Cast: Kim Taeoh, Kim Jongin, dan Oh Sehun (KaiHun)
Genre: Family
Warning: Boys Love, Mpreg, Typo, dan Kata tidak baku.
.
Chapter 10...
.
.
Ruang makan keluarga Kim yang biasanya bernuansa ceria dan terlihat ramai kali ini menampilkan aura yang suram dan eummm.. hening? Entahlah, perasaan Jongin saja, atau memang istri dan anaknya terlihat menjauh dan hubungan mereka yang seperti permen karet terlihat renggang akhir-akhir ini.
Sehun memang masih berlaku sama, menyiapkan sarapan dan seragam Taeoh, menyuapinya makan. Taeoh juga masih berlaku sama seperti yang lalu, menerima semua perlakuan Sehun tanpa membantah sedikitpun. Namun Jongin tahu, ada yang tidak beres di antara keduanya karena mereka terlihat menjaga jarak dan menciptakan jarak antara satu dan lainnya.
Jongin melirik Taeoh yang sedang memainkan PSP-nya dan kemudian matanya melirik Sehun yang sedang mengolesi roti tawar dengan selai coklat kesukaannya. Mereka berada di meja yang sama namun serasa mempunyai dunia masing-masing.
"Sayang.."
Keduanya- Taeoh dan Sehun mengangkat kepala mereka, dan menatap Jongin dengan pandangan polos. Ughhhh, Jongin jadi lupa apa yang hendak di ucapkannya saat melihat pandangan mereka.
"Ya Jongin?/ ya papa?" dan lagi-lagi keduanya menyahut bersamaan.
"Kalian kenapa?" Jongin menyesap kopinya, namun matanya masih setia melihat pergerakan Sehun dan Taeoh.
"Apanya yang kenapa?" Kening Sehun berkerut heran.
"Entahlah." Jongin menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kalian tampak, ummmm… bermusuhan?" dan ia berucap tak yakin. Bermusuhan? Apa yang di pikirkannya?
"Hanya pelathaan papa thaja." Taeoh menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari benda persegi di tangannya. Sehun hanya mengangguk singkat, yang malah membuat Jongin bertambah curiga.
"Oh ayolah, tidak biasanya kalian bersikap seperti ini." Jongin mengusap wajah tampannya frustasi.
"Bersikap seperti apa?"
Sehun lagi-lagi menampilkan wajah polos, ia bukannya tak tahu dengan apa yang di maksud Jongin. Tapi bila di suruh menjawab kenapa hubungannya dan Taeoh merenggang, jawabannya hanya satu. Sehun pun tidak tahu. Setelah pertemuan mereka dengan wanita yang bernama Lee Yangja minggu lalu, Taeoh mulai menjaga jarak padanya.
Entah apa yang di bisikkan wanita itu pada anaknya, Sehun sungguh ingin tahu. Tapi, ia selalu ragu untuk memulai pembicaraan atau memulai pendekatan pada bocah cadel itu. Sehun tidak tau kenapa, tapi ia merasa akan di tolak bila melakukan itu.
Anaknya itu sekarang lebih sering di kamar dan tidak pernah bermanja lagi padanya ataupun pada Jongin. Taeoh lebih banyak menyendiri dengan wajah murung, Tapi Sehun hanya mengawasinya dari balik dinding tidak berani mendekat.
"Tae." Suara Jongin menyentak kesadaran Sehun dan Taeoh dari dunia mereka, Taeoh mengangkat kepalanya dan melihat wajah sang papa.
"Sayang, bisakah jangan begini?" Wajah Jongin terlihat memelas.
"Papa tidak tau apa yang terjadi sama Tae sehingga Tae berubah seperti ini, tapi apa pun itu Tae enggak perlu menanggungnya sendiri. Disini ada papa, ada mama, cobalah berbagi pada kami." Jongin menatap wajah Taeoh yang terlihat sendu.
"Bukan apa-apa. Tae belangkat dulu pa."
Taeoh bangkit dari duduknya dan mulai berjalan menuju halaman dimana sang supir sudah menunggu untuk mengantarnya ke sekolah. Ia hanya melamun sepanjang jalan dan memikirkan kembali perkataan Jongin. Bukannya tidak mau bercerita, namun ia tak tahu harus menceritakan apa pada papanya itu.
