Luhan Pov

Mungkin mema'afkan tak sesulit yang aku kira. Dan kurasa Minseok benar. Aku selalu menghindari masalah yang datang dalam hidupku dan mencari jalan tengah yang singkat dan menjauh dari pusat masalah. Sehingga kuputuskan untuk menemui mereka dan mema'afkan kesalahan mereka di masa lalu. Keluarga baru ku sangat ramai. Dari pernikahan baru mamaku dan papa Chengmin aku mendapatkan seorang adik perempuan yang sangat kuragui kewanitaannya. Amber Josephine Shim. Dan ia mengutuk marga papa Changmin setengah mati karena baginya marga itu tak keren dan mengganggu nama asingnya yang keren. Gadis jadi-jadian ini luarbiasa berisik dan pengganggu kelas atas. Paling hobi menjahili Youngmin yang sedikit manja dan cengeng.

Sedangkan dari pernikahan papaku dan mama Henry di peroleh Youngmin yang luar biasa lembut dan cengeng. Keluarga baruku tak seburuk yang ku bayangkan. Memang sedikit canggung untuk menjadi bagian dari mereka. Tapi yang patutku syukuri mereka amat sangat mengharapkan kepulanganku dan menerimaku dengan penuh suka cita. Adaptasi mungkin sangat kubutuhkan saat ini

Luhan Pov end

.

.

.

"ini dia pangeran super sibuk kita" kalimat bernada mengejek itu menyambut kedatangan Luhan begitu ia mendudukkan dirinya pada sofa yang telah terisi sekelompok pria tampan dan manis yang menatap Luhan dengan berbagai tatapan

"sudah untung aku bisa datang" jawab Luhan ketus dan menyambar sebotol tequila lalu menuangkannya pada seloki kecil di atas meja

"sesibuk apa kau sehingga susah diajak berkumpul?" Kris menatap Luhan jengah, sepertinya kebiasaan minum Luhan makin parah

"proyek hotel terbaruku di China butuh perhatian lebih Kris. Ngomong-ngomong selamat karena telah menemukan jodohmu" Luhan mengangkat gelasnya untuk mengajak Kris bersulang

"hah… ok kita akhiri sesi tanya jawab ini dan mari bersenang-senang" Sehun menengahi dan mengangkat gelasnya di ikuti dengan yang lainnya.

Mata Luhan menelisik satu persatu orang yang hadir pada acara bujang yang kembali Kris buat karena absennya Luhan pada acara pertama. Ia telah berada di pesta ini kurang lebih setengah jam dan ia sama sekali tidak melihat Minseok. Kemana si mungil itu?

"mencari siapa hyung?" sapaan bernada setengah menggoda itu membuat Luhan menatap adik Minseok itu dengan malas

Entah kenapa ia merasa Kai berkeliaran dimana-mana. Ia jadi sering bertemu dengan adik Minseok ini dan berakhir dengan adu mulut tak penting. Malas meladeni Kai Luhan lebih memilih menenggak Martininya pelan. Sepertinya Luhan mulai gila kerena mencampur beberapa minuman berkadar alcohol tinggi tanpa memikirkan akibatnya.

"kalau kau mencari Minseok hyung. Kau tak akan menemukannya karena Minseok hyung sibuk mengurus acara penting akhir bulan nanti" Kai kembali membuka suara, enggan meninggalkan Luhan sendiri dan berpikir logis

Melihat Luhan uring-uringan jelas hobi barunya saat ini. Apa lagi jika itu berhubungan dengan hyung imutnya. Dan benar saja, reaksi Luhan itu jelas sangat sesuai dengan apa yang Kai harapkan. Seringai puas tersirat pada bibir sexy Kai saat melihat Luhan mencengkram gelasnya dan menatap Kris dengan penuh dendam. Dan acara mari goda Luhan makin mengasikkan saat Chanyeol dan Sooyoung bergabung bersama mereka.

"kau sudah memutuskan akan mengajak siapa kepesta pernikahan Kris nanti Lu?" Sooyoung nenatap Luhan tanpa minat dan menenggak Sherrynya dengan khidmat

"kanapa aku harus membawa pasangan?" Tanya Luhan malas dan menatap Sooyoung datar

"kau tak mau mejadi perhatian karena hanya kau sendiri yang tak membawa pasangankan"

"apa peduliku. Jika memang dibutuhkan aku bisa menyeret siapa saja untuk menjadi pasanganku"

"menyedihkan sekali kau Lu. Sejak kapan Xi Luhan kekurangan stok pria dan wanita. Sepertinya pesonamu sudah hilang ya Lu. Salahkan saja wajah menyedihkanmu itu" ejek Sooyoung pedas dan menatap Luhan dari atas hingga bawah. Tetap tampan tapi ada kesan tak terurus pada diri Luhan. Liar dan juga berantakan yang tak pernah ada pada diri Luhan yang dulu

"lihat penampilanmu hyung. Berantakan. Apa Minseok hyung tak mengurusmu lagi?"

"kau pikir kakakku baby sitternya!" sanggah Kai tak terima, "hyungku sedang sibuk sekarang ini. Terlebih lagi akan ada acara besar akhir bulan ini jadi ia lebih sering di rumah dibandingkan di apartemennya." Lanjut Kai dengan suara sedatar mungkin dan seketika tiga pasang mata itu menatap Luhan penuh minat, menunggu reaksi Luhan tapi Luhan justru beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri seorang gadis yang baru datang

Seketika mata mereka bertiga membeliak tak suka saat Luhan memeluk gadis itu dan dibalas dengan pelukan singkat yang intim. Sepertinya mereka salah strategi karena sekali lagi kebiasaan lama Luhan ternyata telah kembali.

.

.

.

"akhiri sekarang juga Yeol" kalimat singkat penuh penekanan itu memasuki pendengaran Chanyeol dan membuatnya tersenyum kecut melihat tiga uke menatapnya ganas

"akan kulakukan. Sabar dan kita lihat dulu siapa gadis itu"

Serta merta mereka ber7 ditambah Sooyoung menghampiri Luhan yang nampak nyaman berbicara dengan si pendatang baru.

"kau tak akan mengenalkannya pada kami Lu?" pertanyaan bernada menyindir itu membuat Luhan mendengus geli dan memutar kursi yang ia duduki ke arah sahabatnya

"Amber Joshephin . adik ku." Dan semua menganga tak percaya terlebih Sooyoung dan Tao

Sejak kapan Luhan kembali berhubungan dengan keluarganya. Kurang lebih itulah yang ada di pikiran kedua sepupu Luhan itu. Belum lagi penampilan Amber yang nampak lebih wanita walaupun rambutnya masih tetap pendek.

"apa yang membuatnya rela berdandan seperti itu?" buru Tao dengan semangat dan mengeluarkan i-phonenya. Siap mengabadikan penampilan baru amber yang di hadiahi pelototan tak suka dari amber

"berkunjung dengan bebas ke apartemenku untuk menghindari mama"

"kau gila. Mana mungkin hanya karena itu?" Sooyoung menatap Luhan tak percaya

"menunggu apartemenku selama aku pergi merupakan tawaran yang menarik baginya yang ingin menghindari mama victo"

Dan dengusan geli di hasilkan oleh kedua sepupu Luhan sedangkan objek pembicaraan nampak tak nyaman dengan pandangan menelisik ke arahnya.

"ku kira kau kembali kekebiasaan lamamu ge"

"entahlah. Aku mulai merasa lelah dengan kehidupanku yang dulu." Jawaban sambil lalu itu membuat mereka semua manatap Luhan seolah Luhan baru saja mengatakan bahwa gajah bisa terbang, "apa-apaan ekspresi kalian itu?. Memangnya salah aku berfikir untuk berhenti dan berusaha untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Aku juga ingin seperti kalian"

"bukannya sudah ada Seokie hyung?" cetus Beakhyun tak sabar dan di angguki dengan semangat oleh yang lainnya

"jangan bercanda. Aku tak mungkin merebut calon temanku sendiri" sergah Luhan sinis

"sepertinya ada yang harus di luruskan di sini" sela Kris cepat melihat atmosfir tegang yang mulai terbentuk dan menarik perhatian Luhan dan Baekhyun ke arah pria tampan itu

"Minseok bukan calon istri Kris. Ma'af membohongimu Lu" Sooyoung buka suara dan menatap Luhan dengan tatapan sarat akan rasa bersalah dan penyesalan. Sedangkan Luhan nampak tersentak kaget dan menatap mereka dengan tatapan tak percaya

"ahahah.. kau ini. Bercandapun ada batasnya Jie"ujar Luhan di sela tawa sumbangnya

"Sooyoung tidak bercanda Lu." Kris menarik pelan Jonmyeon ke sisinya dan memeluk pinggang pria itu mantap. Serta merta mata Luhan memicing melihat Kris memeluk pinggang itu posesive.

Apa Kris menghianati Minseok?

"itu salahku Lu. Aku hanya berniat menggodamu dan ternyata Chanyeol menambahi godaanku yang sialnya dengan mudahnya kau percayai." Sooyoung menatap Luhan tak enak hati

"dan kenalkan calon istriku yang sebenarnya Lu. Kim Jonmyeon" pria yang awalnya Luhan ketahui sebagai kekasih Lay itu tersenyum ramah pada Luhan

"tapi kau benar-benar berpacaran dengan Minseok" desis Luhan dengan rahang terkatup keras tanda ia menahan amarahnya

"ya. Dan itu kesalahanku. Saat itu aku memang berfikir bahwa aku mencintai Minseok dan Jonmyeon memutuskan pertunangan kami karena tak tahan dengan kelakuanku yang selalu menempel dengan Minseok."

"lalu Lay?" tubuh Luhan mulai rileks tapi sikap difensifnya masih tetap ia pertahankan

"mereka berdua meminta bantuan Lay untuk membuatku sadar dan Minseok menggunakan mu sebagai objek untuk menarik persaan ku yang sesungguhnya. Minseok tak pernah mencintaiku jika itu yang ingin kau pastikan" ada sedikit nada menggoda dalam suara Kris yang membuat Luhan mengernyit tak suka.

"dan kenapa aku harus tahu kalau ia tak mencintaimu?"

"karena kami tau jika kau menyukainya. Ah… tidak-tidak. Kau mencintainya" Sehun berkata dengan santainya dan tersenyum miring ke arah Luhan. Ingin rasanya Luhan menghilangkan senyum itu dengan tangannya

"jangan mengada-ada. Jangan sok tau dan berhenti merecoki urusanku"

"hyung. Ku rasa apa yang mereka katakan itu benar. Kau mencintai tetangga mungil nan menggemaskanmu itu. Ayolah hyung… jangan terus-terusan menghindar. Apa lagi kau sudah mendapat lampu hijau dari keluarganya. Yah..,. itu juga kalau kau tak mau kehilangannya" Amber yang dari tadi hanya mendengarkan ikut sumbang suara dan di tanggapi dengan pelototan dari Luhan. Membuat gadis setengah pria itu mengangkat gelasnya sambil lalu dan kembali mengacuhkan sekumpulan orang dewasa merepotkan di sekitarnya.

"sebagai adik Seokie hyung aku akan mengatakan ini pada mu hyung. Jika kau mencintainya cepat katakan. Karena sepertinya appaku mulai berniat untuk menjodohkannya kembali dengan anak-anak teman appaku" kalimat singkat itu menyentak Luhan dengan keras dan menatap Kai dengan tatapan setajam belati

"enak saja. Sampai kapanpun Baozi itu milikku"

"kau pikir ia akan menunggumu jika kau saja tak yakin dengan perasaanmu. Dia terlalu berharga untuk orang sepertimu Lu" banzai. Mulut pedas Sooyoung kembali beraksi "katakan padanya atau kau harus merelakannya dengan orang lain. Ia berhak mendapatkan yang terbaik Lu"

Dan detik berikutnya Luhan telah berderap pergi meninggalkan sekelompok orang yang selalu merecoki kehidupannya itu. Seringai puas mulai terpatri di bibir mereka dan tawa mereka pun akhirnya terdengar. Setidaknya mereka telah mengatakan yang sebenarnya kepada Luhan. Sekarang tinggal Luhan yang menyelesaikan bagiannya.

.

.

.

"jangan berdekatan dengan pria lain" satu kalimat aneh dari Luhan membuat Minseok menatap pria di depan apartemennya itu bingung. Ia baru saja pulang dari luar kota dan tetangganya itu sudah mengoceh tak jelas.

Ayolah… yang Minseok butuhkan sekarang ini hanyalah istirahat bukan omong kosong seorang Xi Luhan yang sekarang menatapnya dengan wajah serius

"mau masuk" tawar Minseok akhirnya. Ia bingung harus berkata apa pada Luhan yang sekarang melangkah masuk ke dalam apartemennya

"kau mau pergi?" Tanya Luhan begitu melihat koper yang lumayan besar tergeletak pada lantai apartemen Minseok

"aku baru pulang lebih tepatnya"

"ah… kau dari mana?"

"proyek di jeju. Jadi ada keperluan apa menemuiku Lu. Bukannya seharusnya kau masih di acara pesta bujangnya Kris?"

"em… itu… aku…" Minseok menatap bingung Luhan yang nampak gelisah dan sangat tak khas Luhan. Biasanya Luhan ceplas ceplos dan semaunya sendiri jika sudah berhubungan dengan seorang Kim Minseok

"em… kurasa ini akan terdengar konyol. Tapi aku mengatakan ini dengan tulus" Luhan nampak gugup dan membuat Minseok makin bingung. Dan hening yang panjang kembali menggantung sehingga membuat Minseok jengah

"kurasa kau butuh martini atau brendy" tukas Minseok sembari beranjak ke arah barnya tanpa menunggu jawaban dari Luhan

Minseok yang nampak sibuk dengan gelas dan botol brendynya terkesiap pelan saat merasakan sepasang lengan memeluk pinggangnyanya erat dan kepala seseorang yang dapat dipastikan bahwa itu Luhan melesak di antara perpotongan lehernya.

"aku mencintaimu" satu kalimat lirih disertai kecupan pelan pada lehernya membuat Minseok berjengit kaget bahkan nyaris menjatuhkan botol Kristal cantik di tangannya jika tak ditahan oleh Luhan

Tawa lirih Minseok terdengar tak yakin dan jemari mungilnya mencengkram lengan Luhan kuat. Dan suara bisikan lirih berupa pernyataan cinta itu terus Luhan ucapkan dan bisikkan tanpa henti dan tanpa jeda. Dengan pelan dilepaskannya pelukan Luhan pada pinggangnya dan Luhan tak melawan sama sekali. Mata mungi Minseok menatap kedua manic mata Luhan dengan intens. Senyum manisnya merekah dengan sempurna, membuat pria tampan di depannya itu menarik sosok mungil itu ke dalam pelukan hangatnya

"oh Tuhan… aku mencintaimu dear. Mencintaimu setengah mati. Mencintaimu disetiap tarikan nafasku. Mencintaimu di setiap aliran darahku dan mencintaimu di setiap hembusan nafasku" tawa ceria di sertai sedikit getar bahagia Minseok mengguncang tubuh mereka berdua dengan pelan

"kau cheesy sekali Lu"

"aku tau. Dan aku seperti itu hanya kepadamu"

Lagi-lagi Minseok melepaskan pelukan mereka dan tangannya terulur untuk menyentuh wajah Luhan dengan lembut. Mata cantiknya berbinar bahagia dan mata cantik itu mulai terasa memburam karena genangan air mata bahagianya. Ia meragukan cinta Luhan. Demi Tuhan. Pria ini jelas pria yang berbeda dengan Luhan yang ia temui beberapa minggu yang lalu atau bahkan setahun yang lalu. Tapi kilas jujur pada warna segelap langit malam itu membuat dada Minseok membuncah dengan perasaan senang dan bahagia.

Pria ini mencintainya. Pria yang ia cintai ini memiliki perasaan yang sama dengannya. Mata pria ini menatapnya dengan binar cinta yang membuat perut Minseok mual karena rasa senang yang berlebihan. Hatinya melambung dan terasa penuh dengan perasaan cinta.

"kau tau. Kau lambat Lu" ujar Minseok di sela isak tangisnya dan narik kepala Luhan dengan lembut mendekat padanya. Tanpa ragu dikecupnya bibir Luhan dengan kecupan-kecupan kecil yang sangat Luhan suka dan memekik kecil saat Luhan mengangkatnya ke atas meja bar sembari mencium Minseok dengan ganas.

Menyesap bibir lembut dan hangat itu dengan rakus dan tak sabaran. Ciuman penuh rasa lega dan juga puas. Ciuman yang mengungkapkan rasa cinta dan sayangnya pada Minseok. Saat ciuman itu berakhir Minseok berada di depannya. Menatapnya dengan senyum sayang yang membuatnya merasa pulang kerumah.

"aku mencintaimu" kalimat itu lagi dan Minseok menempelkan keningnya pada kening Luhan dan menggesekkan hidung mungilnya dengan hidung Luhan

"aku juga mencintaimu Lu" bisiknya di depan bibir Luhan sebelum kembali mencium bibir Luhan dengan ciuman lembut yang manis dan di akhiri dengan ciuman kuat dari seorang Xi Luhan

.

