Fokus pandangan gadis itu masih jatuh pada orang yang sama. Angin yang bertiup membuatnya sedikit menggigil. Tubuhnya yang berkeringat sehabis pertandingan tadi menjadi lebih sejuk akibat embusan angin. Punggung pemuda itu masih menjadi daya tarik utama penglihatannya. Sejujurnya dia cukup salut pemuda tadi begitu membela mati-matian kekasihnya.
"Siapa?" pemuda lain muncul dari belakang. Pemuda itu cukup khawatir karena melihat si gadis ditarik orang tak dikenal. Belum lagi pemuda tak dikenal itu membawa gadis kesayangannya ke belakang gedung yang cukup sepi. Kedua orang itu sempat terlibat pertengkaran, namun gadis kesayangannya bisa membereskan masalah itu dengan cukup baik.
"Pacar lawan yang jatuh tadi," jawab gadis itu. Pemuda tadi melingkarkan lengannya di bahu sang gadis, lalu tersenyum.
"Dia mau apa?"
Bahu gadis itu sedikit terangkat. "Entah, tak penting juga."
Pemuda itu kembali tersenyum merasakan kepala si gadis mulai bersandar di dadanya. Jaketnya lalu dibuka dan dipakaikan di bahu si gadis. Angin yang bertiup cukup kencang, apalagi seragam basket berwarna putihnya masih lembab oleh keringat, jangan sampai nona berharganya ini jatuh sakit.
"Terima kasih."
Lagi-lagi pemuda itu hanya membalas dengan senyuman.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sai menyandarkan tubuh pada tumpukkan bantal yang berada di atas tempat tidur besarnya. Ujung kakinya digoyangkan ringan ke kiri dan ke kanan sehingga kakinya yang telentang ikut bergetar ringan. Kedua telapak tangannya dia gunakan sebagai pembatas antara kepala dan bantal empuknya. Setengah berbaring, sangat santai.
Tapi, pikirannya sama sekali tak sesantai gayanya sekarang. Otaknya masih saja mengkhawatirkan keadaan Sakura. Ah, semoga saja Sasuke bisa menjaga wanita itu dengan baik. Jangan sampai keadaan Sakura makin parah.
Tangan kanannya lalu merogoh ponsel yang ada di saku celananya. Ini waktu yang tepat untuk mendapat hiburan dari kepenatannya. Jemari tangannya mulai bergerak membuka kontak yang ada di ponselnya, mencari sebuah nama yang tak pernah gagal membangkitkan senyum jailnya.
Uzumaki Karin.
Itu dia. Beberapa saat kemudian terdengar nada panggilan masuk yang sudah sangat familiar di telinganya. Tak perlu menunggu lama karena panggilannya itu sudah dijawab oleh sang target.
"Apa kau menunggu telepon dariku?" tanya Sai iseng.
Oh, tak perlu otak jenius untuk menebak seperti apa jawaban dari seberang sana. "Kau bercanda? Siapa yang menunggumu!? Huh!"
Sai menatap langit-langit kamarnya, lampu kamar yang menyala terang cukup menyilaukan sehingga kelopak matanya sedikit disipitkan. "Soalnya bulan purnama di luar sana mengatakan kalau kau sedang merindukanku, seperti aku rindu padamu."
Andaikata saat ini Karin ada di depannya, maka sekali lagi dia dapat dengan akurat menduga reaksi wanita muda itu. "Pembohong!"
"Tentu saja, malam ini tak ada bulan di langit, apalagi bulan purnama."
Suara Karin kemudian terdengar kesal. "Jadi, kau bohong waktu bilang rindu padaku?"
Sai menahan tawanya geli. Ya Tuhan, ternyata perempuan seperti ini masih ada di dunia. "Wah, jadi, kau berharap kalau aku merindukanmu di sini?"
"..."
"Ya, aku merindukanmu."
"..."
"Rindu mengganggumu."
Lalu, detik itu juga Sai memutuskan sambungan telepon mereka. Dia hanya ingin menyelamatkan telinganya dari lengkingan suara Karin, ada-ada saja perempuan itu. Ponselnya dilempar sembarangan ke sisi ranjangnya yang masih kosong. Dugaannya benar, suasana hatinya jadi cukup membaik sekarang.
Cepat sembuh, Sakura, batinnya tulus.
.
.
.
.
.
BECAUSE OF YOU
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, saya hanya meminjam tokoh-tokohnya saja
Story by Morena L
Warning: AU, typo, OOC
.
.
.
.
.
