Naruto by Masashi Kishimoto
Marry Me!
By chocoaddicted
.
.
.
Chapter 10
Sasuke's Past
.
.
.
Enjoy!
.
.
.
"Sakura,"
Sakura menghentikan langkahnya dan berbalik ketika mendengar suara seseorang memanggilnya. Gadis itu tersenyum dan membungkukkan badan hormat pada Itachi yang berjalan menghampirinya.
"Bagaimana bulan madunya kemarin?"
Pertanyaan langsung tanpa basa-basi seperti ini belum pernah Sakura hadapi sebelumnya, apalagi yang menanyakan adalah Itachi, kakak iparnya sendiri. Sakura salah tingkah, wajahnya memerah malu teringat kejadian Sasuke mabuk yang setengah membuatnya kesal dan setengah membuat hatinya berdebar.
"Itu... Sebenarnya kami lebih banyak bekerja,"
"Sudah kuduga. Si Sasuke itu memang tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik!" Itachi mendengus dan memandang kasihan gadis berambut merah muda itu.
"Ini bukan salah Sasuke. Lagipula sejak awal kami memang akan pemotretan di sana, bukan bulan madu," Sakura mengibaskan telapak tangannya beberapa kali dengan wajah cemas.
Itachi tersenyum menahan tawa, "Kau memang istri yang baik. Apa kau sibuk nanti malam?"
"Aku tidak ada acara apapun nanti malam, Itachi-sama. Memang ada apa?"
"Kalau begitu, temani aku makan malam ya? Aku akan mentraktirmu makan enak!"
Itachi menepuk pelan kepala Sakura dan dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajah tampannya, Itachi melanjutkan langkah menuju ruang meeting. Sedangkan Sakura menatap punggung Itachi sambil menggenggam erat dokumen di pelukannya. Entah mengapa, Sakura merasakan firasat aneh.
Sakura merenggangkan otot-otot tangannya ketika waktu menunjukkan pukul lima sore yang berarti sudah saatnya ia pulang. Ketika gadis itu akan mengambil tas, tiba-tiba ia teringat dengan janjinya pada Itachi. Gadis itu segera merapikan meja dan memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Saat itulah Itachi keluar dari ruangan dan melihat Sakura sedang merapikan barang-barangnya.
"Kau tidak lupa 'kan kalau malam ini menemaniku makan?"
Itachi menghampiri Sakura dengan tangan kanan yang ia masukkan ke dalam saku celana. Sakura segera mendongak dan melihat senyum lembut Itachi. Sungguh, keturunan Uchiha itu super duper tampan. Ia merasa beruntung bekerja di Uchiha Corp.
"Mana mungkin aku lupa. Ini 'kan kencan pertamaku dengan Itachi-nii," Sakura terkekeh dengan cengiran lebar.
"Dasar! Jika Sasuke mendengarnya, ia pasti akan memelototiku!" Itachi mencubit pipi Sakura sambil terkekeh.
"Itu karena dia sangat tempramental," Sakura mengusap pipi kirinya yang dicubit Itachi.
"Begitulah Sasuke," Itachi menyahut, "ayo kita pergi, imouto!"
Sakura mengangguk dan menyusul Itachi berjalan di samping pria itu. Meski Itachi dan Sasuke bersaudara, tapi keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang. Jika Sasuke adalah pria yang suka marah-marah dan melakukan hal sesuka hatinya, maka Itachi adalah pria dewasa yang sangat bijaksana. Itachi bahkan rela menanggung beban presdir di pundaknya ketika jabatan itu seharusnya menjadi tanggung jawab Sasuke.
Sasuke memejamkan mata ketika Karin memakaikan eyeliner untuk mempertegas mata tajam pria itu. Kakashi kemudian datang dengan sebuah tablet di genggamannya. Pria bersurai perak itu memang tidak pernah lepas dari tabletnya karena di sanalah semua agenda Sasuke tersimpan.
"Sasuke, ada penawaran iklan baru untukmu,"
"Dari?"
"Sebuah perusahaan parfum terkenal, tapi..."
Sasuke membuka mata dan melirik Kakashi dengan ekor matanya.
"Tapi?"
"Shion akan dipasangkan denganmu," Kakashi menatap khawatir Sasuke dengan kening yang berkerut.
"Shion? Wanita penggoda itu?!" Karin berseru ketika mendengar Kakashi menyebut nama seorang wanita yang membuat darah Karin naik bagaikan roller coaster.
