Mencari keberadaan Yumi sama sekali tidak mudah.

Jeremie, Aelita, dan Odd sudah berkeliling ke mana-mana. Ke seluruh tempat yang pernah dihabiskan selama mereka masih berkumpul berlima, bahkan nyaris membongkar seluruh rahasia yang disimpan rapat-rapat. Mereka mencari seisi hutan kecil Kadic dengan saksama, apalagi di pohon cemara yang bergantungkan bangau-bangau kertas dan sekitarnya. Sang gadis berambut sepunggung itu tidak kembali ke sana.

Mereka pergi ke jalan-jalan yang biasa dilewati Yumi saat pergi dan pulang dari sekolah, dan ada sebuah taman yang kabarnya sering menjadi tempat Yumi dan Ulrich untuk berduaan jika pemuda itu sedang menemaninya pulang. Padahal salah satu ayunan di taman itu dapat menjadi tempat yang menyenangkan untuk menikmati angin, tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran sang gadis sama sekali.

Mereka pergi ke Hermitage untuk mencari apakah Yumi ingin merenung dalam salah satu ruangan di rumah terpencil tanpa penghuni tersebut, namun sepertinya hanya Aelita yang akan melakukan hal itu. Hermitage adalah milik Aelita, dan Odd sepertinya tidak berpikir dengan cukup benar untuk mengusulkan bangunan beraura menakutkan sebagai tempat persembunyian teman mereka.

Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk pergi ke pabrik tua yang sudah tidak digunakan lagi. Letaknya di seberang sungai, dan ada sebuah jembatan besar berwarna kuning yang menghubungkan antara kota dan pabrik. Beberapa tahun yang lalu, mereka berlima sering sekali melintasi jembatan dan bermain-main dalam pabrik sepi.

Di semua tempat yang mereka kunjungi bersama kepala Akademi Kadic, tidak ada jejak apapun yang dapat membantu mereka untuk menemukan Yumi.

Kecuali di jembatan menuju pabrik itu.

"Hei, ada sesuatu yang aneh di sungai!"

Odd menunjuk ke arah sungai yang memisahkan pabrik dengan perkotaan. Sungai itu terlihat cukup dalam, mengingat mereka nyaris tidak dapat melihat dasar sungai yang berwarna biru tua. Di tepi sungai, di dekat pabrik, tidak terlalu jauh dari atas jembatan, ada sebuah sepatu hitam model converse berbahan keras yang cocok digunakan di kaki sebelah kiri.

Sepatu bot hitam yang biasanya dipakai oleh sahabat mereka, Yumi Ishiyama.

Jeremie langsung menatap kedua sahabatnya dengan mata ketakutan. "Yumi tidak ... dia tidak akan melakukan hal segila itu, kan? Pasti itu hanya kecelakaan, atau mendadak saat Yumi sedang ada di sini, sepatunya jatuh ke sungai dan hanyut di sana."

Aelita menggeleng. "Tidak mungkin sepatunya jatuh begitu saja. Dan ya, tempat ini terlalu sepi. Kalau ada sesuatu yang jatuh ke sungai, sulit bagi orang lain untuk memperhatikannya, apalagi untuk menolong."

Ketiga sahabat akrab tersebut memasang muka horor yang sama, saling merangkul satu sama lain, sebelum akhirnya Jean-Pierre serta Jim menghampiri murid-muridnya yang terus-menerus menunjuk ke arah sebuah sepatu sneaker hitam sebelah kiri yang terdampar begitu saja di dekat pabrik, di tepi sungai berarus cukup cepat yang tidak diketahui seberapa kedalamannya secara pasti.

Pikiran yang paling cepat adalah, tentu saja, jatuh tenggelam ke sungai.

Dan hal kedua yang tiba di dalam pemikiran teman-temannya mengenai seorang gadis Jepang dengan seluruh perasaan cinta hanya ditujukan untuk seorang pemuda Jerman yang telah meninggal dunia tepat setahun lalu adalah sangat mudah; apalagi kalau bukan dua kata berhuruf sembilan berbunyi 'bunuh diri', pembaca yang terhormat?

Mungkin itu juga sebabnya, tanpa menunggu perintah lagi, Jim Morales langsung menekan nomor panggilan darurat agar seseorang dapat datang ke dekat pabrik Renault tua yang tidak lagi terpakai, untuk mencari di dasar sungai apa ada jejak dari pemilik sepatu hitam yang tertinggal begitu saja di tepian.

"Hei, sobat," gumam Odd lirih menggunakan nada dan sorot mata yang tidak dapat dibaca dengan mudah, "di dunia setelah kematian manapun kamu berada sekarang, kamu tidak sedang bersama-sama dengan Yumi, kan?"


SPiCa

Warning and Disclaimer:

Code Lyoko © Moonscoop, France 3, and Canal J

Alice in Wonderland © Lewis Carroll

All the words flow—all my OCs—and nearly the whole idea © Chocochino

The author does not take any material profit from this story

Multi-chapters, OOC, Indonesian, angst failed, Yumi-centric, post-EEMBK, hinted Alice in Wonderland, cyberpunk-medieval AU, rated T for safe, confusing plot, failed visualisation, Adventure/Hurt/Comfort/Romance/Friendship/Family/F antasy/Sci-fi/Angst RnR, also DON'T LIKE DON'T READ

A fic from Chocochinofor Code Lyoko

Chapter 09: Clock Ticks to Rendezvous


"Ha! Sudah kutebak!"

Alyss berlari ke arah sasarannya di pagi buta seperti ini—berterimakasihlah pada gelangnya yang bercahaya dalam gelap untuk menuntun jalan-jalannya. Seekor kelinci bertubuh cukup gemuk yang akan terasa cukup enak kalau diolah menjadi sesuatu untuk sarapan setelah Lampu Utama Polaris kembali bersinar. Untuk saat ini, biarkan dia mendekati targetnya yang mulai mengucurkan darah.

Oh, bicara soal pagi-pagi buta, gadis berwajah oriental itu sedang berharap agar tidak ada yang menemukannya sedang berlatih melempar pisau saat seharusnya dia memberitahukan setidaknya salah satu penghuni rumah Mad Hatter bahwa dirinya sudah sadar dari koma.

Berapa hari dia tak sadarkan diri? Satu hari? Atau malah dua? Apapun itu, semoga tidak terlalu lama dan tidak mengganggu aktivitas kakak kembarnya di Markas Orion sana.

Alde. Dia memberitahukannya bahwa para prajurit perang yang dimiliki Kerajaan Trump sudah dibuat agar segera menghilang saat mereka mati. Alyss tadinya sempat berpikir kalau kelinci yang ditusuknya ini akan menghilang juga, namun tetap saja itu adalah kelinci biasa dan bukan prajurit kerajaan.

Ditusuk tepat di jantung membuat hewan malang ini mengucurkan cukup banyak darah. Semuanya terlihat normal, seperti kematian seekor kelinci biasa. Namun mengapa darahnya bukan berwarna merah?

Mengapa darahnya berwarna keperakan? Dan berbentuk keping-keping kotak seperti yang ada pada para prajurit kerajaan? Seperti potongan pixel yang menyusun bentuk tokoh virtual dalam permainan dalam komputer? Alyss menyentuh aliran keping-keping perak tersebut, kali ini mereka tidak menghilang begitu saja walau masih menembus jemarinya seperti kopi yang agak kental. Setelah beberapa saat, kepingan-kepingan sewarna logam itu akan berubah warna menjadi merah seperti darah.

Jika ini animasi, maka pembuatnya harus memperbaiki ini secepatnya.

Namun di saat-saat jemari Alyss dialiri 'darah' sang kelinci, mengapa dia seakan-akan melihat sesuatu yang dilakukan seekor kelinci? Seakan-akan dialah yang melompat-lompat, menggaruk telinga dan menjilat jari, mencari makanan di dalam hutan, seakan-akan dialah sang kelinci semasa hidupnya.

Alyss memutuskan untuk mempraktekkan niatnya sendiri. Untuk menyelinap kabur dari rumah Mad Hatter saja sudah gila, apalagi untuk melukai dirinya sendiri sampai berdarah? Ia harus membuktikan sesuatu kalau tidak mau bertanya-tanya seperti ini terus dan menggila.

"Maaf, Alde," mulutnya memberi sahutan pelan. Ini akan menjadi cukup sakit. Untuk menggoreskan jarinya dengan pisau ... ini akan terasa...

"AAW!"

Cukup segores kecil di kelingking kiri, salah satu jari yang tidak banyak digunakan. Darah yang mengalir juga tidak terlalu banyak, namun masih berbentuk kepingan perak. Di saat seperti ini, Alde pasti akan terbangun dari tidurnya. Apa jarinya juga akan berdarah? Dia tidak terlalu peduli. Yang pasti, saat darah mulai mengalir ke jari telunjuk kanannya, beberapa kilasan memori bermain di dalam penglihatannya.

/ Jamuan minum teh ini adalah jamuan terbaik yang pernah kurasakan, Hatter /

/ Roti ini benar-benar enak! Terima kasih, Nona Mia! /

Benar. Ini adalah potongan memorinya. Darah setiap orang menyimpan memori milik orang tersebut, dan dapat dilihat oleh mereka yang menyentuh darah tersebut. Memori yang muncul pun tidak dapat dipastikan, namun sepertinya bersifat mundur ke belakang. Yang paling tua akan datang paling akhir.

/ Maafkan aku, Yumi, tapi aku harus melakukannya. Tidak bisa diubah lagi. /

Ah, sial. Jangan momen itu. Memori lainnya dipersilakan untuk muncul, tapi jangan momen di mana dirinya kehilangan orang yang paling disayanginya. Tolong seribu tolong, jangan munculkan bagian saat dirinya kehilangan Ulrich. Brengsek, mengapa aliran darahnya di Spica ini masih memiliki ingatan selama dia tinggal di Paris?

Luka di kelingking tangan kiri akibat goresan pisau terasa sakit dan perih, apalagi setelah menyadari fakta bahwa goresannya cukup dalam sampai darah pun mengalir. Namun rasa sakit akibat memori menyedihkan yang bermain kembali bersama dengan aliran darah itu lebih membuatnya pedih. Semua karena sang gadis masih dapat menggambarkan seluruh impuls yang dirasakan seluruh indranya dengan jelas.

Untuk saling berhadapan sekaligus tidak saling berhadapan.

Untuk saling menyentuh sekaligus tidak menyentuh apapun.

Untuk menenangkan hati yang meluap-luap tak menentu namun malah membuatnya meledak.

Untuk saling menyatakan kejujuran, namun tidak ada yang mendengarkan.

Untuk terjatuh dalam euforia imaji maya yang musnah, elegi pedih akibat kesalahan fatal tak tertolong lagi, memori masa lampau yang mengaburkan batas waktu, dan seribu bangau kertas yang memberikan kekecewaan terbungkus harapan palsu, tanpa diberikan kemampuan untuk bangkit berdiri melawan semuanya.

Tidak ada air mata, tidak diperlukan segala jenis isak tangis, karena rasa sakit yang menghujam dada tersebut takkan hilang dengan tangisan, karena senyuman penuh kehangatan telah berganti dengan kristal-kristal salju di akhir musim dingin.

Yumi tahu, dirinya masih tidak mau dan tidak sanggup melepaskan Ulrich begitu saja.

Alyss melepaskan tangannya dari luka di kelingkingnya, lalu mengisap darah yang tersisa dan membiarkannya menutup dengan sendirinya. Toh goresan yang dibuatnya tidak parah, terlalu kecil untuk menjadi masalah. Kalau sampai Alde mengomelinya hanya karena luka ini, dia akan balas melukai pemuda itu dan membongkar memorinya, tak peduli walau itu juga akan melukainya. Siapa tahu dengan cara itu, dia bisa melihat kehidupannya semasa masih di Bumi.

Itu pun juga kalau masih ada.

Yang pasti, dengan kehadiran memori dalam darah yang berwarna keperakan tersebut, Alyss semakin yakin ada sesuatu yang salah dengan dunia ini. Ini mungkin saja sebuah dunia animasi komputer yang mengambil kisah 'Alice di Negeri Ajaib' sebagai dasar pembuatannya. Apapun yang terjadi, kakak kembarnya harus mau menjelaskan dengan sejujur-jujurnya.


.

.

"Alyss! Akhirnya kausadar juga, meong!"

Tepat waktu sekali. Jika gadis itu tidak berhasil menyadarkan dirinya sendiri untuk segera keluar dari perenungannya dan kembali menikmati tempat tidur yang hangat di rumah Mad Hatter barang sedetik saja, semuanya akan hancur. Kucing Chesire dalam sekejap mata telah terteleportasi ke kamar tidur Alyss, dengan sukses menemukan penghuni kamar tamu dalam pelukan selimut tambal tebal, menggosok mata sebelum kembali menerawang ke arah sinar tiang obor yang tidak terlalu jauh dari jendela kamar, dan memberi senyuman hangat untuk membuat salah satu sahabat seperjalanannya tidak terlalu khawatir.

"Halo, Chesire. Apa ini masih pagi?"

Pemilik belang-belang kebiruan itu memberi sebuah anggukan cepat sebagai jawaban dan sedikit informasi sebagai tambahan. "Kamu pingsan lusa kemarin, meong."

Alyss hanya membisikkan sebuah 'oh' sebelum bangkit lagi dari tempat tidurnya. "Aku merasa baik-baik saja. Sepertinya istirahat selama dua hari benar-benar memulihkan keadaanku."

Chesire tersenyum senang. "Syukurlah, meong. Kalau begitu, setelah sarapan, kita bisa melanjutkan perjalanan. Karena terhambat dua hari, tidak apa-apa kan kalau kita terus melaju kali ini? Kamu masih bisa sedikit melatih lemparan pisaumu. Tapi jangan terlalu memaksakan kekuatan sihirmu, meong, takutnya sesuatu akan terjadi. Meong?"

"Oke, Chesire," jawab sang gadis sambil berjongkok untuk membelai bulu-bulu lembut di atas kepala kucing gempal di hadapannya. "Maaf karena membuat kalian khawatir. Aku janji, aku akan lebih berhati-hati di lain waktu. Aku akan berusaha agar menjadi lebih kuat, supaya saat bertempur nanti aku tidak akan membuat semua orang cemas."

"Jangan membuat janji yang tidak bisa kautepati, Alyss, meong."

"Tapi dengan aku berjanji ataupun tidak, semua itu harus aku lakukan."

Kedua makhluk itu mulai membereskan kamar dan mempersiapkan semua hal yang diperlukan untuk melanjutkan perjalanan sebelum keluar untuk menemui yang lain. Alyss tidak pernah menyangka bahwa dalam perjalanan mereka menelusuri hutan yang sebegitu sepi seperti ini, mereka akan menemukan tempat perhentian. Kadang dia bertanya-tanya, apa hutan ini sebenarnya menakutkan dan masih sangat 'perawan' seperti yang dikatakan orang-orang?

Merasa memiliki kewajiban untuk menikmati sarapan yang terasa lezat di lidah, menghadapi Mad Hatter dan teman-temannya yang nyaris menangis saat harus melepas kepergian tiga kawan baru, dan mengucapkan banyak terima kasih untuk akomodasi serta semua barang-barang baru untuk mendukung perjalanan, Alyss mau tak mau memiliki banyak alasan untuk tersenyum sejak pagi ini. Dia duduk dengan nyaman di atas punggung Bandersnatch yang telah banyak belajar untuk tidak mengacaukan , memakai jubah coklat tua pemberian dari Hatter dengan penuh rasa bangga untuk menyamarkan diri, dan menggendong Chesire dengan semacam baby carrier terbuat dari kain perca di punggung seperti memakai tas ransel biasa saja, sementara pisau-pisau tajam telah siap dikeluarkan dari balik jubah. Hatter dengan baik hati juga telah menyiapkan perbekalan untuk mereka tanpa bayaran.

"Kalian bertiga sudah menjadi sahabatku sekarang," ujar pria ungu tersebut sebelum melepas teman-teman barunya pergi, "dan aku akan melakukan apa saja demi kebaikan sahabatku. Jadi, apa kalian mau datang jika aku mengadakan pesta minum teh lagi?"

"Jika aku memiliki waktu kosong, aku pasti datang," Alyss menjawabnya dengan intonasi meyakinkan, lalu mulai melambaikan tangan. "Sampai jumpa, semuanya!"

"Sampai jumpa!"

Mereka semua masih saling meneriakkan kata-kata perpisahan, hingga gelombang-gelombang longitudinal yang dihasilkan pita suara tak lagi mencapai daun telinga, hingga bentuk bayangan tak lagi ditangkap retina mata. Bandersnatch terus berlari dengan kecepatan biasa untuk mengejar dua hari yang terbuang sia-sia, menjauhi rumah Mad Hatter dan mendekati Markas Orion, tanpa ingin semenit pun menghentikan langkah kakinya kecuali saat jam makan siang tiba, hingga malam menjelang.


.

.

/ "Kautahu gadis itu mulai tidak mempercayaimu." /

"Ya, aku tahu itu. Aku tidak bisa berbohong di hadapannya, dia selalu tahu. Mungkin karena kautelah menciptakan kami sebagai sepasang saudara kembar."

/ "Kira-kira, apa yang akan kaulakukan untuk mengatasinya? Dia pasti akan selalu menanyakan hal itu padamu." /

"Jujur saja, aku belum memikirkan soal itu. Mungkin saat aku tertidur nanti, aku akan melakukan hal lain untuk mengalihkan perhatiannya."

/ "Percuma saja, Alde. Malam ini dia akan sampai ke tempatmu. Kauakan bertemu dengannya malam ini juga." /

"Astaga. Yah, Ayah tidak sedang bercanda, kan? Alyss akan sampai di sini, hari ini juga? YES!"

/ "Ah, seharusnya itu menjadi kejutan untukmu. Ya, jaraknya sudah cukup dekat, mereka bertiga akan segera sampai." /

"Jadi aku tidak perlu memasuki mimpinya lagi?"

/ "Kalian akan saling bertemu sepanjang waktu. Untuk apa? Lagipula, aku sebenarnya tidak mengizinkanmu untuk melakukan itu. Alde, kamu itu terlalu banyak mencuri waktu untuk bersama-sama dengannya. Dia akan datang sebentar lagi, tapi kamu tidak sabar untuk menunggu. Kaudatangi dia dalam mimpi saat tidur. Bahkan saat dia koma dan kamu masih kesakitan, kamu sudah mengunjungi kamarnya diam-diam. Untungnya kamu koma hanya sehari, dan itu juga aku yang memergokimu. Bagaimana kalau orang lain yang menemuimu?, Alde? Itu berbahaya!" /

"Ya, Ayah. Aku minta maaf, tapi aku benar-benar tidak tahan. Aku terlalu senang untuk bertemu dengannya, dan aku tidak mau menunggu."

/ "Rasa senangmu mulai sedikit keterlaluan. Kamu adalah saudara kembar Alyss, bukan pacarnya. Sadar, kan?"/

"Aku sadar hal itu. Aku saudara kembar Alyss. Lalu apa salah kalau aku mengunjungi saudaraku sendiri?"

/ "Astaga. Alde, maksudku, kamu harus bersikap dengan normal! Perlakukan dia sebagai adikmu sendiri, bukan sebagai seorang pacar! Sikap dan perilakumu pada Alyss mulai tidak normal, melebihi batas. Saudara tidak boleh saling jatuh cinta, Alde." /

"Yah, kami sepertinya bukan saudara di Bumi. Kami hanya menjadi saudara di dunia ini saja. Jadi kalau nanti aku dan dia sudah kembali ke rumah kami masing-masing, aku boleh memiliki perasaan yang berlebih untuknya."

/ "Iya, aku tahu, Alde. Aku mengerti perasaanmu. Namun kamu juga harus memikirkan Alyss. Bagaimana kalau dia tidak merasakan hal yang sama denganmu? Aku tahu kamu sangat menyukainya, kautelah jatuh cinta pada gadis itu—" /

"Tidak juga! Saat ini aku sayang padanya karena dia adikku. Di Bumi baru aku akan mulai mencintainya, di sini aku tidak boleh melakukan itu."

/ "Kamu tidak bisa mengatur datangnya cinta. Jangan berbohong, aku tahu kamu sudah jatuh cinta padanya. Alyss masih berpikir kalau kauhanya kakak kembarnya saja. Dia mungkin tidak memiliki perasaan yang sama denganmu. Kalau dia tahu kamu memiliki perasaan yang lebih dari sekedar saudara untuknya, apa dia akan menerimanya? Alyss bisa saja meninggalkanmu." /

"Dia tidak akan meninggalkanku. Tidak akan! Setidaknya, aku akan selalu berusaha untuk berada di dekatnya dan menjaganya sepanjang waktu."

/ "Hadapi kenyataan, Alde. Kausudah lupa dengan semua ingatan Yumi yang kauintip sebelum dia masuk ke dunia ini? Ada Ulrich yang dia cintai." /

"..."

Tidak salah lagi. Alde patah hati mendengar hal itu. Ada seseorang yang membayangi hubungan mereka, yang seharusnya dibuang saja jauh-jauh, namun tidak bisa. Yumi Ishiyama, alias Alyssora Liddell, masih mendedikasikan hatinya untuk Ulrich Stern—itulah yang dapat disimpulkan setelah melihat seluruh isi memori sang gadis sebelum masuk ke Spica, dan membuat pemuda itu sedikit patah hati dalam sekejap. Tidak bisa diubah oleh siapapun kecuali berdasarkan kemauan gadis itu sendiri.

Mengapa pemuda Jerman itu seakan-akan telah menjadi satu dengan bayangan begitu banyak orang? Termasuk Yumi, termasuk sahabat-sahabatnya, termasuk guru kesayangannya yang seingatnya bernama Jim, termasuk kekasih Yumi yang tidak mengenalnya ...

... termasuk Alde yang jatuh cinta sejak melihat potongan memori pertama kepunyaan gadis yang mengisi hati pemuda berambut coklat sampai akhir hayatnya.

Pemuda itu kembali menyentuh kelingking tangan kirinya dengan perlahan. Ada rasa sakit yang cukup menyengat seperti teriris pisau, namun tidak ada apapun yang menunjukkan bahwa itu adalah sebuah luka. Itu pasti Alyss yang melakukannya, tidak salah lagi, walau tidak jelas untuk apa. Dia dapat merasakan rasa sakitnya, namun tidak akan menimbulkan luka fisik yang sama. Andaikan adik kembarnya tahu, rasa perih di jarinya tidak sebanding dengan hatinya yang hancur berkeping-keping.


.

.

"ALYSSORA LIDDELL TELAH TIBA!"

Ada tiga makhluk yang langsung mengulas sebuah senyum kepuasan saat menginjakkan kaki di gerbang masuk Markas Orion, sebuah tempat bagi Aldebaran Liddell untuk menyusun kekuatan dalam misi meruntuhkan Kerajaan Trump. Tempat yang sering berpindah-pindah dari sisi Hutan Andromeda yang satu ke sisi lainnya dan selalu berdekatan dengan Sungai Eridanus. Dinamai Markas Orion berdasarkan salah satu rasi bintang paling jelas terlihat yang membentang di langit malam Spica, yaitu Orion sang pemburu hebat.

Alyss mengangguk ke arah Blonde Hare yang mengumumkan kedatangannya, juga kepada sepasang pengawal markas yang membukakan pintu gerbang masuk untuk mereka bertiga. Tudung mantel sudah terjatuh ke belakang, Chesire sudah berjalan dengan normal, sementara Bandersnatch belum mau menurunkan sang gadis dari atas punggungnya—oh, sudah, biarkanlah setengah anjing manja itu melakukannya. Ada begitu banyak makhluk dalam markas ini, dan semuanya tidak hanya terdiri dari manusia. Serigala tangguh, anjing-anjing pemburu bertubuh besar, kerbau-kerbau kekar, bahkan ada tikus-tikus kecil yang terlatih untuk menyusup demi membuat kekacauan besar. Elang-elang dengan penuh keagungan mengepakkan sayap di atas langit. Kadang-kadang terlihat ada beberapa wanita yang dengan senang hati membantu mengurus pekerjaan rumah di dalam markas namun masih menyimpan selusin pisau di balik celemek. Semua seakan-akan sudah siap untuk menyambut dirinya.

Ini dia salah satu efek untuk menjadi seseorang yang dijanjikan dalam ramalan yang dipercaya oleh semua orang—mereka terlalu banyak menggantungkan harapan padamu.

Namun tidak ada yang lebih ditunggu lagi kata-kata penyambutannya selain daripada sang pemimpin perjuangan yang berdiri dengan penuh karisma tepat di ujung jalan, tepat di depan kemah utamanya. Alde sudah berdiri dengan aura keagungan terpancar begitu pekat memenuhi udara seakan-akan dia telah menjadi seorang raja agung di usia yang terbilang sangat muda, dan mau tak mau semuanya membuat Alyss merasa begitu bangga dan berusaha mencerminkan kepribadian seorang ratu yang baik hati dan lembut namun juga mampu mengimbangi saudaranya dengan baik. Jubah hitam panjang yang dikenakannya tertiup angin sepoi-sepoi, menunjukkan bagian dalamnya yang berwarna merah terang, agak berbeda dengan bagian dalam jubah Alyss yang berwarna hitam pekat.

Pada akhirnya, Bandersnatch menurunkan Alyss di jarak yang tepat.

Dan di saat itulah, semua orang mulai memberi penghormatan satu demi satu. Yang pria membungkukkan punggungnya sembilan puluh derajat, lengan bawah kanan sejajar dengan perut sementara lengan bawah kiri sejajar dengan ginjal, kadang ada yang memegang topi di tangan kanannya jika memakai topi. Para wanita yang memakai gaun atau bawahan rok ikut membungkukkan punggungnya 45 derajat, kaki kanan selangkah di belakang sementara kaki kiri agak maju dan terlipat 45 derajat, kepala menunduk dan kedua tangan sedikit menjepit roknya. Alde membungkuk sebentar, begitu juga dengan Alyss yang kembali bangkit dengan cepat, menandakan semua harus berhenti melakukan penghormatan.

"Hari ini telah tiba, bahwa Janji Suci telah membuktikan kebenaran isinya. Alyssora Liddell telah tiba di hadapan kita semua. Kedua anak manusia yang dimulai hidupnya dalam satu ruang dan waktu yang sama, sepasang anak kembar, akhirnya dipertemukan kembali oleh Sang Joker setelah terpisahkan sekian lama!"

Semua orang bertepuk tangan dengan meriah dan bersorak gembira. Pasangan saudara kembar yang kini saling berhadapan secara fisik tersebut tersenyum bahagia.

"Aku mengucapkan terima kasihku untuk Kucing Chesire," Alde melanjutkan perkataannya saat semua keriuhan mereda, "yang telah menuntun saudaraku untuk mencapai tempat ini. Dan Bandersnatch yang telah mengantarkan saudaraku sampai ke tempat ini. Kalian diterima dengan baik dalam Markas Orion."

Ini waktunya. Secara refleks, Alyss dan Alde berjalan maju dalam langkah yang perlahan. Ada sesuatu yang membuat Alde ingin memanipulasi pergerakan dan memperlambat laju waktu, ada sesuatu yang membuat Alyss ingin membuat segala sesuatunya diselimuti oleh terang dari bintang-bintang di langit dan sumber cahaya lain di sekitarnya.

Jarak yang terbentang di antara dua insan tersebut telah memudar. Yang tadinya terpisahkan antar dua dunia, menjadi terpisah dalam sebuah hutan, dan kini hanya terpisahkan oleh langkah kaki. Namun langkah kaki adalah sesuatu yang tidak terlalu berarti saat ini. Tangan seorang laki-laki dan seorang perempuan telah terjulur untuk menyentuh secara nyata, secara fisik.

Saat jari-jari yang berbeda pemiliknya itu saling bersentuhan, seketika itulah ada semacam aliran tidak dikenal yang mengalir dalam darah, dipompa dalam setiap debaran jantung, sesuatu yang baru yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Satu hal yang mereka tahu secara pasti dari perasaan yang menciptakan sensasi kebahagiaan di dalam hati;

(Aku telah menemukan pelengkap hidupku.)

Di sinilah mereka, di dalam pusat Markas Orion, jari yang bersentuhan berganti menjadi tangan yang saling menggenggam, berganti menjadi kening yang saling melekat, berganti menjadi tubuh yang saling berpelukan erat tak ingin dipisahkan. Alde dan Alyss tidak lagi peduli dengan ratusan pasang mata yang melihat kejadian itu dikarenakan mereka berdua telah ditelan oleh sesuatu yang orang-orang namakan sebagai semacam euforia, seiring dengan bintang-bintang yang memancarkan sorotnya dengan kekuatan penuh, seiring dengan aurora yang menarikan sebuah tarian baru dengan corak warna yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Untuk sesaat, semua makhluk di bumi Spica dibutakan oleh benderang siang hari saat kedua individu yang dijanjikan dan dinantikan sekian lama tersebut menyatukan diri dalam sebuah pelukan, diinterupsi oleh sebuah ciuman yang mendarat di kening sang gadis remaja, dan dilanjutkan lagi dalam kurun waktu yang tidak diketahui—namun yang pasti, hal itu berlangsung cukup lama.

"Aku telah bertemu denganmu," bisik Alde tepat di telinga adik kembarnya, sepasang lengan miliknya menahan pinggang Alyss untuk menjauh. "Aku bersama-sama denganmu, aku ada sekarang ini memelukmu, aku tersenyum dalam pelukanmu, aku siap mati sekarang."

"Tidak secepat itu," Alyss berbisik dengan nada nakal terselip, kedua lengannya melingkari leher Alde lebih erat lagi, "karena aku masih belum puas untuk bertemu denganmu sekali saja seperti ini. Aku ingin membekukan waktu ini dan hidup denganmu sekarang, tidak hanya dalam mimpi lagi seperti dulu."

Alde tahu. Tidak peduli apapun yang ingin mencoba untuk menghadang mereka sekarang, ingin menyakiti adik kembarnya, dia akan berjuang sekuat tenaga untuk membahagiakan gadis di hadapannya dengan segenap jiwa dan raga.

Alyss tahu. Jika dia ada bersama-sama dengan kakak kembarnya, perasaan bernama kegembiraan akan memenuhi dirinya dan kesedihan sama sekali tidak diizinkan untuk merusak itu semua, termasuk memori mengenai Ulrich.

Satu pertemuan yang dijanjikan. Dua manusia yang menemukan harta berharganya sendiri.


.

.

"Kukembalikan Pedang Vorpal padamu."

Dari jarak sepuluh langkah, Alyss sudah dapat merasakan kehadiran sang kakak kembar. Tangan kanan mengeluarkan sebuah belati perak dengan ukiran-ukiran di sekitar pegangannya, namun tetap membuatnya nyaman untuk digenggam. Ia meraba dan memainkan belati yang sebenarnya merupakan Pedang Vorpal yang dikecilkan itu sebentar.

Alde duduk di samping Alyss, sedikit mengetatkan jubah hitam yang menyelubungi tubuhnya agar tetap hangat. Setelah pertemuan yang mengharukan di petang hari, semua dikembalikan ke dalam keadaan normal dan Markas Orion mengadakan semacam pesta makan malam yang sangat meriah yang berakhir lama setelah tiang-tiang obor terdekat mematikan sinarnya. Sekarang, di tengah malam seperti ini, kedua saudara kembar yang baru bertemu setelah sekian lama itu masih membuka mata lebar-lebar dan tidak bisa tidur.

Di hadapan mereka, Sungai Eridanus melintang, masih membentuk arus yang tidak terlalu cepat namun juga tidak terlalu lambat. Ada beberapa batu-batu besar yang dapat diduduki dengan nyaman asalkan kaki dan tangan cukup kuat untuk melangkahi beberapa batu kecil sebelum dapat duduk dengan nyaman di atas bebatuan tersebut. Di salah satu batu besar yang agak dekat dengan tepi sungai itulah tempat Alyss dan Alde duduk menghabiskan malam bersama, saling membelakangi satu sama lain.

"Jadi kauberhasil mengambil pedang itu dari dalam kerajaan?"

Alyss mengiyakan pertanyaan yang barusan terlontar. "Kalau tidak, aku tidak akan bertemu dengan Bandersnatch. Dalam sebuah gubuk kecil gelap tanpa celah untuk cahaya masuk, dia seakan-akan berhibernasi untuk waktu yang sangat panjang demi menjaga Pedang Vorpal."

Alde mengerutkan kening. "Kalau begitu, bagaimana kamu bisa masuk dalam gubuk itu?"

"Kamu ingat saat kaubicara denganku sebagai suara aneh dalam kepalaku? Saat kamu tidak menjawab, aku mendengar ada pengawal yang berpatroli dalam istana. Aku mencari tempat untuk bersembunyi, dan yang kutemukan adalah gubuk kecil itu." Alyss mengangkat lengan kirinya, membiarkan charm bracelet di pergelangannya terekspos dan memancarkan sinar-sinar yang menerangi malam. "Sepertinya cahaya yang memancar dari gelangku membuat Bandersnatch terbangun. Di saat itulah kami menjadi teman. Para pengawal juga tidak melihatku, tapi mereka sempat mengatakan kalau gubuk itu adalah tempat disimpannya Pedang Vorpal. Jadi aku mengambilnya, mengubahnya menjadi belati karena aku tidak memiliki senjata apapun saat itu."

Alde mengangguk. "Aku memang membutuhkan pedangnya untuk pertempuran melawan Jabberwock nanti. Tadinya aku ingin menyelinap ke dalam kerajaan dulu untuk mengambilnya, tapi ternyata kausudah membawakannya untukku. Terima kasih, ya."

Keduanya saling tersenyum, sementara Alyss mulai mengembalikan Pedang Vorpal ke dalam ukurannya yang mula-mula. Dia memegangnya dengan dua tangan di bagian bilahnya dengan sangat hati-hati, menggeser posisi duduknya untuk menghadap ke arah pemuda di sampingnya tersebut. "Ini, kuberikan padamu. Pertempuran yang kamu sebutkan itu ... akan terjadi sebentar lagi, kan? Karena aku sudah datang ke tempat ini."

"Untung aku tidak membawa pedangku kali ini," Alde melemparkan salah satu senyuman manisnya, sukses membuat hati Alyss meleleh terpesona. "Aku juga tidak tahu mengapa, tapi ternyata aku malah mendapatkan sebuah pedang baru, yang sudah lama kuincar." Pemuda itu bangkit berdiri, menggenggam Pedang Vorpal erat-erat dengan tangan kanan, mengagumi pendar bintang-bintang yang terpantul di bilah peraknya sebelum menyarungkannya ke dalam sarung yang terpasang pada ikat pinggangnya dan memberikan sepatah komentar. "Pedang ini ... memukau."

Alyss kembali menatap ke arah langit, ke arah bintang-bintang yang bersinar terang di tengah malam seperti ini. "Alde, jangan bilang kamu sedang menggunakan kekuatanmu lagi."

Merasa tertuduh, pemuda itu kembali terduduk dan ikut menatap langit. "Pedang itu memukau. Tapi aurora yang tercipta saat kamu mengembalikan pedang itu kembali ke ukurannya yang semula, aurora yang tercipta itu lebih memukau lagi."

"Alde, aku serius. Kamu tidak selalu menggunakan kekuatanmu hampir setiap saat seperti ini, kan? Setiap kali kau dan aku bersama-sama, kamu sering sekali pamer. Seperti sekarang."

"Aku tidak tahan. Itu saja."

"Dasar penguntit bandel."

"Tapi tetap saja masih saudara kembarmu di dunia ini."

Mata Alyss tersenyum senang. Lalu dia berdeham sedikit sebelum mengutarakan sesuatu yang sudah ingin ditanyakannya sedari awal, merapatkan mantel coklatnya, dan merapatkan punggung ke arah pemuda di sebelahnya. "Alde, ada yang aku ingin tanyakan."

"Ada apa, Alyss?"

"Er ... mengenai ... mengenai pertanyaanku di mimpiku yang terakhir. Mengenai kepingan perak dalam tetesan darah yang kulihat."

KRIK. KRIK. KRIK.

Keduanya sama-sama tidak berani untuk memecah nyanyian akapela para jangkrik di tengah malam seperti ini. Keduanya sama-sama tidak berani untuk membalas ataupun melanjutkan kata-katanya. Ada semacam ketakutan yang membuncah dalam benak; apa yang harus dilontarkan sebagai jawaban?

"Lalu?"

Hanya itu yang dapat diberikan sebagai balasan, hanya itu saja yang mampu keluar dari bibir sang pemuda lengkap dengan bumbu getaran keraguan dalam intonasi suara, hanya sebuah reaksi bahwa dia belum tertidur.

"Kemarin, saat tengah malam waktu aku sudah sadar dari koma, aku mencoba untuk menusuk seekor kelinci biasa. Darahnya memang mengalir dan jasadnya tidak menghilang seperti yang kamu katakan. Darahnya ... berbentuk keping-keping keperakan yang berubah menjadi merah seperti normal setelah beberapa menit."

"Mhm."

"Dan saat aku menyentuh darah si kelinci, aku seperti menjadi kelinci itu. Melompat, berburu, menjilat lidah dan menggaruk telinga. Persis seperti keseharian kelinci itu."

"Lanjutkan."

"Aku mencobanya pada diriku sendiri. Kaupasti bisa merasakannya, rasa sakit di kelingking kiri, karena itu aku yang menggoreskannya pada belatiku."

Akhirnya, sebuah pernyataan untuk dijawab dengan aman. "Ya, aku memang merasakannya. Agak sakit, tapi tidak ada darah yang mengalir. Aku memang bisa merasakan apapun yang kaurasakan, hanya saja tidak akan ada luka fisik yang terjadi padaku."

"Baguslah kalau begitu. Ya, saat aku menyentuh darahku, aku bisa melihat kilasan ingatanku. Bahkan sampai ingatanku sebelum pergi ke Spica. Urutannya berjalan mundur, seperti menonton film yang dipercepat saja."

"..."

Ketakutan Alde dan Alyss sepertinya mulai menjadi nyata.

(Apa dia tidak akan bicara padaku setelah ini?)

(Aku harus jawab apa?)

"Aku ingin penjelasan. Sejelas-jelasnya. Sekarang juga."

Alde masih bergeming di tempat, terdiam seribu bahasa. Tidak tahu harus menjawab apa. Kalau ada kebohongan yang terucap, adik kembarnya pasti akan mengetahuinya.

Lebih parah lagi, gadis berambut sepunggung satu ini sudah berbalik badan dan memaksa tubuhnya untuk berputar arah sambil menatapnya dalam. Ada sedikit percik amarah, namun lebih dari semua itu, ada mata yang haus akan jawaban.

"Beritahu aku semuanya, Kak. Katakan semuanya."

Tidak. Tidak tahan lagi. Mata yang memohon, nada yang bergetar, dan lonjakan perasaan di hati, semua tidak bisa ditahan lagi, tidak akan dan tidak mampu terbendung apalagi jika berusaha ditahan untuk sementara dengan sebuah dusta.

"Ini adalah sebuah dunia bernama SPICA," Alde menghembuskan napas panjang, dan berbicara dengan perlahan dan lirih. Orang-orang sudah terlalu terbutakan jika tidak berkata bahwa pemuda ini berkata bohong. Dia tidak tahan untuk tidak mengatakan yang sejujurnya, dan sepertinya dari pembicaraan yang sebelumnya, White Joker telah mengizinkan dirinya untuk membicarakan hal ini. Apapun reaksi Alyss nantinya, saat ini Alde tidak akan peduli lagi."Singkatan dari Space Projector to Initialize Computer Aesthetics. SPICA."


Pukul berapa sekarang di tempat kamu berada?
(Lima hari lagi dan aku akan pulang)
Aku menyimpan fotomu dalam mobilku
(Aku benci memikirkan kamu yang sendirian)
Aku berusaha untuk sibuk sepanjang waktu
Hanya agar kautidak terus dalam pikiranku
Mencoba menyesuaikan zona waktu membuatku gila

Simple Plan - Jet Lag


A/N: Arc 2 selesai! Sekarang kita akan menyambut kenyataan yang baru, menyambut dunia yang baru. Akhirnya unsur cyberpunk-nya keliatan juga, hore! :D Tadi kalian pasti sudah lihat kan? Mencari singkatan untuk SPICA bukanlah hal yang gampang. Susahnya ampun-ampunan, sampai tanya orang-orang untuk mencari saran dan akhirnya inilah yang keluar. Space Projector to Initialize Computer Animation. Ada yang bisa menebak siapa yang membuatnya? Hayo, ingat ya. Siapapun yang berhasil menebak satu unsur dalam jalan cerita atau memberi ide untuk cerita ini, maka chapter yang mengandung ide bersangkutan akan didedikasikan untuknya!

Sampai jumpa di chapter 10: Importance of Whole Existence!

Dream out Loud! =

P.S: Kalian sudah asyik liburan ya? Well, wish you a nice happy new year!