Hitam putih kini mulai sedikit berwarna.


Disclaimer : Echiiro Oda

Warning : AU, OOC, Typo, dll.

Complicate!


"Apakah kau sudah memberitahu dia yang sebenarnya?" Tanya Vivi yang terlihat begitu antusias.

"Belum." Jawab Luffy datar.

"Mengapa belum? Kau ini bodoh sekali."

"Aku tadi sudah mengejarnya. Kulihat dia sepertinya sedang terburu-buru, jadi ku urungkan saja niatku." Jelas Luffy. "Lagipula kan bisa lain waktu."

"Terserah. Tapi jangan menyesal bila keduluan orang lain."


Nami's PoV

Kami bertiga berbincang bersama sampai jam makan malam. Ibunya Sanji menawariku untuk makan malam bersama. Kuputuskan untuk makan malam bersama Sanji dan ibunya. Mungkin ini kesempatanku untuk semakin dekat dengan Sanji dan untuk melupakan masalahku, pikirku begitu.

Sanji memintaku untuk membantunya menyiapkan makanan. Aku yang sama sekali tak mengerti tentang hal 'masak-memasak' hanya diam mematung melihat Sanji yang dengan tangkasnya memasak layaknya profesional. Dia makin membuatku kagum.

Sanji berterimakasih kepadaku karena telah membantunnya memasak. Apa dia bermaksud meledekku? Aku sama sekali tidak membantu, aku hanya diam.

Kami bertiga pun menikmati hidangan yang telah dimasak oleh Sanji. Masakan Sanji rasanya seperti masakan restoran Berbintang 5. Enak sekali. Sangat disayangkan aku sedang makan dirumah orang, andai saja dirumahku sendiri, pasti porsiku jauh lebih banyak.

Saat sedang makan aku menanyakan dimana ayah Sanji. Ibunya Sanji menjawab bahwa ayah Sanji adalah seorang pengusaha, beliau banyak urusan, jadi jarang ada dirumah.

Setelah selesai makan Sanji mengantarku pulang. Ibunya Sanji berpesan agar aku sering-sering mampir kerumahnya. Ibunya Sanji memperlakukanku sangat baik. Mengingat bahwa aku telah kehilangan sosok ibu sejak usiaku 5 tahun, aku jadi berpikir 'Andai saja kalau ibu Sanji adalah ibuku.' Eh? Apa yang kupikirkan? Hm…

Sanji mengantarku sampai rumah. Aku kira dirumahku akan ada banyak orang seperti biasanya, nyatanya tidak. Niatku gagal.

Sudahlah. Aku menawari Sanji untuk mampir sebentar. Dia menolak dengan lembut. Dia beralasan harus cepat pulang karena tak tega membiarkan ibunya lama-lama sendirian. Betapa manis sikapnya… Akhirnya Sanji pun pulang

Rumahku tampak sepi. Pintu rumah dikunci, dan sialnya aku tak membawa kunci cadangan. Bagaimana aku bisa masuk kalau seperti ini?

Aku duduk bersandar pada pintu, aku lelah, tanpa kusadari aku terlelap begitu saja.

End Nami's PoV


To Be Continued