"Lalu kenapa?" Sasuke menyahut cuek sambil merapikan sedikit poni yang menutupi mata.
"Lalu kenapa katamu? Tentu saja kau harus mengindari dia! Shion itu terkenal sebagai pembuat skandal tahu!" Karin gemas sekali melihat sikap Sasuke yang teramat apatis itu. Jika saja ia berani, Karin pasti sudah memukul Sasuke. Sayangnya wanita itu terlalu takut.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lagipula aku sudah menikah dan aku tidak akan terjebak dalam permainannya," Sasuke sekali lagi memandang pantulan dirinya di cermin, kemudian ia berdiri, "terima saja iklan itu," ujar Sasuke lalu pergi keluar dari ruang make up.
Kakashi memijit pelipisnya menghadapi sikap Sasuke. Apa ia telah membuat kesalahan dengan memberitahu Sasuke soal iklan tersebut atau tidak?
"Kau pasti pusing 'kan menghadapi Sasuke? Pria itu benar-benar!" Karin mendengus dan merapikan peralatan make upnya dengan kesal.
"Sepertinya pekerjaanku akan semakin berat," Kakashi mengembuskan napas pasrah dan pergi menyusul Sasuke.
Sasuke melihat Sasori sedang berdiri menunggu persiapan syuting. Pria bersurai merah itu sedang menghapalkan naskah dialognya. Melihat wajah Sasori entah mengapa membuat Sasuke waspada. Ia merasa posisinya tidak aman jika mengingat perjanjiannya dengan Sakura. Karena bagaimanapun Sasuke belum bisa memastikan perasaan Sakura yang sesungguhnya.
"Yo!"
Sasori menyapa Sasuke saat melihat rekannya itu datang menghampirinya atau lebih tepatnya menghampiri lokasi syuting.
"Hn," sahut Sasuke acuh sambil menerima naskah dari seorang kru.
"Kudengar kemarin kau pemotretan di Aomori,"
"Hn,"
"Bersama Sakura,"
"Bagaimana kau bisa tahu?" Sasuke langsung menoleh menatap Sasori karena setahunya tidak ada yang tahu jika ia akan pemotretan dengan Sakura kecuali pihak majalah dan agensinya.
"Aku bertemu dengan Sakura di Kastil Hirosaki," Sasori menangkap raut keterkejutan Sasuke, "kami berkencan seharian," tambahnya dengan senyum mengejek.
"Kau mau mati?!" Sasuke mendesis menahan amarahnya.
Sasori tiba-tiba tertawa, "Aku hanya bercanda! Kau tidak usah semarah itu!"
"Kau benar-benar sudah bosan hidup rupanya," Sasuke menatap tajam Sasori.
"Aku hanya bercanda! Kau benar-benar tidak bisa diajak bercanda ya!" Sasori berdecak, "aku memang bertemu dengan Sakura di Kastil Hirosaki. Ia sendirian duduk di sana, lalu aku menghampirinya dan mengajaknya berkeliling. Asal kau tahu saja, saat itu wajahnya tidak terlihat baik-baik saja,"
"Apa maksudmu?"
"Apa kalian bertengkar? Karena kemarin Sakura terlihat murung. Sebagai suaminya, kau seharusnya lebih mengetahuinya bukan?"
Sasuke baru saja akan menyahut ucapan Sasori, tetapi sutradara memanggil mereka berdua untuk stand by. Pria bersurai hitam itu mau tak mau harus menahan rasa penasarannya. Mengapa Sakura tidak cerita padanya jika gadis itu bertemu dengan Sasori? Apakah ada yang disembunyikan oleh Sakura? Dan sejak kapan Sakura dan Sasori menjadi dekat? Rasanya Sasuke ingin cepat-cepat mengakhiri syuting dan pulang untuk menginterogasi istrinya.
Sakura menatap kagum desain interior restaurant tempat ia dan Itachi makan malam saat ini. Orang kaya memang memiliki level restoran yang berbeda, batin Sakura tanpa sungkan mengagumi desain interior restaurant yang nampak klasik dan berkelas.
"Di sini ada steak daging sapi yang sangat enak. Aku sangat merekomendasikan itu," Itachi tersenyum menatap Sakura yang masih sibuk melihat sekeliling restaurant dengan mata hijaunya.
"Eh?"
"Apa kau mau makan steak?"
"Ya," Sakura mengangguk malu sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.
