Chapter 9
Langit cerah, sesuai dengan yang diperkirakan oleh para pembawa berita cuaca pagi tadi. Kyungsoo mengangkat kepalanya dan menatap langit biru yang membentang luas, tak berujung. Dengan garis-garis putih awan yang tipis, mengambang menghiasi langit kosong. Kyungsoo merasakan bahwa musim gugur akan segera datang, angin menyapu wajahnya sedikit kasar. Kyungsoo berjalan perlahan dan sadar bahwa jalan yang ia tempuh hanyalah jalan setapak lurus yang tak terlihat di mana letak akhirnya, sama seperti langit.
Kyungsoo berhenti dan berbalik, mendapati pemandangan yang sama.
Tak bisa berbalik, tapi harus terus berjalan di jalan tanpa akhir.
Kyungsoo ingat bahwa baru tadi pagi ia menonton TV dan jarinya terluka karena tergores dengan sebuah paku berkarat di ruang bawah ta… nah? Setahunya rumahnya apartemen bobrok tanpa ruang bawah tanah….
Kyungsoo melihat jemarinya yang kecil dan mencoba mencari kebenaran. Di mana ia sekarang? Dan apa yang sedang terjadi? Kyungsoo berlari maju, tanpa sengaja melihat pantulan dirinya pada sebuah genangan air.
Yang terlihat adalah Kyungsoo saat berumur 7 tahun.
Kyungsoo berhenti dan merasakan horror yang luar biasa. Jika ia masih berumur 7 tahun…
"Kyungsoo…"
Kyungsoo terbelalak melihat Ayahnya ada beberapa meter di depannya. Dengan takut dan panik, Kyungsoo lasung mundur dan Ayahnya mendekat. Kyungsoo menggeleng kasar, "Tidak. Kau sudah tiada! Kau sudah tiada!"
Ayah Kyungsoo tampak sedih mendengar apa yang Kyungsoo katakan. Ia berhenti dan menghela dalam. Apa yang salah? Mengapa Ayah tampak sedih dan penuh rasa bersalah?
"Kyung… Maafkan aku…"
Kyungsoo membuka matanya dan air mata langsung mengalir dengan bebas. Tanpa sadar Kyungsoo terisak, napasnya terasa berat. Entah apa yang ia rasakan saat itu, sakit, kecewa, marah, sedih, bersalah, semua. Semua terhadap Ayahnya. Kyungsoo tak bisa menahan tangisannya, ia duduk dan menyembunyikan wajahnya di balik lengannya.
Meski hanya dalam mimpi, Kyungsoo merasa bahwa Ayahnya benar-benar meminta maaf. Andai jika benar Ayahnya meminta maaf di hadapannya, tidak akan jauh beda hasilnya.
Mengapa harus sekarang? Mengapa harus saat ia sudah merasa bahwa hidupnya benar-benar akan hancur, ia bermimpi Ayahnya meminta maaf? Setelah selama ini, rasa benci terus menggerogoti hatinya yang membuat dirinya selalu merasa tak penting? Setelah menganggap bahwa pria seperti Ayahnya memang pantas ma..tidak. Kyungsoo menyayangi Ayahnya.
Apapun yang orang katakan pada Ayahnya. Ia ingat, dulu meski banyak temannya yang menghina Ayahnya sebagai orang tak bermoral, Kyungsoo masih ingat bahwa setiap pulang sekolah ia akan melihat susu rasa stroberi berkalsium tinggi terletak di meja belajaranya, dengan beberapa roti isi. Meski setelahnya, Kyungsoo akan melihat Ayahnya terbaring tak sadarkan diri dengan botol minuman keras.
Kyungsoo juga ingat hari di mana ia menang perlombaan menyanyi dan Ayahnya memarahi dirinya, juga memukul dirinya. Tapi Ayahnya tidak tahu, bahwa Kyungsoo melihat Ayahnya menangis sambil melantunkan sebuah lagu yang Kyungsoo sering dengar dari bibir ibunya sebelum tidur dengan nada yang sangat lembut dan pelan.
Kyungsoo hanya bisa menatap dalam ketakutan dan kesepian. Saat itu Kyungsoo kecil menarik kesimpulan, Ayah juga merindukan Ibu. Kyungsoo terisak dan jelas terdengar, entah, air matanya mungkin memang perlu dikeluarkan. Sudah terlalu lama ia memendam segala rasa. Menelan bulat-bulat rasa sedih, takut, juga amarah.
Di luar kamar, seorang namja bernama Kai tampak gugup. Kai ingin membuka pintu namun juga tidak ingin. Bagaimana jika ia malah membangunkan Kyungsoo? Bagaimana jika Kyungsoo merasa terganggu? Kai berjalan resah, buka atau tidak?
"Ya…."
Kai melompat kaget, untung saja tidak berteriak, dan berbalik melihat Baekhyn dengan sebuah nampan berisi masakan hangat yang baru mereka masak.
"Kau mau apa?" Tanya Baekhyun.
Kai melihat nampan yang dibawa Baekhyun dan mengambilnya, Baekhyun ingin memintanya kembali saat Chanyeol datang menariknya dari belakang.
"Baekkie~~ Ayo kita bagi-bagi makanan!"
Baekhyun ingin melepaskan tubuhnya dari Chanyeol dan membawakan makanan kedalam kamar Kyungsoo, namun Chanyeol menariknya kuat, membuatnya terpaksa berjalan mengikuti kemana Chanyeol ingin pergi. Kai menatap Chanyeol yang mengedipkan satu matanya padanya dan melontarkan kata-kata bisu, "Fighting!"
Kai tersenyum berterima kasih pada temannya yang satu itu. Kai melihat Sehun membawa tupperware besar dan Luhan membawa beberapa piring. Apa mereka akan benar-benar melakukan bakti sosial? Kai menyengir saat Sehun memberikan tanda "OK" padanya dan menyusul Baekyeol dan Luhan yang sudah berada di luar.
Sekarang, tinggal Kai dengan nampan di tangannya. Kai mengambil napas dan membuka pintu kamar itu perlahan.
"Hyungie…"
Hening. Kai melangkah lebih dalam.
Kai hampir menjatuhkan nampan yang ada di tanganya saat mendengar Kyungsoo menangis, namun ia masih sadar dan berlari cepat kearah meja kecil untuk menaruh nampan. Kai mendekat dan menarik tangan Kyungsoo yang menutupi wajahnya.
Kyungsoo menatap Kai kaget dan Kai membalas menatapnya dengan lembut.
Mengapa Kai? Itu adalah pertanyaan yangs sering muncul di dalam pikiran Kyungsoo. Kyungsoo merasa jantungnya berdegup kencang saat melihat bagaimana Kai menatap dirinya saat ini.
"Hyung.. kau kenapa?" Tanya Kai dengan nada yang luar biasa lembut.
Kyungsoo tiba-tiba memeluk dan membenamkan wajahnya di dada Kai yang bidang. Kai yang kaget dan tidak bisa mencerna keadaan tak membalas pelukan Kyungsoo. Kyungsoo terisak, membasahi kemeja Kai. Kai masih tidak sadar saat Kyungsoo mengatakan sesuatu.
"Ka-kau.. pasti jijk ya? Ma-maaf aku.. me-memelukmu.."
Kai dengan cepat melingkarkan kedua tangannya di tubuh Kyungsoo saat mendengarnnya. Tidak, ia tidak akan melepaskan Kyungsoo secepat itu. Ia mengeratkan pelukannya dan Kai merasa Kyungsoo juga mengeratkan genggamannya di kemeja Kai yang pasti sudah basah karena air mata. Kai memberanikan tangannnya untuk naik dan mengelus kepala Kyungsoo.
Kai mendekatkan hidungnya kerambut Kyungsoo dan menghela wanginya, lembut. Tanpa sadar ia membenamkan wajanhnya di rambut Kyungsoo. Kyungsoo di sisi lain, merasa tubuhnya ringan, hangat, dan aman. Pelukan Kai seperti melindunginya dari segala masalahnya, membuatnya melupakan kegelisahannya. Yang Kyungsoo rasakan saat itu benar-benar murni rasa aman.
Kai menutup matanya dan mengelus punggung Kyungsoo, "Hyung… aku di sini." Kai tidak tahu mengapa ia mengatakan itu. Dan apa maksudnnya. Ia berpikir memang ia akan selalu ada untuk Kyungsoo. Kyungsoo mengeratkan pelukannya, seerat yang ia bisa, layaknya Kai akan pergi. Namun setelah mendegar apa yang Kai katakan, Kyungsoo merasa lega.
Detik berlalu, menit berlalu. Mereka berdua terus berada dalam kehangatan satu sama lain, menutupi kegelisahan masing-masing.
Karena Kyungsoo tak merasa ingin melepaskannya. Dan Kai yang memang tidak ingin melepaskannya.
Baekhyun membagikan makanan yang berlimpah pada anak-anak yang sedang bermain dan juga beberapa orang tua yang lewat atau duduk di sekitar taman. Mereka tampak senang dengan makanan gratis yang diberikan, Baekhyun bersyukur bisa memberikan hal-hal berguna seperti ini. Chanyeol di sisi lain bermain dengan anak-anak kecil yang entah sejak kapan memintanya bergantian untuk menggendong mereka, mungkin kerena tubuh Chanyeol yang tinggi, membuat anak-anak itu merasa seperti terbang saat berada di atas. Chanyeol dengan senang hati menyanggupi permintaan anak-anak kecil itu, Chanyeol memang pada dasarnya menyukai anak-anak.
Baekhyun sedang membungkus makanan untuk seorang nenek saat mendengar tawa menggelegar. Baekhyun menoleh dan melihat Chanyeol berlari kekanan dan kekiri dengan seorang anak perempuan di pundaknya. Anak perempuan itu tampak senang sekali, tawanya tak berhenti.
"Apa itu temanmu?" Tanya sang nenek, memecah perhatian Baekhyun. Baekhyun mengangguk dan kembali membungkus makanan sang nenek.
"Anak yang baik.. cucuku tampak senang sekali.." Ucap sang nenek lagi. Baekhyun menyerahkan bungkusan makanan pada sang nenek dan sang nenek mengucapkan terima kasih. Baekhyun menatap nenek itu berjalan kearah Chanyeol dan memanggil cucunya yang sedang digendong oleh Chanyeol untuk turun dan pulang. Anak perempuan itu tidak mau awalnya, sebelum Chanyeol sendirilah yang menurunkannya dan mengelus kepala anak itu.
Sang nenek mengelus pipi Chanyeol dan mengatakan sesuatu yang membuat Chanyeol tersenyum lebar. Setelah mengucapkan perpisahan dan lambaian tangan, Chanyeol menoleh kearah Baekhyun. Tepat saat Baekhyun menatapnya. Chanyeol menyengir dan berlari kearah Baekhyun.
"Baekkie~~ apa sudah selesai?" Tanyanya
Baekhyun entah kenapa mendengus, "Tidak. Kau bermain terus sih dan tidak membantu."
Chanyeol langsung merasa bersalah, "Aku minta maaf!"
Baekhyun tersenyum tertahan melihat Chanyeol, padahal ia telah selesai. Chanyeol terus meminta maaf saat Baekhyun tak bisa menahannya lagi. Ia tertawa. Chanyeol berhenti meminta maaf dan menatap Baekhyun bingung.
"Baek?"
