Previous Chap

"Ah, kamu barusan jatuh, ya? Sini aku obati..."

Sakura menggeleng tanpa suara. Ia bukan lagi menjawab, namun berusaha mengabaikan ucapan Shizune. Ada yang lebih penting dibanding memar ini. Sambil berkata, lagi-lagi air matanya menguar turun tanpa diperintah. Wajahnya merah padam.

"D-Da-Dari pada memikirkanku, lebih baik S-Shizune-san tolong Kakashi-sensei... dia di lantai empat... k-kepalanya terluka parah..." Ucapnya, terisak.

Shizune terkejut hebat. Seperti apa yang diminta, dia bergegas ke lantai atas menemui Kakashi. Sedangkan Sakura meninggalkan UKS tanpa jejak—berniat bersembunyi di suatu tempat, tak bergerak dan tak melakukan apapun selain menangis dan menyesali perbuatannya hingga bel pulang berdering. Kemudian dia bisa pulang tanpa dicegat oleh guru atau siapa pun yang melihatnya.

Kejadian hari ini memang hanya tentang Haruno Sakura dengan Hatake Kakashi seorang. Hanya mereka berdua.

.

.

Jatuh dari tangga bersama Kakashi tadi siang benar-benar klimaks dari seluruh pengalaman sial Haruno Sakura selama ini.

Kaki kanannya terkilir—dia pincang seketika. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, tak habis-habisnya ia meringis kesakitan. Bahkan di dalam bis saja ia masih mengurut sendiri persendian kakinya agar saat nanti turun bisa kuat berdiri tegak. Tidak terbayang kalau Kakashi masih keukeh mengejar saat kondisinya seperti ini. Jelas dia sudah tertangkap basah dan dihakimi habis-habisan. Dia tidak sanggup lagi berlari pergi apalagi menaiki tangga.

Sakura menghela nafas. Keringatnya bercucuran saat ia sudah sampai ke depan rumah. Dia buka pintu dengan kunci cadangan dan masuk dengan seruan lesu. "Tadaima..."

Sasori menyahut dari ruang tengah. Sakura berniat langsung ke kamar, melewati sang kakak tanpa menunjukkan kakinya yang membiru di bagian mata kaki. Tapi apa daya kalau Sasori mengajaknya bicara. "Sakura, tumben kau pulang jam segini. Ada klub?"

"Mm... anggap saja seperti itu."

Sasori yang lagi meminum cola meliriknya sekilas. Lalu saat Sakura berniat menaiki tangga, keluhan tertahan dari adiknya itu membuat Sasori mengernyit dan memfokuskan mata hazel-nya ke kaki Sakura yang membengkak.

"Sakura, kau kenapa?"

"O-Oh, ini? Aku jatuh dari tangga saat lari dikejar teman."

Sasori sweatdrop dan Sakura meringis.

.

.

.

TEASTU ROMAN

"Teastu Roman" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Kakashi Hatake x Sakura Haruno]

Romance, Drama, Friendship

AU, OOC, Typos, etc.

.

.

CHAPTER SEPULUH

(X) Penyembuhan

.

.

Beberapa jam kemudian malam mulai menjelang. Langit hitam melatarbelakangi bulan terang di atas sana. Dinginnya angin tenang yang berhembus pun tertiup pelan, membuat Kakashi merapatkan mantel saat ia telah sampai di depan pintu apartemennya. Pria dewasa itu memang baru saja pulang. Kelihatannya saat ia tidur di sekolah tidak ada yang tega membangunkan Kakashi. Shizune selaku pengurus UKS pun hanya meninggalkan secarik kertas berisi pesan dan juga kunci. Jadilah ia baru keluar dari sekolah saat jarum panjang menunjukkan pukul delapan malam.

Kakashi memasuki apartemen dan melepaskan sepatu. Ia longgarkan dasi dan melirik singkat ke arah ruangan apartemennya yang terasa sedikit janggal. Lampu-lampu plafon yang sudah menyala sebelum ia menekan saklar dan kehadiran sepasang wedges wanita di rak sepatu. Siapa yang datang ke sini?

"Kakashi?"

Ah, dia.

Suara tadi membuat Kakashi melangkah malas ke arah ruang tamu. Dan benar saja, di daerah dapur kecilnya sudah ada seorang wanita bernama Nohara Rin di sana. Teman masa SMP yang sampai sekarang masih menjalin hubungan persahabatan dengannya. Entahlah apa yang sedang ia masak di dalam panci.

"Maaf ya aku masuk tanpa izin." Ia tertawa kecil, mengingatkan Kakashi bahwa perempuan itu memiliki kunci cadangan apartemennya. "Kau belum makan, kan? Ini aku lagi memanaskan sup yang tadi sore aku beli."

Kakashi mengusap rambut perak jabriknya sekali, menggeleng, dan beralih ke kamar. "Tidak usah. Aku mau tidur."

"Eh? Kenapa? Ini sup jagung yang pernah kau bilang enak itu loh. Masa iya kamu tidak lapar?"

"Badanku sedang sakit. Kau makan sendirian saja."

"Ada apa?" Wanita bersurai pendek itu mengerjap. Wajah khawatirnya tercetak jelas—terutama saat ia lihat dahi Kakashi yang dilapisi perban besar. Segeralah ia matikan kompor dan berjalan mengikuti Kakashi. Dia sentuh punggung pria itu tanpa niat apa-apa namun nyatanya hal tersebut malah membuat Kakashi berdesis.

"Ma-Maaf. Itu ya yang sakit?"

"Hm."

Rin memandang wajah Kakashi. diam-diam sebuah senyum melapisi bibirnya. "Perlu aku bantu?"

Kakashi meliriknya pelan.

"Ah, maksudku..." Rin segera berdiri dan mengambil sebuah salep di dalam tasnya. "Walau aku bukan dokter, setidaknya aku punya persiapan yang lengkap. Aku membawa salep untuk luka."

Kakashi kali ini mengangguk. Dia tidak punya obat seperti itu di dalam apartemennya. Jadilah ia membuka kemeja cokelatnya dengan perlahan. Karena seringkali Kakashi berdesis kesakitan mengomentari tangannya, Rin membantunya dengan senang hati. Kancing demi kancing ia lepaskan dan akhirnya dada bidang Kakashi yang berwarna putih terekspos jelas.

Rin sempat bahagia sendiri melihat rupa Kakashi, namun apa daya saat ia lihat punggung dan tangannya, berbagai macam luka yang cukup mengejutkan membuatnya terbelalak luar biasa. Di punggung Kakashi ada satu luka melintang nan panjang yang berwarna biru. Kelihatannya itu yang paling parah dibanding sisanya yang cuma menampilkan goresan merah-merah. Jika diterka, mungkin luka biru keunguan itu dia dapat saat tubuhnya langsung tumbang—didorong Sakura—dan disambut oleh sudut tajam tiap anak tangga yang ada di sana.

"Kenapa kau bisa punya luka sebanyak ini?"

Kakashi menjawab sambil menahan sakit saat Rin selesai membilas obat sisa UKS dengan handuk basah dan mengoleskan salepnya. "Muridku jatuh dari tangga. Untung aku sempat menolongnya walau ikut terkena sial seperti ini."

"Murid? Apa muridmu juga terluka?"

"Entah. Tapi yang jelas aku memeluknya—jadi tanganku yang kena tangga, seperti ini." Kakashi membungkukkan badan dan mengusap wajah. Dirinya kembali mengingat kebodohan Haruno Sakura yang telah menyeruduknya sampai dia terluka parah seperti ini. Kalau saja ia tak punya rasa simpati dan memiliki wewenang yang lebih besar, mungkin pria itu tega langsung mengeluarkannya dari sekolah.

"Kelihatannya lukamu ini harus ditangani lebih lanjut oleh dokter. Kepalamu kan juga terluka. Itu harus segera diperiksa." Rin menghela nafas saat ia menyelesaikan tugasnya. "Apa malam ini perlu kuantar ke rumah sakit?"

"Mungkin besok." Mumpung hari libur juga.

"Sekarang saja." Rin memeluk tangan Kakashi. "Kan mumpung ada aku."

Kakashi tersenyum singkat, sempat meluluhkan pandangan Rin, tapi sayang pria itu kemudian menepisnya. "Tidak perlu, Rin. Aku bukan Obito. Kau tak perlu memanjakanku."

