Hai..hai...
Lama tak berjumpa ya..*basa-basi mode:on*
Berhubung belum satu minggu setelah dhitta apdet chapter 9, jadinya dhitta munculin Sidestory dulu nih..hehe
Ternyata banyak juga yang nanyain bagaimana kisah cintanya Sai. Berhubung dhitta juga salah satu penggemar chara ganteng ini..(kedua gantengnya setelah Neji) jadi ga terlalu susah buat bayangi jalan ceritanya
Dhitta sengaja munculin cerita sidestory kisah cintanya Sai terpisah...Soalnya kurang enak aja kalo digabung sama SasuSaku atau NaruHina.
Langsung mulai aja deh...
Note: Disini Sai ada di Korea, bukan di Jepang. Soalnya Sai lagi lomba melukis internasional di Korea...hehehe dan satu lagi anggaplah dialog dicerita ini adalah bahasa Jepang bukan Indonesia *maksa*
Summary:" Sai...sejak kapan kau jadi doyan susu?" " I make an appointment with Ino Yamanaka today! Is she in?"
Disclaimer: Cuma milik Masashi Kishimoto....
The Shinobi Gank
Sidestory 1: Sai's true love story
Sai POV
Seoul sebuah kota indah di daratan Korea, berperan sebagai ibukota Korea Selatan. Dengan luas 605.52 km2 dan berpenduduk kurang lebih sepuluh juta penduduk yang terdaftar, Seoul juga merupakan kota terpadat di dunia. Tak lepas dari hiruk pikuk nya kota besar. Seoul juga merupakan pusat politik, budaya, dan ekonomi di Korea Selatan dan Asia Timur.
Tak salah jika panitia ajang lomba seni melukis tingkat internasional memilih lokasi penyelenggaraan di kota eksotis ini.
Perkenalkan Namaku Sai. Aku adalah salah satu dari peserta lomba melukis itu. Mewakili Jepang tentunya. Lima hari lagi dimulai dari sekarang, aku akan memulai perlombaan itu. Aku sudah dapat membayangkan, bahwa akan ada puluhan bahkan ratusan orang yang akan menjadi sainganku nanti.
Aku tidak tahu apa alasan negaraku itu dengan hanya mengirimkan aku seorang dalam lomba ini. Padahal boleh-boleh saja jika mengirimkan dua orang sekaligus. Walaupun maksimal perwakilan setiapnegara hanya dua orang sih.
Sepertinya negara terlalu percaya pada orang amatiran sepertiku. Aku jadi pesimis nih. Aku pasti akan kalah.
Ini adalah hari pertamaku di negara orang. Aku belum pernah ke Korea sebelumnya. Ini adalah pengalaman pertamaku disini. Mungkin saja aku bisa berkenalan dengan teman baru. Hei..bagaimana bisa berkenalan dengan teman baru, aku saja tidak mengerti bahasa mereka. Malas ah, kalau harus kemana-mana sambil membawa seorang penerjemah.
" Sai..." Seseorang memasuki kamarku. Bukan kamarku sih, lebih tepatnya kamar hotel.
" Iya! Kurenai-sensei ada apa?" Tanyaku sopan pada seorang wanita cantik berambut hitam panjang . Kurenai-sensei adalah guru pembimbingku selama aku menjadi peserta lomba melukis ini. Waktu masih di Jepang, ia banyak mengajariku teknik-teknik sulit dalam melukis yang belum aku kuasai sebelumnya.
" Berhubung ini hari pertamamu di Korea, jadi kutetapkan hari ini adalah hari bebas untukmu! Tidak ada latihan hari ini. Berkeliling di cuaca yang cukup cerah seperti ini pasti menyenangkan!" Katanya lembut khas wanita dewasa sambil tersenyum manis.
" Sepertinya aku akan tetap berada di hotel saja, Kurenai-sensei." Aku kembali menatap ke arah tahu dari jendela kamarku ini, aku dapat melihat suasana kota Seoul secara keseluruhan. Tentu saja, kamarku kan ada di lantai 8.
" Percuma kau kesini kalau hanya untuk melihat Seoul dari balik jendela! Sama saja dengan menonton TV di rumahmu kan? Ayolah pasti menyenangkan. Kau tahu,kudengar perempuan-perempuan Korea cantik-cantik loh! Siapa tahu kau akan menemukan jodohmu disini!" Ucapnya sambil tertawa kecil.
" Haha..aku justru takut perempuan-perempuan Korea akan menertawakan tampangku yang bodoh saat mendengar mereka berbicara. Anda tahu kan Kurenai-sensei, aku tidak mengerti bahasa mereka!" Jawabku ikut tertawa. Kulihat ia mulai mendekatiku dan mengambil posisi disebelahku dan ikut memandang Seoul dari balik jendela kamarku.
