Author's note: Fast update lagi, jangan langsung baca chapter 10 ya... Sebelumnya, saya minta maaf juga karena nggak pernah balas review lagi, langsung saya balas dengan chapter baru ini ya...Terima kasih banyak untuk yang sudah mau membaca sampai sejauh ini...


Episode 10

Pagi ini, Henry bangun kesiangan. Dia tanpa sadar mematikan wekernya dan tertidur lagi. Ketika bangun, Henry langsung kalut karena setengah jam lagi, kelas akan dimulai. Setelah persiapan sekedarnya, dia segera berlari ke sekolah. Perutnya berbunyi karena lapar, tetapi ia tak peduli. Orang tua Henry menyewakan apartemen yang dekat dengan sekolah dan, atas permintaan (atau paksaan?) Henry, 'meninggalkan' Henry sendirian di sana, jadi sekarang, Henry sepenuhnya berdiri di atas kaki sendiri. Tidak ada Zhoumi yang mengurusinya seperti dulu.

"Aaah, sial! Kenapa aku teringat Zhoumi-hyung lagi di saat begini?" Henry menggeleng cepat, menghilangkan Zhoumi dari benaknya. Ia berlari sekencang yang ia bisa menuju sekolah.

Tap. Henry terengah-engah di depan pintu gerbang sekolah... yang sudah tertutup. "Argh!" Henry mengerang kesal, "Sudah capek-capek aku ke sini sambil berlari! Memangnya sekarang jam bera..."

Jam besar di halaman sekolah berhasil membungkam Henry. Sudah pukul setengah sembilan, jadi dia terlambat setengah jam. Itu bukan waktu yang singkat. Henry menyandarkan punggungnya di pintu gerbang sekolah dan mengusap keringatnya. "Apa aku harus pulang? Sia-sia sekali usahaku ke sini..." pikirnya. Ini pertama kalinya Henry mengukir kata terlambat dalam sejarah hidupnya.

Dulu, Henry tak pernah terlambat. Henry selalu rajin bangun pagi. Kenapa? Karena ia tak pernah kelelahan. Segala yang dia butuhkan selalu disediakan oleh orang lain. Sebelum dia masuk SMA, para pelayan yang menyiapkan semua untuknya. Setelah masuk SMA, Zhoumi yang...

"Tidak. Hanya karena aku terlambat sekarang, bukan berarti aku tidak bisa mengurus diriku sendiri." Henry menyangkal pikiran yang tiba-tiba muncul itu. Memang hari-hari awalnya hidup sendiri agak kacau, tetapi Henry yakin dia bisa mengatasinya kelak. Dia menengadah, menentang pintu gerbang yang berdiri angkuh di depannya. "Aku tidak mau usahaku sia-sia. Apapun yang terjadi, aku harus masuk kelas!"

Tanpa pikir panjang, Henry memanjat gerbang sekolah. Hal itu tentu saja menarik perhatian penjaga sekolah. "Hei, dilarang memanjat gerbang!" teriak pria tua itu. Henry yang dulu pastilah sudah turun dari gerbang dan meminta maaf hanya dengan bentakan seperti itu, tetapi untuk menghentikan Henry yang sekarang, butuh lebih dari itu. Pemuda itu terus memanjat. Begitu Henry sampai puncak, penjaga tua sudah mengacung-ngacungkan kepalan tangannya marah. "Aissh, kalau orang itu ada di bawah, bagaimana turunnya?" gumam Henry. Ia sudah setengah jalan menuju kelasnya, jadi dia tak boleh menyerah di sini.

Akhirnya, otak Henry menyerah. Ia melepaskan genggaman tangannya dan melompat turun dari gerbang. Penjaga tua terbelalak. Bruak! Sebelum sempat menghindar, penjaga tua itu sudah tertimpa tubuh Henry! "Maaf!" kata Henry, lalu berlari meninggalkan pria tua malang itu begitu saja. Pria tua itu mengumpat-ngumpat dan berlari mengejar Henry.

"A-apa? Dia masih bisa berdiri! Aduh, gawat!" Henry mempercepat larinya. Akhirnya, pria itu menyerah setelah Henry meninggalkannya jauh di tikungan menuju kelas. Henry lega kejar-kejarannya dengan penjaga tua itu telah berakhir, tetapi masih ada satu tantangan yang menunggunya.

"Bagaimana...aku masuk ke kelas?"

Henry kembali berpikir. Ia sungguh tak pernah menyelinap seperti ini. Kecemasan menyerbunya. Bagaimana kalau nanti dia ketahuan songsaengnim? Bagaimana kalau dia dihukum? Akan tetapi, sekali lagi, pikiran aku-sudah-sejauh-ini mengganggu Henry. "Akan kucoba masuk, apapun resikonya!"

Pelan sekali, Henry menggeser pintu kelasnya. Untunglah, songsaengnim sedang menghadap ke papan tulis dan tak mendengar bunyi pintu terbuka. Beberapa orang di kelas menoleh padanya. Henry menggeleng-geleng cepat sebagai isyarat pada anak-anak itu untuk tidak berisik. Dengan solidaritas sebagai sesama siswa (ini solidaritas yang baik?), mereka mengabaikan Henry. Secara perlahan, Henry menutup kembali pintu kelas, tetapi sial, pintu tertutup menimbulkan bunyi 'duk' yang lumayan kentara. Terkesiap, Henry cepat menyembunyikan dirinya di balik bangku seorang anak. Tepat waktu. Songsaengnim menoleh ke belakang, tetapi kemudian kembali menulis di papan tulis. Ia tak melihat sesuatu yang aneh yang mungkin menimbulkan bunyi 'duk' itu. Henry mendesah lega. "Hei, terima kasih." bisik Henry pada anak perempuan yang duduk di bangku tempatnya bersembunyi. Anak perempuan itu tampak tak acuh. Dilambai-lambaikannya tangannya, menyuruh Henry cepat pergi. Henry merangkak menuju bangkunya sendiri yang juga berada di belakang.

"Fiuh. Akhirnya, aku bisa duduk juga..." batin Henry setelah ia duduk di kursinya. Keringat yang ia cucurkan tak sia-sia jadinya.


Jam istirahat. Karena kelaparan hebat, Henry berlari (lagi!) menuju kantin. Perutnya sudah bergemuruh minta diisi sejak jam pelajaran pertama dan itu sangat mengganggu. Henry hanya bisa bersyukur perutnya tak berbunyi pada jam pelajaran sehingga perhatian songsaengnim teralih padanya. Keadaan Henry yang seperti itu membuat Henry tidak awas. Saat berlari, ia menyenggol bahu seorang senior yang berjalan dari arah berlawanan. "Ah, maafkan saya, Hyung!" Henry cepat membungkuk pada senior yang ditabraknya, lalu melanjutkan kembali perjalanannya ke kantin.

Grep!

"Kau pikir kau sudah membungkuk cukup dalam, anak kelas 1?"

Deg! Henry tidak bisa melangkah maju karena ada orang yang menahan tangannya. Bocah mochi itu menoleh ke belakang. Orang yang menahan tangannya itu memakai name tag bertuliskan Kim Joonmyun. Aduh, ini bukan saatnya untuk mencari masalah dengan orang ini! Henry sudah gila karena kelaparan dari tadi. Sekarang, ini lagi! Henry membungkuk lebih dalam. "Maafkan saya, Joonmyun-hyung, saya tak sengaja..." katanya, berusaha lebih sopan lagi.

"Hanya dengan meminta maaf, urusan tidak akan selesai!"

Ck, kalau ini namanya senioritas yang berlebihan. Kalau Henry terus meladeni senior ini, dia tidak akan mendapatkan makan siangnya dengan cepat. Dengan kasar, Henry menepis tangan Joonmyun. "Maafkan saya, Hyung. Ada hal yang lebih penting yang harus saya kerjakan. Permisi." Henry membalikkan badannya. Joonmyun naik pitam. Ia menarik dan menghimpitkan Henry ke dinding. "Kau benar-benar harus belajar sopan-santun!" katanya, lalu memukul orang yang dihimpitnya.

