"I am a Shadow ... the true self ..."
Red ingin berteriak.
Ia ingin berteriak, sekencang-kencangnya.
Mendapati Shadow temannya yang telah menunjukkan wujud aslinya membuatnya sedikit gentar melawannya. Entah sudah berapa mili liter keringat dingin membasahinya, tetapi tubuhnya masih tegap berdiri di depan pemuda android bersayap bak pesawat itu.
Lagipula, satu-satunya cara untuk menyelamatkan Gold adalah mengalahkan Shadownya, tidak lebih, tidak kurang.
Hanya itu.
"Red-san … Red-san tidak apa-apa?"
Pemuda berambut hitam jabrik itu menoleh ke sampingnya, tepat pada gadis blonde itu. Tangannya menepuk pundaknya, menyalurkan kepercayaannya pada sang pemegang Fortune Arcana yang meresponsnya dengan sebuah anggukan mantap.
"Akhirnya … sudah lama aku menanti ini semua," ujar sang Shadow seraya menggerakkan sendi peluru sebelah kanannya, kepalanya terlihat ikut bergerak ke arah lengannya. "Kau tahu, alasanku menunggu ini semua, hm?"
Hanya dibalas empat gelengan.
"Kalian percaya, kalian berteman dengan seorang pinokio?"
Sukses sudah mereka bertanya-tanya, bingung akan maksud dari ucapan lawannya.
Siapa pinokio yang dimaksud?
"Kalian tidak tahu?" sang Shadow malah tertawa mengejek. "Ternyata dia hebat juga, bisa menipu—"
"—Tunggu! Maksudmu, Gold dan kebiasaan berbohongnya itu?"
Selaan Red barusan justru membuat keempat temannya seakan tidak percaya akan ucapannya. Memang, tiga di antara mereka tentulah baru mengenal pemuda berbulatan emas itu, wajarlah mereka bingung akan alasan Shadownya mengaitkan sisi terangnya dengan boneka kayu terkenal itu.
Tetapi bagi Green dan Red sendiri, mereka tahu alasan sang Shadow mengaitkan pemuda itu dengan salah satu tokoh dongeng terkenal itu.
"Dan sepertinya aku harus berterima kasih kepada kalian …"
Kedua iris merah itu membulat segera, mendapati pemuda android itu mengacungkan mulut meriam tangan itu ke arahnya, seakan hendak menembaknya.
"… karena kalian sudah membantuku menemukan pinokioku yang berharga itu …."
Dan tawa menggelegar memecah kesunyian dalam suasana kelam di sana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Persona SPECIAL
sunlight-showered wicked pinocchio
Pokemon Adventures (Pokemon Special) © Hidenori Kusaka
Persona Series © ATLUS
Persona SPECIAL © kurohippopotamus (kurohippo)
Warning: Highschool!AU dan Persona!AU, OOC, genre campur (friendship – fantasy – mystery – adventure – humor – horror), plothole(s), unsur mitologi, pop cultures,romance mengancam, dan lain-lain.
Rate: T (silly scenes, mild languages, and minor bloody scenes)
Notes:
-Author tak pernah mengharapkan hal-hal finansial dalam membuat fic ini dan hanya menyalurkan kesenangan belaka.
-Diharapkan untuk selalu menjaga dan memeriksakan kejiwaan (serta kotak tertawa) anda setiap/sesudah membaca fic ini.
-Jika anda tidak menyukai (bahkan membenci) alur/pairing/lain sebagainya yang bersangkutan, diharap untuk segera meninggalkan fic ini, terima kasih.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mereka tidak ingat.
Mereka tidak ingat kapan sang Shadow memberikan serangan pertamanya, yang diingat pun hanya satu.
"… Red!"
Hanya sosok pemuda berambut hitam yang tenggelam dalam kepungan asap tebal dari serangan pemuda android di depannya. Hanya tawa mengiringinya, mempermainkan mereka yang berduyun-duyun ingin mengetahui keadaan ketua tim mereka.