" Kau ini, seperti anak-anak saja! Mereka kan tidak hanya bisa bahasa Korea saja! Kau bisa gunakan bahasa Inggris! Kau pasti bisa bahasa itu kan? Inggris adalah bahasa internasional Sai!" Ujarnya sambil terkekeh geli. Membuat wajahku memerah karena malu. Kenapa tak terpikir olehku untuk menggunakan bahasa Inggris?
" Bagaimana? Masih berpikir untuk berdiam diri dikamar?" Tanyanya lagi.
" Hmmm...mungkin udara pagi Seoul bisa membuat imajinasiku bertambah!" Ucapku seraya menyiapkan beberapa alat lukisku.
" Bagus! Di dekat sini katanya ada sebuah taman luas. Mungkin kau bisa melukis disana!" Kata Kurenai-sensei seraya pergi meninggalkan kamarku.
" Kembali setelah waktu makan siang tiba ya!" Wanita bermata indah itu mengingatkanku sebelum tubuh mungilnya benar-benar meninggalkan kamarku.
" Baik!"
0000000000
Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan pagi. Tapi suasana ramai khas kota besar sudah mulai terasa. Aku sudah berada di atas trotoar yang terletak disebuah jalan yang cukup besar. Kulihat ada beberapa toko yang baru buka. Sedangkan sisanya sudah mulai menjajakan barang dagangannya.
Aku berjalan dalam diam. Ingat, pertama aku tidak bisa bahasa Korea dan bahasa Inggrisku belum lancar. Coba aku seperti Hinata yang sudah mengusai hampir dari 5 bahasa, Jepang(pasti), Inggris(biasa), Korea(hebat), Spanyol(Keren), Indonesia(author pingsan). Kedua, aku pergi sendiri. Ketiga, berhubung ini pertama kalinya aku ke Korea, jadinya belum ada yang kukenal disini. Ketiga alasan itulah yang menyebabkanku diam saja dari tadi dan memilih melihat-lihat pemandangan kota saja.
Kalian tahu, bisa dilihat aku seperti anak hilang sekarang. Celingukan tidak jelas dan tidak tahu arah mau kemana. Tadi Kurenai-sensei sempat bilang kalau disekitar sini ada taman besar. Tapi kenyataannya sudah kurang lebih lima belas menit aku berjalan, tapi tidak menemui taman itu, mana aku belum sempat sarapan tadi.
GUBRAK...
PRANG...
CUUURRR... (suara yang aneh..)
'Aduuuhh...!' Teriakku dalam hati. Kalian tahu,aku benar-benar menyesal karena telah mengikuti saran Kurenai-sensei. Malang benar nasibku, sudah nyasar di negara orang, kelaparan karena belum sarapan, dan sekarang diperparah dengan kejadian ini.
Seseorang menabrakku dengan sepedanya dari belakang. Dilihat dari bawaannya sepertinya dia gadis pengantar susu.
Sekarang posisi kami berdua adalah..ditengah jalan trotoar dengan sebagian besar pakaianku terkena tumpahan susu yang gadis ini bawa, dan peralatan lukisku juga tak lepas dari susu. Buku gambarku sudah basah terkena cairan berwarna hasil perpaduan cat dengan susu murni.
Keadaan gadis itu juga tak kalah parah dengan keadaanku. Rok panjangnya basah terkena tumpahan susu, bahkan kulihat siku dan lututnya terluka. Yang penting sekarang adalah bukan keadaan kami yang basah atau terluka, tapi ratusan pasang mata yang melihat aku ditengah jalan sekarang. Mereka berkomentar dengan bahasa yang tak kumengerti. Malu...
Terdengar olehku ia sedikit mengaduh sambil mengatupkan kedua tangannyadan berlutut dihadapanku yang masih terduduk ditengah jalan. Mungkin maksudnya minta maaf.
Karena aku tidak mengerti apa yang ia katakan, aku memutuskan untuk berdiri dan memunguti barang-barang bawaanku. Tapi gadis berambut pirang itu terus berbicara, ia seperti memohon sesuatu padaku.
Gadis itu terus berbicara sambil mengatupkan tangannya. Ia sepertinya tak perduli dengan keadaannya sekarang. Luka dilututnya terus mengeluarkan darah, terlihat dari adanya rembesan berwarna merah di rok panjangnya.
" Pardon me..Aku tak mengerti..eh..I dont.." Ucapku asal, bahasa Inggrisku benar-benar kacau!