Dulu, Henry pasti tak akan memberikan perlawanan pada seseorang yang lebih senior darinya, tetapi saat ini berbeda. Makan siang sudah memanggil-manggilnya di kantin. Ia benar-benar tak ada waktu untuk perkelahian bodoh. Ditendangnya Joonmyun hingga si senior terjengkang ke belakang, lalu berlari secepat kilat menuju kantin.

"Hyung!" Dari kejauhan, seorang pemuda menghampiri Joonmyun. Ia membantu Joonmyun berdiri. "Maaf tak bisa membantumu tadi. Siapa anak sombong yang barusan menendangmu? Akan kuberi tahu yang lain nanti!"

Joonmyun terbatuk. "Entahlah. Aku tak sempat melihat name tag-nya. Yang jelas dia anak kelas 1."

"Kelas 1? Mungkin ia sekelas denganku. Hyung ingat wajahnya?"

"Tidak terlalu. Bocah itu selamat kali ini. Jangan harap dia akan lolos kalau dia melakukan hal itu lagi padaku," Joonmyun memandang lurus ke arah Henry berlari tadi, lalu berbalik, "Ayo, Sehun. Semua sudah menunggu kita."


Beberapa hari berlalu.

Zhoumi melangkah gontai dari sekolah. Berbeda dari biasanya, pemuda jangkung itu berniat untuk langsung pulang ke apartemennya. Beruntung, Jungsoo dan kawan-kawannya tak keberatan dengan hal itu, walaupun sebenarnya, mereka tidak ingin Zhoumi keluar dari lingkaran mereka. Diam-diam, enam orang itu sudah berjanji untuk memperbaiki diri supaya Zhoumi mau kembali pada mereka. Memang Zhoumi tidak menyatakan bahwa dia keluar dari geng, tetapi sikap Zhoumi yang mulai menghindari mereka itu sudah membuat mereka paham apa yang Zhoumi inginkan.

Jalan pulang terasa lebih sepi tanpa Henry. Anak itu telah menghilang dari kehidupan Zhoumi, tetapi Zhoumi tidak pernah ingin melupakannya. Padahal baru sebentar mereka menikmati momen kebersamaan kakak-adik yang hangat setelah bertahun-tahun 'dipisahkan' oleh orang tua mereka. Padahal baru saja Zhoumi bisa merasakan menjadi kakak yang sesungguhnya bagi Henry karena bisa mengurusi Henry dari bangun tidur hingga tidur lagi, tetapi mereka sudah harus berpisah lagi. Zhoumi rindu saat-saat ia bersusah-payah membangunkan Henry, memasak untuk Henry, mendengarkan cerita Henry... apa saja bersama Henry.

Pukul 06.45 petang. Zhoumi memandang langit gelap yang menggantung kosong di atas kepala. "Henry, apa kau sudah pulang sekarang? Kau sudah makan?" Pertanyaan-pertanyaan tak berjawab di benak Zhoumi itu menyunggingkan senyum tipis Zhoumi. "Kenapa aku jadi seperti Eomma? Tapi tak salah 'kan jika aku memikirkan adikku satu-satunya?"

Sesuatu mendorong kaki Zhoumi begitu kuat untuk mengambil jalan lain. Pemuda jangkung itu masih belum mau pulang. Ia ingin pergi ke apartemen Henry lebih dulu, memastikan adiknya itu baik-baik saja. Yah, meski ia tak yakin Henry akan mau membukakan pintu untuknya, ia tetap melangkah mantap menuju tempat itu.

Sesampainya di depan apartemen Henry, Zhoumi memencet bel. "Siapa?" Terdengar sebuah suara dari balik pintu. Henry sedang berdiri beberapa meter dari pintu.

"Aku." Zhoumi tahu ia tak perlu memperkenalkan diri pada adiknya sendiri. Henry mengenali suara itu. Ia mengurungkan niat awalnya untuk mendekati pintu. "Pergilah."

Tanggapan dingin Henry menusuk Zhoumi sedikit. Pemuda itu tak beranjak. Henry tahu bahwa kakaknya masih belum pergi, jadi dia berkata dengan sedikit lebih keras, "Pergi, kubilang, dan tak usah kembali lagi ke sini."

Zhoumi tetap belum pergi. Ia ingin melihat Henry sekali lagi dan masih memikirkan caranya ketika seorang gadis mendekati pintu apartemen itu. Gadis itu mengangguk sopan pada Zhoumi, yang dibalas Zhoumi dengan senyum tipis. "Anda mau bertemu Henry?"

"Ya. Kau juga?"

Gadis itu menjawab pertanyaan Zhoumi dengan anggukan. Zhoumi merasa ini kesempatan bagus. Kalau pada gadis ini, Henry pasti mau membukakan pintu.

Si gadis memencet bel. Henry hampir membentak tamunya ketika terdengar suara seseorang yang sangat berbeda. "Henry, ini Seohyun. Aku mengantarkan buku PR fisikamu yang ketinggalan saat piket tadi."

Henry bingung. Buku PR yang sejak tadi dicarinya dengan kalut pasti ada di tangan teman sekelasnya itu saat ini, tetapi kalau ia melangkah keluar, ia pasti akan melihat Zhoumi. Beruntung, sebuah ide tercetus di kepalanya. "Tinggalkan saja di depan pintu. Aku akan ambil nanti."

"Tidak mau. Aku harus pastikan kau langsung menerimanya. Kalau tidak, bisa saja bukumu menghilang nanti dan kau pasti akan menyalahkanku. Lagipula, di sini ada orang lain yang ingin bertemu denganmu."

"Anak perempuan memang cerewet!" umpat Henry dalam hati. Kalau sudah begini dan Henry masih menolak bertemu Seohyun, maka Seohyun akan tahu masalahnya dengan Zhoumi. Dia melangkah kesal menuju pintu. Dengan kasar, Henry membuka pintu dan merebut buku di tangan Seohyun. "Terima kasih!"

Brak! Henry masuk lagi dan membanting pintu. Seohyun terbelalak kaget. "Hei, Henry, ada orang yang mau menemuimu lagi nih!" Gadis itu berkata polos sambil terus mengetuk pintu apartemen Henry. Tak ada jawaban. "Aduh, dia ke mana sih?"

"Tak apa. Aku akan menemuinya kembali besok. Terima kasih sudah membantuku." kata Zhoumi pada Seohyun. Gadis itu sempat menduga Zhoumi ingin bertemu Henry untuk suatu alasan yang mendesak, tetapi setelah Zhoumi meyakinkannya, gadis itu akhirnya mengerti. Keduanya berjalan pulang ke arah berbeda. Bagi Seohyun, urusannya di apartemen Henry sudah selesai. Bagi Zhoumi, kedatangannya ke tempat Henry membawa satu urusan baru. Henry terlihat kacau dan sedikit lebih kurus—singkatnya, tak terurus. Terlebih, Zhoumi melihat lebam di pipi Henry.

"Apa yang terjadi pada Henry di sekolah barunya?"


Hari berikutnya, saat jam makan siang, Henry sedang makan di kantin...sendirian. Dia merasa enggan untuk berteman dengan siapapun juga di sekolah baru ini. Bukan berarti hal itu membuatnya kasar pada semua orang. Ia hanya menjauhkan diri dari kehidupan sosial di sekolah.

Makan sendirian sambil mendengarkan musik seperti ini membawa kenangan lama. Kenangan saat Henry masih kecil. Saat ia makan siang sendirian di rumah. Setelah itu les piano dan biola, juga sendirian. Henry jadi ingin memainkan biola lagi, tetapi dihapusnya pikiran itu secepatnya. Kalau dia main musik klasik lagi, ia bisa kembali melankolis dan ini bukan saat yang tepat baginya untuk jadi melankolis.

"Hei, minggir! Ini tempat kami!"

Telinga Henry memang dipasangi earphone, pun pandangannya tidak sedang mengarah ke dalam kantin, tetapi musik klasik yang tidak berisik membuatnya tahu ada yang datang dan membentaknya. Henry melepas earphonenya dan menoleh. "Ah, orang ini lagi." keluhnya dalam hati begitu melihat siapa yang datang: Joonmyun, senior yang kemarin berurusan dengannya. Kali ini, Joonmyun tidak datang sendirian.

"Kau lagi! Heh, takdir apa yang membuatmu selalu bertemu denganku?"

Henry tidak menjawab. Matanya menatap kosong Joonmyun. "Apa kau tuli?" Joonmyun menggebrak meja, "Minggir!"

"Aku tidak keberatan berbagi tempat duduk dengan kalian, tetapi aku tak mau minggir."

"Apa?!"

"Tak ada tempat duduk lain. Aku tidak bisa pindah."

"Memangnya kami peduli?" seorang anak lain maju dengan tangan mengepal, "Bukan urusan kami kalau kau tak bisa duduk!"

Henry kesal sekali pada lima orang yang mengganggu kesenangannya ini. Ia berdiri, meraih gelasnya yang masih terisi penuh, dan menyiramkan isinya pada Joonmyun. "Kau memang senior, tapi bukan berarti kau bisa menyuruhku pergi dengan seenaknya." katanya dingin.

Semua orang yang melihat kejadian itu sangat terkejut, tak terkecuali anak buah Joonmyun. "Dasar sombong! Beraninya kau memperlakukan Suho-hyung seperti ini!" Anak yang tadi maju dengan mengepalkan tangannya itu merenggut kerah baju Henry. Joonmyun, atau Suho, mundur, memberi kesempatan pada dua anak buahnya yang lain untuk maju dan menghabisi Henry. Pecahlah perkelahian yang sangat timpang di kantin. Beberapa berkumpul untuk menonton. Beberapa lainnya yang lebih waras mencari guru untuk menertibkan kekacauan ini.

Henry tidak mau berhenti hingga ia berhasil menjatuhkan setidaknya satu dari lima orang itu. Akan tetapi, setiap ia berhasil mendaratkan serangannya pada salah satu lawan, ia sudah diserang balik dua kali lipat oleh orang-orang yang lainnya. Tentu saja dia kalah. Henry tersungkur dan terbatuk. Ia menggunakan satu tangan untuk menyangga tubuhnya. Suho, yang tidak melibatkan diri sejak tadi, akhirnya maju dan menjambak rambut Henry hingga wajah Henry berhadapan dengannya. "Kurasa kau sudah paham kesalahanmu sekarang. Siap untuk minta maaf?"

"Untuk apa aku minta maaf?"

Buak! "Kau masih belum belajar juga? Dengar ya, aku akan menghajarmu lagi kalau kau menghina pemimpin kami!" Salah satu anak buah Suho memperingatkan Henry.

Henry tersenyum sinis. "Memangnya kalian siapa? Penguasa kantin? Aku harus menyembah orang-orang seperti kalian untuk makan di sini, begitu?"

Kali ini, Suho sudah benar-benar tidak bisa menahan marah. "Aku tak pernah bertemu junior kurang ajar seperti kau. Aku harus memberimu penghargaan!" Tangan Suho sudah mengepal. Henry siap menerima pukulan berikutnya, tetapi...

"Hei, ada apa ini?"

Sekelompok guru datang untuk menghentikan Suho dan kelompoknya. Suho berdecak kesal. Ia dan kelompoknya tak sempat melarikan diri. Mereka berlima digiring ke kantor guru. Kemudian, seorang guru memapah Henry menuju ruang kesehatan.

"Ke mana pun aku pergi," pikir Henry, "aku harus menghadapi orang-orang seperti mereka. Beruntung aku sudah pernah mendapat pelajaran tentang mereka di sekolah lamaku."


"Kau sudah mau pulang?"

Ryeowook menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Heechul telah berdiri tak seberapa jauh darinya. Kini, pemuda cantik itu berjalan mendekati Ryeowook. "Bukankah ini masih terlalu sore? Kita bisa bersenang-senang sampai malam bersama Leader."

"Benarkah? Kelihatannya, Leader tak punya rencana apapun untuk bersenang-senang malam ini." Ryeowook tersenyum lemah.

"Ah, memang sih, hari ini Leader tidak mengatakan apa-apa soal rencana bersenang-senang, jadi kupikir kita hanya akan berkumpul saja di markas," Heechul menyampirkan lengannya di bahu Ryeowook, "Kau tidak mau ikut?"

Pertanyaan Heechul tidak langsung berjawab. Ryeowook tahu dia harusnya ikut dalam semua kegiatan gengnya, walaupun itu hanya sekedar berkumpul, tetapi hari ini, ia sedang tidak ingin ikut. Heechul menangkap ekspresi Ryeowook yang kaku itu dan mencoba menduga apa alasan Ryeowook murung seperti itu dari tadi pagi. "Ini tentang Henry, 'kan?"

"Tidak. Sama sekali tidak." sahut Ryeowook cepat. Cara Ryeowook menyanggah itu malah semakin menguatkan dugaan Heechul. "Kau tak usah bohong padaku. Kau mulai menganggapnya sebagai sahabat dan merasa telah mengkhianatinya, begitu 'kan?"

Ryeowook tertunduk. Dia tidak bisa menyanggah lagi. Heechul mengacak-acak rambut Ryeowook. "Tak usah malu. Aku juga merasakan hal yang sama."

Kaget mendengar pernyataan Heechul yang tak biasa itu, Ryeowook menoleh. "Benarkah, Hyung?"

Heechul mengangkat bahu. "Kurasa. Sedikit. Maksudku, Henry tak pernah melakukan apa-apa pada kita, tetapi tiba-tiba saja, kita semua menyeretnya dalam masalah kita hanya karena dia adik Zhoumi. Itu...sedikit berlebihan, 'kan?"

Hening beberapa saat. "Ralatlah kata-katamu, Hyung. Hal seperti itu jelas sangat berlebihan. Ah, apa boleh buat," Ryeowook menunduk makin dalam, "Perintah Leader tak bisa kita hindari. Lagipula, Leader sahabatku dan aku berhutang banyak padanya. Aku ingin membantunya, tetapi..."

"Ya, ya. Kalau kau teruskan, kau akan semakin sakit nanti," potong Heechul, "Perasaan kita semua sama pada Leader. Aku pun ingin sekali memperingatkan Leader atas perbuatannya itu, tetapi gengsi Leader yang tinggi pasti akan membuat usahaku sia-sia. Lagipula, heh, siapa aku? Walaupun aku paling tua dalam kelompok, kurasa aku termasuk yang paling rusak di antara kita."

"Benar," Ryeowook tertawa getir, "Siwon-hyung pernah memperingatkannya pada suatu hari, tetapi Leader mengacuhkannya."

Heechul ikut tertawa, bukan tertawa getir, melainkan tawa geli. "Siwon si playboy itu menasihati Leader? Bodoh sekali dia. Yah, tetapi karena Leader sudah berhasil mempermalukan Jungsoo dalam perkelahian kemarin, kurasa juga sudah saatnya kita berhenti dan mengikuti Siwon."

"Hyung, apa yang membuat Leader puas bukan hanya kekalahannya melawan Jungsoo, tetapi jika ia sudah berhasil mengobrak-abrik sistem yang dibuat orang-orang tua. Misi kita belum selesai hingga itu tercapai."

Heechul tampak berpikir. "Ah... iya. Kau benar. Orang-orang tua itu belum belajar sesuatu dari kita karena kita tak pernah beraksi secara terbuka."

Ryeowook hendak menanggapi Heechul saat melihat seseorang yang tak asing beberapa meter di depannya. Dia memicingkan mata untuk memastikan bahwa itu benar-benar... "Henry?"

"Apa?" Heechul bingung dengan Ryeowook yang tiba-tiba berkata begitu. Ryeowook menunjuk ke depan. "Itu Henry, Hyung!"

Karena volume suara Ryeowook meningkat, Henry jadi sadar bahwa ada seseorang... ehm, dua orang yang mengenalinya di kejauhan. Henry tahu siapa pemilik suara itu tanpa perlu menoleh untuk melihat wajah orang yang memanggilnya. Tanpa buang tempo, ia segera berlari menjauhi tempat itu. "Ryeowook, kau bodoh! Jangan berteriak memanggil—"

"Henry!"

Heechul mendesah keras. Ryeowook benar-benar mengabaikan kata-kata Heechul untuk tidak berteriak. Pemuda mungil itu berlari mengejar Henry. Mau tak mau, Heechul mengikuti. "Ryeowook, hentikan!" teriak pemuda cantik itu, berusaha menghentikan dongsaengnya dari bersikap frontal, tetapi gagal. Ryeowook hanya fokus pada Henry—yang sudah babak-belur entah oleh siapa. Ryeowook ingin tahu siapa yang sudah melukai Henry dengan kejam begitu; siapa tahu Ryeowook dan kelompoknya bisa membalaskan apa yang telah orang itu lakukan pada Henry? Akan tetapi, tentu saja sulit bagi Ryeowook dan Heechul untuk mendekati Henry saat ini.

Tiba-tiba, Henry berbelok. Manuver menghindar itu cukup bagus hingga menyebabkan Ryeowook kehilangan kendali dan terjatuh. Heechul segera menolongnya. Dua orang itu terengah-engah. "Dia... hosh... Dia ke mana?" Ryeowook bangkit, memasuki tikungan ke mana Henry berlari. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, tetapi Henry sudah tidak di sana. "Sial. Dia pasti sengaja melakukan itu untuk menghindar dari kita," Heechul berdecak, "Kita tak bisa mengejarnya lagi."

Sesal menggantung di wajah Ryeowook. Seandainya tadi ia mampu lebih menguasai diri, dia pasti akan bisa menyusul Henry. Heechul menepuk bahu Ryeowook. "Tak apa-apa. Ini bukan hari keberuntungan kita, Ryeowook."

"Dan kelihatannya, ini juga bukan hari keberuntungan Henry, Hyung. Kau lihat wajahnya tadi, 'kan?"

Heechul mengangguk. "Jelas terjadi sesuatu, tetapi untuk sekarang, kita tak bisa mencari tahu lebih lanjut."

Ryeowook mendesah. "Henry... Apa yang terjadi padamu?"


Keesokan harinya, Henry bolos sekolah—untuk pertama kalinya. Dia terkapar kesakitan di atas ranjang. Seluruh tubuhnya terasa remuk. "Harusnya, aku paham batas kekuatanku," gumamnya di tengah desisan kesakitan, "Aku tak mungkin menang melawan lima orang, tetapi... kalau kubiarkan saja, mereka akan terus menggunakanku sebagai bahan lelucon. Huh, mereka pikir aku ini orang seperti apa? Orang yang dengan mudah dipermainkan? Mungkin dulu iya, tetapi sekarang, aku sudah menjadi seseorang yang lain!"

Denyut yang menyakitkan di tengkuk sukses membuat Henry memekik. Diremasnya selimut kusut yang menutup separuh tubuhnya. Henry tak pernah dihajar sehebat kemarin dan parahnya, sekarang dia benar-benar tinggal sendirian. Dia tak bisa minta tolong siapapun dalam keadaan seperti ini, pun dia tak bisa menolong dirinya sendiri. Padahal kemarin, ia sudah dirawat oleh petugas kesehatan, tetapi rasa sakit tak bisa semudah itu dihilangkan dari luka yang sudah tertutup sekalipun.

Henry menatap langit-langit kamarnya, melawan sakit. Deja vu melandanya. Terakhir dia melihat langit-langit dalam keadaan mirip seperti sekarang...adalah saat ia pertama kali dihajar. Ia ingat Kibum memukulinya karena ia tak menghargai Zhoumi. "Apa kabar berandal rapi itu? Apakah dia masih bersama Zhoumi-hyung?"

Entah dari mana, perasaan iri mendesak masuk ke hati Henry. Seberapapun seringnya Henry menipu diri sendiri, ada satu bagian dari dirinya yang masih mengakui Zhoumi sebagai orang yang berarti. Memikirkan Kibum yang begitu menyayangi Zhoumi, Henry jadi merasa tersingkir. Sekali lagi, Henry berusaha untuk mengenyahkan pikiran melankolisnya dan kembali mengingat apa yang terjadi setelah Kibum memukulinya.

Kibum memukuli Henry tanpa ampun saat itu, tetapi Ryeowook menolong Henry dan membawanya ke ruang kesehatan.

Hah? Menolong?

Henry bergidik sendiri, tak menyangka bahwa penipu itu pernah menolongnya dari Kibum. Salah satu alasan kenapa Henry sampai mempercayai Ryeowook adalah kejadian itu; karena Ryeowook menolongnya. Henry menertawakan kebodohannya sendiri. "Bagaimana aku bisa percaya pada tipuannya? Hah, Ryeowook memang aktor yang sangat baik!"

Henry tak tahu bahwa Ryeowook tidak sepenuhnya menipunya saat itu. Ada niat tulus yang terselip dalam akting Ryeowook, tetapi Henry tidak menganggap itu ada.

Setelah Ryeowook pergi, Henry berbaring di ruang kesehatan. Pandangannya terus tertuju ke langit-langit ruang kesehatan yang kosong seperti langit-langit kamarnya. Dia terus seperti itu hingga Jungsoo dan Jongwoon masuk.

"Kami bisa saja menyampaikan hal itu pada kakakmu, tetapi apakah menurutmu seorang kakak bisa berhenti memperhatikan adiknya sendiri?"

Kalimat Jungsoo saat itu terlintas kembali. Henry tak tahu apakah Jungsoo mengatakan itu untuk membangun kesan yang akan menipu Henry atau semata-mata karena itu kebenaran. Yang jelas, kalimat itu meninggalkan jejak di hati Henry. Jejak yang menyakitkan. Seorang kakak tak akan pernah berhenti memperhatikan adiknya jika ia seorang kakak yang bertanggung jawab.

Deg!

"Ukh!" Henry cepat mencengkeram bagian baju yang menutupi dadanya. Padahal kata-kata Jungsoo tadi tidak ada hubungannya dengan perkelahian itu...ya, mungkin tidak secara langsung, tetapi tiba-tiba saja, Henry kembali teringat luka melintang di dada Zhoumi. Luka yang ia timbulkan pada tubuh sang kakak yang tak pernah menyakitinya secara fisik.

Henry tak percaya bahwa ikatan yang kuat dengan orang lain bisa membuat dirinya merasakan apa yang dirasakan orang itu, tetapi kini ia harus percaya. Kalimat itu terbukti padanya. Tanpa ia sadari, air matanya mengalir.

Trrt, trrt!

Tangan Henry terulur meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. Di layar monitor, tertera nomor Zhoumi. Zhoumi meneleponnya. Henry gemetar. Ia ingin menerima telepon itu dan meminta tolong selagi ia bisa, tetapi tangannya bergerak di luar kemauannya. Tak tanggung-tanggung, Henry mencabut baterai ponselnya, lalu kembali berbaring melingkar di atas tempat tidur dalam deraan sakit yang makin bertambah.