Senyuman Rin sirna. Wanita itu menurunkan pandangannya barang sesaat, kemudian ia mencoba mengangguk pelan. "Iya, aku tidak menganggapmu sama sebagai Obito-kun kok. Lagi pula... dia sudah meninggal, kan?"

Rin melirik sebuah bingkai foto di kamar Kakashi. Sebuah frame berukuran sedang yang memuat gambar dirinya, Kakashi dan Obito yang tersenyum lebar sambil memegang toga kelulusan.

"Tapi... kau benar-benar butuh bantuan, Kakashi." Rin menyentuh telapak tangan pria itu. Menyematkan jemarinya dengan penuh sayang. "Jadi biarkan aku membantumu, ya?"

Kakashi bergumam mengiyakan. Dia lepaskan tangan Rin dan menuju lemari untuk mengambil kaus. Mungkin hari ini dia tidak akan mandi. Dia sudah terlalu lelah mengurusi hari yang berat ini. "Aku mau tidur. Kalau kau mau menginap, gunakanlah kamar sebelah."

Rin mengangguk. Setidaknya Kakashi tidak mengusirnya kali ini. "Baiklah, selamat malam. Tidur nyenyak, ya. Kalau nanti malam kau terbangun karena lapar, ketuk saja kamarku. Aku akan memanaskan sup atau mungkin membuatkan makanan lain untukmu."

"Ya, terima kasih."

Lalu Rin mematikan lampu kamar pria itu dan keluar. Dalam diam dia membelakangi pintu kamarKakashi dan merenung. Tak ia sangka Kakashi berani menyindirnya secara gamblang dengan membahas Obito. Hatinya langsung nyeri dipenuhi rasa bersalah. Masalahnya hubungan yang dulu ia bina bersama Kakashi dan Obito memang tergolong rumit. Mereka memang bersahabat, namun ada sebuah cinta segitiga yang tercipta kala Kakashi mencintainya walau tau Rin dan Obito sudah lebih awal membina hubungan. Hanya saja ketika Obito sudah meninggal karena kecelakaan naas yang menimpanya, keadaan kini berbalik. Rin mulai melirik Kakashi, namun Kakashi berniat melupakannya.

Di dalam isi kepala Kakashi, Rin sudah milik Obito. Ia hanya perlu menjaga Rin, tak boleh merebutnya.

.

.

~zo : teastu roman~

.

.

"Kau sih lari-larian di sekolah. Kayak anak kecil saja."

Hari Sabtu sore, dengan menghela napas pasrah, Haruno Sasori mengomeli adik semata wayangnya yang bernama Sakura. Mereka berdua baru saja keluar dari ruang praktik dokter di rumah sakit tengah kota. Gadis bersurai pendek itu berdiri di sebelahnya dengan mengenakan dua buah kruk—tongkat penyangga yang didesain khusus untuk penderita tulang retak sepertinya. Katanya kalau mau cepat sembuh tanpa operasi, jalan satu-satunya yang memang menggenakan benda tersebut. Jalan pincang seperti ini memang agak merepotkan, tapi apa boleh buat?

Sakura mendesah malas. Ia lanjut mengekori Sasori yang sengaja berjalan pelan. Dia cuma bisa cemberut karena sudah terlalu kenyang memakan ocehan penuh nasihat sang kakak sejak kemarin malam.

"Kau duduk di sini dulu. Aku mau bayar." Setelah membantu Sakura duduk, Sasori pergi ke loket pembayaran. Antriannya berdiri—kursi tunggu di sekitar sana penuh—mungkin karena itu dia disuruh menunggu di bangku ini. Sepeninggal pria merah itu, Sakura hanya diam di ruang tunggu paling pojok dan menyandarkan tongkatnya ke dinding. Ia sedikit membungkuk dan melirik kaki kanannya yang sudah digips dan dibalut perban. Ternyata memar yang dia dapatkan bukan sekedar keseleo biasa. Ada tulang yang retak beberapa milimeter. Pantas saja dari kemarin bengkaknya tidak hilang-hilang dan sakitnya menyiksa sekali.

Tapi kalau dia saja terluka sampai begini, bagaimana dengan Kakashi?

Sakura mengadah, inginnya melihat Sasori, tapi dirinya malah dibuat luar biasa terkejut saat ia dapati sosok familiar yang mendadak duduk di bangku terujung ruang tunggu—sebaris dengannya. Rambut perak yang berdiri serta postur tubuh yang semampai itu membuat Sakura luar biasa mengenali pria itu tanpa berpikir dua kali. Itu Hatake Kakashi, pria yang kini sedang sibuk berbicara dengan ponselnya sendiri di telinga.

Sakura memalingkan wajah ke arah berlawanan. Ia meringis dalam hati.

Gawat. Ternyata pria itu datang ke rumah sakit yang sama dengannya. Dan yang lebih membuatnya frustasi, Sakura sama sekali belum memikirkan kalimat apa yang pantas ia ucapkan saat bertemu dengan Kakashi setelah hal yang terjadi kemarin. Dia lah yang membuat pria itu jatuh hingga kepalanya berdarah, kan? Lihat saja perban besar yang masih menempel di dahinya. Apa yang seharusnya dia lakukan? Kalau begini situasinya ia harus bersembunyi di mana?

Gerasak-gerusuk sendiri di tempatnya, Kakashi yang baru menutup sambungan teleponnya dan melirik anak itu. Awalnya juga tak ia sangka ada gadis itu di tempat ini, tapi nyatanya rambut mencolok Sakura membuat Tuhan berkehendak lain. Benar-benar ada Sakura di sana. Lagi-lagi dia dipertemukan dengan sosok murid yang menjadi biang keladi dari seluruh luka yang ia dapati.

Apa sebaiknya ia bertindak sekarang—menghukum Sakura, misalnya?

Kakashi menaruh ponselnya ke saku dan kemudian berpindah tempat. Dia duduki bangku kosong di sebelah Sakura tanpa ada niatan untuk menyapanya terlebih dulu.

Dan di sisi Sakura sendiri, Sakura yang paham Kakashi telah menyadarinya hanya bisa menggigit bibir. Dia terus menyembunyikan wajah. Merasa bersalah, malu dan juga ngeri tercampur aduk. Baru pertama kalinya ia ingin menangis gara-gara ketakutan seperti ini.

Lebih baik ia pergi dan mendatangi Sasori—

Jantung Sakura nyaris berhenti saat tangan pria itu menaruh tangan ke bahunya agar ia tidak berdiri. Sakura duduk lemas dengan tatapan pucat ke depan. Kakashi juga sama. Tak ada senyuman di antara mereka. Dan dirinya pun tidak menoleh sama sekali ke Sakura yang persis di sebelahnya. Tatapan keduanya cuma lurus ke depan. Seolah saling menyimpan seribu rutukan berbeda yang mereka tahan dalam hati.

"Apa kau pikir... aku telah melupakan hal kemarin yang kita lalui, hm?"

Glek.

Mati sudah.

Sakura nyaris kehilangan ruhnya. Ia ingin kabur namun dirinya tidak bisa. Kondisi kakinya yang seperti ini terlalu sulit membuatnya bergerak. Cuma ada mata yang berkaca-kaca, juga jantung yang berdegup kencang. Tubuhnya gemetar. Akhirnya dengan segenap keberanian yang tersisa dalam dirinya, Sakura mencoba berbicara pelan. "H-Hai, Sensei. Tak kusangka kita akan bertemu di sini—"

Dengan cepat Kakashi menjitaknya. Benar-benar menjitak kepalanya sampai ia terkantuk ke bawah. Sakura mengaduh kesakitan barulah Sakura melirik horor Kakashi. Akhirnya kedua iris mata kontras mereka bertemu.

"Sa-Sakit, Sensei..."

Kakashi menghela nafas kesal—yang kali ini bercampur lega. Sambil memejamkan mata dia sandarkan punggungnya ke bangku. Dia kepalkan tangan sekali lagi dan meregangkannya sesaat. "Maaf, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melakukannya."

"Tapi kenapa Kakashi-sensei memukulku?"

"Karena sampai detik ini kau masih belum mau meminta maaf."

"Aku... akan mengucapkannya kok."

Kakashi membuka mata. "Kalau begitu, ucapkan sekarang."

Sakura menatapnya, mencoba berbicara namun ia menggeleng. "Mungkin... nanti."

Kakashi menggeleng tidak paham. "Kenapa ucapan sesederhana itu sulit sekali keluar dari mulutmu?"

Sakura ingin membalas kalimatnya, tapi ekspresi dingin Kakashi yang berubah beberapa puluh derajat ini membuat ia menunduk. Kedua tangan di atas pahanya saling ia remas untuk meredakan kegelisahannya. Sulit dan malu. Itu saja jawabannya.

"Gara-gara kau mendorongku di tangga, badanku dipenuhi memar. Kepalaku juga terluka. Berapa poin pelanggaran yang kau inginkan untuk mencelakakan guru seperti ini, hm?"

Sakura menahan nafas. Kenapa masalah poin jadi ikutan dibahas lagi? Sakura buru-buru memikirkan kalimat balasannya "Ta-Tapi... aku juga terluka... seharusnya kita—"

"Seharusnya apa? Impas?" Kakashi mengusap wajahnya sekilas. Anak kecil sekali pola pikir gadis ini. "Sekarang kau sudah SMA, seharusnya kau minta maaf padaku sampai bersujud karena telah membuatku kerepotan menghadapi tingkah ke kanak-kanakanmu."

Sakura tak mampu menjawab. Dia ingin segera meminta maaf—kalau perlu sekalian mengemis padanya agar tidak menjatuhkan poin pelanggaran pada kejadian ini. Tapi rasa gensi masih mengekorinya. Dia juga tidak tau bagaimana cara memulainya. Apa mungkin dia harus berbasa-basi dulu?

"Sensei... terluka di mana saja?"

"Jadi sekarang kau mau membandingkan lukamu dengan lukaku?"

"Bu-Bukan. Aku hanya ingin tau." Mata emerald-nya mengintip di balik poni—dia masih takut untuk tidak menunduk.

Lalu tiba-tiba Kakashi menarik tangan Sakura. Dengan perlahan ia letakan telapak gadis itu ke punggungnya. Di sana Sakura yang terkejut nyaris memekik, tapi saat ia sadar bahwa Kakashi berniat meletakkan tangannya ke pusat luka, Sakura terdiam.

Di punggung Kakashi yang ia raba, dapat terasa jelas di balik pakaiannya ada sebuah perban kasa lainnya yang cukup panjang.

"Aku tidak memedulikan memar atau goresan di tangan, kaki, atau leherku. Tapi luka di kepala dan di punggung ini selalu mengingatkan seluruh perbuatan yang kau lakukan padaku."

Mata pria itu menatapnya dan Sakura nyaris kehilangan nafasnya. Tangan hangat Kakashi menggenggamnya erat dan jarak pandang antar wajah mereka terlampau dekat. Hal itu membuat Sakura berniat memundurkan kepala dan membalasnya dengan kalimat yang tak mau kalah seperti biasa. Namun saat ia lihat luka gores di leher kanan pria itu, Sakura mengernyit nyeri dan menelan ludah.

Kelihatannya dia memang harus minta maaf.

"S-Se-Sensei, aku—"

"Kakashi, ini nomor antrianmu." Mendadak datang seorang wanita bersurai cokelat pendek yang datang di samping Kakashi. Dia usap bahu pria itu dan menatap heran ke gadis yang kini sedang ditatap Kakashi. Ada ekspresi bingung yang terlukis di wajahnya. "Eh... ada apa? Gadis ini kenalanmu?"

Sakura melepaskan tangan Kakashi dan gugup sendiri. Ada kalimat yang nya ingin ia ucapkan namun semuanya buyar seketika kala wanita cantik itu datang. Kini dia malah lebih fokus ke tangan putih Rin yang menggenggam erat lengan Kakashi. Ia mengerjap pelan dan menyimpulkan suatu hal.

Apa jangan-jangan... wanita cantik itu adalah pacar Kakashi?

Hati Sakura ibarat mengerut. Sedikit perih juga.

Tapi untuk apa?

"Dia Haruno Sakura. Salah satu muridku di sekolah."

"Wah, anak manis ini muridmu, Kakashi? Kau beruntung sekali..." Lalu ia melirik Sakura. "Salam kenal, ya."