"Aku pesan dua steak dan jangan lupa wine yang paling istimewa,"
Itachi menyampaikan pesannya kepada seorang pelayan yang baru Sakura sadari keberadaannya. Gadis itu benar-benar bisa lupa sekelilingnya jika sudah fokus pada hal lain.
"Kelihatannya kau sangat menyukai interior restaurant ini,"
Itachi menopang dagu dan menatap Sakura dengan senyum menawan, namun sayang sekali Sakura tidak akan tertarik dengan hal itu karena bagi Sakura ada senyum lain yang mampu membuatnya berdebar-debar. Entah kenapa tiba-tiba bayangan Sasuke melintas di pikiran Sakura.
Kenapa aku memikirkannya?!
"Interiornya sangat indah," sahut Sakura dengan senyum malu.
"Tentu saja. Ibuku yang pertama kali membawa kami ke sini dan ini menjadi salah satu restaurant favorite keluarga Uchiha sejak hari itu,"
"Beliau pasti memiliki selera seni yang bagus,"
Ketika Itachi akan menjawab ucapan Sakura, makanan pesanan mereka datang. Itachi mengucapkan terima kasih dan segera menuangkan wine ke dalam gelas berkaki milik Sakura. Gadis itu lagi-lagi tersenyum malu karena sepanjang hidupnya, Sakura belum pernah diperlakukan seperti ini oleh lelaki manapun.
"Ibuku itu memang memiliki selera seni yang sangat bagus. Apa kau tahu kalau taman Uchiha Corp itu yang mendesain adalah ibuku?" Itachi bertanya sambil mengiris steak yang terlihat lezat tersebut.
"Benarkah? Aku baru mengetahuinya," Sakura berdecak kagum sekali lagi.
Itachi tersenyum dan menukar piring steak yang sudah ia iris-iris dengan milik Sakura. Gadis itu hampir memekik haru, namun ia berhasil mengendalikan diri.
Jika saja aku memiliki suami seperti Itachi. Aku pasti akan bahagia seumur hidupku.
"Terima kasih,"
"Bukan masalah. Itadakimasu!"
"Itadakimasu!"
"Sakura, bagaimana sikap Sasuke padamu? Apa ia memperlakukanmu dengan baik?" Itachi memasukkan potongan daging sapi tersebut ke dalam mulut dengan cara yang anggun.
Aku harus menjawab apa? Haruskah aku mengatakan sikap menyebalkan Sasuke selama ini? Jika aku mengatakan hal-hal baik tentang pria itu entah kenapa rasanya aku tidak rela!
"Meski ia tempramental, tapi Sasuke adalah suami yang sangat baik," Sakura tersenyum manis.
Aku memang penghianat!
"Syukurlah. Sebenarnya Sasuke dulu tidak tempramental seperti sekarang,"
"Memang Sasuke yang dulu seperti apa, nii-san?"
Jangan bilang kalau dulu Sasuke adalah anak manis yang rajin belajar dan penurut pada keluarganya! Jika benar, aku bisa mati berdiri!
"Kau pasti sulit mempercayainya, tapi Sasuke yang dulu adalah anak manis yang rajin belajar dan sangat penurut," Itachi kembali tersenyum mengenang masa lalunya bersama Sasuke.
Ternyata benar! Apa aku sudah mati berdiri sekarang?! Untung saja aku sedang duduk.
Sakura menelan ludah mendengar suara dalam pikirannya sendiri. Bagi gadis itu apa yang diucapkan Itachi adalah hal terkonyol yang pernah ia dengar. Mana mungkin Sasuke yang terlihat hidup acuh tak acuh dengan level tsundere tingkat maksimal itu pernah menjalani masa lalu sebagai anak manis yang rajin belajar dan penurut pada keluarganya.
"Benarkah?" suara tawa Sakura terdengar kaku ditelinganya sendiri.
"Sasuke menjadi seperti sekarang ini sejak kematian ibu kami. Sebenarnya impian Sasuke adalah menjadi Presdir Uchiha Corp dan akting hanyalah hobi. Tapi, saat di sekolah dulu Sasuke sempat akan memerankan sebuah drama saat festival. Tentu saja ibuku sangat senang karena beliau sangat menyukai seni dan Uchiha terlalu kaku untuk seni kecuali Sasuke,"
Sakura tidak tahu harus merespon apa, jadi gadis itu hanya diam mendengarkan ucapan Itachi. Di mata pria itu tersirat kesedihan yang tak bisa ditutupi. Entah kenapa Sakura pun merasakan perasaan sedih di dalam hatinya.