.

.

Mata mungil itu mengerjap pelan dan mengamati Suasana remang pada kamarnya dan mereba pelan sisi kirinya dan terbelalak saat mendapatkan sisi kirinya kosong. Dengan cepat didudukkan tubuhnya dan menatap kamarnya dengan miris

"hanya mimpikah?" ujarnya lirih dan beranjak ke arah kamar mandinya. Mata cantiknya menatap pantulan dirinya pada cermin kamar mandinya. Sosok di depannya itu balas menatapnya dengan senyum menyedihkan yang membuat tawa miris memenuhi kamar mandi mewah itu

"bahkan di mimpipun kau hanya mengatakan sebuah lelucon Lu"

.

.

.

Minseok mengacak makanannya dengan tak semangat dan mengerang pelan saat bel apartemennya berbunyi dengan bunyi yang memekakkan telinga. Dengan enggan di bukanya pintu itu dan menatap bingung amber dan Sungjae yang tersenyum lebar ke arahnya

"annyeong hyungie…" sapa keduanya secara bersaman

"oppa!. Berhenti memanggilku hyung. Kau itu perempuan!" tukas Minseok tak suka dan dibalas amber dengan kekehan kecil dan menerobos masuk tanpa seizin Minseok yang mendengus kesal akan sikap barbar amber yang sangat tidak wanita sekali

"ma'afkan amber nunna ya hyung"

"lupakan. Aku sudah terbiasa dengan sikapnya itu. Ayo masuk" Minseok menggiring Sungjae masuk ke dalam apartemennya

"hyung. Aku akan menjadin tetanggamu mulai sekarang. Jadi mohon bantuannya" teriak amber semangat saat melihat Minseok muncul bersama sang adik

"memangnya Luhan mengizinkanmu tinggal di aprtemen keramatnya itu?" anggukan penuh semangat amber membuat minseok mengernyit heran. Sejak kapan mereka dekat dan mengapa luhan mengizinkan amber menempati apartemennya

"kau bingung ya. Dia pergi hyung" satu kalimat itu membuat Minseok membeku dan metapa amber dengan tatapan tak percayanya."dan melihat dari ekspresimu itu dapat kusimpulkan jika ia tak mengatakan masalah kepergiannya itu denganmu."

Minseok menghempaskan tubuhnya dengan lemas pada sofa di ikuti Sungjae yang menatapnya kasihan

"luhan hyung jahat ya hyung. Dia memang jahat. Marahi saja jika ia kembali nanti" tawa Minseok pecah melihat waja polos Sungjae. Entah mengapa luhan bisa memiliki adik sepolos ini jika mengingat seberapa brengseknya taipan kaya nan menyebalkan itu

"tapi ia menitipkan sesuatu untukmu hyung" amber mengeluarkan kotak mungil dari dalam tasnya dan sepucuk surat yang di ambil Minseok dengan ragu,"kami akan pergi dan memberimu privasi untuk membaca surat itu"

.

.

.

"BAOBEI…

Ma'af aku pergi dengan tiba-tiba dan tanpa ngengatakan sepatah katapun padamu. Aku tak tega membangunkanmu. Kau boleh marah padaku tapi jangan membenciku. Itu diharamkan. Kau mengerti nyonya Lu."

Minseok mendengus pelan membaca surat Luhan. Ternyata bukan mimpi

"seoki… amber memberimu kotak mungilkan. Aku melihatnya saat sedang pergi dengan kedua adikku dan seketika aku mengingatmu sahingga aku memutuskan untuk membelinya. Kuharap kau mau memakainya. Pasangannya ada padaku."

Minseok membuka kotak mungil itu dengan tak sabar dan tersenyum kecil melihat benda mungil yang ada di dalamnya. Dengan semagat dipasangnya benda itu pada jari manisnya dan tersenyum puas melihat hasil pekerjaannya itu

"ku harap kau menyukainya"

"aku menyukainya Lu" lirih Minseok di sela senyumnya

"jangan salah paham dengan artinya. Aku mecintaimu dan aku tak akan menyuruhmu menungguku. Jika kau menemukan seseorang yang kau cintai selama kepergianku. Kau berhak untuk memilihnya. Aku tak akan menahanmu untuk tetap menungguku. Kau berhak bahagia sayang. Hei… ingat. Ini bukan lamaran ya. Selama aku pergi kuharap kau hidup dengan bahagia. Ngomong-ngomong, aku titip adik ku dear. ^^"

"kau pikir aku babysitter" rutuk Minseok pelan dan kembali membaca surat aneh Luhan

"aku memutuskan untuk mema'afkan keluargaku. Aku kembali bersama mereka dalam beberapa minggu ini. Kau benar dear. Aku terlalu pengecut selama ini. Satu lagi, aku mengganti nomorku. Jadi jangan hubungi aku. Bukannya aku tak ingin berhubungan denganmu. Aku hanya ingin kita kembali merenungi perasaan kita. Aku mencintaimu. Itu mutlak dan pasti, tapi aku tak mau mengekangmu. Ma'af karena selama ini bersikap egois padamu. Terlebih lagi aku akan berlari ke arahmu dengan segera jika aku mendengar suaramu baobei. Jadi tolong e-maili aku sebagai gantinya. Kau tau alamat e-mailkukan babe.

Aku mencintaimu

Xi Luhan"

.

.

.

To : Luhan_Xi

From : Minseok_Xi

Re : itu lamaran

Itu lamaran tuan Xi. Jelas sekali jika itu lamaran dan lamaranmu diterima. Bahkan aku mengganti id ku dengan margamu. Sialan. Ini memalukan dan kau orang paling menyebalkan di dunia ini.

Pergi tanpa pamit dan tak memastikan hubungan kita dengan jelas. Peduli setan kau suka atau tidak yang jelas sekarang kau tunanganku. Jangan pergi terlalu lama Lu.

Ngomong-ngomong. Aku suka cincinnya.

p.s : aku juga mencintaimu

.

.

.

To : Minseok_Xi

From : Luhan_Xi

Re: re : itu lamaran

Kurasa kau benar dear. Itu memang lamaran. Sialan. Jangan coba-coba kembali mengganti Idmu. Aku suka Id barumu. ^^

Aku akan kembali secepatnya. Tolong sabar sebentar. Aku janji tak akan lama.

p.s : aku merindukanmu setengah mati

.

.

.

To : Luhan_Xi

From : Minseok_Xi

Re : aku menunggumu

Ini sudah nyaris setahun Lu. Apakah kita akan tetap berhubungan melalui e-mail seperti ini?

Aku ingin mendengar suaramu. Ngomong-ngomong, aku baru saja pergi dengan amber dan adikmu itu memang gila dan sama tak normalmnya denganmu. Satu lagi. Appaku mulai tak sabar melihatku untuk menikah. Aku akan meninggalkanmu jika kau tetap seperti ini. Jadi cepatlah kembali Lu

.

.

.

To : Minseok_Xi

From : Luhan_Xi

Re : aku akan kembali

Aku akan membunuh suamimu jika kau berani menikah dengan pria lain. Kupastikan itu Xi Minseok. Tunggu sebentar lagi dear. Aku akan pulang dan akan segera melamarmu langsung pada ayah mu. Jangan lelah menunggu

p.s : aku sedang menyiapkan kado special untukmu

.

.

.

Minseok Pov

Hari ini terhitung setahun sudah Luhan meninggalkanku. Bukan meninggalkan dalam arti sesungguhnya. Entah aku bodoh atau gila karena aku tetap menunggunya dan tetap setia menantinya sampai ia kembali. Mengacuhkan setiap pria yang datang padaku dan percaya ia akan kembali padaku. Xi Luhanku pasti akan kembali.

Dengan langkah lambat aku memasuki apartemenku yang nampak gelap dan mendesah lelah. Aku merindukan Luhan. Dengan pelan ku raba dinding untuk menemukan saklar lampu dan membeku melihat sosok yang kurindukan nampak berdiri di hadapanku dengan senyum dibibir tipisnya

"aku kembali"

Minseok Pov end

.

.

.

"appa… papa dan gege menjahiliku…" teriakan dan pekikan itu membuat Minseok menghentika kegiatannya dan menghampiri gadis mungilnya di taman bermain mungil yang Minseok rancang untuk memperlengkap rumahnya

Pasangan tuan Xi itu berkacak pinggang sebal dan menatap kesal suami dan anak laki-lakinya yang nampak tertawa-tawa riang di dekat ayunan.

"kalian apakan gadis cantikku?"