Rin memberikan salah satu tangannya untuk berjabat tangan. Lima detikan Sakura membiarkan tangan itu menganggur, dan barulah saat Rin akan menariknya kembali, ia langsung menjabatnya dengan sentakan kaget.

"Sa-Salam kenal..."

Tangan Sakura jadi berkeringat. Entah atmosfir tak mengenakan apa yang sedang mengerubuninya.

Buru-buru ia berdiri dengan berpegangan dinding, lalu meraih tongkat kruk. Dia berjalan pelan ke arah Sasori yang kini sudah menduduki bangku tunggu di depan loket pembayaran.

"Mau ke mana?" Kakashi bertanya, kali ini tidak menahannya. Sakura menoleh dengan senyuman pahit. "Kakakku sudah memanggil."

Dalam hati Sakura meringis. Kenapa hatinya malah jadi berat begini saat ia lihat ada perempuan asing yang melekat di Kakashi? Lagi pula bukannya dia membenci guru itu? Tapi kenapa ia malah galau sendiri seolah melihat pria incarannya didekati perempuan lain? Toh, Kakashi pria dewasa. Wajar jika Kakashi sudah memiliki pasangan, kan? Ah, atau mungkin wanita itu sudah menjadi istrinya?

Sakura menggeleng.

Tapi tunggu.

Kenapa ia malah memikirkan Kakashi?

Susah payah Sakura ke toilet agar bisa mencuci muka—menghapus segala hal yang ada di dalam kepalanya.

Sedangkan di ruang tunggu, Kakashi masih terdiam, dan Rin sendiri yang memang menemaninya mencoba meneruskan obrolan yang pria itu tanggapi seadanya.

.

.

~zo : teastu roman~

.

.

Dua hari terlewat, Senin pun datang. Saat ia memasuki kelas, dalam hitungan detik Haruno Sakura langsung menjadi pusat perhatian seluruh murid. Saat ini ia hanya mengenakan satu uwabaki di kaki kiri. Yang kanannya terpaksa nyeker karena ada gips dan perban yang membalut telapak kaki hingga pergelangan kaki.

"Ada apa dengan kakimu, Sakura!?" Ino langsung histeris sendiri melihatnya. Di belakang si pirang juga ada Hinata yang memasang wajah cemas. Sakura pun tertawa kecil.

"Tidak. Ini cuma luka kecil kok. Aku lari-larian di rumah dan sedikit keseleo."

"Mana mungkin alasannya sebodoh itu." Ino geleng-geleng kepala—persis seperti reaksi Sasori saat ia bohongi seperti tadi. "Lagi pula kakimu digips. Tulangmu patah, ya?"

"Cuma retak kecil sih. Buktinya aku masih bisa jalan sedikit walau tanpa kruk." Lalu Sakura duduk di bangkunya dengan bantuan Hinata. Dua kruk milik gadis pink itu sengaja Hinata sandarkan ke dinding kelas agar lebih rapi. "Ah, terima kasih, Hinata-chan."

"Mm, semoga cepat sembuh, Sakura."

"Ya, dan cepat ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi."

Sakura nyengir cengengesan. Ino dia usir agar kembali ke tempat duduknya di belakang lalu gadis itu bertopang dagu di mejanya.

Sebenarnya Sakura bisa saja jujur ke Ino dan Hinata mengenai hal buruk seperti apa yang menimpa kaki kanannya. Namun apa daya. Dia tidak berani bercerita. Walaupun berada di pihaknya, Ino dan Hinata pasti akan menasihatinya habis-habisan jika tau ia membuat ulah lagi yang melibatkan guru seperti Kakashi. Atau yang paling parah, Ino dan Hinata malah menjauhinya karena tidak ingin berteman dengan anak barbar sepertinya.

Oke, ini menyedihkan.

Kriiing!

Bertepatan dengan itu, bel berdering tepat saat Hatake Kakashi—sang guru matematika—yang memasuki ruangan kelas. Jadwal pelajaran mereka memang menyebalkan. Tidak tau kenapa pelajaran laknat itu ditaruh di paling awal tiap Senin, hari ini, dan juga Selasa. Sambil mendengarkan ketua kelas yang menyuruh murid-murid untuk kembali duduk di tempatnya masing-masing, Sakura merapikan bukunya.

"Selamat pagi..."

Hampir semua murid menyapa Kakashi yang sudah berdiri di depan papan tulis. Mereka awalnya diam, tapi beberapa detik berikutnya kelas menjadi ribut seketika. Ada sesuatu yang berbeda dari Kakashi dan menarik minat anak-anak untuk bertanya kepadanya.

"Sensei kenapa? Baru saja kecelakaan, ya?" Pertanyaan Lee mengundang rasa penasaran yang lainnya. Sakura yang awalnya malas menatapnya jadi otomatis mengadah. Pasti Lee sedang menanyakan dahinya yang ditempeli kasa dan perban cokelat yang membentuk tanda plus. Juga dengan perban tambahan di bagian leher. Sisa lukanya mungkin tak terlihat karena ketutupan kain kemeja.

"Ini urusan orang dewasa. Kalian tak perlu tau." Pria itu menjawab seadanya. Sifat dingin Kakashi kembali seperti semula.

"Tapi kok timming-nya sama kayak Sakura sih, Sensei? Jangan-jangan kecelakaannya bersama Sakura, ya?" Murid terfrontal, Naruto Uzumaki, berkomentar. Sambil tertawa dia menatap Sakura yang ada di bangku terdepan. Inginnya bercanda biasa saja—dan lebih offense ke Sakura. Tapi si pirang itu langsung panik saat Sakura menoleh dengan death glare mematikannya.

Kemudian Kakashi memandang Sakura yang duduk di bagian depan. Wajahnya tetap datar seperti biasa.

"Kau sakit?"

Oh, dia mau pura-pura tidak tau dengan keadaannya?

Sakura menatapnya dan mencoba mengikuti permainannya. "Iya, di kaki."

"Semoga cepat sembuh."

"Kau juga, Sensei."

Sakura pun melemparkan tatapannya ke buku paket di meja. Dia bingung. Antara kesal dan menyesal tercampur aduk saat ia lihat Kakashi di depan sana. Sempat terlintas sebesit keinginan untuk meminta maaf nanti, tapi entahlah, dia tidak tau bagaimana caranya. Lagi pula pertemuannya di rumah sakit bisa jadi adalah momen terakhir dirinya mau berbicara empat mata dengan pria itu.

Sesudah ini, ia harus menghindarinya mati-matian dan bertingkah seolah tak pernah terjadi apa-apa dengan Kakashi.

Setelahnya jadilah siswi yang normal, Sakura.

Ya, siswi yang normal...

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Zoccshan's Note

Terima kasih banyak buat kalian yang mau ngertiin sifat Sakura di sini. Jujur aja aku paling seneng bacain isi kotak review fict Teastu, apalagi tentang pendapat dan cerita-cerita kalian :)

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to

dekdes, Gin and Amaya, kiddo hatake, Bofit, sakura uchiha stivani, wowwoh-geegee, hima, hime, nathalie-ichino, Strawbaekie, Taskia Hatake46, HinaTama, VeeQueenAir, yassir2374, Uzumaki NaMa, nezumi, sofia-siquelle, Luca Marvell, Guest, lavarrr, nchie-ainie, Cherry853, Virgo Shaka Mia, Mrs Sasori, Sarnam, Takashiro Yuki, yiki chan, Guest, Nurulita as Lita-san, punkyharuno, Chichak deth, Kiroy123, zeevale, Sasya547, Guest, Gold, Ricchan24, denok, SantiDwiMw, saha wae, chocochip86, pinkyharuno, Sabaku No Dili.

.

.

Pojok Balas Review

Update-nya ngaret nih. Iya haha. Sakura mirip temen sekelasku. Haha baguslah kalo Sakura di sini bisa dibilang manusiawi. Gara-gara zo aku jadi baca banyak pair. Terima kasih. Kakashi udah punya perasaan belum ke Sakura? Hmm. Salah nulis nama di PBR. Maaf, yaa. Kurang teliti. Twins Alert kapan? :D Menunggu Sakura bersikap lebih baik ke Kakashi. Ditunggu, ya. Nafas itu seharusnya napas. Aku udah telanjur gunain nafas di sini (males edit 9 chap sebelumnya). Tapi kalo ada waktu mungkin aku akan edit nantinya. Di mana-mana selalu Anko yang jadi antagonis. Haha, gomen.

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU