"Tetapi kalau kita mengakui dosa-dosa kepada Allah, ia akan menepati janjiNya dan melakukan apa yang adil. Ia akan mengampuni dosa-dosa kita dan membersihkan kita dari segala perbuatan kita yang salah."

Suara merdu Sakura kembali terdengar setelah mereka melewati lampu merah di distrik Yamela. Meski diwarnai drama susah bangun dan pakaian ganti yang Sasuke lupa bawa, akhirnya ia memenuhi niatnya untuk ke Gereja. Meski tentu saja, Sasuke tidak benar-benar serius dengan itu.

"Kalimat yang bagus, aku tidak tahu kau suka sastra."

"Itu firman Tuhan bodoh," gerutu Sakura dengan lirikan mematikannya. Bagaimana mungkin seseorang tidak bisa membedakan mana firman Tuhan dan mana kalimat biasa? Menyebalkan sekali. "Sebenarnya berapa tahun kau tidak ke Gereja? Kau terlihat seperti anak domba yang tersesat."

"Aku bukan Kristiani, kenapa aku harus ke gereja?"

"Oh," Sakura menggaruk kepalanya pelan, bingung harus bereaksi bagaimana. "J-jadi, selama ini bagaimana kau berkomunikasi dengan penciptamu? Ah, tunggu dulu? Apa kau Budha? Aku dengar banyak penganut Budha di distrik Uchiha."

"Aku tidak beragama."

"Atheis?" pekiknya Kaget, membuat Sasuke sedikit menjauhkan kepalanya karena suara Sakura yang terlewat tajam. Ia melirik kesal sebelum akhirnya kembali fokus ke jalanan.

"Aku percaya Tuhan ada, tapi aku ragu semua ritual keagamaan bisa mengantarku padaNya. Sesimple itu."

Sakura mengangguk-anggukkan kepala pelan. Ia pernah mendengar tentang hal seperti itu, dulu. Ia hanya sedikit tak menyangka bertemu dengan salah satunya.

"L-lalu, apa yang terjadi saat kau merasa kesulitan?" gumam Sakura pelan. Berusaha senyaman mungkin tidak membuat pembicaraan mereka menjadi terlalu berat, "Maksudku, aku biasa menangis di gereja saat menghadapi situasi sulit. Bagaimana denganmu?"

Sasuke diam sejenak, pandangannya menerawang ke depan. Tiba-tiba saja, bayangan rasa sakit yang dialaminya muncul berentetan.

"Aku berkomunikasi dengan diriku." gumamnya tanpa menoleh. Jawaban itu, ia sendiri bahkan tak yakin apakah memang seperti itu.

"Seperti apa?"

"Kau pernah dengar," Sasuke menoleh sejenak, meninggakan tatapan penuh misteri di manik emerald Sakura sebelum akhirnya kembali menatap lurus jalanan di depannya, "Siapa mengenal dirinya, dia mengenal Tuhannya."


"Naruto, kau dimana?"

Ino dengan langkah panjang memasuki apartemen mewah di selatan kota atas. Itu adalah jenis apartemen yang tidak akan bisa dimiliki, bahkan oleh 90 persen penduduk Konoha.

"Aku sudah dekat," gumamnya saat keluar lift di lantai dua belas. "Hati-hati Naruto, jangan khawatir, biar aku yang menyiramnya dengan cuka kalau masih sibuk dengan mimpinya. Oke. Sampai bertemu."

Ino menutup telfonnya tepat di depan sebuah pintu besar dengan motif sulur lembut di permukaannya. Ia menempelkan sebelah ibu jarinya dan mendekatkan wajah ke arah sensor mata begitu sidik jarinya terkonfirmasi. Ini adalah standar keamanan ala Shikamaru yang menurutnya sangat berlebihan -meski tentu saja dibutuhkan.

"Oh, kau sudah datang?"

Selenting suara menegurnya dari meja presentasi saat bunyi klik di belakang terdengar nyaring.

"Kukira kau belum bangun," gumamnya sambil melangkah pelan menuju tempat Shikamaru berdiri. Di depannya hologram MGM Grand terlihat berputar sesuai instruksinya. "Apa ini?"

"Utakata menelfonku."gumam Shikamaru di sela kesibukannya.

"Aku tahu, dia juga mengirimkan email kepadaku."

"Jadi, bagaimana menurutmu?"

"Kita pergi."

"Kau tahu siapa yang akan kita hadapi, Ino."

"Kau takut?"

Shikamaru menghela nafas mendengar nada tak suka Ino. Perempuan memang selalu sensitif dengan egonya. Itulah kenapa ia malas berhadapan dengan mereka, bahkan meski itu ibunya.

"Head to Head dengan mereka, rasanya seperti menyerahkan kepala ke tim penjagal," Shikamaru bangkit dari duduknya. Mengambil sekaleng softdrink dan segelas jus melon yang sudah disiapkannya tadi, "Meski yah, itu sedikit menyenangkan." ucapnya sambil menyerahkan gelas jus kepada Ino.

Ino menyeruput jusnya pelan sebelum kembali memperhatikan hologram MGM, ia menyantuh pad yang mengatur penampakan hologram lalu memilih room yang ingin dilihatnya.

"Oh, mereka sudah menyempurnakan pengamanannya."

"Sepuluh kali lebih kuat. Aku belum bisa meretas semuanya," Shikamaru duduk di kursi dengan posisi malas, "Merepotkan sekali."

"Apa mereka menyimpan database Sakura?"

"Aku belum tahu, kurasa, semua orang dicurigai setelah insiden itu. Bahkan Utakata."

"Tapi paman tak ada di sana saat kejadian."

"Saksi mata mengatakan tentang gadis Asia, jadi, yah, kau tahu apa yang terjadi selanjutnya."

Ino mengangguk mahfum. Dunia perjudian kelas atas, sebenarnya jauh lebih rumit dan penuh kepentingan dari yang dibayangkan. Kau bahkan tidak akan tahu, apa saja yang sanggup orang lakukan saat berada di dalamnya.

"Sebenarnya aku ingin melarangmu,"

Shikamaru memutar kaleng softdrink di tangannya pelan, "Tapi aku tahu itu akan gagal, jadi..."

Shikamaru menggantung kalimatnya selagi Ino melihat laki-laki itu dengan tatapan bersalah. Ia tahu, diantara mereka, dialah yang selalu menjadi sumber kekhawatiran.

"Kalau kita berhasil, tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan," gumam Ino dengan tatapan menembus jendela, menerka-nerka, takdir gila apa lagi yang akan mereka lalui. "Kita lakukan saja sebaik mungkin."

Ruang sunyi setelah Ino menyelesaikan kalimatnya. Shikamaru yang tengah duduk di sofa masih memandang hampa soft drink di tangannya. Saat pertama ia memasuki lingkungan mereka, ia tahu Sasuke, Sakura, maupun Naruto telah membuat kegilaannya menjadi terasa normal. Ia bersyukur untuk itu. Tapi sisi lain dirinya selalu meyakini, hidup seperti ini, hanya akan menambah kelelahan sebelum kematiannya. Ia ingin hidup tenang dan menyenangkan seperti arakan awan yang pernah dilihatnya bersama Naruto saat di akademi.

"Ada apa ini?" suara cempreng Naruto mengalihkan lamunan keduanya. "Kalian bertengkar? auranya buruk sekali."

Ino memutar bola matanya mendengar kalimat asal Naruto. "Kami bukan pasangan, memangnya apa yang harus diributkan." gerutunya yang langsung disambut tawa garing Naruto.

"Yaah, mana aku tahu."

"Kau sudah mendengarnya?"

"Um," Naruto menarik kursi lalu duduk di depan hologram dengan posisi terbalik. "Paman akan menjamin keberadaan kita sampai di gerbang."

"Itu sudah cukup." gumam Ino. Pandangannya lurus ke arah monitor di atas nakas. komputer tengah menunjukkan titik-titik rawan di seluruh area kasino, juga dimana saja kamera pengawas akan menguntit mereka.

"Aku akan berangkat lebih dulu," Shikamaru menautkan kedua tangan di depan wajahnya. "Kalian menyusul setelah semua kupastikan aman."

"Tidak bisa," protes Ino cepat. Wajah cemberutnya terlihat mematikan, "Kita melakukannya bersama-sama. Diantara kita, tidak ada umpan, tidak ada prajurit ataupun bos. Kita berdiri di atas kaki yang sama."

"Tapi untuk situasi sulit, kita tidak akan saling melibatkan," celetuk Naruto sambil nyengir bersama jempol kanannya.

Shikamaru memijit pelipisnya mendengar itu.

"Oh, bagaimana dengan Sasuke?"

Naruto tiba-tiba sadar kalau ada yan kurang diantara mereka. Ino menoleh pada Shikamaru sebelum akhirnya menghembuskan nafas pelan.

"Kita tidak akan melibatkannya."

Shikamaru membenarkan gumaman Ino dengan anggukan. Meski Sasuke salah satu yang paling berpotensi diantara mereka, keberadaannya sekarang mungkin akan menganggu. Sasuke sedikit aneh akhir-akhir ini.

"Sampai turnamen berhasil, kita akan berlibur ke Bali." gumamnya dengan senyum miring yang aneh.

"Ide bagus," ucap Ino dengan tawa sumringah, "Itu terdengar sangat tidak tahu diri. Sasuke pasti mengerti."

Ketiganya tertawa sejenak mendengar celetukan Ino.

"Tapi, Sasuke dimana ya? Aku tidak bisa menghubungi ponselnya." gerutu Naruto sambil berjalan santai ke arah kulkas kecil di bawah nakas.

"Gereja."

"Eh?"

"Pagi ini mereka ke Gereja, aku tidak tahu apa tujuannya. Mungkin dia memang butuh sedikit liburan." Ino mengedikkan bahu sambil menaruh gelas Jus yang sedari tadi di pegangnya.

"Kau memata-matainya?" Naruto menjulurkan telunjuknya ke arah Ino dengan mata menyipit. "Kalau Sasuke tahu dia pasti marah."

"Apa kau mau kubunuh karena mempermasalahkan itu Naruto?"

"Heh? tega sekali."

"Kita berangkat tiga puluh menit lagi," Shikamaru yang tadi menyingkir dari mereka kembali bergabung. Ponselnya tergenggam erat di tangan kiri. Sepertinya ia baru saja menghubungi seseorang. "Ino siapkan semua yang dibutuhkan. Hari ini kita tidak jadi siapapun."

"Oke."


Sasuke menatap hampa salib besar di tengah gereja. Pikirannya berecamuk, entah oleh apa. Hari ini, untuk pertama kalinya ia mengikuti seluruh rangkaian misa dengan tuntas. Ia bahkan ingin membenturkan kepala ke salah satu sandaran kursi untuk membangunkannya dari omong kosong tak masuk akal yang tengah dijalaninya. Ibunya pasti pingsan kalau sampai tahu ia berada di Gereja, dengan khusyuk memandangi Bunda Maria.

"Jadi, anakku. Dosa apa yang ingin kau tebus?"

Sayup-sayup, suara teduh itu terputar kembali di pikirannya. Menggelitik seluruh syaraf ketuhanan yang ia miliki. Ia sadar, apapun yang dilakukannya di ruang perkamen adalah sebuah kesalahan. Tapi ia benar-benar merasa perlu berada di situ.

"Aku tidak mempercayai-Nya."

"Ya?"

"Aku tidak percaya kalau Dia ada kecuali aku bertemu dengannya. Apakah yang seperti itu, juga dihitung dosa?"

Pastur tampak diam sejenak sebelum berdehem pelan.

"Siapa namamu, anakku?"

"Sasuke. Uchiha Sasuke."

"Sasuke, ketahuilah. Cinta kasih dan kedamaian yang ada pada dirimu adalah bukti keberadaanNya."

"Tapi aku tidak pernah merasakan itu." sahut Sasuke cepat. Kesabarannya tiba-tiba menguap begitu saja. Ia bahkan lupa kalau keberadaannya di ruang perkamen hanyalah keisengan belaka.

"Bertaubatlah untuk kepura-puraan yang kau bangun, Sasuke. Buatah do'a pertaubatan, dan lakukan dengan sungguh-sungguh. Hilangkan fikiran negatif yang merusak hati baikmu. Semoga Bapa dan Roh kudus mengampuni semua dosa-dosamu."

"Sasuke,"

Sasuke menoleh mendengar suara Sakura dari arah samping mimbar.

"Kau sudah selesai?"

"Hn."

Sasuke berdiri, melangkah pelan menuju Sakura yang juga tengah berjalan mendekatinya. Entah kenapa Sakura terlihat tersenyum senang. Keduanya beriringan menuju pintu keluar.

"Di seberang jalan ada penjual es krim, kau ambil mobil dan aku akan membeli untuk perjalanan kita."

"Oh?" Sasuke tersentak sejenak, tapi kemudian mengangguk kecil, "Baiklah."

Sakura berlari kecil menuju seberang jalan tempat kedai es krim berada. Sasuke terus memandanginya hingga ia mengingat sesuatu. Dirogohnya saku jas pelan dan menarik benda tipis dari sana.

Ponselnya langsung bergetar begitu tombol aktif ia tekan. Nama Itachi muncul bersamaan dengan beberapa pesan dan email di baliknya.

"Hallo."

"Dimana kau?"

Sasuke menautkan alis mendengar nada bicara Itachi yang terdengar tegang dan buru-buru.

"Sasuke."

"Gereja."

"Gereja?" suara Itachi merendah penuh amarah, "Apa yang kau lakukan di sana?"

Sasuke menautkan alis mendengar nada curiga Itachi. Memangnya apa lagi yang dilakukan seseorang di rumah Tuhan selain beribadah? Seolah ia akan bermain judi di sana saja. "Itu bukan urusanmu."

"Dasar pecundang. Kau masih belum berubah rupanya."

"Apa maksudmu?"

Jantung Sasuke berdegup kencang mendengar cibiran Itachi. Perasaan sesak tiba-tiba menyergapnya. "Itachi."

"Mereka menuju Vegas," Suara Itachi terdengar berat, Sasuke tahu, Itachi pasti sudah sangat depresi menghubunginya sejak tadi, "Untuk bertemu Akatsuki."

Mata Sasuke melotot mendengar nama Akatsuki di sebut. Kenapa tidak ada satu orangpun Yang memberitahunya tentang ini? "Bagaimana dengan Ino? jam berapa mereka pergi?"

"Dia yang paling bersemangat, tentu saja," gumam Itachi dengan tawa kelamnya, "Jam delapan tadi pagi."

"Ba..."

"Sasuke,"

Sasuke membatalkan niatnya menutup telfon, "Ino, dia mungkin akan bertemu dengannya. Jangan sampai itu terjadi."

"Hn. Aku tahu."

"Dia tanggungjawabmu."

Sasuke tercenung memandangi ponsel yang membisu.

Dimana aku pernah mendengar kalimat itu?


Sakura masih duduk di bawah pohon besar di samping Gereja. Es krim yang ia beli tergeletak begitu saja. Tetesannya mengalir jatuh dari sela bangku yang ia duduki. Bayangan Sasuke meninggalkannya, bahkan tanpa sepatah katapun terasa membekap. Kenapa ia begitu marah? kecewa? dan terus ingin menangis. Ia bahkan tidak dalam hubungan yang layak untuk diharapkan dengan laki-laki itu.

"Dasar Sasuke brengsek," makinya kesal. Dihentakkan kakinya karena tak mampu menguasai diri. "Setidaknya katakan sesuatu. Sial. Dia bahkan melewatiku begitu saja."

Ia melihatnya, Sasuke menerima telfon dari seseorang. Ia tahu itu pasti penting karena Sasuke tampak mengusak wajahnya kesal. Ia juga mengerti kalau Sasuke bukanlah mahasiswa kurang kesibukan sepertinya. Ia tahu semuanya. Bahwa bersama Sasuke hanyalah fatamorgana yang menyedihkan. Tapi setidaknya, tidak bisakah Sasuke membiarkannya merasakan kebahagiaan sedikit lagi. Bangun dan ke gereja bersama adalah momen terbaik sepanjang yang diimpikannya.

Fikiran buruk berkelebatan silih berganti. Membuatnya harus menarik nafas panjang beberapa kali. Senyum miring Ino muncul bersama peringatan-peringatan yang pernah gadis itu berikan. Membuatnya semakin bergidik.

"Oh, aku pasti sudah benar-benar gila."


"Paman," Ino melambaikan tangannya pada sosok tampan dengan kostum kimono kebesarannya. Ia tidak pernah mengerti, kenapa laki-laki itu suka sekali menggunakan pakaian semacam itu bahkan di kota sekelas Vegas. "Aku merindukanmu."

"Aku juga." ucap laki-laki itu dengan senyum lembutnya. Ia menepuk pundak Ino pelan selagi mereka berpelukan.

"Wassup, Mr. John." Naruto mengangkat sebelah tangannya dengan tawa lebar saat berdiri mendekati mereka. Shikamaru tampak berjalan di sampingnya dengan wajah mengantuk.

"Panggil aku Utakata saat di luar arena Naruto," ralatnya sambil membalas tangan Naruto yang terulur, "Bagaimana perjalanannya?"

"Menyenangkan." Naruto mengangkat dua jempolnya penuh semangat. Sesuatu yang langsung mendapat cibiran dari Ino.

"Jam berapa dimulai?"

Utakata menoleh pada Shikamaru lalu melihat jam di tangan kirinya.

"Masih ada sedikit waktu untuk beristirahat. Tak usah terburu-buru."


"Cantik sekali," Utakata tersenyum melihat Ino yang tengah menyelesaikan riasannya di depan cermin. "Mereka akan mengangkat tangan dan menyerah begitu melihat pesonamu."

Ino berbalik dengan tawa mengembang, "Aku benci mengatakan ini, tapi..., aku memang luar biasa."

Utakata memandang gadis itu sejenak sebelum mengambil sebelah tangannya dan menaruh di antara kedua jemarinya. Nafasnya terdengar berat.

"Apa kau tidak mau berubah pikiran?"

"Paman."

"Masa depanmu jauh lebih baik tanpa hal semacam ini, Ino."

"Aku tahu," Ino memalingkan wajahnya, tak kuasa mendapat tatapan luka dari Utakata. Ia mengenal Utakata untuk waktu yang lama, cukup untuk membuatnya ingin selalu bersandar pada laki-laki religius itu, "Tapi, aku juga tidak ingin terus berlari. Dendamku, ini adalah saat yang tepat untuk mereka membayarnya."

"Kau hanya akan melukai dirimu sendiri," Utakata mengusap punggung tangan Ino penuh kasih, "Dan taruhan yang diberikan terlalu besar. Kau bisa hancur."

"Bukankah aku memang sudah hancur?"

"Ino," kedua alis utakata tertaut cepat, melukis ketidaksukaannya dengan jelas, "Kau lebih tahu dari siapapun betapa berartinya hidupmu. Jangan bersikap egois."

Ino menghela nafas panjang, sebisa mungkin menahan tangis yang siap tertumpah. Ia tahu, ia sudah mengacaukan misi Sasuke sejak awal. Keterlibatannya dalam tim dan kesetiaan mendukung Sasuke sebenarnya tak pernah lepas dari kepentingan pribadinya. Ia belajar dengan tekun bukan untuk menjaga Sasuke, ia menghabiskan banyak waktu di meja latihan juga bukan untuk menjadi pendamping Sasuke seperti yang banyak dituduhkan orang padanya. Sasuke tidak ada dalam daftar kehidupannya. Bahkan sekeras apapun Sasuke berusaha menjaganya, Sasuke tak membuatnya bergeming.

"Ino," suara berat Utakata kembali terdengar, "Berjanjilah, akan pulang tetap dengan wajah yang cantik."

Ino memukul bahu Utakata pelan, sadar bahwa ia sedikit larut dalam kegamangan.

"Kau bisa mengandalkanku, paman," Ino kembali tersenyum sumringah, "Kau mendidikku dengan baik."

Utakata mengangguk puas dengan senyum mengembang.

"Kau siap?"

"Selalu."


"Menyenangkan sekali bisa bertemu generasi kedua," Kakuzu dengan senyum khasnya menggulirkan pandangan ke seluruh meja. Menatap satu satu pemain yang akan di jamunya,"selamat datang," ia mulai mengocok kartu di tangannya, "Ada yang ingin disampaikan? Kudengar kalian memiliki taruhan yang menggiurkan."

Ino yang duduk di antara Naruto dan Shikamaru mengepalkan tangannya erat. Pandangannya lurus ke arah lelaki tampan dengan beberapa tindikan di wajah. Ekspresinya dingin, nyaris seperti Sasuke. Sesuatu yang takkan membuat Ino gentar. Jantungnya berdegup kencang penuh semangat. Senyum sinis menghiasi wajahnya tatkala sosok di depannya menautkan alis. Kali ini, bukan hanya adrenalinnya yang mulai terpacu, tapi juga dendam yang telah menemukan tuannya.


TBC

dear readers, kalau ada kalian yang beragama Katholik. tolong segera pm saya jika apa yg sy tulis tidak sesuai dgn apa yg ada dalam agama kalian. sy bukan katholik, dan si bebeb yang saya harapkan bisa jd narasumber primer, nyatanya sangat tidak bisa diharapkan pengetahuan agamanya. tolong bantu saya, koreksi segera jika ada kesalahan. saya tdk mau ada fanwar terkait agama. saya cinta damai.

terimakasih untuk kesetiaan kalian pada LOTTO, kedepan saya akan berusaha lebih baik.

salam sayang- beb