Tengah malam, demamnya semakin menjadi-jadi. Keringat dari tubuhnya keluar tanpa henti. Beberapa kali dia memangil pelayan untuk menggantikan baju Sakura.
Kali ini sedikit diperparah karena Sakura mulai menggigil. Selimut yang dipakai percuma saja karena yang dirasakan berasal dari dalam. Sasuke mulai berpikir untuk membawa Sakura ke rumah sakit. Wanita itu terlihat sangat menderita.
"Sakura," panggilnya pelan.
Kedua kelopak mata wanita itu sedikit membuka.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit."
"Ti-tidak ... aku ... tidak mau," jawabnya lemah.
Lalu, mereka harus bagaimana? Apa obat yang tadi diminum belum bekerja? Kalau sampai besok pagi belum ada perubahan, tak ada tawar menawar lagi. Sakura harus segera dirawat di rumah sakit. Dia terlihat sangat kepayahan, tapi masih tetap keras kepala.
"Kau benar-benar tak mau ke rumah sakit?"
Sakura menggeleng pelan. Beberapa lama Sasuke dibiarkan gusar karenanya. Mau bagaimana lagi, istrinya itu memang kepala batu.
"Kalau begitu, besok pagi kau tak boleh membunuhku."
Sasuke bangun dari posisi berbaringnya, dia membuka jubah tidur yang dikenakan wanita itu, menyisakan gaun malam pendek yang membungkus tubuhnya. Dia menarik Sakura mendekat. Meletakan kepala wanita itu pada salah satu lengannya, membetulkan posisi selimut, kemudian memeluknya erat.
oOo
Wanita itu tidur begitu pulas di dalam dekapannya, sama sekali tak merasa terusik dengan posisi tidurnya yang tak biasa. Beberapa kali Sasuke harus terbangun karena tubuh Sakura masih mengeluarkan keringat yang begitu banyak. Walau terpaksa, akhirnya dia menyeka keringat di tubuh Sakura—sejauh yang dia bisa. Dia masih merasa canggung untuk menyentuh tempat-tempat tabu pada tubuh wanita. Karena itu, malam ini dia hanya mendedikasikan diri mengusap dahi, leher, dan lengan istrinya itu.
Jam digital di atas nakas yang berada di samping ranjang sudah menunjukkan pukul lima pagi ketika dia selesai membersihkan keringat yang terus mengucur dengan sapu tangan bersih—miliknya. Tak tahu ini yang keberapa kalinya dia melakukan hal itu. Baiklah, semalaman tidak dapat tidur, maka Sasuke mengingatkan diri sendiri untuk memeriksa tensi darahnya. Jangan sampai dia juga ikut-ikutan sakit.
Sasuke kembali menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Salah satu lengannya kembali mendekap pinggang Sakura sementara lengannya yang lain menjadi alas tidur bagi kepala berhelaian merah muda wanita itu. Sakura masih pulas, tak terganggu sedikit pun. Berita baiknya adalah suhu tubuh gadis itu sudah berangsur membaik, tak setinggi tadi malam.
Pikiran rasional menyuruhnya untuk segera melepaskan dekapannya. Mereka masih berada dalam tensi tinggi. Bisa saja Sakura bangun dan mendapati suasana aneh di antara mereka. Oh, tentu saja, mereka berdua masih saling melepaskan panah permusuhan satu sama lain.
Perlahan, dia menarik lengannya agar terbebas dari beban kepala wanita itu. Tangannya yang tadi mendekap pinggang Sakura juga dia lepaskan. Ranjang besar itu sedikit berderit saat Sasuke membalikkan tubuhnya, membelakangi Sakura. Dia bergerak beberapa kali agar jarak di antara mereka semakin lebar.
"Uuuuugh."
Sasuke memejamkan kedua matanya ketika mendengar lenguhan lemah di belakangnya. Badannya merasakan getaran kecil, Sasuke yakin saat ini pasti Sakura sedang bergerak. Kepalanya ditolehkan sebentar. Benar saja, saat ini perempuan itu juga membelakanginya. Sasuke kembali berbaring, berusaha menutup matanya, dan tidak mau memikirkan apa pun. Namun, punggung mereka yang saling berhadapan seperti menimbulkan medan magnet berbeda kutub yang saling tarik menarik.
Ada sengatan listrik statis yang memaksa agar kedua punggung itu saling bersentuhan. Atau, paling tidak, ada anggota tubuh mereka yang saling menyentuh. Huh, Sasuke ingin meremas rambutnya sekarang, ini tak mungkin terjadi! Tidak, tidak boleh! Pikirannya pasti sudah dirasuki sihir aneh.
Dia hanya tak tahu kalau saat ini kedua kelopak mata Sakura sedang membuka lebar. Ekspresi wanita itu dipenuhi dengan berjuta emosi. Sakura juga sedang berjuang untuk menahan diri. Dia juga merasakan percikan itu. Tidak! Tidak boleh! Ini Sasuke, pria yang pernah melakukan hal bejat padanya. Dia hanya tak paham kenapa tubuhnya mulai berkhianat dengan logikanya.
Oh, well, kontradiksi memang. Tapi, atmosfer yang timbul di antara mereka memang tak bisa dinilai secara logika ...
... dan hal itu membuatnya kesal.
Kesal. Setengah. Mati.
oOo
Ketika sinar mentari pagi mulai menembus jendela kaca di kamarnya—kamar mereka, barulah Sasuke beranjak dari ranjang. Selamat, dia sukses terjaga sepanjang malam. Sinar berwarna kuning keemasan itu menerpa tubuhnya yang sedang melangkah menuju kamar mandi. Pikirannya sudah menyiapkan sebuah rencana. Mandi lebih cepat dari biasanya, bersiap lebih cepat, dan ke kantor lebih cepat.
Semua itu dia perlukan untuk menghindari Sakura. Saat ini dia rasa itu hal terbaik yang harus dilakukannya.
Titik-titik air dari shower yang berubah menjadi aliran yang cukup cepat mulai mengucur. Cairan bening itu menghujani seluruh tubuhnya, membasahi setiap inchi kulit Sasuke. Kepalanya mulai mendingin. Badannya masih kaku dan sedikit letih. Sasuke bukannya tak terbiasa begadang. Dia sudah terbiasa. Terlalu terbiasa malah. Masalahnya, dia hanya tak biasa dengan situasi yang dialaminya sepanjang malam. Dia tak pernah terlalu dekat seperti itu dengan seorang perempuan. Pun tidak dengan Karin. Tentu saja kondisi tadi adalah ranah asing buatnya.
Air kembali membasahi tubuhnya yang kini dipenuhi busa sabun. Otot yang ada pada tubuhnya adalah hasil dedikasi kerja keras dan pantang menyerah selama bertahun-tahun. Dia bukan orang yang sengaja berolahraga untuk mendapatkan tubuh atletis, tapi keadaan yang memaksanya bekerja keras sejak lama. Apalagi, lingkungan tempat dia tumbuh besar adalah lingkungan keras seperti Distrik Konoha. Jadi, secara tak langsung, tubuhnya terbentuk sendiri secara alami.
Pria itu hanya membungkus tubuhnya dengan handuk putih ketika keluar dari kamar mandi. Dia terlihat lega karena sang istri masih belum beranjak dari alam mimpi. Sasuke menuju ke closet pakaiannya. Sebenarnya, orang efisien sepertinya malas menimbun pakaian, tapi ternyata saat pindah ke sini, Sakura sudah memenuhi closet pakaian itu dengan banyak pakaian pilihannya. Ah, tak perlu bertanya sebesar apa kamar khusus yang dipakai Sakura untuk berganti baju.
Masih belum bangun, batinnya lega. Dia lalu membawa satu stel pakaian kembali ke dalam kamar mandi. Dasi dan jas nanti sajalah, yang penting bisa berganti baju secepat mungkin, lalu pergi.
Satu masalah muncul saat dia menyadari kalau kancing ketiga kemeja biru mudanya ternyata tak ada. Lepas entah di mana. Masih pagi sudah mengalami kesialan, tanda dia akan menjalani hari yang buruk, begitulah yang selalu digembar-gemborkan Karin dulu. Terpaksa dia harus mengganti kemejanya, semoga saja Sakura masih belum bangun.
Tampaknya, rencananya kali ini benar-benar tak direstui Sang Pencipta. Pintu kamar mandi yang berada tak jauh dari kepala ranjang terbuka, dan hal pertama yang tertangkap penglihatan Sasuke adalah sosok Sakura yang sudah bangun. Wanita itu bersandar di kepala ranjang, selimut masih menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Pagi sekali kau bersiap-siap." Sakura mencondongkan tubuhnye ke depan, lalu berbalik ke arah nakas untuk memerhatikan waktu yang ditunjukkan jam digital-nya. "Ini masih pukul setengah tujuh pagi."
"Hn."
Sasuke kembali membuka closet pakaiannya yang berhadapan langsung dengan ranjang mereka, tangannya memilah-milah deretan kemeja yang menggantung.
"Aku baru tahu kalau kau jadi pemilih sekarang," cibir Sakura.
"Hn?"
"Pemilih soal baju."
"Kancing kemejaku ada yang lepas," jawabnya datar, acuh tak acuh, sekadar formalitas biar perempuan itu tidak lagi bertanya.
"Sini kuperbaiki."
Okay, Sasuke mematung sebentar. Telinganya tidak salah dengar, kan? Sepertinya dia tak salah karena kali ini Sakura sudah menyibak selimut tebalnya yang bermotif bunga Sakura. Wanita itu menurunkan kakinya, sambil duduk dia membuka laci bagian tengah nakas. Dia lalu mengeluarkan kotak kayu kecil. Sasuke akui dia cukup terkejut menemukan fakta bahwa Sakura menyimpan peralatan menjahit sederhana di kotak itu. Tanpa kesulitan dia memasukkan benang di antara lubang jarum, lalu mengambil kancing cadangan dari dalam kotak yang sama.
Kaki Sakura mulai mendekatinya yang masihh terpaku di depan closet. Dari langkahnya saja dia sudah terlihat lebih baik. Jauh lebih kuat dibandingkan dengan semalam. Pria normal mana pun pasti tak akan bergidik saat penglihatannya jatuh pada seorang wanita tinggi, langsing, dan mengenakan gaun tidur seminim itu sedang berjalan ke arahnya. Oh, shit! Ada apa dengan dirinya sekarang?
"Sebentar," ucap Sakura pelan dan mulai membuka kacing yang tadinya masih terpasang, "ini biar menjahitnya lebih mudah. Dulu ibunya Sai yang mengajariku menjahit kancing baju yang terlepas." Sakura mulai bercerita, dia seolah tak sadar akan atmosfer asing yang mulai terbangun. Atau, dia berpura pura tak sadar?
Posisi mereka sangat dekat. Terlalu dekat. Sasuke bisa merasakan napas hangat wanita itu menerpa dada telanjangnya yang tak ditutupi jalinan benang kemejanya. Kancing ketiga yang berada sangat dekat dengan dada bidangnya. Sesekali tak sengaja ujung jari Sakura menyentuh kulit licinnya, menyalurkan gelenyar listrik ke pusat sistem sarafnya. Dia kenal atmosfer ini. Dia baru saja berada dalam situasi seperti ini beberapa jam yang lalu.
Sakura sedang berkonsentrasi dengan aktivitasnya yang melibatkan kancing, kemeja, benang, dan jarum. Sasuke menahan napasnya ketika Sakura memajukan kepalanya, wanita itu menggigit sisa benang sampai putus.
Si—al.
Bibir perempuan itu tak sampai dua sentimeter dari kulitnya.
Sasuke sepakat dengan logikanya kali ini. Hal yang baru saja mereka lakukan adalah aksi dan reaksi berbahaya!
"Kau berkeringat?" usaha sempurna Sasuke untuk mengalihkan perhatian. Bagus, dia ingin memberi dua jempol untuk improvisasi otaknya.
"Efek sakitku mungkin belum berakhir," jawab Sakura pelan. Akan tetapi, dia sendiri tampak tak yakin dengan jawabannya. "Sudah selesai."
"Hn."
Suasana di antara mereka kembali kaku. Sakura kemudian membelakanginya, memberinya kesempatan untuk mengancingi kemejanya. Argh! Kenapa mereka bisa terjebak dalam situasi seperti ini? Kalau terus seperti ini, Sasuke tak tahu lagi ke depannya akan seperti apa. Dia tak berani memprediksi.
.
.
.
oOo
.
.
.
Naruto, Juugo, dan Suigetsu sampai menganga melihat perubahan sikap Sasuke sepanjang hari ini. Biasanya dia akan memaki mereka—tak peduli mereka berteman akrab—kalau ada desain yang tak sesuai dengan rencana awal. Kali dia hanya mengangguk maklum. Bahkan, sudah dua desain yang dia perbaiki sendiri. Sikap Sasuke yang tak biasanya di ruangan meeting ini malah membuat ketiganya berbalik merasa horror.
Mereka bertiga saling berbagi tatapan bingung, melihat Sasuke mendorong kursi yang ada di sisi kanan kirinya, membuka gulungan plan ketiga di atas meja besar berbentuk elips yang dikelilingi kursi tersebut. Tangannya dengan cekatan memanfaatkan penggaris, pensil, dan penghapus untuk memperbaiki kesalahan rancangan di sana-sini.
Suigetsu sudah berdoa kepada dewa yang mana saja agar dia bisa diselamatkan. Bagaimana tidak? Gulungan plan yang sedang Sasuke obrak-abrik adalah hasil kerjanya. Habis ini pasti tamat sudah riwayatnya.
"Suigetsu."
Rasanya lebih baik dia berubah menjadi patung atau kalau perlu menelan bahan peledak saja sekalian.
"Di sini." Sasuke menunjuk bagian rancangan halaman gedung pada plan tersebut. "Masih kurang proporsional dengan gedung utamanya. Jangan ulangi lagi."
Terima kasih pada dewa mana pun yang telah membagi kesabaran dan pengertian luar biasa pada Sasuke pagi ini. Kalau perlu, saat ini juga dia ingin pergi ke kuil, gereja, atau ke mana saja untuk menyatakan rasa syukurnya.
oOo
"Hhh."
Sasuke menghempaskan tubuhnya di kursi. Suara pintu yang ditutup dan langkah kaki yang menjauh membuatnya ingin istirahat sebentar. Sebelah tangannya menutup wajah, sebelahnya lagi dibiarkan menggantung begitu saja. Dampak dari kejadian yang sudah-sudah ternyata bisa begini drastis.
"Ada apa, Sasuke?" rupanya Naruto belum pergi. Dia maju, mengambil tempat di kursi yang ada di sebelah Sasuke. Sejak tadi dia sadar kalau ada yang tak beres pada diri atasan sekalibus temannya ini.
"Situasi yang membingungkan."
"Seperti?"
"Dia sakit tadi malam."
Hm, Naruto sudah bisa menebak sesuatu. Bibirnya sedikit menyeringai.
"Terjadi sesuatu?"
"Tidak."
"Akan terjadi sesuatu?"
"..."
Naruto mengetuk ujung jemarinya di atas meja. Temannya ini pasti sudah mengalami sesuatu yang membuatnya begini risau. Bukan hanya itu. Sasuke sepertinya bingung. Perubahan mood-nya pagi ini adalah jawaban abstrak bagi semua pertanyaan yang ada di dalam benak Sasuke.
"Biar kutebak, kau menjaganya sepanjang malam?"
"Hn."
"Kau memeluknya?"
Sasuke menegakkan tubuhnya. Matanya sedikit terkejut atas tebakan tadi.
"Santai saja, Sasuke. Kau bisa percaya padaku."
Siku tangan kanannya disandarkan di atas meja, menjadi tumpuan tangannya yang kini mulai memijat keningnya. "Aku tak bisa tidur sepanjang malam. Bukan hanya karena menjaga dan mengurusnya. Saat dia berada dalam dekapanku, rasanya begitu ..." dia mulai kesulitan menemukan kata yang sesuai. Keningnya berkerut beberapa lama. Kali ini Naruto sama sekali tak menjailinya. Pria itu paham kalau Sasuke bukan orang yang bisa menjelaskan apa yang dirasakannya secara gamblang. "... begitu ..." dia masih terlihat kesulitan. "... begitu—"
"—pas?" bantu Naruto.
"Hn."
"Kau merasa dia sangat pas berada dalam dekapanmu? Seperti kau akhirnya menemukan potongan puzzle terakhir dalam rancangan kehidupanmu?"
Kali ini dia tak mau menjawabnya. Karena setiap kebingungan yang dia tunjukkan malah membuat Naruto bisa menyatukan semuanya menjadi jawaban yang dia takutkan. Dia takut kalau hal itu benar.
Ya, dia tak menampik kalau semalam sosok Sakura terkesan sangat pas dengannya. Mereka seperti kunci dan gemboknya. Seperti potongan puzzle yang saling menyatu. Seolah tubuh Sakura memang ditakdirkan sesuai dengannya. Setiap potongan, lekukan, semuanya cocok satu sama lain. Seolah lengannya, pelukannya, semuanya memang sudah ditakdirkan hanya serasi dengan Sakura.
"Itu alamiah, Sasuke." Kembali Naruto memberikan jawaban. "Nalarmu tak akan berjalan kalau kau sudah berhubungan dengan hal seperti ini."
"Ini tidak seperti rencanaku."
"Sejak kapan kau bisa mengukur dan merencanakan perasaanmu sendiri?"
"..."
"Masih banyak pekerjaan. Kurasa aku harus pergi sekarang."
"..."
"Jangan sampai malah kau yang gagal, Sasuke."
Sorot mata yang tadinya teduh kini kembali menyalang. Kalah? Dia yang akan kalah? Naruto salah. Dia tak akan kalah. Dia, Uchiha Sasuke, tak akan membiarkan intuisi aneh dan bodoh seperti ini menghalangi semua rencananya.
Benar, dia hanya teralihkan saja sesaat dia tak akan membiarkan kebingungan kembali menguasainya. Karena kalau dia kalah, maka perempuan itu yang akan tersenyum puas. Tidak bisa, dia tak akan membiarkan Haruno Sakura terus-terusan tertawa puas!
.
.
.
oOo
.
.
.
Tadinya Sakura akan kembali melakukan kegiatannya seperti biasa di Gedung Parlemen. Dia sudah merasa baikan. Setelah mandi air hangat, kondisi tubuhnya terasa jauh lebih baik. Tapi, telepon itu mengacaukan semuanya.
Suster Kepala melaporkan kalau Konohamaru—salah satu dari anak-anaknya—semakin parah sejak kemarin pagi. Beliau sudah berusaha menghubungi Sakura, tapi Jiraiya yang menjawab dan memberitahu kalau Sakura sedang sakit. Karena itu, Suster Kepala kembali menghubunginya sekarang.
Sakura berlari kencang di lorong rumah sakit, dia tidak memedulikan lagi kondisinya sendiri yang belum pulih benar. Jangan-jangan tumbangnya dia kemarin karena kontak batin dengan Konohamaru? Bisa saja, Konohamaru adalah kesayangannya. Dia menyayangi mereka semua, tapi Konohamaru berbeda. Dia spesial. Anak itu menderita kanker hati, sudah cukup parah. Tapi, Sakura selalu mengupayakan kesembuhannya.
Sai sudah menunggu di depan di mana Konohamaru dirawat. Pria itu terlihat sama khawatirnya dengan Sakura. Raut wajahnya jelas menunjukkan kalau dia juga baru tahu tentang kondiri terbaru anak itu.
"Bagaimana dia? Bagaimana keadaannya!?" pekik Sakura panik.
"Aku juga belum tahu," jawab Sai cepat. "Kita harus menunggu kepastian dari dokter. Mereka masih berada di dalam."
"Oh, Konohamaru."
Sakura meremas kedua tangannya. Harusnya dia jangan sakit kemarin. Kalau saja dia tahu lebih cepat. Kakinya terasa lemas seperti tak memiliki tenaga untuk menopang tubuhnya. Kepalanya semakin pusing sekarang. Dengan sigap, Sai menahan tubuh Sakura agar tak terjatuh. Dia membawa wanitu itu untuk duduk di deretan kursi yang berada di sebelah pintu. Sakura yang kembali letih membiarkan saja pria itu mendekapnya. Dia butuh kekuatan sekarang. Jika Konohamaru tidak bisa selamat, maka dia akan sangat hancur.
.
.
.
.
.
Mereka berdua hanya tak menduga kalau ada orang yang sedang mengintai keduanya dari ujung lorong. Orang itu menyeringai licik sambil beberapa kali mengambil gambar dengan kamera ponsel. Dan sebelum ada orang lain yang lewat, orang itu sudah pergi. Foto tadi adalah tambang emasnya.
.
.
.
.
.
Tbc
A/N:
Tensi antara mereka turun lagi fufufu biar perkembangan mereka mulai intens sebelum saling nyakitin lagi #hoi #dichidori
Halooo buat semua reader baru ;)
Makasih buat semua yang mau ngerti kalau saya ga bikin lemon lagi. kalau lime dikit2 bisalah hehe tapi jelas saya udah ga bikin yang eksplisit lagi. yang implisit lebih nendang meeen #hoi
Q: Sasuke pernah punya masa lalu sama Sakura?
A: masa lalu mereka cuma di pertandingan basket itu aja. Itu pertemuan pertama mereka, selanjutnya ga pernah ketemu lagi sampai Sasuke datang buat minta tolong.
Q: Sakura hamil?
A: ga kok
Q: gaya nulisnya berubah ya?
A: huhu tergantung mood (percayalah, orang ini belum begitu mengenal gaya nulisnya sendiri TT)
Sampai di sini dulu ya, masih pusing2 soalnya karena flu. Yang mau UN, tetap semangat. Semoga nilainya pada bagus.
Saya tunggu tanggapannya ya.
Terima kasih. Bye ;)