Baekhyun mengatur napasnya dan menatap Chanyeol, "Tidak.. duh.. aku.. maaf. Sebenarnya aku sudah selesai. Aku hanya ingin mengerjaimu. Tidak kusangka kau akan merespon seperti itu." Baekhyun kembali tertawa.
Chanyeol menggerutu, "Apaan.. kenapa kalian suka sekali menertawakan aku? Padahal ya aku itu pria tampan, cool, dan tidak humoris."
Buh. Senyummu saja sudah cukup humoris Chanyeol.
Baekhyun menepuk pundak Chanyeol yang jauh tingginya, "Sudahlah. Kami tertawa tanpa maksud buruk."
Chanyeol menatap Baekhyun, tersenyum setelahnya. "Bagus juga sih bisa melihatmu tersenyum."
Baekhyun memerah dan mengalihkan pandangannya pada jalan, kenapa ia bisa sesantai itu mengatakannya? Baekhyun menyerahkan kotak tupperware kearah tubuh Chanyeol kasar menyebabkan Chanyeol sedikit oleng.
"Bawa."
Chanyeol bingung melihat perubahan sikap Baekhyun, apa Baekhyun kesal padanya? Apa yang ia lakukan? Apa ia tak suka dengan apa yang ia katakan? Chanyeol masih termenung dan memikirkan jawaban saat suara Baekhyun memanggilnya dari jauh. Chanyeol dengan kakinya yang panjang menyusul Baekhyun yang setidaknya sudah 100 meter di depan.
Di sisi lain, Sehun sedang sibuk membujuk seorang anak perempuan yang terus menangis. Ia bingung, kenapa ia bisa berada di situasi seperti ini? Setahunya ia tadi membagikan makanan pada seorang ahjumma dan seorang anak perempuan datang padanya, meminta makanan padanya.
"Sepertinya sekali-sekali kau perlu olah raga wajah. Apa susah sekali untuk tersenyum? Kau membuatnya takut.." Luhan datang dan mengangkat anak perempuan itu di lengannya. Menggendongnya dan menyanyikannya lagu. "Baby don't cry…"
Anak perempuan yang tak sadar bahwa ia sedang digendong hanya bisa menatap wajah Luhan yang cantik dengan penuh tanya, namun akhirnya ia melingkarkan kedua tangannya di leher Luhan. Luhan memutar-mutarnya sejenak dan menurunkan anak perempuan itu pelan, mengelus rambutnya dan memberikannya permen.
"Maaf ya.. Oppa itu tak bermaksud jahat kok. Ia orang yang baik, hanya saja ada yang salah dengan system ekspresi wajahnya. Ini permen untukmu sebagai permintaan maaf" Ucap Luhan.
Anak itu tersenyum dan mengecup cepat pipi Luhan sebelum berlari meninggalkan Luhan.
"Mengapa kau menjadi pacarku? Pacar apa yang suka menghina pasangannya sendiri?" Ucap Sehun kesal.
Luhan terkekeh, " Kau lucu. Ayolah, sepertinya Baekhyun dan Chanyeol sudah berjalan pulang. Aku tidak mau tersesat."
Sehun hanya bisa menggerutu saat Luhan menarik tangannya.
Kalau dipikir-pikir apa beda kedua orang ini? Tidak ada.
Pernyataan aneh jika mereka tidak cocok.
"Aku tidak tahu mengapa kau kembali sekarang." Ucap seorang wanita berumur 40 tahunan dengan baju putih panjang, rambut terikat rapi kebelakang dan hanya menyisakan sedikit rambut kecil yang baru tumbuh di depan, sepatu putih bersih, dan sebuah kertas.
"Aku juga tidak tahu ajuma masih bertahan menjadi pengasuh di sini." Balas seorang pria yang mengambil kertas dari tangan sang perempuan dengan pelan. Sang perempuan hanya bisa menatap pria itu dengan tatapan marah, namun juga sebuah kelegaan yang mendalam. Pria itu tampan. Jelas dari garis wajahnya. Hidungnya yang mancung, menjadi tempat bertengger kacamata hitam yang ia kenakan. Menutupi ¼ wajahnya. Baju kemeja yang terlihat mahal, membuatnya sedikit tidak cocok dengan tempat ia berada sekarang.
Sebuah panti asuhan yang menampung anak-anak miskin yang mungkin cacat, dibuang, atau memang kehilangan orang tuanya.
Perempuan itu menghela dan hanya bisa menatap penuh arti pada sang pria, "Aku harus marah. Tapi aku merasa tidak akan ada gunanya lagi. Setidaknya kau pulang. Apa kau akan mencarinya?"
Pria itu memasukkan kertas kecil berisi alamat itu kedalam kantong celananya dan membalas tatapan perempuan itu, "Pasti."
"Ia tidak akan menerimamu begitu saja."
Pria itu mengalihkan pandangannya kesekitar panti asuhan, di mana terlihat banyak anak-anak yang bermain dengan ceria, memberikan sebuah kehangatan tersendiri bagi Pria itu. "Apa aku meninggalkannya terlalu lama?"
Perempuan itu mengikuti pandangan pria itu, "Ia telah kembali seperti semula. Aku masih ingat saat ia tertawa"
"Aku tidak pernah melihatnya."Pria itu terdengar sedih.
Perempuan itu menghela, kali ini panjang dan terdengar sangat berat. Andaikan waktu bisalah diputar kembali, pasti ia ingin kembali saat ia masih muda dulu. Semua orang pasti akan berharap yang sama. Saat kedewasaan mulai menekan sebuah hati, sebuah jiwa, dan seorang manusia yang berjalan, yang semakin lama semakin rendah, saat kedua belah kaki tidak lah sanggup lagi untuk berdiri tegap.
Perempuan itu berjalan maju dan menggendong seorang anak tunanetra yang sedang berusaha berjalan dengan tongkat di genggamannya, untuk membantunya menentukan jalan yang aman untuk dipijak.
Bukankah kita harus berterima kasih? Saat kita masih bisa melihat mana jalan yang buruk dan mana jalan yang baik dengan dua bola mata? Bagaimana jika kita hanya bisa melihat kegelapan? Bukankah kita sudah sangat beruntung?
Tuhan pasti bosan mendengarnya. Pemintaan maaf, penyesalan, raungan tangis, yang mungkin hampir setiap detik manusia ucapkan kepada-Nya. Seharusnya, jika Tuhan itu seperti manusia, Tuhan tidak akan menggubris. Tuhan hanya akan diam, membiarkan kita jatuh dan menangis. Terluka dan tak sanggup lagi berdiri. Namun Tuhan bukanlah manusia. Tuhan memaafkan kita. Tuhan tetap menerima kita meski kita sudah kotor. Pintu maaf terus terbuka dan tidak akan tertutup.
Perempuan itu mengecup pelan puncak kepala anak itu, mengelus rambutnya lembut, kemudian menurunkannya. Membiarkan ia berusaha mencari jalan menuju teman-temannya.
Andai waktu bisa diputar kembali, pasti anak itu memiliki kemungkinan untuk melihat lagi.
Perempuan itu berbalik dan menatap pria yang berdiri tegap di hadapanya. "Bawa dia kesini jika kau menemukannya."
Pria itu mengangguk dan mengucapkan salam perpisahan.
Garis oranye terlihat melintang di langit barat, matahari mulai menyusup masuk dan akan terbit di bagian bumi yang lain, sedangkan bulan akan naik dan bintang akan bersinar.
Malam mendekat.
Perempuan itu menghela entah keberapa kalinya untuk hari ini, mungkin karena cuaca mulai mendingin.
"Kyungsoo…" Ucapnya pelan.
Baekhyun berjalan dengan diam dan santai. Untuk pertama kalinya ia bisa berjalan sesantai ini. Biasanya ia akan melangkah cepat untuk mencapai rumah, karena kemungkinan Kyungsoo akan tinggal sendiri di dalamnya.
Ada Kai.
Pikiran itu selalu terulang dalam otak Baekhyun. Entah apa yang sebenarnya ia harapkan dari seorang Kai, meski ia tidak mengharap banyak, setidaknya ia merasa tenang dengan kenyataan bahwa Kyungsoo tidak sendiri.
Baekhyun takkan pernah meninggalkan Kyungsoo seorang diri. Takkan pernah.
Meski itu mengancam nyawanya.
Baekhyun tanpa sadar menyanyikan lagu. Lagu yang dulu sering ia nyanyikan bersama Kyungsoo. Lagu yang sangat ceria, membuat senyum tercetak di bibir Baekhyun.
Neomaneul saranghae~~
Ireokhae mareji~~
(H.O.T – Candy)
Chanyeol yang ada di sebelahnya tak bisa mengalihkan pandangannya dari Baekhyun. Ia tak menyangka ia akan mendengar sesuatu yang begitu mengagetkan. Maksudnya, lihatlah, bukankah tadi Baekhyun kesal padanya? Dan sekarang Baekhyun menyanyikan sebuah lagu yang sangat ia kenal. Ia suka lagu ini, terlebih saat Baekhyun menyanyikannya sekarang. Telinganya yang awalnya memang sudah lebar, ia merasa perlu untuk melebarkannya lagi, agar suara Baekhyun terus ada dalam pendengarannya. Tidak hilang, tidak samar-samar. Namun bukan itu yang hampir membuatnya ingin menangis bahagia dan mengucapkan terima kasih pada Tuhan di atas sana, senyuman Baekhyun.
Chanyeol ingin bersujud syukur, bahwa masih ada seorang secantik Baekhyun. Hidup dan berjalan di sebelahnya. Dekat denganya, tidak lebih dari 1 meter, mungkin hanya 30 cm. Chanyeol tanpa sadar berhenti berjalan, menyebabkan Baekhyun ikut berhenti.
Sehun dan Luhan yang sedari tadi menyadari keanehan Chanyeol hanya bisa terkekeh kecil di belakang mereka. Mereka juga dengar suara Baekhyun dan mereka akui, suara itu seperti seorang diva. Mereka ikut berhenti berjalan, menjaga jarak untuk melihat apa yang terjadi. Sehun tahu, Chanyeol sudah mulai jatuh cinta pada Baekhyun, dan keburukan juga kebaikannya dari Chanyeol saat sedang jatuh cinta adalah ia akan mendapatkan orang itu bagaimanapun caranya. Terkadang Chanyeol menggunakan cara kotor, namun setelah pengalaman dari cinta terdahulunya, Kris, ia kapok.
Ternyata mencintai seseorang tak bisa memaksakan.
"Kenapa kau berhenti?" Tanya Baekhyun
Andai Chanyeol kehilangan otaknya, mungkin ia sudah mencium Baekhyun sekarang. Lihatlah bibirnya yang tipis. Oh Tuhan.
Baekhyun terus menatap aneh Chanyeol yang terus membalas tatapannya dengan mata yang tak bisa dijelaskan artinya. Baekhyun menoleh dan melihat Sehun dan Luhan menatapnya dengan senyum penuh makna. Menautkan alisnya, pasangan aneh. Mengapa mereka juga berhenti?
Baekhyun kembali menatap Chanyeol yang kali ini sedang menatap tanah, "Kau kenapa Yeolli-ah?"
Chanyeol yang sedari tadi menunduk langsung mendongak dan menggenggam pundak Baekhyun. Baekhyun melebarkan matanya kaget akan tindakan Chanyeol.
Sehun di belakang ingin tertawa, "Mulai deh.."
"Kau…" Ucap Chanyeol dengan nada, 'aku-tidak-percaya-ini-terjadi-apa-ini-mimpi'.
Baekhyun merasa sedikit horror dengan mata Chanyeol yang besar dan menatapnya, layaknya ia hanya sepotong daging yang hendak di makan. "Ke..kau kenapa?"
"Katakan sekali lagi."
"Huh?"
Chanyeol mendekat, membuat Baekhyun berusaha menjauh meski tidak ada efeknya karena tangan Chanyeol yang menggengam erat pundaknya. "Panggil namaku lagi."
Baekhyun tak bisa tak berpikir bahwa Chanyeol terdengar seperti maniak yang pedophile."Chanyeol?"
Chanyeol menggeleng kasar. "Bukan. "
Ini membingungkan dan aneh.
"Lalu?" Baekhyun terdengar sangat bingung.
"Panggilanku. Kau tak pernah memanggil nama dengan nama kecilku. Ucapkan lagi. Aku ingin mendengarnya lebih jelas." Jelasnya.
Wajah Baekhyun memerah seketika.
Biasanya, saat seseorang sudah memanggil nama kecil pertanda bahwa mereka sudah sangat dekat atau memiliki hubungan istimewa. Kalau Baekhyun sudah memanggil Chanyeol dengan nama kecilnya, berarti Baekhyun sudah menerima keberadaannya.
Chanyeol berpikir seperti itu. Setidaknya, Baekhyun tahu bahwa ia ada di sana bersamanya. Mengakui keberadaannya.
Baekhyun mengalihkan pandangannya, kali ini ia yang menunduk. Apa ia benar sudah menerima keberadaan Chanyeol di sekitarnya? Bagaimana dengan Min Ah yang jelas tak ingin Baekhyun ada. Baekhyun menelan ludahnya, ia tak bisa membuat Chanyeol menjadi orang yang istimewa baginya(meski ia sedikit mau). Chanyeol jauh dari jangkauannya, bukanlah setara dengan dirinya.
Bukan karena ia miskin, bukan. Hanya saja, jauh.
Seperti kau ingin melintasi 15 km jalanan lurus. Kita mungkin sanggup mencapai ujung jalan, hanya saja kita pasti merasa ragu dan berpikir, 'apa yang akan terjadi jika aku sudah sampai di sana?'.
"Hei Baekkie~~ panggil namaku lagi~~" Terdengar Chanyeol merengek kekanakan. Baekhyun mendongak dan boleh buat.
"Yeolli-ah…"Panggilnya pelan.
Chanyeol tersenyum lebar dan memeluk Baekhyun dengan refleks. Baekhyun membeku, ia berdiri tegap layaknya patung saat tubuh besar Chanyeol mendekap dirinya, membuat tubuhnya yang jauh lebih kecil hampir hilang dalam lengan seorang Chanyeol.
Luhan ber-'aww' ria di belakang dengan Sehun yang akhirnya tersenyum dengan tulus. Anak itu kalau tersenyum manis juga.
Chanyeol melepaskan pelukannya dan menatap Baekhyun senang, "Baekkie~~ aku senang sekali!"
Kali ini saja, hentikan pikiran anehmu Byun Baekhyun.
TBC
A/N : Annyeong.
Apa saya mengagetkan anda semua? Hohohoho~~~
Saya kembali dengan Life sodara-sodara! Apa readersku yang cakep" seneng? Hohohoho~~~*lagi
Saya pikir buat orang seneng bulan puasa kan hal yang baik, betul apa betul?
Plus! Gimana? Nambah panjaaaaaaang gak?
Karena masih ditengah-tengah puasa, jadi ya klo ceritanya agak ngebosenin, maklum... belum ada nutrisi.
Baekyeol yaaaa? hohohoho. chapter entaran bakal kaisoo kok! tenang aja! *wink*
And! Saya bole nanyak kan? Boleh lah ya? Apa readers ada yang fanboy? Jawab di review ya klo ada!
Ok deh Author ciao dulu.
Mohon review ya~~! ^^
Typo(s) is all accidentally made. Terribly sorry for that.
:2era:
