AUTHOR NOTE:
Hai semuanya!
Maaf! Lagi-lagi author ngaret -_- Maaf sekali...
Terima kasih buat semua reviewnya! ^^ Maaf ya apdetnya lama mulu... Dan author sadar banyak typo sama rada gaje tapi... Sekali lagi berkat kalian semua author masih terus semangat buat ngelanjutin cerita ini! Makasih banyak! Hontou ni arigatou gozaimasu! ^^
Yap! Inilah kelanjutan dari drama romantis lebay komedi gagal rada gak jelas ini! Makasih buat yang udah baca sampe sini! Makasih buat yang tabah menunggu author ngaret ini... Mohon kritik, saran, dan komentarnya! Maaf juga kalo banyak typo... *ngelirik jam* *jam satu malem broh!*
Okedeh! Tanpa basa basi lagi... Met membaca! ^^
-Lutanima-
"Aku menyukaimu juga..."
Dokter mengedipkan matanya. Dia terdiam, sambil menatap Claire yang masih tertidur. Sudah hampir tujuh jam lebih Dokter terdiam dan masih memikirkan apa yang terjadi barusan. Dia pun mengkerutkan keningnya sambil berpikir,
((Tadi itu… Apa itu termasuk pernyataan cinta? Tapi…))
Dokter berpikir keras, sambil meletakkan tangan kirinya di dagunya. Lalu dia melirik ke arah gelas kecil yang tadi dia berikan kepada Claire.
Benar, itu salahnya.
Ini pertama kalinya dia melakukan kesalahan semenjak merintis karirnya sebagai seorang dokter. Dia keliru memberikan gelas berisi wine miliknya kepada Claire.
Tunggu, tapi bukan berarti dia itu pemabuk ya. Jangan salah sangka. Wine itu diberikan oleh Duke sebagai permintaan maaf karena telah memukulnya tanpa sadar saat dia berniat untuk memberikan obat penghilang mabuk kepadanya.
Dan hingga saat ini, Duke masih mengejarnya terus-menerus, untuk menanyakan pendapat Dokter mengenai wine racikannya itu. Alhasil, Dokter pun memutuskan untuk mencicipinya sedikit, yang ternyata malah terminum oleh Claire. Dan terbuktilah khasiat dari wine berbahaya itu.
((Besok aku akan meminta pertanggung jawaban dari Duke…)) Ujar Dokter dalam hati.
Beberapa saat kemudian, dia mulai tertegun lagi,
((Tapi dia kan mabuk… Berarti dia tidak sadar. Tunggu… Aku bingung!))
Dokter memijat-mijat keningnya. Memikirkan hal ini membuatnya migren. Baginya, memikirkan masalah perasaan seperti ini lebih sulit dibandingkan menyambungkan pembuluh darah yang putus sekalipun.
"Haaaahhh…" Dia menghela napasnya. Kemudian dia menatap tangan Claire yang masih berpaut pada tangan kanannya. Terbayanglah di benaknya saat Claire mengatakan bahwa dia menyukai dirinya.
…
Wajahnya mulai memerah. Dia pun menundukkan wajahnya, sambil menutupinya dengan tangan kirinya.
"Ini gawat… Aku tidak bisa berhenti tersenyum…"
KREK!
"Permisi… Dokter?"
Set!
Dengan cepat, Dokter melepaskan tangannya dari tangan Claire. Kemudian, Dokter langsung berjalan ke arah pintu masuk klinik, sambil berusaha bersikap 'se-normal' mungkin.
"Oh, Lilia. Ada apa?"
Degdegdegdegdegdegdegdegdegdegdegdegdegdeg
Dokter masih bisa merasakan detak jantungnya yang tiba-tiba bekerja dengan sangat cepat. Dia sangat kaget. Kaget sekali. Masih berusaha mempertahankan tampang poker face-nya, dia menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.
"Mmm… Aku ingin memeriksakan diriku lagi… Apa bisa sekarang?" Tanya Lilia sambil tersenyum.
"Oh, tentu. Tunggu sebentar ya, akan kusiapkan dulu." Dokter segera membalikkan badannya dan bernapas lega. Bagus! Tidak ketahuan!
Srek srek!
Setelah membereskan barang yang tidak diperlukan, dia pun memberikan isyarat kepada Lilia untuk masuk ke dalam ruang periksa. Dan mata Lilia, langsung tertuju pada kasur pasien.
"Loh, Claire sakit?" Dokter mengikuti arah tatapan Lilia. Lalu dia mengangguk kecil sambil mengambil sebuah kertas dari lacinya.
"Iya, dia demam. Tapi dia akan baik-baik saja setelah banyak beristirahat."
"Aduh, kasian sekali… Bagaimana pun juga aku ikut bertanggung jawab untuknya…" Ujar Lilia sambil duduk di depan Dokter. Dokter menatap Lilia bingung sampai Lilia mulai bicara lagi,
"Aku sudah dengar ceritanya dari Rick. Katanya berkat ulah anakku, dia sampai tersesat di hutan ya kemarin?"
"Ah." Dokter langsung memasang wajah andalannya lagi.
"Tapi… Aku heran. Bisa-bisanya dia mempercayai ucapan Rick. Dasar anak itu…" Lilia tertawa kecil, sementara Dokter menghela napasnya.
"Mau bagaimana lagi, dia juga yang bersemangat mencari tumbuhan yang tidak pernah ada itu ke hutan." Ujar Dokter sambil mulai mengukur tensi darah Lilia. Mendengarnya, Lilia pun terdiam.
"…Tapi bagaimana pun juga… Aku merasa senang."
"Hm?"
"Selama ini aku sudah hampir menyerah kepada penyakit kekal yang terus terpaut pada diriku ini… Bahkan Dokter jenius dari kota sepertimu saja tidak tau cara menyembuhkannya…" Ujar Lilia sambil tertawa kecil. Dokter hanya terdiam menanggapinya. Dia pun kembali melakukan beberapa pemeriksaan terhadap Lilia, sambil menuliskan beberapa resep obat di kertas yang dia ambil tadi.
"Tetapi… Melihat perjuangan Claire yang bersusah payah mencarikan obat untuk menyembuhkan orang sepertiku… Aku sangat senang, tapi sekaligus merasa malu kepada diriku sendiri. Aku menjadi sadar… Mungkin aku terlalu cepat menyerah… Dan Claire telah menunjukkannya, bahwa aku… Masih memiliki harapan."
Lilia menatap Claire yang masih tertidur lekat-lekat, "Dia itu anak yang menarik, ya?"
Dokter terdiam mendengar perkataan Lilia. Dia pun ikut menatap Claire. Tanpa sadar, senyum telah menghiasi wajahnya.
"Yah, anak keras kepala sepertinya memang sulit diperkirakan."
Lilia terdiam. Dia mengedipkan matanya. Menatap Dokter lekat-lekat dengan mata terbuka lebar. Merasa diperhatikan, Dokter menoleh ke arah Lilia sambil mengkerutkan alisnya.
"…Apa?"
"Oh? Maafkan aku!" Sadar telah memperhatikan Dokter, Lilia pun terkekeh kecil, "Hanya saja… Aku merasa kau berbeda." Dokter semakin mengkerutkan alisnya,
"Maksudmu… Aku terlihat semakin tua?" Melihat ekspresi panik Dokter, Lilia pun tertawa semakin kencang. Dokter hanya menatapnya heran, sebelum Lilia tersenyum kepadanya.
"Bukan itu maksudku. Hanya saja… Kau terlihat… Lebih lembut. Apa ada hal yang menyenangkan telah terjadi?"
Dokter terdiam. Sesaat dia melirik ke arah Claire, kemudian tersenyum kecil.
"Yah, kurasa ada beberapa hal menarik yang terjadi belakangan ini."
Seolah bisa membaca pikiran Dokter, Lilia pun tersenyum dengan lembut.
"Begitu ya… Syukurlah. Aku ikut senang…"
"Lagipula, bukan berarti kau tidak bisa sembuh untuk selamanya." Lilia menatap Dokter yang barusan bicara. Tapi sebelum Lilia melontarkan pertanyaan, Dokter telah mendahuluinya berbicara,
"Saat ini teknologi kedokteran semakin canggih. Aku yakin para dokter akan berjuang untuk memperluas wawasannya dalam bidang penyakit. Begitu pula denganku."
Dokter menatap Lilia dengan penuh keyakinan,
"Aku janji, aku akan berjuang semaksimal mungkin dalam menyembuhkan penyakitmu, dengan membawa nama baikku dan juga nama baik seluruh dokter yang ada di dunia ini." Ujarnya sambil menyerahkan resep obat kepada Lilia.
Lilia hanya menatap Dokter dengan kedua mata terbuka lebar. Awalnya, Lilia pernah meragukan orang di depannya ini ketika dia menggantikan dokter lama yang dulu bekerja di desa ini. Karena dari segi fisik, Dokter masih sangatlah muda. Selain itu, sifat cuek dan kakunya semakin meyakinkan Lilia bahwa Dokter tidak memiliki niat yang tulus dalam membantunya berobat. Tapi, semua keraguan itu kini telah lenyap setelah Lilia melihat tatapan mata Dokter saat ini. Dia bisa merasakan kepercayaan yang kuat dalam tatapan itu.
Lilia hanya terkekeh kecil sambil mengambil kertas yang diberikan oleh Dokter kepadanya.
"Kau memang berubah." Sebelum Dokter membalasnya, Lilia mendahuluinya, "Dan hal itu terjadi… Semenjak kedatangan Claire!" Ujar Lilia sambil mengedipkan matanya.
"A-…!"
BRAK!
Dokter spontan langsung berdiri, dan tanpa sadar menabrak meja yang ada di depannya. Dia pun meringgis sambil memegangi pinggangnya yang barusan tertabrak meja. Lilia hanya tertawa melihatnya, sebelum kemudian menatap kertas yang dipegangnya itu dengan tatapan kebingungan.
"Lalu… Kemana aku harus menyerahkan ini, Dokter?"
"Tentu saja serahkan ke El…" Dokter terdiam. Dia menatap ruang resepsionis sambil mengkerutkan alisnya, "Loh? Elli belum pulang?" Lilia pun menghela napasnya.
"Kau harus lebih peduli kepada Elli, Dokter. Selama ini dia telah banyak menolongmu, bukan?" Kini gentian Dokter yang menghela napasnya. Dia pun menggaruk-garukkan kepalanya.
"Tentu saja aku peduli padanya. Lagipula dia adalah asistenku yang seti…"
"Elli menyukaimu!"
Deg!
Dokter terdiam. Tiba-tiba ucapan Claire tadi terngiang di benaknya. Elli… Menyukaiku? Sejak kapan? …Tidak mungkin, kan?
Melihat Dokter yang terdiam dengan tatapan kosong, Lilia pun menghela napasnya. Dia pun berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Aku akan kembali besok pagi untuk mengambil obatnya." Ujarnya sambil membuka pintu, lalu melambaikan tangannya dan keluar dari klinik.
Blam
…
"Haaahhh!"
Sragh!
Dokter duduk di kursi tunggu sambil mengacak-ngacak rambutnya. Akhirnya, kini dia bisa bebas bernapas lega. Dia menundukkan kepalanya. Kemudian dia menutup kedua matanya dengan tangan kanannya.
((Brengsek. Brengsek. Brengsek. Brengsek. Brengsek. Brengsek. Brengsek. Brengsek.))
Kepada dia jadi ikut salah tingkah begini?! Kalau terus begini…
"Apa ada hal menyenangkan yang terjadi?"
Perkataan Lilia terus terngiang-ngiang di benaknya. Dia pun mengulangi perkataan Lilia berulang kali dalam hatinya.
((Menyenangkan…?))
"Aku menyukaimu juga…"
…
Srak srak srak srak srak!
Dengan kecepatan penuh, Dokter mengacak-ngacak rambutnya. Merasa tidak bisa lagi menutupi senyuman di wajahnya, diangkatnya kepalanya hingga menatap langit-langit, sehingga membuat wajah merah dan senyum lebarnya itu terlihat dengan jelas. Dia pun terkekeh kecil.
"Sial. Aku bisa disangka orang mesum kalau begini terus."
Tuk!
Tanpa sadar, kaki Dokter menyenggol sesuatu di bawah kursinya. Dokter segera menundukkan kepalanya, lalu mengintip kolong kursinya. Dilihatnya sebuah keranjang rotan di bawah sana.
"Apa ini?"
Dokter pun mengambil keranjang rotan itu, dan dilihatnya beberapa tanaman obat yang sedang dia butuhkan saat ini. Dan yang dia minta Elli untuk ambilkan pagi ini. Tunggu dulu. Itu berarti… Elli sudah datang ke klinik?
"Kalau begitu kemana dia sekarang?" Dokter melihat ke sekelilingnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa Elli ada di dalam klinik. Ini tidak biasanya, Elli pergi keluar klinik tanpa mengabarinya. Apa dia memiliki urusan yang sangat penting?
"…Ya, sudahlah."
Merasa tidak menemukan jawaban atas pertanyaan itu, Dokter memutuskan untuk berpasrah. Dia pun membawa tanaman-tanaman obat itu ke meja kerjanya untuk segera diracik menjadi obat.
"Mmm…"
Dokter segera menolehkan kepalanya, dan mendekati Claire yang mulai membuka matanya.
"Kau sudah sadar?" Tanyanya dengan lembut.
"I… Ini di mana?" Dokter mengela napasnya mendengar pertanyaan Claire.
"Di kamar pasien. Kau tidak ingat? Kau demam dan gadis supermarket itu membawamu kemari." Claire sempat terdiam untuk beberapa detik. Setelah mencerna dan mengingat kembali apa yang telah terjadi, Claire langsung membuka kedua matanya lebar-lebar.
"E-eh?! Ma-masa?!"
Dokter menundukkan kepala sambil menyentuh dahinya.
"Sudah kuduga kau tidak mengingat apapun…" Ujarnya, dengan sedikit nada kecewa dan pasrah.
"Eh? Memangnya apa yang aku lakukan?" Untuk sesaat, Dokter terdiam dan menatap Claire lekat-lekat. Tetapi setelah melihat ekspresi wajah Claire yang penuh dengan tanda tanya, Dokter menghela napasnya, kemudian menatap Claire tajam.
"Kau lupa atas tindakan 'kabur-saat-subuh'–mu itu hah?" Wajah Claire langsung memucat. Ingatannya pun kembali seketika.
"W-WUAH! MAAFKAN AKU! AMPUN!" Claire segera menarik selimut hingga mampu menyembunyikan dirinya. Tetapi Dokter hanya terdiam melihatnya.
"…Kau sungguh-sungguh tidak ingat apa yang kau katakan tadi?"
Mendengar suara lirih Dokter, Claire pun mengintip dari balik selimutnya dan mendapati Dokter sedang menatapnya lekat-lekat. Seolah sangat menantikan jawabannya. Claire sedikit terhentak melihatnya. Dengan ragu-ragu dia pun menjawab perlahan…
"T-ti… Tidak?"
Dokter terdiam mendengar jawaban Claire.
"A-apa aku melakukan sesuatu tanpa sadar?!" Tanya Claire panik. Dokter hanya menghela napasnya, kemudian berkata dengan lembut.
"Sudahlah. Kau harus banyak beristirahat, tidak usah kau pikirkan. Yang penting, kau harus sembuh dulu." Dokter pun merebahkan Claire ke kasurnya. Kemudian Claire menatap sekelilingnya bingung.
"Oh iya, Elli dimana?"
BRAK!
Drap drap drap drap drap!
"Dokter! Dokter! Dokter! Dokter! DOKTER!"
Sambil berusaha bernapas dengan benar, Mary berlari ke dalam klinik, dan segera menarik lengan jas Dokter. Dokter dan Claire pun menatapnya kebingungan.
"Ada apa i…"
"Ini gawat! Hah! Bagaimana ini!? Aku panik! Aku harus mulai dari mana?!"
"Dari awal. Pertama, lepaskan jasku." Mary melepaskan jas Dokter dengan sigapnya,
"Lalu, tarik napasmu."
"Hmmm!"
"Buang napasmu."
"Haahh!"
"Sudah tenang? Nah sekarang, ada apa?" Mary sempat terdiam. Kemudian, dia mulai panik lagi.
"Ini gawat gawat gawat gawat! I-ini tentang Elli… Ja-jadi… Tadi pagi… A-aku dan Karen se-sempat bertemu dengan Elli… LALU!" Dokter sempat terhentak mundur karena Mary tiba-tiba membuka kedua matanya lebar-lebar, "E-Elli tampak sedikit aneh… D-dia pergi ke arah gereja. Awalnya kami ingin mengikutinya… Tapi kami pun tidak jadi mengikutinya…" Ujar Mary mulai tenang.
"T-tunggu!" Claire mulai duduk di atas ranjangnya, sambil menatap Mary lekat-lekat, "Apa yang terjadi dengan Elli?! Dia belum pulang ke klinik!?" Dokter menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Ka-kami melihat Elli saat kami bermaksud untuk menjengukmu tadi pagi… Sekitar pukul… Sembilan? Kemudian… karena buah-buah yang kami bawakan untukmu sudah kotor karena jatuh, kami pun pergi ke inn untuk membeli buah yang baru… Tapi Ann kehabisan stok dan kami harus menunggu sampai sore…"
"ARGH! Itu tidak penting! Yang kutanyakan adalah Elli! Langsung ke poin utama! Lalu Elli bagaimana!? Dia di mana?! Apa yang terjadi padanya!?" Claire mulai mengamuk, dan berniat untuk melemparkan bantal ke arah Mary sebelum dihentikan oleh Dokter.
"L-lalu, di inn kami bertemu dengan Carter. Ke-kemudian kami bertanya kepada Carter apa yang Elli lakukan di gereja… Lalu Carter mengatakan bahwa Elli tidak pergi ke gereja ha-hari ini… Kami merasa ada yang aneh sampai akhirnya Jeff mengatakan bahwa dia melihat Elli… Pergi ke dalam hutan di belakang gereja… Te-tempat kalian keluar kemarin malam…"
"Hutan belakang gereja, ya?" Ujar Dokter sambil menyipitkan matanya. Kemudian dia pun tertegun, "Tapi… untuk apa Elli kesana? Jangan katakan dia mencari harta karun palsu itu."
"A-aku juga tidak tau… Pa-padahal seharusnya dia sudah tau kalau harta karun yang Claire cari kemarin… Ha-hanyalah kebohongan belaka…"
"Dan dia belum pulang sampai sekarang. Apa yang dia lakukan?" Tanya Dokter sambil melihat ke arah jam tangannya.
…
SRAK! Tap tap tap tap tap tap! BRAK!
Claire segera melompat dari tempat tidur dan berlari keluar dari klinik.
"H-hei!" Dokter yang baru tersadar dari lamunannya, segera berniat untuk mengejar Claire sebelum teriakan Mary menghentikannya.
"K-Karen sedang berusaha mencari Elli di hutan itu! Ta-tapi dia tidak tau banyak mengenai hutan itu… D-dan kau dan Claire tau… Ja-jadi…"
"Ya, aku tau. Serahkan mereka padaku."
Dan setelah itu, Dokter segera membalikkan badannya, dan berlari menyusul Claire.
-oOo-
Srak srak srak!
Claire melewati semak-semak yang ada di depannya dan melihat ke sekelilingnya. Ya, dia masih merasa familiar dengan jalan yang pernah dia lewati sebelumnya itu. Tapi setelah ini… Dia harus kemana? Dia tidak tau Elli berada.
"Elli! Elli! Kamu di mana?!"
Syunggg
Sesaat Claire merasa pandangannya mulai berputar. Dia pun tertunduk di tanah. Celaka. Dia lupa bahwa kondisi tubuhnya sedang tidak bagus hari ini. Pantas saja sejak tadi dia berkeringat lebih banyak dari biasanya.
"…ik… Hik…"
Merasa mendengar sesuatu, Claire mencoba untuk berdiri dan berjalan perlahan menuju ke arah sumber suara sambil bertopang pada pohon-pohon di hutan itu. Sampai dia mendapati sesosok gadis yang sedang tertunduk di bawah salah satu pohon yang cukup besar.
"E-Elli?"
Dia mencoba mendekati gadis itu,
"Elli… Kaukah itu?"
"JANGAN MENDEKAT!"
"A-apa…"
"DIAM! PERGI!"
Mendengar suara Elli yang terdengar serak itu, Claire terhentak dan terdiam di tempat. Masih bertopang pada pohon di sampingnya. Claire menatap gadis yang masih membelakanginya itu.
"Ta-tapi… Kenapa Elli…?"
Claire masih mendengar suara isakan Elli. Dia ingin mendekat, namun dia takut Elli akan mengusirnya lagi. Dia memutuskan untuk menunggu sampai Elli mulai tenang, dan bisa membiarkannya berbicara.
…
Setelah beberapa menit berlalu dan Elli mulai terdiam, Claire pun mulai membuka mulutnya.
"E-Elli…"
"Aku iri padamu."
Claire terdiam mendengarkan perkataan Elli barusan.
"A-apa maksudmu Elli…?!"
"AKU IRI PADAMU! Kenapa… Kenapa hanya kau… Selalu saja kau! Ini tidak adil kau tau!? Aku sudah mengenal Dokter jauh lebih lama darimu… Tapi kenapa… Kenapa hanya kau, kau, kau, dan selalu kau, CLAIRE!"
Elli kini sudah berdiri dan menatapnya tajam dengan kedua mata sembabnya itu. Claire terpaku melihatnya. Baru kali ini dia melihat Elli dengan rupa seperti ini. Claire takut. Tiba-tiba tenggorokannya terasa sangat kering, dan suaranya tidak dapat keluar sedikit pun.
"Aku… Sangat menyukai Dokter... Sangat… Sangat… Sejak pertama kali bertemu dengannya, hingga saat ini… Aku benar-benar menyukainya. Apapun akan kulakukan untuk membuatnya menyukaiku… Aku belajar dengan giat agar bisa menjadi asisten dokter jenius sepertinya. Aku belajar memasak. Membuat keluargaku ikut pindah ke desa kecil ini. Bahkan memotong rambut panjangku hingga sependek ini. Semua demi dia… AGAR DIA MENYUKAIKU!"
Claire bisa melihat air mata yang mulai menggenang di kedua mata Elli. Tapi meskipun ingin, suara Claire belum dapat keluar sedikit pun. Dia masih terus menatap Elli lekat-lekat dan terus mendengarkannya.
"Aku sangat senang akhirnya dapat bekerja bersama dengannya. Bahkan tinggal serumah dengannya. Seakan mimpi bagiku… Tapi… Aku tidak menyangka… Rupanya kau juga mencoba menarik perhatiannya… Claire."
"Aku tidak…!"
"JANGAN BOHONG!" Elli memotong perkataan Claire, "Lalu selama ini… Semua ini… Bagaimana kau akan menjelaskannya!? Padahal aku mempercayaimu… Sejak awal kau bilang kau membencinya bukan? Kau membencinya, tapi kenapa… Kenapa Dokter memperlakukanmu dengan berbeda…? Kau… KAU SENGAJA KAN!? KAU SENGAJA MENCARI PERHATIAN DOKTER KAN, CLAIRE?!"
"TIDAK! Kau salah, Elli! Aku tidak mencari perhatian Dokter sama sekali! Aku awalnya memang membenci Dokter… Aku benci padanya… Ta-tapi… Aku… Aku sadar bahwa aku… A-aku sekarang… Menyukainya…"
PLAKK!
Kedua mata Claire terbuka lebar-lebar. Pipinya terasa panas. Sangat panas. Claire tertunduk. A-apa yang barusan terjadi?
"PEMBOHONG! PEMBOHONG! Kenapa Claire… Kenapa… Kenapa kau menghianatiku!? Padahal kupikir kau… A-aku… AHH! Kau puas sekarang!? Kau puas Claire?! Dokter memperhatikanmu, memanjakanmu, memperlakukanmu beda dari yang lain, menggandeng tanganmu, tersenyum dengan lembut hanya kepadamu… Oh… Jangan-jangan memang ini tujuan awalmu datang ke desa ini!? Iya kan!? Kau… A-aku… AKU SANGAT MEMBENCIMU!"
PLAAAKKK!
Elli terdiam. Tangan Claire masih melekat di pipinya. Ya. Elli bisa merasakan tangan Claire yang masih bergemetar di pipinya.
"JANGAN SEKALI-KALI KAU UCAPKAN KATA-KATA ITU, ATAU AKU AKAN MENAMPARMU LAGI!" Bentak Claire sambil menatap Elli tajam-tajam. Elli terpaku. Kini dialah yang terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah kata apapun.
"Kau benar… Aku memang orang brengsek. Aku pembohong besar. Aku mengatakan tujuan utamaku untuk ke desa ini adalah untuk membuatmu benci pada Dokter, dan membawamu pulang ke kota. Berkali-kali pula aku mengatakan bahwa Dokter itu orang yang menyebalkan di depan wajahmu. Tapi… Apa yang kukatakan saat ini? Aku mengatakan… Bahwa aku menyukainya… Aku sendiri tidak tau apa yang terjadi padaku."
"Kau sendiri yang bilang kan? Sudah enam tahun kau menjalin hubungan dengan penyelamatmu itu. Apa enam tahun itu kurang cukup bagi kalian, untuk saling memaafkan satu sama lain?"
Suara Dokter saat itu masih terdengar dengan jelas di benak Claire. Claire pun menundukkan kepalanya.
"Sejak pertama kali bertemu denganmu... Aku selalu merasa kita hidup di dunia yang berbeda. Kau begitu disenangi banyak orang… Sedangkan aku? Aku selalu di bully sejak kecil. Tapi berkatmu, aku berubah. Kau adalah penyelamatku. Dan yang ada di pikiranku hanyalah bagaimana cara agar aku bisa menjadi sepertimu. Sejak dulu, hingga saat ini. Dan hal itu tidak akan berubah semudah itu... Waktu kau bilang aku sudah kau anggap sebagai adikmu sendiri, aku sangat senang… Benar-benar senang… La-lalu… A-aku…"
Suara Claire mulai terdengar putus-putus, namun dia masih berusaha berbicara,
"Aku berusaha… Agar membuatmu bangga kepadaku. Agar kau lebih memperhatikanku. Agar aku selalu menjadi nomor satu di matamu. Tapi… Saat melihat kau menyukai Dokter… Aku kesal. Sangat kesal. Aku ingin menyingkirkannya, agar kau kembali memperhatikanku lagi… Aku selalu menganggapnya sebagai rival-ku. Dia merebutmu dariku. Aku tau, aku hanya egois. Sifatku ini sangat kekanak-kanakkan. Aku tak lebih dari seorang adik manja yang meminta perhatian lebih dari kakaknya. Tapi… Setelah jatuh cinta padanya… Aku baru sadar… Akan perasaanmu selama ini… Perasaan ketika menyukai seseorang."
"…Maaf karena selama ini tidak memikirkan perasaanmu… Aku… Aku tau aku ini bodoh. Pembohong. Brengsek…"
Claire mengepalkan tangannya.
"…Dan…"
Claire mengangkat kepalanya dan menatap Elli lagi, yang masih terdiam dengan kedua mata sembabnya.
"A-Aku mengakuinya… Aku memang menyukai Dokter. Tetapi… Aku menyukaimu juga… Sangat! Ka-karena itu…"
Elli bisa melihat air mata yang mulai berjatuhan dari kedua mata Claire.
"Aku lebih memilih menyerah… Daripada harus dibenci olehmu seperti ini!"
...
Tes.
Elli terdiam. Dia tidak sadar sejak tadi, air matanya telah kembali membasahi pipinya. Tangan Claire, masih terus berada di pipinya. Dan kini tangan itu telah basah oleh air matanya. Mereka berdua masih terus bertatapan tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Dan ketika Elli hendak membuka mulutnya, Claire tiba-tiba terjatuh ke tanah. Elli yang panik, langsung memeluknya dan memanggil-manggil namanya sambil menepuk pipinya perlahan. Disaat itulah Elli menyadari, bahwa tubuh Claire terasa sangat panas.
"Claire! Ka-kau… Kau sakit?!"
Claire sudah tidak dapat merespon Elli lagi. Kepalanya benar-benar terasa pusing. Berat. Dia hanya bisa bersandar pada Elli. Elli yang panik pun, berusaha meminta pertolongan dengan berteriak,
"TOLONG! SIAPA PUN!"
((Dokter!))
Elli terus berteriak di dalam hati. Dia sadar kalau Dokter tidak akan datang jika dia yang berteriak, tapi…
"K-kalau terus begini… CLAIRE DALAM BAHAYA!"
SRAK!
"Claire!"
Dari balik semak-semak, muncullah Dokter dengan penuh keringat, yang segera berlari dan mengangkat Claire dengan kedua tangannya. Dari belakangnya, Karen menyusul dan segera menghampiri mereka.
"Aku akan segera membawanya ke klinik dan memberinya obat." Dan tanpa basa-basi lagi, Dokter segera berlari dan meninggalkan mereka berdua di belakang.
…
Elli terdiam.
Karen terdiam.
Tidak ada satu pun dari mereka berdua yang berbicara. Suasana benar-benar hening untuk beberapa saat, hingga akhirnya, suara tawa Elli mulai terdengar.
"Dasar Dokter! Tidak sopan sekali dia meninggalkan kita di belakang! Bahkan dia belum mengucapkan terima kasih karena telah melibatkanmu dalam hal ini… Maafkan kami semua ya, Karen." Elli berbicara sambil membelakangi Karen. Karen hanya terdiam dan mendengarkannya berbicara.
"…Karena cemburu, tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke hutan… Berharap dia akan menyadari akan hilangnya diriku… Mencariku… Seperti yang dia lakukan kepada Claire kemarin…"
Karen bisa menyadari suara Elli yang mulai gemetaran. Tapi dia tetap diam dan memutuskan untuk tidak berbicara dulu.
"Dari awal aku sudah tau, dan semakin tau setelah melihat raut matanya ketika menatap Claire tadi. Dia… Dia sama sekali tidak pernah melihatku dengan tatapan seperti itu. Tunggu. Aku salah. Dia malah tidak pernah melihatku dari dulu." Elli tertawa kecil, "Dan disinilah aku! Masih terus berharap dan berusaha agar membuat dia menyadari keberadaanku… Menyadari… Perasaanku… Walau… Semua sia-sia."
Elli mengangkat kepalanya. Menatap langit senja di atas kepalanya lekat-lekat, dengan kedua matanya yang sudah berlinangan air mata. Dia pun tersenyum dengan lembut,
"Aku memang… Bodoh."
…
Karen hanya terdiam melihat Elli. Jujur, dia memang belum mengenal gadis yang satu ini dengan baik. Tetapi, melihat sosoknya yang terlihat kesepian, dan berusaha untuk tampak tegar seorang diri, Karen pun mendekat, merangkul pundaknya perlahan, dan menatapnya sambil tersenyum kecil.
"Ayo, kita pulang."
…
Elli hanya terdiam menatap Karen. Dia pun tersenyum kecil, dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya… Terima kasih."
-oOo-
"AKU MEMBENCIMU! SANGAT MEMBENCIMU!"
DEG!
Kedua mata Claire terbuka dengan lebar. Tubuhnya basah oleh keringat. Dia mimpi buruk. Sambil mengatur napasnya, dia berusaha mengingat apa yang terjadi tadi. Tampaknya dia pingsan dan… Ini di kamar pasien, iya kan?
Set
Merasa ada sesuatu yang menyentuh tangannya, Claire menolehkan kepalanya ke arah tangannya dan mendapati Dokter telah tertidur sambil memegang tangannya erat. Muka Claire mulai memanas. Tapi… Hatinya terhanyut. Dia senang. Sangat senang. Dia mempererat genggaman tangannya pada tangan Dokter.
"AKU SANGAT MEMBENCIMU!"
Set!
Claire segera melepaskan tangannya dari genggaman Dokter. Untungnya Dokter tidak terbangun. Tampaknya dia sudah tertidur dengan pulas. Claire melirik ke arah jam dinding klinik. Pukul dua belas malam. Dia menundukkan kepalanya. Berpikir sejenak.
Claire turun dari kasurnya dengan perlahan, berusaha tidak membangunkan Dokter. Dia mengambil selimutnya, lalu menyelimuti Dokter dengan selimutnya itu. Dia menatap Dokter yang masih tertidur dengan pulas lekat-lekat.
…
Claire menggigit bibir bawahnya, lalu berjalan perlahan-lahan keluar dari klinik.
-oOo-
"Lalala~ Oke! Ini piring terakhir!"
Doug mengambil piring di depannya, lalu mengelapnya perlahan penuh cinta. Setelah memastikan dia dapat bercermin di piring itu, Doug meletakkan piring itu ke dalam lacinya. Lalu menguncinya rapat-rapat. Doug pun merentangkan tangannya.