"Apa kau tahu kalau taman Uchiha Corp sengaja didesain oleh ibuku untuk Sasuke? Jika kau lihat dari ruanganku, kau pasti bisa melihat betapa indahnya taman itu. Ibuku sengaja mendesainnya agar bisa melunturkan kelelahan Sasuke jika anak itu terlalu sibuk bekerja. Sejak dulu, ibuku sangat menyayangi Sasuke,"
"Apakah kau iri dengan Sasuke?" Sakura bertanya hati-hati.
Itachi terkekeh mendengar pertanyaan Sakura.
"Dulu aku sempat iri, tapi aku mengerti mengapa ibu sangat mencemaskan Sasuke. Karena anak itu lebih labil daripada aku,"
Aku sangat setuju soal yang satu itu!
"Di usianya yang kelima belas, Sasuke pernah berkata padaku bahwa impiannya adalah menjadi presdir Uchiha Corp. Tapi impian itu sirna karena Sasuke tenggelam dalam masa lalunya yang menyedihkan,"
Sakura memerhatikan Itachi mengambil gelas wine dan meminumnya dengan pelan. Pria itu terlihat berat untuk mengatakan hal selanjutnya. Itachi bahkan sampai menutup mata sejenak dan kembali menatap Sakura dengan senyum lemah.
"Ibu kami mengalami kecelakaan saat Sasuke akan pentas drama. Sejak hari itu impiannya menjadi presdir lenyap bagai tersapu angin. Sasuke memaksakan dirinya terjun di dunia entertainment untuk menebus dosanya. Hubungannya dengan ayah merenggang dan ia pindah ke apartemen yang saat ini kalian tempati,"
"Apakah sampai sekarang hubungan Sasuke dan ayah masih renggang?"
"Aku bersyukur kau hadir dalam keluarga Uchiha karena dengan kehadiranmu, hubungan Sasuke dan ayah sudah mulai membaik," Itachi tersenyum tulus.
"Mengapa kau menceritakan hal ini padaku?"
"Karena kau adalah bagian keluarga kami, Sakura-chan,"
Sakura terpaku mendengar ucapan Itachi. Senyum pria itu begitu tulus. Ia pasti mengharapkan Sakura dapat menerima Sasuke apa adanya, oleh karena itu ia menceritakan masa lalu Sasuke agar Sakura dapat memahami suaminya tersebut. Tapi, apakah Sakura mampu menjaga senyum tulus Itachi jika pria itu tahu bahwa pernikahan Sasuke dan Sakura hanya berlangsung selama tiga bulan saja? Sakura meremas tangannya di bawah meja dengan tidak tenang.
Sakura merenung sambil memandang kota Tokyo yang nampak indah di malam hari. Secangkir susu cokelat membantu menghangatkan genggaman tangan Sakura. Pikirannya melayang pada cerita Itachi tentang masa lalu Sasuke dan kenyataan bahwa Itachi mencurigai hubungan mereka meski Itachi tidak menuntut kejujuran Sakura.
"Sakura-chan, aku tahu ada hal yang kau dan Sasuke sembunyikan mengenai pernikahan kalian. Tapi, bagaimanapun pernikahan adalah hal sakral yang tidak bisa kalian permainkan. Mungkin awalnya memang sulit menerima Sasuke sebagai suamimu, tapi cobalah untuk membuka diri dan dekati Sasuke. Anak itu sangat kesepian dan yang ia butuhkan adalah kasih sayang yang tulus,"
Sudah dua bulan lebih Sakura hidup bersama Sasuke. Ia tidak bisa menampik bahwa ada beberapa hal yang membuatnya jatuh hati pada pria tersebut. Apakah ia bisa menjadi istri yang baik untuk Sasuke dan membangun rumah tangga bersama? Walaupun mereka sering bertengkar, tapi Sakura sadar jika Sasuke selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya.
Setelah mendengar masa lalu Sasuke, entah mengapa gadis itu ingin sekali memeluk Sasuke. Memberikan kenyamanan dan kasih sayang yang pria itu rindukan. Meski Sakura bukanlah Mikoto, tapi Sakura harap bisa memberikan cinta yang tulus sebagaimana istri pada mestinya.
Mengenai impian Sasuke sebagai Presdir Uchiha Copr yang dibuang jauh-jauh oleh pria itu demi menjadi seorang aktor, Sakura tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia tidak peduli apapun pekerjaan Sasuke. Selama Sasuke ada di sampingnya, Sakura yakin mereka akan baik-baik saja.
"Apa sudah sejauh itu perasaanku padanya?"
