Saigomade (Until The End)

Author : Vanilla Sky

Main cast :

Jeon Jung Kook (Kim Jung Kook)

Kim Tae Hyung (Jeon Tae Hyung)

BTS members

Hurt/comfort; shou-ai; romance

VKOOK punya aku! Cerita punya aku! Jika terdapat kesamaan judul, plot dan sebagainya itu tidak disengaja. Mohon maaf untuk typo yang mengganggu, aku manusia biasa, wajar jika sudah di edit berulang kali pun typonya masih gak mau pergi :D

Warning : yang bergaris miring berarti flashback ya ^^

A/N : Terima kasih buat review kemarin ya, dan sudah aku balas satu persatu review kalian lewat PM seperti biasa ^^ beneran terharu dan gak nyangka masih ada yang mau nunggu lanjutan FF-nya #peluksatusatu. Dan terima kasih juga buat yang sudah memfollow dan memfavoritkan FF ini, juga buat yang masih seneng diem-diem baca (silent reader) terima kasih ya ^^

Saigomade (Until The End) © 2015

Vanilla Sky present

Chapter 10


-preview-

Mereka pun pergi satu persatu dari kamar Tae Hyung. Membiarkan si tampan kembali berdua dengan kelinci manis yang tengah terlelap.

'Jaga dia untukku, Hyung.'

Tae Hyung ingat ucapan Jung Kook tempo lalu dalam mimpinya, tentang permintaan adiknya untuk menjaga seseorang. Apakah yang dimaksud Jeon Jung Kook adalah meminta Tae Hyung untuk menjaga... Kim Jung Kook?

...

Jung Kook membuka mata, udara dingin yang masuk melalui celah ventilasi membuatnya bergidik. Ia kembali merapatkan selimut, menutup seluruh tubuh hingga wajahnya. Beberapa menit kemudian, Jung Kook menurunkan selimut yang menutupi wajah ketika dirasa ada pergerakan lain dari sisi tempat tidurnya.

Terbelalak, kelopak matanya membola seraya napas hangat Tae Hyung menerpa permukaan wajahnya. Jung Kook merutuki tindakannya ketika ia bahkan tak bisa mengalihkan sedetik pun perhatian dari Tae Hyung yang masih terlelap.

Gelenyar hangat kembali memenuhi perasaannya, mengisi hatinya. Pesona Tae Hyung memang patut diwaspadai. Tangan Jung Kook kemudian terulur, hendak membelai permukaan wajah Tae Hyung. Jung Kook masih meneliti setiap inchi bagaimana Tuhan begitu sempurna menciptakan wajah Tae Hyung. Bentuk hidungnya yang runcing, sepasang mata sipit, bibir tebal, serta bentuk rahang yang tegas. Kali ini, dengan dorongan entah darimana, Jung Kook secara refleks membelai surai dark chocolate milik Jeon Tae Hyung, merapikan helaian anak surai yang menutupi sebagian kelopak matanya.

"Selamat pagi," suara serak khas bangun tidur Tae Hyung membuat Jung Kook dengan cepat menarik kembali tangannya yang lancang. Jung Kook tak berani menatap Tae Hyung sekarang, apalagi dari jarak yang hanya beberapa inchi seperti saat ini.

"P-pagi, Tae. K-kau sudah bangun?" terbata, Jung Kook tetap menundukkan pandangannya.

"Apa tidurmu nyenyak, Jung-ie?"

Jung Kook mengangguk gugup. "Mmm..."

Tanpa Jung Kook sadari, saat ini Tae Hyung tersenyum. Sebenarnya, jauh sebelum Jung Kook bangun, ia sudah terbangun lebih dulu. Hanya saja, ketika merasakan pergerakan kecil Jung Kook, Tae Hyung berpura-pura tertidur kembali. Namun, siapa sangka, Jung Kook justru melakukan hal yang hampir saja membuat jantung Tae Hyung melompat keluar, tetapi Tae Hyung tetap mempertahankan ekspresi pura-pura tidur, dan berhasil!

"Semalam itu terima kasih," gumam Jung Kook yang mencoba menatap manik Tae Hyung.

"Terima kasih saja sepertinya tidak cukup."

Jung Kook mengerutkan keningnya, menatap Tae Hyung. "Lalu?"

"Tanganku pegal, semalam kelinci cerewet ini tidur seperti kerbau mati, dan tentu saja itu semua tidak gratis."

Jung Kook mengerucutkan bibirnya, sebelah tangannya tiba-tiba mencubit pinggang Tae Hyung, membuat si tampan memekik. "Ya! Hentikan, Jung-ie! Ini sakit, kau tahu!"

"Kau, menyamakan aku dengan kerbau? Jeon Tae Hyung sialan! Memangnya tidurku sejelek itu, huh!"

Tae Hyung tak bisa untuk tak tertawa melihat Jung Kook mengamuk, bahkan sekarang tangan Jung Kook dengan leluasa memukul tubuhnya.

"Rasakan ini, Jeon Tae Hyung! Kau menyebalkan! Mati saja kau!"

"Hahaha, ampun... ampun! Bahkan tenagamu saja sekarang seperti gajah yang akan melahir-"

"Apa kau bilang? Pilih yang mana, rumah sakit atau pemakaman, hum?"

Melihat Jung Kook menyeringai seperti itu, mana bisa Tae Hyung tak ngeri. "Jung-ie, apa yang akan kau lakukan, eoh? Ya! Jangan macam-macam!"

"Menggelitikmu sampai pingsan, Tuan Tae Hyung!"

Aksi mari menggelitik Tae Hyung pun dimulai, Tae Hyung terus tertawa, sementara Jung Kook menggelitiknya tanpa ampun. Hingga keduanya berguling dengan posisi Tae Hyung menumpu tubuh Jung Kook yang berada di atasnya.

Hening, Jung Kook dan Tae Hyung terdiam dengan saling berpandangan satu sama lain. Tae Hyung sendiri begitu enggan mengalihkan tatapan ke arah lain, momen seperti ini bersama Jung Kook memang langka, apalagi posisi mereka begitu pas, dan Tae Hyung dapat dengan mudah mengagumi pahatan sempurna dari Sang Pencipta... Kim Jung Kook. Tatapannya kemudian beralih pada sepasang bibir cherry milik Jung Kook yang terbuka. Tae Hyung sadar bahwa ia mulai mendekatkan wajahnya ke arah Jung Kook, pun sebaliknya. Keduanya menutup kelopak mata ketika belahan bibir mereka menempel satu sama lain. Cukup lama Tae Hyung memagut rakus bibir Jung Kook, membuat posisi mereka kini berubah. Tae Hyung menahan bobot tubuhnya agar tak menempel secara langsung pada tubuh Jung Kook yang sekarang berada dalam kungkungannya. Dengan hati-hati, kelopak mata Tae Hyung terbuka. Menatap Jung Kook dalam posisi intim seperti ini benar-benar membuat dadanya menghangat. Mungkin sekarang Tae Hyung sadar satu hal...

Bahwa ia telah jatuh cinta pada Jung Kook.

Belahan bibir keduanya terpisah, Jung Kook membuka matanya malu-malu, sepasang pipi berisinya kini diwarnai dengan semburat merah muda yang manis. Jung Kook tersenyum canggung ketika Tae Hyung menatapnya lembut. Seperti inikah yang ia rasakan jika mencintai seseorang? Mengapa ketika Won Woo menciumnya, ia justru tak merasakan getaran apapun. Ada apa? Apakah kekhawatiran akan tumbuhnya cinta di antara persahabatannya dengan Tae Hyung akhirnya terjadi?

Dengan cepat Jung Kook mendorong tubuh Tae Hyung menjauh. Perlahan ia bangkit, kemudian meninggalkan Tae Hyung seorang diri.

"Ish! Apa yang sudah kulakukan?"

Di balik pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar, Jung Kook dapat mendengar geraman Tae Hyung yang tertahan. Tangannya kembali membelai lembut permukaan bibirnya. Samar-samar senyum malu Jung Kook mengembang. Ia tak bisa menampik perasaan geli nyaman itu sekarang.

"Apa yang baru saja aku lakukan..."


Yoon Gi sesekali menyenggol lengan Ho Seok. Seok Jin pun demikian, ia mencubit pinggang Nam Joon dan sukses membuat pria berambut merah muda itu memekik. Seok Jin kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Nam Joon.

"Apa kau tak melihat betapa anehnya tingkah Jung Kook dan Tae Hyung, Joon-ie?"

Nam Joon pun melirik kedua sosok yang dibicarakan Seok Jin. "Apa kau berpikiran yang sama denganku sekarang, Hyung?"

Seok Jin mengangguk, dan berbisik lagi. "Sepertinya mereka tengah bertengkar, Joon-ie."

Setelah acara berbisik-bisik itu selesai, Seok Jin berdehem. "Hei anak-anak, ada apa dengan kalian? Apa terjadi sesuatu tadi malam sampai kalian menjadi lugu seperti ini, hum?"

"K-kami, baik-baik saja," ucap keduanya terbata.

"Benarkah?" lalu itu Yoon Gi yang bertanya. "Kalian tidak sedang bertengkar, kan?"

Jung Kook dan Tae Hyung saling menatap satu sama lain. "K-kami tidak apa-apa."

Merasa percuma dan kecewa mendengar jawaban kompak dari keduanya, mereka hanya mendengus kesal, lalu melanjutkan acara sarapan yang sempat tertunda. Sementara itu, Jung Kook tetap menundukkan wajah, bahkan ia berpikir ingin sekali menggali tanah untuk mengubur wajahnya daripada harus duduk berdampingan dengan Tae Hyung di tengah suasana yang canggung seperti sekarang.

"Oh ya, bagaimana jika hari ini kita ke Gyeonggijeon? Ada kompleks taman di sana," usul Seok Jin disambut antusias oleh yang lain.

Mereka bergegas, merapikan meja makan, kemudian pergi ke arah bagian barat desa Jeonju. Sebuah area taman yang di mana kita dapat melihat potret Raja Yi Seong Gye diabadikan. Awalnya dibangun pada tahun 1410, lalu dilajutkan hingga tahun 1614. Di sana terdapat potret Raja ketika ia sedang duduk di singgasananya yang mewah lengkap menggunakan jubah biru, dihiasi gambar tiga ekor naga yang menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjungi tempat ini.

Jung Kook dan yang lain sengaja tidak memakai mobil pribadi, mereka memakai bus yang menjadi sarana utama, dan adapula taksi sebagai alat transportasi pilihan. Mereka berangkat menuju terminal bus Jeonju dan memilih bus No. 79, kemudian turun di depan gereja katedral Jeondong.

Masih tetap diam satu sama lain, Jung Kook maupun Tae Hyung enggan untuk memulai pembicaraan, mereka tampak canggung akibat insiden tadi pagi. Sesekali keduanya saling mencuri pandang, namun berpura-pura mengalihkan pandangan jika tertangkap basah.

"Jung-ie..."

Jung Kook menoleh saat Tae Hyung menggumamkan namanya. "Ya?" jawabnya pelan.

"Maaf. Tentang yang tadi pagi, aku benar-benar minta maaf..."

Mengapa Jung Kook merasa hatinya berdenyut nyeri manakala Tae Hyung menggumamkan permintaan maaf tulus padanya. Tidak seharusnya Tae Hyung melakukan hal tersebut, sebab kejadian tadi bukan murni kesalahan Tae Hyung sendiri.

"Aku benar-benar minta maaf... tadi itu..."

"Jangan diteruskan, anggap saja kejadian tadi pagi hanyalah kecelakaan. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri."

Mendengar penuturan Jung Kook yang dingin, ada sebersit rasa kecewa memenuhi rongga dada Tae Hyung. Ya, walau bagaimanapun Tae Hyung harus mengingat satu hal, Jung Kook telah memiliki kekasih, begitupun dirinya sendiri. Tidak seharusnya kejadian tadi menjadi hal istimewa baginya maupun Jung Kook. Setelah percakapan itu, keduanya kembali bungkam. Tidak banyak berinteraksi sepertinya lebih baik.

Cukup puas berkeliling di kompleks taman, mereka memutuskan pergi berbelanja untuk pesta barbeque nanti malam-yang mana itu merupakan usulan Seok Jin dan Yoon Gi. Tiba di minimarket terdekat, mereka mulai memilih apa saja yang akan dijadikan menu pesta barbeque. Seok Jin dan Yoon Gi yang paling sibuk, Jung Kook sendiri karena tak begitu bisa memasak, ia lebih senang mengikuti kemana dua Hyung tertuanya memilih bahan makanan.

"Hei, sepertinya ada yang kau sembunyikan dari kami, Tae. Cepat katakan!"

Sementara itu, Nam Joon, Ho Seok, serta Tae Hyung yang berjalan di belakang sembari mendorong troli tampak tengah berbincang kecil. Mungkin rasa penasaran Nam Joon tadi pagi memang belum terjawab.

"Tidak ada yang aku sembunyikan dari kalian semua. Aku hanya..." ucapan Tae Hyung menggantung, sesaat ia menghela napas dalam. Raut wajahnya berubah suram, membuat Ho Seok merangkul pundaknya.

"Kalian sedang bertengkar, ya?" tanya Ho Seok yang juga penasaran.

Tae Hyung menggeleng lemah. "Tidak seperti itu, Hyung. Tapi... aku..."

"Kenapa? Coba ceritakan saja pada kami," desak Nam Joon.

"Kami tadi pagi tak sengaja... berciuman..."

"APA?"

"Hyung, bisakah kau kecilkan volume suaramu?!"

"Maaf," ucap Ho Seok.

"Bagaimana bisa kalian..."

"Hanya terbawa suasana, Hyung. Astaga! Aku jadi merasa bersalah pada Jung Kook sekarang. Walaupun ia bilang tidak apa-apa, tetapi tetap saja itu sebuah kesalahan."

Ho Seok dan Nam Joon saling berpandangan, kemudian keduanya tersenyum penuh arti.

"Tae, apa arti Jung Kook untukmu?" tanya Ho Seok tiba-tiba.

"Hyung, mengapa menanyakan hal seperti itu?"

"Jawab saja!" itu Nam Joon yang berbicara dengan lolipop di mulutnya.

"A-aku..."

"Jika kau hanya melihat Jung Kook seperti mendiang adikmu, sebaiknya jangan dilanjutkan," kemudian Ho Seok menyela ucapan Tae Hyung.

"Mengapa Hyung punya pemikiran seperti itu?"

"Lalu jika tidak seperti itu, bagaimana?"

Tae Hyung diam, pertanyaan terakhir yang dilontarkan Nam Joon membuatnya bungkam. Ia tak dapat menjawabnya. Sementara itu, Nam Joon mendekatkan bibirnya ke telinga Tae Hyung, dan berbisik. "Tanyakan pada hatimu, Tae."

Ya, Nam Joon benar, Tae Hyung memang harus memastikan pada hatinya tentang posisi Kim Jung Kook. Tae Hyung akui bahwa pertama kali mengenal Kim Jung Kook, ia semata-mata hanya ingin menebus rasa bersalah pada adiknya. Akan tetapi, ketika ia dan Jung Kook mulai dekat dan akrab, pemikiran itu lenyap seketika; mengingat bahwa fakta yang ada keduanya memang memiliki sifat yang berbeda. Saat ini, Tae Hyung mengakui satu hal bahwa perasaan cinta pada Jung Kook sebenarnya telah tumbuh secara alami. Tae Hyung menyayangi Jung Kook bukan karena wajah pemuda manis itu mirip dengan mendiang adiknya. Tae Hyung mencintai Jung Kook karena ia... Kim Jung Kook. Kelinci cerewet yang menyebalkan.

"Tae, ayo kita pulang!" suara Seok Jin membuyarkan lamunan Tae Hyung, ia terhenyak, lalu melambaikan tangannya ketika semua sahabatnya telah berdiri di kasir.


Tae Hyung berjalan menuju dapur, bergabung dengan Seok Jin dan Jung Kook yang tak sedikit pun terusik dengan kehadirannya.

"Bisakah aku ikut membantu?"

Keduanya tersentak, Jung Kook hampir melemparkan pisau yang ia gunakan untuk memotong sayuran pada Tae Hyung.

"Astaga! Bisakah kau datang tidak seperti hantu, Tuan Tae Hyung?" itu Jung Kook yang berteriak.

"Tae, bisakah kau jaga sebentar barbequenya? Aku harus ke toilet. Jangan sampai gosong, ingat!" perintah Seok Jin yang kemudian meninggalkan keduanya.

Hening, canggung, itulah yang saat ini Jung Kook dan Tae Hyung rasakan. Mereka tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Insiden ciuman-tak sengaja-tadi pagi memang membawa dampak dahsyat. Jung Kook berusaha mengalihkan kegugupannya dengan terus memotong sayuran. Sementara Tae Hyung, pemuda itu pun bahkan tak lebih baik dari Jung Kook.

"Tae..."

"Ya?"

"Itu, gosong."

Tae Hyung menatap panggangan barbeque buatan Seok Jin. "Astaga! Apa yang harus aku lakukan? Jin Hyung... bagaimana ini, Jung-ie..."

Melihat Tae Hyung panik, Jung Kook sontak terbahak. Menurut Jung Kook wajah panik Tae Hyung itu sangat lucu.

"Kau harus bertanggungjawab, Tae."

"Jung-ie... jangan menakutiku. Kau belum tahu bagaimana menyeramkannya Jin Hyung jika mengamuk..."

Melihat Tae Hyung seperti itu, Jung Kook sedikit meringis. Apalagi mengingat jika kemampuan memasak Tae Hyung sama saja dengannya, di bawah rata-rata.

"Mmm, bagaimana jika meminta maaf saja padanya?" saran Jung Kook.

Tae Hyung berdecak. "Itu sama saja dengan mengantarkan nyawa pada induk gorila, Jung-ie!"

"Gorila?"

"Ya, gorila."

"Ya, Jeon Tae Hyung!"

Tae Hyung spontan berlari saat melihat Seok Jin yang murka. Aksi saling mengejar satu sama lain membuat Tae Hyung terus berteriak meminta ampun pada Seok Jin. Tak jarang beberapa barang seperti bantal, remot televisi, atau bahkan sandal kepala beruang milik Yoon Gi pun, Seok Jin lemparkan ke arah Tae Hyung.

"Kau membuatku ingin membunuhmu, Jeon Tae Hyung! Kau pikir membuat barbeque itu mudah, huh! Kau pikir kau bisa melakukannya, huh! Kenapa kau membuat masakanku gosong, Tae?"

"Ampun, Hyung. Maafkan aku, itu semua di luar kuasaku!"

Dengan tetap saling mengejar, mereka saling berteriak. "Kau pikir apa yang kau lakukan, huh! Sudah kubilang tolong jangan sampai gosong, tapi... kau mengacaukannya, Jeon Tae Hyung! Kemari kau!"

Tae Hyung hampir kehabisan tenaga, Seok Jin yang murka benar-benar kuat. Hingga tanpa sengaja, Tae Hyung menginjak remot televisi yang tergeletak di lantai, membuat keseimbangannya hilang, dan...

"Argh!" Tae Hyung terjatuh dengan kepala terkatuk ujung sofa. "Kepalaku..." sampai semuanya menjadi gelap dan Tae Hyung mulai tak sadarkan diri.


Tae Hyung mengerjap lucu, menatap kelima sahabatnya yang mengerumuni dirinya. Ah, ia ingat jika tadi, ketika ia sedang berlari kakinya tak sengaja menginjak remot televisi, dan malang baginya harus terjatuh dengan kepala lebih dulu.

"Kau sudah sadar, Tae?" itu Seok Jin yang bertanya, ekspresinya melembut tidak seperti tadi-saat keduanya saling mengejar-dengan Seok Jin yang begitu murka.

"Kepalaku..."

"Tidak apa-apa, hanya sedikit bengkak dan memar saja."

Tae Hyung meraba kening bagian kirinya, memang bengkak, kemudian ia menolehkan pandangannya, menatap cermin untuk memastikan bahwa tidak terjadi hal serius pada kepalanya.

"Apa perlu kupanggilkan dokter, Tae," lagi, Seok Jin bertanya dengan nada khawatir. Ia akui bahwa ini memang sedikit kesalahannya, jika saja ia tak gampang emosi, mungkin Tae Hyung baik-baik saja. Tapi, tetap saja Tae Hyung pun salah. Masakannya...

"Biar aku yang membantu mengompres lukanya dengan air hangat," saran Jung Kook yang disetujui oleh yang lain.

"Baiklah, sebaiknya kami keluar saja. Karena sudah ada Jung Kook yang mau mengobati, kami akan membuat ulang barbequenya saja."

Setelah kepergian keempat sahabatnya, Tae Hyung dan Jung Kook kembali berdua di dalam kamar. Jung Kook kemudian beranjak, hendak pergi, namun Tae Hyung menahan lengannya.

"Ke mana?"

Jung Kook tersenyum lembut. "Hanya ingin mengambil air hangat untuk mengompres memarmu. Tunggulah."

Tae Hyung menatap punggung Jung Kook yang semakin lama semakin kecil, lalu menghilang di balik pintu, sesaat kemudian si manis kembali dengan wadah berisi air hangat dan handuk kecil.

"Jangan merengek seperti bayi saat aku kompres, jika berteriak aku akan menyumpal mulutmu dengan kaus kaki Nam Joon Hyung!"

Tae Hyung meringis ketika Jung Kook menekan memarnya. "Sakit, ya?" ia hanya mengangguk, lalu tersenyum. "Sebentar, aku akan mengambil salep pereda nyeri. Mungkin besok akan sedikit biru, tapi aku jamin jika memar sudah tidak akan sakit."

Tae Hyung kagum pada Jung Kook yang sigap serta cekatan ketika mengobatinya. Sesekali bibir si manis mengerucut, meniupkan udara di kening Tae Hyung yang memar. Lagi, posisi mereka secara tidak sadar benar-benar dekat. Jung Kook berlutut tepat di depan Tae Hyung, sementara posisi Tae Hyung sendiri duduk menghadap Jung Kook. Mereka bertemu pandang, dengan refleks Jung Kook menjauhkan diri, mengarahkan pandangannya asal jangan ke arah Tae Hyung.

"Terima kasih banyak, Jung-ie," ucap Tae Hyung tulus.

"Ya, sama-sama. Sebaiknya kau beristirahat, aku akan mengatakan pada yang lain jika kau tidak bisa bergabung." Jung Kook kembali bangkit dari duduknya, namun kali ini Tae Hyung menahannya bahunya, ia menggelengkan kepala, seolah tak mengizinkan Jung Kook pergi.

"Jangan pergi, paling tidak temani aku sampai tidur," pintanya.

Jung Kook tersenyum cantik, menyipitkan matanya, sejujurnya ia gemas melihat ekspresi alami yang Tae Hyung tunjukkan tadi. Tae Hyung itu memang pantas dijuluki 4D, alien dengan kepribadian aneh. Terkadang pemuda tampan dihadapannya itu bisa bertingkah lucu, atau tak jarang Tae Hyung pun menjadi gemar merajuk, namun Jung Kook pun akan terpana ketika sifat dewasa Tae Hyung muncul.

"Cepat berbaring, aku akan menemanimu di sini sampai kau tidur."

Tae Hyung merebahkan tubuhnya dengan Jung Kook yang menyelemuti tubuhnya. Tangan Jung Kook tiba-tiba menepuk lembut perut Tae Hyung di luar selimut; persis seperti seorang ibu yang berusaha membuat putranya tertidur.

"Mama sering melakukan ini jika aku tidak bisa tidur."

Tae Hyung terkekeh, namun berusaha menutup matanya, perbuatan Jung Kook benar-benar seperti mantra, apalagi pemuda manis itu tak henti-hentinya berceloteh apa saja, sehingga membuatnya mengantuk.

Jung Kook sendiri tersenyum manakala helaan napas teratur Tae Hyung menjadi jawaban celotehannya. Menatap lekat wajah rupawan Tae Hyung benar-benar menjadi candu baginya sekarang, membuatnya ketagihan ingin lagi dan lagi menatapnya.

Kembali, Jung Kook membelai pipi kiri Tae Hyung, beralih ke hidung runcing Tae Hyung, lalu sepasang bibir kissable-nya. Akan tetapi, pada saat Jung Kook menarik tangannya, tib a-tiba Tae Hyung membawa Jung Kook ke pelukannya.

"Tae, apa yang kau..."

"Diam dan tetap seperti ini, anggap saja bahwa sekarang adalah saatnya kau membayar hutang pernah tertidur di pelukanku."

Menghangat, wajah Jung Kook kembali merona. Berapa kali hari ini Tae Hyung berhasil membuat wajahnya seperti tomat?

"Jung-ie..."

"Ya?"

"Saranghae..."

-TBC-

Halo para kesayangan Bangtan #amankanVKook. Vanilla datang! Ada yang nungguin lanjutan Ffnya gak, ya?

Maaf ya ngaret lagi publish Ffnya, banyak kerjaan soalnya, lagi asyik nungguin Bangtan comeback seh, eh sekarang udah muncul MV-nya. Bang PD-nim emang suka banget kayaknya bikin anak perawan orang jejeritan (teriak-teriak)! Apalagi itu MV emang bikin duel otak -_- setelah banyak persepsi mengenai jalan cerita dari mulai MV I Need U, kemudian ke prolog, lanjut ke RUN, berbagai teori yang bermunculan pun bikin pusing #itusayapribadi. Itu sebenernya yang udah gak ada itu siapa? #frustasi :'(( ah, abaikan curahan hati Vanilla yang gak jelas itu ya, hihihi. Intinya mereka semua keren (y)

Btw, Dek Kookie juga udah balik lagi jadi manis di RUN era, itu seh yang paling penting biar gak ketuker antara mau jadi seme atau uke #kunyahbeling.

Vanilla ucapin makasih banyak ya buat yang masih berkenan baca FF ini sampe chapter sekarang. Ini Vanilla tepatin janjinya bawa Full Vkook moment dari awal, kalo mual bilang aja biar Vanilla siapin kantung muntah abis baca FF-nya, hihihi

Oh ya! Satu lagi, Vanilla bakalan bawa FF baru loh, ini FF duet sama kekasihnya Kakak Tae, sahabat, temen berantem juga, DeerDia nama authornya ^^ genrenya Vampire/Paranormal Romance gitu. Teaser FF ini juga ada loh, yuk yang mau liat bisa cek di Youtube judulnya : kekasih abadi (VKOOK) fanfiction

Udah segitu aja, Vanilla pamit :*