"Hah! Akhirnya… Waktunya aku tidur…"
Tok tok tok!
…
Doug terdiam.
Tadi… Dia merasa ada suara ketukkan? Siapa ya di tengah malam-malam seperti ini? Apa… Dia lupa memasang plang 'CLOSE' di depan pintu Inn-nya?
Tok tok tok!
Suara ketukkan itu kembali berbunyi. Doug segera berlari ke arah pintu masuk, membuka kuncinya, lalu membuka pintunya.
Kreek!
"Loh, Claire? Ada apa malam-malam begini? Bukankah kau sedang sakit? Dan… Aku benci mengatakannya tapi… Inn sudah lama tutup…" Ujar Doug sedikit 'tidak enak hati', melihat Claire yang tampak lesu dan sedih itu.
"Mmm... Maaf... Aku hanya ingin pinjam telepon..." ujar Claire sambil menunjuk ke arah telepon umum di Inn.
"Oh? Mmm… Baiklah. Silahkan." Doug memutuskan untuk membiarkan Claire masuk, dan memperhatikannya dari jauh. Jujur dia sangat penasaran. Siapa yang ingin Claire telepon malam-malam begini? Siapa tau dia bisa memakai informasi ini sebagai topik gosip baru di Inn besok.
Doug pun berjalan mendekati Claire. Dia memutuskan untuk menguping, karena itu dia memilih untuk duduk di sebelahnya, dan membelakanginya. Pura-pura tidak memperhatikannya.
[Tut… Tut…]
Doug tersenyum. Yap. Excellent. Dia bisa mendengar dengan jelas suara di telepon itu.
[Cklek!]
[Halo?] Terdengar suara seorang wanita dari balik telepon.
"Halo..."
[Ya, dengan siapa ini?]
"Ini aku Ma, Claire..."
...
Hening seketika.
Doug pun ikut terdiam.
Tak lama, Claire pun, segera disambut dengan hangat oleh sang Mama tercinta.
[CLAIRE! RUPANYA KAU! KEMANA SAJA KAU! KAU TIDAK MENGABARI MAMA SAMA SEKALI! LIBURANMU TINGGAL DUA MINGGU LAGI KAN?! KAPAN KAU MAU PULANG HAH?! KAU TIDAK INGIN SEKOLAH LAGI?! MANA TELEPON MALAM-MALAM BEGINI LAGI! MAMA UDAH MAU TIDUR TAU!]
[Ngiiiingggggg]
Tampaknya speaker telepon itu ada di ambang kerusakan. Sama halnya dengan kuping Doug.
"... Pulang..." Tanpa sadar suara Claire mulai bergetar.
[...Hah?!] Tanya ibu Claire, meminta pengulangan dari sang anak tercinta.
Berusaha sekuat tenaga menahan air matanya, Claire memegang erat ganggang teleponnya, dan berkata dengan lirih,
"Aku... Aku ingin pulang... Sekarang juga..."
...
Suasana hening. Dibalik telpon, mama claire speechless. Sama halnya dengan Doug yang saat ini udah mangap-mangap gak percaya, sambil menggigit jari-jarinya.
[Ngomong apa kamu?! Kamu ini yang benar sa...]
"POKOKNYA SEKARANG! MAMA JEMPUT SEKARANG! AKU LANGSUNG NAIK KAPAL SEKARANG! NYAMPE SANA PALING 3 JAM LAGI!"
[JANGAN NGAWUR KAMU! Malem-malem begini mana ada kapal yang..]
"ADA! AKU BAKAL BANGUNIN PETUGASNYA SEKARANG JUGA! KENALANKU, ZACK JUGA BISA NGANTERIN AKU!"
[Memangnya kamu pikir kamu bisa masuk ke rumah orang itu untuk meminta tolong seenaknya?!]
"BISA! AKU PUNYA KAWAT!" Ujar Claire sambil mengeluarkan kawat-kawat yang sebagian sudah penyok dari kantongnya. Rupanya dia mau jadi maling lagi kawan-kawan.
[Kamu ini apa-apaa...]
"GAMAU TAU! AKU PULANG SEKARANG! HARUS!"
KRAK!
Claire membanting telepon itu. Dia segera memberikan uang biaya telepon kepada Doug yang masih menatap Claire dengan tatapan 'hei-apa-kau-yakin-dengan-semua-ini?', tapi Claire hanya melewatinya saja dan berjalan keluar pintu Inn. Tapi, dia sempat terdiam sebentar dan menoleh ke arah Doug dengan kedua mata melotot. Doug sempat terhentak dari kursinya. Claire menatapnya tajam sambil mengangkat kawat-kawat yang katanya 'tajam' itu.
"Pura-pura tidak tau akan hal ini... Atau… KAU AKAN MENYESAL."
Blam!
Claire pergi begitu saja, meninggalkan Doug yang saat ini sedang diselimuti oleh trauma yang mendalam. Dia berjanji dalam hidupnya, untuk tidak membuka pintunya saat ada tamu di tengah malam, walau dalam keadaan darurat sekali pun.
-oOo-
Claire langsung berlari ke pelabuhan. Dia menatap rumah Zack yang terkunci dengan rapat. Dia menatap kawatnya, sedikit bermain-main dengan benda itu, dan tak butuh waktu lama, dia sudah berada di samping Zack yang masih tertidur dengan pulas di ranjangnya.
"…Zack."
Nyek!
Claire menusuk perut Zack.
"Argghhh mgghh mnyem mnyem menyem menyem…" Zack membalikkan badannya sambil menggaruk-garuk pusarnya. Kini, perut setengah buncitnya itu terekspos dengan jelas.
"…Zack."
Ctus!