"tak ada. Xiumin saja yang berlebihan appa" jawab anak laki-lakinya dengan seringai menyebalkan khas seorang Xi Luhan

"appa…" rengekan itu kembali terdengar dan Minseok yang pada dasarnya sangat memanjakan anak gadisnya itu balas menyeringai ke arah dua orang yang sama dicintainya itu dan keduanya meneguk ludah kaku

"Mark, no psp dan Ps untukmu selama seminggu" tegas Minseok dengan senyum innocent yang membuat mata mark membola dan mulai berkaca-kaca,"dan kau Xiaolu. Kau pasti mengerti apa hukumanmu" lanjut Minseok tak kalah innocentnya dan membuat Luhan membatu dan bergegas mengejar suami mungilnya di ikuti anak laki-lakinya.

Mengacuhkan si anak perempuan yang sekarang tertawa-tawa setan di belakang mereka. Uh, oh. Sepertinya si mungil pintar bersandiwara dan memanfaatkan appanya dengan sangat baik. Tawanya makin kuat saat melihat sang kakak dan sang ayah mengikuti appanya naik kelantai atas sembari merengek menggelikan. Salahkan sifat jahil ayah dan kakaknya sehingga si mungil ini belajar memanfaatkan kasih saying sang appa dan berubah menjelma menjadi iblis kecil berwajah innocent khas sang appa.

Keluarga kecil yang jelas sekali penuh dengan pekikan dan teriakan. Tapi jika kau perhatikan lagi dengan seksama keluarga ini sangatlah dekat antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga yang lainnya. Belum lagi cinta yang selalu kedua orang tua mereka berikan pada anak-anak tampan dan cantik itu. Nampak biasa saja di luar dan luar biasa di dalam.

Setidaknya Minseok dan Luhan dapat membuat keluarga kecil yang harmonis dan penuh dengan cinta semenjak mereka mengadopsi kedua anak mereka. Hei… kalian tidak lupakan jika mereka berdua pria. Jadi tak mungkin Minseok melahirkan kecuali mereka mengadopsi anak.

.

.

.

Minseok Pov

Suara rengekan dan ketukan pada pintu ruang kerjaku itu membuatku tersenyum kecil. Keluarga mungilku yang penuh teriakan dan perdebatan. Sebagai seorang ayah yang berperan sebagai ibu aku merasa bahagia dengan kehadiran kedua anakku. Sebagai seorang istri, oh… seharusnya suamikan?. Aku merasa bahagia karena kehadiran suami menyebalkanku.

Aku mensyukuri kehidupanku sepenuh hati dan aku bersyukur Tuhan memberiku kehidupan rumah tangga yang membahagiakan. Memberikan ku kehidupan yang menyenangkan.

Minseok Pov end

.

.

.

Luhan Pov

Terbangun dengan ia di sampingku merupakan anugrah terbesar untukku. Hidupku terasa lengkap dan makin lengkap dengan kehadiran dua malaikat kecil kami.

Hei… jangan pernah mengikuti sikap konyolku dulu yang tak percaya cinta. Aku menyesalinya setengah mati dan amat teramat sangat menyesal mengapa tak menyadari perasaan ku pada istri mungilku dengan cepat sehingga dapat memperistrinya dengan cepat dan tak merasakan perasaan tersiksa ketika dengan polosnya kau mempercayai bualan Sooyoung nunna dan Chanyeol dulu.

Tapi setidaknya mereka telah mendapatkan balasan karena sikap menyebalkan mereka itu. Kalian jelas tak membutuhkan gangguan di malam pertama kaliankan. Dan aku membuat malam pertama mereka menjadi malam pertama yang buruk dengan memberikan selusin kado jam beker yang menyela kegiatan panas mereka dengan kencangnya pada pukul 12 malam.

Kurasa cukup sekian cua-cuap tak pentingku. Dan harap segera tinggalkan keluarga kecil bahagiaku ini. Aku berjanji akan menjaga mereka dengan baik.

Luhan Pov end

END

Sebenernya endingnya gak gini sih. Tp ya gak papalah aku edit dikit, kurangin n ubad di sana sini sedikit n gak konsisten dengan tulisan istri n suami. Bodo ah… yg penting tamat n seharusnya udah tamat dr tahun lalu weh. Endingnya gaje? Wajar aja. Ni ff aku tamatin dengan maksa pas banget barengan ama waktu luhan out dr exo jd ya harap maklum kalo endingnya maksa n . makasih buat yg udah baca n berniat komen di ff gaje ku ini.