Warning beforehand: NC in this chapter
Yea, you're welcome :)
Waktu tidur Luhan semasa menjadi seorang trainee di agensi hiburan terbesar Korea Selatan tentu tidak sebanyak waktu tidurnya saat masih sekolah di Cina.
Pagi—ia melanjutkan kuliahnya dan les privat Bahasa Korea (bagaimanapun, tujuan si manis ke Negeri Ginseng ini tak lain sekadar paksaan Mamanya untuk ikut program pertukaran pelajar. Mana dia tahu kalau SM tertarik padanya). Tengah hari sampai petang ia berlatih di gedung khusus trainee, waktu istirahat yang dimiliki hanya sepuluh menit tiap sesi. Malamnya adalah jam bebas, tetapi ia sudah cukup dewasa untuk mengerti kalau ia menggunakan waktu luangnya untuk latihan lebih banyak, kemampuannya bisa meningkat pesat dan para petinggi akan tertarik padanya sehingga kemungkinan debutnya jadi jauh lebih besar.
Itulah kenapa Luhan jarang sekali menerima ajakan karaoke atau nonton dari trainee lain.
Bukan hanya Luhan, sebenarnya. Tetapi seluruh trainee yang berasal dari Korea juga demikian.
Di matanya, negara ini gila dengan semua kompetisinya di segala bidang. Kalah sedikit saja, lengah sedetik saja, Luhan bisa dipulangkan.
Bukan hal baru di SM kalau mereka memproritaskan pemuda sendiri. Diskriminasi bukan tabu lagi—karena mata telanjang dapat melihatnya eksis di seluruh sudut gedung, di seluruh sudut bibir.
"Hei, Ching-chong! Hapus senyummu itu! Memuakkan, tahu?!"
"Sudahlah, Jae. Mana dia tahu kau bicara apa. Percuma menghabiskan tenaga untuk meladeni cowok cantik sepertinya."
"Huh, benar juga. Daripada pamer kalau bisa menyanyi, menurutku kau harusnya belajar Bahasa Korea dulu, Ching-chong!"
Luhan bukan orang bodoh. Bukan. Privat Bahasa itu benar-benar telah ia rekam walau masih separuh dari kurikulum. Tetapi tiga trainee yang memepetnya ke dinding ini bicara begitu cepat dalam kosakata tidak baku yang Luhan tidak mengerti satupun.
Ia hanya mengerti dari mata mereka kalau mereka amat tak menyukainya.
Si rusa hanya tersenyum. Kalau ini di Cina, ia pasti sudah ambil ancang-ancang melawan. Minimal dua bogem dan tiga tendangan di tulang kering dan ketiganya pasti sudah terkapar. Dia, kan, manly.
Tapi kali ini, dia terlalu takut untuk bergerak. Terlalu takut untuk bicara.
Ia takut ketiganya makin marah jika ia melawan.
Karena di sini, dia adalah kasta nomor dua. Jika mereka sampai disidang karena ketahuan berkelahi, bisa dipastikan yang akan dikeluarkan adalah Luhan dan bukan tiga bajingan ini, hanya dengan pertimbangan kewarganegaraan.
Ini bukan tanahnya. Siapa yang tahu apa yang orang-orang busuk ini lakukan jika mereka sudah memutuskan untuk melenyapkannya?
(Ya, bekerja di Korea memang segila itu.)
"Kembali saja ke Cina! Memangnya di sana tidak ada pekerjaan, hah?"
Jauh dalam hatinya Luhan mengerti mengapa mereka melakukan ini. Iri. Kecemburuan antar trainee benar-benar tidak ditutupi. Memangnya salah Luhan kalau dia lebih pintar menari dan menyanyi? Salahnya kalau wajahnya lebih manis dan senyumnya mencuri hati?
Salah kalau peluangnya untuk debut lebih besar tiga kali?
"Sudah kubilang jangan tersenyum, sialan! Kau tuli? Ooh, atau kau sengaja mengejekku?!"
"Jae, Jae! Jangan pukul dia! Dia kesayangan Sonsaeng—"
"Yah! Yah! Apa yang kalian lakukan?!"
Luhan membuka sebelah mata dari posisi berlindungnya begitu mendengar suara itu. Trainee yang hendak memukulnya dan dua lain yang berusaha menahannya menoleh bersamaan, mata mereka melebar kaget melihat dua pemuda lain menghampiri.
"J-Joonmyeon-hyung..." lirih trainee sok berani di depannya. Kalau kepal tangannya tidak dua jangka di depan muka Luhan, pemuda Cina itu pasti sudah menertawakannya.
"Kalian apakan Luhan?" seru Minseok, satu dari sedikit trainee yang mengingat namanya dan bukan memanggilnya Ching-chong seperti yang lain. Dia lebih tua dari Joonmyeon yang tampak khawatir di sampingnya. Luhan tersentak ke belakang saat ia dihempas kasar.
"Pergilah," tutur Joonmyeon, yang paling pendek di antara mereka dengan lembut, walau pupilnya menyorot tajam. "Sajangnim takkan suka mendengar traineenya berkelahi."
Manik rusa menatap kagum pada kemampuan lidah persuasif Joonmyeon. Tiga pemuda itu berdecak dan pergi setelah melempar tatapan sinis pada si rusa. Minseok menoleh pada Luhan lalu merengut.
"Yah, sudah kubilang jangan diam saja kalau mereka begitu lagi, Luhan. Lawan saja! Jangan mau dibully terus! Kau ini, kalau kami tidak memergoki kalian bagaimana kau bisa selamat, hah? Dan lagi—"
Joonmyeon membentuk senyum tipis melihat Minseok terus mengomel seperti ibu muda, sementara Luhan hanya berkedip dan berkedip menatapnya. "Minseok-hyung, sudahlah. Luhan-hyung bingung, tuh."
Minseok beralih menatap Joonmyeon lalu Luhan, lalu menggaruk tengkuk seraya terkekeh gugup. "Ah, maaf. Aku lupa kalau kau tidak bisa—"
"Kamsahamnida."
Luhan membungkuk dalam-dalam, melafalkan satu-satunya yang ia tahu untuk diucapkan.
"Hah. Iya, iya, jangan terlalu dipikirkan. Ngomong-ngomong, kami mau makan, nih. Kau ikut?" Melihat Luhan masih linglung, Minseok membuat gestur makan. "Ma-kan. Ikut? Ma. Kan. Aduh, Bahasa Mandarinnya makan apa, sih?"
Luhan terkekeh kecil melihat keduanya kalang kabut. "Aku tahu kau maksudmu. Oke, aku ikut."
Minseok berang. Joonmyeon mendelik sebal. "Yaaah! Ternyata dari tadi kau menipu kami? Rasakan ini, rasakan!"
"Yah! Aduh! Aduh! Sakit!"
Seluruh trainee tak ada yang tak mengenal Joonmyeon, yang konon masa traineenya paling lama (rumornya sudah enam tahun, tetapi Luhan tidak percaya). Semua di sini menganggapnya sebagai kakak (atau adik untuk segelintir generasi tua seperti Luhan dan Minseok), terutama karena sifatnya yang ramah dan tutur katanya yang lembut. Banyak trainee yang menjadikannya tempat curhat atau sekadar berkeluh. Walau Joonmyeon tidak selalu bisa mencarikan solusi, paling tidak ia memberi mereka kepuasan karena telah mau meminjamkan telinga. Bahkan Joonmyeon juga termasuk segelintir trainee yang sudah punya fans setia padahal belum debut resmi.
Banyak juga desas-desus kalau Joonmyeon itu berasal dari keluarga super kaya seperti Siwon-sunbaenim, dan sebenarnya Joonmyeon percuma menjadi trainee di SM kalau dia sendiri bisa membeli SM dan segala sahamnya, tapi Luhan pikir rumor itu berlebihan. Tetapi Joonmyeon bukan orang pelit. Sebaliknya, malah kadang ia mentraktir trainee lain saat ulang tahun, atau hari spesial lain.
"Apa Joonmyeon-hyung masih akan mentraktir kita untuk anniversary delapan tahun jadi trainee?" Tawa tak menyenangkan dari dua pemuda di belakang kelas vokal Luhan—yang kebetulan sama dengan Joonmyeon, sementara si mungil sedang membagikan ayam goreng di tengah kelas.
Luhan tidak mengerti apa yang mereka katakan, tetapi orang-orang di sekitarnya seketika melempar lirik sinis pada mereka. Jadi Luhan mengasumsikan yang dua bocah itu katakan adalah sesuatu yang menyakitkan, ditilik dari kepala Joonmyeon yang sekarang tertunduk menyembunyikan ekspresi dan si tinggi Park mengelus punggungnya beberapa kali.
Tentu saja, dunia bukan hitam dan putih. Bahkan orang sebaik Joonmyeon pun, masih ada yang tak menyukai.
Ia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Tetapi ia ikut senang saat dua bocah sialan tadi resmi keluar dua minggu setelahnya karena melanggar peraturan asrama.
Joonmyeon sangat dihormati di kalangan trainee. Tetapi beda ladang beda belalang, ia sering jadi cemoohan di antara para pelatih. Ia memang sering dengar kalau kemampuan Joonmyeon sebenarnya tak seberapa, selain skill debatnya yang cukup luar biasa.
(Untuk yang ini, Luhan tidak bisa berkomentar karena ia tak bisa mencari informasi)
"Tidak ada yang suka lagu Cina katanya?!" Suara sesuatu ditendang. Luhan berguling untuk melihat Tao menyakiti lemari plastik yang tak bersalah. "Dasar otak-otak udang! Tidak pernah dengar lagu Da Jie, ya?! Mereka kira kita ini sampah kiriman dari Cina, apa?! Menyebalkan sekali! Menyebalkan, menyebalkan, menyebalkaaan!"
Para trainee Cina punya kebiasaan sendiri untuk berkumpul sesudah jam malam di studio kecil yang jarang dipakai. Bukan hanya mereka, kadang trainee lain yang berasal dari luar Korea juga melakukan hal yang sama. Sekadar curhat akbar dan agenda lepas rindu pada kampung halaman. Sekaligus momen berkumpul dengan kawan sebangsa dan sebahasa, ditambah kesempatan juga melampiaskan kekesalan untuk kasus seorang Huang Zitao. Luhan kadang heran bagaimana bisa orang tua Tao sekejam itu mengirim bayi panda ini ke kandang singa.
"Tao, kalau lemarinya rusak kita bisa dimarahi." Zhang Yixing mengingatkan dengan intonasi datar dan muka yang lebih datar lagi. "Aku ngantuk sekali. Ge, pinjam pahamu, ya."
"Aku jugaaa!"
Luhan mengangguk, menjulurkan kakinya untuk jadi bantal Yixing dan Tao, lalu mengelus kepala keduanya. Memang statusnya adalah yang paling tua saat ini, tapi dia jadi merasa seperti single parent dan dua putranya. Li Yin, Yu Zhi, dan dua trainee lain juga tidur-tiduran sambil berbincang di belakangnya. Trainee perempuan... ia tidak melihat mereka. Biasanya Qiu Yue, Bi Chu, dan yang lainnya juga ikut berkumpul bersama mereka bersama dua kantung penuh snack impor dari Cina, tapi sepertinya mereka sedang sibuk hari ini.
Dua pemuda yang bermanja di pangkuannya itu berbanding terbalik. Satu-satunya persamaan mungkin adalah keduanya lebih muda dari Luhan. Tao lebih manja daripada Yixing, yang lebih pendiam dan lebih polos. Saat marah, Tao akan menangis meraung-raung seraya menendangi lemari plastik setengah penyok yang ada di studio ini sampai puas, atau setidaknya sampai Yifan atau Luhan sendiri yang menghentikannya. Tetapi Yixing, saat sedih atau kecewa, hanya menggigit bibir dan menutup mata lalu meringkuk di sudut. Ia akan menolak membuka mata, siapapun yang meminta, sampai hatinya lega. Tidak ada air yang mengalir, cuma bibirnya saja yang bergetar dan mukanya akan memerah. Luhan dan Yifan sempat takut saat mereka pertama kali tahu kebiasaan unik Yixing ini.
Tapi dua adiknya ini adalah jenius. Mereka tidak akan dipilih jauh-jauh dari Cina jika mereka hanya remaja biasa. Yixing adalah natural dalam bidang musik. Ia memang tidak bisa membaca kertas not dan sering dianggap yang paling aneh di kelas vokal dan alat musik oleh trainee lain dan bahkan pelatihnya sendiri. Namun Luhan tahu kalau Yixing lebih hebat dari itu. Tinggal tunggu waktu untuk membuktikan bakatnya.
Sedangkan Tao... dia termasuk spesial di sini karena dia menguasai wushu. Karena itu, Luhan bisa menebak kalau bocah ini pasti akan dimasukkan dalam daftar calon member boy group baru yang katanya akan debut 2012 nanti. Tao tidak kalah bakat dengan Yixing, hanya saja keduanya berbeda lahan keahlian. Soal rap dan visual, si bayi panda ini ahlinya.
Hanya saja, yah, dia agak manja.
Oke, sebenarnya bukan agak. Sangat, malah.
"Gege, aku ingin pulaaang!" rajuk si panda, masih dengan Mandarin fasih agar tidak ada non-Cina yang paham artinya. "Aku tidak suka di sini! Tidurku sebentar dan makanannya tidak enak. Aku ingin dimsum dekat rumahku, Geee!"
"Telepon ayahmu, minta kirim dimsum yang banyak ke sini."
"Aaah gegeee!"
Yixing berguling. "Tao-yah... jangan ribut. Aku mau tidur."
"Kalau mau tidur, di kamarmu saja, Ge! Kalau di sini nanti pinggangmu makin parah!"
Yixing punya kebiasaan mengikat beban di pinggangnya saat berlatih menari, ia bilang agar gerak langkah-demi-langkahnya makin terlihat. Trainee Cina yang lain sudah berkali-kali melarangnya, bahkan Joonmyeon dan Jongin (trainee unggulan di kelas dance yang kulitnya cokelat sekali) pernah menyuruhnya berhenti menggunakan itu, tapi Yixing berkeras kepala. Saat beberapa minggu lalu Luhan main-main menendang pinggang Yixing dan ia menjerit keras, Luhan tahu ada yang salah dengan pinggangnya. Mungkin itu cedera?
"Aku tidak suka di sini..."
Tao terisak. Luhan dan Yixing menoleh ke arahnya.
"Tao-yah?"
Malam ini sama dengan malam-malam lainnya.
"Aku mau pulang," isakannya makin kencang. "Aku tidak mau di sini lebih lama. Tidak ada yang menyukaiku di sini, Ge. Aku kangen Mama."
Tentu saja. Tidak ada yang menyukai trainee non-Korea di sini. Persetan semua variety show persahabatan trainee SM antar negara. Semuanya palsu.
Di sini, persaingan adalah udara. Tidak ada yang mau menjadi nomor dua. Semua ingin jadi nomor satu.
"Mereka pikir... karena mereka orang Korea, mereka lebih hebat dari kita?!"
Tao kadang lupa tempatnya berpijak ini negeri siapa.
"Tao, jaga bicara—"
"Mereka keterlaluan! Hanya karena aku punya kantung mata, Yixing-ge selalu kelihatan ngantuk, Yifan-ge giginya terlalu maju, dan Lu-ge sendiri mukanya cantik, seenaknya mereka membully kita!"
Toyoran diterima Tao dari Gege tercinta.
"Yah! Aku tidak cantik! Aku manly!"
Tao memutar bola mata. "Iya, iya. Tentu saja."
Toyoran kedua. "Kau tidak percaya?!"
"Iya iya Geee! Ampuuun!"
Toyoran ketiga. Tao merajuk.
Yang diucapkan Tao tidak salah.
Selain pinggang yang bermasalah, baru akhir-akhir ini mereka tahu kalau Yixing mengidap hemofilia. Tao yang paling heboh soal itu, pasalnya ia sering main-main menggunakan jurus wushunya pada Yixing tanpa tahu ia sebenarnya mengancam nyawa si domba polos. Tapi si kelahiran Changsha menyergah, beralasan dia lebih kuat dari kelihatannya.
Sampai suatu hari Tao menyinggung kalau ia tidak melihat Yixing seharian itu di studio, dan mereka menemukan Yixing berlutut di gudang lama, tepat di depan sekelompok trainee Korea yang perangainya memang terkenal sebelas dua belas dengan preman, dengan kepala tertunduk dan hidung meneteskan darah. Luhan berani sumpah ia tidak pernah merasa dirinya semarah itu. Ia tidak pernah melihat Tao dan Yifan semurka itu.
Itu pertama kalinya mereka berkelahi sejak resmi jadi trainee dan rasanya segar sekali.
Komosi itu disidangkan tiga hari kemudian, saat Yixing sudah dilarikan ke rumah sakit karena kekurangan darah. Si trainee Korea beralasan mereka tidak tahu Yixing punya penyakit berbahaya seperti itu dan malah menyalahkan Yixing yang nekat masuk industri berat ini bahkan berani menuduh kalau Yixing mungkin menggunakan ganja dan sebagainya karena mukanya selalu begitu. Semua diucap enteng seolah-olah mengeroyok si pemuda Cina itu bukan kesalahan.
Yifan menampar muka trainee berwajah sombong yang tidak sudi ia ingat namanya, dan mendapat tamparan balik dari petinggi SM di depannya. Semua terdiam.
Hasilnya seperti sudah diperkirakan, yang mendapat hukuman adalah seluruh trainee berkebangsaan Cina.
Diskriminasi lebih kental dari darah saudara sendiri.
Semua itu membuat Luhan jadi lebih protektif pada Yixing daripada member lain. Terutama saat ia tahu namanya dan Yixing (dan Tao, tapi itu sudah bukan kejutan) adalah calon kuat untuk dimasukkan dalam daftar debut tahun itu.
Akan semakin banyak mata iri yang melirik mereka.
"Tao," bisik Luhan. Karena dia menganggap dirinya yang paling manly di sini, dia berusaha menenangkan. "Semakin cepat kau debut, semakin cepat kau keluar dari tempat ini. Kalau kita sudah punya grup sendiri, kita tidak perlu berurusan dengan trainee-trainee lain. Kau tahu rumor boy group 2012 nanti? Berlatih yang keras, pasti kau akan masuk."
"Aku tidak mau kalau tidak dengan Gege!"
"Yah!" Luhan menjitak kepalanya. "Jangan manja! Bikin malu saja! Kau ini laki-laki, harus manly!"
"Seperti Gege?"
Luhan tersenyum. "Iya. Seperti aku."
"Tidak mau!" Toyoran keempat. "Aduh! Kalau begini caranya lebih baik aku dilahirkan jadi wanita saja!"
"Jangan," kata Yixing lemah. "Kau akan jadi wanita mengerikan."
Tao memekik tak setuju. Samar-samar Luhan pernah ingat Song Qian-sunbae yang sudah debut duluan itu berkata padanya kalau persaingan di antara trainee wanita justru lebih menyeramkan.
Ketika Yifan masuk studio dengan muka puas, semua menatapnya aneh. Luhan memiringkan kepala. Apalagi yang si tiang ini lakukan?
"Aku sudah balas dendam."
Tao melompat lebih riang dari seharusnya. Luhan tampak terkejut. Yixing mengernyit.
"Siapa?"
"Bosnya trainee Korea. Si Myeon-Myeon siapa itu." Yifan menepuk dada. "Kusiram kopi tadi. Rasakan."
Luhan menjewer telinganya saat itu juga. Lalu mendorong-dorong si jangkung keluar untuk minta maaf secara langsung pada korban yang salah.
"Kau gila?! Dia itu malah di pihak kita!"
"M-Mana aku tahu!" Yifan gengsi luar biasa disuruh minta maaf. "Salahnya sendiri, sikapnya sok begitu!"
"Aku tidak peduli, pokoknya kau harus minta maaf! Titik!"
Jika Tuhan memberi kesempatan pada Luhan untuk menghapus satu masa dalam hidupnya, Luhan akan memberi kehormatan itu pada masa ia mengenakan seragam trainee agensi yang ia kutuk sampai detik ini.
.:xxx:.
New user added 3 days ago
Suspicious login activity 3 days ago
Instagram – zyxzjs, is that you? 2 days ago
Suspicious login activity 2 days ago
Password change notification yesterday
Suspicious mobile activity today
Suspicious mobile activity 3 hours ago
New e-mail: Yixing 3 2 hours ago
Delete? Yes. No.
No.
Opening...
Yixing [heart]
Senang melihatmu sudah kembali ke Korea lagi. Senang melihatmu masih tidak tahu malu setelah berani meninggalkan EXO, kau masih punya muka untuk muncul di winter album mereka?
Kuharap album bercover mukamu tidak terjual satupun kekeke
Sedang apa kau berlama-lama di sini? Pasti setelah ini kau akan kembali ke Cina lagi, kan? Orang-orang Cina memang tidak punya malu, memanfaatkan fans seperti itu. Pengkhianat. Untunglah kami tidak tertipu dengan muka sok polosmu. Aktingmu benar-benar hebat [heart]
Bahkan tarianmu tidak bisa mengalahkan Kai dan suaramu tidak sebagus Chen. Kau juga tidak bisa rap seperti Chanyeol. Aah, setelah ini kau masih ikut Showcase SFY, kan? Aku dan teman-temanku akan sangat senang jika EXO hanya berdelapan saja yang naik ke panggung. Kalau kami sampai melihatmu di sana, bersiaplah akan sambutan hangat dari kami! :D
Heran sekali. Untuk apa kau masih bertahan? Kau sudah tidak dibutuhkan, kau tidak tahu, ya?
Kami akan sangat senang kalau kau cepat pergi dari EXO segera. Mereka tidak butuh kau apalagi tiga bajingan itu!
Dan jangan ganggu EXO lagi!
Semoga kau cepat mati [heart]
"H-hei! Sehun-ah!"
Delete 4 messages?
Deleting...
"Sudah kubilang kan, Hyung," ponselnya dilempar ke sofa belakang. Yixing mengawasi dengan mulut menganga. "Kalau ada sampah yang masuk, jangan dibaca. Hapus saja. Minggir."
Walau berkata begitu, Sehun tidak memberi kesempatan hyungnya untuk minggir. Justru bergelung di sampingnya, di sofa yang sama.
"Tapi jangan dihapus begitu, aku kan belum baca."
"Untuk apa membaca sampah? Hyung ini buang-buang waktu saja."
"Sehun, jangan begitu."
"Aku benar, kan?" Raut muka yang paling muda berkerut kesal. "Bukan cuma Hyung yang begitu. Aku sendiri tiap minggu dapat pemberitahuan kalau akunku diretas. Passwordku diganti. Ada yang log in dari luar Korea... Memangnya masih tidak cukup juga melihat kita? Untuk apa sih pakai hacking segala?!"
Yixing paham kenapa Sehun begitu. Dari seluruh member, memang dia yang paling getol jadi netizen. Ia punya banyak akun di media sosial—dan bahkan dua akun di instagram (karena satu akun seperti milik Chanyeol dan Baekhyun sangat menyusahkan dan sering bikin ribut dengan penggemar). Ia yang paling sering jadi sasaran para hacker dan sasaeng. Sehun sering sekali memendam kekesalannya, walau ia tak jarang juga memposting peringatan.
Bukan hanya Sehun. Semua juga gerah.
"Blokir saja e-mailnya. Ganti passwordnya tiap hari, Hyung."
Petuah bijak Sehun diangguki oleh Yixing.
"Jangan pikirkan isinya. Mereka memang begitu, mulutnya busuk."
"Hyaa," Yixing berdecak. "Jangan pakai kata begitu. Itu kata-kata kasar, Sehun."
"Memang kenyataannya begitu!"
Rona gelap tak kunjung terangkat dari muka Yixing. Tentu saja, siapa yang tidak kecewa dikatai begitu. Sehun berkedip, sebelum kemudian nyengir jahil dan selimut yang menutup kaki Yixing ditarik. Misi kecil untuk menceriakan Hyung-nya.
Si domba kaget. "Yah, jangan tarik selimutnya!"
"Dingin, Hyung!"
"Aku juga kedinginan!"
"Hyung ambil selimut sendiri saja."
"Ini aku yang ambil!"
"Ya sudah, berikan padaku."
"Sehun-aah! Ambil sendiri di kamarmu!"
"Berikan selimutnya atau kutiup leher Hyung? Hm?"
"Yah, jangan curang—aaah Sehuun!"
Sehun tergelak begitu Yixing berguling jatuh ke lantai, lalu mengambil alih selimut tebal bercorak daun yang bukan miliknya.
"Aiyoweiii!" Yixing tertawa sambil memasang tampangnya yang paling memelas. "Tidak boleh pakai cara kotor! Kau curang!"
"Siapa bilang?" Sehun menjulurkan lidah. "Salah sendiri punya leher sensitif."
"Kembalikan selimutku!"
"Ambil sini kalau berani! Haha!"
"Sehun-ah, jangan—K-Kyungsoo-ya?"
Pemukul baseball dipukulkan ke tangan. Kyungsoo yang keluar dari kamar dengan piyama hitam menyorot sebal. "Tanganku bisa tidak sengaja memukul orang kalau kalian tidak diam."
Sehun dan Yixing buru-buru bergelung di sofa.
.:xxx:.
"Joonmyeon..."
Si leader memejamkan mata ketika rekah merah Yifan menyentuh kelopak matanya. Turun ke pipinya. Pucuk hidungnya. Lalu menuju kelopaknya.
Lidah merah memaksa masuk. Gerbang bibir Joonmyeon toh telah dibuka segelnya olehnya beberapa waktu lalu. Ia merasakan lidah kecil Joonmyeon masih amatiran dalam perang basah mereka, tetapi Yifan tak mengatakannya. Tak perlu menjatuhkan kepercayaan diri pemuda itu. Justru kini kewajibannya untuk memberi pengalaman lebih pada Joonmyeon.
Kelincinya mengerang ketika gua mulutnya dirangsek kasar. Yifan tahu ia tak bisa menahan diri terlalu lama ketika berhadapan dengan tubuh penuh dosa di depannya. Ketika telinganya diperkosa erangan dan rintihan Joonmyeon dan lengannya dicengkeram minta toleransi sensasi, Yifan tak bisa melawan nafsu.
"Unn... ung..."
Joonmyeon tidak mendesah begitu sering, Yifan bahkan mencegah pemuda itu untuk emnarik napas dengan terus mengambil kuasa atas bibirnya. Menarik rambut Joonmyeon sehingga kepalanya memiring, menengadah ke belakang, bahkan menariknya dalam satu ciuman ganas sekali lagi...
"Nnh! Nngh!"
Punggung Yifan dipukuli. Pria Mandarin itu menyeringai saat tahu muka Joonmyeon panas sekali. Pipinya menggembung, menahan cairan di dalamnya.
"Telan."
Joonmyeon menunduk, tak berani menatap lawan mainnya.
"Telan, Myeon."
Sentuhan memutar pada puting kanan Joonmyeon membuatnya terpaksa menelan liur yang ia tampung dalam mulutnya. Entah itu miliknya atau milik Yifan, atau bahkan keduanya.
Ia harusnya merasa jijik. Tetapi tidak. Diperlakukan seperti itu justru membuat kejantanan Joonmyeon mengeras.
Dan ia tahu Yifan juga merasakan hal yang sama ketika si pria jangkung merangkak di atasnya, menggesekkan milik mereka.
Joonmyeon mulai panik saat kancing piyamanya dibuka, helai kain penutup badan disibak satu persatu. Bukan karena ia malu Yifan melihat tubuh telanjangnya (manik Yifan yang menyipit sudah cukup jadi radar bahaya), melainkan karena Yifan mulai merundukkan badan. Menyusuri tulang selangka dengan hidungnya, menghirup aroma parfum Joonmyeon yang mulai memudar. Mengecap kulit pucat dan menghiasnya dengan gigitan gemas.
Joonmyeon meringis.
"Jangan... ah! J-jangan digigit..."
"Tidak apa-apa," Yifan menjilat luka yang ia buat. "Ini musim dingin. Kalau besok kau pakai scarf, takkan ada yang bertanya."
Yifan mendengar Joonmyeon merintih saat ia melepas piyamanya sendiri, lalu melemparnya sembarang arah. Pria mungil itu terpana sejenak melihat perutnya yang memang sudah terbentuk sempurna, lalu gelagapan.
"Umm... Yifan... ini j-jam berapa?"
"Huh?" Si jangkung kaget ditanya seperti itu, tidak jadi bersiap dalam posisi menggagahi. Apa hubungannya dengan ritual cinta mereka? "Setengah satu. Kenapa?"
"A-aku cek dulu kamar Chanyeol dan Baekhyun." Dada bidang didorong pelan. Joonmyeon terbata dengan pipi merahnya. "B-biar aku suruh mereka tidur dulu, o-oke?"
Grep.
Langkah Joonmyeon terhenti. Dicekal.
Tentu tidak. Tidak setelah selama ini Yifan akan melepaskannya.
"Yifan..."
"Kau mau lari, hm?"
Lidahnya memijat cuping telinga lunak, menyesap dan menggigit hingga kelincinya merintih kegelian. Joonmyeon tak bisa kemana-mana, kedua tangannya digenggam erat dan kakinya ditahan dua tungkai kuat.
"Tidak... un..."
Kepala Joonmyeon terkulai ke belakang begitu jakunnya dijilat. Pelan namun pasti, Yifan membimbing pria mungil itu melalui remasan pantat dan ciuman lembutnya hingga kembali berbaring di ranjang.
Joonmyeon terengah tidak karuan.
"Yaa-aah..."
Punggung tangan menutup bibir bengkak, menyembunyikan desah yang hendak mengintip keluar. Yifan pelan menurunkan karet celananya. Mengendus daerah selangkangan, menggigit kejantanannya dari luar.
Ia puas ketika Joonmyeon tiba-tiba memberontak, kakinya menjejak. Yifan menggodanya lebih jauh dengan melepas celana dalamnya dan melumat lembut skrotumnya dengan jemari.
Joonmyeon memejamkan mata, memiringkan kepala. Malu.
"Ini pertama kalinya kau bercinta?"
Joonmyeon menggelinjang merasa udara panas ditiup masuk lubang telinganya.
"Joonmyeon."
"I-iya..."
Yifan memaklumi dalam hati.
"A-apa ini... pertama kalinya juga untukmu?"
Jauh dalam benak hatinya Joonmyeon tahu kalau jawabannya bukan. Kelihaian Yifan mempermainkannya adalah bukti.
"Ini pertama kalinya aku bercinta dengan pria."
Yifan bisa melihat kelegaan di mata bening Joonmyeon, dan itu membuatnya tersenyum kecil.
"Lubangmu sudah kulonggarkan sebelumnya. Apa menurutmu aku perlu menyiapkanmu lagi?"
Joonmyeon merona. "Apakah... apakah sakit sekali?"
"Mungkin," Punggungnya membusur secara otomatis putingnya dikatup gigi pria jangkung. "Tapi aku akan berusaha selembut mungkin."
"Aaah! Aahhh!"
Jerit Joonmyeon disumpal tangannya sendiri ketika kejantanannya masuk mulut Yifan, dimanjakan sedemikian rupa hingga tangannya tak mampu berbuat apapun selain meremas sprei putih hingga tak berbentuk. Yifan menaikkan kecepatan, kedua tangannya menjarah tonjolan keras pada dada Joonmyeon. Memuntir, mencubit, menekan-nekannya dengan ibu jari.
Ujung kejantanannya menghantam pangkal tenggorok Yifan, tetapi si pria jangkung tidak memelankan gerakannya. Rintihan Joonmyeon menggelitik telinganya, memompa nafsunya, meledakkan hasratnya untuk memanjakan pria mungil ini.
"T-tidak... berhenti... b-berhenti!"
Yifan takkan berhenti. Saripati Joonmyeon diteguk dalam senyum puas.
Ia meraih pelumas dari nakas dan diam-diam melumuri kejantanannya sementara Joonmyeon terengah dari pos-orgasme. Jarinya yang licin membuka jalan menuju surga dunianya. Satu, dua, gerak gunting, lalu tiga.
Joonmyeon tidak banyak mendesah. Sebaliknya, menggigit bantal dan menelan semua lenguh panasnya.
Yifan merunduk, mengangkat dua paha Joonmyeon ke atas. Kulit putihnya benar-benar menggoda untuk dihias. Ia melukis beberapa ruam dengan menyesapnya, membuat Joonmyeon kelepasan satu lenguh tanda menyerah. Yifan menyeringai, berniat memberi satu kenikmatan lagi saat lidahnya menari dan turun pada bola kembar Joonmyeon, turun pada lubangnya yang berkedut gatal—
"Hyaah!"
Duak!
"Ow!"
"M-maaf! Yifan!" Joonmyeon panik sendiri saat tidak sengaja menendang dahi Yifan kuat-kuat pakai kaki. Salah sendiri tidak memberi aba-aba, Joonmyeon betul-betul kaget ada sesuatu yang basah dan kecil bergerak-gerak dekat lubangnya. "K-kau tidak apa-apa?"
Memalukan, muka Joonmyeon merah setengah mati. Siapa yang menendang muka lawan mainnya di kali pertama bercinta? Hanya Joonmyeon.
Pria jangkung memejamkan mata, menekan pangkal hidung. Perih. Sialan, tendangan Joonmyeon kuat sekali...Joonmyeon merangkak ke depannya, menggumamkan permintaan maaf yang tak berujung dan berlutut untuk memeriksa hidungnya, bersyukur tidak sampai mimisan. Si pria mungil malu sekai, Yifan bisa lihat dari mimik mukanya.
"Tidak apa-apa, toh kau tidak sengaja."
Joonmyeon berjengit ketika Yifan tiba-tiba merengkuh tubuhnya yang posisinya sekarang lebih tinggi, karena ia berlutut dan Yifan duduk. Ia memejamkan mata, menahan mulut dengan empat jari saat Yifan melekatkan bibirnya pada dadanya seperti lintah yang tak mau lepas.
"Nyaaah..."
Joonmyeon baru tahu ia bisa membuat suara-suara seperti itu. Yifan menyimpan seringai menang, menghisap tonjolan kanan dan kiri bergantian.
Ketika paha Joonmyeon tak mampu lagi dijadikan tumpuan, keduanya jatuh ke belakang, telentang di atas ranjang yang berderit protes akan tekanan.
Yifan menarik diri.
Muka Joonmyeon benar-benar... minta digagahi.
"Tahan, Myeon."
Joonmyeon menggigit bibir tapi mengangguk. Lalu menarik napas panjang.
"Aaahng... Ahh..."
Ujung kaki putihnya menekuk merasakan panas di lubangnya. Yifan sempat menggoda kesabarannya dengan menggesekkan kepala kejantanannya, dan Joonmyeon mencengkeram lengan Yifan.
"Tidak sabaran?"
Ujung jemari panjangnya mengelus pinggang Joonmyeon, membuat gerak memutar, sesekali menuju lekuk v-nya, menggoda dengan jilatan panjang.
Joonmyeon mengeluarkan desah gemetar.
"Yifan, sudah..." Ia menggelinjang sekali lagi. Yifan melempar kepala ke belakang, "Sakit..."
"Sabar, Myeon," Yifan menggeram. "Uugh... ini masih separuh."
"MASIH SEPARUH?!"
"Siapkan dirimu, kurang empat inchi lagi."
"Y-Yifan, tunggu—jangan—nyaaah!"
Bibir tipis buru-buru disumpal dengan bibir lain. Gawat kalau sampai ada yang mendengar—walau mungkin tidak ada yang keberatan.
"Ssh," Yifan mengulum cuping telinga Joonmyeon. "Sudah, sudah. Maaf, Myeon. Sakit?"
Joonmyeon mengangguk, belum berani membuka mata. Bola kembar Yifan menabrak pantatnya dengan suara keras. Dan rasanya... umg, Joonmyeon merasa penuh, sungguh. Dan perih, begitu menyengat, tapi tak ayal ia merasa nikmat juga saat Yifan memposisikan miliknya sehingga menggesek sesuatu.
Ia bukan pria cengeng, ia berani sumpah, tapi kali ini dan punggungnya sakit bukan main. Apa Yifan berniat merobek pantatnya, huh?
"Aku akan bergerak." Nafas Yifan hangat mengenai lehernya. Joonmyeon mengerang, tetapi mengangguk.
Gerakannya bermula lambat, penuh pengertian. Yifan memonitor ekspresi Joonmyeon selagi memainkan miliknya. Tetapi otot lubang yang berkedut itu membuatnya tak tahan.
Detik berikutnya, Yifan menaikkan kecepatan.
Joonmyeon melihat putih. Bibirnya terbuka.
"Penuh, sudah..." Terlalu lelah untuk mengerang, ia mulai memohon. "Sudah penuh..."
"Umph... ungh, ungh, ungh!"
Bulu kuduk Joonmyeonmeremang mendengar Yifan menggeram.
"Cantik." Yifan mengecupi mukanya. "Sangat cantik."
"Aku l-laki-laki!"
"Tapi kau cantik."
Joonmyeon tak bisa menjawab ketika giginya sibuk menggigit bantal, menahan rasa nikmat yang disuarakan oleh rintih panas.
"Manis sekali," Duk. Duk. Duk. Suara pukulan bola kembar dan pantatnya beradu dalam ruangan dengan derit ranjang. "Kelinciku, oooh. Kelinciku sayang..."
"H-hentikan," desah pemuda itu. "Aku ini manusia, bukan kelinci. Kau menggelikan."
"Tidak," Yifan menahan dua tangannya di atas kepala. "Kau kelinciku. Kelinciku." Sekelebat kebingungan akan obsesi Yifan terhadap kelinci. Tapi Joonmyeon pikir kelinci itu lucu, dan ia suka kelinci. "Manisku."
"Yifan... mmph..."
"Milikku." Yifan membungkuk, berbisik pada telinganya. "Milikku." Ia meludah dalam telinganya. Joonmyeon berjengit. "Milikku!"
Tangan Joonmyeon gemetar ketika Yifan melepasnya, berbalik merengkuh punggungnya. Membawanya ke atas, terbuai oleh puncak yang hendak datang.
"Mmph... ngh..."
"Augh... Yaahh..."
Joonmyeon menggigit selangka Yifan, memberi bekas kepemilikan. Yifan balas menggigitnya.
Otot keduanya melemas, jatuh ke atas ranjang dengan desah lelah.
Si pria mungil tak percaya ini. Keperjakaan (lubangnya) telah diambil. Tetapi sensasinya impas. Ia tak pernah merasa selega ini selama hidupnya.
Termasuk dengan bergelung di samping pria yang pernah membuat jantungnya berdebar tak karuan.
Yifan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pos-orgasme adalah favoritnya. Memejamkan mata, menganalisa situasi dan mengira-ngira apa kiranya yang harus ia lakukan berikutnya saat Joonmyeon sudah mulai mempercayainya... ketika ia merasa pria itu terisak.
Yifan berguling. Menatap Joonmyeon yang menunduk. Menaikkan dagunya dengan satu jari.
"Myeon, kau menangis?"
"Y-Yifan," hidung si pria mungil memerah. Yifan menunduk untuk menggigitnya.
"Ada apa, Sayang?"
"Ah... k-kita lupa pakai pengaman..."
Yifan ingin tertawa, tetapi ia tahu Joonmyeon terlampau sensitif dan pasti akan merasa terhina.
"Untuk apa? Toh kau tidak akan hamil. Lagipula aku suka rasa otot lubangmu memijat penisku—"
"Y-yah!" Yifan tergelak setelah menerima cubitan pada lengan. "Bahasamu!"
"Kenapa? Aku tidak bohong, kok."
"J-jangan sevulgar itu, dasar!"
"Astaga, Kelinciku," Joonmyeon memekik kaget saat Yifan berguling ke atasnya, melumat bibirnya untuk entah yang keberapa hari ini. "Umm... ahh... manis sekali. Lucu sekali," Joonmyeon menampik tangan Yifan yang mengelus telinganya. "Kita sudah bercinta dan kau masih malu-malu begini? Mau berapa kali lagi kugagahi biar malu-malumu ini hilang, hn?"
Joonmyeon menyembunyikan muka panasnya pada selangka Yifan yang masih tergelak.
"Lihat, kelinci kecil sembunyi di lubangnya."
"Maukah kau berhenti memanggilku itu? A-aku bukan kelinci, dan rasanya aneh dipanggil begitu."
Ketika ia merasa lubangnya digelitik ujung telunjuk Yifan, Joonmyeon mengutuk dalam hati.
"Ronde dua kalau kau mau aku berhenti. Bagaimana?"
Joonmyeon menyerangnya dengan cubitan kesal. Yifan terkekeh. Tidak sakit sama sekali.
"Iya, iya, aku tahu kau lelah. Kita tidur saja."
Tirai belum ditutup, tapi tak ada yang peduli. Yifan meraih selimut, menutup raga telanjang keduanya. Joonmyeon dikuasai kantuk dan lelah, lalu mulai menutup mata.
"Apa kau mencintaiku?"
Samar ia mendengar Yifan bertanya.
"Mungkin..." Joonmyeon mulai terlelap. "Sepertinya begitu."
Bibirnya dikecup untuk terakhir kali.
"Terima kasih. Tidurlah." Seringai tipis terpoles. Yifan mengelus lembut surai malaikat di sampingnya.
Sayang sekali malaikat itu telah ia nodai...
"Waktunya bermain, Sayang."
.:xxx:.
Semua tokoh yang ada dalam fanfiksi ini bukan milik saya
Fanfiksi ini adalah hasil karya orisinil yang menyusupkan fiksi dalam fakta
EXO (c) SM Entertainment
Lubang Hitam (c) Crell
.
Tidak ada keuntungan finansial yang diambil dari pembuatan fanfiksi ini.
.
.
.
(10)
.
.
.:xxx:.
Karena Showcase untuk Sing For You adalah besok, semua memaksimalkan kesempatan mereka untuk sarapan di asrama. Sudha bisa dipastikan, sampai Tahun Baru nanti, mereka takkan bisa menyentuh empuknya ranjang lebih dari setengah jam.
Karena itu, yang bangun pagi bukan hanya Minseok saja. Kyungsoo dan
Dan, anehnya, Joonmyeon.
Minseok berhenti mengaduk empat cangkir kopi dan mendongak, menatap Joonmyeon yang berjalan pincang menuju kamar mandi. Dasar sial, mereka hanya punya satu dan harus berebut. Mungkin ia harus usul pada Yifan untuk pindah ke asrama yang lebih baik.
Tunggu, Joonmyeon pincang?
"Joonmyeon-ie?"
Pria bersurai hitam mendongak kaget. "Eh, Hyung? Selamat pagi."
"Pagi. Kenapa jalanmu begitu?"
Joonmyeon nyengir, tetapi tidak menjawab. Ketika Minseok mencium bau itu—bau sperma, dan rintih sakit rekan setimnya dari dalam kamar mandi, Minseok berang. Instingnya sebagai yang tertua bangkit.
Ia mengambil sendok kayu dan berjalan murka menuju kamar leadernya. Benar saja, Yifan terlelap setengah telanjang.
"WU YIFAN! KUBUNUH KAU! BERANINYA MENGOTORI JOONMYEON!"
"ARGH—YAK! APA-APAAN INI, GE?! ARGH, HEI! BERHENTI MEMUKULKU! HEI! HEI!"
.:xxx:.
"Kalian lihat?" bisik Sehun. "Myeon-hyung berubah."
"Berubah?" Jongdae bingung. Tumben. "Berubah apa?"
Keduanya melirik ke arah leader mereka, yang tengah duduk manis sambil makan manisan sosis buatan Chanyeol. Dan Yifan di sampingnya, mengusap sisa saus dari sudut bibir si pria mungil.
"Dia jadi... lebih..."
"Garing." Baekhyun tak peduli. Masakan Yeol-ie-nya selalu yang terbaik. "Dia jadi lebih garing."
Jongdae menjitak belakang kepala.
Sehun menyipitkan mata. Hanya penglihatannya saja yang memburuk, atau... leadernya dan mantan leadernya jadi terlihat seperti sepasang kekasih hari ini?
Aneh sekali.
"Kau tidak tahu, Sehun? Mereka jadian."
Lututnya terantuk meja kayu. Sehun kaget, menganga heboh. "Serius mereka jadian?"
Baekhyun mengangguk.
"Aish," bisik Sehun. "Bagaimana caranya aku memberitahu Joonmyeon-hyung soal Yifan-hyung kalau mereka sudah jadian begini..."
Baekhyun terdiam. Hanya mengelus paha Sehun sementara benaknya melayang.
.:xxx:.
"Oooi Chanyeol!"
Sesi istirahat sepuluh-menit dari latihan rutin mereka. Jaehwon-hyung memanggilnya kencang sekali. Chanyeol mengurungkan niat untuk makan dan beralih padanya.
"Ya?"
"Aku sudah bilang berapa kali?!" Chanyeol mengaduh kepalanya dipukul keras. "Kalau ereksi, urus dulu sebelum latihan! Aku tidak minat menonton burungmu naik-turun sementara kau melompat-lompat ikut koreo, tahu!"
"Yaaah!" Chanyeol menutup muka. "Memalukaaan!"
"Aku tidak suka koreoku dikotori hal-hal porno seperti itu!"
"Hyung jangan berteriak! Mereka bisa dengar! Tidak tahu aku malu, apa?!"
"Kenapa malu?! Semuanya sudah tahu kalau celanamu bertenda! Aku sudah bilang jangan pakai katun, kan?! Dan pakai celana dalammu!"
"Aku pakai celana dalam, kok!"
"Kalau kau pakai celana dalam tidak mungkin bisa menonjol seperti itu!"
"Bukan salahku kejantananku memang panjang! Kalau Hyung tidak percaya coba lihat sendir—"
"YAH! YAH!" Jongdae menjerit dari ujung studio. "KECILKAN SUARA KALIAN, ATAU LEBIH BAIK, DIAM SAJA SEKALIAN!"
"Menjijikkan." Kyungsoo mencibir pelan. Jongin tertawa kencang sekali sampai berguling-guling.
Chanyeol mendengus, lalu duduk di sudut, di samping Jaehwon yang mengusap peluh. Ia menerima sebotol air mineral, menegaknya, kemudian memainkan botolnya.
Koreo baru mereka untuk persiapan Showcase tidak berat, justru cenderung konyol. Dengan semua kostum itu, Chanyeol menemukan konsep kali ini menarik. Tapi tetap saja melelahkan.
"Nde, Chan." Jaehwon bicara lagi.
"Hm?"
"Aish, jangan merajuk begitu!"
"Aku tidak merajuk!"
"Lalu kenapa kau cemberut?!"
"Apa aku tidak boleh cemberut?! Apa hakku untuk cemberut dihapus selama aku berada di studio?!"
"Ya! Ya! Ya!" Chanyeol mengaduh saat digeplak sekali lagi. "Tidak sopan pada Hyungmu!"
"Hyung duluan yang melanggar privasiku—"
"DIAAAM!" Jongdae berteriak lagi. "AKU MAU TIDUUUR!"
"TIDUR DI TOILET SANA, BIBIR!"
"SIAPA YANG KAU SEBUT BIBIR, KUPING?!"
"YAH! YAH! KUSURUH PUSH UP EMPAT RIBU KALI KALAU KALIAN TIDAK BISA DIAM!"
Teriakan Jaehwon sukses memadamkan api permusuhan yang membara. Chanyeol dan Jongdae mendengus (keras) lagi sebelum kemudian tidur-tiduran di lantai studio yang dingin dan bau keringat.
"Nde, Chan."
"APA, SIH?! OW!" Chanyeol mengusak belakang kepala yang dipukul.
Jaehwon mendengus. "Mana manajermu?"
"Tadi dia keluar. Nanti dia kembali untuk menjemput kami."
"Anak baru seperti dia... Apa Minsoo memberimu makan?"
"Tentu saja, dan lebih baik dari Wooyoung-hyung. Tiap hari ada ayam goreng di meja."
"Tetap saja..." Jaehwon menyesap airnya. "Aku dengar rumor aneh tentang kalian. Masih di dalam gedung, sih."
"Rumor apa?"
"Katanya kalian punya manajer ganda?"
Chanyeol tersedak.
"Uhk! Tidak! Rumor dari mana itu?"
Jaehwon mengangkat sebelah alis, namun kemudian mengangkat bahu. "Kau tahu, rumor. Hei, ada apa lagi denganmu dan bocah itu?"
Chanyeol menatapnya kaget. "Bocah mana lagi?"
Jaehwon menuding Baekhyun yang baru kembali bersama Sehun. Chanyeol menatap Jaehwon aneh.
"Tidak ada apa-apa?"
"Bohong saja terus. Aku lihat sendiri kalian jadi aneh akhir-akhir ini?"
"Apa-apaan, sih."
"Cih, terus saja begitu. Kau ini seperti gadis pubertas saja kalau masalah cinta."
"Berisik."
"Chanyeol, kalau kau memang suka, katakan saja. Sebelum dia benar-benar diambil orang."
"Aish. Apa-apaan. Kami cuma teman."
"Cuma teman? Hm..." Jaehwon nyengir. Sungguh, Chanyeol lucu sekali kalau digoda seperti ini. "Aku pegang kata-katamu, oke? Cuma. Teman."
Chanyeol memutar bola mata. "Kalau tidak percaya, tanya saja padanya. Kami benar-benar cuma teman."
"Serius deh, kau dan semua egomu. Tidak masalah kalau kau menyukai pria, Chanyeol. Lagipula Baekhyun juga suka padamu."
"HYUUUNG!"
"Baekhyun! Hoi! Baek-hyun! Sini!" Menoleh, si anak anjing beringsut mendekat. "Katanya Chanyeol ingin bicara denganmu."
Mata Baekhun membola. Chanyeol menendang punggung pelatihnya.
"TIDAK!"
"Iya!" Jaehwon mendorong keduanya. "Sekarang selesaikan masalahmu di toilet, Chan!"
Chanyeol memberi Jaehwon jari tengah. Pelatihnya tergelak.
Baekhyun mengikuti dari belakang seperti anak anjing tersesat. Chanyeol menghela napas.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, maaf." Chanyeol menggaruk belakang kepala, menutup pintu toilet. "Jaehwon-hyung—"
"Apa yang mau kau bicarakan?"
Chanyeol sudah menduganya. Akhir-akhir ini Baekhyun dingin terhadapnya. Mengacuhkannya. Chanyeol tak tahu apa yang sudah ia salah perbuat.
Dan itu membuatnya agak marah.
"Bantu aku menurunkan ereksiku? Aku butuh jarimu. Nanti kau juga kubantu."
Baekhyun menatapnya agak lama, dengan mata jatuhnya yang berbinar redup.
Ini bukan kali pertama. Di antara para anggota, membantu satu sama lain saat membutuhkan bukan hal aneh. Jongin dan Sehun biasanya begitu, Jongdae dan Baekhyun juga. Lagipula, mereka ini pria sehat dengan hormon membludak tanpa outlet pengeluaran.
Hubungan mereka selalu begini. Teman-yang-saling-membantu-saat-membutuhkan, begitu kata Chanyeol.
Ia mengangguk. Chanyeol menyeretnya masuk bilik paling ujung.
Mungkin untuk sekarang, Baekhyun harus puas hanya dengan ini.
.:xxx:.
"A-apa aku terlambat?"
"Um, tidak," wanita berambut sebahu itu berdiri, lalu membungkuk sopan.
Minsoo balas membungkuk dari pintu restoran, sebelum kemudian tertawa akan kebodohannya. "Aih, kenapa aku membungkuk dari sini?"
Kim Myunghee tertawa kecil.
Keduanya bertemu melalui insiden kecil—atau lebih tepatnya, tabrakan di antara rak-rak mini market dan jatuhnya barang-barang dari keranjang belanja keduanya. Dan Minsoo yang terperangah di depan kasir seraya merebut selai cokelat yang sudah discan. Sebentar, Minsoo tidak pernah beli yang rasa cokelat.
"Umm, mungkin milik kita tertukar?"
Tepukan pada pundaknya membuatnya berbalik. Wanita tadi, yang sekarang tersenyum meminta maaf sambil menyodorkan toples kecil selai merah. Rasa stroberi.
"Ah, sepertinya begitu." Minsoo mengangguk, lalu mengambilnya. "Maaf, Nona Kasir. Tapi, seperti yang Anda tahu, selainya—"
"Kami tidak bisa membatalkan pembelian, mohon maaf."
Minsoo terhenyak. Wanita itu lalu mengambil toplesnya kembali.
"Tidak apa-apa, biar aku yang beli ini. Sekalian yang rasa cokelat satu lagi."
"Nona Kasir, biar kubayar belanjaannya juga."
Wanita itu tertawa kecil di balik tangannya.
"Astaga," wanita itu tersenyum manis. "Tuan, ini hanya selai. Anda tak perlu membayar semua belanjaanku—"
"Anggap saja ini salam perkenalan," Minsoo terbatuk-batuk. "Umm, Gyung Minsoo."
Uluran tangannya dijabat. Kulitnya lembut sekali, catat Minsoo dalam hati.
"Kim Myunghee. Uh, aku merasa tidak enak... bagaimana kalau besok kita makan siang bersama? Di Kwak & Family? Jam satu."
Undangan itu ia terima, tentu saja. Dengan syarat, Minsoo tidak boleh membayar tagihan makanan mereka.
Si Kasir berdeham, merasa canggung di depan keduanya yang lalu memerah malu.
"Apa Anda sudah menunggu lama?"
"Jangan 'Anda'," Minsoo duduk di hadapannya. "Panggil Minsoo saja. Lebih nyaman."
Myunghee terkejut. "Tidak apa-apa? Kalau begitu... panggil aku Myunghee saja."
"Tentu." Minsoo tampak berpikir sejenak. "Sebentar, aku seperti pernah melihat wajahmu..." Ia tak menyadari gerak gelisah kaki yang tersembunyi taplak meja berbordir. "Uh, di mana? Apa kita pernah bertemu?"
"Sepertinya tidak."
Senyum manis. Minsoo membalasnya, lalu memanggil pelayan untuk memesan dua nasi goreng kimchi dan satu pesanannya sendiri.
Myunghee mengaduk jus jeruknya. Mengamati pria awal tiga puluhan yang kini mengeok kiri-kanan seraya menggigit bibir.
"Kenapa An—Minsoo-ssi seperti tidak nyaman begitu? Apa ada seseorang yang menunggumu?"
"Ah? Tidak. Tidak, haha."
"Kau bekerja di mana?"
Baiklah, Minsoo menggigit bibir. Sepertinya mereka sudah masuk tahap perkenalan?
"Aku bekerja di SM Entertainment. Aku manajer."
Myunghee berhenti menyeruput jusnya.
"Manajer? Manajer apa?"
"EXO. Kau tahu, kan?"
"Aah," Myunghee tersenyum kecil. "Tentu saja, walau aku bukan fans mereka. Aku VIP," ia tertawa kecil.
"Kau sendiri, Myunghee-ssi?"
"Aku... penulis lepas di Seoul Times." Ada jeda aneh pada ucapannya, tetapi Minsoo tak mempermasalahkan. "Kadang aku menulis di kolom opini. Kadang fashion, kadang resensi film."
"Begitu?" Pesanan mereka datang. Minsoo meraih sendok dan garpu. Kalau boleh jujur, wanita di depannya ini taksiran usia pertengahan dua puluhan. Jauh lebih muda darinya. Tetapi ia menarik. Dan cantik. Minsoo takkan keberatan bertemu dengannya lagi... kalau boleh?
Minsoo tersenyum sendiri, lalu mulai makan dalam tenang. Gila, apa dia jatuh cinta?
"Bagaimana bekerja di SM?"
"Penuh tekanan, karena aku staff baru... sekitar 2013 lalu aku baru masuk. Jadi, yah, aku masih harus banyak belajar jadi manajer. Kau sendiri, bagaimana menurutmu SM?"
Myunghee tersenyum kecut.
"Kalau boleh jujur... aku membencinya."
Minsoo berhenti mengunyah, kaget dengan perubahan ekspresinya.
"Uh?"
"Ah, maaf," Myunghee mengayunkan tangannya. "Aku tidak sopan sekali. Maaf."
"Tidak, tidak apa-apa. Ceritakan saja."
Myunghee tersenyum meminta maaf. "Aku tidak bisa cerita banyak. "
"Apa... kau pernah ikut casting lalu ditolak?"
Jauh sekali. Tetapi Myunghee buru-buru mengangguk.
"Yah, mirip seperti itu."
"Aah, tidak heran. Sistem casting mereka memang ribet sekali. Kau tahu, pernah ada satu trainee yang—"
Dan Minsoo terus bicara setelahnya. Myunghee mendengarkan dengan teliti. Ia bercerita banyak sekali, dari pekerjaannya ke keluarganya, ke teman-temannya, hobinya, minatnya, bahkan sampai kehidupan cintanya yang nol besar.
Myunghee terkesima. Pria di depannya... begitu bebas bicara. Bebas bercerita. Bebas tertawa, dan ia mendapati dirinya ikut tertawa.
"Jadi, kau tahu—uhuk!" Minsoo terbatuk-batuk, tersedak limun yang mengambang. Myunghee buru-buru menyodorkan tisu. "Ah, aku terlalu semangat. Uhuk!"
Myunghee tertawa lagi. "Pelan-pelan. Limunnya tidak akan lari, kok."
Minsoo nyengir.
Jarum jam menunjuk angka dua tanpa mereka sadari. Minsoo menoleh dan mengernyit kaget, lalu memanggil pelayan.
"Aku harus kembali bekerja." Ia berkata pada si pelayan. "Ambilkan pesananku."
Manik cokelat Myunghee membola melihat si pelayan kembali dengan empat kantung plastik berisi ayam goreng aneka rasa.
"Kau pesan semua itu?"
"Yah, umm, kau tahu," Minsoo menggaruk tengkuknya. "Sembilan anak manusia yang kurawat semuanya suka daging ayam. Hampir setiap hari aku belikan mereka ini."
Melihat Myunghee masih tidak bisa berhenti menganga, ia tertawa.
"Tenang, yang ini aku yang bayar. Terima kasih untuk nasi goreng kimchinya," Mereka sudah bertukar nomor telepon, dan Minsoo menoleh lagi sebelum membuka pintu. "Akhir pekan, jam enam, di tempat ini?"
Myunghee mengangguk, tersenyum kecil. "Jam enam."
Manik cokelat mengawasi mobil hitam itu melaju pergi, sebelum kemudian empunya mengerang.
Aah, bodoh, bodoh! Harusnya dia tahu kalau Gyung Minsoo itu adalah Gyung Minsoo yang itu! Orang yang membuat mukanya merah dan jantungnya tak bisa diatur adalah orang yang sama dengan yang ia buat kebingungan di konferensi persnya itu!
Myunghee tak tahu bagaimana bisa semua ini terjadi. Ia sungguh-sungguh tertarik dengan orang itu—senyum lebarnya dan tingkah anehnya. Bahkan butuh keberanian lebih untuk mengundangnya makan bersama. Tapi sekarang?
Myunghee terjebak.
Ia hanya bisa bersyukur ia memutuskan untuk memotong rambutnya di saat yang tepat. Jika tidak... mungkin Minsoo akan sadar siapa dia.
Ponselnya bergetar. Jemari lentik menekan tombol buka.
Email masuk dari editornya.
From: editor K-Wave
Subject: Urgent!
Lee Kangjoo, segera kirim jurnalmu via e-mail. Deadlinenya akhir minggu ini.
.:xxx:.
Kalau boleh jujur, ini pertama kalinya Minseok ikut Gala Dinner. Bahkan semasa ia masih jadi trainee, ia tidak pernah mencicipi rasa masakan Gala Dinner yang sangat diagungkan.
Beruntung ia punya kesempatan menggantikan Joonmyeon hari ini (si pria manis tak bisa berjalan. Minseok kasihan sekali. Untung ia sudah memukul muka Yifan dengan penggorengan). Setelah bingung memilih blazer mana yang hendak ia kenakan dan diteriaki Yifan agar cepat bersiap, satu jam kemudian ia sampai di COEX Atrium yang sudah disulap jadi Hall mewah dengan puluhan meja putih lengkap dengan atribut elitnya.
Minseok membalas sapaan beberapa trainee SM, berbincang dengan mereka sejenak. Taeyeong, trainee yang Minseok kira punya kesempatan terbesar untuk debut. Jaehyun, Doyoung, dan bocah Thailand yang ia lupa namanya (namanya panjang sekali, oke? Bukan berarti Minseok rasis).
Gala Dinner adalah acara makan malam bersama yang diadakan oleh SM tiap beberapa bulan, dengan mengundang sejumlah artis sukses mereka dan para petinggi, dan—ini yang paling ditunggu-tunggu, undangan khusus untuk beberapa trainee yang bersinar paling terang. Ini adalah ajang mereka untuk bersosialisasi dan ramah tamah dengan para artis, sekaligus menambah koneksi kelak jika mereka sudah terkenal dan sukses.
Keyakinan di antara trainee adalah, undangan emas Gala Dinner sama dengan undangan untuk debut.
Mereka tertawa sejenak akan lelucon dari si bocah Thailand, sebelum Minseok melihat sosok familiar yang berjalan di belakang mereka.
Itu...
"Aku permisi, dulu, ya. Silahkan nikmati Dinner-nya."
Keempatnya mengangguk, melambai pada Minseok.
Pria berkacamata yang memunggunginya tdak sadar akan kehadirannya. Minseok tersenyum kecil sebelum menepuk pundaknya.
"John? Kau sudah pulang?"
"Yah, Hyung!" Setelah pulih dari kagetnya, pria berkacamata itu protes. "Jangan panggil aku begitu di sini. Tidak ada yang kenal nanti. Namaku saja!"
Minseok terkekeh. "Bercanda, bercanda. Jadi... pewaris tahta SM sudah pulang?"
Pria itu—Lee Hyunkyu, main-main meninju lengan Minseok dan terkekeh. Tetapi keduanya berhenti ketika Youngmin berjalan melewati mereka, melempar lirikan sinis dan anggukan pada Minseok.
Minseok berbisik. "Dia masih tidak suka padamu, ya?"
"Youngmin-sajangnim memang begitu," Hyunkyu menghela napas panjang. "Aku tidak tahu apa salahku, jadi aku diam saja."
"Sabar," Minseok menepuk punggungnya. "Mana ayahmu? Kapan kau kembali ke Inggris? Bagaimana Oxford?"
"Ayah akan datang, nanti. Biasa saja. Aku lebih suka Harvard. Dan, aku sudah lulus, Hyung," jawab Hyunkyu geli. "Ayah bilang aku akan tetap di sini. Setelah ini, aku akan resmi bekerja di SM."
"Dan jadi CEO menggantikan ayahmu?"
Hyunkyu menghela napas panjang, tersenyum kecil.
"Kuharap begitu."
.
.
.
[Tbc]
.:xxx:.
AN: Gabisa bacot banyak-banyak! Terima kasih untuk semua favs, follows, review, dan tolong review lagi untuk chap ini! :D Tolong berhenti nimpukin gue pakai sandal, sepatu, bata, gergaji, dan kartu kredit (?) karena gue potong terus NC-nya karena ini udah ada full version, yay.
(Mohon dibaca malam hari saja kekeke)
Ada yang nanya akun lain, ya? Aku cuma aktif di ig aja sih, (double underscore)rhey. Follow and mention for follback and then we can fangirl/boying together hehehe
edit! 280616
Ada yang bingung soal karakter non-EXO di sini ya? Ini aku bikinin mini-note-nya :3
Gyung Minsoo: Manajer EXO yang baru (settingan dari SM), kerjanya ganda bareng Yifan. Sementara Yifan jadi otaknya, dia yang kerja di lapangan karena Yifan ga boleh sampai keliatan publik.
Kim Wooyoung: Manajer EXO yang lama, yang sekarang dirawat di rumah sakit.
Lee Kangjoo/Kim Myunghee: Yep, you guessed it right! Wanita ini punya identitas ganda. Satu sebagai Kangjoo, jurnalis tabloid ternama di KS (yang waktu itu nanya macem-macem di konferensi persnya Minsoo) dan yang kedua sebagai Myunghee, wanita normal yang pernah ketuker selai sama Minsoo dan sebenernya mulai suka sama Minsoo secara tulus.
Lee Hyunkyu: Ada yang udah kenal, mungkin? Huehehe, ini dia anak laki-lakinya Lee Sooman yang karirnya udah menanjak di SM :) Boleh browsing soal dia, loh. Dia penulis liriknya Let Out the Beast.