Claire mencabut sehelai rambut kaki Zack.
"Hainyuamm! Hanyem myem myem! Amburenyemhaaaaaa…"
Claire mulai kesal. Dia tidak mengerti bahasa binatang apa yang dibicarakan Zack saat ini. Tapi dia tau satu hal. Dia harus membangunkan Zack saat ini. Harus. Bagaimana pun caranya.
*warning
#This scene is not suitable for humanity. We will skip this scene. Please wait for a moment.#
"HENTIKAN! AKU SUDAH BANGUN! SUDAH BANGUN! BAIK! KITA BERANGKAT! BERANGKAT!"
"Bagus." Claire menghela napasnya. Dia beranjak dan keluar dari rumah Zack, "Aku menunggu di kapalmu. Lima menit kau tidak disana, atau aku akan…"
"BAIK! BAIK! AKU AKAN KESANA SEGERA!"
BRAK BRAK KOMPYANG!
Saking paniknya, Zack sampai menabrak barang-barang di rumahnya. Tapi dia sudah tidak peduli lagi. Masih dengan kaus kutang dan celana boxernya, Zack segera berlari ke kapalnya dan menyalakannya dengan cepat.
Bsshhhh!
Cerobong kapal Zack mulai mengeluarkan asapnya. Claire menatap cerobong itu dengan tatapan kosong.
"…Aku ingin kita pergi dengan kecepatan penuh."
"SIAP!"
TOOOOTTTTTTTT!
Suara cerobong kapal Zack mengeluarkan suara yang sangat besar.
PLETAK!
"AIHH!"
Claire melemparkan kendi yang kosong ke arah Zack. Sambil mengelus-ngelus kepalanya, Zack menatap Claire dengan tajam.
"Hei! Apa yang kau lakukan! Itu berbahaya!"
"Kau yang bodoh. JANGAN MENGELUARKAN SUARA TERLALU KENCANG! NANTI KAU BISA MEMBANGUNKANNYA!" Zack terdiam.
"Membangunkan… Siapa?"
Claire terhentak. Dia segera membelakangi Zack, dan menyandarkan dirinya ke pinggir kapal.
"…Cepat jalan."
"Ta-tapi Claire…"
"…Terima kasih telah mengantarku, Zack."
Zack menghela napasnya. Merasa sia-sia jika bertanya lebih jauh lagi, Zack memutuskan untuk menjalankan kapalnya, dan tidak banyak bertanya. Meskipun kadang menyeramkan, dia tau, Claire adalah anak yang baik. Dan semua perbuatannya kali ini, pasti ada alasannya. Zack berusaha untuk mempercayai hal itu.
-oOo-
Sekitar tiga jam kemudian, mereka akhirnya sampai di pelabuhan kota. Disana, sudah terlihat seorang wanita yang menunggu di pinggir pelabuhan. Setelah Claire turun dari kapal, wanita itu segera menghampirinya dan memeluknya erat. Lalu membungkukkan kepalanya ke arah Zack.
"Mohon maafkan anakku karena telah merepotkan anda! Sungguh, maafkan aku…" Zack yang terpana melihat kehadiran ibu Claire, langsung salah tingkah. Maklum, jomblo tua.
"C-Claire?! Ini ibumu? Kukira untuk sesaat tadi, dia kakakmu!" Melayang dipuji seperti itu, Ibu Claire segera tertawa kecil.
"Ah, anda bisa saja… Jangan membuat saya malu!" Ujarnya sambil memukul pundak Claire. Claire yang kesal, langsung membalikkan badannya.
"Ibu-ibu ini sudah 45 tahun lebih."
Claire segera berjalan, meninggalkan Zack yang masih membatu, dan ibu Claire yang segera mengejar anaknya setelah memberikan uang dan ucapan terima kasih kepada Zack. Setelah beberapa kali memanggil nama anaknya, dan tidak direspon, ibu Claire mulai kesal dan menarik pundak anaknya.
"Apa yang terjadi padamu?! Kau pulang dadakan, bahkan kau tidak membawa barang-barangmu! Dan… Hei! Kau demam!" Ujar ibu Claire sambil memegangi dahi Claire yang masih panas itu. Claire masih terdiam, sampai akhirnya air mata mulai berjatuhan dari matanya.
"Hik… Hik… Hik!"
"Claire…?"
"Uhuhu… Huwaaa! Huu-hu-huwaaa!" melihat tingkah anaknya, ibu Claire langsung berjongkok, dan memeluknya sambil mengelus-ngelus rambutnya.
"Ada apa sayang? Ceritakan semuanya kepada mama, ya?"
"Hik… Hik! Claire… Claire gatau harus gimana ma…"
"Iya… Tidak apa… Kalau kamu sudah tenang, kamu bisa ceritakan semua ke mama, oke? Yang paling penting, kau sudah berhasil pulang, oke? Selamat datang, sayang. Ayo kita pulang, sekarang, ya?" Ujar ibu Claire sambil mencium kening anaknya.
Untuk pertama kalinya, Claire merasa bahwa mamanya, memang adalah ibunya. Yang dapat membuatnya merasa setenang ini. Ya, dia sudah pulang. Dan ini bukan mimpi. Dia pulang, tanpa memberitahu siapa pun, kecuali Doug, dan Zack yang sudah mengetahuinya sejak awal. Walau bukan dari mulut Claire sendiri. Tapi yang paling menyakitinya, adalah kenyataan bahwa dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Elli, juga pada… Dokter.
Masih menangis dalam pelukan mamanya, Claire memejamkan matanya.
"Aku tau aku ini bodoh…"
"Karena itu…"
"…Maafkan… Aku…"
(bersambung)
