All Characters belong to MK

Sakura sedang di apartemennya menonton TV, hingga ia merasakan ponselnya bergetar. Pemberitahuan pesan dari nomor tak dikenal pun terlihat.

From : +628545xx

Aku kembali, temui aku di Bandara, aku ingin bicara berdua denganmu.

.

(Sasuke)

.

Sakura mengeratkan genggaman pada ponselnya, tak kuasa menahan luapan air mata bahagia, penantiannya selama tujuh tahun lebih akhirnya membuahkan hasil, ia akhirnya bisa berjumpa dengan pria yang selama ini merajai hatinya. Ia juga memiliki banyak hal yang ingin ia sampaikan pada pria itu.

Segera ia menyambar sweater merah marunnya dan keluar apartemen, ia akan menemui Sasuke di bandara. Melambai pada taksi yang melintas segera ia masuk, "Bandara Konoha!", ucapnya singkat pada supir taksi. Dan taksi pun melaju ke sana.

Di dalam taksi Sakura tak henti-hentinya memandangi ponselnya, astaga ia benar-benar tak menyangka, Sasuke kembali dan mengajaknya bertemu.

Sesampainya di bandara, Sakura memasuki lobby bandara, ia melihat siluet pria berambut hitam memakai jaket biru tua duduk memandangi ponselnya, wajahnya tak terlalu terlihat karena tertutupi rambutnya yang mulai memanjang. Sebuah koper besar tergeletak di dekat kakinya. Ketika pria itu mengangkat kepalanya, pandangan mereka pun bertemu.

.

.

.

Air mata menetes mengalir di pipinya, Sakura bergumam "Sasuke-kun" dan berlari menuju pria itu. Sasuke yang melihat Sakura berlari ke arahnya pun segera berdiri dan merengkuh Sakura ketika gadis itu menghambur ke pelukannya. Sakura mengeratkan pelukannya dan menangis di dada bidang Sasuke, sungguh, ia benar-benar merindukan pria yang dipeluknya kini.

Sasuke melepaskan pelukannya, dipandanginya wajah Sakura yang penuh air mata, ia mencoba menghapus air mata Sakura dengan jempolnya.

"Sasuke-kun, aku sangat merindukanmu", ucap Sakura parau.

"Maafkan aku", kata Sasuke.

"Sasuke-kun, apa kau akan tinggal di sini? Kau tak akan pergi lagi kan?" tanya Sakura sambil meremas erat jaket Sasuke.

"Aku… belum tau".

Genggaman Sakura pada jaket Sasuke mulai mengendur, "Begitu ya, lalu sekarang kau akan tinggal di mana? Kudengar Uchiha Mansion sudah ditutup".

"Hn, mungkin aku bisa menyewa apartemen di sekitar sini".

"Ba-bagaimana ka-kalau kau tinggal di apartemenku saja", Sakura memilin-milin lengan sweaternya dan menunduk tak berani menatap mata Sasuke.

"Boleh", jawab Sasuke singkat.

Sakura mengangkat kepalanya, menatap Sasuke tak percaya, namun sesaat kemudian ia tersenyum dan meraih tangan Sasuke.

.

.

"Ayo"

•••

Naruto masih duduk di meja kebesarannya, jemarinya menekan-nekan tombol keyboard laptopnya, sesekali ia memijit pelipisnya, rasanya pekerjaan yang bertumpuk ini lama-lama membuatnya sakit kepala. Ia melirik jam yang ada di ruangannya.

"Sudah jam satu siang kah?", gumamnya. Jam istirahat siang baru saja lewat, dan ia lupa makan siang.

Ia meraih ponsel yang tergeletak di meja, tak ada pesan maupun notifikasi apapun. Ia mengernyitkan dahi, seingatnya jika sudah mendekati jam makan siang, Sakura akan mengiriminya pesan mengingatkan untuk berhenti bekerja dan makan siang dulu. Namun sekarang tak ada pesan masuk satupun dari Sakura.

Sebenarnya bukan hanya Sakura yang sering mengiriminya pesan untuk mengingatkannya makan siang, Hinata juga sering mengiriminya pesan, tapi Naruto selalu mengabaikannya, bahkan jika Hinata kelewat khawatir pada Naruto yang belum makan siang maka Hinata akan mengantarkan bento ke kantornya, namun Naruto mengusirnya dan melarang Hinata untuk datang ke kantor lagi, dan Hinata yang keras kepala akan tetap datang ke kantor walau bento buatannya tidak disentuh Naruto.

Sekarang benar-benar aneh, tak ada satupun pesan dari Sakura. Kenapa ia tidak mengiriminya pesan seharian ini?

