puas dengan panjang chapter yang ini? Berbahagialah karena chapter ini merupakan chapter terpanjang dari Beside You *smirk* Dan kau, wajib review *deathglare* oh ya, empty heart mana updatennya?
Haruchi Nigiyama : iyaaaaa finnaly bisa update! X3 ugyaaaaah kok seru.. *sweatdrop* iya aku juga sama kasihaaan desuuuuuu :(( tapi Gaara mati di dunia fic ini, nanti hidup lagi kedunia nyata, teruss ngelamar aku :" *dikeroyok rame-rame* ini sudah update! Review lagi?
ai_l0ver : iyaaaap anda betuuuul. Sangaaat menyentuh, saya terharu :') ya akhirnya Gaara kedunia nyata terus ngelamar aku :" *dibantai sama Matsuri* ini final chapnya! Review lagi?
Riscle-coe : hualaaaaaaaah sankyuuuuuuuuu aku terharu desuuu jadi maluu :') itachi punya alasan kok, punya kok :D ini sudah update! Review lagi?
Ninja-edit : hoalaaaaaaaaaaaaaaaaaaah pecinta Sui juga? Yare-yare.. XD sudah pasti si Baka Aniki itu ngga akan tinggal diam X3 oh ya? Ayame-san penasaran? Aaaaah senangnyaaa XD ini sudah Update! Review lagi?
Nakamura Kumiko-chan : ini sudah update! Review lagi?
Sevachi 'Ryuuki J' : senpaaaaaaaaaaaaaaaaai X3 iyaaa dong keren B-) kan pacarku *dibakar* ini sudah update! Review lagi, senpai?
Sii BeL-BeL : Sakura gapapa tuuuuuh ehehe gausah bingung, ini chapter akhirnya! X3 sudah update nih X3 review lagi? O.o
Fujimoto Izumi : Ully.. kau ini hahah XD yap betul! Menyamai Deidara! XD *deathglare itachi* iya nih maunya apa :-0 tapi sekrol-sekrol keatas deh, tuh ada jawabannya X3 ini sudah update, review lagi hey kouhai? Hahaha *dirajam*
Akane Higabana : *sweatdrop* klorofom? Bukannya tadi aku kasih gas tawa ya? *plak!* kau ini, sudah ngebocorin, sekarang malah pingsan. Ah, kugulingkan saja menuju tempat si kebo wakaka =))
Faatin-hime : akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa hahahah XD ganti lagi tuh jadi Tragedy wakaka *ditusuk* death chara? O.o my beloved boyfriend DX *dimasukin ke gentongnya Gaara* ini sudah update, review lagi Faatin-chan?
Oke, terima kasih yang sudah membaca dari awal hingga akhir. Gomen kalau masih ada typo. Gomen juga kalau tak memuaskan. Gomen juga kalau authornya bawel. Gomen juga—hep! *dibekep Sasori gara-gara kebanyakan gomen*
Review? Review?
Saya membutuhkan itu.. *sujud-sujud*
Yah sepertinya begitu saja yang akan saya ucapkan, mengakhiri penampilan saya dari first fic ini.
Mina-san! Saya mohon bantuan untuk kedepannya. Selanjutnya, klik saja hijau-hijau dibawah, dan tulis komentar anda tentang fic abal ini.
Maaf kalo saya nambah sampah difandom naruto ini *bungkuk 90 derajat* gomen.
All, mind for RnR? ^^
