Mereka pulang setelahnya. Ketika jam menunjukkan pukul satu siang, waktu mengisi perut. Lisanna siap menghujam dengan pertanyaan, "kenapa kau lama menjemput Natsu?", "apa berkeliling butuh satu jam lebih?". Namun semua itu digubris menggunakan sebuah jurus, senyum tulus, begitu sumringah merekah entah bermaksud apa. Ya, dia juga kurang peduli. Usai istirahat sejenak lanjut belajar.
"Tadi aku mengunjungi gang yang kita lewati dulu. Masih sama seperti dulu." Ucap Natsu menyinggung topik setahun lalu. Suara ujung pensil terdengar patah. Lisanna sedikit menggeram.
"Banyak sampah dan sekumpulan preman?"
"Mereka tidak ada di sana. Mungkin sedang mencari mangsa. Nada bicaramu tinggi sekali. Santai saja." Mereka tak sadar, wajah Lucy yang terlihat paling tegang. Atmosfer di sekitar mencengkam gara-gara topik itu
"Maaf. Aku sedang sensitif"
"Daripada dilanjut, lebih baik kita bicarakan yang lain. Kalian kenal sejak kapan?" Lenggang dipecahkan sejenak oleh pertanyaan Lucy. Keantusiasan Lisanna terlihat jelas.
"Kelas satu SMP. Awalnya kami bertemu di MOS. Ada Gray juga, mereka sering bertengkar. Pernah karena roti sampai ribut di lorong. Para guru kesulitan melerai. Pulang-pulang dimarahi." Hafal betul dia, batin Natsu masih asyik menulis.
"Hahaha... Tapi Natsu orang baik, kok. Bahkan beberapa kali dia menasihatiku. Bisa kusebut pembaca terbaik." Entahlah kapan, mendengarnya yang disebut-sebut pamer gigi bangga. Terkesan seperti, "kesayangan".
"Sayang belum punya pacar." Imajiner indah itu runtuh seketika. Maksud Lisanna adalah, "kau tidak butuh jika punya tunangan". Meski belum pasti kapan dilaksanakan.
Matahari tumbang di kaki barat, barulah Natsu pamit pulang pada tante, juga anaknya. Lucy mengantar ke stasiun, sekalian membeli snack di minimarket terdekat. Jadilah topik hari ini membicarakan dia, "siapa perempuan cantik itu?", "kapan kalian kenalan?". Mau tidak mau bicara jujur, bahwa mereka sempat kenalan di sosial media, walau beliau kurang peduli dan mengangguk paham. Obrolan ibu-ibu dirasa jauh lebih menyenangkan.
"Natsu. Apa kau menyukai cewek bernama Lucy?" Pertanyaan yang menghujam ulu hatinya keras. Natsu menggaruk kepala salah tingkah. Bilang iya takut dikomentari pedas. Bilang tidak membohongi diri sendiri.
"Bi-biasa saja. Kami teman baik"
"Baguslah. Tadinya ibu mau menyuruhmu sedikit menjaga jarak. Bisa gawat kau jatuh cinta sebelum bertunangan. Jangan kecewakan pihak Lisanna, paham?"
"Uhm! Aku mengerti"
Kan, benar... Natsu orang kedua yang paling mengerti ibu setelah ayah. Perangai, kebiasaan, kesukaan, dia tau meski suka melanggar. Topik berpindah ke belajar kelompok, tak jauh dari pertanyaan, "bagaimana? Ada kemajuan?", lalu dijawab singkat semacam, iya, iya dan iya, agar berhenti ditanyai. Secara tidak langsung, anak itu agak sebal karena Lucy langsung ditolak. Kalau kenalan, pasti beliau tau siapa yang baik atau bu…. Ah, sudahlah.
"Omong-omong. Kapan Natsu-chan dan Lisanna-chan tunangan?" Tante Grandine selalu memakai suffix tersebut sejak dia kecil. Awal-awal, sih, biasa saja, menanggapi, "iya" sambil nyengir lebar. Sekarang tidak
"Masih direncanakan. Nanti datang, ya. Natsu pasti senang dapat restu darimu."
"Waktu berlalu cepat. Dulu masih setinggi kaki tante, sekarang melebihi malah! Tidak kurus kerempeng. Badannya atletis. Juara tanding bakset. Kau mendidik anakmu dengan sangat baik."
"Meminang Lisanna juga keberuntungan! Aku bersyukur telah memasukkannya ke SMP Fairy Tail, bukan Lamia Scale. Dia pun punya Gray."
Tawa renyah yang terdengar sayup-sayup di tengah keramaian. Natsu didera lamunan, terduduk lesu bersandarkan jendela persegi. Dia juga berpikiran sama, bisa mempacari wanita multitalent, terkenal di seluruh Magnolia, tetangga, anak kecil bahkan tukang sayur tau siapa Lisanna Strauss, anak pengusaha terkenal sekaligus penulis novel remaja dan model majalah. Kegemilangannya hanya bertahan sesaat. Hancur berkeping-keping berkat insiden setahun lalu.
Seorang anak malang menjadi korban dengan Natsu dan Gray yang tidak berdaya.
"Arghhh…. Kenapa aku terus memikirkannya?"
"Kepalamu pusing? Mual? Ibu ambilkan minyak kayu putih. Aduh, di mana ya?"
"Tidak perlu. Aku bisa menahannya sampai tiba di Magnolia. Ibu, jika semisal Lisanna pernah melakukan kejahatan pertama, menurutmu bagaimana?" Bariton itu bergetar hebat sewaktu bertanya. Begitu aneh hingga kertu di dahi beliau terlihat jelas
"Ditangkap polisi tentunya. Mabuk kendaraanmu sangat parah. Berhalusinasi begini. Sepulang ke rumah istirahat yang cukup, oke? Jangan main game."
"Iya…."
Penyakit kambuhan yang menyebalkan. Sepanjang perjalanan Natsu tertidur lelap. Sampai mereka tiba di stasiun terakhir pukul enam sore. Setidaknya lebih baik dibanding bergoyang dangdut di kereta. Nekad melintas walau rek sedikit mengalami kerusakan. Mereka berpamitan dengan Grandine di pusat air mancur. Berjalan kaki menuju rumah yang diakhiri helaan nafas panjang, lega sekaligus lelah.
"Sejak kapan sofa begitu empuk?"
"Mandi dan makan malam dulu!" Sayang kesadaran tidak mau menunggu lagi. Natsu tidur meski banyak melakukannya di kereta, tiga jam nonstop pula. Ibu menggeleng kepala pelan. Dia tetap anak kecil yang mesti diawasi.
"Ayah. Tolong gendong Natsu ke kamarnya. Di sini dingin, dia bisa masuk angin." Tanpa perlu disuruh dua kali. Perintah dilaksanakan sebelum spatula melayang.
Sudah SMA pun masih digendong. Kasih orangtua memang selalu sepanjang masa, kecuali pacar, putus-menyambung.
Keesokan harinya….
Bangun-bangun ia terkejut, sudah berpindah dari sofa ke ranjang dalam sekejap. Natsu berlari girang, hendak pamer pada ayah dan ibu, macam bocah usia lima tahun memberitau, kehebatan mainan bisa bicara di sebuah televisi. Aktivitas sarapan terhenti sesaat. Roti kembali menganggur di piring, sepasang sepuh itu bertanya-tanya dalam hati, "ada apa?". Lagi pula genteng rumah sudah diperbaiki, kamarnya kering, kok.
"Meteor jatuh menimpa rumah?" Terka ayah melantur.
"Cetak Bahasa Jepangmu tertinggal di rumah Lisanna?!" Ibu khawatir setengah mati.
"Burung pelangi di Birdland?" Dongeng yang terkenal sepuluh tahun lalu. Meski popularitasnya belum menurun ditelan zaman.
"Hand phonemu terjatuh dan rusak?"
"Kalau begitu ayah tidak mau memperbaikinya! Pasti modus minta dibelikan HP baru."
"Bukan… itu… dengarkan dulu. Ayah. Ibu. Aku bisa teleportasi! Kemarin, 'kan' tertidur di sofa, tau-tau sudah pindah ke ranjang. Hahahaha…. Ini keren! Jika kuceritakan ke Gray, Loke dan Gajeel mereka pasti tercenang." Lalu menertawaimu bodoh, tamat.
"Ya ampun…. Kami kira apa! Cepat sarapan dan ganti baju. Kau sudah mandi belum?"
"Tunggu sebenar. Sisakan telur dadar untukku!" Menghilang ke kamar mandi. Natsu siap jebar-jebur ala koboi. Mungkin pembagian waktunya dua menit membasuh diri dan semenit keramas.
"Anak kita masih polos, ya." Di balik koran mingguannya, ayah menunjukkan senyum tipis. Ibu mengelus dada bersyukur, "untunglah keluarga Strauss mau menerima Natsu kami yang bodoh".
Menghabiskan dua lembar roti dan telur dadar, Natsu berangkat ke sekolah penuh semangat demi menuntaskan ujian pertama. Tak lupa ia menceritakan 'kejadian aneh' tersebut. Membuat teman belakangnya tertawa terbahak-bahak, sakit perut. Gray menyeka air mata di ujung. Padahal sudah mau ujian, tapi kelakuannya masih ada-ada saja, yang ditertawakan justru mengerucutkan bibir sebal. Lagi serius kok main-main?
"Ehem! Menurutku Natsu, om pasti memindahkanmu ke kamar atas perintah tante. Jangan kebanyakan berkhayal. Selesai ujian saja." Canda Gray menatap remeh. Ia menidurkan kepala malas, benar juga sih! Mengiyakan dalam hati.
"Kali ini aku serius! Gray. Akan kutembak Lucy setelah kenaikan kelas berakhir."
Uhuk… uhuk….
Tersedak ludah sendiri akibat kaget, Gray memicingkan sepasang dark blue-nya, menginterogasi. Pucuk salam Natsu mengangguk cepat tiga kali, kode bahwa dia tidak bercanda. Entah kabar baik atau buruk, kalau dipisahkan mungkin begini, menurut keegoisan : ayan dan ibu pasti kesal mendengarnya, sedangkan hari nurani : baguslah! Lucy benar-benar menjadi someone special-mu. Jadi, harus menuruti yang mana?
"Su-sudah kau pikirkan matang-matang?"
"Uhm! Ternyata aku memang menyukainya. Setiap hari kepikiran, apa lagi ketika kami menghabiskan waktu bersama. Kalau saat ulangan nanti tanganku menuliskan isi chat kita bagaimana?" Hoi, hoi, kau berlebihan! Tapi Gray sangat senang.
"Lakukan yang menurutmu benar. Jangan mundur meski ditolak, oke?"
"Siap laksanakan, boss! Oh iya, pulang sekolah tolong ajari aku matematika, boleh? Sekali saja, setidaknya mendapat nilai delapan puluh."
"Tentu. Omong-omong aku punya kabar baik, yaitu…."
Ding… dong… ding… dong….
Bel masuk berbunyi. Ucapan Gray terpaksa dihentikan. Natsu melambaikan tangannya berjalan ke lantai tiga, ruang tempat melaksanakan ujian. Kelas mereka dipisah berdasarkan nomor absen. Jika tidak, dia pasti minta jawaban di hari kedua. Serentak dilaksankan pukul 7.30, para murid siap menghadapi rintangan terakhir dengan harapan nilai terbaik.
Pulang sekolah….
Janjian di depan kelas Gray. Mereka berangkat ke rumahnya di lain jalan. Gajeel dan Loke tidak ikut, mereka sudah mengikuti kursus matematika di Ultear-sensei, guru "beruang ganas". Sesuai julukannya, beliau galak terlebih jika ada murid yang belum menyelesaikan soal, dalam tenggang waktu terbatas, dua menit. Namun terbukti ampuh untuk menaklukkan matematika, subjek tersulit di ujian.
Siapa peduli. Mau murid-muridnya mendapat nilai seratus bahkan seribu sekalipun. Natsu enggan bertemu tante Ultear, salah satu teman ibu.
"Inilah yang dinamakan tidak tau bersyukur. Tante Ultear teman ibumu, bukankah jadi lebih enak kalau bertanya atau apa?" Tanya Gray heran. Kalau dia kurang pandai sudah pasti les ke sana. Lagi pula telah teruji kebenarannya
"Sewaktu berumur enam tahun. Tante Ultear paling suka mencubit pipiku. Rasanya sakit tau! Jadi, aku menyuruh ibu bilang, 'Natsu sudah dewasa dan tampan', supaya berhenti dianggap anak kecil."
"Hahaha…. Kelakukanmu masih seperti bocah kok. Wajah juga tambah manis bukan tampan." Pujian yang membuat Natsu merinding. Gray bukan pengidap LGBT, 'kan? Kenapa saat mengatakannya dia senyum-senyum sendiri?
"Berhenti bahas tante Ultear. Aku tidak mengerti soal nomor lima."
"Caranya…."
Tak terasa matahari siap tenggelam di ufuk barat. Natsu mengucapkan terima kasih sebelum pamit. Asyik mengobrol di facebook dengan Lucy menemani perjalanan pulang. Sekarang dia yang tertular penyakit gila Gray, yakni senyum-senyum sendiri tanpa alasan jelas, walau penyebabnya sudah pasti, karena layar hand phone yang menyala terus menunjukkan satu pesan masuk.
Natsu Dragneel : Eh. Aku punya kejutan, lho! Habis ujian berakhir nanti kuberitau deh.
Lucy Heartfilia : Kuharap cepat selesai. Penasaran berat! Tadi bisa tidak mengerjakan soalnya? Guruku kejam memberi yang sulit.
Natsu Dragneel : Standar sekolahmu tinggi ya? Mudah kok. Sepuluh menit mengerjakan juga selesai. Soal hasil serahkan pada Yang Maha Kuasa.
Lucy Heartfilia : Hahaha…. Masa kau tidak yakin? Aku juga punya kejutan setelah ujian berakhir.
Natsu Dragneel : Ikut-ikutan, nih! Tiga hari tersisa. Semangat ya!
Lucy Heartfilia : Kamu juga. Jangan lupa sabar. Karakter kita terjebak hingga kelulusan kelas tiga tiba, wkwkwkw…. Ganti rencana saja. Kuberitau kalau punya ide.
Natsu Dragneel : Roger. Aku mau mandi. Nanti malam sambung lagi.
Lucy Heartfilia : Heh, apa kau tau aku tidak belajar matematika sehingga mengajak chatting?
Natsu Dragneel : Hebat! Semoga nilaimu tidak dilalap jago merah. Jika iya hubungi aku, Natsu Dragneel pemadam kebakaran 24 jam nonstop siap membantu Anda! Gratis pula.
Lucy Heartfilia : Iya, iya. Cepat mandi. Bau!
Setengah hari berlalu. Natsu lupa apa itu tegang. Seakan matematika hanya seonggok debu tak berarti.
Sementara Gray di rumahnya….
Mereka sekeluarga tengah makan malam, sepiring penuh udang mayones, semangkuk salad, makanan laut lain juga sup jagung. Gray nikmat melahapnya. Semenjak perusahaan Fullbuster maju pesat, hampir setiap waktu lauk-pauk enak terhidang di meja putih. Dengan tenang ia menaruh piring dan sumpit. Hendak membicarakan hal penting sehingga tetap diam di sana, menunggu. Bisa ditebak, kalau bukan menyangkut Natsu maka apa?
"Baiklah Gray. Kau boleh bicara sekarang."
"Ayah. Ibu. Se-sebaiknya aku angkat tangan dari masalah perjodohan Natsu. Hubungan mereka telah membaik. Dapat saling menerima baik-baik. Ja-jadi, untuk se…."
BRAKKK!
"Kau mau angkat tangan semudah itu?! Ayah tidak setuju! Kita mana tau apa terjadi. Jika Natsu menyukai wanita lain bagaimana? Hanya ini satu-satunya cara kita untuk membalas budi keluarga Dragneel."
"Tapi tante maupun om tidak minta ikut campur, Ayah! Natsu harus menyelesaikannya sendiri. Masalah itu berhubungan dengan perasaan dia, bukan keluarga ki…."
PLAKKK!
"Diam Gray. Berhenti membantah Ayah dan Ibu! Kau pikir, siapa yang berjasa menyelamatkan keluarga kita dari kemiskinan? Itu berkat keluarga Dragneel! Memang kamu mau tinggal di rumah kontrakan? Berpindah-pindah karena terus diusir?! Uang sekolah menunggak tiga bulan?!"
"Asalkan tanggung jawab itu lepas tidak masalah." Gray tak berhak memaksa ataupun menghasut Natsu. Mereka berteman karena tulus, bukan semata-mata atas hutang budi. Tapi Ayahnya memang kepala batu. Ditambah Ibu bersikap acuh
"Sudah berani melawan, hah?!"
Semalam dipukuli menggunakan kayu rotan. Gray bersumpah berhenti ikut campur. Membiarkan Natsu menentukan sendiri.
Keesokan harinya….
Berukir lebam di sekujur tubuh dan wajah. Gray meringis kesakitan terlebih ketika buka mulut, lukanya ikut naik ke atas sesuai gerak bibir. Seperti biasa Natsu menghampiri. Meski suasana pagi itu agak berbeda, dikarenakan dia panik melihat sang sahabat bagai dihajar massal, oleh sekumpulan geng. Berlagak santai. Pemuda salam itu diminta menenangkan diri. Meyakinkan hanya terjatuh dari tangga, tidak lebih.
"Lain kali hati-hati. Aku yang kau katai bocah saja tidak terjatuh saat menaiki tangga." Kini Natsu punya cara jitu menghadapi ejekan Gray. Lucy juga menyarankan beberapa tips kemarin. Siapa sangka berguna!
"Hari ini kau menang. Aku malas meladeni remaja yang sebenarnya bocah usia lima tahun."
"Daripada kamu bapak-bapak."
"Serius jadi ditembak?" Arah pembicarannya sengaja diubah. Natsu mantap mengiyakan, sekaligus senang berhasil menyindir Gray telak.
"Mengulang latihan matematika?"
"Jelas! Aku ingin mendapat nilai baik ketika ditanya Lucy. Dia juga membantu belajar kemarin. Soal paling sulit sekalipun berhasil ditaklukkan. Jadi kuberi julukan, 'kalkulator virtual'."
"Mentang-mentang kalian bertemu di dunia maya begitu? Gantilah julukannya, aneh!"
"Kau saja tidak mengerti. Ternyata kamu memang cocok menjadi peramal. Tau darimana aku terinspirasi lewat pertemuan kami?" Pikiranmu saja yang terlalu mudah ditebak, salam bodoh. Gray tetap menang dalam 'permainan' ini.
"Rahasia! Kalau peramal memberitaukan semuanya tidak asyik lagi. Dua menit lagi bel berbunyi. Kembalilah ke kelas"
Hari demi hari berlalu. Saat mata ujian terakhir yakni pengetahuan sosial diujikan, Natsu siap menjalankan rencananya : menembak Lucy. Bahkan karena serius menanggapi, dia sampai bertanya, "lokasi yang enak untuk teleponan", dihadiahi jitakan keras oleh Gray, berisyarat, "di mana pun tidak masalah". Lagi pula bukan sungguhan kok.
Tut… tut… tut….
"Ha-halo! Apa kabar?!" Lagi-lagi terkesan dipaksa. Natsu menepuk jidat keras. Sudah kedua kalinya dan dia belum lancar berbicara.
"Ba-baik! Hahaha…. Kita masih gugup, ya"
"Habis…. Suaramu imut"
"Eh, kau bilang apa? Aku tidak dengar"
"Lupakan saja! Lucy. Soal kejutan itu…. Aku selalu menyukaimu!"
"I… iya… a-aku juga kok!"
"Aku selalu menyukai karyamu meskipun haitus!" Lega sudah mengatakannya. Sekarang giliranmu memberiku kejutan"
Krik… krik… krik….
Siapa yang menaruh jangkrik di sini?
Bersambung….
Balasan review :
Aimi Uchiha Dragneel : Hahaha maaf kalo lama, efek jomblo lagi nungguin review nih (salah sendiri update-nya dulu lama). Oke deh thx ya udah review. Semoga gak dikecewakan lagi oleh Natsu hahaha.
Fic of Delusion : Semoga romantisme-mu gak kayak gitu ya. Thx udah review :v