Kemudian ia merasakan ponselnya bergetar, ternyata ada pesan masuk. Melihat nama pengirim adalah nama Hinata yang terpampang di layar membuatnya enggan membuka pesan itu.

Mengabaikan pesan Hinata, Naruto pun mencoba menghubungi ponsel Sakura.

'tuuut…. tuuutt… , klik! Nomor yang anda tuju tidak menjawab'.

"Ck, kenapa tidak diangkat sih". Ia menaruh kembali ponselnya di meja dengan kasar. 'Sore nanti sepulang dari kantor aku ke apartemennya saja'. Pikirnya.

•••

Sakura dan Sasuke sedang berada di apartemen Sakura, menikmati makan siang. Tiba-tiba ponsel Sakura bergetar, Sakura pun melihat ponselnya,

'Naruto is calling…'

Sakura terdiam lalu kemudian meletakkannya kembali di meja.

"Kenapa tidak diangkat?", tanya Sasuke.

"Ahaha bukan panggilan yang penting, omong-omong Sasuke-kun, apa kau menyukai makanannya?", ujar Sakura mengalihkan pembicaraan.

"Ya, ini lumayan, terakhir yang kuingat rasa masakanmu sangat aneh", jawab Sasuke jujur. Sakura mencebik kesal.

"Mou Sasuke-kun, waktu itu aku masih belajar, sekarang kan aku sudah mahir". Rajuknya. Sasuke hanya terkekeh.

.

Mereka menghabiskan waktu berdua sepanjang hari, Sakura sangat bahagia saat Sasuke bercerita bahwa ia merindukannya saat di luar negeri. Mereka mengobrol sampai sore menjelang.

Saat ini mereka berada di sofa ruang tengah apartemen Sakura.

"Sasuke-kun, kenapa saat itu kau pergi?"

"Ada banyak hal yang terjadi, dan aku putuskan untuk pergi".

"Tap-tapi ke-kenapa waktu itu kau memutuskanku? Ka-kalau kau memang ingin pergi ke luar negeri, aku bisa menunggumu di sini kan", mata Sakura berkaca-kaca, mengingat masa lalu saat Sasuke memutuskannya.

"Saat itu aku belum tau aku akan kembali ke Konoha atau tidak", Sasuke menatap mata Sakura, "Aku juga tidak ingin kau menungguku". Ujarnya kemudian.

"Aku menunggumu selalu Sasuke-kun, dan sekarang kau kembali kan". Sakura tersenyum senang, merebahkan kepalanya di pundak Sasuke.

"Ne, Sasuke-kun, apa kau akan pergi lagi?". Sakura mengangkat kepalanya dari pundak Sasuke dan memandangnya dalam. Sasuke hanya diam memalingkan wajahnya ke samping tak menjawab pertanyaan Sakura.

"Jika kau memang ingin pergi lagi, bi-bisakah a-aku ikut denganmu?". Sakura memelas malu.

Sasuke menyentil dahi Sakura. "Jika aku pergi, kau cukup menungguku saja di sini, aku pasti kembali". Ucapnya kemudian.

Sakura tersenyum lebar dan memeluk Sasuke erat. Demi apapun ia begitu mencintai Sasuke.

Tiba-tiba,

.

Sreet.

Bugh!

"Sasuke-kun!".

Sakura berteriak panik karena Sasuke jatuh tersungkur dengan bibir berdarah.

"Kau! Dasar brengsek!", umpat Naruto yang baru datang dan memukul Sasuke keras. Seolah tak puas hanya memukul satu kali ia pun kembali mencengkeram kerah baju Sasuke dan memukul rahangnya.

Bugh!

"Naruto hentikan!", Sakura menarik Naruto menjauh kemudian ia berlutut menyamakan posisinya dengan Sasuke yang jatuh terduduk.

"Aku tak apa, Sakura", ucap Sasuke saat melihat tatapan sedih Sakura.

Sakura memapah Sasuke untuk bangun.

Sasuke mengusap sisi bibirnya yang berdarah.

"Lama tak jumpa, Dobe". Ucapnya tenang pada Naruto.

Naruto yang naik pitam nyaris saja memukul Sasuke lagi jika saja Sakura tak berdiri di tengah-tengah mereka.

"Hentikan Naruto, kau menyakiti Sasuke-kun!".

"Sakura, biar kuhajar si brengsek itu, dia sudah berani menyentuhmu di depanku!". Nafas Naruto tersengal-sengal menahan emosi.

"Kumohon Naruto, hentikan semua ini, jika kau melukai Sasuke-kun, itu berarti kau juga menyakitiku". Ucap Sakura sedih. Ia memeluk Sasuke.

"Sakura…", Naruto berujar lirih menyaksikan apa yang ada di depannya.

"Aku dan Sasuke-kun sudah berdamai, kami saling mencintai, kumohon Naruto, jangan memaksaku lagi, aku tidak pernah mencintaimu", kata Sakura meluapkan isi hatinya pada Naruto yang selama ini ia tahan. " Bisakah… bisakah kita bertiga kembali seperti dulu?! hiks". Sakura tak kuasa menahan tangis.

Naruto mengepalkan tangannya. Ini terasa seperti dejavu baginya, Sakura lagi-lagi memproklamirkan hubungannya dengan Sasuke.

Naruto berbalik ke arah pintu.

Brakk!

Ia meninju pintu apartemen Sakura dengan keras.

"Sial!" umpatnya. Kemudian ia pergi dari sana.

Naruto membanting pintu mobilnya keras, ia emosi sekarang. Pulang kerja niatnya ingin berkunjung ke apartemen Sakura malah ia melihat Sasuke di sana. Ia geram.

Segera ia pulang ke apartemennya dengan kecepatan penuh.

.

Sampai di apartemen, ia melihat Hinata tertidur di sofa, 'apa mungkin ia menungguku?' batinnya.

Perlahan ia mendekat ke arah istrinya itu.

Deg!

Tiba-tiba ia merasa sakit pada dadanya. Ia mencengkeram dadanya untuk mengurangi rasa sakit, sial ia lupa meminum obatnya hari ini. Rasa sakit semakin terasa, nafasnya juga sesak. Pandangannya memburam dan,

Bruk!

.

Hinata yang awalnya tidur nyeyak terbangun karena mendengar suara jatuh di dekatnya. Ia membuka mata melihat sekeliling dan menemukan Naruto sudah tergeletak di bawah.

"Naruto-kun! Apa yang terjadi?". Hinata panik. Segera ia menelepon ambulance.

Tak lama kemudian ambulance dari rumah sakit Uzumaki pun tiba. Naruto di bawa ke rumah sakit saat itu juga.

Selama pemeriksaan, Hinata tak henti-hentinya menangis luar ruangan Unit Gawat Darurat di mana suaminya dirawat, sungguh ia takut terjadi apa-apa pada Naruto. Ia berdo'a semoga Naruto baik-baik saja.

Ceklek

.

.

Pintu UGD pun terbuka, Tsunade keluar menemui Hinata.

"Baa-san, bagaimana dengan Naruto-kun? Apa dia baik-baik saja?" tanya Hinata sambil berurai air mata.

"Naruto tidak apa-apa, sepertinya dia lupa meminum obatnya, saat ini dia belum siuman, tapi tenanglah, dia masih bisa bertahan, kau tak perlu khawatir, besok pasti Naruto siuman, sekarang dia akan kupindahkan ke kamar inap biasa, kau jagalah ia malam ini". Jawab Tsunade.

Hinata sedikit lega, "Baiklah Baa-san, aku menginap di sini menjaga Naruto-kun".

"Kaa-san, bagaimana keadaan Naruto?" teriak Kushina tiba-tiba.

"Kushina, kau mengagetkanku, Naruto tak apa-apa, ia hanya lupa meminum obatnya". Jawab Tsunade.

Kushina kemudian menoleh pada Hinata dan menatapnya tajam. "Kau, apa sih kerjaanmu selama ini hah? Kau tidak mengingatkan Naruto minum obat? Kau jadi istri tidak pecus sekali sih!" omel Kushina pada Hinata.

"Ma-maaf Kaa-san". Jawab Hinata pelan.

"Maaf maaf, kau lihat akibatnya, anakku masuk rumah sakit!".

Hinata makin menunduk. Seingatnya ia sudah mengirim SMS pada Naruto siang tadi. 'Apa Naruto-kun belum membacanya?' pikirnya.

"Sudahlah Kushina, jangan menyalahkan Hinata". Kata Tsunade bijak.

"Sebenarnya, selama ini Naruto sakit apa?"

Mendengar suara itu sontak membuat ketiganya menoleh pada ke sumber suara. Mereka lupa ada Minato di sini.

"Kenapa kalian diam? Katakan sesuatu". Nada suara Minato meninggi.

.

.

"Minato, Kushina, kalian ikutlah ke ruanganku. Dan, Hinata pergilah ke kamar Naruto, kau bisa menjaganya malam ini". Putus Tsunade.

•••

Bersambung…

.

Gimana ya bilangnya, Valen minta maaf banget dehh karena ide story ini emang pasaran dan mungkin jalan ceritanya udah mainstream dan gampang ketebak, kemarin Valem sempat mikir buat hapus fict ini hehe. Tapi Valen sayang juga. Akhirnya dengan segala yang ada Valen putusin untuk tetep lanjut sampai akhir.