Beyblade (c) Takao Aoki

Warning: Canon Diverge. Uttaran minus nari2 umat sekampung di balik tiang. Humor di chapter2 awal terkikis abis menyisakan sinetron alay :(


аромат

.
by Ratu Obeng (id: 1658345)

10.


Sepuluh meter ke depan ada pohon mapel, daunnya baru selesai matang dan kini berguguran. Dua meter tidak jauh ada anak-anak bermain di taman pasir, ibu mereka mengawasi saling mengobrol nyaman di atas ayunan. Seandainya Hiwatari Kai lebih banyak keluar rumah untuk sekedar berjalan-jalan, mungkin dia sudah lama tahu kalau toko-toko di sepanjang jalan kediamannya banyak menawarkan barang-barang antik dan kafe bertema menarik.

Lensa ungu itu masih menari kesana-kemari, kanan dan kiri. Tapi sosok yang dicarinya masih nihil.

"Sial, baterainya hampir habis!"

Kakinya tidak berhenti bergerak meski peluh mulai membungkus permukaan kulitnya. Kerongkongannya perih padahal dia belum dua puluh menit berlari. Bunyi monoton dari GPS ponselnya semakin kencang, yang artinya dia semakin dekat dengan tujuan. Berharap saja layarnya belum padam sebelum itu terjadi.

"REEEEEEIIIII!"

Yang dipanggil segera bangkit dari posisi duduknya di sebuah bangku panjang, memasang tampang tidak percaya, "Loh, Kai? Kenapa malah ada di sini? Pertandingannya?"

Kai memperlambat lajunya sembari memungut oksigen. Perasaannya campur aduk. Di satu sisi ada rasa lega ketika melihat teman satu tim-nya baik-baik saja, tapi di sisi lainnya dia marah—sangat marah—karena Rei tidak menunjukkan paras khawatir sama sekali. Mungkin ditutupi dengan sangat baik, seperti perasaannya selama ini.

Entah kenapa Kai mendadak teringat pada hal tidak penting di saat yang kurang tepat, seperti saat ini contohnya.

"Bey-mu... bagaimana!?"

Rei tersenyum kecut, "Kau lebih cemas pada Driger daripada aku? Sungguh ironis..."

"...Beyblademu," sama halnya seperti Rei, kepala Kai ikut merunduk. Mengamati obyek yang disodorkan padanya. Menyaksikan bagian-bagian pelat yang sangat dikenal sekiranya hancur berkeping. Tidak parah, tapi untuk diadu dalam ajang tanding jelas sudah tidak mungkin.

"Karena berusaha menyelamatkan anak yang hampir tertabrak truk. Driger terpental lalu menghantam aspal, untunglah tidak sampai terlindas." iris kemerahan Rei menyapu kerumunan batita yang masih sibuk bermain pasir, tidak jauh. Salah satu dari wanita yang ada di sana berdiri dari ayunannya kemudian membungkuk dalam. Mungkin nyawa anaknyalah yang baru saja diselamatkan Rei.

"Dasar ceroboh!" Kai menghardik kesal, meluapkan isi emosinya. Menghibur orang bukanlah keahliannya, dan memang tidak ada waktu untuk itu. Babak penyisihan pasti sudah dimulai sekarang karena alat komunikasi di dalam sakunya sempat bergetar kemudian mati. Mungkin sudah tidak mampu berfungsi lagi.

Tidak ada pilihan lain. Jika mereka memaksakan diri berlari hingga stadium, mungkin akan sampai tepat waktu.

"Aku sudah menghubungi Takao dan Max. Aku meminta mereka melakukan sesuatu agar kau bisa bertanding di nomor urut terakhir." penjelasan tergesa, "Kalau menunggu dijemput tidak akan keburu."

"Kau saja yang kembali duluan ke arena." dibalas dengan tenang, menolak niat pemuda helai salju itu untuk mengajaknya pergi, "Aku akan menyusul."

"Tidak tanpamu!"

Ekor Rambut Rei yang ditutupi hiasan putih meliuk seumpama desir. Dinamis bagai cemeti. Keduanya saling terpaku dengan pandangan saling beradu. Baru hening beberapa detik tapi tidak ada yang kerasan. Kai merutuki semua dalam hati, mempertanyakan sejak kapan hubungannya yang seru bersama Rei sejak pertama kali bertemu sudah sedemikian berubah. Semua terjadi begitu abstrak, tanpa setitik pun penjelasan.

"Kenapa?"

"tidak tahu."

"Kau tidak tahu?"

"Aku tidak tahu." Kai benar-benar tidak tahu. Blank.

Jika harus diibaratkan dengan sebuah gasing, Kai akan memposisikan diri sebagai poros—dengan segala yang ada di sekitar berpusat dengan dia sebagai sumbunya. Sebuah pemikiran figur-figur trendsetter. Sementara Rei berbeda. Telinganya sendiri yang mendengar selama masih berada di Blade Sharks, bahwa pemuda itu hanyalah angin. Angin yang mampu membuat sebuah gasing yang tampak kokoh bisa saja goyah meskipun hanya diganggu semilir.

Sementara di sini Kai terlanjur dihadapkan pada dua jenis angin dengan aroma yang berbeda. Dengan dua kenikmatan yang berbeda pula. Padahal dalam situasi biasa, putra tunggal Hiwatari itu bisa saja memilih untuk mengacuhkan keduanya.

"Jangan beri aku harapan, Kai. Sama seperti selama ini." urat-urat di kepalan tangan Rei semakin terlihat jelas, "Sudah cukup..."

Permasalahan utama dan yang lainnya; Kai juga tidak pandai merangkai kata untuk sekedar memberi klarifikasi. Disalurkan lewat pertandingan juga mustahil, Rei sedang kehilangan alat tempurnya. Tidak juga dengan berkelahi, kehilangannya akan terlalu banyak dan hanya akan menyisakan sesal di kemudian hari.

Padahal sampai detik ini Kai sudah terlalu banyak menyesal dengan berbagai keputusannya.

"Bagaimana... bagaimana kalau aku memang akan memberimu harapan sekali lagi?" tangan diulurkan di depan mata pemuda Cina, sebuah name tag bertuliskan 'Camomile'.

Mendecak pelan. Rei semakin tidak mengerti, "...Kenapa?"

"Karena tanpa bertanding pun aku tahu, akulah yang terkuat."

Sombong. Percaya diri. Penuh determinasi. Tapi Kai tidak pernah peduli. Dan mungkin pemuda berhias sirip hiu itu tidak pernah tahu bahwa sikapnya yang tegas dan jujur inilah yang mampu memikat banyak hati. Di hadapannya, Rei menggeleng tidak percaya mendapati benda tanpa sudut nan berharga kini mengisi telapak tangannya. Mengamati part logo berlambang burung legenda bersarang manis menghiasi bagian pusara.

Tidak usah dijelaskan lagi. Kai menginginkan Rei bertanding dengan Dranzer, Bey yang selama ini menjadi harga diri serta kehormatannya.

"Tidak, Kai... dengarkan—"

"Kau yang harus mendengarku, Rei Kon!"

Tangan Kai sekali lagi memaksakan Beyblade kesayangannya ke dalam tangan lawan bicara.

"Kalau kau berhasil mengalahkan Yuuya, aku akan makan Moon Cake buatanmu lagi."


To be continued...

.

.

.

A/N:
Tarararaaa~ sampai ketemu selanjutnya di chapter pamungkas tanggal 20 Desember ;D
Fic ini HARUS tamat. Makasih banyak atas dukungannya selama 4 tahun ini #peluketjup

R&R maybe? C: