Dating With The Dark
Remake Novel dengan Judul yang sama
Karya Shanty Agatha
Park Jimin x min Yoongi
And other cast
Warning :
OOC, Typo(S), Gs, Mature Content
Rate M
Don't like don't read!
.
.
.
.
.
Chapter 9
Yang dirasakan Yoongi pertama kali adalah perasaan hangat dan jatuh cinta yang mendalam. Yoongi tersenyum manis, menatap lilin-lilin berwarna biru yang menyala redup, jumlahnya ada sembilan buah dan diatur setengah lingkaran, tampak begitu indah. Yoongi mengernyit ketika menelaah perasaannya. Rasa yang dirasakannya bukanlah rasa takut yang membuatnya mual dan sakit, rasa yang dirasakannya adalah kebahagiaan, hampir mendekati euforia mendadak, kenapa bisa begitu?
Sebelum Yoongi bisa mendapatkan jawabannya, tiba-tiba saja sosok Jimin sudah ada di itu menatapnya dengan tatapan mata redup yang khas dan dalam, tatapan mata penuh kesedihan. "Apakah kau mengerti apa artinya itu?" Jimin mengedikkan dagunya ke arah lilin-lilin itu, dan tiba-tiba saja Yoongi merasa sesak napas.
Yoongi langsung membuka matanya, menatap langit-langit dan begitu tegang. Napasnya terengah dan dia merasa gelisah. Mimpi lagi, mimpi tentang Jimin lagi. Ketika dia menolehkan kepalanya, Yoongi tersentak mendapati Jimin ada di sana. Lelaki itu duduk di kursi yang diseret mendekati ranjang, termenung di sana dan tampaknya sudah lama menatap Yoongi yang tertidur. Matanya tampak tajam, menatap dalam. Lelaki itu sepertinya sudah lama duduk di sana mengawasi Yoongi.
"Mimpi buruk?" suara Jimin terdengar serak dan lembut. Yoongi mengernyitkan keningnya, semua informasi yang diberikan kepadanya menunjukkan bahwa lelaki ini sedang menargetkannya untuk menjadi korban berikutnya, tetapi sekian lama Yoongi dalam tahanannya dan lelaki ini tidak segera membunuhnya. Apakah yang direncanakan oleh Jimin sebenarnya? Yoongi mengangkat tubuhnya hingga duduk di atas ranjang, beringsut sejauh mungkin dari Jimin, membuat lelaki itu mengangkat alisnya dan menatap Yoongi penuh arti, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
"Mimpi apa?" Jimin bertanya lagi, dan hal itu membuat pipi Yoongi merona. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia bermimpi mengalami perasaan euforia bersama Jimin bukan?
"Bukan apa-apa." Yoongi merasakan keringat mengaliri dahinya, meskipun kamar ini berpendingin. Mimpi tadi rupanya telah sangat mempengaruhinya, entah kenapa.
Lilin berwarna biru itu, kenapa seolah-olah Yoongi harus bisa mengingat apa maknanya? Dan apa hubungan ini semua dengan Jimin, lelaki itu pasti tahu sesuatu, pasti. Karena Yoongi yakin bahwa Jimin lah yang telah meninggalkan tanda itu di mana-mana. Di restoran waktu dia kencan makan malam dengan Namjoon, di dapurnya waktu dia diculik, dan di kamar ini ketika dia sadarkan diri pertama kali. Yoongi harus bertanya kepadanya.
"Apakah arti lilin berwarna biru yang ditata seperti itu?" Yoongi menyuarakan pemikirannya, menatap Jimin, setengah takut, setengah menantang. Lelaki itu seharusnya memberitahu Yoongi. Apapun yang dia tahu. Yoongi tidak akan berhenti bertanya sampai dia mendapatkan jawaban. Jimin sendiri, tidak disangka malahan menatap Yoongi dengan tatapan sedih.
"Kau tidak ingat?"
Yoongi mengernyitkan keningnya. Ini hampir sama dengan mimpinya, Jimin menatapnya dengan tatapan sedih, membuat Yoongi merasa bersalah, membuat Yoongi merasa bahwa seharusnya dia tahu apa arti lilin-lilin itu.
"Aku mengalami amnesia, setelah kecelakaan itu." Mata Yoongi menyipit, "Kecelakaan yang membunuh Ayahku." Matanya menatap Jimin penuh tuduhan. Tetapi rupanya lelaki itu tidak terpengaruh dengan tatapan mata Yoongi, dia menatap perempuan itu datar.
"Amnesia. Sayang sekali kau tidak bisa mengingatnya Yoongi." Tiba-tiba jemari lelaki itu terulur, dan Yoongi tidak bisa menghindar ketika lelaki itu meraih jemarinya dan mengangkatnya ke mulutnya, lalu mengecupnya lembut, "Kuharap kau bisa mengingatnya nanti."
"Aku tidak bisa mengingatnya karena aku amnesia" sela Yoongi jengkel, "Katakan padaku apa arti lilin-lilin itu dan kenapa kau selalu menunjukkannya kepadaku? Apa maksudmu? Kau ingin menggangguku?" Jimin menatap Yoongi tajam, "Aku hanya ingin kau mengingatnya."
"Aku tidak bisa mengingatnya!" Yoongi setengah menjerit, menatap Jimin dengan frustrasi.
Dan kemudian, tanpa disangkanya, secepat kilat Jimin mendorong tubuh Yoongi ke atas ranjang dan menindihnya. Napasnya begitu dekat dengan Yoongi, bibirnya ada di depan bibirnya, hanya berjarak beberapa inci, membuat Yoongi gugup dan gemetar, kedua tangannya ada di samping kepalanya, masing-masing ditahan oleh Jimin. Tubuh lelaki itu menguncinya, kakinya menekan kaki Yoongi, membuatnya tidak bisa bergerak.
"Mungkin aku akan membantumu supaya kau ingat." Lalu lelaki itu menundukkan kepalanya dan mencium Yoongi. Ciumannya selalu terasa seperti ini. Yoongi setengah meronta, tetapi tidak berdaya ketika Jimin melumat bibirnya penuh gairah. Jimin selalu menciumnya tanpa peringatan dan efek yang dirasakan oleh Yoongi selalu sama, seluruh tubuhnya menggelenyar, rasanya seperti aliran listrik yang merayap dari ujung kepala ke ujung kakinya, membuatnya gemetar dan meremang.
Lidah lelaki itu agak memaksa, menguakkan bibir Yoongi sehingga terbuka lalu menyeruak masuk dan menjelajah di sana, membagi panas dan gairahnya yang menggoda lidah Yoongi. Yoongi sibuk menolak sekaligus menahan gairahnya. Oh astaga, dia hanyalah perempuan yang tidak berpengalaman, apa dayanya menghadapi lelaki yang sangat ahli mencium ini? Seluruh diri Yoongi gemetar akan ciuman Jimin yang membakar, lelaki itu melumat bibirnya, benar-benar melumatnya, seakan sudah sekian lama dia menanti untuk melakukan hal ini, tidak ada satu jengkalpun bibir Yoongi yang terlewat oleh cecapan lidah dan bibirnya, kadang Jimin menyesap ujung bibir Yoongi, kadang memberikan kecupan-kecupan kecil yang menggoda, kadang langsung memagut bibir Yoongi dengan gemas, dan kadang lidahnya memilin lidah Yoongi, mengajarinya cara memuaskannya dan membalas ciumannya.
Yoongi merasakan kepalanya pening dan dorongan gairah itu menghentaknya, datang dari sensai panas yang menyengat di pangkal pahanya, rasa yang tidak disangkanya akan muncul dari sana. Oh Ya Ampun! Bagaimana mungkin Yoongi bisa merasa bergairah atas cumbuan lelaki ini?
"Tidakkah kau ingat ini Yoongi?" Jimin memiringkan kepalanya dan mendesah di telinga Yoongi, lalu menggoda dengan memagut telinganya, napasnya terasa hangat di sana, "Tidakkah kau ingat bibirku ini?"
Apakah ini berarti Yoongi pernah bernama Jimin sebelumnya?
Apakah ini berarti Yoongi pernah bercumbu dengan Jimin seperti ini sebelumnya?
Mungkinkah itu...?
Tiba-tiba kelebat bayangan itu muncul begitu saja, dua tubuh yang menyatu. Sama-sama telanjang dan menyatu, dan itu adalah Yoongi dan Jimin!
Yoongi terkesiap dan berusaha meronta meskipun tangannya masih ada dalam cengkeraman Jimin, dia membelalakkan matanya ketakutan.
"Apa yang kau lakukan kepadaku? Apakah kau memberikan obat kepadaku dan membuatku berhalusinasi?" Jimin tersenyum tipis mendengarkan perkataan Yoongi, "Berhalusinasi? Kenapa kau menuduhku seperti itu? Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa 'halusinasimu' itu adalah sebuah kenangan?"
Yoongi meringis. Kenangan? Bagaimana mungkin dia punya kenangan? Yoongi tidak bisa mengingat, dia tidak bisa mengingat!
.
.
.
Sementara itu Namjoon menatap komputernya, semua data pemerintah tentang Choi Siwon muncul di hadapannya. Lelaki itu datang ke negara ini satu tahun yang lalu, membawa nama besar perusahaannya yang membuat semua perusahaan berlomba-lomba untuk mendapatkan investasi darinya. Kemudian dia memilih bekerjasama dengan perusahaan milik Kim Kangin.
Namjoon tidak pernah menghubungkan hal ini sebelumnya, dia berpikir adalah wajar, jika Choi Siwon memilih bekerjasama dengan perusahaan yang dimiliki oleh taipan kaya asal Jerman-Korea itu yang akhirnya kini memilih menetap di negara ini bersama keluarganya. Perusahaan Kangin adalah salah satu yang paling maju dan potensial disbanding saingannya di bidang sejenis. Namjoon hanya tidak pernah menyangka bahwa seluruh keputusan ini berhubungan dengan Yoongi.
Seharusnya dia mengingatnya, Yoongi- lah yang meng-golkan tender Choi Siwon, seharusnya dia sadar bahwa semuanya berhubungan. Namjoon mengernyitkan keningnya ketika membaca informasi itu, Choi Siwon telah menyewa properti atas namanya, di sebuah kompleks perumahan mewah yang dijaga ketat, padahal setahu Namjoon, Choi Siwon mempunyai rumah lain yang ditinggalinya selama berkunjung ke negara ini. Memang tampaknya benang merahnya terlalu tipis, tetapi bagaimanapun juga, Ini patut untuk diselidiki, Namjoon akan segera mengkoordinasi orang-orang terbaiknya untuk mengawasi di sana, mencari keberadaan Yoongi dan menangkap Sang Pembunuh.
.
.
.
"Aku pernah mengecupmu di sini." Jimin meraih jemari Yoongi dan mengecupnya lembut, membuat sekujur tubuh Yoongi menggelenyar. "Dan juga di sini." Lelaki itu kemudian membalikkan telapak tangan Yoongi, mengecup pergelangan tangannya dan kemudian bibirnya merambat naik, ke bagian dalam siku Yoongi, dan sekali lagi menghadiahinya dengan kecupan lembut. Yoongi mengernyit, dia berusaha meronta, tetapi Jimin masih menahannya dengan tubuhnya, tangannya yang sebelah juga masih di cengkeram oleh lelaki itu sehingga seluruh usaha Yoongi tidak ada gunanya.
"Jangan meronta Yoongi, aku tidak mau menyakitimu." Jimin berbisik dengan suara rendah, membuat Yoongi menahan gerakannya, gemetar. "Jangan sentuh aku." Yoongi bergumam sambil mengernyit, "Kau tidak boleh melakukannya."
"Siapa bilang?" Jimin mengecup dagu dan rahang Yoongi dengan menggoda, suaranya misterius, tatapannya menggoda, "Aku bisa melakukan apapun yang aku mau padamu, Yoongi." Bibir Jimin mulai menyentuh bibir Yoongi, napasnya terasa hangat, dan Yoongi tahu bahwa Jimin akan menciumnya dalam sedetik…
Kemudian tiba-tiba pintu kamarnya diketuk, membuat tubuh Jimin menegang. Matanya berkilat marah dan bibirnya membeku hanya satu inci dari bibir Yoongi. Dia menarik kepalanya dan menatap ke pintu dengan geram, merasa tidak senang atas gangguan yang tidak menyenangkan di saat yang tidak tepat itu, "Siapa itu?" Jawaban dari pertanyaan itu berasal dari sebuah suara yang mengejutkan membuat Yoongi mengernyitkan keningnya dan mendesah karena terkejut, merasa mengenali suara itu.
"Ini aku. Ada hal penting yang ingin kukatakan."
Jimin yang mendengar suara Sulli, tak kalah terkejutnya, tidak menyangka bahwa Sulli akan seberani itu mengambil resiko untuk membuka kedok penyamarannya sendiri di depan Yoongi. Dan yang paling membuat Jimin geram adalah karena Sulli begitu beraninya mengganggu saat-saat pribadinya bersama Yoongi. Perempuan itu mulai menjadi pengganggu dalam rencananya, bahkan Jimin mulai merasa menyesal karena melibatkan Sulli dalam rencananya untuk Yoongi. Selama ini Jimin masih menoleransi Sulli karena masih menghormati mendiang kakaknya yang merupakan sahabat Jimin. Tetapi rupanya sekarang Jimin harus bertindak tegas.
"Siapa itu?" Yoongi bergumam bingung, lalu ketika dia benar-benar yakin akan pendengarannya, dia mengalihkan tatapannya dari pintu ke arah Jimin dengan bingung, "Siapa itu?" ulangnya bingung. Astaga…suara itu mirip suara Sulli. Jimin menatap Yoongi datar, "Aku harus pergi, nanti kita akan melanjutkan ini, Yoongi." Suaranya penuh peringatan. Kemudian dengan gusar, Jimin bangkit dan melepaskan tindihannya dari tubuh Yoongi, lalu berdiri dan tanpa kata maupun penjelasan kepada Yoongi, lelaki itu melangkah menuju pintu dan keluar dari kamar itu.
Yoongi langsung terduduk, menatap ke arah pintu tempat Jimin pergi. Lelaki itu tidak menjawab perkataannya, mungkinkah itu tadi suara Sulli? Tapi bagaimana mungkin? Mungkin itu hanyalah salah satu pegawai Jimin yang suaranya mirip dengan Sulli. Yoongi menghela napas panjang, berusaha mengusir pikiran-pikiran aneh yang menghantuinya.
"Kenapa kau menggangguku, Sulli?" Jimin menatap marah ke arah Sulli yang sekarang berdiri di depannya yang masih berpenampilan seksi, kali ini berpakaian serba hitam, rok mini hitam
yang pendek dan atasan ketat senada. Perempuan ini bebas keluar masuk rumah Jimin karena seluruh penjaga mengira dia adalah orang kepercayaan Jimin. Tetapi mulai saat ini Jimin memutuskan bahwa Sulli hanya boleh masuk tanpa seizinnya, perempuan ini telah berani melanggar teritorial pribadinya dan mengganggunya.
Sulli sendiri menatap Jimin dengan tatapan mata merayu, dia tidak peduli dengan kegusaran di mata Jimin. Ketika dia datang tadi, salah seorang pengawal mengatakan bahwa Jimin sedang berada di kamar tempat dia menyekap Yoongi. Perasaancemburu langsung membakarnya, membuat kepalanya panas dan hampir gila ketika membayangkan apa yang dilakukan Jimin berduaan saja dengan Yoongi di kamar. Dia tidak boleh membiarkan mereka berdua berasyik masyuk di dalam kamar! Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Jimin adalah miliknya dan Yoongi harus menyingkir jauh-jauh. Dan kalau rencananya berhasil, sebentar lagi Yoongi akan terpisah jauh dari Jimin.
"Aku tidak ingin kau bersama perempuan itu di dalam." Sulli memajukan dagunya berani, "Kenapa kau menyibukkan dirimu dengannya Jimin, dia perempuan tidak tahu terima kasih, seharusnya kau membunuhnya saja. Tidakkah kau lebih memilih bersamaku? Aku akan memberikan segalanya untukmu, Jimin." Jimin langsung meradang melihat betapa tidak tahu dirinya Sulli. Dia menatap Sulli dengan pandangan jijik, memundurkan tubuhnya seolah perempuan itu adalah wabah.
"Aku tidak pernah punya pikiran sedikitpun untuk membuang waktuku bersamamu, Sulli. Seharusnya kau sadar ketika aku mengungkapkan hal itu dengan halus, tetapi rupanya isyarat halus tidak berguna bagimu dan aku harus memperlakukanmu dengan lebih kasar, maafkan aku harus mengatakan ini, tetapi kau harus berhenti bersikap menjijikkan dan menggangguku."
Kata-kata kasar Jimin langsung membuat Sulli pucat pasi, dia membelalakkan mata, luka yang dalam tampak di sana, tetapi kemudian Sulli berhasil menguasai diri, dia malahan mendekati Jimin dan menyentuh lengan lelaki itu dengan menggoda.
"Jimin, jangan menipu dirimu seperti ini, aku tahu beberapa kali kau melirik bagian tubuhku yang seksi ini, aku tahu kau seorang lelaki yang penuh gairah, dan mengingat sekian lama kau tidak melakukannya, kau butuh pelampiasan, dan aku ada disini, sangat bersedia menjadi pelampiasanmu." Jimin menepiskan jemari Sulli dari lengannya, dan ketika perempuan itu terus mendekatkan tubuhnya, Jimin mencekal dagu Sulli dan merentangkan tangannya, mendorong perempuan itu menjauh serentangan tangan dengan jarinya masih mencengkeram dagu Sulli.
"Aku bukanlah hewan..." desis Jimin, "Yang melakukan seks hanya untuk melampiaskan birahinya. Dan meskipun aku sedang bergairah..." tatapan Jimin menelusuri tubuh Sulli dengan melecehkan, "Kau sudah jelas bukanlah perempuan yang kubayangkan untuk memuaskannya."
Dengan kasar Jimin melepaskan dagu Sulli dan melangkah mundur, tatapannya penuh ancaman. "Menjauhlah Sulli, sebelum aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal karena menggangguku." Jimin tidak main-main dengan perkataannya, dia akan membunuh Sulli kalau itu diperlukan. Dan kemudian, setelah melemparkan pandangan jijik sekali lagi kepada Sulli, Jimin membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.
Sulli mengelus dagunya yang memerah karena cengkeraman Jimin dengan marah, matanya membara karena sakit hati, dan benaknya dipenuhi kebencian kepada Yoongi. Jimin telah menolaknya dengan kasar, tetapi Sulli tidak akan menyerah, dia yakin bahwa di dalam lubuk hatinya Jimin tertarik kepadanya, lelaki itu hanya sedang teralihkan perhatiannya karena kehadiran Yoongi.
Yoongi...
Dengan penuh kebencian, Sulli menatap ke arah pintu besar yang terkunci, tempat Yoongi terkurung di dalamnya. Yoongi adalah pengganggu. Satu-satunya halangan bagi Sulli untuk memiliki Jimin. Dan Yoongi harus dilenyapkan!
.
.
.
"Saya mulai kuatir dengan keberadaan Sulli yang terlalu dekat." Yochun melirik ke arah layar-layar monitor yang menampilkan gambar-gambar dari kamera pengawas di rumah besar ini. Di salah satu layar tampak gambar di mana Sulli masih berdiri dengan seluruh tubuh menegang di depan pintu kamar Jimin, menatap penuh kebencian ke arah sana.
Jimin juga menatap ke arah layar itu dan mengedikkan bahunya,"Aku sudah berusaha menyadarkannya bahwa obsesinya kepadaku adalah harapan yang sia-sia, tetapi rupanya dia terlalu bebal untuk menerima kenyataan." Yochun menganggukkan kepalanya dan menatap tuannya cemas, "Dia bisa membahayakan seluruh rencana."
"Maka suruh orang untuk mengawasinya, jangan sampai dia berencana sesuatu yang tidak kita ketahui." Yochun menatap setuju, "Saya akan mengawasinya, saya berfirasat bahwa dia mempunyai rencana tidak baik." Kemudian, di tengah keheningan yang tercipta di antara Jimin dan Yochun, suara telepon di meja itu berbunyi. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nomor telepon itu, dan hanya berita pentinglah yang boleh di sampaikan melalui telepon itu.
"Ya." Jimin menjawab telepon itu dengan singkat dan waspada.
"Tuan Jimin."
Itu suara Seokjin, salah satu anak buah Jimin, ahli menyamar dan memang sudah disiapkan sejak dini untuk menyusup ke agen pemerintah. Tidak pernah ada yang bisa menduga, bahwa Seokjin adalah agen ganda, dan perempuan inilah yang menjadi kunci penting langkah Jimin sehingga bisa lebih maju daripada Namjoon.
"Apakah saluran yang kau pakai aman?" Jimin masih waspada. "Aman, Tuan." Suara Seokjin merendah, "Saya rasa tuan harus bergerak sekarang, Namjoon malam ini mengadakan rapat koordinasi mendadak dengan semua agen, saya rasa dia telah mendapatkan petunjuk yang menghubungkan Tuan Siwon dengan Yoongi, dia memerintahkan pengawasan atas semua properti yang disewa atas nama Tuan Siwon, yang saya tahu, tempat anda sekarang masuk di dalam list yang Namjoon bicarakan." Jimin mengernyitkan keningnya. Kenapa Namjoon bisa menghubungkan semuanya secepat itu? Dia pikir lelaki itu akan membutuhkan waktu lama untuk menghubungkan benang merahnya.
Entah ini semua karena Namjoon tidak sebodoh yang Jimin pikirkan, atau karena ada pengkhianat di lingkup dalam Jimin, mata Jimin menyipit, mungkin saja firasat Yochun benar, bahwa Sulli benar-benar telah melakukan sesuatu yang buruk. "Baiklah. Terima kasih Seokjin." Lalu dia menutup teleponnya dan menatap Yochun yang masih di sana, menatapnya ingin tahu.
"Keadaan darurat, jalankan rencana pembersihan." Gumam Jimin tenang, yang ditanggapi dengan anggukan kepala Yochun.
.
.
.
Di seberang sana, setelah menutup telepon, Seokjin menghela napas panjang dan menatap ke arah ke kantor tempat Namjoon mengadakan rapat penting bersama semua agennya, dia tadi pamit dengan segera untuk meninggalkan meeting. Tidak ada satu agenpun yang curiga karena dia pergi keluar mendadak di tengah meeting, malahan semua agen tampak mencemaskannya dan menyuruhnya pulang dengan segera. Seokjin memang telah menggunakan kepandaian beraktingnya untuk berpura-pura sakit dan izin meninggalkan meeting itu di tengah-tengah – di saat yang dia perkirakan sudah cukup untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Rupanya aktingnya berhasil, Seokjin tersenyum mengingat ekspresi cemas di wajah teman-teman agennya, dan terutama di wajah Namjoon. Soekjin senang Namjoon mencemaskannya.
Ketika Namjoon memulai rapat rahasia itu dan membeberkan seluruh informasi yang didapatkannya, Seokjin benar-benar terkejut dan bertanya-tanya bagaimana bisa Namjoon menemukan benang merah untuk mencari keberadaan Jimin. Dia sudah mengawasi Namjoon dan memastikan semuanya, seharusnya tidak ada yang terlewat olehnya. Tetapi sekarang sudah terlanjur terjadi. Seokjin tahu dia harus memperingatkan Jimin, atasannya. Seokjin tentu saja sangat setia kepada atasannya itu, karena meskipun kejam, Jimin selalu berlaku baik kepada semua anak buahnya. Meskipun sekarang kesetiaan Seokjin sedikit ternoda oleh perasaan pribadinya yang bertumbuh begitu saja kepada Namjoon.
Tetapi tidak masalah, bukankah dengan melakukan ini dia bisa melakukan yang dikatakan pepatah, sambil berenang minum air? Jimin bisa mendapatkan Yoongi sesuai keinginannya, dan dengan begitu, akan memuluskan rencananya untuk…mendapatkan Namjoon. Benaknya tiba-tiba saja membayangkan wajah Namjoon dan kekecewaan yang akan terpatri di sana ketika dia datang dan menemukan bahwa dia sudah terlambat. Namjoon pasti akan kecewa,tetapi mungkin hal itulah yang harus dialami oleh Namjoon.
Seokjin tidak mau Namjoon menemukan Yoongi, dia tidak mau Namjoon berada di dekat Yoongi lagi. Selama ini perasaannya telah terpendam begitu lama, mencintai atasannya itu diam-diam, menahankan sakitnya ketika menyadari bahwa Namjoon mulai melibatkan perasaannya dalam misinya menyangkut Yoongi. Seokjin telah lama diam, tetapi sekarang dia tidak mau diam begitu saja. Yoongi tidak boleh berada di dekat Namjoon. Yoongi punya tempatnya sendiri, dan itu semua ada di bawah kekuasaan Tuan Jimin.
.
.
.
"Yoongi." Jimin setengah berbisik, sedikit mengguncang bahu Yoongi yang tertidur, "Bangun Yoongi." Yoongi membuka matanya, membutuhkan waktu sejenak untuk mengumpulkan kesadarannya, dan ketika kesadarannya kembali dia terkesiap kaget mendapati Jimin membungkuk di depannya berselubung bayangan gelap yang membuatnya tampak seperti siluet yang menakutkan. Dia hampir menjerit, tetapi Jimin menempatkan jemarinya di bibir Yoongi, "Stt..." Suaranya tajam, tegas dan tak terbantahkan, "Diam, jangan bersuara, kau akan ikut aku."
"Aku tidak mau." Yoongi memekik, membuat Jimin langsung membekap mulutnya. Tetapi hal itu malahan membuat Yoongi meronta-ronta, berusaha mengeluarkan suara jeritan protes. Dia tidak mau mengikuti kemauan lelaki ini, dia ingin pulang! Dia ingin lepas dari semua kepelikan ini dan kembali ke dalam kehidupan biasanya yang nyaman. Hidup tenangnya tanpa ada Park Jimin didalamnya! Jimin sendiri merengut gusar karena Yoongi terus menerus bergerak melawannya, dia menolehkan kepalanya ke arah Yochun yang dia tahu ada di sana, berdiri dalam kegelapan menatapnya, "Yochun." Jimin mengucapkan isyarat tanpa kata ke arah Yochun, pelayan setianya itu langsung mendekat. Sedetik kemudian, dengan ahli, Jimin menyentuh saraf di titik penting Yoongi, membuatnya pingsan, tubuhnya langsung jatuh lemas, tenggelam dalam ketidaksadaran. Jimin setengah menopang tubuh Yoongi, lalu menatap Yochun yang berdiri di dekatnya.
"Siapkan dia. Aku sendiri akan bersiap-siap, ingat, tidak boleh ada seorangpun yang tahu tentang recana ini, kita harus sangat berhati-hati." Salah seorang anak buahnya yang disusupkan ke dalam kantor tempat Namjoon bekerja telah memberikan informasi rahasia barusan, bahwa Namjoon mulai mencurigai motivasi Choi Siwon menjalin kerjasama dengan perusahaan yang kebetulan merupakan tempat Yoongi bekerja. Dan saat ini dari hasil pencariannya, Namjoon telah berangkat bersama agen-agen paling kuatnya untuk datang dan mengawasi rumah ini.
Sebelum itu terjadi, Jimin harus membawa Yoongi pergi dari rumah ini. Sebelum pergi, Jimin menekan nomor Siwon, meskipun pertemanan mereka bisa dikatakan sangat kompleks, lelaki itu adalah mentor sekaligus temannya yang setia, dan Jimin akan selalu bisa mengandalkannya dalam kondisi seperti ini.
"Ada apa Jimin?" Siwon mengangkat teleponnya, suaranya serak, seperti baru saja terbangun dari tidurnya. "Aku membutuhkan bantuanmu lagi, Siwon." Jimin mengucapkan serangkaian instruksi. Setelah selesai, dia menutup percakapan dan senyum tipis terkembang di bibirnya, membayangkan betapa gusarnya Namjoon nanti ketika Lelaki itu datang ke rumah ini dan menyadari bahwa Jimin sudah selangkah lebih maju.
.
.
.
Taehyung menerima telepon mendadak dari Jimin barusan dan setuju untuk menyiapkan semuanya meskipun lebih cepat satu hari dari yang direncanakan. Dia menutup teleponnya dan mulai menghubungi nomor yang sangat dihapalnya.
"Taehyung?" Suara di seberang sana terdengar dalam, suara yang sangat dikenal oleh Taehyung.
"Paman Kyuhyun. Maafkan saya menelepon selarut ini." Taehyung merasa tidak enak, pasti dia telah mengganggu istirahat malam Kyuhyun dan isterinya, tetapi dia harus melakukan pemberitahuan supaya tidak ada kesalahpahaman ke depannya, "Tamu saya membutuhkan pulau itu sekarang, untuk ditempati malam ini."
"Oke. Lakukan saja Taehyung, pulau itu bebas digunakan selama musim ini, Aku dan Sungmin belum berencana mengunjunginya lagi."
"Terima kasih Paman." Setelah mengucapkan salam dan sedikit berbasa-basi, Taehyung menutup pembicaraan, kemudian dia tercenung. Memikirkan tentang Paman Kyuhyun, sahabat Ayahnya yang sangat baik hati itu.
Taehyung mengernyit ketika bayangan akan tragedi yang menimpa keluarga Cho terbersit di benaknya, dia sangat mengagumi kekuatan cinta Paman Kyuhyun dan isterinya Sungmin sesudahnya, yang mampu bergandengan tangan dengan kuat, dan menghadapi seluruh cobaan yang menguras emosi itu. Kalau saja Taehyung yang berada di posisi Paman Kyuhyun, dia pasti tidak akan kuat.
Tiba-tiba saja seberkas pengetahuan melesat dan menusuk ingatan Taehyung. Jantungnya langsung berdebar. Oh Astaga...sepertinya dia telah menemukan jawaban dari rasa penasarannya selama ini. Taehyung menyentuh dagunya dengan dahi berkerut, berpikir dalam.
Tetapi apakah itu mungkin? Bukankah itu terlalu kebetulan?
.
.
.
Mereka keluar dari rumah itu dalam kegelapan, dalam mobil hitam yang tidak kentara. Suasana sekitar perumahan mewah itu masih lengang. Jimin sendiri memangku Yoongi yang masih pingsan dengan kepala di pangkuannya. Yochun ada di kursi depan, duduk di sebelah supir.
Jemari Jimin mengelus dahi Yoongi dengan lembut, kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup dahi Yoongi pelan. Sebentar lagi mereka tidak akan hidup dalam pelarian lagi. Hanya tinggal sebentar lagi, setelah semua dokumen siap dan Jimin bisa meninggalkan negara ini dan kembali ke Italia.
Mobil-mobil lain yang juga berwarna hitam bergabung dari segala penjuru jalan, mobil-mobil itu dikendarai oleh pengawal dan orang-orang kepercayaan Jimin, meskipun begitu mereka tetap menjaga jarak agar iring-iringan mobil mereka tidak kentara. Malam yang pekat dan jalanan yang sepi memudahkan perjalanan menuju bandara, ketika mobil berhenti, Yochun melangkah keluar duluan dari mobil dan mengambil kursi roda lipat di bagasi, Jimin kemudian keluar, dan meletakkan Yoongi dari gendongannya ke atas kursi roda, tubuh Yoongi terkulai di sana, dan kemudian tanpa kata, Jimin mendorong Yoongi memasuki lobby bandara diikuti oleh Yochun dan orang-orangnya. Mereka memasuki pintu samping, untuk area jet pribadi yang sudah menunggu di sana.
Di dekat landasan, Taehyung telah menunggu, lelaki itu memakai mantel hitam yang tebal, karena angin begitu kencang berhembus, menggerakkan helaian-helaian rambutnya yang kecoklatan. Lelaki itu melirik ke arah Yoongi dan menatap Jimin, "Pesawat sudah menunggu, aku sudah mencoba membuat semuanya serahasia mungkin sehingga tidak terlacak."
"Terima kasih." Jimin menganggukkan kepalanya, "Kami akan berangkat sekarang." Mata Taehyung tidak pernah lepas dari Yoongi, "Kapan kau berencana berangkat ke Italia?"
"Segera setelah seluruh dokumen beres, aku sudah membuatnya lebih cepat dari yang direncanakan, mungkin dalam dua minggu lagi atau kurang." Taehyung menarik napas panjang, "Aku harap aku bisa bertemu denganmu sebelumnya, ada yang ingin aku bicarakan, menyangkut Yoongi." Mata Jimin langsung menyambar Taehyung dengan waspada. Dua lelaki tampan itu saling bertatapan dalam kediaman yang penuh makna. Sampai akhirnya Jimin mengangkat bahunya.
"Silahkan Taehyung." Dia menepuk pundak sahabatnya itu, "Terima kasih atas bantuanmu, gerakanku agak terbatas di negara ini karena aku begitu berbeda dan mencolok di antara semuanya. Nanti kalau sudah di Italia, aku akan lebih leluasa karena berada di daerah kekuasaanku sendiri." Matanya menatap serius ke arah Taehyung, "Kapanpun kau nanti ke Italia, kau bisa mencariku." Taehyung terkekeh mendengar kata-kata Jimin, dia mengangkat alisnya penuh arti.
"Tetapi bagaimanapun juga, kau sudah terikat dengan negara ini, Jimin." Gumamnya dalam tawa, menyimpan makna yang mendalam.
.
.
.
Aroma wangi yang khas, membuat Yoongi menggeliatkan tubuhnya, dia mengerjapkan matanya dan entah kenapa seluruh badannya terasa sakit, seperti habis melakukan perjalanan panjang. Dia berada di atas ranjang, ingatan Yoongi berusaha menelaah dan kemudian dia teringat betapa dia telah bergulat di atas ranjang mencoba melawan kehendak Jimin yang ingin membawanya ke suatu tempat. Dia ingat bahwa Jimin membekap mulutnya, tetapi setelah itu Yoongi tidak ingat apa-apa lagi. Jemarinya bergerak mengusap sprei di bawah tubuhnya dan Yoongi menyadari bahwa kain sprei ini berbeda dengan yang bisanya.
Yoongi terkesiap dan membelalakkan matanya, mencoba menembus kegelapan yang melingkupi ruangan ini. Ini bukan kamar tempat dia ditempatkan sebelumnya, ini kamar yang berbeda. Yoongi terduduk dan menatap sekeliling, segera setelah matanya beradaptasi dengan kegelapan, dia bisa menatap sekeliling yang remang-remang. Dia ada di mana lagi sekarang? Yoongi mulai panik, dia bangkit dari ranjang, samar-samar mendengar suara aneh di kejauhan, suara deburan ombak.
Suara deburan ombak? Berarti Andrea ada di tepi pantai? Dekat dengan lautan?
Tiba-tiba saja terdengar suara klik pintu yang terbuka, Yoongi terlompat kembali ke ranjang, menarik selimut sampai ke bahunya dan berbaring dengan tegang, berpura-pura tidur. Napasnya terengah, tetapi Yoongi berusaha mengaturnya agar terdengar teratur. Dia memutuskan untuk berpura-pura tidur dulu agar bisa mengukur keadaan. Pintu terbuka dan kemudian terdengar ditutup lagi dan dikunci. Langkah-langkah yang tenang mendekati ranjang, kemudian ranjang bergerak karena sosok itu duduk di tepinya, di dekat Yoongi.
Apakah itu Park Jimin?
Tanpa bisa ditahan, jantung Yoongi mulai berdebar, dia ingin menahan debaran jantungnya itu, tetapi Yoongi tidak bisa mengontrolnya, yang bisa dilakukannya hanyalah berdoa supaya sosok itu siapapun dia tidak menyadari bahwa Yoongi sudah terjaga. Jemari yang panjang dan kuat, tiba-tiba menelusuri pipi Yoongi begitu lembut, seperti perlakukan kepada sang kekasih. Tiba-tiba saja Yoongi merasa nyaman, semakin nyaman ketika jemari itu mengusap dahinya, membelainya dengan penuh kasih sayang. Dia benar-benar menjadi rileks, debaran jantungnya meradang berganti menjadi perasaan familiar yang menyenangkan, perasaan disayang dan dicintai.
Kemudian bibir yang hangat mengecup pipinya, lembut dan penuh sayang. Aroma jantan yang khas, kayu-kayuan bercampur dengan musk melingkupinya, dan sosok itu berbisik lembut,
"Yoongi..."
Debaran di dada Yoongi kembali lagi mendengar suara itu, Itu adalah suara Park Jimin. Dipenuhi oleh kerinduan yang mendalam berbalur dengan kesedihan yang tersembunyi. Kesedihan seorang kekasih yang telah sekian lama menahan rindu dan kesepian.
.
.
.
Namjoon mengawasi rumah mewah yang tampak lengang itu, sepertinya tidak ada sesuatupun yang aneh di sana, dia mengernyitkan keningnya. Tetapi dia berfirasat bahwa ada sesuatu di sini, dan firasatnya kadang kala tidak bisa disepelekan. Sudah hampir empat jam, dari jam empat pagi dia mengawasi, dan dia mulai merasa lelah. Tetapi kemudian, duduknya tegak dan waspada, begitupun agen-agen yang berada di mobil lain yang diparkir di sisi lain dengan tak kentara. Dilihatnya sebuah mobil mewah berwarna hitam meluncur memasuki gerbang rumah itu. Mobil mewah itu tak sendiri, di belakangnya ada serombongan mobil lain yang mengikuti pelan. Sepertinya itu Choi Siwon, lelaki itu memang terkenal suka membawa banyak pengawal kemana-mana. Sepertinya di usianya yang semakin tua, Choi Siwon mulai paranoid dengan keselamatan hidupnya.
Tanpa sadar Namjoon mencibir, 'buat apa hidup kaya kalau kemudian hanya dikejar oleh ketakutan?'
Mobil itu memasuki gerbang diikuti mobil pengawalnya, lalu pintu gerbang tertutup dan suasana menjadi hening. Namjoon menunggu lama, tetapi kemudian dia memutuskan, mereka tak bisa menunggu terus-terusan seperti ini, mereka harus berbuat sesuatu. Dia menelepon atasannya, mengkonfirmasikan persetujuan untuk mengunjungi Siwon dengan berbagai alasan. Choi Siwon adalah warga negara asing, meskipun dia lahir di Korea, tetapi kini dia berstatus sebagai warga Negara asing, dan bukan lagi bagian dari warga Negara Korea. Tindakan apapun yang sekiranya menyinggung dan tidak terbukti, bisa menimbulkan permasalahan internasional pada akhirnya.
Namjoon harus benar-benar berhat-hati dalam melangkah. Atasannya pada akhirnya menyetujui langkah Namjoon, hal itu membuat Namjoon menghela napas lega. Setelah menutup teleponnya, Namjoon menoleh kepada Seokjin yang dari tadi duduk di sebelahnya di dalam mobil itu. "Bagaimana keadaanmu, Seokjin? Sakitmu sudah baikan?" Namjoon teringat Seokjin tampak begitu sakit ketika izin untuk meninggalkan rapat penting mereka kemarin.
"Seharusnya kau tidak perlu masuk."
"Aku sudah baikan, sudah minum obat." Seokjin tersenyum, dia diinstruksikan untuk selalu mengawasi Namjoon, jadi pagi-pagi sekali dia datang dan memaksa Namjoon untuk ikut mengawasi, semula lelaki itu menolak mentah-mentah dan menyuruh Katrin untuk pulang dan beristirahat, tetapi untunglah Seokjin berhasil meyakinkan lelaki itu bahwa dia sudah baikan.
"Lain kali jangan memaksakan dirimu, Oke? Kondisi tubuh kita yang paling penting, apalagi sebagai seorang agen kita harus siap sedia untuk menghadapi apapun yang mungkin terjadi." Namjoon tersenyum, dia sudah beberapa lama bersama Seokjin yang menjadi anak buahnya, meskipun bertubuh mungil dan wajahnya terlalu cantik, Seokjin ternyata merupakan salah satu anak buahnya yang paling kompeten dalam melaksanakan tugas. Pekerjaan mereka sudah membuat mereka begitu dekat, Namjoon menyayangi Seokjin tentu saja, perempuan itu sudah seperti adiknya sendiri.
Di lain pihak, Seokjin merasa dadanya mengembang hangat penuh rasa bahagia akibat perhatian dan kelembutan yang diberikan Namjoon kepadanya, benaknya berkelana membayangkan, seandainya Namjoon menjadi kekasihnya, dia tentu akan dihujani dengan lebih banyak perhatian dan kelembutan. Seokjin menghela napas panjang, matanya bersinar penuh tekad. Semua hal dalam benaknya itu, membuatnya semakin bertekad untuk menjauhkan Namjoon dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Yoongi. Namjoon sendiri masih mengawasi rumah besar itu beberapa lama, lalu dia mengambil keputusan, "Oke. Sepertinya sudah saatnya. Kita akan mengunjungi Choi Siwon sekarang."
Tanpa menanti tanggapan Seokjin, Namjoon melajukan mobilnya dan mendekati pintu gerbang yang tinggi itu, di depan sana ada dua orang berpakaian khas pengawal Choi Siwon, jas hitam dan wajah datar tanpa emosi.
"Ada yang bisa saya bantu?" salah seorang pengawal sedikit menundukkan tubuhnya dan mengawasi Namjoon yang membuka jendela mobilnya dan duduk di balik kemudi.
Namjoon menunjukkan lencana agen pemerintahnya dan menatap pengawal itu dengan tatapan tegas. "Aku tahu tuanmu ada di sini. Ini urusan pemerintahan. Katakan aku ingin bertemu dengannya." Pengawal itu terdiam lama dan mengawasi Namjoon dalam-dalam,
kemudian dia melempar pandang kepada rekannya yang langsung menelepon untuk menghubungi bagian dalam rumah. Sejenak kemudian, pengawal itu menganggukkan kepala kepada rekan pengawalnya, lelaki itu langsung bergerak memencet tombol, dan pintu gerbang itupun terbukalah. Namjoon melajukan mobilnya memasuki rumah mewah itu.
.
.
"Tidak disangka saya menerima tamu di sini, ada apa gerangan?" Choi Siwon, lelaki itu melangkah menuruni tangga dan menyambut Namjoon yang berdiri waspada bersebelahan dengan Seokjin yang mendampinginya.
"Saya hanya melakukan pengecekan seperti biasa, Siwon- ssi." Namjoon berusaha tampak datar, mengimbangi sikap ramah Siwon. Lelaki ini tampak santai dan tidak menyembunyikan sesuatu, apakah firasat Namjoon yang salah?
"Saya belum berkenalan dengan anda." lelaki itu mengelurkan tangannya kepada Namjoon yang langsung dibalas Namjoon dengan tegas, "Saya Namjoon, dan ini rekan saya, Seokjin." Namjoon mengedikkan bahunya ke arah Seokjin yang berdiri diam sambil melipat tangannya, "Seperti yang saya katakan tadi, saya adalah agen pemerintah yang khusus mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan pertahanan negara, menyangkut hubungan luar negeri." Namjoon menatap Siwon dalam-dalam, "Saya hanya melakukan pengecekan rutin."
Siwon mengangkat alisnya, "Pengecekan tentang apa?"
"Kami biasanya mendata properti setiap warga asing di negara ini secara berkala. Kami menemukan kejanggalan bahwa anda menyewa dua rumah besar secara bersamaan dan hanya menempati salah satunya, agen saya melapor bahwa rumah yang ini tidak dilaporkan sebagai kediaman tetap anda, anda menempati rumah lainnya di lokasi yang lain."
Siwon tiba-tiba saja terkekeh, membuat Namjoon menatap bingung dan jengkel atas reaksi tak terduga dari lelaki ini, "Maafkan saya, bukan maksud saya tertawa." Siwon masih saja tersenyum lebar, "Saya hanya sedikit kagum betapa rincinya penelitian yang kalian lakukan kepada saya." Lelaki itu lalu menatap ke arah salah seorang pengawalnya yang berdiri di dekat tangga.
"Panggilkan Kibum kemari, biarkan kami menjawab pertanyaan tuan Namjoon ini. Sehingga dia tidak bertanya-tanya lagi." Pengawal itu mengangguk dan melangkah menaiki tangga, menghilang di ujung atas, sementara itu Namjoon mengerutkan keningnya, Kibum? Siapa yang dimaksud dengan Kibum?
.
.
.
"Aku tahu kau sudah bangun." Suara Jimin dalam, sedikit geli, membuat Yoongi terkesiap dan tiba-tiba merasa malu karena ketahuan. Pipinya merona merah, untunglah mereka berada di kegelapan sehingga Jimin tidak akan bisa melihat Yoongi merona. Dengan pelan Yoongi membuka matanya, menemukan sosok lelaki tampan itu duduk di tepi ranjangnya. Ruangan ini gelap, dan Yoongi masih sedikit pusing karena tertidur entah berapa lama. Tetapi dalam kegelapan itupun dia menyadari betapa bayang-bayang bukannya membuat sosok Jimin menjadi menakutkan melainkan malah mempertegas garis wajahnya menjadi begitu tampan.
Jimin lelaki yang sangat tampan tentu saja, meskipun gelap, Yoongi bisa membayangkan lelaki itu sedang menatapnya dengan mata cokelatnya yang dalam. Tiba-tiba benaknya berkelana mengingat perasaan terpesonanya ketika pertama kali bertemu dengan Jimin di jalanan yang gelap itu, saat lelaki itu menyelamatkannya dari gangguan para berandalan. Saat itu Yoongi terpesona, pun ketika dia menemukan Jimin adalah pengawal Choi Siwon. Dan sampai saat makan malam mereka yang menyenangkan, Yoongi masih terpesona. Tiba-tiba benaknya bertanya-tanya. Seandainya saja keadaan berbeda, seandainya saja Jimin bukanlah pembunuh menakutkan yang diyakininya dikirim untuk membunuh Ayahnya dan dirinya, bisakah Yoongi jatuh cinta kepada Jimin?
Yoongi memejamkan matanya atas pengetahuan yang mendalam yang diakui oleh hatinya, tetapi ditolak oleh otaknya. Ya...Dia bisa mencintai lelaki ini, seandainya keadaan berbeda...
Perasaan itu menakutkannya, membuat Yoongi beringsut menjauh dari tepi ranjang dan menatap Jimin dengan waspada, "Apakah kau akan memaksakan kehendakmu kepadaku?" Mata Yoongi berputar ke sekeliling ruangan, mencari jalan menyelamatkan diri, atau setidaknya mencari alat perlindungan yang mungkin bisa digunakan untuk melindungi dirinya dari pemaksaan kehendak yang mungkin akan dilakukan oleh Jimin. Sementara itu Jimin hanya diam, ketika dia berbicara suaranya terdengar geli, "Apakah kau ingin aku melakukannya?"
"Tidak! Tentu saja Tidak!" Yoongi langsung berteriak waspada, ketakutan. Lelaki ini tampaknya kejam dan suka bermain-main dengan korbannya sebelum melahapnya, Yoongi harus berhati-hati. "Percuma melawan Yoongi, kau bahkan sudah menjadi milikku tanpa kau menyadarinya." Jimin menegakkan punggungnya dengan tegas, "Dan aku akan membuatmu menyadarinya, sekarang, di sini, tidak akan ada lagi yang bisa menghentikanku." Jimin mendekat, membuat Yoongi panik.
Tetapi kemudian ponsel di saku lelaki itu berbunyi, membuat wajahnya mengerut marah karena terganggu, ekspresinya berubah ketika melihat siapa yang menelepon, "Ya?" diangkatnya telepon itu, menunggu kabar yang sudah di antisipasinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Nahloh telpon dari sapa tuh Jim? Hehe
Sesuai janji kan? Aku update tiap hari loh, kurang bae apalagi coba hayo? Wkwk
Kemaren ada typo yak? Haha Mian, padahal aku udah edit trus cek 2 kali, mungkin karena kemaren lagi ngantuk berat ngeditnya. Maklum aku sering tidur malem terus, jadi efeknya siang ngantuk, mungkin karena masih pengangguran jadi gak peduli mau tidur jam berapa /curhat/ Haha
Yang curiga ama Jimin sebenernya jahat atau baik, kalian bisa nebak sendiri yaa.. pasti kan udah tau ampe sini Jimin itu bakal ngebunuh Yoongi apa engga?
Okedeh, See you yaa~
Happy Satnight keyss~
Yang Jombs merapat saja yukk :D
Review Jusseyo, Gomawo :*
Paipai
Dyah Cho