Tercenganglah mereka mendapati kenyataan di balik kebulan asap itu. Red dengan ekspresi menahan sakit, duduk bersandar pada anak tangga di belakangnya.
Di depannya, sosok pria berambut panjang turut terduduk, menahan serangan meriam itu.
"Sukuna-Hikona, sekarang!" seru Red, memerintahkan Personanya untuk meluncurkan anak-anak panahnya ke arah Shadow Gold yang justru terbang berpindah tempat, entah ke mana.
Green hanya mendecih sebal, tatapan tajamnya mengawasi sekitarnya. Genggamannya kuat pada pegangan katananya, kedua mata hijaunya masih saja awas memperhatikan situasi yang menurutnya berbahaya.
Sampai tak sadar dirinya dijadikan sasaran serangan sang Shadow.
"Green!"
Kini giliran Green yang tumbang, terempas entah ke mana.
Tak ingin hal buruk terjadi lagi, gadis pemegang Magician Arcana itu mempertontonkan arloji biru lautnya pada sang lawan, sebelum menekannya.
"Sati, Maragi!" titahnya setelah sosok wanita berpakaian hitam muncul di depannya. Dapat terlihat Sati menghindari serangan meriam itu dengan luwesnya, sebelum memberi serangan api kepada Shadow Gold yang tak sempat menghindar. Belum sempat melarikan diri, serangan dari Chuchu rupanya mampu membuat sang Shadow tak berdaya untuk beberapa waktu ke depan.
"Kita harus menghambat gerakannya! Kalau tidak, kita bisa kewalahan!" kata gadis beriris cokelat kekuningan itu dengan pandangan terarah pada lawannya yang bergerak sedikit lebih pelan dari sebelumnya, mungkin efek dari serangan Chuchu barusan.
"Tapi bagaimana caranya?! Sekarang Green entah ada di mana, Red juga ambruk, ja—Pika, aku butuh bantuanmu!"
Pika segera mengangguk mantap ke arah Crystal sebelum berancang-ancang untuk menyerang, tatapan dari kedua mata mungil itu terlihat begitu tajam. Segera ia berlari menuju pemuda android bersayap bak pesawat itu lalu melemparkan dirinya ke arah sana, tepat di pundak sang lawan dan menggigitnya hingga mengaduh-aduh.
"GRRRRR! Dasar tikus sialan!" gerutu sang Shadow seraya meraih Pika dan melemparnya ke sembarang arah, diiringi pekikan panik dari Yellow yang segera berlari untuk menangkap makhluk kuning tersebut. Melihat gadis berponytail blonde itu berlari menuju Pika, Shadow berbulatan emas berpancar itu justru mengarahkan meriamnya.
Tepat sebelum Pika menyentuh tanah, Yellow meraih makhluk kecil itu dan berguling di tanah berubin merah bata itu. "Syukurlah Pika, untung aku berhasil menangkapmu …"
"… YELLOW, AWAAS!"
Sepasang bulatan cokelat kekuningan dan sepasang bulatan hitam kecil itu menengok ke sumber suara, tepat ke arah sebuah peluru angin besar yang mengarah cepat ke depannya. Dengan sigap, Yellow menunjukkan arloji kuning cerahnya tanda ingin memanggil Personanya, namun …
"Bya—"
… bukan, bukan karena terkena serangan dari Shadow Gold yang sekarang sedang mendecak sebal.
Karena Yellow justru diselamatkan oleh Red (yang rupa-rupanya sempat berlari menghampiri gadis blonde itu).
Rona merah menghiasi wajah manis gadis pemegang Temperance Arcana itu begitu mendapati pemuda berhelaian hitam jabrik itu menyelamatkannya, ditambah dirinya yang berada pada posisi dipeluk Red.
"Waktunya tidak tepat untuk menanggil Persona," ujar Red yang bersiaga dengan tonfanya sementara Pika kini sudah berada di atas kepalanya. "Nanti kau bisa terkena serangan—"
Red langsung memutus ucapannya dengan membalikkan tubuhnya lalu menghantamkan perut pemuda android—yang ternyata menghampirinya—dengan ujung tonfanya hingga terpelanting ke belakang, disambut pula dengan sebuah serangan tebasan yang membuat sang lawan semakin terlempar ke belakang.