" Kau orang Jepang ya?" Tanya gadis itu ragu-ragu. Aku segera mengangguk senang, karena ternyata ada juga yang bisa mengerti bahasa negaraku.
" Maaf ya...maaf sekali! Aku tidak sengaja menabrakmu! Maafkan atas ketidak hati-hatianku ini!" Ia kembali menunduk-nunduk minta maaf. Setelah kulihat dari dekat, ternyata dia manis juga.
" Tidak apa-apa. Kau terluka?" Kataku sambil menunjuk siku dan lututnya yang terluka.
" Ah..." Ternyata ia baru menyadari kalau siku dan lututnya terluka.
" Tidak, aku baik-baik saja kok! Kau sendiri? Bajumu basah, buku gambarmu juga! Aku benar-benar minta maaf! Berapa kerugian yang harus kubayar?" Lagi-lagi dia minta maaf.
" Tidak perlu! Lagipula masalah baju bisa kucuci nanti lalu buku gambar ini juga, aku bisa membelinya lagi! Kau tak usah khawatir! Sekarang bagaimana dengan botol-botol susu yang tumpah itu?" Aku sedikit canggung mengatakannya sambil menunjuk kira-kira enam botol susu yang sekarang sudah jatuh bergelimpangan di jalan. Aku justru khawatir dengan keadaan gadis ini. Tak bisa kubayangkan ia nanti akan dimarahi bos-nya karena tidak hati-hati dalam bekerja.
" Tak apa! Kebetulan aku sedang membantu ayah mengantar susu-susu ini kepelanggan! Tapi ternyata malah jadi begini..." Ujarnya sambil tersenyum manis. Ya..Tuhan, senyuman gadis ini manis sekali. Aku jadi ingin mengenalnya lebih jauh.
" Aku akan mengganti susu-susu itu, kasihan kalau nanti ayahmu dimarahi bos pemilik toko susu itu!" Kataku sambil mengeluarkan dompet dari saku celanaku. Ternyata dompetku juga tak luput dari tumpahan susu. Sepertinya celana panjangku menyerap tumpahan susu itu. Bagaimana dengan nasib celana dalamku? Bodoh, urusan itu nanti saja dipikirkan!
" Tidak perlu!" Tangannya mencegahku mengeluarkan uang. " Justru ayahku adalah bos-nya." Salah sangka aku rupanya.
" Oh begitu!" Aku ber'oh' ria menutupi rasa maluku.
" Namamu?" Tanyanya sambil mendirikan sepedanya yang jatuh. Aku ikut membantunya, siapa coba yang tak tergerak hatinya untuk membantu seorang gadis yang terlihat kesulitan mendirikan sepedanya dengan tubuh yang terluka?
" Namaku Sai, Kau?"
" Ino! Yamanaka Ino!" Gadis yang baru kuketahui bernama Ino itu menjabat tanganku.
" Sai, sekali lagi aku benar-benar minta maaf!" Ino lagi-lagi minta maaf padaku, bosan juga mendengarnya.
" Tak apa!" Kataku stay cool. Biasa supaya kelihatan keren.
" Terima kasih! Hmmm...kau baru ke Korea ya?"
" Begitulah!"
" Hmmm..sepertinya.." Ino menghentikan kata-katanya. Ia merogoh saku kemeja ungu mudanya. " Sepertinya mengobrol dalam keadaan basah seperti ini tidak enak ya! Ini alamat peternakan sapi dan kedai susu milik ayahku! Kau boleh mampir kesini, untuk mencicipi susu murni buatan kami!" Ia tersenyum dan memberikanku sebuah kartu nama. Dasar disaat seperti ini masih saja promosi.
" Pasti! Kalau kau tidak keberatan, aku mau memintamu menemaniku keliling Seoul." Kataku basa-basi. Akhirnya aku bisa basa-basi juga.
" Hmmm..tentu! Baiklah aku pergi dulu! Sampai jumpa Sai!" Ino menaiki sepedanya dan pergi.
" Sampai jumpa!" Balasku. Aku terus memperhatikannya sampai bayangan tubuhnya menghilang.
-
-
" Yamanaka Ino.." Gumamku pelan sambil, melihat kartu nama yang diberikannya padaku. Setelah kuperhatikan baik-baik...
'Huh..lagi-lagi tulisan yang tak kumengerti artinya'. Aku pun berbalik arah, dan berjalan menuju hotel.
0000000
Aku memasuki loby hotel. Tak kuhiraukan tatapan-tatapan aneh dari beberapa orang yang melihatku, terutama kearah baju dan celanaku yang basah. Pantas saja mereka melihatku seperti itu, celana dan bajuku yang berwarna hitam sangat kontras dengan warna susu yang putih bersih. Masa bodo ah, yang terpenting sekarang adalah aku mau segera kekamar dan mandi. Susu ini membuat tubuhku lengket.
Kamarku di Lantai 8
"Hah...segarnya..!" Aku keluar kamar mandi. Kulihat dimeja sudah ada sepiring roti dan susu. Susu ya...? Aku jadi ingat gadis itu. Yamanaka Ino. Tak kusangka ada gadis manis seperti dia di Seoul.
Tapi kok dia bisa bahasa Jepang ya? Apa dia orang Jepang?
Pertanyaan itu terus berputar dikepalaku. Aku jadi tidak sabar ingin menemuinya. Tapi aku kan tidak tahu dimana letak peternakan itu.
"Huh..biar nanti kutanyakan saja pada Asuma-sensei. Pasti dia tahu. Dia kan pernah tinggal dua tahun di Korea."
0000000000
" Kedai susu Yamanaka ?" Tanya Asuma-sensei padaku. Kami sedang ada di cafe yang ada didekat hotel. Asuma-sensei sengaja mengajakku kesini. Katanya sekalian untuk menemaninya minum kopi.
" Iya. Tadi aku bertemu dengan anak pemilik kedai itu. Dia menabrakku dengan sepedanya. Katanya aku boleh mampir ke kedai itu. Mungkin sebagai permintaan maaf, mungkin aku akan ditraktirnya!" Terangku percaya diri. Padahal kan Ino bilang kan boleh mampir, bukan mau traktir.
" Oh..begitu! Aku tahu alamat ini! Tapi aku tidak tahu kalau Yamanaka punya kedai! Setahuku sih, memang mereka punya peternakan sapi perah!" Terangnya sambil menerawang.
Masa Ino bohong soal kedai itu. Mungkin saja kedai itu baru dibuka setelah Asuma-sensei kembali ke Jepang untuk menikahi Kurenai-sensei.
" Kalau begitu, siang nanti aku mau kesana! Bisakah Asuma-sensei mengantarku kesana?" Tanyaku sopan sambil meminum es kopi yang kupesan tadi. Sebenarnya kurang bagus juga sih kalau minum es kopi pagi-pagi.
" Hmm...boleh saja! Tapi sebaiknya kau izin dulu pada Kurenai, tanyakan apa hari ini tidak ada jadwal latihan. Aku takut kalau istriku itu tiba-tiba mengamuk, karena kau pergi!" Ucapnya mengingatkan.
" Tenang saja! Justru Kurenai-sensei yang menyarankanku untuk keliling Seoul karena tidak ada jadwal latihan!"
" Baiklah, Sai! Kutunggu kau di loby hotel, sehabis makan siang! " Ia menutup pembicaraan kami dengan meletakan beberapa lembar uang di atas meja. Dan pergi meninggalkanku sendirian.
00000000
Menu makan siang hari ini cukup nikmat. Walau sebenarnya aku tidak tahu persis apa nama makanan itu. Karena sepertinya menu makan siang kali ini masakan khas Korea. Tapi aku bisa melihat ada banyak sajian ikan pada menu makanan hari ini.
Setelah selesai makan, aku segera menuju kamar. Mengambil peralatan lukis yang baru dan segera melesat menuju loby hotel, tempat dimana Asuma-sensei sudah menunggu.
Benar saja, Asuma-sensei sudah duduk di loby hotel sambil menyulut rokoknya. Aku tidak tahu sudah berpa batang rokok yang dihabiskan suami Kurenai-sensei itu selama menungguku.
" Kau ini lama sekali, Sai! Kau terlihat lebih rapi sekarang, apa anak Yamanaka itu cantik?" Ia sedikit menyindirku dengan tampang mesumnya itu. Walau tidak semesum dosennya Sakura. Siapa lagi kalau bukan Kakashi-sensei.
" Haha..doakan saja, semoga di jodohku!" Hei..bicara apa aku barusan?
" Baik, usiamu sudah cukup kok, jika mau menikah!" Lagi-lagi Asuma-sensei menyindirku.
" Ya, sensei! Ayo kita berangkat!" Gumamku sekenanya. Dan gumamanku itu langsung disambut anggukan oleh oleh yang bersangkutan. Aku pun segera menuju tempat gadis berambut pirang itu.
0000000
Tak kusangka Seoul yang ramai dan padat itu, memiliki tempat seperti ini. Sebuah perbukitan hijau yang sangat indah. Ternyata taman yang dimaksud Kurenai-sensei ada disekitar sini. Huh..katanya dekat hotel, ini sih namanya jauh. Yang benar saja 3km dari hotel. Dasar Kurenai-sensei sesat..!
" Sudah sampai!" Asuma-sensei dengan suara beratnya mengangetkanku. Untung aku bukan orang jantungan.
" Mungkin, aku tidak bisa menjemputmu! Aku ada urusan nanti. Kau bisa naik angkutan umum kan?" Tanyanya. Kami masih didalam mobil. Aku sendiri tidak terlalu memperhatikan Asuma-sensei. Aku masih sibuk melihat kesana-kemari.
" Iya, tenang saja! Aku bukan anak kecil lagi kan..aku bisa pulang sendiri. Terima kasih ya, Asuma-sensei! Kalau ada apa-apa, anda bisa menghubungi ponselku!" Aku tersenyum ramah dan keluar dari mobil sedan itu.
" Titip salamku untuk anak Yamanaka itu ya!" Katanya sambil tertawa menyindir. Ternyata Asuma-sensei adalah orang yang gemar menyindir ya.
Mobil sedan silver itu melesat meninggalkanku. Sekarang masalah terbesarnya adalah...Bagaimana caraku bertemu Yamanaka itu?
-
-
Suasana seperti Korea klasik langsung menyambutku. Aroma khas susu murni juga langsung tercium. Aku melihat kesekelilingku, banyak juga tamu yang hadir. Padahal aku tidak suka keramaian. Banyak pelayan berpakaian maid, nampak hilir mudik. Seorang pria bertubuh tegap menyapaku yang mulai memasuki kedai. Aku hanya tersenyum. Maklum tidak mengerti apa yang ia katakan.
Belum selesai sampai disitu, pria itu langsung mengajakku bicara. Huh...padahal aku tidak mengerti. Dari bahasa tubuhnya ia seperti menanyakan sesuatu. Apa tampangku ini tidak seperti turis ya? Kok banyak orang memperlakukanku seperti aku ini orang asli Korea.
" Pardon me…I don't understand, what do you mean.." Ucapku canggung. Akhirnya bisa juga bahasa Inggris.
Orang itu agak sedikit terkejut. Apa bahasaku salah ya? Tapi ia segera menunduk cepat.
" Oh.. I'm sorry , Sir!" Ia menunduk lagi. Nah itu baru aku mengerti bahasamu!
" Never mind!" Kataku stay cool, lagi-lagi supaya kelihatan keren.
" I make an appointment with Ino Yamanaka today! Is she in?" Tanyaku lagi, Huh...untung aku sudah belajar sedikit tadi di hotel.
" Yes, she is! Your name, Sir?"
" Sai" Jawabku singkat dan sang pelayan itu langsung melesat pergi setelah mempersilahkanku duduk menunggu.
-
-
Tak lama setelah itu, pria itu menghampiriku lagi. Dan bilang kalau Ino menungguku di halaman belakang kedai. Aku sempat terkejut juga. Aku pun mengikuti langkah pria itu ke tempat dimana Ino menunggu.
Lagi-lagi aku terperangah melihat pemandangan yang disajikan disini. Hamparan rumput hijau, dengan beberapa bunga liar yang tumbuh. Cantik sekali. Aku dapat melihat kota Seoul dari sini. Sepertinya ini perbukitan.
Bukan hanya pemandangan alam yang indah. Ada pemandangan lain berbentuk seorang gadis cantik yang sedang melambaikan tangannya kearahku. Dengan dress selutut berwarna ungu pastel dengan hiasan bunga kecil di bagian dadanya, ia terlihat sangat manis. Ada tali atau obi yang melilit pinggangnya yang ramping. Kakinya yang indah dihias dengan sebuah selop tanpa hak berwarna senada. Rambut panjangnya diikat satu. Ia tersenyum manis padaku.
" Sai! Sebelah sini!" Ia berteriak cukup kencang, seolah aku belum melihatnya.
Aku segera menghampirinya. Ia tampak ceria sekali. Padahal aku masih ingat wajah paniknya tadi pagi. Kulihat siku dan lututnya sudah dibalut rapi dengan perban berwarna putih. Sepertinya luka dilututnya lebih parah dari pada luka disikunya. Karena masih ada darah yang merembes disana.
" Terima kasih sudah mau datang!" Katanya lembut seraya mempersilahkanku duduk. Disini ada sebuah meja dan dua buah kursi terbuat dari anyaman rotan.
" Aku kesini, karena tidak ada tempat tujuan lain! " Aku sedikit bercanda. Dan candaan itu dengan sukses membuat gadis bermata indah itu menggembungkan pipinya sebal.
" Oh..jadi begitu! Tahu begini aku tidak akan memberikanmu kartu nama!" Ujarnya agak kesal, tapi aku tahu ia hanya pura-pura.
" Iya..iya maaf! Aku hanya bercanda! Lukamu sudah sembuh?" Tanyaku sedikit khawatir.
" Ah..ini! Tidak apa! Kata ayahku..hanya luka gores saja!" Ia kembali tersenyum. Senyumannya seolah mengatakan 'tak perlu khawatir, aku baik-baik saja!'.
" Oh..kau suka warna ungu ya?" Tanyaku sambil memperhatikan warna bajunya.
" Tentu! Dan kau suka warna hitam ya? Pasti suka! Soalnya dari tadi pagi aku melihatmu memakai pakaian warna hitam! Baju hitam, celana hitam, rambut dan matamu juga hitam! Serasi sekali!" Terangnya mendadak senang. Aku sendiri tidak sadar kalau aku familiar dengan warna hitam.
" Hmmm..tidak tahu kenapa aku nyaman dengan warna hitam!" Kataku sambil tersenyum.
" Oia..kau mau pesan apa? Susu buatan kami enak loh!" Tawarnya dengan nada promosi seperti tadi pagi.
" Terserah kau saja! Pilihkan untukku ya!" Aku sedikit memasang tampang dan nada bicara cool. Sudah tahu alasannya kan? Supaya kelihatan keren.
Ino segera memanggil pelayan dan mulai memesan. Sementara aku sibuk mengamati pemandangan. Mungkin saja bisa jadi inspirasi untu lomba nanti.
Aku pun memutuskan untuk melukis disini. Tentu saja atas persetujuan Ino. Selama melukis, aku dan Ino saling tukar cerita. Aku juga menceritakan tujuanku kesini, yaitu untuk mengikuti lomba itu. Ia senang sekali mendengarnya. Padahal apa istimewanya? (dasar ga bersyukur!)
Entah mengapa aku merasa nyaman dengannya. Gadis ini seperti memiliki daya tarik yang luar biasa. Padahal biasanya aku tidak terlalu ambil pusing dengan makhluk Tuhan yang bernama perempuan. Terkecuali tiga orang itu. Ibuku, Sakura dan Hinata.
Mungkin ini juga yang namanya cinta, seperti yang Hinata selalu ceritakan. Atau Sakura bahas. Aku baru mengerti sekarang.
000000000
Hari sudah berganti. Ini adalah hari ketigaku di Korea. Sekarang aku dan Ino sedang ada disebuah ruangan dibagian hotel. Tempatku biasa latihan dengan Kurenai-sensei atau Asuma-sensei. Aku baru saja selesai latihan.
Ino bersikeras ingin menemaniku latihan hari ini. Dia bilang ini pertama kalinya ia menemani orang latihan melukis. Biasanya ia menemani ayahnya main golf atau mengurus sapi.
Selama latihan tadi, ia terus saja tersenyum sambil memandangku, seperti orang kurang waras. Tapi cantik, manis sekali. Aku sendiri jadi salah tingkah dibuatnya.
Jam sudah menunjukan pukul 2 siang. Berhubung sekarang aku sedang istirahat, dan latihan juga akan dimulai pukul 7 malam setelah selesai makan malam, aku memutuskan untuk mengajak Ino melihat beberapa koleksi lukisan kesayanganku yang kubawa dari Jepang.
Jangan tanya kemana Kurenai-sensei dan Asuma-sensei! Karena sekarang mereka sedang jalan-jalan. Tidak tahulah kemana perginya mereka.
" Sai, ini kau yang melukisnya?" Tanya Ino padaku. Tangan mungilnya sedang memegang lukisan yang kubuat dua tahun lalu. Lukisan wajah Sakura dan Hinata yang sedang tersenyum.
" Iya! Yang rambutnya berwarna pink namanya Sakura. Sedangkan yang satunya lagi namanya Hinata!" Aku menunjukan yang mana Sakura dan Hinata. Sesaat aku jadi rindu mereka berdua. Jujur, aku belum menceritakan kalau aku bertemu dengan Ino pada Sakura ataupun Hinata.
" Mereka cantik! Mereka berdua kekasihmu ya Sai?" Aku langsung tersedak air putih ketika mendengar pertanyaan mendadak nan polos dari Ino.
" Bukan! Mereka berdua sahabat baikku sejak kecil! Kami juga satu kampus loh! Kau tahu Hinata ini sudah mau tunangan dengan kekasihnya!" Aku menjelaskan sambil mencoba mengatur nafasku. Ingat, aku habis tersedak tadi.
" Lukisanmu indah sekali ya! Pantas kalau kau terpilih menjadi yang terbaik!" Ia tersenyum lagi. Aku tidak sempat menghitung sudah berapa kali ia tersenyum. Tapi aku tidak bosan melihatnya. " Pokoknya aku akan ada dibarisan depan penonton nanti pada saat perlombaan!" Katanya antusias. Aku hanya membalasnya dengan senyuman.
"Kalau ini?" Tanyanya lagi. Sekarang tangannya bergerak ke arah lukisan pemandangan Tokyo. Yang kubuat saat Sakura ulang tahun, setahun yang lalu. Sebenarnya hasilnya akan lebih bagus jika saja Sakura yang biasanya membedah mayat itu tidak ikut nimbrung waktu aku sedang melukis. Akhirnya hasilnya jadi abstrak gitu. Tapi tidak tahu kenapa, aku malah suka lukisan itu.
" Itu pemandangan Tokyo! Kenapa aneh ya?" Aku agak sedikit tertawa kecil.
" Tokyo ya?" Tawaku langsung hilang ketika mendengar nada bicara dan raut wajah Ino yang mendadak sedih.
" Aku rindu dengan Tokyo! Sudah seperti apa ya Tokyo sekarang?" Ia tersenyum pahit. Aku semakin bingung sekarang. Berarti Ino pernah tinggal di Tokyo?
" Aku lahir di Tokyo! Aku juga tinggal di sana! Bahkan aku pernah dua tahun tinggal di Osaka!" Padahal aku belum bertanya apa-apa tapi Ino sudah menjelaskan dan matanya sedikit menerawang.
" Itukah alasanmu kenapa kau bisa bahasa Jepang? Lalu kenapa kau pindah ke Korea?" Tanyaku. Aku mulai mendekati gadis itu. Sekali lagi kukatakan ada raut kesedihan diwajahnya. Jujur aku khawatir padanya.
" Adakah yang lebih buruk dibandingkan perceraian? Ayah dan Ibuku bercerai saat aku berusia 15 tahun. Ayah memutuskan untuk tinggal di Korea bersama pamanku. Sedangkan ibuku memutuskan untuk tetap tinggal di Tokyo. Sekarang pamanku sudah meninggal. Ayahku berjanji akan kembali ke Tokyo...Jika sudah tidak ada sanak saudara. Tapi tetap saja ayah tidak mau pindah..." Ia menunduk sedih. Sekarang semuanya sudah jelas.
" Bagaimanapun aku tetap ingin tinggal di Tokyo. Berkumpul dengan keluarga...dengan Ibu! Aku bingung dengan alasan ayah...kenapa harus pindah ke Korea...? Aku...ak...ku..rin..du..ibu!" Air mata keluar dari kedua mata indahnya. Aku yang tak tahan melihatnya langsung menarik tubuh mungilnya kedalam pelukanku.
" Aku...ingin pulang!" Ino kembali terisak. Percaya atau tidak hatiku mencelos ketika mendengar suara tangisnya.
" Kenapa kau tidak terus terang saja pada ayahmu?" Aku mencoba memberi usul.
" Eh...aku takut Sai!" Iya malah balas memelukku erat. Menenggelamkan kepalanya di dadaku.
" Terus saja kau merasa takut! Maka kau juga akan tersiksa kan? Kalau memang kau merindukan ibumu, seharusnya kau berjuangkan?"
Ino mendongak dan memandang wajahku. Aku dapat melihat ada semburat-semburat merah diwajahnya dan lelehan air mata yang mengalir dipipinya.
" Aku akan berusaha.." Ia berkata lirih. Ia tersenyum. Walaupun agak sedikit aneh jika melihatnya tersenyum tapi pipinya basah dan sembab karena menangis.
" Kalau begitu, bisakah kau melepaskan pelukanmu ini. Aku tak bisa bernafas!"
" Eh.." Seketika wajahnya memerah ia segera melepas pelukannya. Dan menghapus air matanya.
" Kau yang memelukku duluan Sai!!" Dia jadi salah tingkah.
Untuk saat ini aku seperti merasa hidup kembali. Yamanaka Ino, gadis itu telah membuatku mengenal cinta yang sudah lama tidak aku rasakan.
00000000
Ini adalah hari kelimaku di Korea . Itu berarti hari ini juga aku akan meneyelesaikan tujuanku. Yaitu mengikuti perlombaan. Ya..alasan aku ada di Korea adalah untuk menentukan masa depanku. Dengan memenangkan lomba ini, setidaknya kemampuanku akan diakui dunia luar.
Awalnya aku tidak terlalu yakin dengan kemenangan. Bahkan aku sempat pesimis. Tapi senyumannya. Senyuman gadis itu...Ino.
