Chapter 10

Title : Love for You

Genre : GS, Romance, and little bit Hurt

Rated : PG 17

Length : Chapter 10 of ?

Cast :

- Kim Jong Woon (Yesung)

- Kim Ryeo Wook

- Cho Kyu Hyun

- Park Ji Yeon

- Lee Donghae

- Kim Jong Jin

- The Other

Disclaimer : Just Don't Bash and Don't copas without my permission.. o

Summary : Menatapmu.. Mendengar suaramu.. Memberikan cinta untukmu.. Merupakan suatu hal yang indah.. Meski pun aku tidak tahu, sampai kapan aku akan bertahan dengan semua..

Previous~

Ryeowook pun bergegas pergi ke pasar untuk membeli keperluan yang tertulis di kertas yang digenggamnya.

Kaki kecilnya terus melangkah.

Tubuhnya memang terlihat lemah saat ini. Keringat telah membasahi wajahnya. Sesekali Ryeowook berhenti dan bersandar pada tembok di sampingnya untuk menormalkan penglihatannya yang semakin kabur sampai akhirnya…

BRUK!

Yeoja mungil itu jatuh ke atas trotoar dengan nafas yang tersengal.

Dan seketika itu juga orang-orang yang ada di sekelilingnya menghampirinya.

"Oppa… Yesung…oppa…" lirihnya sebelum betul-betul tak sadarkan diri.

Chapter 10.

Author PoV

PRAANG!

Gelas yang sejak tadi berada di tangan Yesung jatuh dan menjadi serpihan beling. Tangan namja itu bergetar hebat, tubuhnya mendadak lemas dan nafasnya tersengal.

"Hyung! Gwaenchana?" Jongjin menghampiri Yesung yang telah terduduk lemas di samping meja makan sambil memegang dadanya.

"Ryeowook-ah~" lirih namja itu.

"Ne?" Jongjin mengernyit, bingung.

"Jongjin-ah!" Yesung menggapai lengan Jongjin dan meremasnya kuat.

"Hyung, wae geurae? Jangan membuatku takut!"

"Wookie.. Dia.. Pasti terjadi sesuatu padanya," Yesung terlihat kalut. Pandangan namja itu tidak fokus. Air mata namja itu menetes.

Jongjin tertegun mendengar ucapan Yesung. "A-aniyo~ Gwaenchanayo, hyung. Noona pasti baik-baik saja," hibur Jongjin, meskipun dapat terlihat raut gelisah dari wajahnya.

"Ani! Aku merasakannya!" sergah Yesung.

Jongjin menatap Yesung lekat. "Tenanglah, hyung!"

Yesung meremas bajunya erat. "Wookie-ah~" lirihnya.

Ooo

Ryeowook PoV

Perlahan pandanganku yang tadi gelap menjadi terang ketika aku mulai membuka mataku. Kuamati langit-langit tempatku berbaring saat ini. Kurasakan ada sesuatu di dahiku. Aku pun menggapainya.

Handuk kecil?

Apa aku demam?

Kamar ini tampak asing. Di mana aku sekarang?

Aku mengubah posisiku menjadi duduk.

Kuedarkan pandanganku ke sekeliling kamar ini.

Kamar dengan nuansa biru.

"Eoh? Kau sudah sadar?" sebuah suara mengejutkanku. Bukan karena suara ini muncul tiba-tiba, tapi karena suara ini tidak asing bagiku.

Aku pun menoleh, menatap namja yang kini berjalan ke arahku.

"Apa kau merasa pusing?" tanyanya lembut sambil duduk di sisi ranjang.

Aku menunduk. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang hangat menyentuh dahiku. Aku pun mendongak, menatap namja di hadapanku lagi.

"Demammu sudah turun," ucapnya sambil tersenyum.

"Oppa…"

"Um? Apa ada yang sakit?" dia menatapku khawatir.

"A-ani. Geundae.. Bagaimana aku bisa di sini?" tanyaku.