Sakura bergumam pada dirinya sendiri saat menyadari seberapa besar cinta gadis itu untuk Sasuke. Ia meminum susu cokelatnya mencoba menentramkan jantung yang berdegup kencang ketika memikirkan Sasuke.
"Aku pulang,"
Suara Sasuke terdengar bersamaan dengan suara pintu apartemen yang ditutup. Sakura hampir tersedak menyadari kehadiran pria itu. Gadis itu ingin cepat-cepat pergi menuju kamarnya, tapi gerakannya ditangkap oleh mata Sasuke.
"Kau belum tidur?"
"O-oh, belum. Kau sudah pulang?"
"Kau tidak lihat aku berdiri di sini?"
Sasuke membuka mantel dan menggantungkannya. Ia berjalan dengan cuek menuju ruang makan. Sakura menggerak-gerakkan bibirnya kesal mendengar sahutan ketus Sasuke.
Aku benar-benar tidak waras sudah jatuh cinta pada pria ketus ini!
"Apa kau sudah makan malam?"
Sakura menghampiri Sasuke dan meletakkan cangkir bekas susu cokelatnya ke dalam westafel.
"Tidak sempat,"
Entah kenapa Sakura merasa sahutan Sasuke kali ini lebih ketus dari hari-hari sebelumnya. Ada apa dengan pria itu? Apa dia salah makan tadi siang?
"Mau aku buatkan makan malam?"
"Kenapa tiba-tiba kau menjadi baik seperti ini? Apa kau berniat meracuniku?"
Sasuke memicing menatap Sakura. Pria itu menutup pintu lemari es, lalu berkacak pinggang. Rasanya tanduk imajiner Sakura sudah mau keluar, tapi gadis itu mencoba bersabar.
"Sebagai orang yang tinggal bersama, aku hanya menawarkan bantuan padamu karena aku ini baik hati tahu!"
"Kenapa kau harus repot-repot melakukan hal itu? Sudahlah, lebih baik kau tidur saja sana!" Sasuke mengibaskan tangannya menyuruh Sakura cepat pergi ke kamarnya.
"Aku ini istrimu tahu! Sudah sewajarnya aku menunggumu pulang, membuatkan makanan untukmu, mengurusmu! Kau itu bisa tidak tinggal duduk manis saja di sana?!"
Sakura mengomel sambil menunjuk kursi di meja makan. Sasuke sampai dibuat diam tak berkutik. Tiba-tiba terdengar suara perut kelaparan yang berbunyi. Sakura mendengus menahan tawa, sedangkan Sasuke memalingkan wajah karena malu.
"Baiklah jika kau memaksa,"
Dengan gengsi, Sasuke akhirnya duduk di depan meja makan menunggu Sakura memasak makan malam untuknya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan pasangan suami istri itu sedang berkutat di dapur dan ruang makan.
Sasuke menopang dagu memerhatikan bagaimana Sakura memakai apron dan menggerakkan tangannya memotong bahan-bahan makanan. Cara gadis itu mencicipi masakannya dan tangan lihainya mengaduk nasi goreng. Bahkan ketika Sakura menguncir rambut pun membuat Sasuke tidak berkedip memerhatikan leher jenjang gadis itu.
Melihat Sakura sudah menyelesaikan masakannya, Sasuke buru-buru bersikap cuek. Gadis itu menghampirinya dan meletakkan sepiring nasi goreng dengan banyak potongan tomat di depan Sasuke.
"Hanya ini yang bisa kuhidangkan ketika membuat makan malam di jam sembilan malam,"
"Kau yakin tidak meracuniku?"
"Dimana kau menyimpan racun tikusnya?!"
Sakura menyahut kesal mendengar pertanyaan Sasuke. Gadis itu melepas apron yang ia kenakan dan melemparnya ke atas kursi lain di dekat Sasuke menunjukkan kekesalannya.
"Kau benar-benar membuatku kesal!"
Saat Sakura akan pergi meninggalkan Sasuke, pria itu menahan tangannya dan menggedikkan kepala menyuruh Sakura duduk. Gadis itu akhirnya duduk menemani Sasuke makan malam.
"Mungkin karena aku lapar jadi masakan ini terasa tidak buruk," Sasuke menyuap makan malamnya dengan lahap.
"Terima kasih kembali," Sakura mendengus.
Sasuke terdiam sejenak dan kembali melanjutkan makan, "Kau tidak makan?"
"Aku sudah makan malam,"
"Dengan siapa?"
Pertanyaan penuh rasa ingin tahu itu keluar begitu saja dari mulut Sasuke. Pria itu mendadak gugup dan memutuskan untuk meminum air agar kegugupannya tidak terlihat.
"Itachi-nii. Besok nii-san akan pergi ke London selama beberapa bulan. Posisi Presdir menjadi kosong. Memikirkannya saja sudah membuatku pusing,"
"Kenapa harus kau yang pusing? Bukankah ada Naruto tangan kanan Itachi?"
"Meski begitu, aku ini sekretaris presdir. Kalau presdir tidak ada, maka aku menjadi sekretaris Naruto,"
"Orang itu memang butuh seseorang untuk membantu pekerjaannya. Naruto itu sangat ceroboh, kau harus selalu mengawasinya,"
Sasuke sudah menghabiskan makan malamnya dengan cepat. Sakura sampai terkagum-kagum melihatnya. Sepertinya dia sangat lapar.
"Kenapa bukan kau saja yang jadi presdir? Kau 'kan juga Uchiha,"
Pertanyaan Sakura membuat Sasuke terdiam, sedangkan gadis itu terkejut dengan pertanyaan yang tidak sengaja ia lontarkan. Sakura takut menyinggung perasaan Sasuke. Ia memerhatikan raut wajah Sasuke dengan hati-hati. Raut wajah Sasuke terlihat dingin dan enggan menjawab pertanyaan Sakura.
"Sudah malam. Sebaiknya kau tidur,"
Sasuke berdiri tanpa menjawab pertanyaan Sakura dan pergi menuju kamarnya. Sakura mengacak rambutnya gemas dan memukul kepalanya sendiri.
"Dasar bodoh! Kenapa menanyakan hal itu padanya!" Sakura menatap pintu kamar Sasuke dengan perasaan iba, "ia pasti jadi teringat dengan ibunya,"
Malam itu Sakura habiskan dengan penyesalan karena tidak bisa mencegah mulutnya berbicara hal yang tidak semestinya.
Esok paginya Sakura mendapati Sasuke sudah bersiap hendak pergi bekerja. Pria itu memakai mantel dan syal melingkari lehernya. Pagi-pagi buta Sasuke sudah rapi sedangkan Sakura masih memakai piyama hendak mandi.
"Apa kau akan pergi syuting?"
"Hn,"
"Jam lima pagi?"
"Hn, syutingnya di daerah pegunungan yang lumayan jauh dan mungkin aku akan pulang lusa,"
Entah mengapa mendengar bahwa mereka tidak akan bertemu hingga besok lusa membuat Sakura merasa kesepian. Ia tidak ingin Sasuke pergi, tapi Sakura tidak mungkin mengatakan hal tersebut dengan lantang. Jadi, gadis itu hanya terdiam dengan kepala menunduk.
Sasuke menghela napas berat melihat raut wajah Sakura. Pria itu menyadarinya. Ia sadar bahwa hubungan mereka sudah lebih dekat dari sebelumnya, tapi ia memang belum menanyakan perasaan Sakura secara gamblang karena waktunya belum tepat.
Sasuke berjalan menghampiri Sakura dan memeluk gadis itu. Sakura terkejut dan ingin melepaskan diri, tapi tangannya terlalu lemas untuk digerakkan.
"Jaga dirimu selama aku pergi dan kau boleh menghubungiku kapanpun kau mau,"
"Kau 'kan sedang syuting. Memangnya kau bisa menerima teleponku?"
"Kakashi akan memegang ponselku, jadi aku akan menghubungimu balik," Sasuke tersenyum kecil dan melepas pelukannya.
"Aku pergi," ia mengetuk dahi Sakura dengan jari telunjuk dan jari tengah miliknya.
"Hati-hati di jalan!" Sakura mengantarkan Sasuke sampai di depan pintu apartemen.
Gadis itu menutup pintu apartemen dan memegang dahinya. Ia kemudian memekik tertahan dengan wajah bahagia. Meski ia akan kesepian beberapa hari ke depan, setidaknya Sasuke sudah berjanji akan menghubunginya.
"Rasanya seperti suami-istri sungguhan," Sakura tersenyum lebar dan merasa hatinya menghangat.
Sementara itu Sasuke merasa wajahnya akan terbakar mengingat wajah lucu Sakura ketika ia akan pergi meninggalkan gadis itu sendirian di apartemen. Wajah gadis itu tampak tak rela, tapi ia menahan diri untuk tidak mengungkapkannya. Karena itulah secara naluriah Sasuke menghampiri Sakura dan memeluk gadis itu.