"Hei, Green!" sapa Red setengah berseru sambil menengok ke arah pemuda brunet jabrik itu yang kini berada tepat di sampingnya. "Kukira kau ambruk!"
"Sok tahu," bantah Green seraya berdecih sebal. "Ayo kita hampiri mereka. Shadownya pasti terlempar ke sana," lanjutnya mengajak kedua temannya yang mengangguk serentak.
.
.
.
.
.
"Chuuu~"
"Pika pasti baik-baik saja, Chuchu."
Dapat terlihat Blue sedang menenangkan Chuchu yang meratapi kepergian Pika, sementara Crystal masih saja bersiaga. Entah mengapa, gadis berhelaian dark indigo itu merasakan firasat yang kurang mengenakkan mengenai Shadow yang seakan menghilang ditelan bumi, maupun keempat temannya (yang bahkan dia sendiri tak tahu berada di mana).
Oh, mungkin firasat pertamanya benar terbukti.
Lihat saja, Blue kini melontarkan bilah-bilah pisaunya, berusaha menghalau pemuda bersayap pesawat itu darinya meskipun gagal karena tubuhnya seakan ditembusi pisau yang bermaksud untuk melemahkannya dan justru bergerak makin cepat ke arah Crystal yang sudah memasang posisi kuda-kuda—
—dan menendang wajah Shadow itu sekeras mungkin, hingga terlempar ke arah samping dengan punggungnya menabrak pagar besi itu.
"Whoa …" gumam Blue terpana. "Sepertinya tadi itu keras sekali …"
"Oh ya?" Crystal justru beretoris tanda tak percaya tendangannya barusan terasa begitu kerasnya.
"Begitulah," jawab Blue sembari berkacak pinggang. "Ngomong-ngomong, ke mana mereka berempat itu? Yang benar saja hanya kita berdua di sini?!"
Sembari membetulkan ikatan simpul tali sepatunya, Crystal hanya tersenyum tipis saat mendengarkan rancauan gadis pemegang Magician Arcana yang mulai resah mengenai keadaan keempat rekannya itu. Pikirannya masih saja mencerna pernyataan yang terlontar dari Blue barusan, tanda tak percaya. Ia tahu, ini terhitung kali keduanya memasuki Niflheim setelah melupakannya beberapa tahun lamanya dan entah mengapa gadis pemegang Star Arcana itu merasakan kekuatannya bertambah, sama seperti saat itu …
… sama seperti sewaktu mereka bertiga menelusurinya.
Oh, seandainya saja Crystal menyadari bahwa Shadow Gold (yang dipikirnya tak berdaya) terlihat hendak menerjangnya dari arah sampingnya …
… dan segera menjatuhkannya tanpa pikir panjang, membuat Crystal menjerit panik.
"CRYSTAL!" Blue segera menengok begitu mendengar jeritan gadis bertwintail tersebut (yang kini meronta agar dilepaskan) sementara tangannya telah siap dengan bilah-bilah pisaunya, hendak meluncurkannya ke arah sang lawan.
Namun acungan meriam menghentikan geraknya.
"Ehehehe …" kekeh sang Shadow dengan salah satu tangannya menahan kedua pergelangan tangan Crystal yang terus meronta. "Aku tahu apa yang ingin kaulakukan." Lanjutnya seraya memiringkan kepalanya saat menengok ke arah Blue.
"Dan aku juga tahu apa yang ingin kaulakukan," timpal gadis beriris biru itu tegas. "Lebih baik kau jauhi dia …" lanjutnya bernada sama dengan bilah-bilah pisau pada sela-sela jarinya.
"Oh, kalau begitu … tidak apa-apa bukan jika aku menyerangmu dan makhluk kuning itu …?" tanya pemuda beriris emas berbinar nan kelam itu seraya mengacungkan mulut meriamnya ke arah Blue dan Chuchu (yang baru saja berada di sampingnya).