Dia tersenyum penuh arti. "Haruskah kau tahu, Wookie-ah?"

Aku terdiam.

"Apa kau kecewa karena yang membawamu bukan Yesung?" lirihnya, namun masih bisa kudengar.

"Nde?"

Dia menggapai tanganku dan menggenggamnya erat. Sangat erat kurasa.

"Jangan seperti ini lagi, Wookie-ah… Kau membuatku hampir gila karena mengkhawatirkanmu," ucapnya.

Aku terdiam.

"O-oppa… Aku…"

SRET!

"Oppa!" aku mencoba melepaskan pelukannya.

"Jangan pergi. Jebal.."

DEG!

"Donghae oppa~"

Ooo

Author PoV

"Aku harus mencarinya ke mana lagi?" gumam Yesung frustasi.

Ini sudah menginjak hampir sebulan Ryeowook pergi.

Jongjin menatap hyungnya. Namja itu sendiri bingung harus ke mana lagi. Setiap hari mereka terus mencari ke semua tempat yang mungkin di datangi oleh Ryeowook.

"Jongjin-ah. Apa benar Donghae tidak tahu di mana Wookie?" tanya Yesung.

"Sudah berapa kali kau bertanya seperti itu, hyung? Jawabannya TIDAK!" jawab Jongjin tegas.

"Jeongmalyo?"

"Apa kau tidak percaya padaku?"

"Bukan padamu. Tapi pada namja ikan itu!"

Yesung berdiri lalu beranjak menuju kamar istrinya.

BLAM!

Jongjin yang melihat hal itu hanya bisa menghela nafas.

"Akupun tidak percaya padanya, hyung… Namja itu tampak aneh. Mianhae, hyung. Tapi aku akan menyelidikinya sendirian. Karena aku takut kau akan semakin sakit jika memang saat ini noona sedang bersamanya," Jongjin bermonolog ria.

Namja itu mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.

"Yeoboseyo? Kyuhyun hyung, eodiga?"

Ooo

"Jadi kau menyurigai Donghae?" tanya Kyuhyun seraya meletakkan cangkir kopinya ke atas meja.

"Jogeumsik," jawab Jongjin.

"Donghae memang menyukai kakak iparmu, tapi bukankah dia bilang dia tidak tahu?"

"Donghae-ssi… Dia tidak terlihat cemas sama sekali, hyung. Ini terlalu aneh untuk seseorang yang tahu orang yang dicintainya menghilang," tutur Jongjin.

"Kau benar juga. Dia tampak aneh. Belakangan ini dia selalu pulang cepat dan menghindariku," timpal Kyuhyun.

"Apa kau tahu rumahnya, hyung?"

"Dia tinggal di apartemen. Aku pernah ke sana, tapi aku tidak tahu di mana kamarnya."

"Gwaenchana. Kita masih bisa bertanya pada resepsionisnya."

"Geurae. Kapan kita ke sana?" tanya Kyuhyun.

"Secepatnya. Tapi tidak sekarang. Ah ya! Satu hal lagi. Tolong rahasiakan hal ini dari hyungku," kata Jongjin.

"Wae? Bukankah hyungmu sudah sekarat karena tidak juga menemukan istrinya?" sindir Kyuhyun.

"Jangan bicara begitu, hyung! Biar bagaimana pun dia tetap hyungku! Dan dia memang sekarat saat ini, maka dari itu jangan beri tahu sebelum kita membuktikan hal ini benar atau tidak," gerutu Jongjin.

"Arraseo~ Jangan berkata dengan nada begitu Kim Jongjin! Nada itu terdengar seperti kau ingin menyekik leherku sampai aku kehabisan nafas!" kata Kyuhyun seraya terkekeh.

"Ish! Kau betul-betul menyebalkan!" sewot Jongjin.

Ooo

Ryeowook duduk di depan kaca rias dan memandang pantulan wajahnya dengan tatapan kosong. Banyak hal yang sedang dipikirkannya. Salah satunya tentang perceraian.

Ini sudah satu bulan dan gadis itu belum juga mendapat kabar tentang perceraiannya.

"Apa kau tidak membuka kotak surat? Atau kau tidak peduli? Atau… Kau belum menandatanganinya?" gumam Ryeowook.

TOK! TOK!

Terdengar suara pintu diketuk dari luar.

"Ne?" sahut Ryeowook lirih.

CKLEK!

"Kau sudah makan?" tanya namja itu lembut seraya mendekati Ryeowook.

"Aku belum lapar," jawab Ryeowook singkat.

Donghae menghela nafas.

"Apa kau benar-benar mencintainya?" tanya Donghae lesu.

Ryeowook hanya diam.

"Apa aku tidak bisa memilikimu?"

"Oppa-"

"Apa benar-benar sudah tidak ada celah untukku?"

"Oppa, aku-"

"Tak bisakah kau melihatku? Kim Ryeowook?"

Ryeowook menunduk.

Donghae memutar tubuh mungil Ryeowook yang masih duduk di kursinya dan berlutut di hadapannya.

"Bukankah kau sudah menyerah menghadapinya?"

Ryeowook mendongak menatap Donghae karena terkejut.

"Surat cerai itu… Kau yang mengajukan perceraian itu, kan? Bukankah itu artinya kau menyerah?" terlihat ketegasan di wajah Donghae.

Air mata Ryeowook menetes perlahan.

Donghae menggenggam jemari Ryeowook erat. "Aku akan membahagiakanmu, Wookie-ah… Aku berjanji. Jangan pergi dariku. Jebal. Beri aku kesempatan.."

"Nan mothae! Jeongmal mothae!" isak Ryeowook.

GREP!

"Tapi aku bisa!" tegas Donghae sambil mempererat pelukannya.

"Oppa… Jebal. Jangan seperti ini. Jangan membuatku semakin sulit.. Aku tidak bisa…" ujar Ryeowook lemah.

Donghae tidak lagi menjawab. Namja itu hanya diam sambil terus mempererat pelukannya seakan tidak membiarkan Ryeowook pergi.

"Mianhae.. Mianhae, oppa.." ucap Ryeowook semakin terisak.

Ooo

Yesung tampak gusar dalam tidurnya. Matanya terpejam dengan erat.

"Wookie-ah~" lirihnya. Tubuhnya bergerak tidak teratur. Nafasnya memburu.

"Aniya~ Kajima!" racaunya lagi. Keringat dingin memenuhi wajahnya. "Kajima… Mianhae, Wookie-ah… KAJIMA!" teriknya sambil membuka kedua matanya.

Namja itu terengah sambil menatap langit langit kamar. Lalu ia memejamkan matanya dan menggenggam cincin yang dia pasang di kalungnya.

"Ryeowook-ah~ bogoshipda," lirihnya. Matanya yang terpejam kini mengeluarkan cairan kristal.

Namja itu terisak sekarang. Tanpa peduli ini sudah yang ke berapa kalinya ia menangis.

"Hyung?" Jongjin masuk ke kamar itu. Hal ini menjadi rutinitas barunya sejak sebulan ini.

"Gwaenchanayo?" tanya Jongjin pelan sambil menatap Yesung yang masih menangis tanpa suara.

Yesung hanya diam sambil terisak. Namja itu memunggungi Jongjin.

"Keluarkan suaramu, hyung! Jika menangis seperti itu kau akan sakit!"

"Aku memang sudah sakit Jongjin-ah. Aku sakit," timpal Yesung pelan.

"Hyung~"

"Aku ingin bertemu dengannya, tapi aku takut. Bagaimana jika dia tidak memaafkanku nanti? Apa yang harus kulakukan?"

"Cukup katakan kau mencintainya, hyung! Itu sudah lebih dari cukup. Dia menunggumu mengatakan itu sejak dulu," ujar Jongjin.

"Jika dia menungguku mengatakan hal itu, kenapa dia meninggalkanku sekarang?"

"Bukankah sudah kubilang kalau itu sudah pasti karenamu?" sahut Jongjin sedikit sewot.

"Tapi aku tidak pernah mengusirnya!" sergah Yesung sambil terduduk.

"Ryeowook babo~"

DEG!

"Mwoya~?" lirih Yesung. Sekelebat ingatan muncul dipikirannya.

"Kenapa kau tidak pergi saja dari hidupku, eoh?"

"Ani!" Yesung menutup kedua telinganya.

"Hyung? Gwaenchanayo?" tanya Jongjin cemas.

"Kau selalu membuatku kesal. Mengapa kau harus ada dalam hidupku?"

"ANDWAE?!" pekik Yesung membuat Jongjin terkejut.

"Hyung! Waeyo?" Jongjin menggenggam lengan Yesung dengan kencang.

"Ani! Kajima!" Yesung semakin terisak.

"HYUNG!" bentak Jongjin berusaha menyadarkan Yesung.

Yesung mendongak. "Aku tidak bermaksud mengusirnya, Jongjin-ah~"

"Apa maksudmu, hyung?"

"Aku mabuk saat itu. Aku bersumpah. Demi Tuhan, Jongjin-ah. Aku tidak bermaksud mengusirnya saat itu. Aku bahkan tidak tahu dia mendengar ucapanku."

"Apa yang kau ucapkan, hyung? Jangan membuatku bingung!"

"Jongjin-ah!" Yesung menggapai kedua tangan Jongjin. "Kau harus berjanji padaku. Bantu aku menemukannya, eoh? Aku ingin menjelaskan semuanya. Jebal…"

Jongjin menatap Yesung iba lalu mengangguk. "Kita akan menemukannya, hyung. Aku janji!" kata Jongjin tegas.

Ooo

Flashback On_

Seorang gadis kecil berumur 7 tahun tampak sedang asik berjalan dengan kaki kecilnya.

Anak itu melangkah sambil bersenandung ringan.

"Eoh?" gadis itu berhenti saat melihat seorang namja imut sedang berdiri di bawah pohon rindang di sebuah tam kecil yang berjarak sekitar 3 meter dari tempatnya berdiri.

Namja itu terlihat sedang memandangi sesuatu di pohon itu. Merasa penasaran, bocah perempuan itu pun menghampirinya.

"Annyeong haseyo!" sapa yeoja kecil itu membuat namja kecil di sampingnya terlonjak kaget.

"Nuguseyo?" tanya namja itu bingung.

"Joneun Kim Ryeowook imnida," jawab yeoja kecil itu sambil membungkuk dalam.

Namja itu menatapnya bingung.

"Oppa. Apa yang sedang kau lihat?" tanya Ryeowook penasaran.

Namja kecil itu mendongak.

MEONG!

"EOH?! Anak kucing?!" pekik Ryeowook. "Kenapa kau tidak menolongnya?"

"Justru aku sedang berpikir bagaimana cara menurunkannya!" sahut bocah laki-laki itu sewot.

"Ck! Bukankah hanya dengan memanjat?!"

"Hanya apanya?! Kau tidak lihat tempatnya tinggi sekali?!"

Ryeowook mendengus sebal. "Payah!"

"Mwo?!"

Ryeowook segera bersiap-siap untuk memanjat.

"Ya! Kau mau apa?!" tanya namja kecil itu saat melihat Ryeowook mengambil ancang-ancang untuk naik.

"Apa aku terlihat seperti yeoja kecil yang ingin berenang?!" sahut Ryeowook sedikit kesal.

HUP!

Yeoja mungil itu terus memanjat hingga dia mendapatkan anak kucing berbulu putih bersih itu. Lalu dengan hati-hati dia pun turun dari pohon.

Namja cilik yang sejak tadi hanya memperhatikannya menatapnya tak percaya.

"Igeu!" Ryeowook menyerahkan anak kucing itu pada namja yang masih menatapnya lekat.

"Bagaimana bisa?" ucap namja kecil tersebut seraya mengambil anak kucing itu.

"Jika kau ingin menolong, jangan dengan banyak perhitungan. Kalau terlalu banyak berpikir, bisa-bisa anak kucing itu akan mati lebih dulu di atas sana!" celoteh Ryeowook.

Namja kecil itu terlihat berpikir sambil mengelus anak kucing yang ada di tangannya.

"Aku pergi dulu!" kata Ryeowook saat merasa dirinya tak diperhatikan.

"Chamkan!" seru namja kecil itu.

Ryeowook yang baru maju 2 langkah menoleh. "Wae?"

"Um… Apa kau suka es krim?" tanya namja kecil itu membuat Ryeowook tersenyum lebar.

-ooo-

"Gomawoyo, oppa!" Ryeowook menjilat ice creamnya.

Namja kecil yang berjalan di sampingnya hanya membalasnya dengan senyuman manis.

"Ah, matta! Aku ada les piano!" Ryeowook menepuk dahinya.

"Piano?"

"Ne.. Setiap hari selasa dan jumat aku ada jadwal les piano. Kalau begitu, aku pergi dulu. Sekali lagi terima kasih untuk es krimnya…" kata Ryeowook sambil bersiap mengambil langkah.

"Kim Jongwoon imnida!" Ryeowook terdiam lalu menatap namja kecil itu bingung.

"Namaku.. Kim Jongwoon. Kau bisa memanggilku Yesung," ucap bocah itu lagi.

"Yesung oppa? Geureom.. Oppa bisa memanggilku Wookie," sahut Ryeowook ramah.

"Apa besok kita bisa bertemu lagi? Aku akan mengenalkanmu dengan adikku."

"Kau punya adik?" tanya Ryeowook.

"Ne.. Namdongsaeng."

"Geuraeyo? Kalau begitu kita bisa bertemu lagi besok di tempat tadi.."

"Jinjjayo?"

Ryeowook mengangguk. "Aku pergi dulu. Annyeong, Yesung oppa!"

Ryeowook berlari meninggalkan Yesung yang masih setia menatapnya sampai yeoja kecil itu betul-betul menghilang dari pandangannya.

-ooo-

Ryeowook terlihat sedang duduk di bawah pohon besar tempatnya bertemu dengan Yesung kemarin. Yeoja kecil itu memainkan rumput yang ada di sekelilingnya sambil bersenandung kecil.

"Wookie!" panggil seseorang.

Ryeowook mendongak. Tampak Yesung sedang menatapnya sambil tersenyum lebar.

"Oppa. Kau sudah datang?" sambut Ryeowook sambil berdiri.

Yesung mengangguk. "Ah! Ini adikku," Yesung sedikit bergeser. Dan sekarang tampak seorang namja imut yang sejak tadi tertutupi tubuh Yesung.

"Eoh?! Jongjin-ah!" seru Ryeowook sambil menghampiri namja imut itu.

"Noona?"

"Kalian.. Sudah saling kenal?" tanya Yesung bingung.

"Geureom~ Kami teman satu kelas," jawab Jongjin.

"Geurae! Jongjin juga sering main ke rumahku bersama ahjumma dan ahjussi!" kata Ryeowook dengan semangat.

Yesung semakin bingung.

"Eomma dan appa adalah teman orang tua Wookie," timpal Jongjin.

"Lalu kenapa kau tak pernah memberitahuku?" tanya Yesung pada Jongjin.

"Aku selalu menceritakannya!" tukas Jongjin.

-ooo-

Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa kini Ryeowook telah tumbuh menjadi seorang remaja yang manis. Dan perasaannya dengan Yesung pun berubah menjadi rasa cinta. Apalagi kedua keluarga itu memiliki hubungan yang baik satu sama lain.

Dan saat ini, mereka sedang piknik bersama.

"Noona! Kudengar kau baru saja mendapat pengakuan cinta dari ketua OSIS di sekolahmu?" tanya Jongjin penasaran.

"Nde? Dari mana kau tahu?" Ryeowook balik bertanya dengan bingung.

Jongjin tersenyum penuh arti. "Aku memiliki banyak mata-mata…"

"Ish!"

"Apa kau menerimanya? Kudengar dia sangat tampan dan pintar, kan?"

"Ya! Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Yesung sambil mengambil tempat di samping Ryeowook.

"Hyung! Kurasa sebentar lagi noona akan jarang bermain dengan kita," celetuk Jongjin.

"Wae?" tanya Yesung.

"Jongjin-ah!" protes Ryeowook.

"Dia baru saja mendapat pengakuan cinta dari ketua OSIS!"

Yesung terdiam tiba-tiba. "Apa kau menerimanya?" tanya Yesung. Terdengar nada aneh dari kalimatnya.

"A-ah… Itu… Aku-"

SRET!

Yesung berdiri tiba-tiba. Ryeowook menatapnya bingung.

"Selamat!" ucap Yesung agak ketus lalu pergi.

"Eh?" Ryeowook semakin bingung.

"Um? Ada apa dengannya?" gumam Jongjin bingung, sedetik kemudian namja itu kembali menatap Ryeowook. "Jadi apa kau menerimanya?"

"Aniyo!" jawab Ryeowook cepat.

"Jinjja?" selidik Jongjin.

"Geureom~"

-ooo-

"Wookie-ah.. Kami akan menjodohkanmu dengan putra dari keluarga Lee. Dia namja yang baik dan tampan," ucapan Tn. Kim barusan terdengar bagaikan petir di siang hari bagi Ryeowook.

Usia gadis itu menginjak 15 tahun sekarang.

"M-mwo?"

"Ne… Putranya sangat sopan dan pintar," timpal sang eomma.

"Geundae…"

"Wae? Apa kau tidak setuju?"

DEG!

Jantung gadis itu berdegup kencang saat mendengar pertanyaan sang appa.

"Aku…" Ryeowook berpikir keras. Dia tidak ingin mengecewakan orang tuanya, tapi sampai saat ini yang namja yang membuatnya jatuh cinta hanya Yesung.

"Gwaenchana… Aku terima," putus Ryeowook dengan nada lirih.

-ooo-

Jongjin menatap Ryeowook yang sedang duduk di sampingnya.

"Wae?" tanya Jongjin.

"Mwo?"

"Kenapa noona menerima perjodohan itu?"

"Geunyang… Aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku," jawab Ryeowook sambil menundukkan kepalanya.

"Tapi kau tidak mencintainya kan? Bahkan kau belum bertemu dengannya."

"Lalu aku harus bagaimana? Menolak dan membuat orang tuaku meminta maaf karena membatalkan perjodohan?"

Jongjin terdiam. "Tapi kau mencintai hyungku…"

Ryeowook terbelalak. Yeoja itu menatap Jongjin. "Neo eotteokhae?"

"Aku tahu…" lirih Jongjin.

Air mata Ryeowook menetes. Sedetik kemudian tangisan Ryeowook pun pecah.

-ooo-

"Aku tidak mau!" terdengar suara keras dari dalam ruangan pribadi itu.

"Yesung-ah! Kau harus mau! Kalau kau tidak mau, jangan lagi panggil aku eomma!" sergah Ny. Kim tegas.

Dan tanpa mereka sadari, seorang gadis kini terpaku di depan pintu ruangan mereka.

Kim Ryeowook. Gadis itu datang untuk membawakan makanan untuk keluarga Yesung atas permintaan calon ibu mertuanya.

Ibu mertua?

Ya.. Keluarga Lee telah memutuskan perjodohan secara tiba-tiba sebulan yang lalu sebelum mereka bertemu, dan baru seminggu yang lalu gadis itu mendapat kabar perjodohan lain yang datang dari keluarga Kim. Yeoja manis itu terlihat bahagia saat mendengarnya, namun setelah mendengar hal ini hatinya terasa sakit.

Yeoja itu melangkah menjauhi ruangan tempatnya berdiri.

Dia terus melangkah menuju ruang tengah dan duduk di sofa putih.

"Wookie-ah? Kau sudah datang?" sapa Ny. Kim yang baru saja turun.

Ryeowook berdiri dan membungkuk sedikit. Pandangannya beradu dengan Yesung yang berdiri di samping Ny. Kim.

Yeoja itu mencoba untuk tersenyum, namun Yesung membuang pandangannya dan pergi menjauh.

Flashback Off_

Yesung terduduk di bawah pohon besar nan rindang.

Pohon tempat dia dan istrinya pertama kali bertemu.

Namja itu memejamkan matanya sejenak. Mencoba untuk berpikir dengan jernih.

"Apa kabarmu, Wookie-ah?" gumamnya.

"Hyung!" Jongjin yang baru datang langsung menghampiri Yesung.

Yesung membuka matanya.

"Eomma meminta kita ke rumah hari ini," kata Jongjin.

Yesung berdiri. "Kajja!" ujarnya sambil melangkah.

Jongjin terdiam di tempatnya sambil memandangi punggung Yesung. "Bahkan punggungmu terlihat rapuh, hyung…" lirihnya.

Sedetik kemudian Jongjin menyusul langkah hyungnya yang kini sedang mengambil posisi di dalam mobilnya.

"Tersenyumlah sedikit, hyung…" kata Jongjin seraya menutup pintu mobil.

Tak ada tanggapan yang berarti dari Yesung. Namja itu menatap pemandangan yang ada di luar jendela mobil.

Jongjin hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu menyalakan mesin mobil dan mulai mengendarainya.

"Eomma menyuruh kita untuk menginap malam ini. Besok dia ingin ikut mencari noona ke kantor polisi," ujar Jongjin sambil terus fokus.

"Hum…" sahut Yesung pelan.

Jongjin memilih untuk tidak lagi berbicara. Namja itu memutuskan untuk diam sambil terus fokus pada jalanan di hadapannya.

"JONGJIN, STOP!" pekik Yesung tiba-tiba.

Terdengar suara decitan karena mobil yang direm dengan mendadak.

"Ya, hyung! Jangan mengejutkanku saat aku sedang mengendarai! Itu berbahaya sekali!" cerocos Jongjin sambil menetralkan degup jantungnya. "Ya! Kau mau ke mana?" tanya Jongjin saat melihat Yesung melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.

Tanpa memperdulikan pertanyaan Jongjin Yesung bergegas keluar dan berlari dan menyeberang.

Jongjin pun ikut keluar dari mobilnya. "Hyung!" panggilnya.

Yesung terus melangkah cepat dan…

GREP!

Yesung memeluk seseorang. "Chajatta!" ucap Yesung.

to be continue..

Annyeong.. hoho..

Terima kasih untuk yg sudah review di chapter awal, sushimakipark (readers dari account Rena yg lama, terima kalih sudah bertahan) dan juga aleina8, selamat datang.. Kalian warbiasa.. hehe..

Meskipun tidak ad yg review di chapter sebelumnya Rena tetap melanjutkan repostnya.. Tak apaa.. karena Rena merasa ini wadah untuk rena membagikan karya Rena.

Punya readers aja Rena udah seneng ko.. tapi pasti Rena lebih seneng lagi kalo readers bersedia buat menulis juga tentang karya Rena di kolom review.. hehe..

Terima kasih untuk yg sudah mampir.. Rena tetap menunggu review tanpa bash dari kalian..

#bow