Bilang kalau ia cemburu pada sang calon adik? Cih, ia tidak akan pernah melakukan hal itu. Hahhhh, ini semua karena wanita itu yang mengatakan hal yang tidak-tidak padanya. Oh ayolah, ia masih berumur enam tahun. Hal yang wajar bila ia takut di tinggalkan kalau sang adik sudah lahir, tapi pemikirannya yang sudah terlanjur cepat dewasa seakan menghalanginya untuk mengadu pada orang lain.
Ia sudah mengatakan pada ummanya agar menjemput dirinya, karena ia ingin ikut ke Canada. Namun Kyungsoo serta Chanyel dengan tegas mengatakan tidak akan melakukan hal itu, karena mereka tidak mau ia menyesal di kemudian hari. Umma-nya mengatakan agar memikirkannya baik-baik, umma-nya juga mengatakan kalau sang mama bukanlah orang yang seperti itu. Karena mama-nya adalah orang yang tulus.
Taeoh menghela nafas panjang, dan mengalihkan perhatiannya keluar jendela. sedangkan sang supir yang melihatnya dari jok depan hanya mengerenyit heran. Tuan mudanya ini lebih pendiam dari biasanya seakan ada aura gloomy yang mengelilinginya.
Sedangkan di ruang makan, Jongin dan Sehun masih diam setelah kepergian Taeoh. Sehun terlihat menunduk dan memilin ujung kemejanya, dan Jongin lagi-lagi hanya bisa menghela nafas melihatnya. Istrinya ini pasti tengah memikirkan sesuatu.
"Sayang." Jongin bangkit dan duduk disebelah Sehun, ia mengelus pelan rambut pria yang tengah mengandung tersebut.
"Bicaralah padaku, ada apa hemmm?"
Sehun mengangkat kepalanya saat mendengar suara lembut Jongin, ia menatap wajah tampan sang suami.
"E-entahlah, aku tidak tau. Tiba-tiba saja kami begini." Jongin bisa melihat wajah Sehun yang terlihat cemas. "T-tae, terlihat menjauhiku."
"Lalu?" Jongin mengisyaratkan Sehun untuk lanjut berbicara, kali ini ia akan mendengar semua keluh kesah sang istri.
"A-aku takut Tae semakin menjauh." Wajah Sehun memerah menahan tangis.
"Hei, dengarkan aku sayang." Jongin menatap wajah Sehun dalam. "Apa yang terjadi sebenarnya?"
Sehun menelan ludahnya gugup. "Seminggu yang lalu ketika aku menghadiri pertemuan orang tua di sekolah, aku dan Tae bertemu dengan seorang wanita yang bernama Lee Yangja."
Sehun menjeda ucapannya dan melihat Jongin yang masih menyimak. "Lalu dia berkata kasar pada Tae, ia mengatakan hal kasar pada Tae seperti anak haram dan yang lainnya." Dan Sehun bisa melihat tangan Jongin yang mengepal.
"Lalu?" Suaranya terdengar dingin di telinga Sehun.
"Aku tentu saja marah, aku menyuruh Lu ge untuk mengurusnya." Jongin mengangguk paham.
"Tapi, sebelum kami pulang, wanita itu membisikkan sesuatu pada Tae. Aku tidak bisa mendengarnya tapi aku yakin itu bukanlah lhal yang baik. Karena sejak saat itu Tae mulai berubah." Sehun menggenggam erat tangan Jongin.
"Hei, tenanglah. Bukan kah kau tau? Anak kita itu bukanlah anak biasa, karena ia lebih bisa berpikir dewasa dari anak seusianya." Jongin berusaha menenangkan, tapi Sehun malah melepaskan tangannya dan berdiri menatap nyalang padanya.
"Tenang!?" Sehun meninggi.
"Sifat dewasanya itulah yang membuatku khawatir. Kalau anak enam tahun lainnya akan menangis dan merengek tapi karena sifat dewasa miliknya itu, ia memendam semuanya sendiri." Jongin terkesiap mendengar ucapan Sehun, ia sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu.
"Sayang tenanglah." Ia mendudukkan Sehun dengan lembut, lalu berlutut di depannya.
"Mungkin tanpa sepengetahuan kita selama ini, ia banyak mendapatkan hinaan dari orang-orang tapi ia selalu diam dan tak pernah mengadu. Ya tuhan, aku benar-benar membenci sifat dewasanya itu sekarang."
Sehun mengusap wajahnya. "Tapi ini juga salah kita karena tidak pernah peka padanya, karena melihat sisi dewasanya lalu kita melupakan hal yang paling penting. Kalau dia masihlah anak-anak umur enam tahun."
Jongin kembali terkesiap. Benar, semua yang di katakan Sehun adalah kebenaran. Karena melihat kedewasaan anaknya, Jongin benar-benar lupa kalau Taeoh masihlah sangat kecil saat dulu orang-orang memandangnya hanya dengan sebelah mata karena tidak mempunyai ibu.
'Aku sedih, mereka jahat papa' itulah yang seharusnya di ucapkan oleh anak umur 4 tahun bila di hina kala itu. Tapi Jongin tidak pernah mendengar semua itu dari mulut Taeoh, karena dengan lantang anaknya itu selalu mengatakan 'Tidak apa-apa, Tae baik-baik saja.'
"Aku merasa gagal sebagai seorang ibu Jongin, aku benar-benar tidak bisa mengetahui isi hatinya hiksss.." Sehun mengusap air matanya, sedangkan Jongin masih terdiam.
Ia tahu, bukanlah Sehun yang gagal namun dirinya. Karena selama enam tahun hidup berdua bersama Taeoh ia sama sekali tidak pernah tau isi hati anaknya itu.
"Sssst.. tenanglah sayang. Kita akan berbicara pada Tae nanti, jangan menangis lagi nanti dia juga ikut sedih." Jongin mengelus pelan perut Sehun.
"A-aku mengerti"
Jongin mengusap air mata Sehun yang jatuh dengan ibu jarinya. Berpikir kalau ia akan berusaha lebih keras untuk menyentuh kembali sisi kekanakan anaknya, sisi rapuhnya, dan juga berusaha memahami perasaannya.
.
-AkaSunaSparKyu-
.
Sehun dengar tergesa memakai mantelnya, karena Korea sudah memasuki musim dingin. Ia memasukkan kembali ponsel yang baru saja di gunakannya untuk menelepon Jongin ke dalam tasnya, lalu bergegas masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya ke sekolah Taeoh.
Karena beberapa saat yang lalu ia baru saja mendapatkan telepon dari wali kelas anaknya itu yang menyuruhnya untuk datang ke sekolah. Sehun tidak bertanya lebih lanjut dan langsung menelepon Jongin, mereka sepakat akan bertemu di sekolah.
Sehun sangat cemas sekarang, apayang terjadi pada Taeoh? Apa ia baik-baik saja? Sehun berharap ia segera sampai di sana.
TernyataJongin lebih dulu sampai di sekolah, saat melihat kedatangan mobil Sehun Jongin bergegas meghampiri Sehun dan membantunya turun dari mobil, ia langsung menggandeng tangan istrinya yang sedan hamil tersebut. Ia juga tengah cemas sekarang.
"Sayang, ada apa sebenarnya?" Jongin dan Sehun tengah berjalan menuju ruang guru.
"Entahlah, wali kelas Tae menelepon dan mengatakan Tae terkena masalah dan menyuruh kita ke sekolah." Sehun menjawab terengah, bukanlah hal mudah bila berjalan tergesa dengan perut yang sedang berisi seorang bayi.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan di anatara mereka. Pasangan Kim itu pun berhenti di sebuah pintu yang bertuliskan 'ruang guru', setelah mengetuk tiga kali mereka di persilahkan masuk.
"Ah tuan Kim, nyonya Kim. Silahkan duduk di sana."
Terlihatlah seorang wanita yang kemungkinan berusia akhir 30-an namun tetap terlihat cantik sedang tersenyum ramah, ia mempersilakan Jongin dan Sehun duduk di sofa panjang. Setelah mereka duduk disana, sang guru pun duduk di sofa tunggal lalu melihat mereka dengan aura keibuan yang pekat
"Perkenalkan, saya adalah Park Sun Ah. Saya adalah wali kelas anak anda Kim Taeoh."
"Saya adalah Kim Jongin dan ini istri saya Kim Sehun." Sehun dan Jongin pun bergantian menyalami sang guru.
"Guru Park, ada apa dengan anak kami?" Sehun berucap tak sabar, dan Sun Ah hanya tersenyum melihatnya.
"Taeoh berkelahi dengan temannya."
"Be-berkelahi?" Sehun menjawab tergagap.
"Ya, dia berkelahi dengan Lee Misuk. Saya sudah menanyakan alasan mereka namun Taeoh hanya diam saja, sedangkan Misuk sendiri hanya menangis dan ia sudah di bawa pulang oleh orang tuanya."
Mi suk? Sehun ingat, bukankah anak itu adalah anak si wanita menyebalkan itu? Apa yang membuat anak tampannya itu berkelahi dengan nya?
"Dimana anak kami guru Park?" Jongin bertanya, tangannya mengepal menahan amarah. Ia sungguh tidak habis pikir, bagaimana bisa anaknya berkelahi seperti ini.
"Taeoh sedang di UKS, karena sudut bibirnya berdarah tadi."
"Be-berdarah? Anakku berdarah?" Sehun panic, ia berdiri bermaksud pergi ke UKS namun terhenti saat Sun Ah menahannya.
"Tenanglah Sehun-ssi, Taeoh sudah di obati. Dan ia tengah tertidur sekarang" Sun Ah berucap lembut namun tegas. "Dan saya juga bermaksud menanyakan sesuatu pada tuan dan nyonya selaku orang tuanya."
"Ada apa guru Park? Apa yang hendak anda tanyakan?" Jongin menjawab serius, ia merasa ini ada hubungannya dengan sang anak.
"Saya melihat Taeoh lebih pendiam dari biasanya sejak seminggu terakhir. Apakah ada sesuatu yang terjadi?" Sun Ah bisa melihat kalau Jongin dan Sehun berpandangan sejenak sebelum mengangguk.
"Kami juga tidak tau pastinya, tetapi memang seminggu terakhir ini Tae nampak lebih murung dan pendiam, ia selalu mengunci pintu kamarnya dan tidak pernah lagi bermanja pada kami." Sehun menjawab lirih.
"Lalu? Pernahkah kalian mencoba berbicara padanya?" Sun Ah kembali memberikan Sehun dan Jongin pertanyaan, ia mencoba memahami situasi yang terjadi antara Taeoh dan orang tuanya ini.
Sehun menggeleng pelan, sedangkan Jongin hanya diam dan mendengarkan.
"Hahhhh, begini Sehun-ssi, Jongin-ssi." Sun Ah menarik nafasnya. "Kali ini saya akan berbicara sebagai sesama orang tua bukan sebagai seorang guru."
Matanya kembali menatapwajah Jongin dan Sehun secara bergantian dan melanjutkan perkataannya.
"Sebagai orang tua, sudah seharusnya kita memahami isi hati anak kita. Terkadang, karena anak kita tampak baik-baik saja kita lantas memalingkan wajah. Anak-anak adalah jiwa yang masih polos, ia akan mengatakan sakit bila merasakan sakit, menangis bila bersedih, tertawa bila bahagia, dan merajuk bila merasakan kesal. Itu adalah hal yang sangat-sangat wajar." Sun Ah menjeda ucapannya dan melihat Jongin serta Sehun masih memperhatikan segala ucapannya dengan khidmat.
"Tapi, ada sebagian anak yang lebih suka memendam semuanya sendirian. Mereka akan mengatakan semuanya baik-baik saja, namun mereka terluka di dalam. Dan saya rasa Taeoh adalah Type memendam semuanya sendirian. Saya benar?" Sun Ah hanya tersenyum maklum melihat Sehun dan Jongin mengangguk bersamaan.
"Dan bukankah seharusnya kalian merangkulnya dan menanyakan masalah yang di pendamnya secara perlahan?"
"Sa-saya takut akan penolakannya." Sehun menundukkan kepalanya. Dan Sun Ah lagi-lagi hanya tersenyum maklum.
"Yah, saya mengerti hal itu. Apalagi, maaf sebelumnya. Sehun-ssi adalah ibu tirinya." Sun Ah bisa melihat Jongin yang mengepalkan tangannya, merasa tersinggung mungkin? Tapi ini memang harus di lakukannya.
"Bukan maksud saya untuk memperkeruh keadaan Jongin-ssi, maaf bila anda tersinggung. Tapi mungkin kalian lupa, bisa jadi ini adalah pokok permasalahannya."
"Apa maksud anda guru Park?" Jongin berucap tajam. "Permasalahan? Walaupun Sehun hanya ibu tiri, tapi ia tak pernah memperlakukan Taeoh secara kasar."
"Nah, itu dia." Sehun dan Jongin terlonjak kecil saat Sun Ah menepukkan tangannya semangat. "Itu dia maksud saya."
"Maksud anda?" Kening Sehun dan Jongin mengkerut heran.
"Sehun-ssi berlaku sangat baik pada anak anda, memperlakukannya selayaknya anak kandung. Memberi perhatian, menyayangi, menjalankan peran ibu, mencintai, dan yang terpenting mengisi sosok ibu yang telah lama hilang di hati dan hidupnya. Bagaimana bila sosok Sehun-ssi tiba-tiba menghilang?" Sun Ah tertawa pelan saat melihat wajah kebingungan dua pria di hadapannya ini.
"Bisa tolong di perjelas dengan bahasa yang lebih mudah di pahami?" Jongin berucap tak sabar.
"Hahaha, singkatnya Taeoh sedang cemburu Jongin-ssi, Sehun-ssi."
"Cem..buru?" Suara Sehun terdengar ragu.
"Ya, cemburu." Sun Ah mengangguk mantap.
"Cemburu pada siapa?" Jongin masih tak paham akan ucapan sang guru.
"Sehun-ssi, anda hanyalah ibu tirinya. Tidak Jongin-ssi, biarkan saya berbicara." Sun Ah menyentak saat Jongin terlihat hendak memotong kata-katanya.
"Anda hanyalah ibu tirinya, dan sekarang anda sedang mengandung. Sebagai anak tiri yang selalu anda perhatikan, wajar saja Taeoh merasa takut dan cemburu. Cemburu pada sang calon adik, dan takut bila setelah anda melahirkan anak kandung anda, anda akan melupakan dirinya yang hanya berstatus anak tiri."
Sehun terkesiap mendengar ucapan wanita di depannya ini. "Ma-mana mungkin, saya tidak akan pernah melupakannya. Taeoh adalah anak saya, dan tidak mungkin saya pilih kasih kelak." Ia menatap wajah Sun Ah dengan gusar. "La-lagipula, Taeoh merasa sangat senang ketika saya mengandung."
"Sehun-ssi, bukankah saya sudah bilang itu adalah hal yang wajar? Anak-anak memang kerap kali cemburu pada calon adiknya, mereka takut kasih sayang orang tuanya terbagi. Dan masalah anda yang tidak akan melupakannya, saya juga tahu hal itu. Tapi, itulah perbedaan orang dewasa dan anak-anak, perasaan mereka sangat sensitive." Sun Ah menggenggam tangan Sehun yang berada di atas meja, ia meremas lembut tangan Sehun tanda memberikan kekuatan.
"Saya juga seorang ibu, dan saya juga pernah mengalami hal ini. Tapi semuanya bisa terselesaikan, kuncinya hanya satu yaitu berbicara pada nya. Hampiri bila ia menjauh, rangkul dan gapai dirinya. Saya yakin Taeoh akan mengerti." Sun Ah tersenyum lembut, benar-benar menampilkan sisi ke ibuan dirinya.
"Kalian tahu? Taeoh berkelahi karena Misuk mengejek dirinya yang berstatus sebagai anak tiri anda Sehun-ssi." Sehun mengangkat wajahnya, dan menatap Sun Ah dengan pandangan sendu.
"Mereka memang tidak mau mengaku, saya mengetahui hal ini dari teman sekelas mereka. Mereka mengatakan Misuk mengejek Taeoh, dan anda tahu selanjutnya, Taeoh lepas kendali dan terjadilah perkelahian tersebut." Sun Ah tertawa pelan.
"Ingat Jongin-ssi, Sehun-ssi, bicarakan hal ini padanya. Beri ia pengertian, kalau adiknya bukanlah saingannya untuk mendapatkan kasih sayang karena kalian akan selalu membagi rata kasih sayang kalian pada keduanya kelak."
Jongin dan Sehun mengangguk mengerti, mereka kembali mendengarkan nasihat-nasihat Sun Ah seputar menjadi orang tua yang baik. Mereka mendapatkan banyak pengalaman hari ini.
.
-AkaSunaSparKyu-
.
Kini Sehun dan Jongin tengah berada di kamar Taeoh, menunggui sang pemilik yang masih tertidur. Tadi setelah berbincang dengan guru Park, Jongin dan Sehun bergegas ke UKS. Karena Taeoh masih tertidur, Sehun dan Jongin sepakat membawanya pulang tanpa membangunkannya.
Mata Sehun menelusuri kamar Taeoh yang bernuansa biru laut dan putih. Walau setiap hari dirinya memasuki kamar ini, tapi Sehun tak pernah merasakan bosan sedikitpun. Di kamar ini banyak sekali poster anime, dari Naruto, One piece, Bleach, Fairy tail, dan banyak lagi yang bahkan Sehun tak tahu judulnya.
Di atas rak buku kecil seukuran pinggangnya yang di gunakan Taoh untuk menyimpan segala macam koleksi komik miliknya, nampaklah banyak bingkai photo yang di letakkan di dua bagian kiri dan kanan. Bagian kiri adalah photo Taeoh bersama dirinya dan Jongin dan di sisi kanan adalah tempat photo Taeoh bersama Chanyeol dan Kyungsoo.
Sehun terkesiap kaget saat merasakan Taeoh yang bergerak pertanda sudah bangun dari tidurnya.
"Ma…"
Taeoh mengerang saat merasakan sudut bibirnya tersa perih, ia duduk di bantu oleh Sehun. Matanya beralih menatap Jongin yang sedang duduk di kursi meja belajarnya, dan langsung menunduk saat papa-nya itu menatapnya tajam.
"Ada yang sakit sayang? Mau minum? Mama ambilkan?" Taeoh langsung menahan tangan Sehun yang hendak bangkit, ia tidak mau di tinggal berdua dengan Jongin.
Melihat raut takut Taeoh, Sehun pun mengalihkan pandangannya dan menemukan Jongin yang tengah menatap anak tampannya ini tajam.
"Matamu Kim Jongin." Sehun mendelik pada Jongin, lalu mengalihkan perhatiannya pada Taeoh yang masih menunduk. "Hei sayang, liat mama. Ada yang sakit?"
Taeoh hanya menggeleng, tanpa mau mengangkat wajahnya, ia tahu bahwa dirinya salah.
"Sayang, jangan begini." Sehun mengangkat wajah Taeoh dan mengecup lembut dahinya sayang. "Mama sangat khawatir tadi, kenapa berkelahi. Hemmm?"
"T-Tae.." Taeoh malah ingin menangis saat mendengar ucapan Sehun, benarkah mamanya masih peduli padanya? "Maaf ma.." Ia kembali menunduk.
"He-hei, ayolah. Tentu saja mama maafkan." Sehun memeluk Taeoh dengan erat, namun tetap berhati-hati pada perutnya.
"Apa-apaan itu? Jangan memaafkannya dengan mudah, atau ia akan kembali menulanginya nanti." Jongin berucap tegas.
"Masalah untukmu, hahhh?" Sehun menyahut galak.
"Jadi? Kenapa berkelahi?" Jongin mengalihkan perhatian darikemarahan Sehun.
"Mithuk bilang Tae hanya anak tili, dan mama akan ninggalin Tae thetelah adik bayi lahil." Taeoh mengucapkan semuanya dengan menunduk, ia sudah memantapkan hatinya untuk jujur.
"Bukan kah itu memang benar? Mama adalah ibu tiri kamu." Sehun tersenyum lembut melihat Taeoh yang menegang. "Tapi, Misuk salah besar kalu mengatakan mama akan meninggalkan kamu."
Taeoh hanya diam dan menatap wajah cantik Sehun.
"Mama menyayangi kalian –kamu dan adik bayi, melebihi mama menyayangi diri mama sendiri. Mama tidak akan pernah meninggalkan kamu sayang, karena mama tidak akan pernah sanggup untuk berpisah dengan malaikat mama, buah hati mama."
Mata Taeoh berair saat mendengar ucapan Sehun. Bagaimana ia bisa lupa akan kasih sayang mamanya hanya karena ucapan wanita itu?
"Ma…"
"Jangan berpikir terlalu keras dari sekarang, berbagilah pada mama dan papa atau pada umma dan appa. Mulai sekarang, menangislah bila kamu merasa sedih dan jangan lagi menampilkan wajah 'aku tidak apa-apa', kamu paham sayang?"
Dan daya apa Taeoh bisa menolak? Ia menangis dan menghambur memeluk Sehun.
"Mama, adalah mama kamu. Tidak ada satu orangpun yang bisa menyangkal hal itu." Sehun mengusap pelan bahu anaknya yang bergetar. Jongin tersenyum lembutmelihatnya.
"Dan, jangan pernah merasa cemburu pada adik kamu kelak, karena kami akan membagi kasih sayang kami dengan adil. Lagi pula, Tae akan menjadi seorang kakak nanti. Dan tugas seorang kakak adalah melindungi dan selalu ada untuk adiknya, seperti uncle Luhan yang melindungi mama, dan seperti mommy Joonie yang selalu ada buat papa." Jongin berjalan mendekat dan bergabung memeluk Sehun dan Taeoh yang masih menggoyang badan mereka ke kiri-kanan, dan hal itu mengundang tawa anak serta istrinya.
Jongin sudah bisa merasa tenang sekarang saat melihat Sehun dan Taeoh tertidur dengan posisi berpelukan. Ia tersenyum lembut melihat wajah mereka yang terlihat sangat polos dan cute. Jongin mengusap sayang rambut Taeoh lalu mengusap pelan perut buncit Sehun, dan berjanji pada dirinya sendiri kalau ia akan selalu menjaga keluarga kecilnya ini kelak.
.
.
TBC..?
Holla chingudeul...
Ada yang merindukan saya..
Chap kemarin dan chap ini adalah penggambaran perasaan Taeoh yang takut di lupakan. itu adalah hal yang wajar, ia merasa cemburu pada calon adiknya. apalagi Taeoh kan di pengaruhi sama Lee Yangja, yang sebel sama dia tenang aja, wanita itu udah di urus sama uncle Luhan.
Dan saya mengucapkan terimakasih buat reader yang udah rev, fav, ataupun fol ff jelek saya ini. Hiks hiks...
Jadi silahkan menuju kotak review, dan tuliskan beberapa kalimat buat saya. kekeke
Dan saya mohon, jangan gunakan kata 'thor', panggil saya Suna. dan saya line 94, so tentukan sendiri panggilannya.
Oke, jangan lupa untuk review ne...
Big Thanks to:
[saphire always for onix] [Kim Se Byul] [exolweareone9400] [whirlwind27] [Risty662] [yunacho90] [KimKaihun8894] [rosianakawai] [Nagisa Kitagawa] [skeyou] [bbuingHyewa] [ParkJitta] [BerryKyunnie] [JongOdult] [utsukushii02] [cho loekyu07] [Yessi94esy] [Zelobysehuna] [anoncikiciw] [babyhunhun94] [Misyel] [sehannie 25] [Kim Seo Ji] [dia luhane] [aoixo] [RinZura] [sehunskai] [auliavp] [askasufa] [LoveHyunFamily] [devikharisma15] [ayufishy3424] [VampireDPS] [Ubannya Sehun] [Imeelia] [izzsweetcity] [Ath Sehunnie] [KaiHunnieEXO] [1004baekie] [sayangsemuamembersuju] [Esyahzkrisho] [melizwufan] [seli kim] [hunnbebi] [guest] [Syakilashine] [sumiya wu] [livyfanfan] [my love double b] [Hann Hunnie] [kkam EdyBrr] [Lulu Auren]