"Kau—"
"Apa, hmm~? Aku tidak suka diganggu, tahu~"
Dilihatnya Crystal yang terus meronta sementara Shadow Gold masih mengacungkan meriamnya, Blue hanya bisa berancang-ancang mengarahkan pisau-pisaunya itu. Chuchu di sampingnya pun mulai gemetar, mungkin teringat saat Pika dilemparkan waktu itu.
"Oh, ayolah~ Aku hanya ingin—"
—merasakan tendangan keras yang terarah ke bagian pertemuan kedua kakinya.
Dengan cepat gadis bertwintail dark indigo itu berguling menjauh begitu mendapati kesempatan saat sang lawan merintih kesakitan seraya memegangi daerah yang ditendanginya akibat tendangannya barusan.
"Callisto, Magna!" seru Crystal seraya menekan arloji biru mudanya, menampilkan sosok wanita berjubah kulit beruang yang menghantamkan kakinya ke tanah, menciptakan duri-duri tanah yang seakan menghujam tubuh pemuda bersayap bak pesawat itu.
"Sati, Garu!" seru Blue seraya menekan kepala arloji birunya, memanggil Sati yang memberikan serangan angin kepada sang Shadow yang sukses membuatnya terdorong ke belakang saat terjatuh tadi. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya kepada Crystal yang hanya mengangguk menyakinkan gadis pemegang Magician Arcana itu.
"Aku hanya sedikit—" sayang, ucapan Crystal terputus begitu mendengar seruan khas gadis memanggil namanya, membuatnya menengok ke sumber suara dan mendapati Yellow yang kini berlari menghampirinya, tak lupa dengan Pika di tangannya.
"Yellow!" seru Blue tiba-tiba seraya mendekap erat gadis honey blonde yang langsung meronta berharap dilepaskan, tetapi apa daya yang bersangkutan masih saja mengeratkan pelukannya. Masih beruntung Pika buru-buru turun dari dekapan Yellow dan lebih memilih untuk menghampiri Chuchu yang langsung berhambur ke arahnya.
"Blue-san …"
"Kau tidak apa-apa 'kan, Yellow?!"
"Blue-san …"
"Yellow~ Kau tidak terluka, 'kaaaan?!"
"Blue-saan …"
Gadis brunette itu langsung menengok ke arah gadis bertwintail dark indigo itu yang hanya bisa melipat kedua tangannya di depan dadanya, sebelum akhirnya melepaskan pelukannya pada Yellow (yang kini sibuk mengambil napasnya dalam-dalam) seraya memasang ekspresi khas anak kecil ketika tertangkap basah saat melakukan sebuah kenakalan.
"Di mana Red dan Green?" tanya Crystal, kali ini kepada gadis berbulatan kuning kecokelatan yang segera menunjuk ke arah belakang dengan ibu jarinya, tepat ke arah yang bersangkutan (yang kini menghampiri mereka).
"Di mana Shadownya?" tanya Red seraya menengok ke arah Blue dan Crystal (dengan ekspresi tanda mereka tak tahu menahu) yang hanya mengangkat kedua pundaknya.
"Mencariku?"
Ketujuh pasang mata pun terarah ke sumber suara, lebih tepatnya ke arah Shadow yang kini melayang di depannya dengan sayap bak pesawatnya. Seringainya tampak jelas, seakan mengejek mereka. Bahkan saat pemuda bersayap pesawat itu merentangkan telapak tangannya, membentuk barisan bak kabut gelap yang mendorong lawannya menjauh darinya, menyisakan Red seorang.
"Aku tak mengerti mengapa kalian melawanku," ujarnya curiga. "Padahal, yang seharusnya kalian lawan itu DIA!" suaranya menggema, mengheningkan suasana yang sebelumnya penuh dengan aura ketegangan.
"Kau ini bicara apa, sih?!" tanya Crystal setengah berteriak. "Justru dia yang harus kami selamatkan, dan itu berarti kami harus melawanmu!"
Sayang, belaan Crystal justru dibalas dengan tawa yang terkesan meremehkannya.
"Kau bilang, dia yang harus kalian selamatkan?" tanyanya di sela tawanya. "Dasar bodoh! Apanya yang harus diselamatkan dari seorang bocah seperti dia?!"
Gigi pemuda berbulatan merah itu itu menggerutuk tanda emosinya terpacu oleh ucapan Shadow berambut hitam tersebut. Ingin sekali ia meneriakinya, menyanggah semua pernyataan palsu dari Shadow Gold. Oh, atau mungkin ingin ia hantamkan ujung tonfanya ke arah wajahnya dengan keras, keras sekali.
Ah, sayang sekali, tawa mengejek dari sang lawan malah membuatnya sedikit tersentak.
"Bodoh sekali! Memangnya kalian tidak sadar apa, kalau kalian terus-terusan dibohongi bocah pengecut itu?!"
Tuhan, dia bertambah marah …
… yah, tapi sebetulnya dia benar, sih.
Dan Red justru bermonolog dalam batin.
"Memang … aku menyadari kebohongan-kebohongan yang selalu dikatakannya," tahu-tahu pemuda berambut hitam jabrik itu berjalan pelan menghampiri lawan bicaranya, "aku memang sengaja membiarkannya begitu, aku berpura-pura tidak menyadarinya …"
Merasa menang, Shadow Gold hanya memberikan tatapan sinis. Seringainya kini memanjang sedikit pada salah satu sudutnya, semakin memberikan sinis pada Red yang seakan tak terpengaruh.
"… tapi aku tahu alasannya melakukan itu."
Ada yang memuncak dalam diri Yellow, membuatnya ingin buru-buru mendekati Red kalau saja Green tidak mencegahnya.
"Jangan, Yellow! Itu urusan mereka sebagai teman!"
Oh, dan sang Shadow seakan terkena serangan begitu mendengar ucapan pemegang Emperor Arcana itu.
"Lanjutkan, Red!" seru Blue kencang, berusaha menyemangati pemuda pemegang Fortune Arcana yang kini menyeringai tanda mengetahui sesuatu.
"Karena dia—maksudku kalian, ingin terlihat hebat di mata kami, bukan?"
Shadow itu berakhir berteriak kesal seraya memegangi kepalanya.
"Aku yakin, kalian takut kalau suatu hari nanti kami menjauhimu, bukan?"
"CUKUUUUUP! SUDAHI BASA-BASIMU ITU, BODOOOOH!"
"Kalian malu untuk mengakui kekurangan kalian, bukan?"
"AAARRGGHH, SIAAAAAAL!"
"Kalian pasti—"
"—Callisto, Mafui!"
Terlihatlah Callisto yang meluncur menembus blokade kabut itu, lalu didekatinya Shadow lawannya yang masih berteriak kesal. Diangkatnya dagu pemuda itu kemudian mengecup lembut tepat pada bibirnya, sukses membuat pemuda bersayap pesawat itu membulatkan kedua bulatan emas berpendarnya.
Dan Red berakhir termangu memandangi pemandangan itu.
Dan untungnya kabut tebal itu benar-benar menghalangi pandangan teman-temannya.
Dia pasti sudah tidak berkutik lagi … gumam Blue yang seketika berlari menembus barikade bak awan tebal di depannya, tak sadar mendapati kabut itu dapat ditembusnya. Segera dia lemparkan bilah-bilah pisau dari sela-sela jemari lentiknya ke arah Shadow Gold. Sadar kini kabut yang menghalanginya sudah rapuh, ditorehkannya ujung rapier peraknya pada layar awan tipis itu lalu berlarilah gadis blonde itu menuju pemuda bersayap pesawat itu.
"Byakko, Tempest Slash!" seru Yellow seraya menekan wajah arloji kuning cerahnya, membuat sang harimau putih berlari menuju sang lawan dan mencakarinya bertubi-tubi.
Pecahnya kabut yang menghalanginya membuat Green yakin untuk meluncurkan serangannya. Sembari berlari menghindari serangan kanon yang bergerak tak menentu mengincar targetnya, pemuda brunet jabrik itu menekan arloji hijau daunnya, memanggil sosok pria berzirah samurai yang terbentuk dari sekumpulan awan kabut biru neon itu.
"Okuninushi, Mazionga!"
Dapat terlihat pria itu mengepalkan kedua tangannya, mengumpulkan kilatan listrik pada kedua kepalannya, sebelum merentangkannya ke arah depannya, tepat ke arah sang lawan yang hanya bisa membulatkan kedua mata beriris emas berpendar itu, tak sempat menghindar lagi setelah sebelumnya menghindari serangan tanah dari Callisto.
Nyaris saja tubuh Shadow itu menubruk Yellow dan Crystal kalau saja mereka tak segera menghindar serta Blue yang tak mengalihkan perhatiannya dengan Agilao milik Sati.
"Heey~ Ayo kejar aku~" serunya menggoda seraya mengedipkan sebelah matanya, mencoba menarik perhatian lawannya yang langsung terbang mengejar sembari meluncurkan meriam cahaya ke arah gadis berhelaian cokelat yang seakan tertawa menggodanya. Dengan cepat Blue berlari menghindari meriam-meriam yang menyerangnya, sesekali ia menjerit begitu dirinya nyaris terkena serangan kanon dari pengejarnya.
Ah, rupanya ia sengaja membawanya menuju Red dan Green.
"Sukuna-Hikona, Deathbound!"
Asap biru neon itu seketika muncul di belakang pemuda pemegang Fortune Arcana itu, membentuk sosok Sukuna-Hikona yang kini meluncurkan anak panahnya ke arah lawannya, tepat mengenai dada Shadow Gold yang tersentak begitu menyadari rantai beraura biru neon dari anak panah itu meliliti tubuhnya dan menariknya menuju penyerangnya.
"Green!" seru Blue seraya menghindar dari lawannya, membuat yang bersangkutan bersiaga dengan katananya begitu sang pemuda bersayap bak pesawat itu tertarik ke arahnya. Dengan cepat, ditebasnya tubuh bak besi itu, bersamaan dengan terlepasnya anak panah berantai itu dari dadanya, sukses membuatnya terhempas jauh darinya.
Kalau boleh jujur, Shadow Gold sebetulnya benci mengakui detik-detik kekalahannya, ia tak ingin menampakkan kekalahannya.
Sayang sekali, serangan duri-duri tanah dari sosok wanita berjubah beruang itu segera menghentikan niatnya, membuatnya raganya berangsur-angsur tenggelam dalam kabut ungu yang begitu pekat. Dengan kelima insan dan dua ekor tikus kuning yang hanya dapat menonton kabut ungu yang sudah mulai menipis itu, mulai menampilkan sosok pemuda yang begitu mereka kenal. Dilihatnya pemuda berhoodie merah itu terduduk membelakangi mereka, seakan tak ingin menunjukkan raut wajahnya.
"Red …" akhirnya sosok di depan mereka itu mulai mengeluarkan suaranya.
"Mengapa kau mencariku?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Author notes
… Udah berapa lama ane berhiatus ria? /woi
Sebelumnya, ane minta maaf sebesar-besarnya karena sudah menelantarkan fic ini serta jarang publish fic. Soalnya, saat ini ane lagi nyangkut sama kuliah ane (yep, ane baru aja semester 2). Kuliah, permageran, dan games itu sama sekali bukan perpaduan yang pas, kawan. Mana ane sama sekali belom lanjutin collab fic ane sama EHEMdoiEHEM pula :')
—padahal ane masuk di prodi idaman ane :')) —
Daan berdasarkan judul chapter saat ini, terbacakah arcananya Gold apa? *winks*
Akhir kata, silakan luncurkan komentar/saran/kritik untuk chapter ini ke kotak review chapter ini~