Rasanya begitu nyaman dan damai ketika memeluk orang yang disayangi. Sasuke tidak tahu bahwa sebuah pelukan bisa membuat hatinya melebur dengan bahagia. Pria itu tersenyum sambil menatap wajah Sakura yang menjadi wallpaper ponselnya.
"Haruno Sakura-san,"
Sakura baru memasuki gedung Uchiha Corp ketika mendengar suara seseorang memanggil namanya. Gadis itu berbalik dan melihat Sara berdiri tak jauh darinya.
Kenapa ia ada di sini sepagi ini? Dan ada urusan apa ia denganku?
"Apa kau benar Haruno Sakura-san?"
Sakura mengangguk, "Benar. Maaf, anda siapa?"
Sara tersenyum sombong, "Aku Sara William, salam kenal,"
"Ah... Ya," Sakura menjabat uluran tangan Sara dengan sopan, "ada urusan apa dengan saya?"
"Bisakah kita bicara sambil meminum kopi di sana?" Sara menunjuk starbucks dan Sakura mengangguk mengiyakan.
Untuk apa rubah licik ini menemuiku?! Apa ini ada kaitannya dengan Sasuke?!
Selesai memesan minuman, Sara menghampiri meja yang ditempati Sakura dan menyerahkan satu cup kopi pada Sakura. Sakura menerimanya dengan segan dan mengucapkan terima kasih tanpa meminumnya. Sedangkan Sara meminum kopinya dan memerhatikan Sakura dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sakura merasa risih diperhatikan seperti itu oleh Sara.
"Jadi ada kepeluan apa anda dengan saya?"
Sara meletakkan cup kopi dan menatap Sakura dengan tajam, "Aku dengar kau adalah istri Uchiha Sasuke. Apa benar?"
"Benar,"
"Jika dilihat darimanapun, kau itu bukan tipe Sasuke-kun sama sekali. Kau terlalu sederhana dan tidak feminine. Aku bertanya-tanya mengapa Sasuke-kun mau menikahimu,"
Ucapan rubah licik di hadapannya membuat harga diri Sakura terasa tercabik-cabik. Gadis itu rasanya ingin menyiram Sara dengan kopi panas yang ada di hadapannya. Tapi, untunglah kewarasan masih menguasai Sakura.
"Kalau hal itu bisa anda tanyakan sendiri pada Sasuke,"
Suara Sakura yang tenang dan tidak merasa terintimidasi sama sekali membuat Sara kesal. Bagaimana bisa seseorang sudah menghinanya dan gadis itu tampak santai seperti tidak terjadi apa-apa. Pasti ada hal yang disembunyikan oleh Sakura.
"Kalau begitu, kenapa kau mau menikah dengan Sasuke-kun? Apa karena harta? Kau tahu sendiri Sasuke-kun lebih memilih jadi artis daripada Uchiha Corp. Sayang sekali, padahal aku yakin ia merupakan salah satu pewaris Uchiha Corp. Atau kau sudah tahu bahwa Sasuke-kun pewaris Uchiha Corp dan karena itu kau mau menikahinya?"
Sasuke-kun, Sasuke-kun, Sasuke-kun terus! Aku saja belum pernah memanggilnya seperti itu. Dasar rubah licik menyebalkan! Kau ingin perang rupanya denganku. Sayang sekali, kau memilih lawan yang salah.
"Memangnya anda tidak tahu?"
"Apa?"
"Bukankah anda mantan kekasihnya?" Sakura asal menebak hal ini karena gadis itu tidak tahu apa hubungan antara Sasuke dan Sara.
"Kau mengejekku?!"
"Tck, tck, tck. Saya mengerti mengapa Sasuke dulu meninggalkan anda. Seharusnya anda sadar bahwa Sasuke mencari seseorang yang bisa menerima dirinya apa adanya. Baik sebagai seorang aktor, pewaris atau pengangguran sekalipun. Sayang sekali cinta anda padanya tidak sebesar itu sehingga merupakan hal yang tepat baginya untuk meninggalkan anda,"
"Kau!"
"Mohon maaf, pekerjaan saya banyak dan waktu saya terasa sayang sekali jika terbuang untuk hal seperti ini. Terima kasih untuk kopinya, tapi maaf saya tidak meminum kopi jadi buat anda saja,"
Sakura berdiri, menganggukkan kepala singkat dan pergi begitu saja meninggalkan Sara yang kepalanya dipenuhi dengan asap kemarahan. Senyum kemenangan terlukis di bibir Sakura. Gadis itu berhasil membalaskan dendam karena sikap Sara yang tidak sopan dengan menggoda suaminya saat di Aomori.
Sasuke sedang istirahat ketika baru selesai menyelesaikan adegannya. Ia memanggil Kakashi dan meminta ponselnya. Lelaki itu membuka layar ponsel dan tidak menemukan satupun pesan atau telepon dari Sakura. Tadi pagi gadis itu kelihatan tidak rela Sasuke pergi beberapa hari, tapi lihat sekarang? Sekalipun Sakura tidak menghubungi Sasuke. Pria itu menjadi kesal.
Saat sedang kesal, tiba-tiba ponselnya berdering. Sasuke tersenyum lebar begitu nama Sakura terpampang di layar ponselnya. Sasuke berdehem beberapa kali dan menjawab panggilan Sakura.
"Hn,"
[Moshi-moshi]
"Hn,"
[Kau tidak ada kosakata lain? Sudahlah. Kau sudah makan siang?]
"Belum. Kau sudah makan?"
[Ini sudah jam dua siang, tentu saja aku sudah makan siang. Walaupun kau sibuk dan syutingmu padat seperti macetnya jalanan di hari senin, kau harus makan tepat waktu]
"Hn. Kau makan dengan siapa?"
[Dengan siapa lagi kalau bukan Naruto]
"Jangan makan ramen terus,"
[Ya, kau tenang saja. Um... aku menelponmu karena tidak ingin kau sakit saja setelah kembali dari gunung atau apalah itu. Kalau kau sakit yang repot itu aku tahu! Sudah cukup kau merepotkanku saat mabuk dulu]
Sasuke mendengus menahan tawa mendengar suara gugup Sakura. Gadis itu benar-benar menggemaskan. Rasanya jika ada Sakura di depannya, Sasuke akan mencium gemas kedua pipi gadis itu.
"Memang apa yang kulakukan saat mabuk dulu?"
[Kau tidak mengingatnya?! Wah! Kau benar-benar keterlaluan jika tidak mengingatnya. Ah! Mungkin lebih baik kau tidak perlu mengingatnya. Sial! Enyah saja kau sana!]
Sasuke mengenyitkan dahi ketika panggilan telepon diputus sepihak oleh Sakura begitu saja. Pria itu tidak mengerti mengapa Sakura tiba-tiba marah dan mengumpat. Memangnya sewaktu mabuk apa saja yang dilakukan Sasuke?
Sasuke mencoba menggali ingatannya. Waktu itu ia ada di pesta barbeque, lalu ia menghampiri Sakura dan Sai. Ia sempat mengatakan hal-hal memalukan dan tiba-tiba berada di dalam kamar.
Samar-samar Sasuke mengingat ketika Sakura berbicara sesuatu pada Sai dan pria itu pergi keluar dari kamar mereka. Sakura melepas Sepatu dan mantelnya. Sasuke terbangun dan menarik Sakura. Ia mencium gadis itu, meraba tubuh seksinya dan hampir mengulum puting dada Sakura saat sebuah pukulan ia rasakan di bagian tengkuk leher.
Sasuke shock dan wajahnya memerah mengingat kejadian malam itu. Ia masih ingat bagaimana ekspresi Sakura yang sangat seksi dan suara erangan tertahan milik Sakura. Gawat! Sesuatu di antara selangkangan Sasuke berdenyut keras. Pria itu lekas berdiri dan pergi menenangkan diri.
"Pantas saja Sakura selalu marah kalau mengingat hari itu! Sial!"
Sasuke mengumpat frustrasi. Kenapa ia baru mengingatnya sekarang? Pasti setelah ini hubungannya dan Sakura akan terasa canggung. Sebagai lelaki sejati, ia telah menodai harga dirinya sendiri.
To be continue
a/n :
Readers yang udah nunggu lanjutan fict aku yg lain aku minta maaf karena belum bisa update karena ketumpulan ide. Terima kasih sudah mau menunggu. Sebagai permintaan maaf, aku akan selesain fict ini sampai The End. Kabar baiknya aku udah bikin drafts fict ini. mungkin akan selesai di chapter 14-16.
Wattpad aku leegyeoul. Baru ada 1 story dan rasanya emang lebih asik di FFN ya... hehe..
btw itu Sara aku namain ala ala bule gitu soalnya dia gak punya nama belakang sih. wkwkwk...