Sempat tertawa juga saat mendengar namanya. Kalian tahu artinya kan? Tapi justru gadis itu yang telah membuatku yakin. Yakin bahwa jika kita sudah berusaha maka semuanya akan berjalan lancar. Aku akan berusaha.
Tapi grogi juga! Sekarang aku sudah ada dihadapan kanvas, dengan peralatan tertata rapi dimeja kayu disamping aku duduk. Aku dapat melihat wajah-wajah pelukis handal perwakilan dari seluruh dunia.
Kulihat juga ke arah tempat penonton. Benar...disana ada Ino. Ia tetap manis seperti pertama kali kami bertemu.
Sebuah pertemuan klasik. Pertemuan yang tiba-tiba dan mungkin tak diharapkan. Tapi mungkin sudah direncanakan Tuhan untukku. Aku masih ingat saat Kurenai-sensei bilang kalau perempuan Korea cantik-cantik. Tapi biar sudah jauh-jauh ke negara orang, tetap saja bertemu dengan orang dalam negeri. Mungkin selera juga berpengaruh.
Lima hari sudah aku bersamanya. Minum susu bersama, melukis bersama, keliling Seoul bersama....bahkan aku sempat berkunjung kebeberapa museum di Seoul, melihat pakaian tradisional Korea, Hanbok. Dan banyak lainnya..
Tanpa terasa sudah lama juga aku berkhayal tentangnya...sampai-sampai aku melewatkan beberapa orang penting yang memberikan sambutannya.
Aku sudah siap...siap...dan lomba pun berlangsung...
Tapi aku tidak tegang, aku tidak perlu pusing-pusing dengan apa yang akan kulukis sekarang. Dengan tema "Sesuatu yang Indah"...kumulai dengan berdoa dan mulai memainkan kuasku diatas kanvas.
00000000000
Tokyo 23 Desember 09....
" Sai...kau hebat!!!" Teriak Sakura ditelingaku...dasar! Untung saja aku tidak langsung tuli.
" Bagaimana kau bisa mendapakan inspirasi untuk melukis seorang wanita berpakaian hanbok yang sedang bersandar dipohon dan memandang langit sore Seoul dari atas bukit, Sai?" Kali ini giliran Hinata yang angkat bicara, mata lavendernya menatap salah satu berita dengan judul ' Nama Jepang harum ditangan seorang pelukis muda' di koran.
Aku hanya merebahkan tubuhku di sofa. Lelah sekali rasanya. Yang benar saja aku baru saja pulang dari Korea tadi pagi.
" Sai..pokoknya kita harus makan enak malam ini! Sebagai perayaan atas kemenanganmu!" Ujar Sakura semangat.
" Nanti saja! Aku lelah!" Aku beranjak dari sofa dan menuju dapur. Kuambil gelas dan menuangkan susu segar kedalamnya dan mulai meminumnya.
" Sai...sejak kapan kau jadi doyan susu?" Sakura terperangah melihatku minum susu. Memang aneh, aku yang tidak terlalu suka susu tiba-tiba saja jadi menyukainya.
" Sejak kapan ya?"
Mungkin sejak aku bertemu dengannya...
" Sai, tunggu aku ya! Aku pasti kembali ke Tokyo!"
" Bertemu dengan ibu! Juga denganmu!"
" Aishiteru...Sai "
-
-
-
-
Aishiteru....Ino
~Fin~
~Sidestory The Shinobi Gank 1 " Sai's true love story"~
Hanbok:adalah pakaian tradisional Korea, biasanya berwarna cerah.
Huwaaaa!!!! Perlu waktu dua hari untuk menyelesaikan fic ini!
Selama buat fic ini dhitta selalu ditemani sama es sirup markisa buatan mama...!(mama I love you!) sama ost Naruto yang Sunao na Niji. Soalnya di lagu ini, Sai keren banget! Ngalahin Naruto, Sasuke, Shikamaru ataupun Gaara! *ditampol bolak balik sama yang bersangkutan beserta FC-nya*
Makasih ya...buat dukungannya.....
Maaf banget kalo sidestory nya ancur! Terus Sai sama Ino jadi OOC....Karena dhitta senang membuat chara Naruto jadi OOC....huahahahaa *ketawa ala iblis (ngomong seakan udah ketemu iblis)**ditendang*
Dhitta perlu kritik dan saran nih lewat review..satu lagi maap kalo salah..hehe
Hehehe...RnR ya...
Lanjutan chapter 10....mungkin nanti dulu ya...tapi dalam waktu dekat ko! *plin plan*
Sudikah readers review fic ancur ini?
Atau mau langsung nge flame? *pundung didepan laptop(?)*
