Hai, kembali lagi dengan Akina dan ganfic galau ini!
Hmmm... untuk chapter ini saya sarankan bacanya pelan-pelan ya supaya feel nya kerasa. Dan untuk di cerita ini saya harap kalian mengerti kenapa Sakura emosinya labil dan jadi sering berhalusinasi ga jelas kaya gini.
Jangan ragu untuk mengirimkan PM ataupun menyampaikan saran dan kritik kalian melalui review ya...
Akhir kata, selamat membaca!
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Hurt / Comfort / Angst
Rated: M
Pairing: SasuSakuNaru
Warning: Canon, OOC, Angsty, Fluff, Mary sue, Dramatic, LIME, Labil, Gore, dan berbagai hal lain.
Chapter ini terinspirasi oleh Elfenmarchen karya Angel-puppeteer
Elfenmarchen © Angel-puppeteer
Naruto © Masashi Kishimoto
Love Always Comes Late
Story by: Akina Takahashi
Chapter 9: Nightmare
Saat ini Sakura tak mengerti pola pikirannya sendiri.
Sebenarnya apa yang ia inginkan? Ia bahkan tak mengetahuinya.
Sambil menarik napas ia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Hanya api unggun yang tetap menyala sejak kemarin dan satu sleeping bag kosong yang biasa digunakan Sasuke. Saat ini ia tak bisa merasakan keberadaan Sasuke. Di sebelah api unggun terdapat beberapa ikan bakar yang telah disiapkan oleh Sasuke sebelumnya. Sedikit terharu karena ternyata pemuda itu tidaklah sedingin yang ia kira. Buktinya ia masih memikirkan untuk memberinya makanan untuk dimakan.
Sakura berusaha bangkit dari posisinya. Sedikit kesulitan, ia menyeimbangkan posisinya saat berdiri. Lukanya sudah jauh lebih membaik daripada sebelumnya. Hanya saja ia merasakan chakranya sama sekali belum kembali. Mungkin seluruh chakranya habis digunakan oleh tubuhnya untuk mempercepat masa penyembuhan. Ia sendiri tak yakin kapan chakranya bisa kembali seperti semula.
Dengan perlahan ia menyeret kakinya hingga ia berada diluar gua. Dengan tangan pucatnya ia menyisir rambut pinknya perlahan dan berjalan tertatih-tatih menuju ke pohon oak yang ada di dekatnya.
Matahari bersinar terang hari ini. Langit biru cerah yang dihiasi awan putih yang indah semakin mempercantik pemandangan hutan. Sakura mendudukkan dirinya di bawah pohon tersebut kemudian melipat kedua lututnya dan membenamkan wajahnya disana.
Ia mengadah melihat lingkaran cahaya kecil yang terbentuk dari dahan-dahan pohon yang saling bertemu, cahaya matahari masuk menembus lingkaran dan menyentuh wajahnya. Sambil menghela napas ia kembali ke posisinya semula dan menutup mata emeraldnya.
Dia letih.
Dia hanya ingin hidup tenang tanpa mempedulikan semuanya.
Bahkan ia berpikir alangkah beruntungnya jika ia bisa melupakan semuanya. Mungkin amnesia saat ini bukanlah ide yang buruk, pikirnya.
"Bantu aku mengembalikan klan Uchiha. Menikahlah denganku."
Hahaha
ridiculous statement.
"Kumohon, beri aku waktu untuk mengembalikan semuanya."
Oh kurasa itu akan sangat sulit Sasuke, karena kita tak kan bisa kembali seperti semula.
"Kalau kau begitu mencintaiku, kenapa kau menolak lamaranku?"
Suara itu benar-benar mengganggunya. Ia menggelengkan kepalanya seraya menutup kedua telinganya seolah ada suara yang terus menerus berdenging di telinganya.
Frustasi, Sakura menutup kedua matanya dan mendorong tubuhnya ke belakang hingga punggungnya menabrak batang pohon oak yang ada di belakangnya saat ini.
Seseorang... tolong aku
Meskipun cahaya matahari yang menembus pepohonan terasa membutakan matanya. Ia tetap memaksa menengadah keatas menatap langsung cahaya itu. Air mata yang menggenang di matanya terlihat berkilauan terkena cahaya. Kini matanya tak bisa membuka sepenuhnya karena silau. Saat ini hutan terasa sangat sepi. Hanya ada bunyi serangga musim panas yang menandakan musim panas telah tiba. Akhirnya setelah ia merasakan cahayanya semakin menguat, Sakura menundukkan kepalanya menghadap tanah sambil menghela napas.
Saat itu aku menyerah.
Menyerah mencintai Sasuke.
Berusaha melupakannya.
Aku bahkan berjanji pada Ino bahwa aku akan tetap hidup bahagia walaupun tanpa Sasuke.
Suatu saat pasti aku akan benar-benar melupakannya. Suatu saat aku benar-benar bisa move on dari bayangannya.
Suatu saat...
Bohong.
Kata itu bergema di kepalanya.
Itu bohong dan kau tahu itu.
Sakura menggertakan giginya frustasi. Shut up! Diam!
"Aku harus berhenti berpikir" Sakura berujar lemah. Semakin dia memikirkannya semakin parah pula sakit kepala yang dideritanya. Memikirkan orang itu sangat menyakitkan, mengingatnya adalah hal terburuk yang ada. Saat ia melakukan banyak misi sendirian, dia mulai belajar untuk melupakan masa lalunya, untuk hidup di masa sekarang.
Dia belajar banyak dari kehidupan. Dan berusaha untuk ikhlas melepasnya.
Dan dia berhasil.
Tentu saja pada awalnya itu semua sangat sulit. Sasuke masih saja terus muncul di pikirannya. Namun Naruto perlahan mulai menggantikannya, Naruto lah yang mengajarinya untuk suatu hari ia bangun dengan satu pikiran di kepalanya.
Aku akan move on darimu Sasuke-kun
Dia tersenyum setelahnya. Dan tetap tersenyum setelahnya walaupun ia tahu terkadang itu adalah senyuman palsunya. Hingga entah sejak kapan hal itu menjadi kebiasaannya.
Dan kehidupan menjadi lebih sederhana.
Setidaknya itulah menurutnya saat itu.
Tapi hal yang lucu adalah ketika ia ingin menangis, air mata tiba-tiba saja keluar dari matanya. Bahkan ia tak menyadari jika ia sedang menangis. Tanpa ia sadari air mata turun tanpa suara di kedua belah pipinya.
Aku mempunyai sebuah "ruangan" dalam diriku. Tempat dimana aku mengunci hatiku di dalamnya dan aku berpikir aku dapat tidur selamanya disana. Disana, aku tidak akan mengingatkanya. Selama aku berada disana aku tidak akan merasa kesepian dan tersakiti.
Dan setelahnya aku akan kembali tersenyum
Setidaknya itulah yang berhasil dilakukan Sakura.
Keadaannya yang pathetic itu malah membuatnya semakin cantik dan semakin menarik bagi para pria. Beberapa diantara mereka bahkan telah jatuh cinta padanya dan mereka semua berpikir dapat membuatnya tersenyum. Namun mereka semua salah. Itu bukanlah senyuman dari hatinya.
Tapi Sakura terus tersenyum, poker face yang dilatihnya sejak dulu semakin hebat. Tak ada yang tahu apa perasaannya yang sebenarnya.
"Sasuke-kun."
Sakura menghela napas dalam-dalam. Menutup kembali mata emeraldnya. Air mata keluar dari matanya yang masih tertutup. Ia menangis dalam diam.
Aku ingin tidur di dalam "ruangan" itu selamanya.
Tempat dimana tak ada seorangpun yang dapat melukaiku.
Tempat dimana tak ada seorangpun yang dapat menemukanku.
Tempat dimana tak ada seorangpun yang dapat menyakitiku.
Seharusnya ia pergi menjauh dari pemuda itu sejak dulu, sebelum ia jatuh cinta padanya. Sebelum ia terjatuh ke lubang sedalam ini.
Masih dalam keadaan mata tertutup, kesadarannya semakin menghilang. Ia ingin tidur. Tidur selamanya.
"…Sakura."
Sakura merasakan ada tangan hangat yang menyentuh bahunya.
"Sakura…"
Saat ini ia sangat lelah. Ia merasa hilang. Tak tahu harus bagaimana.
Tangan itu kembali mengguncangkan tubuh mungilnya.
"Hentikan…" Sakura menepis tangan yang ada di bahunya dengan malas. Ia melipat lututnya dan menenggelamkan kepalanya disana. Sehingga si penepuk tak dapat melihat wajahnya.
"Sakura."
Sakura sama sekali tidak bergerak dan berusaha melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Dedaunan kering berjatuhan di atas rambut pinknya.
Sebuah suara bariton yang terkesan sedih dan desperate kembali terdengar.
"Apakah aku harus menunggu selama sepuluh tahun lagi?" wajah Sasuke terlihat sendu. Mata onyxnya masih memperhatikan Sakura yang berada dalam posisi meringkuk.
"…"
"Katakan padaku. Aku akan melakukannya."
"..."
Kali ini setetes air mata keluar dari mata Sakura yang terpejam. Membasahi kedua belah pipinya, tangan dan lututnya yang sedang meringkuk. Menandakan bahwa ia mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Sasuke. Sementara sang Uchiha prodigy hanya terdiam. Ia tak bisa melihat ekspresi Sakura saat ini karena gadis itu sedang dalam posisi meringkuk.
.
.
Love Always Comes Late
.
.
.
"Sakura-chan! Sakura-chan!"
Sakura tahu kali ini ia pasti bermimpi. Bagaimana mungkin ia bisa mendengar suara Naruto di tengah hutan seperti ini?
"Sakura-chan!"
Sakura segera membuka mata emeraldnya perlahan. Mengangkat wajahnya menghadap ke sumber suara. Posisinya yang masih duduk meringkuk itu membuatnya sedikit kesulitan untuk bangkit.
Betapa kagetnya ia ketika melihat mata biru yang sangat ia rindukan. Pengobat hatinya. Penentram jiwanya saat kegalauan hebat melandanya. Lenteranya yang selalu menerangi jiwanya saat ia berada di kegelapan total.
"Na-naruto?"
"Yokatta! Syukurlah! Syukurlah aku bisa menemukanmu!" Naruto memeluk Sakura dengan penuh haru. Ia menangis terisak. Merasa sangat bahagia ketika ia berhasil menemukan pujaan hatinya.
"Kau bodoh Sakura-chan!" teriak Naruto. "Pergi sendirian bertempur di medan perang tanpa memberitahuku sebelumnya. Belum lagi saat kami semua mendengar kabar kalau kau terkena ledakan hebat disana. Dan kemungkinan untuk menemukanmu dalam kondisi hidup hampir 0%." Ia memeluk Sakura erat. "Kalau saja, kalau saja aku tidak memaksa Tsunade-baachan untuk mengirim tim anbu untuk mencarimu, mungkin saja kita tidak bisa bertemu lagi." Semua perkataan yang dipendamnya selama ini mengalir seiring dengan perasaannya yang membuncah ketika melihat gadis pujaannya.
"Aku pasti sudah mati jika saja Sasuke tidak menolongku."
Naruto melepaskan pelukannya dari Sakura. Tubuhnya bergetar ketika Sakura menyebut nama rival sejatinya. Uchiha Sasuke. Dengan segera ia mengaktifkan chakra kyuubinya berusaha mendeteksi keberadaan Sasuke. Namun ia tidak mendapatkan apapun bahkan sisa jejak chakra si Uchiha itu tidak dapat ditemukannya. Dengan segera ia menatap Sakura. Sedikit merasa kasihan pada gadis itu yang bisa-bisanya berhalusinasi di saat genting seperti ini.
"Tidak ada Sasuke disini, Sakura-chan." Naruto menarik lengan Sakura. "Kau pasti berhalusinasi lagi." Gumamnya.
"Tapi tadi..." Sakura segera menghentikan kata-katanya karena ia sendiri tidak berhasil membuktikan keberadaan Sasuke.
"Ayo kita pulang." Naruto mengangkat tubuh Sakura yang masih lemah secara bridal style. Sementara kegalauan kembali melanda hati si gadis pink ini. Jika ia kembali ke Konoha, apa yang akan terjadi dengannya? Bukankah saat ini Naruto dan Hinata sudah menikah?
Ia takut.
Ia takut sendirian.
Ia takut dirinya akan termakan rasa iri dan cemburu saat melihat Hinata dan Naruto bermesraan.
Ia takut mungkin saja ia akan membunuh dirinya jika itu terjadi.
Tapi, apa yang sebenarnya terjadi? Tidak mungkin kan Sasuke yang ditemuinya beberapa saat sebelumnya merupakan delusi belaka?
Tidak.
Tidak mungkin.
Sasuke yang bersamanya selama dua hari ini terasa sangat nyata. Wajahnya, tatapannya, suaranya... bahkan Sakura masih bisa mengingat dengan jelas lamaran si pemuda Uchiha itu.
Tidak.
Kejadian selama dua hari ini pasti nyata. Jika Sasuke tidak menolongnya, ia pasti sudah mati. Lilitan perban di lengannya yang sedikit berantakan inilah buktinya.
Sakura menggelengkan kepalanya kuat. Pikirannya kalut. Saat ini ia bahkan tidak bisa lagi membedakan mana kenyataan dan mana yang hanya sekedar delusi.
Rasa sakit yang hebat kembali mendera kepalanya.
.
.
Sasuke-kun...
.
.
Love Always Comes Late
Konoha Hospital, 09.00 AM
Sakura membuka matanya perlahan seketika ia menyadari ada tangan yang menggenggam jemarinya dan ia hanya tersenyum kecil ketika ia menyadari Naruto lah pemilik tangan itu. Dan sepertinya Naruto terus menerus menggenggam tangannya semalaman. Namun senyumnya seketika pudar ketika ia melihat ada sesosok wanita dengan mata amethyst sayu menatapnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Dengan segera ia melepaskan tangannya dari genggaman Naruto. Mengakibatkan pria yang tertidur di kursi yang ada di sebelah ranjangnya itu terbangun.
"Hi-hinata." Entah kenapa ia menjadi gugup sekarang. Sakura berusaha memaksakan dirinya untuk tersenyum.
"Syukurlah kau sudah siuman, Sakura-chan." Hinata meletakkan buket bunga yang ada di genggamannya di meja yang ada di sebelah Naruto. Seolah tak memperhatikan Naruto ia kembali berjalan menuju pintu keluar. "Aku senang kau kembali." Ujarnya dingin sambil berjalan menghilang dari pandangan Sakura.
Sakura merasakan kalimat yang baru saja ia dengar tadi merupakan kalimat paling dingin yang pernah ia dengar. Ia tidak menyukai sorot mata Hinata yang terlihat kosong tadi. Ini pertanda buruk. Ia yakin akan ada sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi.
Dengan segera ia menatap Naruto yang ada di sebelahnya. "Naruto, sebaiknya kau segera menyusul Hinata. Bagaimanapun juga ia istrimu." Sakura menatap Naruto dengan tatapan memelas.
"Tapi, aku mencintaimu Sakura-chan..." mata cerulean Naruto menatap Sakura dalam. "Dan kau juga mencintaiku."
"Tapi ini tidak benar Naruto..." Sakura menangis, ia tidak menyangka confession yang dilakukannya pada hari pernikahan Naruto akan berakibat seperti ini. "Sebesar apapun aku mencintaimu, tetap saja istrimu itu Hinata."
"Aku akan segera menceraikannya." Jawab Naruto enteng.
Segera saja mata Sakura melebar. "Kau tidak boleh mempermainkan perasaan seorang gadis! Hinata sudah menyukaimu sejak kita berada di akademi dulu."
"Lalu kau ingin aku melakukan apa Sakura?" tanya Naruto retoris. "Nasi sudah menjadi bubur. Aku menikah dengan Hinata adalah kenyataan yang tak bisa dipungkiri lagi."
Perkataan Naruto bagaikan tombak yang menusuk ulu hatinya. Ia tahu bagaimana perasaan Hinata saat ini. Dan ia juga tak keberatan jika salah satu sahabatnya itu membencinya.
Mungkin akan lebih baik jika ia menerima lamaran Sasuke sebelumnya. Pergi menjauh dari Naruto dan Hinata.
Tapi...
Ia tidak mau sesuatu yang lebih buruk dari ini terjadi.
.
Love Always Comes Late
.
.
Hari ini Sakura sudah diperbolehkan pulang. Setelah berpamitan dengan pegawai rumah sakit tempatnya bekerja dulu. Ia melangkahkan kakinya menuju ke taman di tengah kota Konoha. Hari ini Naruto dan beberapa temannya sedang melaksanakan misi di Ame dan mungkin baru pulang beberapa hari lagi. Dengan menghela napas Sakura menundukkan kepalanya.
Mungkin hari ini ia akan mengobrol santai dengan Hinata. Berusaha keluar dari situasi awkward ini adalah hal yang terbaik. Dan sepertinya harapannya terkabul. Ia melihat Hinata yang sedang berjalan dari kejauhan. Entah kenapa Hinata terlihat lebih kurus dan lebih lemah dari biasanya.
"Hinata!" Sakura memanggil Hinata, ia melambaikan tangannya. Sementara yang dipanggil hanya terdiam.
Sakura berlari menghampiri Hinata. "Hinata, hari ini kau kosong kan?" tanya Sakura. "Ayo kita makan ramen! kutraktir deh!"
"..." Hinata hanya mengangguk pasrah ketika Sakura menyeretnya menuju kedai ramen Ichiraku.
"Paman, aku pesan ramennya dua ya!" seru Sakura.
"Siap. Akan segera saya antar!" Paman Teuchi tersenyum lebar.
Hinata hanya terdiam sejak tadi. Sementara Sakura masih berusaha memecahkan keheningan dengan menceritakan pengalamannya dalam menangani pasien di rumah sakit.
"dan kau tahu Hinata? Ternyata di balik wajahnya yang sangar, Ibiki-sensei sangat takut pada jarum suntik."
"Ano..."
"Ya ada apa Hinata?" Sakura segera menghentikan ceritanya dan kini kembali fokus pada perkataan Hinata. Sedikit senang karena akhirnya Hinata mau juga membuka mulutnya.
"Apa kau merasa bahagia sekarang?"
CTARR
Pertanyaan Hinata berhasil membuatnya bagaikan tersambar petir.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu Hinata?"
"Kau sudah bertemu kembali dengan pria yang kau cintai, dan ternyata pria itu masih sangat mencintaimu seperti dulu." Mata amethist Hinata menatap sayu mata Sakura. "Apa kau bahagia?"
Tak tahu harus menjawab apa Sakura hanya mengangguk pelan.
Air mata tiba-tiba saja jatuh berderai di pipi putih Hinata. Hinata menangis tanpa suara. "Syukurlah. Syukurlah kau bahagia."
"Hinata... maaf aku..."
"Tak apa jangan minta maaf Sakura-chan..." Hinata menggeleng lemah. "Naruto memang tidak mencintaiku sejak awal. Aku sudah tahu itu."
"Hinata..."
"Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku benar-benar mencintai Naruto-kun, lebih dari kau, bahkan lebih dari diriku sendiri..."
Sakura hanya tersentak. Perasaan bersalah menderanya.
"Aku sudah mencintai Naruto-kun sejak kau masih tergila-gila dengan Uchiha Sasuke. Saat itu bahkan Naruto-kun sudah memperhatikanmu. Tapi ia tak pernah menyadari keberadaanku sedikitpun."
Sakura merasa sesak mendengar pengakuan Hinata yang begitu jujur. Air mata kini ikut keluar dari matanya. "Maafkan aku Hinata..."
"Mencintai seseorang selama hampir 20 tahun, apalagi cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan, hal itu adalah hal yang menyakitkan." Hinata kembali terisak. "Hingga pada akhirnya Naruto-kun melamarku, aku pikir mungkin saja dengan ini aku bisa menjadi sedikit berarti baginya. Mungkin saja, Naruto-kun akan melihatku, menyadari keberadaanku, membalas cintaku..."
Sakura menggenggam tangan Hinata. Air matanya terus keluar tanpa henti. "Maaf, maaf, maaf..."
" Tapi itu tidak berhasil, sampai kapanpun, atau bahkan sampai aku mati pun mungkin saja kau yang tetap dicintai oleh Naruto-kun."
"Hinata! Itu tidak akan terjadi! Aku... aku..." perkataan Sakura terhenti ketika Hinata bangkit dari duduknya sambil tersenyum.
"Jangan dipikirkan Sakura." Ujarnya. "Jangan pikirkan aku. Berbahagialah." Dan akhirnya Hinata menghilang dari pandangan Sakura dengan jurus berpindah tempatnya.
"Maaf terlambat, ini ramennya!" seru paman Teuchi. Namun ia kembali bingung ketika melihat Hinata sudah tidak berada di tempatnya. "Loh? Kemana Hinata?" tanyanya.
"Hmm dia ada sedikit urusan."
"Yaah sayang sekali kalau ramennya tidak dimakan." Gerutu paman Teuchi
"Biar aku saja yang makan paman!" Sakura mengambil mangkuk ramen dari tangan Teuchi. "Aku sedang ingin makan banyak sekarang."
Sakura mengambil sumpit lalu mulai memakannya dengan lahap. "Itadakimasu!"
"Maaf, Sakura, apa aku terlalu banyak memberikan cabai pada ramenmu?" tanya Teuchi sedikit salah tingkah ketika Sakura memakan ramennya dengan penuh air mata yang mengalir di kedua pipinya.
Sementara Sakura tidak menjawab ia hanya terus makan dalam diam. Air mata masih berjatuhan membasahi wajahnya.
Apa yang harus kulakukan?
.
.
.
.
Merasa tidak nyaman dengan perkataan Hinata sebelumnya, Sakura memutuskan untuk mendatangi apartemen Naruto yang kini telah menjadi kediaman Hinata untuk sekedar minta maaf dan melihat keadaannya.
Langkahnya sedikit ragu ketika ia berada di depan apartemen yang sangat familiar baginya. Namun rasa khawatirnya melebihi perasaan ragunya. Ia mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada jawaban dari dalam.
Perasaan khawatir kembali menyambanginya ketika ia menyadari pintu apartemen itu tidak terkunci. Dengan ragu ia membukanya dan melangkah masuk ke dalam. "Hinata-chan..." panggilnya.
Betapa kagetnya ia ketika melihat ruang tamu apartemen Naruto sangat berantakan. Matanya kembali melebar ketika ia melihat foto-foto pernikahan Hinata dan Naruto dicoret oleh tinta merah berbentuk X besar. Pikiran buruk kembali melandanya.
"Hinata..."
Betapa kagetnya ia ketika melihat ceceran darah di lantai yang berakhir di atas tempat tidur Naruto.
"HINATAAA!" seketika Sakura menjerit histeris ketika melihat Hinata yang sudah tidak bernyawa tergeletak diatas tempat tidur dengan pergelangan tangan tersayat kunai. Ranjang yang menjadi milik pasangan pengantin baru itu telah menjadi kolam darah. Benar-benar mengerikan.
"AAAAAAA! TIDAAAK!" Sakura hanya bisa menjerit-jerit histeris melihat semua itu.
-TSUZUKU-
Gomen gomen gomeeen... chapter ini terpaksa di republish karena banyak tanda baca dan spasi yang ga kebaca di doc manager... salah saya juga sih kenapa ga mengecek ulang lagi fic nya sebelum dipublish. Tapi sekarang sudah saya edit kok.
Jadi yang mana yang delusi yang mana yang kenyataan apakah ada yang bisa menebak?
Tunggu jawabannya di chapter selanjutnya yaaa
Regards,
Akina Takahashi
